Você está na página 1de 24

AKUNTANSI PERPAJAKAN AKTIVA TETAP

A. Perolehan Aktiva Tetap


1. Aktiva Didapat Dengan Cara Pembelian
a. Menurut Akuntansi
Aktiva tetap pada awalnya diukur berdasarkan biaya perolehan.
Biaya perolehan adalah jumlah biaya yang dikeluarkan oleh entitas dan
diperlukan untuk menyiapkan aktiva tetap tersebut agar dapat digunakan
sebagaimana mestinya. Menurut PSAK No. 16 Tahun 2007 biaya
perolehan meliputi:
1) Biaya perolehan atau harga beli, termasuk bea impor dan pajak-pajak
yang berhubungan dengan pembelian yang TIDAK dapat dikreditkan;
2) Biaya – biaya yang dapat didistribusikan langsung untuk membawa
aktiva ke lokasi dan kondisi yang diinginkan. Contoh:
a) biaya angkut,
b) biaya persiapan tempat,
c) biaya perakitan dan instalasi,
d) biaya pengujian (nilai bersih, biaya yang dikeluarkan untuk
pengujian dikurangi hasil yang didapat dari pengujian. Lebih
jelasnya ada di contoh),
e) biaya pinjaman;
3) Estimasi biaya pembongkaran dan pemindahan aktiva tetap dan
restorasi lokasi aset
Sedang SAK 16 Paragraf 19 mengatur biaya-biaya yang BUKAN
merupakan biaya perolehan aktiva tetap, antara lain:
1) biaya pembukaan fasilitas baru,
2) biaya pengenalan produk baru (promosi, iklan),
3) biaya penyelenggaraan bisnis di lokasi baru atau kelompok pelanggan
baru (termasuk biaya pelatihan staf),
4) administrasi dan biaya overhead umum lainnya.
Contoh:
PT Amunisi (PKP) adalah perusahaan yang memproduksi sarden saus
pedas dalam kemasan kaleng. Pada tanggal 13 November 2018
mengimpor mesin pengemas sarden seharga Rp100.000.000 dengan bea
masuk Rp7.500.000. Untuk mengangkut dan memasang mesin tersebut
di pabrik, PT Amunisi mengeluarkan biaya tambahan sebesar
Rp5.000.000.
Pada tanggal 20 November, percobaan pengoperasian mesin telah
selesai dilakukan. Biaya pengujian tersebut sebesar Rp10.000.000. Dari
proses pengujian tersebut dihasilkan 1000 kaleng sarden yang semuanya
laku terjual seharga Rp8.000 per kaleng.
Jurnal yang dibuat PT Amunisi adalah sebagai berikut.
Tanggal Uraian Debet Kredit
13 Nov Mesin 112.500.000
PPN Masukan 10.750.000
Kas 122.500.000
20 Nov Mesin 2.000.000
Kas 2.000.000
Pembelian Mesin:
100.000.000 + 7.500.000 + 5.000.000 = 112.500.000
PPN Masukan:
(100.000.000 + 7.500.000) x 10% = 10.750.000
PPN Masukan tidak dikapitalisasi ke mesin karena PT Amunisi (PKP)
memproduksi dan menjual BKP (sarden saus pedas dalam kaleng) yang
nantinya akan menghasilkan PPN Keluaran. Artinya, PPN Masukan mesin
pengemas bisa dikreditkan terhadap PPN Keluaran penjualan sarden.

Kesimpulannya, kalau WP bukan PKP atau barang/ jasa yang dijual bukan BKP/
bukan JKP, PPN Masukan dikapitalisasi,
Biaya Pengujian:
10.000.000 – 8.000.000 = 2.000.000
Biaya pengujian yang dikapitalisasi adalah sebesar biaya yang dikeluarkan
dikurangi penghasilan yang dihasilkan proses pengujian tersebut (penjualan
sarden yang dihasilkan dari proses pengujian).

b. Menurut Perpajakan
Pada dasarnya nilai perolehan dengan cara pembelian menurut
perpajakan dan menurut akuntansi tidak berbeda. Namun menurut
perpajakan, hubungan antara pihak yang bertransaksi jual-beli aktiva
tersebut perlu diperhatikan.
1) Tidak terdapat hubungan istimewa.
Jika pihak yang bertransaksi tidak memiliki hubungan istimewa,
biaya perolehan aktiva tetap adalah biaya yang sesungguhnya
dikeluarkan sampai aktiva siap digunakan, termasuk PPN Masukan
yang tidak dapat dikreditkan.
2) Terdapat hubungan istimewa.
Jika pihak yang bertransaksi memiliki hubungan istimewa, aktiva
tetap tersebut diakui senilai jumlah yang seharusnya dikeluarkan atau
diterima, atau sesuai harga pasar yang wajar.
Hubungan istimewa menurut Pasal 18 ayat (4) UU PPh:
- Terdapat penyertaan modal baik langsung maupun tidak langsung
sebesar ≥25% (hubungan entitas asosiasi)
- Terdapat penguasaan (hubungan entitas induk—entitas anak)
- Terdapat hubungan keluarga sedarah maupun semenda dalam
garis keturunan lurus/ atau ke samping satu derajat.
-
2. Aktiva Didapat Dengan Cara Pertukaran
a. Menurut Akuntansi
Aktiva yang didapat dengan cara pertukaran dapat dinilai sebesar
nilai wajarnya atau sebesar nilai tercatat aktiva yang diserahkan.
Dicatat sebesar nilai wajarnya apabila:
- transaksi pertukaran tersebut memiliki substansi komersial, atau
- nilai wajar aktiva yang diterima dapat diukur secara andal
Dicatat sebesar nilai tercatat aktiva yang diserahkan apabila:
- transaksi pertukaran tersebut tidak memiliki substansi komersial,
atau
- nilai wajar aktiva yang diterima tidak dapat diukur secara andal.
Substansi komersial adalah perubahan arus kas yang signifikan di masa
depan sebagai akibat dari pertukaran tersebut. Contoh: pertukaran
mesin dengan kapasitas kecil dengan mesin berkapasitas lebih besar.
Kemungkinan besar arus kas yang dihasilkan mesin kapasitas kecil
berbeda secara signifikan dengan arus kas yang dihasilkan mesin
kapasitas besar. Berarti, pertukaran mesin berbeda kapasitas tersebut
terkandung substansi komersial.
Transaksi Pertukaran Aset Aturan Akuntansi
Memiliki substansi komersial Laba dan rugi diakui
Tidak memiliki substansi Rugi diakui, laba belum diakui
komersial saat pertukaran

b. Menurut Perpajakan
Nilai perolehan atau nilai penjualan dalam hal tukar-menukar harta
adalah jumlah yang seharusnya dikeluarkan atau diterima berdasarkan
harga pasar. Jadi tidak memperhatikan ada tidaknya substansi komersial.
1) Pertukaran aktiva tetap jika tidak ada kas yang dikeluarkan
PT Amunisi menukarkan mesin A yang dimilikinya dengan mesin
B milik PT Suplemen. Dalam transaksi pertukaran ini tidak melibatkan
penambahan kas karena harga pasar mesin A dan mesin B kebetulan
sama.
Berikut adalah catatan mesin A PT Amunisi.
Uraian Catatan Akuntansi Catatan Fiskal
Harga beli mesin A Rp100.000.000 Rp100.000.000
Akumulasi penyusutan Rp60.000.000 Rp70.000.000
Nilai buku Rp40.000.000 Rp30.000.000
Nilai pasar Rp40.000.000 Rp40.000.000
Berdasarkan catatan akuntansi, tidak terdapat keuntungan
pertukaran (nilai buku mesin A menurut catatan akuntansi sama
dengan nilai pasarnya). Sedangkan berdasarkan catatan fiskal,
terdapat keuntungan sebesar Rp10.000.000. Atas keuntungan ini
akan dilakukan koreksi fiskal positif di akhir tahun.
Ingat PPN 16 D!!!!
PPN dikenakan atas penyerahan BKP berupa aktiva yang menurut
tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan oleh PKP, kecuali atas
penyerahan aktiva yang pajak masukannya tidak dapat dikreditkan.
Jurnal yang dibuat untuk mencatat pertukaran mesin PT Amunisi.
Uraian Debet Kredit
Mesin B 40.000.000
PPN Masukan 40.000.000
Akumulasi depresiasi 60.000.000
Mesin A 100.000.000
PPN Keluaran 40.000.000
DPP PPN adalah harga pasar wajar mesin.

2) Pertukaran aktiva tetap jika ada kas yang dikeluarkan


PT Amunisi menukarkan mesin A yang dimilikinya dengan mesin
B milik PT Suplemen. Dalam transaksi pertukaran ini melibatkan
penambahan kas karena harga pasar mesin A dan mesin B tidak sama.
Mesin B milik PT Suplemen dilepas seharga Rp65.000.000, PT
Amunisi harus menyerahkan tambahan kas Rp35.000.000.
Berikut adalah catatan mesin A PT Amunisi.
Uraian Catatan Akuntansi Catatan Fiskal
Harga beli mesin A Rp100.000.000 Rp100.000.000
Akumulasi penyusutan Rp60.000.000 Rp70.000.000
Nilai buku Rp40.000.000 Rp30.000.000
Nilai pasar Rp30.000.000 Rp30.000.000
Jurnal yang dibuat PT Amunisi untuk mencatat pertukaran mesin
adalah sebagai berikut.
Uraian Debet Kredit
Mesin B 65.000.000
PPN Masukan 6.500.000
Akumulasi depresiasi 60.000.000
Rugi pertukaran mesin 10.000.000
Mesin A 100.000.000
PPN Keluaran 3.000.000
Kas 38.500.000
PPN Masukan:
10% x harga pasar wajar aset yang diterima=
10% x 65.000.000
PPN Keluaran:
10% x harga pasar wajar aset yang dilepas=
10% x 30.000.000

3. Aktiva Didapat Dari Donasi


a. Menurut Akuntansi
Aktiva tetap yang diterima dari donasi dicatat sebesar harga pasar
wajar dan mengkredit akun “Modal Donasi”. Untuk donasi yang masih
bersifat probable dengan kata lain masih bersifat kontinjen, akan dicatat
sebagai “Aktiva yang Belum Pasti” dan mengkredit “Modal yang Belum
Pasti”.

b. Menurut Perpajakan
Menurut pasal 4 ayat (1) huruf d UU PPh keuntungan yang diperoleh
dari hibah, bantuan, atau sumbangan merupakan objek pajak, kecuali
yang diberikan kepada:
- keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat
- badan keagamaan, badan pendidikan, dan badan sosial
- orang pribadi yang menjalankan usaha mikro dan kecil yang
ketentuannya diatur lebih lanjut dengan PMK
- pihak yang di antara pihak- pihak yang terlibat memiliki hubungan
kepemilikan atau penguasaan, serta penyerahan hibah, bantuan,
atau sumbangan tersebut berhubungan dengan pekerjaan dan
usaha.
Kemudian menurut pasal 10 ayat (4) UU PPh, aktiva tetap dicatat sebesar:
- Nilai sisa buku dari pihak yang melakukan pengalihan, atau nilai
yang ditetapkan DJP. Dicatat senilai ini jika hibah/ bantuan/
sumbangan memenuhi syarat pasal 4 ayat (3) huruf a dan b.
Pasal 4 ayat (3) huruf a dan b:
a.
1. bantuan atau sumbangan, termasuk zakat yang diterima
oleh badan amil zakat atau lembaga amil zakat yang
dibentuk atau disahkan oleh pemerintah dan yang
diterima oleh penerima zakat yang berhak atau
sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi pemeluk
agama yang diakui di Indonesia, yang diterima oleh
lembaga keagamaan yang dibentuk atau disahkan oleh
pemerintah dan yang diterima oleh penerima sumbangan
yang berhak, yang ketentuannya diatur dengan atau
berdasarkan Peraturan Pemerintah; dan
2. harta hibahan yang diterima oleh keluarga sedarah dalam
garis keturunan lurus satu derajat, badan keagamaan,
badan pendidikan, badan sosial termasuk yayasan,
koperasi, atau orang pribadi yang menjalankan usaha
mikro dan kecil, yang ketentuannya diatur dengan atau
berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan,
sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan,
kepemilikan, atau penguasaan di antara pihak-pihak yang
bersangkutan;
b. warisan.
- Harga pasar wajar. Aktiva tetap dicatat senilai harga pasar wajar
apabila hibah/ bantuan/ sumbangan tidak memenuhi pasal 4 ayat
(3) huruf a.
Pasal 10 ayat (4) UU PPh menyatakan: “Apabila terjadi pengalihan harta
sesuai pasal 4(3) huruf c (harta yang diterima oleh badan sebagai
pengganti saham/ penyertaan modal), dasar penilaian harta bagi badan
yang menerima pengalihan sama dengan nilai pasar dari harta tersebut.
Contoh aktiva sumbangan sebagai objek pajak penghasilan:
PT Amunisi mendapat hibah dari PT Tiramisu berupa mesin senilai
Rp50.000.000. PT Tiramisu adalah pemilik saham mayoritas PT Amunisi.
Catatan pada pembukuan PT Tiramisu: harga beli mesin Rp100.000.000,
akumulasi depresiasi Rp70.000.000, nilai tercatat Rp30.000.000.
Analisis:
Hibah tersebut merupakan objek pajak karena memenuhi pasal 4
(1) UU PPh. Kemudian, pemberi hibah memiliki hubungan
kepemilikan dengan penerima hibah, maka transaksi hibah
tersebut tidak memenuhi pasal 4 (3) huruf a. Jadi aktiva dicatat
sebesar nilai pasar wajar.
Jurnal yang dibuat PT Amunisi.
Uraian Debet Kredit
Mesin 50.000.000
Modal Donasi 50.000.000
Meskipun tidak diakui sebagai penghasilan dalam akuntansi, hibah
ini merupakan penghasilan menurut pajak. Di akhir tahun akan
dilakukan koreksi fiskal positif senilai Rp50.000.000.

Jurnal yang dibuat PT Tiramisu.


Uraian Debet Kredit
Akumulasi depresiasi 70.000.000
Kerugian pengalihan harta 33.000.000
Mesin 100.000.000
PPN Keluaran 3.000.000

4. Aktiva Didapat Dengan Cara Dibangun/ Dibuat Sendiri


a. Menurut Akuntansi
Aktiva tetap dicatat sebesar biaya yang dikeluarkan sampai aset tersebut
siap digunakan:
- Material dan tenaga kerja,
- Overhead, yaitu biaya variabel dan porsi dari fixed overhead yang
terkait langsung dengan pembangunan aset,
- Biaya bunga selama proses pembangunan

b. Menurut Perpajakan
Harga perolehan aktiva tetap yang dibangun sendiri adalah
pengeluaran untuk membangun atau membuat aktiva tersebut sampai
aktiva tersebut siap dipakai. Pengeluaran yang berhubungan dengan
membangun atau membuat aktiva tersebut harus dibedakan antara biaya
yang DAPAT dikurangkan (Pasal 6 UU PPh) dan biaya yang TIDAK
DAPAT dikurangkan (Pasal 9 UU PPh).
Catatan:
- Pengeluaran untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara
penghasilan yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 tahun
tidak boleh dibebankan sekaligus, tetapi dibebankan melalui
penyusutan atau amortisasi.
- PPN Masukan untuk pembelian bahan yang digunakan untuk
membangun sendiri bangunan yang digunakan sendiri, tidak
dapat dikreditkan. PPN tersebut harus dikapitalisasi dan
dibebankan/ menjadi pengurang penghasilan bruto melalui
mekanisme penyusutan.
- Bunga pinjaman atas pinjaman yang digunakan untuk melakukan
kegiatan membangun sendiri harus dikapitalisasi. Prinsip yang
digunakan sama seperti prinsip akuntansi yang diterapkan di
Indonesia.
- DPP PPN kegiatan membangun sendiri adalah 20% dari total
biaya yang dikeluarkan.

Contoh:
PT Amunisi membangun gedung kantor untuk digunakan sendiri.
Proses pembangunan berlangsung selama 2 tahun. Berikut adalah
catatan biaya yang dikeluarkan PT Amunisi untuk melakukan KMS
menurut akuntansi dan fiskal.
Keterangan Cfm Akuntansi Koreksi Fiskal Cfm Fiskal
Penggunaan bahan Rp 1.000.000.000 Rp 1.000.000.000
Bahan lain- lain Rp 200.000.000 Rp 200.000.000
Upah langsung Rp 500.000.000 Rp 500.000.000
PPh 21 dibayar PT Amunisi Rp 25.000.000 Rp 25.000.000 Rp -
Honor konsultan Rp 50.000.000 Rp 50.000.000
PPN Masukan Rp 125.000.000 Rp 125.000.000
Biaya yang tidak ada bukti Rp 5.000.000 Rp 5.000.000 Rp -
Bunga dikapitalisasi Rp 20.000.000 Rp 20.000.000
Total biaya bangunan Rp 1.925.000.000 Rp 1.895.000.000
PPN KMS Rp 38.500.000 Rp 38.500.000
Nilai bangunan Rp 1.963.500.000 Rp 1.933.500.000
PT Amunisi akan selalu membuat jurnal berikut setiap melakukan
pengeluaran dalam rangka KMS.
Uraian Debet Kredit
Gedung dalam pengerjaan xxx
Kas/ Utang xxx
PPN KMS xxx
Nominal pada akun “Gedung dalam pengerjaan” adalah
penjumlahan harga beli, PPN Masukan, dan PPN KMS.
Misal, PT Amunisi membeli semen senilai Rp1.000.000, maka
terdapat PPN Masukan sejumlah Rp100.000 dan PPN KMS
sejumlah Rp20.000. “Gedung dalam pengerjaan” didebit sebesar
Rp1.120.000.

Ketika KMS telah selesai dikerjakan, PT Amunisi membuat jurnal


sebagai berikut.
Uraian Debet Kredit
Gedung Xxx
Gedung dalam pengerjaan xxx
Nilai gedung PT Amunisi menurut catatan akuntansi dan catatan
fiskal berbeda. Hal ini berdampak pada depresiasi gedung tersebut.
Berikut adalah skedul depresiasi gedung PT Amunisi.
Uraian Akuntansi Fiskal Selisih
Nilai gedung Rp 1.963.500.000 Rp 1.933.500.000 Rp 30.000.000
Masa manfaat 20 tahun 20 tahun
Metode penyusutan garis lurus garis lurus
Besarnya depresiasi setahun Rp 98.175.000 Rp 96.675.000 Rp 1.500.000
Pada setiap akhir tahun, PT Amunisi harus melakukan koreksi fiskal
positif sebesar Rp1.500.000. Karena selisih disebabkan oleh
perbedaan nilai gedung antara catatan akuntansi dan catatan fiskal,
koreksi fiskal tersebut adalah koreksi fiskal beda tetap. Tidak ada
pajak tangguhan yang disebabkan selisih ini.

5. Perolehan Aktiva Tetap dari Setoran Modal


a. Menurut Akuntansi
Setoran modal berupa aktiva tetap menurut akuntansi bukan
pendapatan.
Contoh: PT Suplemen menyerahkan sebuah mesin senilai
Rp150.000.000 untuk membeli 10.000 lembar saham PT Amunisi (par
Rp10.000) yang saat itu fair value-nya Rp15.000.
Uraian Debet Kredit
Mesin 150.000.000
Common stock 100.000.000
Additional PIC 50.000.000

b. Menurut Perpajakan
Penempatan modal dalam suatu perusahaan dapat dipenuhi dengan
setoran tunai atau pengalihan harta.
Pasal 4 (3) huruf d UU PPh:
“Harta termasuk setoran tunai yang diterima oleh badan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 2 ayat 1 huruf b sebagai pengganti saham atau
sebagai pengganti penyertaan modal BUKAN OBYEK pajak
penghasilan.”
B. Penyusutan Aktiva Tetap
1. Metode Penyusutan Menurut Akuntansi
a. Metode garis lurus
Metode ini menghasilkan pembebanan yang merata sepanjang
umur manfaat selagi nilai residu tidak berubah.
ℎ𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑝𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ𝑎𝑛 − 𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑟𝑒𝑠𝑖𝑑𝑢
𝑏𝑒𝑏𝑎𝑛 𝑑𝑒𝑝𝑟𝑒𝑠𝑖𝑎𝑠𝑖 =
𝑒𝑠𝑡𝑖𝑚𝑎𝑠𝑖 𝑢𝑚𝑢𝑟 𝑚𝑎𝑛𝑓𝑎𝑎𝑡
b. Metode saldo menurun
Metode ini menghasilkan pembebanan yang menurun
sepanjang umur manfaat.
1
𝑡𝑖𝑛𝑔𝑘𝑎𝑡 𝑑𝑒𝑝𝑟𝑒𝑠𝑖𝑎𝑠𝑖 = ×2
𝑒𝑠𝑡𝑖𝑚𝑎𝑠𝑖 𝑢𝑚𝑢𝑟 𝑚𝑎𝑛𝑓𝑎𝑎𝑡

𝑏𝑒𝑏𝑎𝑛 𝑑𝑒𝑝𝑟𝑒𝑠𝑖𝑎𝑠𝑖 = 𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑏𝑢𝑘𝑢 × 𝑡𝑖𝑛𝑔𝑘𝑎𝑡 𝑑𝑒𝑝𝑟𝑒𝑠𝑖𝑎𝑠𝑖

Dalam metode ini, nilai residu tidak diperhitungkan dalam


menentukan beban depresiasi per tahun. Nilai residu akan
diperhitungkan di akhir umur manfaat. Jadi pada tahun terakhir,
beban depresiasi tidak dihitung menggunakan rumus di atas, tetapi
hanya menyesuaikan nilai buku aktiva tahun sebelumnya dengan
nilai residu.

c. Unit produksi
Metode unit produksi menghasilkan pembebanan berdasarkan
penggunaan aktiva tetap. Metode ini lebih sesuai dibanding metode
garis lurus saat jumlah penggunaan aset tetap bervariasi dari tahun
ke tahun.
𝑏𝑖𝑎𝑦𝑎 − 𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑟𝑒𝑠𝑖𝑑𝑢
𝑑𝑒𝑝𝑟𝑒𝑠𝑖𝑎𝑠𝑖 𝑝𝑒𝑟 𝑢𝑛𝑖𝑡, 𝑗𝑎𝑚, 𝑑𝑠𝑏 =
𝑒𝑠𝑡𝑖𝑚𝑎𝑠𝑖 𝑚𝑎𝑠𝑎 𝑚𝑎𝑛𝑓𝑎𝑎𝑡 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑢𝑛𝑖𝑡, 𝑗𝑎𝑚, 𝑑𝑠𝑏

𝑏𝑒𝑏𝑎𝑛 𝑑𝑒𝑝𝑟𝑒𝑠𝑖𝑎𝑠𝑖
= 𝑑𝑒𝑝𝑟𝑒𝑠𝑖𝑎𝑠𝑖 𝑝𝑒𝑟 𝑢𝑛𝑖𝑡 × 𝑢𝑛𝑖𝑡 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖ℎ𝑎𝑠𝑖𝑙𝑘𝑎𝑛

Berdasarkan PSAK 16:


- Penyusutan aset dimulai pada saat aset tersebut siap digunakan.
Yaitu pada saat aset tersebut berada di lokasi dan kondisi yang
diinginkan agar aset siap digunakan sesuai dengan keinginan dan
maksud manajemen.
Contoh: PT Amunisi membeli mesin pada tanggal 18 Februari,
pada hari yang sama mesin tersebut siap digunakan untuk proses
produksi. Penyusutan mesin tersebut dimulai pada bulan Maret.
Jika bukan tanggal 18 Februari, tetapi tanggal 10 Februari, mesin
tersebut disusutkan mulai bulan Februari.
- Penyusutan aset dihentikan lebih awal ketika:
 diklasifikasikan sebagai aset dimiliki untuk dijual, dan
 aset dihentikan pengakuannya.
Implikasi, penyusutan tidak dihentikan sekalipun aset:
 tidak digunakan, atau
 dihentikan penggunaannya.
- Tanah dan bangunan diperlakukan sebagai aset yang terpisah
walaupun diperoleh sekaligus.
2. Metode Penyusutan Menurut Perpajakan
Metode penyusutan menurut perpajakan sesuai dengan pasal 11 UU PPh
berdasarkan masa manfaat yang telah ditentukan berdasarkan undang-
undang sebagai berikut:
Tarif Penyusutan
Kelompok Harta
Masa Manfaat
Berwujud Garis Lurus Saldo Menurun
Bukan Bangunan
Kelompok 1 4 tahun 25% 50%
Kelompok 2 8 tahun 12,5% 25%
Kelompok 3 16 tahun 6,25% 12,5%
Kelompok 4 20 tahun 5% 10%
Bangunan
Permanen 20 tahun 5%
Tidak Permanen 10 tahun 10%
Penggolongan aktiva berwujud selain bangunan diatur dalam PMK Nomor
96/PMK.03/2009. Untuk jenis- jenis harta berwujud bukan bangunan yang
tidak tercantum dalam penggolongan kelompok 1, kelompok 2, kelompok
3, maupun kelompok 4, untuk kepentingan penyusutan fiskal harta
tersebut dimasukkan dalam kelompok 3.
Namun jika WP dapat menunjukkan masa manfaat yang sesungguhnya
dari harta yang tidak tercantum dalam keempat kelompok tersebut, WP
harus mengajukan permohonan untuk penetapan kelompok harta
berwujud bukan bangunan tersebut sesuai masa manfaat yang
sesungguhnya kepada DJP.
Catatan:
- Pengeluaran- pengeluaran untuk memperoleh tanah hak milik,
termasuk tanah berstatus HGB, HGI, dan hak pakai yang pertama
kali tidak boleh disusutkan, kecuali bila tanah tersebut digunakan
untuk memperoleh penghasilan misalnya tanah milik perusahaan
produsen genteng, batu bata, dan keramik.
- Penyusutan atas pengeluaran untuk pembelian, pendirian,
penambahan, perbaikan, atau perubahan harta berwujud, kecuali
tanah yang berstatus hak milik, HGB, HGU, dan hak pakai, yang
dimiliki dan digunakan untuk 3M mempunyai masa manfaat lebih
dari 1 tahun dilakukan dalam bagian-bagian yang sama besar
selama masa manfaat yang telah ditentukan bagi harta tersebut.
(red: peraturan perpajakan memperbolehkan penggunaan
metode garis lurus untuk semua aktiva tetap kecuali tanah.)
- Penyusutan atas pengeluaran harta berwujud selain bangunan
dapat juga dilakukan dalam bagian- bagian yang menurun selama
masa manfaat, yang dihitung dengan menerapkan tarif
penyusutan atas nilai sisa buku, dan pada akhir masa manfaat nilai
sisa buku disusutkan sekaligus. (red: peraturan perpajakan
memperbolehkan penggunaan metode saldo menurun untuk
aktiva tetap kecuali bangunan. Bangunan harus menggunakan
metode garis lurus.)
- Bangunan tidak permanen adalah bangunan yang bersifat
sementara, terbuat dari bahan yang tidak tahan lama atau
bangunan yang dapat dipindah-pindahkan, yang mana masa
manfaatnya tidak lebih dari 10 tahun. Misal: barak atau asrama
yang terbuat dari kayu.

SAAT DIMULAINYA PENYUSUTAN


- Menurut pasal 11 ayat 3 PPh Jo. PER DJP10/PJ/2014, penyusutan
dimulai pada bulan dilakukannya pengeluaran, kecuali untuk
harta yang masih dalam proses pengerjaan (aset KMS dalam
pengerjaan). Aset KMS mulai disusutkan pada bulan selesainya
pengerjaan aset KMS tersebut. Penyusutan pada tahun pertama
dihitung secara prorata.
Contoh: PT Amunisi membeli mesin pada tanggal 18 Februari.
Penyusutan mesin tersebut dimulai pada bulan Februari, bukan
Maret.
- Pasal 11 ayat 4 menyatakan bahwa dengan persetujuan DJP, WP
diperkenankan melakukan penyusutan pada bulan harta tersebut
digunakan untuk 3M atau pada bulan harta yang bersangkutan
mulai menghasilkan.
Contoh: PT Amunisi bergerak dalam bidang perkebunan kelapa
sawit. Pada tahun 2015 PT Amunisi membeli peralatan seperti
traktor dan truk. Perkebunan tersebut baru mulai menghasilkan
pada tahun 2018. Dengan persetujuan DJP, penyusutan atas
peralatan yang dibeli PT Amunisi tahun 2015 dapat dimulai pada
tahun 2018.
- Apabila WP melakukan penilaian kembali berdasarkan ketentuan
yang berlaku, dasar penyusutan atas harta adalah nilai setelah
dilakukan penilaian kembali harta tersebut.
PENGHENTIAN PENYUSUTAN
- Aktiva tetap tersebut dialihkan sebagai pengganti penyertaan
modal;
- Aktiva tetap dialihkan dalam rangka likuidasi, penggabungan,
peleburan, pemecahan, atau pengambilalihan usaha;
- Aktiva tetap tersebut dijual atau sebab lainnya. Misal: kebakaran.

KETENTUAN KHUSUS PENYUSUTAN AKTIVATETAP


- Penyusutan telepon seluler
Atas pengeluaran untuk memperoleh telepon seluler yang
dimiliki dan dipergunakan perusahaan untuk pegawai tertentu
karena jabatan atau pekerjaannya, dapat dibebankan sebagai
biaya perusahaan sebesar 50% dari jumlah biaya perolehan
melalui penyusutan aktiva tetap kelompok 1.
Contoh:
Pada tanggal 21 Januari 2013, PT Amunisi membeli 10 telepon
seluler untuk pegawai bagian pemasaran, dengan total biaya
pembelian Rp20.000.000. PT Amunisi menerapkan metode saldo
menurun untuk menyusutkan telepon seluler ini. Berikut adalah
skedul penyusutannya.

Beban Penyusutan
Beban Penyusutan yang boleh
Tahun (nilai buku x tingkat dikurangkan Nilai Buku
depresiasi) (beban penyusutan
x 50%)

1/1/2013 - - Rp20.000.000
31/12/2013 Rp10.000.000 Rp5.000.000 Rp10.000.000
31/12/2014 Rp5.000.000 Rp2.500.000 Rp5.000.000
31/12/2015 Rp2.500.000 Rp1.250.000 Rp2.500.000
31/12/2016 Rp2.500.000 Rp1.250.000 -
1
Tingkat depresiasi= 4 𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛 × 2 = 0,5

- Penyusutan kendaraan sedan


Atas biaya perolehan atau pembelian atau perbaikan besar
kendaraan sedan atau yang sejenis yang dimiliki dan dipergunakan
untuk pegawai tertentu karena jabatan atau pekerjaannya, dapat
dibebankan sebagai biaya perusahaan sebesar 50% dari jumlah
biaya perolehan atau pembelian atau perbaikan besar melalui
penyusutan aktiva tetap kelompok 2.

PENYUSUTAN ATAS HARTA BEERWUJUD DALAM USAHA- USAHA


TERTENTU
Bidang Usaha Harta Kelompok
Berwujud
Bidang usaha kehutanan yang tanamannya Tanaman Kelompok 4
dapat berproduksi berkali- kali dan baru kehutanan,
menghasilkan setelah ditanam lebih dari 1 kayu
tahun
Bidang usaha perkebunan tanaman keras yang Tanaman Kelompok 4
tanamannya dapat berproduksi berkali- kali keras
dan baru menghasilkan setelah ditanam lebih
dari satu tahun
Bidang usaha peternakan yang mana ternaknya Hewan Kelompok 2
dapat berproduksi berkali- kali dan baru dapat ternak
dijual setelah dipelihara sekurang- kurangnya 1
tahun
Penyusutan atas pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud dimulai pada
bulan produksi komersial. Bulan produksi komersial adalah bulan di mana
penjualan mulai dilakukan.
Pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud termasuk biaya pembelian
bibit, biaya untuk membesarkan dan memelihara bibit. Namun tidak termasuk
pengeluaran biaya yang berhubungan dengan tenaga kerja.

Penyusutan bagi kontraktor yang melakukan eksplorasi dan eksploitasi


minyak dan gas bumi dalam rangka kontrak bagi hasil dengan
PERTAMINA:
- kelompok 1 dengan tarif penyusutan 50%
- kelompok 2 dengan tarif penyusutan 25%
- kelompok 3 dengan tarif penyusutan 10%.
FASILITAS PERPAJAKAN DI BIDANG PENYUSUTAN

Pemerintah memberikan fasilitas berupa penyusutan dipercepat kepada


WP badan dalam negeri berbentuk perseroan terbatas dan koperasi yang
melakukan penanaman modal pada bidang- bidang usaha tertentu dan
daerah- daerah tertentu. Berdasarkan PMK No. 21/PMK/011/2010, WP
yang mendapat fasilitas penyusutan dipercepat adalah yang mempunyai
kegiatan pemanfaatan Sumber Energi Terbarukan.

Tarif Penyusutan
Kelompok Harta
Masa Manfaat
Berwujud Garis Lurus Saldo Menurun
Bukan Bangunan
Kelompok 1 2 tahun 50% 100%
Kelompok 2 4 tahun 25% 50%
Kelompok 3 8 tahun 12,5% 25%
Kelompok 4 10 tahun 10% 20%
Bangunan
Permanen 10 tahun 10%
Tidak Permanen 5 tahun 20%

HUBUNGAN PENYUSUTAN AKTIVA TETAP MENURUT AKUNTANSI


DAN MENURUT PERPAJAKAN

- Beban penyusutan aktiva tetap merupakan biaya menurut


akuntansi namun menurut peraturan perpajakan bukan biaya
yang dapat dikurangkan untuk menghitung penghasilan kena
pajak.
Dalam kasus ini terjadi beda tetap.
Contoh:

PT Sejahtera tidak mengakui aktiva pajak tangguhan maupun


kewajiban pajak tangguhan karena koreksi beda tetap.

- Beban penyusutan tetap merupakan biaya menurut akuntansi dan


menurut peraturan perpajakan.
 Beda peraturan mengenai nilai residu (beda waktu)
Contoh:
 Beda peraturan terkait penyusutan telepon seluler dan
kendaraan sedan (beda tetap)
Contoh:

 Beda penentuan masa manfaat (beda waktu)


Contoh:
 Perbedaan saat dimulainya penyusutan
PERBANDINGAN PERLAKUAN AKTIVA TETAP ANTARA AKUNTANSI
DAN PERPAJAKAN

No. Uraian Akuntansi Perpajakan


1. Harga  Biaya perolehan  Tidak ada hubungan
perolehan aktiva tetap=nilai istimewa=biaya yang
sebagai tunainya dan diakui sesungguhnya
dasar saat terjadinya dikeluarkan sampai
penyusutan transaksi aset tetap. aktiva siap digunakan,
termasuk PPN yang
tidak dapat
dikreditkan.
 Ada hubungan
istimewa=jumlah
yang seharusnya
dikeluarkan atau
 Substansi komersial= diterima sesuai harga
harga pasar aset pasar wajar.
yang diterima  Transaksi tukar
 Tidak ada substansi menukar=harga pasar
komersial= nilai  Dalam rangkaian
buku aset yang likuidasi, peleburan,
dilepas pemekaran,
pemecahan, atau
penggabungan=
harga pasar wajar,
 Aset sumbangan= kecuali ditentukan lain
berdasarkan harga oleh Menkeu.
pasar  Aset sumbangan
memenuhi pasal 4 (3)
a= nilai sisa buku
 Aset sumbangan tidak
memenuhi pasal 4 (3)
 Aset KMS= seluruh a= harga pasar wajar
biaya yang  Aset KMS= seluruh
dikeluarkan sampai biaya yang
aset siap digunakan. dikeluarkan sampai
aset siap digunakan
dengan
memperhatikan
ketentuan pasal 6 dan
9.
2. Masa  Berdasarkan taksiran  Berdasarkan peraturan
Manfaat, umur ekonomis, perpajakan yang
umur aktiva maupun teknis berlaku (usia aktiva
(berdasarkan sudah ditentukan)
judgement
manajemen).
3. Nilai Residu  Nilai residu aktiva  Tidak ada nilai residu
dapat
diperhitungkan.
 Ditelaah ulang secara
periodik.
4. Besaran  Aktiva disusutkan  Tidak mengenal
nilai aktiva jika nilainya meterialitas, seluruh
yang dapat material. aktiva tetap yang
disusutkan mempunyai masa
manfaat lebih dari
satu tahun harus
disusutkan.
5. Aktiva yang Semua aktiva tetap Hanya aktiva yang
dapat yang dimiliki dimiliki dan digunakan
disusutkan perusahaan, kecuali untuk 3M penghasilan,
tanah. kecuali penghasilannya
dikenakan pajak bersifat
final.
6. Metode Perusahaan dapat  Untuk bangunan
Penyusutan memilih metode menggunakan metode
penyusutan yang sesuai garis lurus.
dengan pola  Untuk selain
penggunaan aktiva: bangunan dapat
 Garis lurus menggunakan metode
 Saldo menurun garis lurus maupun
 Unit produksi saldo menurun.
 Dsb.
7. Saat  Dimulai saat aset siap  Dimulai saat
mulainya digunakan. perolehan atau saat
penyusutan  Jika perolehan di pembelian.
bawah tanggal 15,  Perolehan baik
disusutkan mulai sebelum maupun
bulan tersebut. setelah tanggal 15,
 Jika perolehan di tetap mulai disusutkan
atas tanggal 15, pada bulan tersebut.
disusutkan mulai
bulan berikutnya.
8. Penghentian Tidak memerlukan izin Harus dengan izin
penyusutan Menteri Keuangan
9. Biaya Disusutkan sesuai Disusutkan tersendiri
Perbaikan dengan masa manfaat terpisah dari aktiva yang
yang yang dihitung ulang. diperbaiki. Biaya
dikapitalisasi Biaya perbaikan akan perbaikan disusutkan
disusutkan selama sisa dengan masa manfaat
manfaat ditambah baru.
dengan tambahan masa
manfaat akibat
perbaikan