Você está na página 1de 12

FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI DAN PENDAPATAN

USAHATANI RUMPUT LAUT (EucheumaCottonii) DI KECAMATAN LIANG


KABUPATEN BANGGAI KEPULAUAN

Heny Ariwijaya
Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Tompotika Luwuk

ABSTRAK
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produksi Dan Pendapatan Usahatani Rumput Laut
di Kecamatan Liang Kabupaten Banggai Kepulauan . Penelitian ini bertujuan untuk : (1)
mengetahui pengaruh bibit, tenaga kerja, luas lahan, dan pengalaman terhadap produksi
rumput laut kering di Kecamatan Liang Kabupaten Banggai Kepulauan.(2) mengetahui
seberapa besar pendapatan petani rumput laut di Kecamatan Liang Kabupaten Banggai
Kepulauan. Penentuan sampel di lakukan dengan metode propotional random sampling, yaitu
dengan dihitung berdasarkan perbandingan, dalam hal ini perbandingan jumlah populasi pada
objek yang diteliti. Analisis data yang digunakan adalah Analisis faktor produksi Cobb-
Douglas dan Analisis Pendapatan. Hasil Penelitian menunjukan bahwa input produksi bibit
(X1), tenaga kerja (X2) dan luas lahan (X3) berpengaruh sangat nyata pada taraf kepercayaan
99 % terhadap produksi rumput laut kering (Y), sedangkan variabel pengalaman (X4)
berpengaruh tidak nyata terhadap produksi kering rumput laut (Y). Pendapatan rata-rata
petani rumput laut dalam satu kali musim tanam dilokasi penelitian sebesar Rp. 2.164.509 .- .
Kata Kunci : Rumput Laut, Usahatani, Cobb-Douglas, Produksi dan Pendapatan

PENDAHULUAN (rumput laut penghasil karaginan) dan saat


Rumput laut merupakan salah satu ini masih dibutuhkan sekitar 30.000 –
sumber devisa Negara dan sumber 50.000 ton, dengan peningkatan
pendapatan bagi masyarakat daerah pantai. permintaan dunia sebesar 5 – 10 %
Wilayah Indonesia yang sebagian besar pertahun. Sementara itu, kebutuhan pasar
berupa laut (70 %) merupakan Negara karaginan untuk berbagai aplikasi secara
yang kaya rumput laut dan memiliki usaha total adalah 33.000 ton yang digunakan
pembudidayaan rumput laut yang cukup untuk perusahaan susu 11.000 ton (33%),
menjanjikan karena kebutuhannya setiap daging dan unggas 5.000 ton (15%), gel air
tahun semakin meningkat. Produksi 5.000 (15%),PES grade food 8.000 ton
rumput laut yang berlimpah ini setiap (25%), odol 2.000 ton (6%), lainnya 2.000
tahun diekspor dan sebagian digunakan ton (6%). Hal tersebut merupakan peluang
untuk kebutuhan dalam negeri. pasar bagi Bangsa Indonesia, bahkan
Komoditi rumput laut merupakan daerah-daerah yang mempunyai perairan
salah satu komoditi andalan sektor yang sesuai untuk komoditi tersebut, tak
perikanan dan kelautan yang sangat terkecuali Kabupaten Banggai Kepulauan.
strategis untuk dikembangkan. Dianggap Indonesia menargetkan produksi
strategis karena di samping masa tanamnya rumput laut pada tahun 2011 sebanyak 3
yang relative singkat, yaitu kurang lebih 2 juta ton rumput laut kering, untuk
bulan, komoditi ini juga menyerap tenaga memenuhi permintaan pasar dunia yang
kerja yang cukup banyak dan juga pasar grafiknya terus menanjak. Data di
lokal dan regional yang menjanjikan serta kementerian kelautan dan perikanan
harga jual yang cukup kompetitif. Menurut mencatat tahun 2009 mencapai 2,57 juta
International Corporation (IFC) World ton, dan target tahun 2010 sekitar 2,7 juta
Bank Group (2007) yang dikutip oleh ton rumput laut kering.( Farid Ma’ruf,
Keppel (2008) total produksi karaginofit 2010).
39
Sulawesi Tengah (Sulteng) kecamatan Totikum dan Buko dengan
menetapkan rumput laut sebagai komoditas jumlah produksi masing-masing
utama yang akan dikembangkan secara perbulannya 540 ton dan 490 ton. Berikut
besar-besaran dalam lima tahun kedepan disajikan data produksi per bulan petani
dengan perkiraan produksi tumbuh rata- rumput laut di Kecamatan Kabupaten
rata 28 persen lebih tiap tahun. Dinas Banggai Kepulauan tahun 2009 seperti
kelautan dan perikanan Sulteng pada tabel berikut :
menetapkan target produksi rumput laut Tabel 1 Produksi Rumput Laut di Kabupaten
Sulteng akan naik dari sekitar 720 ribu ton Banggai Kepulauan Tahun 2009
pada tahun 2010 menjadi 920 ribu ton pada N Jumlah Produksi /
Kecamatan
O Petani Bulan (Ton)
tahun 2011 atau tumbuh 28 persen lebih
1. Bulagi 425 697
tiap tahun. Tahun 2009 Sulteng berada 2. Bulagi selatan 350 678
pada posisi ketiga penghasil rumput laut 3. Liang 1.818 2.216
nasional dengan produksi 480 ribu ton 4. Tinangkung 265 980
lebih setelah Sulsel sebanyak 690 ribu ton 5. Banggai 565 1.103
6. Totikum 300 540
dan NTT sebanyak 566 ribu ton lebih.
7. Bokan 1.937 2.315
Sedangkan pada tahun 2011 produksi 8. Kepulauan 855 1.609
rumput laut Sulteng saat menjadi daerah 9. Lo.Bangkurung 445 490
penghasil terbesar di Indonesia diprediksi Buko
mencapai 920 ribu ton.(Hasanuddin Atjo, Jumlah 6.960 10.628
Sumber : ASRINDO Kabupaten Banggai Kepulauan
2010) Tahun 2010
Kabupaten Banggai Kepulauan adalah Pemanfaatan rumput laut yang begitu
daerah yang mempunyai potensi luas dalam banyak industri, ditandai
sumberdaya alam perikanan yang cukup dengan permintaan pasar yang relatif terus
beragam dan potensial. Kabupaten meningkat, jumlah petani dan lahan yang
Banggai Kepulauan (Bangkep) bakal digunakan dalam budidaya rumput laut di
menjadi sentra produksi rumput laut Kabupaten Banggai Kepulauan terus
terbesar disulawesi tengah, pasalnya bertambah, termasuk di Kecamatan Liang
tingkat ketersediaan lahan pengolahan yang menjadi obyek penelitian ini.
rumput laut di Bangkep mencapai 12.031 Di Kecamatan Liang tersebut,
hektar, dari jumlah itu pemanfaatan baru budidaya rumput laut telah menjadi mata
mencapai 4.425,26 hektar, dengan capaian pencaharian pokok sebagian
produksi pada tahun 2009 sebesar masyarakatnya. Dari 8.608 jiwa
127.536 ton rumput laut kering. Dengan penduduknya yang tersebar di 15 desa
angka produksi sebesar itu, Bangkep pada tahun 2008, 1.818 jiwa penduduknya
menyumbang sekitar 26,57 persen dari menggantungkan hidupnya sebagai petani
total produksi rumput laut Sulawesi rumput laut atau sekitar 21.11 persen.
Tengah yang mencapai 480.000 ton. Jenis rumput laut yang dibudidayakan
Menurut data yang ada pada Asosiasi di Kecamatan Liang adalah dari spesies
Rumput Laut Indonesia (ASRINDO) Eucheuma cottonii. Upaya
Kabupaten Banggai Kepulauan, pada tahun mengembangkan budidaya rumput laut
2009 produksi rumput laut di daerah ini Eucheuma cottonii perlu dilakukan untuk
sebesar 10.628 ton lebih/bulan atau meningkatkan kuantitas dan kualitas
127.536 ton/tahun. Kecamatan yang komoditi tersebut yang selama ini sebagian
memiliki potensi produksi terbesar adalah besar masih dihasilkan dari panen rumput
Kecamatan Bokan Kepulauan sebesar laut secara alami. Eucheuma cottonii
2.315 ton dan kedua disusul oleh merupakan spesies rumput laut yang
kecamatan Liang 2.216 ton per bulan. banyak dibudidayakan di perairan
Sementara kecamatan yang tingkat Indonesia.
produksinya paling rendah adalah

40
Secara keseluruhan masyarakat – kegiatan mereka. Berdasarkan uraian
pembudidaya rumput laut di Kecamatan diatas maka penulis mengambil judul
Liang Kabupaten Banggai Kepuluan dalam penelitian ini adalah : “ Faktor –
menerapkan metode tali bentangan apung faktor yang mempengaruhi produksi dan
(floating long line methode). Penggunaan pendapatan usahatani rumput laut di
metode ini sudah dikembangkan sejak Kecamatan Liang Kabupaten Banggai
awal budidaya rumput laut hingga saat ini, Kepulauan.
namun masalah yang seringkali dihadapi
oleh pembudidaya rumput laut adalah Perumusan masalah
rendahnya produksi yang dihasilkan. Rumusan masalah dalam penelitian
Rendahnya produksi selama ini ini adalah sebagai berikut :
diakibatkan terbatasnya faktor-faktor 1﴿ Berapa besar pengaruh bibit, tenaga
produksi yang dimiliki para petani. kerja, luas lahan, dan pengalaman
Keterbatasannya faktor-faktor tersebut, terhadap produksi rumput laut di
petani rumput laut menjadi terbatas pula Kecamatan Liang Kabupaten Banggai
dalam pemilikan unsur –unsur input Kepulauan ?
produksi dalam budidaya rumput laut, 2﴿ Berapa besar pendapatan usahatani
termasuk jumlah bibit, pengoptimalan rumput laut di Kecamatan Liang
curahan tenaga kerja, jumlah tarikan, dan Kabupaten Banggai Kepulauan ?
pengalaman berusaha. Tarikan atau luas
lahan, biasa disebut juga tali ris, yaitu tali Tujuan Penelitian
yang digunakan untuk mengikat dan Tujuan yang ingin dicapai pada
menggantungkan bibit rumput laut. Satu penelitian ini adalah :
tarikan biasanya merupakan satu bal tali 1. Untuk mengetahui pengaruh bibit,
yang tidak dibagi. Satu bal tali tersebut tenaga kerja, luas lahan, dan
beratnya hampir mencapai 5 Kg atau pengalaman terhadap produksi rumput
sekitar 100 meter. Keterbatasan dalam laut di Kecamatan Liang Kabupaten
kepemilikan tarikan mengakibatkan Banggai Kepulauan.
kemampuan produksi mereka menjadi 2. Untuk mengetahui seberapa besar
terbatas pula. Untuk itu, petani rumput laut pendapatan usahatani rumput laut di
mengatasinya dengan membuka lokasi Kecamatan Liang Kabupaten Banggai
budidaya keluar lokasi yang sudah ada Kepulauan.
dengan jarak tempuh yang cukup jauh. Hal
tersebut dilakukan karena lokasi di sekitar
perkampungan telah memiliki petani lain. METODE PENELITIAN
Dalam melakukan budidaya rumput Jenis Penelitian
laut para petani harus secara rutin Jenis penelitian yang digunakan
memeriksa tanaman mereka agar dapat adalah deksriptif-kausalitas, dimana
berkembang sebagaimana yang penelitian deskriptif bertujuan untuk
diharapkan. Disinilah mereka dituntut membuat deskripsi atau gambaran secara
untuk memiliki tenaga kerja yang baik agar sistematis, faktual dan akurat mengenai
hasil yang didapatkan optimal. Biasanya fakta, sifat-sifat dan hubungan antara
petani rumput laut setiap hari mendatangi fenomena-fenomena yang diselidiki, tetapi
lokasi budidaya guna membersihkan tidak digunakan untuk membuat
kotoran –kotoran yang menempel pada kesimpulan yang lebih luas atas data yang
tanaman rumput laut, pada pelampung, tali ada, sedangka penelitian kausalitas
utama dan tali jangkar, maupun yang ada digunakan untuk menganalisis hubungan
di perairan sekitarnya. Untuk itu, mereka antara satu variabel dengan variabel
dituntut untuk memiliki tenaga kerja yang lainnya atau bagaimana suatu variabel
lebih banyak guna menyelesaikan kegiatan

41
mempengaruhi variabel lainnya Mengingat banyaknya petani rumput
(Umar,2003). laut yang ada pada obyek penelitian dan
Penelitian dilaksanakan dengan diasumsikan populasi yang sifatnya
menggunakan metode studi kasus, yaitu homogen, maka teknik pengambilan
suatu metode yang melakukan pengamatan sampel yang digunakan adalah tehnik
atau penyelidikan yang kritis untuk proportional random sampling , yaitu
memperoleh keterangan yang baik dengan dihitung berdasarkan
terhadap suatu persoalan tertentu di dalam perbandingan, dalam hal ini perbandingan
daerah atau lokasi tertentu, dimana pada jumlah populasi pada objek yang diteliti.
metode ini tidak semua individu dalam Besarnya jumlah sampel mempunyai
populasi diamati, melainkan hanya suatu peluang yang sama untuk dipilh, maka
bagian dari populasi, yang disebut contoh prosedur penentuan besarnya jumlah
atau sampel pengamatan. sampel dengan menggunakan rumus
Slovin (Umar, 2003) :
Waktu dan Lokasi Penelitian
Waktu penelitian dilaksanakan
selama tiga bulan yaitu dari bulan Agustus, n = N
September, dan Oktober 2010, mencakup 1 + N (e)2
persiapan, pengumpulan data primer dan
sekunder, serta pengolahan data sampai Keterangan :
dengan menganalisis data. n = Jumlah sampel
Tempat penelitian ini dilaksanakan secara N = Jumlah populasi
purposive, yaitu di tiga desa yaitu Desa e = Presisi dengan batas simpangan
Apal, Desa Boyomoute, dan Desa toleransi 10 %
Popidolon di Kecamatan Liang, Kabupaten
Banggai Kepulauan, Provinsi Sulawesi Dengan menggunakan tingkat presisi
Tengah. Penelitian ini dilaksanakan di 10 %, maka ukuran sampel dalam
Kecamatan Liang karena didaerah ini penelitian ini :
musin tanam budidaya rumput laut terjadi
sepanjang tahun, dan ketiga desa tersebut n = 268
dipilih karena sebagian besar masyarakat 1 + 268 (0,10)2
didaerah tersebut melaksanakan usaha
budidaya rumput laut, serta memiliki lahan
yang cukup luas untuk budidaya rumput n = 72,826 = 73 petani
laut.
Sampel diambil dengan cara undian,
Populasi dan Sampel dengan cara nama – nama petani rumput
Nazir ( 2003 ) menyatakan bahwa laut ditulis dan diambil secara acak pada
populasi adalah kumpulan dari ukuran – obyek penelitian,yakni di tiga desa di
ukuran tentang sesuatu yang ingin kita buat Kecamatan Liang Kabupaten Banggai
inferensi, dan populasi adalah berkenaan Kepulauan, Seperti pada tabel 2 berikut :

dengan data, sementara unit – unit Tabel 2. Jumlah Sampel di Kecamatan


sampling adalah kumpulan dari unsur – Liang
unsur populasi. Sampel adalah kumpulan N Nama Desa Populasi Sampel
O (Petani)
dari unit sampling, yang ditarik biasanya
1 Popidolon 87 87/268 x 73 = 24
dari sebuah frame, sedangkan sebuah 2 Boyomoute 74 74/268 x 73 = 20
frame adalah list atau urutan unit sampling 3 Apal 107 107/268 x 73 = 29
yang tersedia. Jumlah 268 73
Sumber : Data olahan, 2010

42
Analisis Data
Data yang telah dikumpulkan baik HASIL DAN PEMBAHASAN
yang berasal data primer maupun data
sekunder, dipilah, dikategorikan dan Fungsi produksi adalah hubungan fisik
diklasifikasikan sesuai dengan keterkaitan antara variabel yang dijelaskan (Y) dengan
masing-masing data yang dibutuhkan, variabel yang menjelaskan (X). Variabel
selanjutnya dilakukan analisis secara yang dijelaskan berupa output ( pada kasus
statistik. Adapun analisis yang dilakukan ini disebut dengan produksi rumput laut
adalah : mengetahui pengaruh faktor-faktor kering, dalam satuan kilogram ),
bibit, tenaga kerja, luas lahan, dan sedangkan variabel yang menjelaskan
pengalaman terhadap produksi rumput laut berupa input produksi (misalnya bibit,
kering digunakan analisis Fungsi Produksi tenaga kerja, luas lahan yang digunakan,
Cobb-Douglas (Soekartawi, 2003), dengan dan pengalaman berusaha). Analisis faktor
formula sebagai berikut : produksi rumput laut sering dilakukan
guna mengetahui informasi tentang input
Y = β0 𝒏𝒊=𝟏 Xβ eµ produksi yang mampu memberikan
Y = βo.X1 β1.X2 β2.X3 β3.X4 β4 eµ pengaruh nyata terhadap produksi.
Walaupun demikian, pada kenyataan,
Agar linier, persamaan (2) faktor – faktor yang mempengaruhi
ditransformasikan dalam bentuk logaritma produksi rumput laut tidak hanya berasal
natural (In), sehingga persamaan berubah dari keempat input produksi tersebut, akan
menjadi : tetapi juga dipengaruhi oleh input dan
faktor produksi lain yang tidak dimasukan
In Y=Inβo+β1InX1+β2InX2+β3InX3+β4InX4+ µ pada model produksi yang dibangun.
Keterangan : Faktor produksi lain tersebut akan
terakumulasi pada variabel residualnya
Y = Produksi Kering Rumput Laut atau error term (µi), namun tidak dianalisis
X1 = Bibit (Rp) pada penelitian ini.
X2 = Tenaga kerja (HOK) Secara spesifik, penelitian ini
X3 = Luas Lahan (m2) selanjutnya menganalisis faktor – faktor
X4 = Pengalaman Berusaha (Tahun) produksi yang dibangun dalam model
β0 = Intersep persamaan Cobb-Douglas, yakni bibit
β1 – β4 = Parameter Yang Ditaksir (InX1), jumlah hari orang kerja (HOK)
(InX2), luas lahan budidaya rumput laut
(InX3), dan pengalaman (InX4). Untuk
Analisis pendapatan petani rumput laut, lebih jelasnya hasil analisis data yang
dengan rumus : diperoleh disajikan pada tabel 3. Berikut
ini :
П = TR-TC

Keterangan:

П = Pendapatan
TR = Total Revenue (Penerimaan)
TC = FC + VC atau Biaya keseluruhan
(Gaspersz, 2008).

43
Tabel 3 : Hasil Perhitungan Koefisien Regresi , T-hitung, Probabilitas, Koefisien
Determinasi
Var Terikat (Y) Var. Bebas (X) Koef. T-Hitung Probabilitas
Regresi
Bibit (X1) 0,114 2,582 0,002
Produksi Tenaga kerja (X2) 0,176 3,380 0,001
Rumput Laut Luas lahan (X3) 0,447 5,790 0.000
Pengalaman (X4) 0,093 1,227 0.224
Intersep = 1,436 N = 73 K = 4 α = 0.01 ά =
Koefisien Determinasi (R²) = 0,718 0,05
Adj.Determinasi (R2 Adj) = 0,701 Db = (N-1) – k = 68
F-Hitung = 43,267 F-tabel = 3.65
t-tabel = 2.383, t –tabel =
1,980
Sumber : SPSS Release 17 dan diolah kembali, 2010

Berdasarkan hasil perhitungan Koefisien adjustment determinasi (R2)


dengan bantuan program SPSS, seperti sebesar 0,701, hal ini menunjukan bahwa
terlihat pada tabel 5. Menghasilkan model variasi produksi rumput laut kering (Y)
persamaan sebagai berikut : dapat diterangkan oleh variabel bebas bibit
(X1), tenaga kerja (X2), luas lahan ( X3 ),
Ŷ = 1,436 +0,114 X1 +0,176 X2 + 0,447 X3 + 0,093 X4 dan pengalaman berusaha (X4) sebesar
70.10 %,
sedangkan 20,90 % diterangkan oleh
faktor lain yang tidak dimasukkan dalam
Persamaan regresi yang dihasilkan model penelitian ini misalnya faktor iklim.
menunjukkan arah pengaruh positif Pengaruh dari masing – masing faktor
beberapa variabel yang mempengaruhi produksi terhadap produksi kering rumput
produksi rumput laut kering ( Y ), baik laut ( Y) adalah sebagai berikut :
variabel bibit (X1), tenaga kerja (X2),
Variabel luas lahan (X3), dan variabel 1. Bibit
pengalaman (X4). Variabel bibit (X1) berpengaruh
Tabel 3 Menunjukan bahwa seluruh sangat nyata terhadap produksi kering
variabel penjelas Xi secara simultan rumput laut di Kecamatan Liang dimana
(bersama – sama) terhadap variabel yang probabilitas p = 0,002 < 0,01 atau t hitung =
dijelaskan Y menunjukan pengaruh yang 2,582 > t tabel = 2,383 pada taraf
sangat nyata. Hal ini diperlihatkan oleh kepercayaan 99 % uji dua arah. Besarnya
nilai probabilitas p = 0,000 < 0,05 (α = pengaruh tersebut dapat ditunjukkan pada
0,05) atau F hitung = 43,267 > F tabel = nilai koefisien regresi 0,114 , hal ini
3,65 dengan db ( 4;68 ) pada α = 0,05 memberikan arti bahwa apabila variabel
membuktikan menolak hipotesis nol. Ini bibit (X1) mengalami kenaikan 1 persen
berarti bahwa bibit, tenaga kerja , luas maka akan mengalami pengaruh yang
lahan, dan pengalaman, secara bersama – positif , yaitu kenaikan produksi rumput
sama memberikan pengaruh yang sangat laut kering (Y) sebesar 0,114 persen,
nyata terhadap jumlah produksi kering dengan asumsi variabel yang lain
rumput laut. dianggap tetap.
Hasil analisis regresi ini dimiliki petani rumput laut mengalami
menunjukkan bahwa jika bibit yang peningkatan maka produksi rumput laut

44
akan meningkat pula. Penambahan bibit
akan meningkatkan jumlah populasi
tanaman rumput laut, dengan
bertambahnya jumlah populasi rumput
laut, maka akan banyak pula produksi
rumput laut yang mereka hasilkan.
Berdasarkan hasil penelitian di tiga
desa di Kecamatan Liang luas lahan rata-
rata 6.035 m2 kebutuhan pemakaian bibit
rata-rata sebanyak 904 kg dengan produksi
kering rumput laut 748 kg. Menurut Iswadi
(2007) menyatakan : bahwa budidaya Gambar 1 : Masa Pembibitan Rumput Laut
rumput laut dengan metode long line
jumlah bibit yang dibutuhkan sebesar 3200 2. Tenaga Kerja (HOK)
kg – 4600 kg per ha (10.000 m2) areal Variabel tenga kerja (X2) berpengaruh
budidaya, hasil panen basah yang siap sangat nyata terhadap produksi rumput
untuk dikeringkan sebesar 22.400 kg – laut kering di Kecamatan Liang, dimana
32.200 kg, atau diperoleh hasil produksi probabilitas p = 0,001 < 0,01 atau t hitung =
panen kering rumput laut sebanyak 2.800 3,380 > t tabel = 2,383 pada taraf
kg – 4.025 kg (konversi dari basah menjadi kepercayaan 99 % uji dua arah. Besarnya
kering 8 : 1) pengaruh tersebut dapat ditunjukkan pada
Berdasarkan keterangan ini dengan nilai koefisien regresi sebesar 0,176 ,
membandingkan luas lahan 10.000 m2 = hal ini memberikan arti bahwa apabila
3200 kg bibit dan produksi 2800 kg, maka variabel tenaga kerja/HOK (X2)
dengan luas lahan 6.035 m2 seharusnya mengalami kenaikan 1 persen maka akan
kebutuhan untuk pemakaian bibit sebesar mengalami pengaruh yang positif , yaitu
1.920 kg dengan produksi kering rumput kenaikan produksi rumput laut kering (Y)
laut sebanyak 1.680 kg. Sehingga sebesar 0,176 persen, dengan asumsi
kebutuhan bibit petani budidaya rumput variabel yang lain dianggap tetap.
laut di Kecamatan Liang sangat Hasil analisis regresi ini menunjukkan
diperlukan dan pemakaian bibit rumput bahwa pengaruh tenaga kerja sangat besar
laut sebanyak 1016 kg (1.920 - 904) atau terhadap produksi rumput laut di
sebesar Rp.2.540.000 ( 1.016 x Rp.2500), Kecamatan Liang Kabupaten Banggai
dengan penambahan bibit tersebut maka Kepulauan. Hal ini dikarenakan
produksipun akan meningkat pula. curahan/penggunaan tenaga kerja (HOK)
dalam kegiatan budidaya rumput laut

45
di Kecamatan Liang relatif kecil dan untuk budidaya rumput laut dengan
penggunaannya belum optimal, yaitu rata- metode long line dengan luas lahan 10.000
rata 18 HOK /6.035 m2/MT. m2 (1ha), seperti tertera pada tabel 4
Menurut Iswadi ( 2007 ) kebutuhan berikut ini :
hari orang kerja (HOK) dan jumlah pekerja

Tabel 4. Tahapan Pekerjaan Budidaya, Jumlah hari dan Pekerja Teknik Long Line,
Luas Lahan 10,000 m2
NO Tahapan Kebutuhan Hari Orang Kerja (HOK)
1 Tahap penyiapan lahan, 6 hari kerja, 10 pekerja
pembersihan lahan, dan memasang
infrastruktur budidaya
2 Memasang dan mengikat bibit pada 4 hari kerja, 10 pekerja
tali ris/utama dilahan budidaya
3 Pemeliharaan, pengawasan, 45 hari, 4 pekerja
penggantian bibit yang rusak atau
hilang
4 Masa panen dilakukan minimum 45 4 hari kerja, 8 pekerja
hari setelah penyemaian
5 Pasca panen 2 hari kerja, 4 pekerja
Total HOK 36 HOK
Sumber : Dit.Produksi.Ditjen Perikanan Budidaya DPK,2010

Berdasarkan hasil penelitian ini kualitas dan macam tenaga kerja perlu di
usaha budidaya rumput laut diketiga desa perhitungkan (Soekartawi, 2003). Menurut
di Kecamatan Liang dengan rata-rata 18 Mubyarto (1986) setiap pengurangan
HOK/6.035 m2/MT perlu penambahan tenaga kerja berarti pengurangan hasil
penggunaan tenaga kerja, dengan produksi. Dengan demikian pengaruh
perbandingan luas lahan 10.000 m2 = 36 tenaga kerja terhadap produksi pertanian
HOK, maka dengan luas lahan rata-rata sangat besar.
6.035 m2 penggunaan kebutuhan tenaga Tenaga kerja yang berasal dari
kerja sebanyak 22 HOK, sehingga perlu keluarga pembudidaya ini merupakan
penambahan curahan tenaga kerja sumbangan keluarga pada produksi rumput
sebanyak 4 HOK, dengan penambahan ini laut secara keseluruhan dan umumnya
berarti akan menyebabkan pelaksanaan tidak dinilai dengan uang/upah. Pada saat
kegiatan dalam usaha rumput laut akan tertentu pembudidaya membayar tenaga
terlaksana tepat sasaran dan tepat waktu kerja tambahan misalnya dalam tahap
misalnya pembibitan yang tepat, pembuatan jangkar tanam yang
pemeliharaan yang tepat, pemanenan yang membutuhkan tenaga yang lebih besar atau
tepat dan lain – lain, yang akan cenderung pun jumlah rumput laut yang diusahakan
meningkatkan produksi kering rumput laut. dalam jumlah besar pada setiap tahapan
Tenaga kerja akan memperlancar dalam budidaya. Tenaga tambahan ini umumnya
kegiatan operasional mulai dari pra panen, berasal dari tenaga kerja di sekitar
panen sehingga pasca panen. Faktor lingkungan pembudidaya. Para
produksi tenaga kerja merupakan salah pembudidaya mempunyai kelompok yang
satu faktor produksi penting dan perlu di terdiri atas 15-25 orang. Diantara mereka
pertimbangkan dalam proses produksi dapat saling membantu bila membutuhkan
dalam jumlah yang bukan saja dilihat dari tenaga tambahan pada unit usaha tani
ketersediaan tenaga kerja tetapi juga anggotanya.

46
3. Luas Lahan Said (2009), bahwa variabel luas lahan
Variabel Luas lahan (X3) berpengaruh berpengaruh sangat nyata terhadap
sangat nyata terhadap produksi rumput laut produksi rumput laut , bahwa luas lahan
kering di Kecamatan Liang, dimana yang dimiliki petani rumput laut
probabilitas p = 0,000 < 0,01 pada taraf mempunyai pengaruh utama untuk
kepercayaan 99 % atau t hitung = mengambil keputusan dalam pengelolaan
5,790 > t tabel = 2,383 pada taraf usahataninya.
kepercayaan 99 % uji dua arah. Besarnya
pengaruh tersebut dapat ditunjukkan pada 4. Pengalaman Berusaha
nilai koefisien regresi 0, 447 , hal ini Variabel pengalaman berusaha (X4)
memberikan arti bahwa apabila variabel berpengaruh tidak nyata terhadap produksi
luas lahan (X3) mengalami kenaikan 1 kering rumput laut di Kecamatan Liang,
persen maka akan mengalami pengaruh dimana probabilitas p = 0,224 > 0,05
yang positif , yaitu kenaikan produksi atau t hitung = 1,227 < t tabel = 1,980 pada
rumput laut kering (Y) sebesar 0, 447 taraf kepercayaan 95 % uji dua arah.
persen, dengan asumsi variabel yang lain Besarnya pengaruh tersebut dapat
dianggap tetap. ditunjukkan pada nilai koefisien regresi
0,093 , hal ini memberikan arti bahwa
apabila variabel pengalaman (X4)
mengalami kenaikan 1 persen maka akan
mengalami pengaruh yang positif , yaitu
kenaikan produksi rumput laut kering (Y)
sebesar 0,093 persen, dengan asumsi
variabel yang lain dianggap tetap.
Hasil ini menunjukkan bahwa
variabel pengalaman pengaruhnya sangat
rendah terhadap produksi rumput laut
kering di Kecamatan Liang Kabupaten
Banggai Kepulauan. Sehinnga hal ini dapat
diabaikan karena pengalaman berusaha
Gambar 2 : Lahan Budidaya Rumput Laut berpengaruh tidak signifikan secara
Di Desa Apal statistik.

Hasil analisis regresi ini menunjukkan Pendapatan Petani Rumput Laut di


bahwa jika luas lahan usaha budidaya Kecamatan Liang
rumput laut mengalami penambahan maka Pendapatan yang diterima petani
produksi rumput laut akan meningkat pula. rumput laut setiap panen tergantung pada
Penambahan luas lahan usaha berarti akan banyaknya luas lahan dan jumlah tarikan
meningkatkan jumlah populasi tanaman yang dimiliki. Setiap tarikan rata-rata
rumput laut, dengan bertambahnya jumlah menghasilkan 20 kg rumput laut kering.
populasi rumput laut cenderung akan Pendapatan tersebut setelah dikurangi
meningkatkan produksi kering rumput laut biaya mulai dari pembelian bibit, upah
dengan asumsi faktor produksi lain kerja, bahan bakar dan lain-lain. Untuk
tercukupi. Hal ini dapat terjadi karena luas lebih jelasnya pendapatan petani rumput
lahan usaha berupa pantai/lautan di Desa laut di kecamatan Liang berdasarkan luas
Apal, Popidolon, dan Boyomoute masih lahan yang dimiliki petani, seperti tertera
memungkinkan. Untuk dilakukan dalam tabel berikut :
perluasan areal usaha rumput laut.
Hasil penelitian ini sesuai dengan
penelitian terdahulu yang dilakukan oleh

47
Tabel 5. Analisis Pendapatan Rata-Rata Usahatani Rumput Laut Per Petani/6.035
m2/MT di Kecamatan Liang Kabupaten Banggai Kepulauan
No Uraian Pendapatan rata-rata
(Rp)
1 Penerimaan Rata-rata 6.066.667
2 Pengeluaran :
a.Biaya tetap rata-rata :
1. Penyusutan perahu 84.932
2. Penyusutan pelampung 22.671
3. Penyusutan katinting 91.781
4. Penyusutan tali ris 22.671
Sub total biaya tetap 222.055
b.Biaya variabel rata-rata :
1. Tenaga kerja 538.767
2. Bibit 2.260.274
3. BBM 705.719
4. Tali rafia 175.342
Sub total biaya variabel 3.680.103
Total Biaya 3.902.158
3. Pendapatan/petani/MT 2.164.509
Sumber : Data Primer Yang diOlah, 2010

Tabel diatas menunjukkan dan yang lebih penting dari itu,


pendapatan rata-rata petani rumput laut membutuhkan wawasan dan perlakuan
sebesar Rp. 2.164.509 per petani/6.035 baru terutama dari para penentu dan
m2/MT. untuk masa 6 – 8 minggu ( 45 pelaksana kebijakan pemerintah.
sampai 60 hari). Dengan pendapatan Diperlukan suatu paradigma baru dalam
sebesar itu petani rumput laut di merumuskan konsep pemberdayaan petani
Kecamatan Liang, sudah cukup mampu rumput laut yang efektif dan efisien.
untuk mencukupi kebutuhan keluarga Secara teoritis, kita mengenal cukup
petani rumput laut, serta memberikan banyak konsep pemberdayaan masyarakat,
kebahagian dan kesehjateraan bagi khususnya masyarakat pesisir seperti
sebagian keluarga petani rumput laut. konsep pengembangan ekonomi
Sehingga diperlukan keseriusan dalam masyarakat pesisir (PEMP), kemitraan ,
mengelola budidaya rumput laut, agar bapak angkat, inti-plasma dan sebagainya.
usaha budidaya rumput laut bagi para Konsep – konsep ini telah diadopsi
petani rumput laut di Kecamatan Liang sedemikian rupa ke dalam berbagai
sudah menjadi mata pencaharian pokok, program pemberdayaan ekonomi yang
dan bisa memberikan kebahagian dan dilaksanakan pemerintah.
kesejahteraan bagi mereka. Konsep yang intinya adalah
Di sinilah juga peran pemerintah dan pengentasan kemiskinan tersebut
swasta dibutuhkan agar bisa menjadikan dilakukan antara lain melalui pemberian
komoditi rumput laut sebagai sumber bantuan peralatan seperti mesin katinting,
pendapatan pokok masyarakat guna tali dan lain – lain kepada masyarakat
memperkuat fondasi ekonomi daerah di pesisir, termasuk petani rumput laut di
Kabupaten Banggai Kepulauan, khususnya dalamnya. Bantuan tersebut akan
di Kecamatan Liang. Hal tersebut menambah modal petani rumput laut
membutuhkan waktu yang relative lama dalam melakukan kegiatan usahanya serta

48
akan menambah mobilitas dan daya Kepulauan. Variabel pengalaman (X4)
jangkau mereka dalam beraktivitas. berpengaruh tidak nyata terhadap
Bantuan yang diberikan mempunyai paket produksi kering rumput laut (Y), dari
yang sudah ditentukan dari atas dan hasil ini dan penelitian terdahulu bahwa
cenderung seragam. Dengan model pengalaman tidak dapat meningkatkan
bantuan yang sifatnya top down ini produksi rumput laut kering di
mengakibatkan alat bantuan menjadi tidak Kecamatan Liang Kabupaten Banggai
efektif. Hal tersebut karena apa yang Kepulauan, sehingga variabel ini dapat
diberikan seringkali bukan merupakan diabaikan karena pengalaman berusaha
kebutuhan petani rumput laut karena tanpa berpengaruh tidak signifikan secara
melalui diskusi dengan mereka. Banyak statistik.
kasus dijumpai bahwa petani yang telah 2. Pendapatan rata – rata petani rumput
memiliki mesin katinting diberikan laut kering per 6.035 m2 /MT di
bantuan mesin katinting pula. Padahal Kecamatan Liang Kabupaten Banggai
yang petani rumput laut tersebut Kepulauan adalah sebesar Rp.
dibutuhkan adalah misalnya tali, baik tali 2.164.509 harga per kg sebesar
utama maupun tali jangkar, bahkan dana Rp.8.000, dari hasil ini maka dapat
segar untuk biaya operasional. disimpulkan bahwa pendapatan petani
rumput laut dikecamatan Liang sudah
KESIMPULAN DAN SARAN bisa menjadikan budidaya rumput laut
Kesimpulan sebagai satu – satunya sumber
Berdasarkan hasil uraian dan pendapatan keluarganya. Sehingga
pembahasan pada bab terdahulu, maka kebutuhan hidup mereka akan terpenuhi
dapat disimpulkan beberapa hal sebagai dengan baik.
berikut :
1. Bahwa seluruh variabel bebas Xi secara Saran
simultan (bersama – sama) terhadap Berdasarkan kesimpulan hasil
variabel yang dijelaskan Y menunjukan penelitian, maka disarankan hal-hal
pengaruh yang sangat nyata. Hal ini sebagai berikut :
diperlihatkan oleh nilai probabilitas p = 1. Bagi pembudidaya rumput laut perlu
0,000 < 0,05 atau menambah jumlah bibit dalam proses
F hitung = 43,267 > F tabel = 3,65 dengan produksi, penambahan curahan tenaga
db ( 4;68) pada α = 0,05 membuktikan kerja/HOK, meningkatkan etos kerja
menolak hipotesis nol. Ini berarti bahwa mereka, dan menambah luas lahan
bibit, tenaga kerja (HOK), luas lahan, budidaya, guna meningkatkan
dan pengalaman, secara bersama – sama produksi rumput laut di Kecamatan
memberikan pengaruh yang sangat Liang Kabupaten Banggai Kepulauan.
nyata terhadap jumlah produksi rumput 2. Peningkatan atau penambahan modal
laut kering. Secara parsial bibit (X1), harus diupayakan agar input produksi
tenaga kerja/HOK (X2) dan luas lahan rumput laut dapat ditingkatkan melalui
(X3) berpengaruh sangat nyata pada pembelian bibit, penggunaan tenaga
taraf kepercayaan 99 % terhadap kerja terampil, dan pembelian tali
produksi rumput laut kering (Y), dari ris/utama.
hasil ini dan penelitian terdahulu bahwa 3. Bagi peneliti selanjutnya agar lebih
penambahan pemakaian bibit, memperhatikan model faktor-faktor
pengoptimalan penggunaan tenaga produksi lainnya yang tidak digunakan
kerja, dan perluasan lahan budidaya dalam penelitian ini, seperti : modal
rumput laut dapat meningkatkan dan metode budidaya.
produksi rumput laut kering di
Kecamatan Liang Kabupaten Banggai

49
DAFTAR PUSTAKA
Indriani, H, dan Sumiarsih, E., 1999. Tourino, P, Maryani, Kristiani, 2006.
Budidaya Pengelolaan dan Budidaya Dan Pengolahan Rumput
Pemasaran Rumput Laut. Penebar Laut. AgroMedia Pustaka. Jakarta.
Swadaya, Jakarta. Umar, H. 2003, Metode Penelitian Untuk
Kolang, 1996. Panduan Budidaya dan Skripsi dan Tesis Bisnis, PT. Raja
Pengolahan Rumput Laut. Dinas Grafindo Persada Jakarta.
Perikanan Sulawesi Utara, Manado. Badan Pusat Statistik, 2009, Kecamatan
Keppel, Charles Rene, 2008, Budidaya Liang Dalam Angka, Kerjasama
Rumput Laut di Pulau – pulau Kecil, dengan Bappeda Kabupaten Banggai
MEP Unsrat Manado. Kepulauan.
Mubarak, H.1999.Percobaan Penanaman Amin, dkk.2005. Jurnal Pengkajian dan
Rumput laut Eucheuma Cotonii di Pengembangan Teknologi
Pulau Samaringa Kepulauan Pertanian.Hal
Menui.www.jasudanetberita8.com 285.www.jasudanet.com
Mubyarto, 1986. Pengantar Ekonomi Danuri, R, 2003, Keanekaragaman Hayati
Pertanian. LP3ES, Jakarta. Laut, PT. Gramedia Pustaka Umum
Mulyadi, 2007, Ekonomi kelautan, Edisi Jakarta.
Pertama, Cetakan Kedua, Raja Farid, M.2010. RI Produsen Rumput Laut
Grafindo Persada Jakarta. Terbesar, Jasuda.Net, Informasi
Nazir, M, 2003, Metode Penelitian, Rumput Laut
Cetakan Kelima, Ghalia Indonesia, Indonesia.www.kabarbisnis.com
Jakarta. Noer, S.2009. Analisis Usaha rumput Laut
Pramesti, G, 2007, Aplikasi SPSS 17.0 (eucheuma sp) di Desa Kabalutan
Dalam Model Linier Statistika, Elex Kecamatan Walea Kepulauan
Media Komputindo, Jakarta. Kabupaten Tojo Una-Una. Tesis tidak
Soekartawi, 2002. Prinsip Dasar Ekonomi Diterbitkan. Program Pascasarjana
Pertanian : Teori dan Aplikasi, Edisi Untad Palu.
Kedua, Cetakan Keempat. PT. Raja Hasanuddin,A.2010. Rumput laut
Grafindo Persada, Jakarta, Komoditas Utama Kelautan Sulteng,
_________, 2003. Teori Produksi Dengan .www.jasudanetberita8.com
Pokok Bahasan Analisis Cobb- Iswadi, 2007. Budidaya Rumput
Douglas. Jakarta. Raja Grafido laut.Dit.Produksi,Ditjen Perikanan
Perkasa Budidaya,Dinas Kelautan dan
Sudradjat, A.2009. Budidaya 23 Perikanan.www.dkp.co.id
Komoditas Laut Menguntungkan. Sujatmiko, dan Angkasa, 2007. Teknik
Cetakan Kedua. Penebar Swadaya. budidaya rumput laut Dengan metode
Jakarta. Http://www.penebar- tali panjang. Laporan Hasil Penelitian
swadaya.com Jakarta: Direktorat Kebijaksanaan
Sugiarto, 2000. Ekonomi Mikro Suatu Pengembangan dan Penerapan
Pendekatan Praktis. Pustaka Utama, Teknologi II.BPPT. www.dkp.co.id
Jakarta.Indonesia
Suratiyah. 2006, Pengantar Ekonomi
Pertanian,Edisi Kedua, Erlangga
Jakarta.

50