Você está na página 1de 25

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PENYAKIT

DIABETES MELITUS DENGAN GANGGUAN


SISTEM ENDOKRIN

DISUSUN OLEH

KELOMPOK 4

Nikma A. Husain

Nurain Lamunillah

Nurliana Mohi

Nurul Pratiwi Usman

KELAS: KEPERAWATAN A 2016

PROGRAM STUDI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH GORONTALO
2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan rahmatNya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah
yang berjudul “Asuhan Keperawatan pada Diabetes Melitus dengan
Gangguan Sistem Endokrin” ini dengan tepat waktu.

Penulis juga menyadari bahwa tugas makalah ini masih banyak kekurangan
baik dari segi isi maupun segi penulisan, untuk itu kami mengharapkan kritikan
dan saran yang bersifat membangun untuk kesempurnaan tugas makalah ini.

Akhirnya penulis hanya bisa berharap bahwa dibalik ketidaksempurnaan


penulisan dan penyusunan makalah ini adalah ditemukan sesuatu yang dapat
memberikan manfaat atau bahkan hikmah bagi penulis dan pembaca.

Gorontalo, 9 Januari 2019

Kelompok 4

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................ i

DAFTAR ISI ........................................................................................... ii

BAB 1 PENDAHULUAN ...................................................................... 1

A. Latar Belakang ................................................................................... 1

B. Rumusan Masalah .............................................................................. 2

B. Tujuan ................................................................................................. 2

BAB II PEMBAHASAN ........................................................................ 3

A. Konsep Medis ..................................................................................... 3

B. Konsep Keperawatan .......................................................................... 13

BAB III PENUTUP ................................................................................ 25

A. Kesimpulan ........................................................................................ 25

B. Saran ................................................................................................... 25

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pembangunan kesehatan pada hakekatnya adalah upaya kesehatan oleh
bangsa Indonesia untuk mencapai kemampuan hidup sehat bagi setiap
penduduk agar dapat mencapai derajat kesehatan yang optimal. Agar dapat
mencapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal maka dikembangkan
upaya kesehatan untuk seluruh masyarakat yang mencakup upaya peningkatan
(promotif), pencegahan (preventif), penyembuhan (kuratif) dan pemulihan
(rehabilitatif) yang bersifat menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan.
Dengan demikian perawatan merupakan hal yang perlu diperhatikan dalam
semua upaya tersebut diatas. Dalam upaya perawatan ini perawat
melaksanakan suatu asuhan keperawatan dengan memperhatikan klien secara
menyeluruh baik fisik, mental, sosial maupun spiritual, dimana perawat harus
selalu berusaha untuk meningkatkan mutu pelayanan dalam proses
pertumbuhan dan pemulihan klien dengan gangguan sistem endokrin
khususnya Diabetes Melitus.
Diabetes Mellitus menimbulkan gangguan multi sistem dan merupakan
suatu penyakit yang banyak ditemukan di masyarakat. Hal ini dapat dilihat
dengan meningkatnya jumlah klien dengan Diabetes Mellitus yang datang ke
rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Menurut catatan di
ruang perawatan Interna Atas Perjan RS DR. Wahidin Sudirohusodo Makassar
Jumlah yang dirawat dari September sampai Desember 2001 sebanyak 15
orang dan dari Januari sampai Agustus 2002 sebanyak 36 Orang.
Diabetes Mellitus jika tidak ditangani dengan baik, maka akan
mengakibatkan timbulnya komplikasi pada berbagai organ tubuh seperti mata,
ginjal, jantung, pembuluh darah, saraf dan lain-lain.
Mengingat resiko dari Diabetes Mellitus tersebut maka tindakan perawatan
yang sempurna sangat dibutuhkan.

1
Penyembuhan penyakit Diabetes Mellitus tidak hanya dengan pengobatan
saja, tapi yang lebih penting adalah diet yang baik, olah raga yang teratur, dan
juga pendidikan bagi klien dan keluarga.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian diabetes mellitus?
2. Apa etiologi diabetes mellitus?
3. Apa klasifikasi diabetes mellitus?
4. Apa manifestasi diabetes mellitus?
5. Apa komplikasi diabetes mellitus?
6. Apa data penunjang diabetes mellitus?
7. Apa penatalaksanaan diabetes mellitus?
8. Apa pengkajian diabetes mellitus?
9. Apa diagnosa diabetes mellitus?
10. Apa intevensi diabetes mellitus?
C. Tujuan
1. Mahasiswa memahami pengertian diabetes mellitus
2. Mahasiswa memahami etiologi diabetes mellitus
3. Mahasiswa memahami klasifikasi diabetes mellitus
4. Mahasiswa memahami manifestasi diabetes mellitus
5. Mahasiswa memahami komplikasi diabetes mellitus
6. Mahasiswa memahami data penunjang diabetes mellitus
7. Mahasiswa memahami penatalaksanaan diabetes mellitus
8. Mahasiswa memahami pengkajian diabetes mellitus
9. Mahasiswa memahami diagnosa diabetes mellitus
10. Mahasiswa memahami intevensi diabetes mellitus

2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Konsep Medis
1. Pengertian
Diabetes melitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang
ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia.
(Brunner & Sudarth, 2002).
Diabetes melitus adalah gangguan metabolisme yang secara genetis dan
klinis termasuk heterogen dengan manifestasi berupa hilangnya toleransi
karbohidrat. Jika telah berkembang penuh secara klinis, maka diabetes
melitus ditandai dengan hiperglikemia puasa dan postprandial,
aterosklerotik dan penyakit vaskular mikroangiopati dan neuropati (Price &
Wilson, 2006).
Diabetes melitus merupakan suatu penyakit kronik yang kompleks yang
melibatkan kelainan metabolisme karbohidrat, protein dan lemak dan
berkembangnya komplikasi makrovaskular dan neurologis (Riyadi &
Sukarmin, 2008).
2. Etiologi
a. Pada Diabetes tipe I:
Ditandai dengan adanya kerusakan sel-sel beta pankreas, yang mungkin
disebabkan oleh kombinasi dari faktor genetik, imunologi dan mungkin
lingkungan.
1) Faktor genetik
Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri; tetapi
mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik kearah
terjadinya diabetes tipe I.
2) Faktor imunologi
Terdapat respon autoimun. Respons ini merupakan respons abnormal
dimana antibodi terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara
bereaksi terhadap jaringan tersebut seolah-olah sebagai jaringan asing.
3) Faktor-faktor lingkungan

3
Penelitian sedang dilakukan terhadap kemungkinan faktor-faktor
external yang dapat memicu destruksi sel beta. Sebagai contoh virus
atau toksin tertentu dapat memicu proses otoimun yang menimbulkan
destruksi sel beta.
b. Pada Diabetes tipe II
Penyebab resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin pada diabetes
tipe ini sebenarnya tidak begitu jelas, tetapi faktor yang banyak berperan
antara lain:
1) Kelainan genetik
Diabetes dapat menurun menurut silsilah keluarga yang mengidap
diabetes. Ini terjadi karena DNA pada orang diabetes akan ikut
diinformasikan pada gen berikutnya terkait dengan penurunan
produksi insulin.
2) Usia
Umumnya manusia mengalami penurunan fisiologis yang secara
dramatis dan cepat pada usia setelah 40 tahun. Penurunan ini yang
akan beresiko pada penurunan fungsi endokrin pankreas untuk
memproduksi insulin dan resistensi insulin cenderung meningkat pada
usia diatas 65 tahun
3) Gaya hidup stress
Stress kronis cenderung membuat seseorang mencari makanan yang
cepat saji yang kaya pengawet, lemak dan gula. Makanan ini
berpengaruh besar terhadap kerja pankreas. Stress juga akan
meningkatkan kerja metabolisme dan meningkatkan kebutuhan akan
sumber energi yang berakibat pada kenaikkan kerja pankreas. Beban
yang tinggi membuat pankreas mudah rusak hingga berdampak pada
penurunan insulin.
4) Pola makan yang salah
Kurang gizi atau kelebihan berat badan dapat meningkatkan resiko
terkena diabetes. Malnutrisi dapat merusak pankreas sedangkan
obesitas meningkatkan gangguan kerja atau resistensi insulin. Pola

4
makan yang tidak teratur dan cenderung terlambat juga akan berperan
pada ketidakseimbangan kerja pankreas.
5) Obesitas
Obesitas mengakibatkan sel-sel beta pankreas mengalami hipertrofi
yang akan berpengaruh terhadap penurunan produksi insulin.
Hipertrofi pankreas pada penderita obesitas disebabkan karena
peningkatan beban metabolisme glukosa untuk mencukupi energi sel
yang terlalu banyak.
3. Klasifikasi Diabetes Melitus
Klasifikasi menurut ADA (American Diabetes Association) yang dikutip
oleh Price & Wilson (2006) dan yang telah disahkan oleh WHO, yaitu :
a. Diabetes Melitus
1) Tipe 1 (juvenile onset dan tipe denpenden insulin) 5-10% kejadian.
a) Akibat disfungsi autoimun dengan kerusakan sel-sel beta.
b) Idiopatik, tidak diketahui sumbernya.
Subtipe ini sering timbul pada etnik keturunan Afrika-Amerika,
Asia. Awitan terjadi pada segala usia, tetapi biasanya muda < 30
tahun. Biasanya bertubuh kurus pada saat didiagnosis dengan
penurunan BB yang baru saja terjadi. Cenderung mengalami
komplikasi akut hiperglikemi: ketoasidosis diabetik (Brunner &
Suddarth, 2002).
2) Tipe 2 (onset maturity dan nondependen insulin) : 90-95% kejadian.
Obesitas, herediter dan lingkungan sering dikaitkan dengan
penyakit ini. Awitan terjadi di segala usia biasanya > 30 tahun.
Cenderung meningkat pada usia > 65 tahun. Mayoritas penderita
obesitas dapat mengendalikan kadar glukosa darah melalui penurunan
berat badan. Agens hipoglikemia oral dapat memperbaiki kadar
glukosa darah bila modifikasi diet dan latihan tidak berhasil.
Memerlukan insulin dalam waktu yang pendek atau panjang untuk
mencegah hiperglikemi. Ketosis jarang terjadi, kecuali bila dalam

5
keadaan stress atau menderita infeksi. Komplikasi akut: sindrom
hiperosmolar nonketotik (Brunner & Suddarth, 2002).
3) Diabetes Gestasional (GDM)
Dikenali pertama kali selama kehamilan dan mempengaruhi 4%
dari semua kehamilan. Faktor resiko yaitu usia tua, etnik, obesitas,
multiparitas, riwayat keluarga dan riwayat gestasional dahulu. Karena
terjadi peningkatan sekresi berbagai hormon yang mempunyai efek
metabolik terhadap toleransi glukosa maka kehamilan adalah suatu
keadaaan diabetogenik.
4. Manifestasi Klinis
Menurut Sujono & Sukarmin (2008) manifestasi klinis pada penderita
DM, yaitu:
a. Gejala awal pada penderita DM adalah
1) Poliuria (peningkatan volume urine)
2) Polidipsia (peningkatan rasa haus) akibat volume urine yang sangat
besar dan keluarnya air yang menyebabkan dehidrasi ekstrasel.
Dehisrasi intrasel mengikuti dehidrasi ekstrasel karena air intrasel
akan berdifusi keluar sel mengikuti penurunan gradien konsentrasi ke
plasma yang hipertonik (sangat pekat). Dehidrasi intrasel merangsang
pengeluaran ADH (antidiuretic hormone) dan menimbulkan rasa haus.
3) Polifagia (peningkatan rasa lapar). Sejumlah kalori hilang kedalam air
kemih, penderita mengalami penurunan berat badan. Untuk
mengkompensasi hal ini penderita seringkali merasa lapar yang luar
biasa.
4) Rasa lelah dan kelemahan otot akibat gangguan aliran darah pada
pasien diabetes lama, katabolisme protein diotot dan ketidakmampuan
sebagian besar sel untuk menggunakan glukosa sebagai energi.
b. Gejala lain yang muncul:
1) Peningkatan angka infeksi akibat penurunan protein sebagai bahan
pembentukan antibody, peningkatan konsentrasi glukosa disekresi

6
mukus, gangguan fungsi imun dan penurunan aliran darah pada
penderita diabetes kronik.
2) Kelainan kulit gatal-gatal, bisul. Gatal biasanya terjadi di daerah
ginjal, lipatan kulit seperti di ketiak dan dibawah payudara, biasanya
akibat tumbuhnya jamur.
3) Kelainan ginekologis, keputihan dengan penyebab tersering yaitu
jamur terutama candida.
4) Kesemutan rasa baal akibat neuropati. Regenerasi sel mengalami
gangguan akibat kekurangan bahan dasar utama yang berasal dari
unsur protein. Akibatnya banyak sel saraf rusak terutama bagian
perifer.
5) Kelemahan tubuh
6) Penurunan energi metabolik yang dilakukan oleh sel melalui proses
glikolisis tidak dapat berlangsung secara optimal.
7) Luka yang lama sembuh, proses penyembuhan luka membutuhkan
bahan dasar utama dari protein dan unsur makanan yang lain. Bahan
protein banyak diformulasikan untuk kebutuhan energi sel sehingga
bahan yang diperlukan untuk penggantian jaringan yang rusak
mengalami gangguan.
8) Laki-laki dapat terjadi impotensi, ejakulasi dan dorongan seksualitas
menurun karena kerusakan hormon testosteron.
9) Mata kabur karena katarak atau gangguan refraksi akibat perubahan
pada lensa oleh hiperglikemia.
5. Komplikasi
Menurut Price & Wilson (2006), komplikasi DM dibagi dalam 2
kategori mayor, yaitu komplikasi metabolik akut dan komplikasi vaskular
jangka panjang.
a. Komplikasi Metabolik Akut
1) Hyperglikemia.

7
Menurut Sujono & Sukarmin (2008) hiperglikemi didefinisikan
sebagai kadar glukosa darah yang tinggi pada rentang non puasa
sekitar 140-160 mg/100 ml darah.
Hiperglikemia mengakibatkan pertumbuhan berbagai
mikroorganisme dengan cepat seperti jamur dan bakteri. Karena
mikroorganisme tersebut sangat cocok dengan daerah yang kaya
glukosa. Setiap kali timbul peradangan maka akan terjadi mekanisme
peningkatan darah pada jaringan yang cidera. Kondisi itulah yang
membuat mikroorganisme mendapat peningkatan pasokan nutrisi.
Kondisi ini akan mengakibatkan penderita DM mudah mengalami
infeksi oleh bakteri dan jamur.
Secara rinci proses terjadinya hiperglekemia karena defisit insulin
tergambar pada perubahan metabolik sebagai berikut:
- Transport glukosa yang melintasi membran sel berkurang.
- Glukogenesis (pembentukkan glikogen dari glukosa) berkurang dan
tetap terdapat kelebihan glukosa dalam darah.
- Glikolisis (pemecahan glukosa) meningkat, sehingga cadangan
glikogen berkurang dan glukosa hati dicurahkan ke dalam darah
secara terus menerus melebihi kebutuhan.
- Glukoneogenesis pembentukan glukosa dari unsur karbohidrat
meningkat dan lebih banyak lagi glukosa hati yang tercurah
kedalam darah hasil pemecahan asam amino dan lemak.
Yang tergolong komplikasi metabolisme akut hyperglikemia yaitu:
a) Ketoasidosis Diabetik (DKA)Apabila kadar insulin sangat
menurun, pasien mengalami hiperglikemi dan glukosuria berat,
penurunan lipogenesis, peningkatan lipolisis dan peningkatan
oksidasi asam lemak bebas disertai pembentukan benda keton.
Peningkatan keton dalam plasma mengakibatkan ketosis.
Peningkatan produksi keton meningkatkan beban ion hidrogen dan
asidosis metabolik. Glukosuria dan ketonuria yang jelas juga dapat
mengakibatkan diuresis osmotik dengan hasil akhir dehidrasi dan

8
kekurangan elektrolit. Pasien dapat menjadi hipotensi dan
mengalami syok. Akibat penurunan oksigen otak, pasien akan
mengalami koma dan kematian.
2) Hiperglikemia, hiperosmolar, koma nonketotik (HHNK)
Sering terjadi pada penderita yang lebih tua. Bukan karena
defisiensi insulin absolut, namun relatif, hiperglikemia muncul tanpa
ketosis. Hiperglikemia berat dengan kadar glukosa serum > 600
mg/dl. Hiperglikemia menyebabkan hiperosmolaritas, diuresis
osmotik dan dehidrasi berat.
3) Hipoglikemia (reaksi insulin, syok insulin) terutama komplikasi terapi
insulin. Penderita DM mungkin suatu saat menerima insulin yang
jumlahnya lebih banyak daripada yang dibutuhkan untuk
mempertahankan kadar glukosa normal yang mengakibatkan
terjadinya hipoglikemia.
Menurut Brunner & Suddarth (2002) hipoglikemia adalah
keadaan dimana kadar gula darah turun dibawah 50-60 mg/dl (2,7-3,3
mmol/L). Keadaan ini dapat terjadi akibat pemberian insulin atau
preparat oral yang berlebihan, konsumsi makanan yang terlalu sedikit
atau karena aktivitas fisik yang berat. Tingkatan hypoglikemia adalah
sbb:
a) Hipoglikemia ringan
Ketika kadar glukosa menurun, sistem saraf simpatik akan
terangsang. Pelimpahan adrenalin kedalam darah menyebabkan
gejala seperti perspirasi, tremor, takikardi, palpitasi, kegelisahan
dan rasa lapar.
b) Hipoglikemia sedang
Penururnan kadar glukosa yang menyebabkan sel-sel otak tidak
memperoleh cukup bahan bakar untuk bekerja dengan baik.
Berbagai tanda gangguan fungsi pada sistem saraf pusat mencakup
ketidakmampuan berkonsentrasi, sakit kepala, vertigo, konfusi,
penurunan daya ingat, patirasa didaerah bibir serta lidah, bicara

9
pelo, gerakan tidak terkoordinasi, perubahan emosional, perilaku
yang tidak rasional,
c) Hipoglikemia berat
Fungsi sistem saraf mengalami gangguan yang sangat berat
sehingga pasien memerlukan pertolongan orang lain untuk
mengatasi hipoglikemi yang dideritanya. Gejalanya dapat
mencakup perilaku yang mengalami disorientasi, serangan kejang,
sulit dibangunkan dari tidur atau bahkan kehilangan kesadaran.
Penanganan harus segera diberikan saat terjadi hipoglikemi.
Rekomendasi biasanya berupa pemberian 10-15 gram gula yang
bekerja cepat per oral misalnya 2-4 tablet glukosa yang dapat dibeli
di apotek, 4-6 ons sari buah atau teh manis, 2-3 sendok teh sirup
atau madu. Bagi pasien yang tidak sadar, tidak mampu menelan
atau menolak terapi, preparat glukagon 1 mg dapat disuntikkan
secara SC atau IM. Glukagon adalah hormon yang diproduksi sel-
sel alfa pankreas yang menstimulasi hati untuk melepaskan
glukosa.
b. Komplikasi Kronik Jangka Panjang
1) Mikroangiopati merupakan lesi spesifik diabetes yang menyerang
kapiler dan arteriola retina (retinopati diabetik), glomerolus ginjal
(nefropati diabetik) dan saraf-saraf perifer (neuropati diabetik).
2) Makroangiopati, mempunyai gambaran histopatologis berupa
aterosklerosis. Gabungan dari gangguan biokimia yang disebabkan
oleh insufisiensi insulin dapat menjadi penyebab jenis penyakit
vaskular. Gangguan dapat berupa penimbunan sorbitol dalam intima
vaskular, hiperlipoproteinemia dan kelainan pembekuan darah.
6. Data Penunjang Diagnostik
Penentuan diagnosa D.M adalah dengan pemeriksaan gula darah ,
menurut Sujono & Sukarmin (2008) antara lain:

10
a. Gula darah puasa (GDO) 70-110 mg/dl. Kriteria diagnostik untuk DM >
140 mg/dl paling sedikit dalam 2 kali pemeriksaan. Atau > 140 mg/dl
disertai gejala klasik hiperglikemia atau IGT 115-140 mg/dl.
b. Gula darah 2 jam post prondial <140 mg/dl digunakan untuk skrining
atau evaluasi pengobatan bukan diagnostik.
c. Gula darah sewaktu < 140 mg/dl digunakan untuk skrining bukan
diagnostik.
d. Tes toleransi glukosa oral (TTGO). GD < 115 mg/dl ½ jam, 1 jam, 1 ½
jam < 200 mg/dl, 2 jam < 140 mg/dl.
e. Tes toleransi glukosa intravena (TTGI) dilakukan jika TTGO merupakan
kontraindikasi atau terdapat kelainan gastrointestinal yang
mempengaruhi absorbsi glukosa.
f. Tes toleransi kortison glukosa, digunakan jika TTGO tidak bermakna.
Kortison menyebabkan peningkatan kadar glukosa abnormal dan
menurunkan penggunaan gula darah perifer pada orang yang
berpredisposisi menjadi DM kadar glukosa darah 140 mg/dl pada akhir 2
jam dianggap sebagai hasil positif.
g. Glycosetat hemoglobin, memantau glukosa darah selama lebih dari 3
bulan.
h. C-Pepticle 1-2 mg/dl (puasa) 5-6 kali meningkat setelah pemberian
glukosa.
i. Insulin serum puasa: 2-20 mu/ml post glukosa sampai 120 mu/ml, dapat
digunakan dalam diagnosa banding hipoglikemia atau dalam penelitian
diabetes.
7. Penatalaksanaan
a. Diet
Tujuan utama penatalaksanaan diet pada DM adalah
1) Mencapai dan kemudian mempertahankan kadar glukosa darah
mendekati kadar normal.
2) Mencapai dan mempertahankan lipid mendekati kadar yang optimal.
3) Mencegah komplikasi akut dan kronik.

11
4) Meningkatkan kualitas hidup.
Pada dasarnya harus mengikuti prinsip berikut:
1) Cukup kalori atau mempertahankan BB idaman
2) Perhatikan bila ada komplikasi. Sesuaikan dengan komplikasi itu
3) Cukup vitamin dan mineral
b. Olah raga.
Latihan jasmani teratur 3-4 kali tiap minggu selama + ½ jam.
Adanya kontraksi otot akan merangsang peningkatan aliran darah dan
penarikan glukosa ke dalam sel. Penderita diabetes dengan kadar glukosa
darah >250mg/dl dan menunjukkan adanya keton dalam urine tidak boleh
melakukan latihan sebelum pemeriksaan keton urin menunjukkan hasil
negatif dan kadar glukosa darah mendekati normal. Latihan dengan kadar
glukosa tinggi akan meningkatkan sekresi glukagon, growth hormon dan
katekolamin. Peningkatan hormon ini membuat hati melepas lebih
banyak glukosa sehingga terjadi kenaikan kadar glukosa darah.Untuk
pasien yang menggunakan insulin setelah latihan dianjurkan makan
camilan untuk mencegah hipoglikemia dan mengurangi dosis insulinnya
yang akan memuncak pada saat latihan.
c. Penyuluhan Kesehatan
Informasi yg perlu diberikan :
1) Patofisiologi sederhana: definisi diabetes , batas-batas kadar glukosa
darah dan efek terapi insulin ,makanan dan stress
2) Pendekatan terapi : cara pemberian insulin,
3) Dasar-dasar diit,
4) Pemantauan kadar glukosa darah, keton urin.
5) Pengenalan, penanganan dan pencegahan: hipoglikemia
hiperglikemia.
6) Informasi pragmatis: dimana membeli dan menyimpan insulin, kapan
bagaimana cara menghubungi dokter.

12
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Identitas
Nama, usia (DM Tipe 1 Usia < 30 tahun. DM Tipe 2 Usia > 30 tahun,
cenderung meningkat pada usia > 65 tahun), kelompok etnik di Amerika
Serikat golongan Hispanik serta penduduk asli Amerika tertentu
memiliki kemungkinan yang lebih besar, jenis kelamin, status, agama,
alamat, tanggal MRS, diagnosa masuk. Pendidikan dan pekerjaan, orang
dengan pendapatan tinggi cenderung mempunyai pola hidup dan pola
makan yang salah. Cenderung untuk mengkonsumsi makanan yang
banyak mengandung gula dan lemak yang berlebihan. Penyakit ini
biasanya banyak dialami oleh orang yang pekerjaannya dengan aktivitas
fisik yang sedikit.
b. Keluhan utama
1) Kondisi hiperglikemi:
Penglihatan kabur, lemas, rasa haus dan banyak kencing, dehidrasi,
suhu tubuh meningkat, sakit kepala.
2) Kondisi hipoglikemi
Tremor, perspirasi, takikardi, palpitasi, gelisah, rasa lapar, sakit
kepala, susah konsentrasi, vertigo, konfusi, penurunan daya ingat,
patirasa di daerah bibir, pelo, perubahan emosional, penurunan
kesadaran.
3) Riwayat penyakit sekarang
Dominan muncul adalah sering kencing, sering lapar dan haus, berat
badan berlebih. Biasanya penderita belum tahu kalau itu penyakit
DM, baru tahu setelah memeriksakan diri ke pelayanan kesehatan.
4) Riwayat kesehatan dahulu
DM dapat terjadi saat kehamilan, penyakit pankreas, gangguan
penerimaan insulin, gangguan hormonal, konsumsi obat-obatan
seperti glukokortikoid, furosemid, thiazid, beta bloker, kontrasepsi
yang mengandung estrogen.

13
5) Riwayat kesehatan keluarga
Menurun menurut silsilah karena kelainan gen yang mengakibatkan
tubuhnya tidak dapat menghasilkan insulin dengan baik.
c. Pemeriksaan Fisik
1) Aktivitas dan Istirahat
Gejala: lemah, letih, sulit bergerak atau beijalan, kram otot, tonus otot
menurun, gangguan istirahat dan tidur.
Tanda: takikardia dan takipnea pada keadaan istirahat atau dengan
aktivitas, letargi, disorientasi, koma.
2) Sirkulasi
Gejala: adanya riwayat penyakit hipertensi, inpark miokard akut,
klaudikasi, kebas, kesemutan pada ekstremitas, ulkus pada kaki,
penyembuhan yang lama. Tanda: takikardia, perubahan TD postural,
nadi menurun, disritmia, krekels, kulit panas, kering dan kemerahan,
bola mata cekung.
3) Integritas ego
Gejala: stress, tergantung pada orang lain, masalah finansial yang
berhubungan dengan kondisi.
Tanda: ansietas, peka rangsang.
4) Eliminasi
Gejala: perubahan pola berkemih (poliuria), nokturia, rasa nyeri
terbakar, kesulitan berkemih, ISK, nyeri tekan abdomen, diare.
Tanda: urine encer, pucat, kuning, poliuri, bising usus lemah,
hiperaktif pada diare.
5) Makanan dan cairan
Gejala: hilang nafsu makan, mual muntah, tidak mengikuti diet,
peningkatan masukan glukosa atau karbohidrat, penurunan berat
badan, haus, penggunaan diuretik.
Tanda: kulit kering bersisik, turgor jelek, kekakuan, distensi
abdomen, muntah, pembesaran tiroid, napas bau aseton.
6) Neurosensori

14
Gejala: pusing, kesemutan, kebas, kelemahan pada otot, parastesia,
gangguan penglihatan.
Tanda: disorientasi, mengantuk, letargi, stupor/koma, gangguan
memori, refleks tendon menurun, kejang.
7) Pernapasan
Gejala: merasa kekurangan oksigen, batuk dengan atau tanpa sputum.
Tanda: pernapsan cepat dan dalam, frekuensi meningkat.
8) Seksualitas
Gejala: rabas vagina, impoten pada pria, kesulitan orgasme pada
wanita.
9) Penyuluhan
Gejala: fakor resiko keluarga DM, PJK, HT, stroke, penyembuhan
yang lambat, penggunaan obat steroid, diuretik, dilantin, fenobarbitol.
Mungkin atau tidak memerlukan obat diabetik.
2. Diagnosa Keperawatan
a. Defisit nutrisi
b. Keletihan berhubungan
c. Gangguan integritas kulit
d. Resiko ketidakseimbangan cairan
3. Intervensi
Diagnosa Tujuan dan Kriteria
No Intervensi
Keperawatan Hasil
1 Defisit nutrisi NOC : Observasi
1. Nutritional Status : 1. Identifikasi status
food and Fluid Intake nutrisi
2. Nutritional Status : 2. Identifikasi alergi dan
nutrient Intake intoleransi maknan
3. Identifikasi makanan
Kriteria Hasil :
yang disukai
1. Adanya peningkatan
4. Idntifikasi kebutuhan
berat badan sesuai
kalori dan jenis

15
dengan tujuan nutrient
2. Beratbadan ideal 5. Identifikasi perlunya
sesuai dengan tinggi penggunaan selang
badan nasogastrik
3. Mampumengidentifik 6. Monitor asupan
asi kebutuhan nutrisi makanan
4. Tidk ada tanda tanda 7. Monitor berat badan
malnutrisi 8. Monitor hasil
5. Menunjukkan pemeriksaan
peningkatan fungsi laboratorium
pengecapan dari Teraupetik
menelan 1. Lakukan oral hygiene
6. Tidak terjadi sebelum makan, jika
penurunan berat perlu
badan yang berarti 2. Fasilitas, menentukan
pedoman diet
3. Sajikan makanan
secara menarik dan
suhu yang sesuai
4. Berikan makanan
tinggi serat untuk
mencegah konstipasi
5. Berikan makanan
tinggi kalori dan tinggi
protein
6. Berikan suplemen
makanan , jika perlu
7. Hentikan pemberian
makanan melalui
selang nasogatik jika
asupan oral dapat di

16
toleransi
Edukasi
1. Anjurkan posisi duduk,
jika mampu
2. Ajarkan diet yang
diprogramkan
Kolaborasi
1. Kolaborasi pemberian
medikasi sebelum
makanan, jika perlu
2. Kolaborasi dengan ahli
gizi untuk menentukan
jumlah kalori dan jenis
nutrien yang
dibutuhkan jika perlu
2 Keletihan NOC : Observasi
1. Endurance 1. Identifikasi gangguan
2. Consentrasion fungsi tubuh yang
3. Energi concervation mengakibatkan
4. Nutritional status: kelelahan
energy 2. Monitor kelelahan fisik
dan emosional
Kriteria Hasil :
3. Monitor pola dan jam
1. Menjelaskan
tidur
penggunaan energy
4. Monitor lokasi dan
untuk mengatasi
ketidaknyamanan
kelelahan
selama melakukan
2. Kecemasan
aktivitas
menurun
Teraupetik
3. Glukosa darah
1. Sediakan lingkungan
adekuat
nyaman dan rendah

17
4. Kualitas hidup stimulus (mis. Cahaya,
meningkat suara, kunjungan)
5. Istrahat cukup 2. Lakukan latihan rentan
6. Mempertahankan gerak pasif dan/ atau
kemampuan untuk aktif
berkonsentrasi 3. Berikan aktivitas
distraksi yang
menenangkan
4. Fasilitas duduk di sisi
tempat tidur, jika tidak
dapat berpindah atau
berjalan
Edukasi
1. Anjurkan tirah baring
2. Anjurkan melakukan
aktivitas secara
bertahap
3. Anjurkan
menghubungi perawat
jika tanda dan gejala
kelahan tidak
berkurang
4. Ajarkan strategi koping
untuk mengurangi
kelelahan
Kolaborasi
1. Kolaborasi dengan ahli
gizi tentang cara
meningkatkan asupan
makanan
3 Gangguan NOC Observasi

18
integritas kulit 1. Membranes 1. Identifikasi penyebab
2. Hemodyalis akses gangguan integritas
kulit (mis. Perubahan
Kriteria Hasil:
sirkulasi, perubahan
1. Tidak ada luka/lesi
status nutrisi,
pada kulit
penurunan
2. Perfusi jaringan baik
kelembaban, suhu
3. Mampu melindungi
lingkungan ekstrim,
kulit dan
penurunan mobilitas)
mempertahankan
Teraupetik
kelembaban kulit
1. Ubah posisi tiap 2 jam
dan perawatan alami
jika tirah baring
2. Lakukan pemijatan
pada area penonjolan
tulang, jika perlu
3. Bersihkan perineal
dengan air hangat,
terutama selama
periode diare
4. Gunakan produk
berbahan petroleum
atau minyak pada kulit
kering
5. Gunakan produk
berbahan ringan/alami
dan hipoalergik pada
kulit sensitive
6. Hindari produk
berbahan dasar alkohol
pada kulit kering
Edukasi

19
1. Anjurkan
menggunakan
pelembab (mis. Lotion)
2. Anjurkan minum air
yang cukup
3. Anjurkan
meningkatkan asupan
nutrisi
4. Anjurkan
meningkatkan asupan
buah dan sayur
5. Anjurkan menghindari
terpapar suhu ekstrem
6. Anjurkan
menggunakan tabir
surya SPF minimal 30
saat berada di luar
rumah
7. Anjurkan mandi dan
menggunakan sabun
secukupnya
4 Resiko NOC Observasi
ketidakseimbangan 1. Fluid balance 1. Monitor status hidarasi
cairan 2. Hydration (mis. Frekuensi nadi,
3. Nutritional status : kekuatan nadi, akral,
food and fluid pengisian kapiler)
4. Intake 2. Monitor berat badan
harian
Kriteria Hasil :
3. Monitor berat badan
1. Mempertahankan
sebelum dan sesudah
urine output sesuai
dialisis

20
dengan usia dan BB, 4. Monitor hasil
BJ urine normal, HT pemerikasaan
normal laboratorium
2. Tekanan darah, nadi, 5. Monitor status
suhu tubuh dalam hemodinamik
batas normal Teraupetik
3. Tidak ada tanda- 1. Catat intake-output dan
tanda dehidrasi hitung balans cairan 24
4. Elastisitas turgor jam
kulit baik, membran 2. Berikan asupan cairan,
mukosa lembab, sesuai kebutuhan
tidak ada rasa haus 3. Berikan cairan
yang berlebihan intravena, jika perlu
Kolaborasi
1. Kolaborasi pemberian
diuretic, jika perlu

21
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Diabetes Mellitus adalah suatu penyakit kronik yang menimbulkan
gangguan multisistem dan mempunyai karakteristik hyperglikemia yang
disebabkan defisiensi insulin atau kerja insulin yang tidak adekuat.
Pengkajian data penyakit Diabetes Mellitus dapat memberikan hasil
bervariasi antara pasien satu dengan yang lain. Pada umumnya data dan gejala
yang ditemukan timbul sebagai akibat terjadinya kekurangan insulin sehingga
glukosa tidak masuk ke dalam sel.
Perawatan dan pengobatan Diabetes Mellitus terdiri dari diet, yang
merupakan hal yang sangat berperan, latihan fisik yang tepat, obat-obatan dan
juga pendidikan kesehatan mengenai penyakit tersebut.
B. Saran
Harus ada kerjasama dan komunikasi yang baik antara perawat dengan
perawat, perawat dengan klien dalam melaksanakan asuhan keperawatan sebab
dengan adanya kerjasama dan komunikasi yang baik, dengan memandang
individu sebagai makhluk biopsiko sosial dan spiritual

22