Você está na página 1de 17

MANAGEMEN STRATEGI

ANALISIS PRODUK KOSMETIK WARDAH

KELOMPOK 12 :

Anisa Gita Hursain Saelangi C1C017147

Hedi Devitasari C1C017018

Crishma Berninda C1C017119

UNIVERSITAS BENGKULU

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

PROGRAM STUDI S1 AKUNTANSI

2019
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dewasa ini penggunaan produk kosmetik baik di kalangan perempuan maupun laki-
laki dari berbagai usia cukup banyak, hal ini tentu berpengaruh pada meningkatnya jumlah
permintaan bagi industri kosmetik. Di Indonesia sendiri sudah banyak perusahaan yang
memproduksi produk kosmetik sehingga menimbulkan persaingan yang ketat. Hal ini
menyebabkan perusahaan harus terus mengembangkan usahanya agar dapat terus ebrsaing
dalam pasar.

Produk-produk kosmetik secara umum dapat digunakan setiap hari, oleh karena itu
suatu produk kosmetik seharusnya memiliki persyaratan aman untuk dipakai. Selain aman
dipakai, kosmetik juga dipilih oleh konsumen dari beberapa faktor seperti produk itu sendiri,
harga produk, dan cara untuk mendapatkan produk.

Banyaknya tuntutan konsumen seperti diatas mendorong perusahaan untuk memenuhi


keinginan pasar dengan menciptakan produk yang aman dan bermanfaat, hal-hal ini
dibuktikan dengan dicantumkannya keterangan-keterangan produk berupa komposisi produk,
masa berlaku produk, 3 cara penggunaan produk dan keterangan bahwa produk telah
diperiksa oleh Badan Pengawasan Pangan, Obat dan Makanan (BPPOM).

Selain itu karena masyarakat Indonesia mayoritas muslim keterangan lain yang
dibutuhkan oleh konsumen muslim yaitu adanya keterangan halal pada produk. Keterangan
halal ini biasanya berbentuk label yang disertifikasi oleh Lembaga Pengkajian Pangan, Obat
dan Makanan Majelis Ulama Indonesia (LP POM MUI).

Melihat adanya peluang dari banyaknya produk kosmetik yang bermunculan di pasar
Indonesia dengan bahan-bahan yang belum dapat dipastikan aman ditambah lagi mayoritas
jumlah penduduk Indonesia yang beragama Islam membuat PT. Paragon Technology and
Innovation mengembangkan produk kosmetik berlabel “halal” bernama Wardah.
Pemberian label “halal” pada kosmetik Wardah pun merupakan inovasi baru dalam
dunia kosmetik Indonesia. Tentunya hal ini menjadi keunggulan bagi PT. Paragon untuk
menarik pasar membeli produknya. Namun pemberian label “halal” pada produknya tidak
menjamin produk ini akan terus laris di pasar melihat banyaknya pesaing produk yang sama
dengan harga yang kompetitif bahkan dengan kualitas yang lebih baik.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana sejarah PT. Paragon Technology and Innovation?
2. Apa visi, misi, dan tujuan PT. Paragon Technology and Innovation?
3. Bagaimana analisis SWOT (strength, weakness, opportunity, threats) bagi PT.
Paragon Technology and Inovation?
4. Bagaimana analisis porter PT. Paragon Technology and Innovation?
5. Bagaimana analisis balanced Scorecard PT. Paragon Technology and Innovation?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui sejarah PT. Paragon Technology and Innovation
2. Mengetahui visi, misi, dan tujuan perusahaan
3. Menganalisis strategi bersaing perusahaan
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Sejarah PT. Paragon Technology and Innovation


PT Paragon Technology and Innovation berdiri pada tanggal 28 Februari 1985 dengan
nama awal PT Pusaka Tradisi Ibu. Perusahaan ini baru berganti nama menjadi PT Paragon
Technology and Innovation pada tahun 2011. Perusahaan ini didirikan oleh pasangan suami
istri Drs. H. Subakat Hadi, M.Sc dan Dra. Hj. Nurhayati Subakat, Apt. PTI pada masa itu
hanya memproduksi produk perawatan rambut dengan merk Ega yang dipasarkan di salon-
salon. Kemudian, PTI memproduksi produk baru lagi dengan merk Putri yang sampai
sekarang masih diproduksi.

Tahun 1985-1990, PTI mengalami perkembangan yang cukup pesat. Mulai dari
Jabotabek, produknya mulai menyebar dan mampu bersaing dengan produk yang telah ada.
Survey CIC (2002) menyatakan bahwa Hair Tonic Putri adalah produk perawatan rambut
yang paling banyak digunakan di Indonesia. Seiring dalam perkembangannya, pada tahun
1990, PTI mendirikan pabrik produksi di Kawasan Industri Cibodas, Tangerang dengan
tujuan untuk menambah kapasitas produksi yang terus meningkat.

Pada tahun 1995, PTI mulai mengembangkan Wardah dengan kosmetik kecantikan
berlabel halal. Produk ini dikembangkan karena kekhawatiran pemilik perusahaan terkait
dengan produk kosmetik yang mengandung bahan-bahan yang tidak sesuai dengan syariat
Islam. Namun sayangnya, masih belum bisa berjalan dengan baik karena ketidakefektifan
manajemen pada saat itu. PTI kembali mencoba mengembangkan Wardah pada tahun 1996
dan sejak saat itu penjualannya mulai meningkat. Maka dari itu, PTI resmi memasuki pasar
tata rias dekoratif.

Krisis ekonomi 1998 menjadi tahun yang cukup suram bagi rakyat Indonesia. Daya
beli masyarakat anjlok dan kenaikan harga berkali-kali lipat. Akibatnya, banyak perusahaan
sejenis yang tutup karena tidak cukup mengantisipasi krisis ekonomi pada masa itu. PTI
dengan reaksi cepat menyikapi krisis tersebut di saat para pesaingnya tidak beroperasi. Dan
hasilnya, PTI berhasil mengembangkan pasarnya setelah melewati krisis ekonomi. Pada tahun
1999-2003, PTI mengalami perkembangan yang kedua. Penjualan Wardah pada saat itu
melonjak pesat. Pabrik lain yang berlokasi di Kawasan Industri Jatake Tangerang didirikan
dan mulai bisa beroperasi pada tahun 2001. PTI mulai memodernisasi perusahaan pada tahun
2002-2003. Pada tahun tersebut, PTI mulai masuk ke pasar umum yang memerlukan
perubahan dalam segi internal, program promosi, dan membina tim promosi.

Pada tahun 2005, PTI sudah menerapkan Good Manufacturing Practice


(GMP) dan Cara Pembuatan Kosmetika yang Baik (CPKB). Di Indonesia, baru 80 dari 760
pabrik yang sudah menerapkan CPKB. PTI juga menjadi perusahaan percontohan
pelaksanaan CPKB untuk industri kosmetik lainnya. Sampai sekarang PTI sudah memiliki 26
Distribution Centre (DC) hampir di seluruh wilayah Indonesia, dan DC di Malaysia.
Perusahaan ini telah mendapatkan sertifikat GMP (Good Manufacturing Practice) dengan
kapasitas produksi yang besar dan formulasi kosmetik yang unggul.

Dengan pengalaman lebih dari 28 tahun, PTI telah membawa Wardah sebagai brand
lokal terbesar di Matahari Departement Store. PTI juga terus mengembangkan brand-brand
unggulan lainnya seperti Make Over, Putri, IX, Vivre, Hair Addict, Nusilk. Selama 4 tahun
terakhir, PTI telah tumbuh lebih dari 80% per tahun, dengan 30 daerah operasional dan lebih
dari 4500 karyawan di seluruh Indonesia.

2.2 Visi, Misi, dan Tujuan Perusahaan


Visi
Menjadi perusahaan yang bermanfaat bagi masyarakat dan terus berkembang di berbagai
bidang dengan menjadikan hari ini lebih baik dari hari kemarin.

Misi
 Mengembangkan karyawan yang kompeten dengan menciptakan lingkungan kerja
yang baik untuk mendukung tercapainya kepuasan pelanggan.
 Secara berkesinambungan menyediakan produk dan jasa yang berkualitas tinggi serta
memenuhi kebutuhan pelanggan melalui program pemasaran yang baik.
 Mengembangkan operasi perusahaan yang sehat dalam segala aspek.
 Terus berinovasi, menguasai ilmu, menerapkan teknologi baru, dan berinovasi demi
kepuasan pelanggan.
 Mengembangkan berbagai unit usaha secara lateral.
Tujuan Perusahaan

Seperti yang dituliskan Sindonews.com, Nurhayati Subakat selaku pemilik produk


Wardah, menuturkan bahwa yang mendasari PTI untuk terus dapat berkembang hingga saat
ini adalah keyakinannya bahwa PTI dapat menjadi perusahaan yang bermanfaat bagi orang
lain. Dengan filosofi ini, produk Wardah tidak hanya akan menjadi sebuah brand skin care
dan kosmetik terkemuka di Indonesia. Lebih dari itu, Wardah memiliki komitmen untuk
memaknai kehadirannya di tengah masyarakat melalui kepedulian, semangat untuk berbagi,
dan berbagai kontribusinya dengan melakukan upaya-upaya mewujudkan kesejahteraan
sosial.

Nurhayati juga mengatakan bahwa Wardah mengusung 3 prinsip, yaitu :

1. Pure and safe


Maksud dari prindip pure and safe disini adalah produk dengan bahan baku yang aman dan
halal. Sehingga para konsumen produk Wardah akan merasa aman dan nyaman ketika
menggunakan produk ini. Nurhayati menuturkan kulit wanita Asia berbeda dengan kulit
wanita Eropa dan Amerika. Lapisan dermis kulit wanita Asia cenderung lebih tipis,
sehingga lebih sensitif dan rentan terhadap unsur-unsur yang ada dalam kosmetik.

2. Beauty Expert
Wardah yang awalnya diberi label “halal” untuk memenuhi pasar Indonesia yang
mayoritas muslim kini sudah berkembang produk yang lebih bisa dinikmati oleh
kalangan yang lebih luas. Pengalaman belasan tahun Wardah dalam bidang kosmetik
membuat Wardah semakin inovatif dan variatif dalam pengembangan produknya.

3. Inspiring Beauty
Sejak 1995 hingga kini, Wardah mempunyai keyakinan bahwa tiap wanita memiliki
kecantikan yang menginspirasi. Wanita Indonesia telah berkembang dan juga telah
banyak mengadopsi dinamika kemajuan dunia. Namun, mereka tak pernah
meninggalkan nilai budaya Timur yang santun. Dimana dalam hal ini, kosmetik bukan
hanya untuk kecantikan tubuh tapi juga kecantikan dalam jiwa.
2.3 Analisis SWOT (strength, weakness, opportunity, threats) bagi Wardah
Berdasarkan sekilas rincian dan perkembangan produk Wardah diatas, dapat dianalisis 4
kriteria seperti strength, weakness, opportunity, threats produk Wardah seperti

STRENGTH (KEKUATAN)

 Label Halal membuat Wardah menjadi kosmetik terpercaya bagi wanita muslim
Indonesia
 Label Halal membuat Wardah memiliki pangsa pasar yang luas karena di Indonesia
mayoritas penduduknya muslim
 Produknya semakin inovatif dan variatif untuk memenuhi kebutuhan pasar
 Mudah ditemukan karena mempunyai sejumlah outlet dekat dengan pasar
 Harga terjangkau dan variatif diiringi dengan kualitas yang variatif pula
 Memiliki peminat yang banyak mulai dari wanita muda dan wanita yang sudah
berumur.

WEAKNESS (KELEMAHAN)

 Sejauh ini produk Wardah berorientasi pada segmen wanita


 Kemasan produk yang kurang menarik
 Pertumbuhan penjualan produk lamban sehingga mudah tersingkir oleh pesaing baru
 Variasi produk membuat biaya produksi semakin tinggi

OPPORTUNITIES (PELUANG)

 Tiga prinsip produk Wardah membuat produk ini akrab dikalangan anak muda
khususnya muslimah
 Label Halal yang diusung Wardah memiliki nilai lebih dibanding kosmetik lainnya
THREATS (ANCAMAN)

 Muncul produk kosmetik baru dengan kualitas serupa dengan harga yang lebih
terjangkau
 Daya beli masyarakat terhadap kosmetik high-end meningkat sehingga Wardah mudah
bergeser segmennya.
2.4 Analisis Strategi Porter Produk Kosmetik Wardah

Strategi porter adalah strategi yang digunakan perusahaan atau organisasi untuk
mengembangkan strategi dalam perusahaan. Dalam strategi porter ini sering digunakan istilah
Analisis Bersaing :Model Lima Kekuatan Porter. Analisis Lima kekuatan Porter merupakan
gambaran yang powerful mengenai bagaimana tingkat persaingan dari suatu industri, baik itu
dari sisi supply chain (supplier dan pelanggan) serta pasar (pemain baru dan substitusi). Agar
lebih memahami kami mencoba menerapkan Analisis Porter dengan menganalisis salah satu
produk kecantikan yang sangat terkenal di Indonesia yaitu produk kecantikan Wardah.

Wardah adalah salah satu poduk kosmetik yang diproduksi oleh PT.Paragon Technology
and Innovation yang berdiri pada tanggal 28 Februari 1985 dengan nama awal PT.Pusaka
Tradisi Ibu. Perusahaan ini baru berganti nama menjadi PT.Paragon Technology and
Innovation pada tahun 2011.

Produk Wardah merupakan pelopor pertama produk kecantikan yang mengutamakan


kehalalan dalam pembuatan produknya dan memperoleh sertifikat halal dari Majelis Ulama
Indonesia (MUI) serta memperoleh penghargaan “International Halal Award” dari World
Halal Council

Berikut pembahasan Analisis Porter dengan Lima Kekuatan Porter mengenai produk
kecantikan Wardah.
1. Potensi masuknya pesaing baru
Kemungkinan timbulnya pesaing baru pada bidang kecantikan dan perawatan tubuh
sangatlah besar. maka ancaman akan munculnya pesaing baru sangatlah tinggi. di era pasar
bebas ini banyak sekali produk baru dari luar negeri yang masuk ke indonesia, tidak hanya
dari laur negeri pesaing dari dalam negeri pun sangat banyak. Selain itu harga yang juga
bersaing membuat tingkat persaingan semakin tinggi, tetapi produk Wardah memiliki
strategi sendiri untuk mempertahankan produnya di dalam negeri salah satu nya yaitu
karena Wardah adalah pelopor pertma produk kecantikan yang mengutamakan kehalalan.

2. Daya tawar pemasok


Perusahaan yang merupakan pemasok Wardah merupakan perusahaan yang sangat
loyalitas terhadap wardah, dengan kulaitas dan kuantitansya yang baik serta biaya produk
yang terjangkau meberikan peluang besar bagi wardah untuk bersaing dengan produk
kosmetik lainnya serta memenangkan pasar dan produk kosmetik tersebut.
3. Daya tawar pembeli atau pelanggan
Dalam penciptaan kosmetiknya wardah dituntut harus lebih kompetitif dari harga,
produknya dan juga pelayanannya. Harga yang terjanagkau, produkyang berkualitas serta
pelayanan yang baik dapat mempengaruhi kesetiaan pelanggan. Seperti yang telah dilakukan
wardah, melalui sales promotion girlnya yang juga menggunakan produk wardah. Sehingga
membuat pesaing harus mencari hal baru yang lebih menarik untuk memperoleh kesetiaan
pelanggan.

4. Persaingan antar perusahaan


Persaingan antar perusahaan merupakan hal yang paling sering terjadi, tiap perusahaan
harus memiliki srategi masing-masing agar tetap mempertahankan produk yang ada. Begitu
juga dengan produk Wardah, wardah selalu berusaha untuk memperbaharui atau membuat
strategi terbaru yang menarik seperti melihat permintaan-permintaan pelanggan atau
kebutuhan pelanggan. Contohnya, Lipstik Wardah yang digunakan wanita, kebanyakan
wanita akan memilih lipstick yang tahan lama dan lembab di bibir sehingga produk Wardah
pun berusaha untuk mengikuti permintaan pasar dan permintaan pelanggan.
5. Ancaman produk pengganti
Persaingan timbul karna adanya ancaman poduk pengganti. Produk pengganti dengan
kualitas lebih baik dan harga yang terjangkau membuat kesetiaan pelanggan beralih. Untuk
meningkatkan kekuatan bersaing, produk Wardah melakukan pemantauan ke dalam pangsa
pasar mengenai produk pengganti, kemudian perusahaan meningkatkan kapasitas dan
penetrasi pasar.

KELEBIHAN PRODUK WARDAH (LIPSTIK)

 Label halal membuat Wardah tersebar luas dipasaran.


 Wangi yang lembut dan aman digunakan
 Intensitas warna yang sangat baik
 Lembut ketika diaplikasikan
 Harga yang terjangkau dengan kualitas yang premium.
 Produk yng bervariasi sesuai kebutuhan wanita masa kini
 Hasil akhir matte
 Harga relative murah
 Tahan lama
 Brand ambassador artis Indonesia yang terkenal
 Mudah ditemukan karena mempunyai sejumlah outlet dekat dengan pasar
 Peminat yang banyak mulai dari wanita muda dan wanita yang sudah berumur.
KELEMAHAN
 Lipstik mudah patah
 Kemasan produk Wardah kurang menarik karena hampir semua produk Wardah
memiliki kemasan yang hampir mirip satu sama lain.
 Sejauh ini Wardah hanya berorientasi pada segmen wanita, sehingga sulit untuk
mengembangkan lini produk pada segmen pria.
 Pertumbuhan penjualan produk Wardah lamban sehingga bisa dengan mudah
tersingkir oleh pesaing baru.

ANCAMAN

 Banyak kosmetik dengan harga yang terjangkau dan memiliki kualitas yang lebih
bagus dari Wardah.
 Masyarakat masih banyak yang meragukan kualitas Wardah.
2.5 Analisis Balanced Scorecard Pt Paragon Technology And Inovation (Produk
Wardah)
Balanced Scorecard

2.5.1 Perspektif Keuangan

Perspektif keuangan tetap digunakan dalam Balance Scorecard, karena ukuran keuangan
menunjukkan apakah perencanaan dan pelaksanaan strategi perusahaan memberikan
perbaikanatau tidak bagi peningkatan keuntungan perusahaan. Perbaikan-perbaikan ini
tercermin dalamsasaran-sasaran yang secara khusus berhubungan dengan keuntungan yang
terukur, pertumbuhanusaha, dan nilai pemegang saham.Pengukuran kinerja keuangan
mempertimbangkan adanya tahapan dari siklus kehidupan bisnis, yaitu: growth, sustain, dan
harvest (Kaplan dan Norton, 2001). Tiap tahapan memilikisasaran yang berbeda, sehingga
penekanan pengukurannya pun berbeda pula.1. Growth (berkembang) adalah tahapan awal
siklus kehidupan perusahaan dimana perusahaanmemiliki produk atau jasa yang secara
signifikan memiliki potensi pertumbuhan yang baik. Disini manajemen terikat dengan
komitmen untuk mengembangkan suatu produk atau jasa baru,membangun dan
mengembangkan suatu produk/jasa dan fasilitas produksi, menambah kemampuan operasi,
mengembangkan system, infrastruktur, dan jaringan distribusi yang akanmendukung
hubungan global, serta membina dan mengembangkan hubungan dengan pelanggan.2. Sustain
(bertahan) adalah tahapan kedua di mana perusahaan masih melakukan investasi
danreinvestasi dengan mengisyaratkan tingkat pengembalian terbaik. Dalam tahap ini,
perusahaanmencoba mempertahankan pangsa pasar yang ada, bahkan mengembangkannya,
jika mungkin.Investasi yang dilakukan umumnya diarahkan untuk menghilangkan
bottleneck,mengembangkan kapasitas, dan meningkatkan perbaikan operasional secara
konsisten. Sasarankeuangan pada tahap ini diarahkan pada besarnya tingkat pengembalian
atas investasi yangdilakukan. Tolak ukur yang kerap digunakan pada tahap ini, misalnya ROI,
profit margin, danoperating ratio.3. Harvest (panen) adalah tahapan ketiga di mana
perusahaan benar-benar memanen/menuaihasil investasi di tahap-tahap sebelumnya. Tidak
ada lagi investasi besar, baik ekspansi maupun pembangunan kemampuan baru, kecuali
pengeluaran untuk pemeliharaan dan perbaikan fasilitas.Sasaran keuangan adalah hal yang
utama dalam tahap ini, sehingga diambil sebagai tolak ukur,yaitu memaksimumkan arus kas
masuk dan pengurangan modal kerja.
2.5.2 Perspektif Pelanggan

Filosofi manajemen terkini telah menunjukkan peningkatan pengakuan atas


pentingnyakonsumen focus dan konsumen satisfaction. Perspektif ini merupakan Leading
indicator. Jadi, jika pelanggan tidak puas maka mereka akan mencari produsen lain yang
sesuai dengankebutuhan mereka. Kinerja yang buruk dari perspektif ini akan menurunkan
jumlah pelanggandi masa depan meskipun saat ini kinerja keuangan terlihat baik. Oleh
Kaplan dan Norton (2001) perspektif pelanggan dibagi menjadi dua kelompok pengukuran,
yaitu: customer core measurement dan customer value prepositions.

Customer CoreMeasurement memiliki beberapa komponen pengukuran, yaitu:

1.Market Share (pangsa pasar); Pengukuran ini mencerminkan bagian yang dikuasai
perusahaan atas keseluruhan pasar yang ada, yang meliputi: jumlah pelanggan, jumlah
penjualan, dan volume unit penjualan.

2.Customer Retention (retensi pelanggan); Mengukur tingkat di mana perusahaan


dapatmempertahankan hubungan dengan konsumen.

3.Customer Acquisition (akuisisi pelanggan); mengukur tingkat di mana suatu unit


bisnismampu menarik pelanggan baru atau memenangkan bisnis baru.

4.Customer Satisfaction (kepuasan pelanggan); Menaksir tingkat kepuasan pelangganterkait


dengan kriteria kinerja spesifik dalam value proposition.

5.Customer Profitability (profitabilitas pelanggan); mengukur keuntungan yang diperoleh


perusahaan dari penjualan produk/jasa kepada konsumen.Sedangkan Customer Value
Proposition merupakan pemicu kinerja yang terdapat padacore value proposition yang
didasarkan pada atribut sebagai berikut:

1. Product/service attributesMeliputi fungsi dari produk atau jasa, harga, dan kualitas.
Pelanggan memiliki preferensiyang berbeda-beda atas produk yang ditawarkan. Ada yang
mengutamakan fungsi dari produk,kualitas, atau harga yang murah. Perusahaan harus
mengidentifikasikan apa yang diinginkan pelanggan atas produk yang ditawarkan.
Selanjutnya pengukuran kinerja ditetapkan berdasarkanhal tersebut.

2. Konsumen relationshipMenyangkut perasaan pelanggan terhadap proses pembelian produk


yang ditawarkan perusahaan. Perasaan konsumen ini sangat dipengaruhi oleh responsivitas
dan komitmen perusahaan terhadap pelanggan berkaitan dengan masalah waktu penyampaian.
Waktumerupakan komponen yang penting dalam persaingan perusahaan. Konsumen
biasanyamenganggap penyelesaian order yang cepat dan tepat waktu sebagai faktor yang
penting bagikepuasan mereka.3. Image and reputasiMenggambarkan faktor-faktor intangible
yang menarik seorang konsumen untuk berhubungan dengan perusahaan. Membangun image
dan reputasi dapat dilakukan melalui iklandan menjaga kualitas seperti yang dijanjikan.
2.5.3 Perspektif Proses Bisnis Internal

Analisis proses bisnis internal perusahaan dilakukan dengan menggunakan analisis value-
chain. Disini manajemen mengidentifikasi proses internal bisnis yang kritis yang
harusdiunggulkan perusahaan. Scorecard dalam perspektif ini memungkinkan manajer
untukmengetahui seberapa baik bisnis mereka berjalan dan apakah produk dan atau jasa
mereka sesuaidengan spesifikasi pelanggan. Perspektif ini harus didesain dengan hati-hati
oleh mereka yang paling mengetahui misi perusahaan yang mungkin tidak dapat dilakukan
oleh konsultan luar.Kaplan dan Norton (1996) membagi proses bisnis internal ke dalam tiga
tahapan, yaitu:1. Proses inovasiDalam proses penciptaan nilai tambah bagi pelanggan, proses
inovasi merupakan salahsatu kritikal proses, dimana efisiensi dan efektifitas serta ketepatan
waktu dari proses inovasi iniakan mendorong terjadinya efisiensi biaya pada proses
penciptaan nilat tambah bagi pelanggan.

Dalam proses ini, unit bisnis menggali pemahaman tentang kebutuhan dari pelanggan
danmenciptakan produk dan jasa yang mereka butuhkan. Proses inovasi dalam perusahaan
biasanyadilakukan oleh bagian marketing sehingga setiap keputusan pengeluaran suatu
produk ke pasartelah memenuhi syarat-syarat pemasaran dan dapat dikomersialkan
(didasarkan pada kebutuhan pasar).2. Proses OperasiProses operasi adalah proses untuk
membuat dan menyampaikan produk/jasa. Aktivitasdi dalam proses operasi terbagi ke dalam
dua bagian: 1) proses pembuatan produk, dan 2) proses penyampaian produk kepada
pelanggan. Pengukuran kinerja yang terkait dalam proses operasidikelompokkan pada waktu,
kualitas, dan biaya.3. Proses Pelayanan Purna JualProses ini merupakan jasa pelayanan pada
pelanggan setelah penjualan produk/jasatersebut dilakukan. Aktivitas yang terjadi dalam
tahapan ini, misalnya penanganan garansi dan perbaikan penanganan atas barang rusak dan
yang dikembalikan serta pemrosesan pembayaran pelanggan. Perusahaan dapat mengukur
apakah upayanya dalam pelayanan purna jual ini telahmemenuhi harapan pelanggan, dengan
menggunakan tolak ukur yang bersifat kualitas, biaya, danwaktu seperti yang dilakukan
dalam proses operasi. Untuk siklus waktu, perusahaan dapatmenggunakan pengukuran waktu
dari saat keluhan pelanggan diterima hingga keluhan tersebutdiselesaikan.
2.5.4 Perspektif Pembelajaran dan Pertumbuhan

Proses ini mengidentifikasi infrastruktur yang harus dibangun perusahaan untukmeningkatkan


pertumbuhan dan kinerja jangka panjang. Proses pembelajaran dan pertumbuhanini
bersumber dari faktor sumber daya manusia, sistem, dan prosedur organisasi. Yang termasuk
dalam perspektif ini adalah pelatihan pegawai dan budaya perusahaan yang berhubungan
dengan perbaikan individu dan organisasi.Hasil dari pengukuran ketiga perspektif sebelumnya
biasanya akan menunjukkankesenjangan yang besar antara kemampuan orang, system, dan
prosedur yang ada saat ini denganyang dibutuhkan untuk mencapai kinerja yang diinginkan.
Inilah alasan mengapa perusahaanharus melakukan investasi di ketiga faktor tersebut untuk
mendorong perusahaan menjadi sebuahorganisasi pembelajar (learning organization).

Dalam perspektif ini, ada factor-faktor penting yang harus diperhatikan, yaitu:

1. Kapabilitas pekerjaDalam hal ini manajemen dituntut untuk memperbaiki pemikiran


pegawai terhadaporganisasi, yaitu bagaimana para pegawai menyumbangkan segenap
kemampuannya untukorganisasi. Untuk itu perencanaan dan upaya implementasi reskilling
pegawai yang menjaminkecerdasan dan kreativitasnya dapat dimobilisasi untuk mencapai
tujuan organisasi.

2. Kapabilitas system informasiBagaimanapun juga, meski motivasi dan keahlian pegawai


telah mendukung pencapaiantujuan-tujuan perusahaan, masih diperlukan informasi-informasi
yang terbaik. Dengankemampuan sistem informasi yang memadai, kebutuhan seluruh
tingkatan manajemen dan pegawai atas informasi yang akurat dan tepat waktu dapat dipenuhi
dengan sebaik-baiknya.

3. Motivasi, kekuasaan dan keselarasanPerspektif ini penting untuk menjamin adanya proses
yang berkesinambungan terhadapupaya pemberian motivasi dan inisiatif yang sebesar-
besarnya bagi pegawai. Paradigmamanajemen terbaru menjelaskan bahwa proses
pembelajaran sangat penting bagi pegawai untukmelakukan trial and error sehingga turbulensi
lingkungan sama-sama dicoba-kenali tidak saja oleh jenjang manajemen strategis tetapi juga
oleh segenap pegawai di dalam organisasi sesuaikompetensinya masing-masing. Upaya
tersebut perlu didukung dengan motivasi yang besar dan pemberdayaan pegawai berupa
delegasi wewenang yang memadai untuk mengambil keputusan.Selain itu, upaya tersebut
juga harus dibarengi dengan upaya penyesuaian yang terus menerusyang sejalan dengan
tujuan organisasi.Dari keempat perspektif tersebut terdapat hubungan sebab akibat yang
merupakan penjabaran tujuan dan pengukuran dari masing-masing perspektif. Hubungan
berbagai sasaranstrategic yang dihasilkan dalam perencanaan strategic dengan kerangka
Balanced Scorecard menjanjikan peningkatan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan
kinerja keuangan.Kemampuan ini sangat diperlukan oleh perusahaan yang memasuki
lingkungan bisnis yang kompetitif.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
PT Paragon Technology and Innovation berdiri pada tanggal 28 Februari 1985 dengan
nama awal PT Pusaka Tradisi Ibu. PTI mengalami kemajuan pesat bagi produknya pada tahun
1985-1990, namun pada tahun 1998 karena adanya krisis ekonomi membuat PTI hampir
gulung tikar, namun hal ini dapat diatasi oleh Nurhayati Subakat.
Akhirnya perusahaan ini baru berganti nama menjadi PT Paragon Technology and
Innovation pada tahun 2011 hingga kini telah menerapkan Good Manufacturing Practice
(GMP). Wardah sebagai produk unggulannya kini menyasar pasar wanita baik muslim dan
non-muslim dan memasuki semua rentang usia.
Analisis SWOT yang didapat yakni; Strength atau kekuatan yang dimiliki PTI
sebagai keunggulan bersaingnya adalah label “halal” dan harga yang terjangkau dengan
kualitas yang premium. Label “halal” yang diusung produk Wardah juga memberikan
Opportunity atau peluang sebagai nilai lebih yang dapat diposisikan di kalangan anak muda
khususnya yang muslimah sehingga dapat dikatakan produk ini dekat dengan konsumen.
Sedangkan, Weakness atau kelemahan dari produk Wardah terletak pada segmennya, sejauh
ini Wardah hanya berorientasi pada segmen wanita, sehingga sulit untuk mengembangkan lini
produk pada segmen pria. Terakhir Threats atau ancaman yang dihadapi Wardah adalah
munculnya produk kosmetik baru dengan kualitas serupa dan harga yang lebih terjangkau.

DAFTAR PUSTAKA
PT Paragon Technology and Innovation. 2013. (Online), http://www.pti-
cosmetics.com/about/vission_mission diakses tanggal 21 Juni 2017.

Ardianto, Robi. 2016. Wardah Cosmetics Menginspirasi Kecantikan Wanita Indonesia.


(Online), https://nasional.sindonews.com/read/1018401/149/menginspirasi-kecantikan-
wanita-indonesia-1435632368 diakses tanggal 23 Juni 2017.

Ashari. 2016. ELEMEN RENCANA PEMASARAN PRODUK KOSMETIK WARDAH. (Online),


https://id.scribd.com/document/344086101/Tugas-Paper-Managemen-Pemasaran-Kelompok-3 diakses
tanggal 23 Juni 2017.

Wahyuningsih, Tri Ajeng. 2015. Siklus Hidup PT. Paragon Technology and Innovation
“Wardah Cosmetics”. (Online),
https://triajengwahyuningsih.wordpress.com/2015/05/06/siklus-hidup-pt-paragon-technology-
and-innovation-wardah-cosmetics/ diakses tanggal 23 Juni 2017.