Você está na página 1de 15

AKHLAK TASAWUF

Dosen Pengampu: Fitra Zula Taufan Jasa, S.Sy.,MH.

Disusun Oleh :

Shafira (1851010267)

Riski Amanda (18510102420)

Syafira Izzati Putri (1851010271)

Prodi EkonomiSyariah

FakultasEkonomiBisnis Islam

UIN RADEN INTAN LAMPUNG


KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kami kemudahan sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah tentang akhlak tasawuf ini. ”Ya Tuhan kami, janganlah Engkau
jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan
karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha
Pemberi.” (QS. Ali ‘Imran (3): 87).

Shalawat dan salam tidak lupa selalu kita haturkan kepada baginda tercinta kita Nabi
Muhammad SAW yang telah menyampaikan petunjukan Allah SWT untuk kita semua yang
merupakan sebuah petunjuk yang paling benar yakni Syari’ah agama Islam yang sempurna
dan merupakan satu-satunya karunia paling besar bagi seluruh alam semesta.

Adapun penulisan makalah ini merupakan bentuk dari pemenuhan beberapa tugas mata
kuliah akhlak tasawuf. Pada makalah ini akan dibahas mengenai objek dan tujuan akhlak.

Di akhir kami berharap makalah kami ini dapat dimengerti oleh setiap yang membaca. Kami
pun memohon maaf yang sebesar-besarnya apabila dalam makalah ini terdapat kesalahan.

Bandar Lampung, 26 September 2018

Penyusun
BAB 1

PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG
At-Tahawani (w. Abad II H.), penyusun Kasysyaf Ishthilahat al-Funun mendefinisikan ilmu
akhlak yang disebutnya dengan istilah ilmu-ilmu perilaku (‘ulum as-suluk) sebagai
“pengetahuan tentang apa yang baik dan tidak baik”.
Dengan bahasa lain, ilmu ini membahas tentang diri manusia dari segi kecenderungan-
kecenderungannya, hasrat-hasratnya, dan beragam potensi yang membuat manusia condong
pada kebaikan atau keburukan. Ia juga membahas perilaku manusia dari segi apa yang
seharusnya dilakukan manusia dalam menghiasi diri dengan keutamaan dan menjauhkan diri
dari perilaku buruk dan rendah.
Ini berarti bahwa ilmu akhlak memiliki kaitan erat dengan kajian-kajian psikologi, sebab
baginya ia seperti premis-premis yang membantu meluruskan perilaku manusia hingga
menjadi pribadi yang baik dan mampu mengontrol keinginannya dalam berbuat segala
sesuatu.
Islam adalah agama yang sangat memerhatikan pembinaan akhlak dan karakter mulia.
Pengamalan dimensi ajaran Islam tentang iman, Islam dan Ihsan ini merupakan komponen
yang antara satu dan lainnya saling berkaitan secara fungsional dan diarahkan pada
pembangunan akhlak dan karakter mulia. Itulah sebabnya Nabi Muhammad SAW
menyatakan bahwa “Aku diutus ke muka bumi, untuk menyempurnakan akhlak mulia.” Misi
prophetik ini berhasil dilaksanakan oleh Rasulullah, dan karenanya allah dan para malaikat-
Nya mengapresiasi dengan shalawat dan salam kepadanya, dan kita para pengikutnya juga
dianjurkan untuk mengapresiasinya, dengan menunjukkan akhlak dan karakter mulia.
1. RUMUSAN MASALAH
1) Objek pembahasan dari akhlak tasawuf
2) Tujuan dan manfaat dari mempelajari ilmu akhlak tasawuf
2. TUJUAN PENULISAN
1) Untuk mengetahui objek ruang lingkup yang termasuk dalam ajaran ilmu
Akhlak tasawuf.
2) Untuk mengetahui tujuan dan manfaat mempelajari akhlak tasawuf.
BAB 2
PEMBAHASAN
1. Objek Ruang Lingkup Pembahasan Ilmu Akhlak

Jika definisi tentang Ilmu Akhlak tersebut kita perhatikan dengan seksama, akan tampak
bahwa ruang lingkup pembahasan ilmu akhlak adalah membahas tentang perbuatan-
perbuatan manusia, kemudian menetapkannya apakah perbuatan tersebut tergolong perbuatan
yang baik atau perbuatan yang buruk. Ilmu akhlak dapat pula disebut sebagai ilmu yang
berisi pembahasan dari upaya mengenal tingkah laku manusia, kemudian memberikan nilai
atau hukumkepada perbuatan tersebut, yaitu perbuatan tersebut tergolong baik atau buruk.

Dengan demikian, objek pembahasan ilmu akhlak berkaitan dengan norma atau penilaian
terhadap suatu perbuatan yang dilakukan seseorang. Jika kita katakan baik atau buruk, maka
ukuran yang harus digunakan adalah ukuran normatif. Selanjutnya, jika kita katakan sesuatu
itu benar atau salah,maka yang demikian itu termasuk masalah hitungan atau akal pikiran.

Perbuatan-perbuatan manusia ini dapat di bagi dalam tiga macam perbuatan, dari tiga
perbuatan ini ada yang termasuk perbuatan akhlak dan ada pula yang tidak termasuk
perbuatan akhlak.

1. Perbuatan yang dikehendaki atau disadari, pada waktu berbuat dia berbuat dan
disengaja.

Berarti perbuatan tersebut adalah perbuatan akhlak, bisa perbuatan baik atau perbuatan buruk
tergantung kepada sifat perbuatannya.

2. Perbuatan yang dilakukan tidak dikehendaki, sadar atau tidak sadar di waktu dia
berbuat, tapi perbuatan itu di luar kemampuannya dan dia tidak bisa mencegahnya.
Perbuatan demikian bukan perbuatan akhlak. Perbuatan ini ada dua macam:

a. Reflex action, al-a’maalul- mun’akiyah

Umpamanya, seseorang keluar dari tempat gelap ketempat terang, matanya berkedip-kedip.
Perbuatan berkedip-kedipini tidak ada hukumnya, walaupun dia berhadap-hadapan dengan
seseorang yang seakan-akan di kedipi. Atau seseorang karena digigit nyamuk, dia
menamparkan pada yang digigit nyamuk tersebut.

b. Automatic action, al-a’maalul-’aliyah

Model ini seperti halnya dengup jantung, denyut urat nadi dan sebagainya.
Dapat kita ambil kesimpulan sementara bahwa, perbuatan reflex action dan automatic action
adalah suatu perbuatan di luar kemampuan seorang manusia sehingga tidak termasuk
perbuatan akhlak.

3. Perbuatan yang samar-samar, tengah-tengah, mutasyabihat.

Yang dimaksud samar-samar/tengah-tengah, yaitu mungkin suatu perbuatan dapat di


masukkan perbuatan akhlak tapi bisa juga tidak. Pada lahirnya bukanlah perbuatan akhlak,
tapi mungkin perbuatan tersebut termasuk perbuatan akhlak, sehingga berlaku hukum akhlak
baginya, yaitu bahwa perbuatan itu baik atau perbutan buruk. Perbuatan yang termasuk
samar-sama rumpamanya; lupa, khilaf, dipaksa, perbuatan diwaktu tidur dan sebagainya.
Maka perbuatan di atas tidak termasuk perbuatan akhlak.

Dalam buku Dr. M. Solihin, M.Ag di katakan bahwa, objek akhlak atau ruang lingkup
pembahasan akhlak adalah tentang perbuatan-perbuatan manusia serta kategorisasinya
apakah suatu perbuatan tersebut tergolong baik atau buruk. Dan labih luas lagi dikatakan
bahwa objek pembahasan akhlak itu berkaitan dengan norma atau penilaian terhadap suatu
perbuatan yang dilakukan oleh seseorang. Untuk menilai sesuatu yang baik dan buruk, maka
kita menggunakan ukuran yang bersifat normatif. Untuk menilai sesuatu benar atau salah,
maka kita menggunakan kalkulasi yang dilakukan akal pikiran.

Dalam bukunya Sidi Gazalba di katakana bahwa, Semua tindakan dalam kehidupan adalah
objek dari akhlak, baik itu dalam hubungan dengan Allah SWT, dengan diri sendiri, dengan
manusia lain, ataupun dalam hubungan dengan Alam. Tindakan dalam agama mengandung
nilai akhlak dan perbuatan dalam kehidupan sehari-hari mengandung nilai akhlak, apakah
tindakan itu mengenai bidang sosial, ekonomi, politik, teknik, ataupun seni. Tapi tindakan
yang mengandung nilai akhlak itu adalah semua tindakan yang dasar atau yang disengaja.

Maka penulis memahami bahwa, objek pembahasan akhlak itu adalah semua bentuk tingkah
laku dan perangai dalam kehidupan manusia yang sudah dilakukan terus menerus dan telah
terbiasa di praktekan di lapangan tanpa pertimbangan dan pemikiran yang matang terlebih
dahulu.

Setiap manusia mempunyai tingkah laku yang berbeda-beda dan tidak sama tingkat keimanan
serta kualitas pola berfikirnya, maka setiap tingkah laku manusia itu menjadi objek kajian
pembahasan akhlak baik itu yang bersifat perbuatan baik dan yang bersifat perbuatan buruk,
tapi perbuatan manusia yang mengandung akhlak itu adalah perbuatan yang di sengaja atau
perbuatan yang telah terbiasa dilakukan.

Sebagai suatu ilmu yang berdiri sendiri antara lain ditandai oleh adanya berbagai ahli yang
membidangi dirinya untuk mengkaji akhlak. Dalam bahasa arab misalnya kita dapat
membaca buku khuluq al-muslim(akhlak orang muslim) yang ditulis Muhammad Al-ghazali,
kitab akhlak (ilmu akhlak) yang ditulis oleh Akhmad Amin. Dan sebelum itu kita dapat pula
menjumpai buku berjudul tahzib al-akhlaq (pendidikan akhlak) yang ditulis oleh ibn
miskawaih, ihya’ ulum al-din (menghidupkan ilmu-ilmu agama) ditulis oleh imam Al-
Ghazali. Dan kini kita juga dapat membaca ilmu falsafat akhlaq yangditulis Murthada
Mutahhari, ilmu tasawuf yang ditulis oleh Mustafa zahri, dan lain-lain.

Pada prinsipnya yang menjadi lapangan pembahasan ahklak adalah tingkah laku atau
perbuatan manusia di tinjau dari segi baik dan buruknya. Oleh para pemikir Islam, lapangan
pembahasannya meliputi yang berkaitan dengan:

1. Menyelidiki sejarah etika dan berbagai teori (aliran) lama dan baru tentang tingkah
laku manusia.

2. Membahas tentang cara-cara menghukumkan sampai menilai baik dan buruknya suatu
pekerjaan.

3. Menyelidiki factor-faktorpenting yang mencetak, mempengaruhi dan mendorong


lahirnya tingkah laku manusia yang meliputi faktor manusia itu sendiri, fitrahnya
(naluri), adat kebiasaannya, lingkungannya, kehendak dan cita-citanya, suarahatinya,
motif yang mendorongnyaberbuat, dan masalahpendidikanakhlak.

4. Menerangkan mana akhlak yang baik (akhlak al-mahmudah) dan mana pula akhlak
yang buruk (akhlak al-mazmumah) menurutajaran Islam yang bersumber pada al-
qur’an dan hadis Nabi Muhammad SAW.

5. Mengajarkan cara-cara yang ditempuh, juga meningkatkan budi pekerti kejenjang


kemulian. Misalnya, dengan cara melatih diri untuk mencapai perbaikan bagi
kesempurnaan pribadi.

6. Menegaskan arti dan tujuan yang sebenarnya, sehingga dapatlah manusia teransang
secara aktif mengerjakan kebaikan dan menjauhi segala kelakuan yang buruk dan
tercela.

Dengan mengemukan literatur tentang akhlak tersebut menunjukkan bahwa keberadaan ilmu
Akhlak sebagai sebuah disiplin ilmu agama sudah sejajar dengan ilmu-ilmu ke-islaman
lainnya, seperti tafsir, tauhd,fiqih, sejarah islma, dan lain-lain.

Pokok-pokok masalah yang dibahas dalam ilmu akhlak pada intinya adalah perbuatan
manusia. Perbuatan tersebut selanjutnya ditentukan kriterianya apakah baik atau buruk.
Dalam hubungan ini Akhmad Amin menyatakan sebagai berikut:

Bahwa objek ilmu akhlak adalah membahas perbuatan manusia yang selanjutnya perbuatan
tersebut ditetukan baik atau buruk.

Pendapat diatas menunjukan dengan jelas bahwa objek pembahasan ilmu akhlah adalah
perbuatan manusia untuk selanjutnya diberikan penilian apakah baik atau buruk
Pengertian ilmu akhlak selanjutnya dikemukan oleh Muhammad Al ghazali. Menurutnya
bahwa kawasan pembahasan ilmu akhlak adalah seluruh aspek kehidupan manusia
menentukan baik buruknya baik sebagai individu (perorangan) maupun kelompok.Jika
dibandingkan pengertian ilmu akhlak yang kedua ini dengan perngrtian ilmu akhlak yang
pertama tampak bahwa pada pengertian ilmu akhlak yang kedua ini tidak hanya batas pada
tingkah laku individual, melainkan juga tingka laku yang bersifat sosial. Dengan demikian,
terdapat akhlak yang bersifat perorangan dan akhlak bersifat kolektif. Namun, definisi yang
kedua ini kekurangannya tidak menyertakan penilainan terhadap perbuatan tersebut.
Sedangkan, definisi ilmu akhlak yang pertama walaupun tidak menyebutkan akhlak yang
besifat sosial, namun memberikan penilaian terhadap perbuatan tersebut.

Dalam masyrakat barat kata akhlak sering di identikkan dengan etika, walaupun
pengidentikan ini tidak sepenuhnya tepat akan dijelaskan tepat sebagaimana akan dijelaskan
dibawah nanti. Mereka yang mengidentikan akhlak dengan etika mengatakan bahwa etika
adalah penyelidikan tentang tingka laku dan sifat manusia.

Namun, perlu ditegaskan kembali bahwa yang dijadikan objek kajian ilmu akhlak adalah
perbuatan yang memiliki ciri-ciri, yaitu perbuatan yang dilakukan atas kehendak dan
kemauan, sebenarnya, mendarah daging dan dilakukan secara kountinyu (terus menerus)
sehingga menstradisi dala kehidupannya. Perbuatan atau tingkah laku yang tidak memiliki
ciri-ciri tersebut tudak dapat disebut sebagai perbuatan yang dijadikan garapan ilmu akhlak.

Banyak contoh perbuatan yang termasuk perbuatan akhlak dan banya pula contoh perbuatan
yang tidak termasuk perbuatan akhlak. Seseorang yang membangun masjid, gedung sekolah,
rumah sakit, jalan raya dan pos. Keamanan adalah termasuk perbuatan akhlak yang baik,
karena untuk membangun hal tersebut jelas memerlukan perencanaan, waktu, biaya,
pelaksanaan dan lain sebagainya. Dan perbuatan semacam ini tidak akan terwujud jika tidak
didasarkan kemauan atau kehendakyang kuat dan disengaja. Oleh karena itu, perbuatan
tersebut termasuk perbuatan akhlak. Tetapi jika seseorang memicingan mata dengan tiba-tiba
pada waktu benda berpindah dari gelap ke terang, atau menarik tanggan pada waktu tersengat
api atau binatang buas, bernafas, hati yang berubah-ubah, orang yang menjadi ibu-bapak kita,
tempat tinggal kita, kebangsaan kita,warna kulit kita, atau tumpah darah kita, adalah tiak
termasuk perbuatan akhlak, karena semua itu diluat perencanaan, kehendak atau pilihan kita.
Kita tidak menentukan orang yang menjadi ibu-bapak kita misalnya. Karena ia bukan pilihan
kita, tetapi sesuatu yang sudah begitu adanya, tanpa kita rencanakan terkebih dahulu. Hal
yang demikian tidak termasuk perbuatan akhlak, atau tidak termasuk objek pembahasan ilmu
akhlak.

Selanjutnya tidak pula termasuk dalam perbuata akhlak, yaitu perbuatan yang alami. Dengan
demikian, perbuatan tang bersifat alami, dalam hubungan iniMurthada mutahhari mengatakan
bahwa perbuatan akhlak alami tidak menjadikan pelakunya layak dipuji. Misalnya manakalah
seorang dirundung lapar, dia akan makan,dan di saat kehausan, ia akan segera mencari
minum untuk mengobati ke hausannya itu. Atau bilamana dirinya dihina orang, dia akan
berupaya membela diri dan membela hak-haknya, dan sebagainya. Jenis semua perbuatan di
atas dinamakan perbuatan alami, dan tidak termasuk perbuatan akhlak.
Dengan demikian perbuatan yang bersifat alami,dan perbuatan yang dilakukan tidak karena
sengaja, atau khilaf tidak termasuk perbuatan akhlak karena dilakukan tidak atas dasar
pilihan. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW yang berbunyi:

‫ي َعبَّاس ابْن َعن‬ َ ‫ َع ْن هه َما للاه َرض‬: ‫س ْو َل أ َ َّن‬ َ ‫ قَا َل وسلم عليه للا‬: ‫ أ ه َّمتي َع ْن ل ْي تَ َج َاوزَ للاَ إ َّن‬: ‫طأ ه‬
‫صلَّى للا َر ه‬ َ ‫َو َما َوالن ْسيَانه ْال َخ‬
‫]وغيرهما والبيهقي ماجة ابن رواه حسن حديث[ َعلَيْه ا ْست ه ْكرههوا‬

Dari Ibnu Abbas radiallahuanhuma: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam


bersabda: Sesungguhnya Allah ta’ala memaafkan umatku karena aku (disebabkan beberapa
hal) : Kesalahan, lupa dan segala sesuatu yang dipaksa“ (Hadits hasan diriwayatkan oleh Ibnu
Majah dan Baihaqi dan lainnya)1

Perbuatan yang tergolong dalam perbuatan akhlak adalah perbuatan jenis pertama dengan
contoh seperti yaitu orang yang membakar rumah dalam keadaan bermimpi. Ia tau bahwa ia
sering bermimpi dan berbuat sesuatu saat tidur maka seharunya jangan terjadi sesuatu yang
tidak diingini, supaya hal yang bisa mendatangkan bahaya hendaknya dijahui. Sedangkan
perbuatan yang kedua tidak termasuk kedalam ruang lingkup akhlak, karena perbuatan
tersebut terjadi diluat kemampuan dirinya. Dengan memerhatikan keterangan tersebut diatas
kita dapat memahami bahwa yang dimaksud dengan ilmu akhlah adalah ilmu yang menggkaji
suatu perbuatan yang dilaukan oleh manusia yang dalam kadaan sadar, kemauan sendiri,
tidak terpaksa, dan sunggu-sunggu (sebenarnya) dan tidak berpura-pura.

1
H. Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia (Jakarta: Rajawali Pers, 2014), hlm.6.
2. Tujuan dan Manfaat dari Mempelajari Ilmu Akhlak

Ibnu Miskawaih (w. 421 H.), pengarang Kitab Tahdzib al-Akhlaq menyebutkan tujuan ilmu
ini ketika menyinggung tujuannya menulis kitab tersebut. Ia mengatakan : “Tujuan kami
menyusun kitab ini adalah agar diri kita memperoleh moralitas (khuluq) yang membuat
seluruh perbuatan kita terpuji sehingga menjadikan diri kita pribadi yang mudah, tanpa beban
dengan kesulitan.”
Dengan bahasa lain, ilmu ini menurut visi Ibnu Miskawaih bertujuan agar manusia
menjalankan perilaku yang baik dan santun tanpa unsur ketertekanan maupun keberatan. Hal
itu terjadi ketika moralitas yang baik ini telah menjadi ‘malakah’ (talenta) yang menancap
kokoh dalam diri hingga menjadi karakter dirinya.2
Sebagai makhluk sosial manusia yang dalam kehidupan sehari-harinya selalu berinteraksi
dengan sesamanya sudah tentu membutuhkan sebuah tata cara atau cara berkomunikasi
dengan baik supaya hubungan yang terjalin menjadi hubungan yang harmonis, tidak
merugikan orang lain dan diri sendiri, inilah tujuan dari keberadaan akhlak.
Manusia merupakan makhluk terbaik ciptaan Allah SWT terdapat dalam surah At-Tin,
tentunya ia memiliki ciri khas tertentu yang kemudian akan membedakannya dengan
makhluk lain yang allah ciptakan. Manusia sangat khas dengan akal yang dimilikinya, karena
kemudian akal ini akan digunakan oleh manusia sebagai alat timbangan/penimbang untuk
melakukan sebuah perbuatan. Tujuan inti dari akhlak adalah untuk membentuk kehidupan
yang harmonis antar sesama manusia. .
1) Ilmu akhlak akan meningkatkan derajat kehidupan manusia.
Orang yang beriman dan berilmu (termasuk di dalamnya adalah ilmu akhlak), akan
lebih utama daripada orang yang tidak beriman dan berilmu. Sebab dengan
pengetahuan ilmu akhlak, seseorang akan lebih sadar mana yang baik dan mana yang
tidak baik, mana yang mengantarkan kepada kebahagiaan dan mana yang
menjerumuskan kepada kesesatan dan kesengsaraan untuk dirinya. Dengan demikian
seseorang akan selalu berusaha untuk bisa memilih dan melakukan kebaikan atas
petunjuk Allah dan memperoleh keridhoan Allah swt. sehingga bisa menjauhkan diri
dari hal-hal yang tersesat dan dimurkai oleh Allah swt.Artinya : Allah akan
meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi

2
Muhammad Fauqi Hajjaj, Tasawuf Islam & Akhlak (Jakarta: Amzah, 2011), hlm.224.
ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan. (QS. AL-Mujadalah : 11)

2) Ilmu Akhlak menuntun kepada kebaikan.


Ilmu akhlaq merupakan pendorong dan pemicu yang dapat mempengaruhi diri
seseorang untuk membentuk hati yang suci baik lahir dan batin yang akan berguna
bagi sesama manusia ataupun makhluk yang lain. Dengan ilmu akhlak manusia akan
ditunjukkan dan diajarkan cara-cara membentuk pribadi yang mulia, menuntun
kepada akhlak yang baik dan terpuji sebagaimana firman Allah swt dalam al-Qur’an:
Artinya : Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (QS. Al-
Qalam : 4)Dan dalam sebuah Hadits Nabi Muhammad SAW.Artinya : Rasulullah saw
adalah seorang manusia yang paling baik akhlaknya. (HR. Bukhari-Muslim)Ayat dan
dalil hadits tersebut di atas menjelaskan bahwa Nabi Muhammad saw telah
memperoleh pengetahuan tentang akhlaq dari al-Qur'an, kemudian beliau
melaksanakannya sehingga beliau menjadi manusia yang berakhlak mulia.

3) Ilmu Akhlak akan menyempurnakan Iman


Akhlak mulia adalah manifestasi dari kesempurnaan iman seseorang. Sebagaimana
dalil haditsNabi Muhammad SAW yang artinya :“Orang yang paling sempurna
imannya adalah yang terbaik akhlaqnya. (HR. Tirmidzi). Dalam keterangan hadits
diatas menjelaskan bahwa orang yang sempurna imannya adalah orang yang baik
akhlaqnya.

4) Memperoleh keutamaan dihari kemudian


Manfaat dan tujuan yang lain dari mempelajari ilmu akhlak adalah akan mendapatkan
akhlak mulia. Dengan mendapatkan akhlak yang mulia, maka akan memperoleh
derajat yang terhormat di akhir nanti.. Sebagaimana sabda Rasulullah Nabi
Muhammad saw. :Artinya : Tiada sesuatu yang lebih berat timbangan seseorang
mukmin di hari kiamat daripada akhlak yang baik. Dan Allah sangat benci kepada
orang yang kotor (keji) mulutnya dan kelakuannya (H.RTirmidzi).
5) Memenuhi hajat pokok keluarga
Akhlak juga merupakan kebutuhan pokok dalam kehidupan spiritual sebagaimana
kebutuhan pokok yang lain, seperti kebutuhan makanan, minuman, tempat tinggal dan
kebutuhan pokok yang lain. Maka akhlak merupakan faktor yang penting dalam
membina dan menegakkan kehidupan keluarga yang sejahtera lahir dan batin.Sebuah
keluarga yang tidak terbina dengan baik akhlaknya dengan akhlak yang baik, maka
tidak akan merasakan kehidupan yang bahagia, karena akan dijauhkan dari pengaruh
atau pergaulan orang banyak. Akhlak yang mulia dan baik itulah yang akan menjamin
keharmonisan hidup dalam rumah tangga, menjalin cinta kasih semua pihak. Dan
dengan akhlak yang mulia dapat dijadikan sebagai benteng apabila datang malapetaka
yang melanda kehidupan dalam rumah tangga

6) Membina kerukunan hidup bertetangga


.Dengan mempelajari ilmu akhlak mempunyai tujuan dan manfaat dapat membina
kerukunan hidup bertetangga. Dalam kehidupan bertetangga, diperlukan budi pekerti
atau akhlak yang baik, mulia dan luhur. Sebab kerukunan hidup antara tetangga itu
hanya akan terjadi apabila setiap orang saling hormat-menghormati, tolong-menolong,
dan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang merugikan tetangga.Sabda Nabi
Muhammad SAW. Artinya : Tidak akan masuk surga, orang yang membuat
tetangganya tidak tentram karena kejahatannya. (HR. Bukhari-Muslim).

7) Membina remaja
Dari dulu hingga sekarang banyak sekali masalah kenakalan-kenakalan remaja seperti
penyalahgunaan obat narkotika, minuman keras, narkotika, perkelahian, dan lain
sebagainya. Hal ini adalah disebabkan karena kurangnya atau tidak terbinanya akhlak
di kalangan remaja.Pada umumnya remaja-remaja yang terlibat berbagai kenakalan-
kenakalan remaja adalah remaja yang tidak mengenal akhlak yang baik, mulia dan
luhur. Sebaliknya para remaja yang berprestasi, sopan santun dan berhasil mencapai
cita-cita mereka adalah dikarenakan tercapai tujuan dan manfaat dari akhlak yang
mulia dan luhur budi pekertinya. Hal yang demikian tentunya karena adanya
pembinaan akhlak yang baik di kalangan remaja dalam hal sopan santun,bertata
krama dan lain sebagainya.
8) Membina pergaulan umum
Tujuan dan manfaat ilmu akhlak adalah untuk membina pergaulan umum. Akhlak
menempati posisi dan peranan yang penting dalam kehidupan dan tata pergaulan
umum. Salah satu contoh dapat dikemukakan : setiap orang yang dapat diterima
sebagai karyawan atau pekerja baik dalam perusahaan swasta ataupun pemerintah
adalah mereka yang dapat menunjukkan surat keterangan yang menyatakan bahwa
mereka berkelakuan baik atau dalam istilah sekarang adalah SKCK (Surat keterangan
cakap kelakuan). Pada orang yang berakhlak rendah akan selalu dijauhkan dari
pergaulan umum. Dimanapun ia berada akan banyak orang yang tidak
menyukainya.Sebaliknya, apabila seseorang berakhlak yang baik, mulai dan luhur
maka dimanapun ia berada akan banyak orang yang menyukainya sehingga ia mudah
untuk berhubungan dengan siapapun. Dan biasanya orang dengan sikap seperti ini
akan mudah memperoleh rizki serta mudah dalam keberhasilan berusaha.

9) Mensukseskan pembangunan negara


Tujuan dan manfaat selanjutnya mempelajari ahklak adalah dapat mensukseskan
pemabangunan negara. Akhlak merupakan salah satu faktor yang wajib ada atau
mutlak dalam pembanguan bangsa dan karakter bangsa secara utuh. Oleh sebab itu
hendaknya pembangunan akan lebih baik apabila pemimpin dan warganya berakhlak
mulia sehingga pembangunan negara akan sukses dan tercapai dengan baik.
Sebaliknya, apabila akhlak para pemimpin dan warganya rusak (misalnya korupsi,
kolusi, nepotisme, keadilan tidak merata, dll), maka niscaya pembangunan di suatu
yang diharapkan sukses dan berhasil baik tidak akan tercapai. Hal ini seperti yang
dilakukan oleh Syauqi Bey, dalam gubahan syairnya :Artinya : suatu bangsa dikenal
(jaya) karena akhlaknya. Bila akhlaknya rusak, maka rusaklah bangsa itu."Dapat
dikatakan bahwa kejayaan atau kehancuran suatu bangsa terletak pada akhlaknya.
Apabila suatu bangsa berakhlak mulia, maka tersohorlah bangsa itu. Namun apabila
bangsa itu rusak akhlaknya maka rendahlah (hancurlah) nama suatu bangsa.

10) Menciptakan keakraban hidup antar bangsa dan negara


Tujuan mempelajari ilmu akhlak dan manfaatnya adalah dapat menciptakan
keakraban hidup antar bangsa dan negara di dunia. Apabila para pemimpin dunia
berakhlaq baik, mulia dan bijaksana, niscaya masyarakat dunia akan merasakan
kebahagiaan dan perdamaian. Namun sebaliknya, apabila pemimpin dunia itu rusak
akhlaqnya, maka akan besar sekali kemungkinannya dimana-mana akan terjadi
peperangan yang tentunya akan membawa banyak korban baik harta maupun
jiwa.Apabila akhlaq mulia ini tidak dimiliki oleh para pemimpin dunia dan juga
warga masyarakat dunia seluruhnya maka akan membawa kehancuran dunia baik di
darat. laut maupun udara. Hal yang demikian ini adalah akibat dari perbuatan-
perbuatan manusia yang tidak bertanggung jawab akibat pengaruh dari hawa nafsu
jahat yang tidak terkendalikan.Sebagaimana dijelaskan dan diterangkan dalam Al-
Qur'an yang artinya : Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena
perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari
(akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. Ar-Rum :
41)
Dengan demikian jelaslah bahwa kehidupan di dunia ini tidak dapat dilepaskan dari
akhlak para pemimpinnya. Apabila dunia ini dipimpin oleh orang yang berakhlak
mulia, maka roda perjalanan kehidupan dunia ini akan aman, sejahtera dan
sentosa.Itulah beberapa tujuan dan manfaat mempelajari ilmu akhlak.
Semoga kita semua dikarunia Allah menjadi hamba Allah yang terbaik, berakhlak dan
berbudi pekerti yang luhur dan mulia.3

3
H. Ridwan Abdullah dan Muhammad Kadri, Pendidikan Karakter Mengembangkan Karakter Anak yang
Islami(Jakarta: Bumi Aksara, 2016)
KESIMPULAN

Jadi, dapat ditarik kesimpulannya bahwa ruang lingkup pembahasan ilmu akhlak adalah
membahas tentang perbuatan-perbuatan manusia, kemudian menetapkannya apakah
perbuatan tersebut tergolong perbuatan yang baik atau perbuatan yang buruk. Dengan
demikian, objek pembahasan ilmu akhlak berkaitan dengan norma atau penilaian terhadap
suatu perbuatan yang dilakukan seseorang. Dan bertujuan agar manusia menjalankan perilaku
yang baik dan santun tanpa unsur ketertekanan maupun keberatan. Hal itu terjadi ketika
moralitas yang baik ini telah menjadi ‘malakah’ (talenta) yang menancap kokoh dalam diri
hingga menjadi karakter dirinya.
DAFTAR PUSTAKA
Hajjaj, Muhammad Fauqi. 2011. Tasawuf Islam Akhlak. Jakarta: Amzah.
Nata, Abuddin. 2014. Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia. Jakarta: Rajawali Pers.
Sani, Ridwan Abdullah dan Kadri Muhammad. 2016. Pendidikan Karakter
Mengembangkan Karakter Anak yang Islami. Jakarta: Bumi Aksara.