Você está na página 1de 13

KATA PENGANTAR

Salam Sejahtera,

Puji Syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas limpah berkat
perkenan-Nya sehingga tugas makalah mengenai “PPh Pasal 24 dan Pasal 25”dapat
diselesaikan dengan waktu yang tepat.

Tugas ini berisi pembahasan materi tentang PPh Pasal 24 dan 25 yang kami kerjakan sebagai
kewajiban dalam menyelesaikan tugas mata kuliah “Perpajakan”. Tidak lupa juga kami
mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Ibu Nurlaela Mapparessa sebagai Dosen
Pengasuh dalam mata kuliah ini yang telah memberikan bimbingan dan bantuan sebagai
petunjuk pembuatan tugas ini dan semua pihak tanpa terkecuali yang telah membantu dalam
penyusunan tugas ini, baik secara materi maupun moril.

Palu, Mei 2014

Penyusun

PERPAJAKAN - Pajak Penghasilan | 1


DAFTAR ISI

Kata Pengantar .......................................................................................................... 1


Daftar isi.................................................................................................................... 2

Bab I
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang ............................................................................................... 3
1.2 Rumusan Masalah .......................................................................................... 3

Bab II
Pembahasan
2.1 Pajak Penghasilan Pasal 24
A. Pengertian PPh 24 .................................................................................... 4
B. Batas maksimum Kredit Pajak Luar Negeri (KPLN) ............................... 4
C. Cara mencari Pajak Penghasilan Pasal 24 ................................................ 4
D. Penggabungan Penghasilan ...................................................................... 6
A.2Pajak Penghasilan 25
A. Pengertian .................................................................................................. 7
B. Angsuran PPh Pasal 25 untuk WP Baru .................................................... 7
C. Angsuran PPh Pasal 25 untuk WP Bank ................................................... 8
D. Angsuran PPh Pasal 25 untuk WP BUMN dan BUMD ............................ 8
E. Angsuran PPh Pasal 25 untuk WP masuk Bursa dan WP Lain ................. 8
F. Angsuran PPh Pasal 25 untuk WP OP tertentu .......................................... 9
G. Pengurangan Angsuran PPh Pasal 25........................................................ 9
H. Cara Mengitung PPh Pasal 25 ................................................................... 9
I. PPh Pasal 25 Sebelum Bulan Batas Waktu Penyampaian SPT ................ 10
J. PPh Pasal 25 Jika Dalam Tahun Berjalan Telah Diterbitkan SKP ........... 10
K. PPh Pasal 25 Dalam Hal-hal Tertentu ...................................................... 10
L. Penentuan Sumber Penghasilan ................................................................ 11

Bab III
Penutup
3.1 Kesimpulan ................................................................................................... 12

Daftar Pustaka .......................................................................................................... 13

PERPAJAKAN - Pajak Penghasilan | 2


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pajak Penghasilan Pasal 24 Adalah Pajak yang dipungut di luar negeri atas penghasilan wajib
pajak di luar negeri.Pajak yang dibayar di luar negeri atas penghasilan luar negeri yang diperoleh
wajib pajak dalam negeri (WPDN) boleh dikreditkan dengan pajak yang terutang dalam tahun
pajak yang sama, sebesar pajak yang dibayarkan diluar negeri tersebut tetapi tidak boleh
melebihi penghitungan pajak yang terutang berdasarkan UU No. 10 Tahun 1994. Untuk itu harus
dicari batas maksimum kredit pajak luar negeri (KPLN).
Pengertian PPh Pasal 25 adalah Pajak Penghasilan (disingkat PPh) dikenakan terhadap Wajib
Pajak dalam satu periode tertentu yang dinamakan tahun pajak. Berdasarkan hal ini, maka
perhitungan dan penghitungan PPh dilakukan setahun sekali yang dituangkan dalam SPT
Tahunan. Nah, karena penghitungan PPh dilakukan setahun sekali, maka penghitungan ini harus
dilakukan setelah satu tahun tersebut berakhir agar semua data penghasilan dalam satu tahun
sudah diketahui. Untuk perusahaan, tentu saja data penghasilan ini harus menunggu laporan
keuangan selesai dibuat.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa pengertian Pajak Penghasilan menurut Pasal 24?
2. Bagaimana Cara mencari pajak penghasilan pasal 24 yang dapat dikreditkan di dalam
negeri?
3. Apa Batas maksimum kredit pajak luar negeri (KPLN)?
4. Apa Pengertian Pajak Penghasilan menurut Pasal 25?
5. Bagaimana Angsuran PPh menurut Pasal 25?
6. Bagaimana cara menghitung PPh 25?
7. Bagaimana cara pengurangan angsuran PPh 25?

PERPAJAKAN - Pajak Penghasilan | 3


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 PAJAK PENGHASILAN PASAL 24

A. Pajak Penghasilan Pasal 24


Adalah Pajak yang dipungut di luar negeri atas penghasilan wajib pajak di luar negeri.
Pajak yang dibayar di luar negeri atas penghasilan luar negeri yang diperoleh wajib pajak
dalam negeri (WPDN) boleh dikreditkan dengan pajak yang terutang dalam tahun pajak
yang sama, sebesar pajak yang dibayarkan diluar negeri tersebut tetapi tidak boleh
melebihi penghitungan pajak yang terutang berdasarkan UU No. 10 Tahun 1994. Untuk
itu harus dicari batas maksimum kredit pajak luar negeri (KPLN).

B. Batas maksimum kredit pajak luar negeri (KPLN) diambil yang terendah dari ketiga
unsur berikut
1.Jumlah Pajak yang dibayar / terutang di luar negeri
2.Penghasilan Luar Negeri x PPh Terutang  yang biasa digunakan
Penghasila Kena Pajak
3.Jumlah PPh terutang untuk seluruh penghasilan kena pajak, dalam hal penghasilan kena
pajaknya lebih kecil dari penghasilan luar negerinya.
Catatan
1.Jika Pajak Penghasilan Luar Negeri yang diminta untuk dikreditkan itu ternyata
dikembalikan maka jumlah pajak yang terutang menurut undang-undang ini harus
ditambah dengan jumlah tersebut pada tahun pengembalian tersebut dilakukan.
2.Jika Penghasilan Luar Negeri berasal dari beberapa negara maka jumlah maksimum
KPLN dihitung untuk masing-masing negara.
3.Untuk kerugian yang diderita di luar negeri tidak diperhitungkan dalam menghitung
penghasilan kena pajak. Penghasilan dari Luar Negeri untuk tahun-tahun berikutnya
dapat dikompensasikan dengan kerugiaan tersebut.
4.Dalam hal pajak dibayarkan di luar negeri lebih besar dari kredit pajak yang
diperkenankan (PPh Pasal 24), maka kelebihan tersebut tidak dapat :
Diminta Kembali
Di Kompensasikan
Sebagai Pengurang Penghasilan.

C. Cara mencari pajak penghasilan pasal 24 yang dapat dikreditkan di dalam negeri
1.Cari Penghasilan Kena Pajak (PKP)  PKP = PNDN(Penghasilan Netto Dalam Negeri)
+ PNLN (Penghasilan Netto Luar Negeri)
Catatan :
Jika DN (Dalam Negeri) rugi diperhitungkan sebagai pengurang dalam menghitung PKP
Jika LN (Luar Negeri) rugi tidak diperhitungkan sebagai pengurang dalam menghitung
PKP (diabaikan)

PERPAJAKAN - Pajak Penghasilan | 4


2.Cari Pajak Penghasilan Terutang (PPh Terutang) Dari Penghasilan Kena Pajak (PKP)
3.Cari Pajak yang telah dibayar di Luar Negeri (%Pjk yang dikenakan di Luar Negeri x
Besarnya penghasilan di Luar Negeri)
4.Cari Kredit Pajak Luar Negeri (KPLN) :
KPLN = Penghasilan Luar Negeri x PPh terutang
Penghasilan Kena Pajak
5.Bandingkan antara Pajak yang telah dibayar di Luar Negeri (poin 3) dengan kredit
Pajak Luar Negeri (poin 4), lalu pilih yang terendah.
6.Jumlahkan poin 5 untuk mencari besarnya PPh Pasal 24 yang dapat dikreditkan.

Catatan : Jika PKP < PNLN dicari sampai langkah ke dua.

Contoh Kasus
PT. Seventeen yang berlokasi di Jakarta, selama tahun 2009memperoleh penghasilan baik
dari usahanya dari dalam negeri ataupun beberapa cabangnya yang berada di luar negeri.
Penghasilan Netto dari dalam negeri Rp 150.000.000.000 sedangkan usahanya di luar
negeri, seperti Jepang memperoleh penghasilan Rp 300.000.000 dan di Korea
memperoleh penghasilan Rp 400.000.000 sedangkan di China mengalami rugi Rp
100.000.000. Pajak yang telah dibayar diluar negeri sebesar 25% untuk Jepang, 30%
untuk Korea dan 20% untuk China. Berapa PPh Pasal 24 yang diperkenankan untuk
dikreditkan dengan pajak penghasilan yang harus dibayar di dalam negeri?

Perhitungan Pajak Penghasilan Pasal 24 yang dapat dikreditkan di dalam negeri.


1.Mencari Penghasilan Kena Pajak (PKP) :
Penghasilan Neto Dalan Negeri Rp 150.000.000
Penghasilan Neto Luar Negeri
Jepang Rp 300.000.000
Korea Rp 400.000.000
Jumlah Penghasilan Neto Luar Negeri Rp 700.000.000 +
Penghasilan Kena Pajak (PKP) Rp 850.000.000

2.Mencari Pajak Penghasilan Terutang dari jumlah PKP Sebesar Rp 850.000.000 :


28% x Rp 850.000.000 = Rp 238.000.000

3.Mencari Pajak Yang Telah Dibayar Atas Penghasilan Di Luar Negeri :


Jepang : 25% x 300.000.000 = Rp 75.000.000
Korea : 30% x 400.000.000 = Rp 120.000.000

4.Mencari Kredit Pajak Luar Negeri (KPLN) :


KPLN Jepang : 300.000.000 / 850.000.000 x 238.000.000 = Rp 84.000.000
KPLN Korea : 400.000.000 / 850.000.000 x 238.000.000 = Rp 112.000.000

5.PPh Pasal 24 yang dapat dikreditkan di Indonesia atas penghasilan di Jepang sebesar :
Rp 75.000.000 (Pilih yang terendah)
PPh Pasal 24 yang dapat dikreditkan di Indonesia atas penghasilan di Korea sebesar :
Rp 112.000.000 (Pilih yang terendah)

PERPAJAKAN - Pajak Penghasilan | 5


6.Jumlah PPh Pasal 24 yang dapat dikreditkan di dalam negeri :
Rp 75.000.000 + Rp 112.000.000 = Rp 187.000.000

D. PENGGABUNGAN PENGHASILAN

Untuk menghitung pajak penghasilan yang terutang atas seluruh penghasilan yang diterima
atau diperoleh wajib pajak dalam negeri, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri,
maka seluruh penghasilan wajib pajak tersebut digabungkan

Penggabungan penghasilan yang berasal dari luar negeri dilakukan sebagai berikut :

1. Untuk penghasilan dari usaha, yang dilakukan dalam tahun pajak diperolehnya
penghasilan tersebut
2. Untuk penghasilan lainnya yang dilakukan dalam tahun pajak diterimanya penghasilan
tersebut
3. Untuk penghasilan berupa deviden yang diperoleh wajib pajak dalam negeri atas
penyertaan modal sekurang-kurangnya 50% dari jumlah saham yang disetor, atau secara
bersama-sama dengan wajar dalam negeri lainnya sekurang-kurangnya sebesar 50% dari
jumlah saham yang disetor pada badan usaha di luar negeri sahamnya tidak
diperdagangkan di bursa efek, dilakukan dalam tahun pajak pada saat perolehan deviden
tersebut.

Saat diperbolehkan deviden tersebut ditentukan sebagai berikut :

1. Pada bulan keempat setelah berakhirnya batas waktu kewajiban penyampaian


Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan badan usaha di luar negeri
tersebut untuk tahun pajak yang bersangkutan.
2. Apabila tidak ada ketentuan batas waktu penyampaian Surat Pemberitahuan
Tahunan Pajak Penghasilan, maka saat diperolehnya deviden adalah pada bulan
ketujuh setelah tahun pajak berakhir.

Contoh :

PT. LOLA di Madiun dalam tahun pajak 1997 menerima dan memperoleh
penghasilan netto dari sumber luar negeri sebagai berikut :

1. Hasil usaha di Singapura dalam tahun pajak 1995 sebesar Rp. 800.000.000
2. Deviden atas pemilikan saham pada "IJB Ltd" di Australia sebesar Rp.
200.000.000 yaitu sebesar dari keuntungan tahun 1992 yang ditetapkan
dalam rapat pemegang saham tahun 1996 dan baru dibayar pada tahun
1997

PERPAJAKAN - Pajak Penghasilan | 6


3. Deviden atas penyertaan saham sebanyak 70% pada "AAM Ltd" di
Hongkong yang sahamnya tidak diperdagangkan di bursa efek sebesar Rp.
75.000.000, yaitu berasal dari keuntungan saham 1996 yang berdasarkan
Keputusan Menteri Keuangan ditetapkan diperoleh pada tahun 1996.
4. Bunga kwartal IV tahun 1995 sebesar Rp. 100.000.000 dari "Iqbal Corpal"
di Kuala Lumpur yang baru akan diterima pada bulan mei tahun 1997.

Penghasilan dari sumber luar negeri yang digabungkan dengan penghasilan dalam
negeri dalam tahun pajak 1996 adalah penghasilan pada huruf a, b, dan c,
sedangkan penghasilan pada huruf d, digabungkan dengan penghasilan dalam
negeri tahun pajak 1997.

2.2 PAJAK PENGHASILAN PASAL 25

A. Pengertian

1. Wajib Pajak Baru adalah Wajib Pajak orang pribadi dan badan yang baru pertama kali
memperoleh penghasilan dari usaha atau pekerjaan bebas dalam tahun pajak berjalan.
2. Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha Tertentu adalah Wajib Pajak orang pribadi yang
melakukan kegiatan usaha di bidang perdagangan yang mempunyai tempat usaha lebih
dari satu, atau mempunyai tempat usaha yang berbeda alamat dengan domisili.
3. Undang-Undang Pajak Penghasilan adalah Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983
tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan
Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008.
4. Angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25 adalah angsuran Pajak Penghasilan dalam tahun
pajak berjalan untuk setiap bulan yang harus dibayar sendiri oleh Wajib Pajak
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 Undang-Undang Pajak Penghasilan.
5. Pengertian PPh Pasal 25adalahPajak Penghasilan (disingkat PPh) dikenakan terhadap
Wajib Pajak dalam satu periode tertentu yang dinamakan tahun pajak. Berdasarkan hal ini,
maka perhitungan dan penghitungan PPh dilakukan setahun sekali yang dituangkan dalam
SPT Tahunan. Nah, karena penghitungan PPh dilakukan setahun sekali, maka
penghitungan ini harus dilakukan setelah satu tahun tersebut berakhir agar semua data
penghasilan dalam satu tahun sudah diketahui. Untuk perusahaan, tentu saja data
penghasilan ini harus menunggu laporan keuangan selesai dibuat.

B. Angsuran PPh Pasal 25 untuk WP Baru

1. Besarnya angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25 untuk Wajib Pajak baru adalah sebesar
Pajak Penghasilan yang dihitung berdasarkan penerapan tarif umum atas penghasilan
neto sebulan yang disetahunkan, dibagi 12 (dua belas).
2. Penghasilan neto sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah :

PERPAJAKAN - Pajak Penghasilan | 7


1. dalam hal Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) menyelenggarakan
pembukuan dan dari pembukuannya dapat dihitung besarnya penghasilan neto setiap
bulan, penghasilan neto fiskal dihitung berdasarkan pembukuannya;
2. dalam hal Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya
menyelenggarakan pencatatan dengan menggunakan Norma Penghitungan
Penghasilan Netoatau menyelenggarakan pembukuan tetapi dari pembukuannya tidak
dapat dihitung besarnya penghasilan neto setiap bulan, penghasilan neto fiskal
dihitung berdasarkan Norma Penghitungan Penghasilan Netoatas peredaran atau
penerimaan bruto.
3. Untuk Wajib Pajak orang pribadi baru, jumlah penghasilan neto fiskal yang
disetahunkan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dikurangi terlebih dahulu dengan
Penghasilan Tidak Kena Pajak.
4. Dalam hal Wajib Pajak baru sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa Wajib Pajak
badan yang mempunyai kewajiban membuat laporan berkala, besarnya angsuran
Pajak Penghasilan Pasal 25 adalah sebesar Pajak Penghasilan yang dihitung
berdasarkan penerapan tarif umum atas proyeksi laba-rugi fiskal pada laporan berkala
pertama yang disetahunkan, dibagi 12 (dua belas).

C. Angsuran PPh Pasal 25 untuk WP Bank dan sewa guna usa dengan hak opsi

Besarnya angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25 untuk Wajib Pajak bank dan sewa guna
usaha dengan hak opsi adalah sebesar Pajak Penghasilan yang dihitung berdasarkan penerapan
tarif umum atas laba-rugi fiskal menurut laporan keuangan triwulan terakhir yang disetahunkan
dikurangi Pajak Penghasilan Pasal 24 yang dibayar atau terutang di luar negeri untuk tahun pajak
yang lalu, dibagi 12 (dua belas).

D. Angsuran PPh Pasal 25 untuk WP BUMN dan BUMD

1. Besarnya angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25 untuk Wajib Pajak Badan Usaha Milik
Negara dan Badan Usaha Milik Daerah dengan nama dan dalam bentuk apapun, kecuali
Wajib Pajak bank dan Sewa Guna Usaha dengan hak opsi, adalah sebesar Pajak
Penghasilan yang dihitung berdasarkan penerapan tarif umum atas laba-rugi fiskal
menurut Rencana Kerja dan Anggaran Pendapatan (RKAP) tahun pajak yang
bersangkutan yang telah disahkan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dikurangi
dengan pemotongan dan pemungutan Pajak Penghasilan Pasal 22 dan Pasal 23 serta
Pajak Penghasilan Pasal 24 yang dibayar atau terutang di luar negeri tahun pajak yang
lalu, dibagi 12 (dua belas).
2. Dalam hal Rencana Kerja dan Anggaran Pendapatan (RKAP) sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) belum disahkan, maka besarnya angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25
untuk bulan-bulan sebelum bulan pengesahan adalah sama dengan angsuran Pajak
Penghasilan Pasal 25 bulan terakhir tahun pajak sebelumnya.

E. Angsuran PPh Pasal 25 untuk WP masuk Bursa dan Wajib Pajak lainnya yang
berdasarkan ketentuan diharuskan membuat laporan keuangan berkala

PERPAJAKAN - Pajak Penghasilan | 8


Besarnya angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25 untuk Wajib Pajak masuk bursa dan Wajib
Pajak lainnya yang berdasarkan ketentuan diharuskan membuat laporan keuangan berkala,
adalah sebesar Pajak Penghasilan yang dihitung berdasarkan penerapan tarif umum atas laba-rugi
fiskal menurut laporan keuangan berkala terakhir yang disetahunkan di kurangi dengan
pemotongan dan pemungutan Pajak Penghasilan Pasal 22 dan Pasal 23 serta Pasal 24 yang
dibayar atau terutang di luar negeri untuk tahun pajak yang lalu, dibagi 12 (dua belas).

F. Angsuran PPh Pasal 25 untuk WP OP tertentu

1. Besarnya angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25 untuk Wajib Pajak orang pribadi
pengusaha tertentu, ditetapkan sebesar 0,75% (nol koma tujuh puluh lima persen) dari
jumlah peredaran bruto setiap bulan dari masing-masing tempat usaha tersebut.
2. Ketentuan pelaksanaan angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25 untuk Wajib Pajak orang
pribadi pengusaha tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan
Direktur Jenderal Pajak.

G. Pengurangan Angsuran PPh Pasal 25

Pengurangan angsuran PPh Ps 25 untuk tahun berjalan jika keadaan usaha WP terjadi penurunan
yang menunjukkan PPh terutang untuk tahun pajak berjalan kurang dari 75% dari PPh terutang
yang menjadi dasar perhitungan besarnya angsuran PPh Ps 25

Tatacara :
Permohonan dapat diajukan sesudah 3 bulan atau lebih berjalannya suatu tahun pajak denga
melampirkan besarnya perhitungan Pajak Penghasilan yang akan terutang berdasarkan perkiraan
penghasilan yang akan diterima atau diperoleh dan besarnya PPh Ps 25 untuk bulan-bulan yang
tersisa dari tahun pajak bersangkutan

Jangka waktu penyelesaian


Paling lambat 1 bulan sejak diterimanya surat permohonan

H. Cara Mengitung PPh Pasal 25

Besarnya angsuran PPh Pasal 25 harus dihitung sesuai dengan ketentuan. Pada umumnya, cara
menghitung PPh Pasal 25 didasarkan kepada data SPT Tahunan tahun sebelumnya. Artinya, kita
mengasumsikan bahwa penghasilan tahun ini sama dengan penghasilan tahun sebelumnya. Tentu
saja nanti akan ada perbedaan dengan kondisi sebenarnya ketika tahun pajak sekarang sudah
berakhir. Selisih tersebutlah yang kita bayar sebagai kekurangan pajak akhir tahun. Kekurangan
bayar akhir tahun ini biasa dinamakan PPh Pasal 29. Apabila selisihnya menunjukkan lebih
bayar, maka kondisi ini dinamakan restitusi atau Wajib Pajak meminta kelebihan pembayaran
pajak yang telah dilakukan.

Pada umumnya angsuran pajak ini adalah sebesar Pajak Penghasilan terutang menurut SPT
Tahunan Pajak Penghasilan tahun lalu dikuranggi dengan kredit pajak Pajak Penghasilan Pasal
21, 22, 23 dan Pasal 24, dibagi 12 atau banyaknya bulan dalam bagian tahun pajak.

PERPAJAKAN - Pajak Penghasilan | 9


Misal, SPT Tahunan 2007 menunjukkan data sebagai berikut :

Pajak Penghasilan terutang 50.000.000

Kredit Pajak PPh Pasal 21,22,23 dan 24 35.000.000

Maka, PPh Pasal 25 tahun 2008 yang harus dibayar tiap bulan adalah sebagai berikut :

Pajak Penghasilan terutang 50.000.000

Kredit Pajak PPh Pasal 21,22,23 dan 24 35.000.000

Selisih 15.000.000

PPh Pasal 25 = 15.000.000 : 12 = 1.250.000

I. PPh Pasal 25 Untuk Bulan-bulan Sebelum Bulan Batas Waktu Penyampaian SPT

Pajak Penghasilan Pasal 25 untuk bulan-bulan sebelum batas waktu penyampaian SPT Tahunan
adalah sama besarnya dengan Pajak Penghasilan Pasal 25 bulan terakhir tahun pajak yang lalu.
Apabila tahun pajaknya adalah tahun kalender (Januari-Desember), maka yang dimaksud dengan
bulan-bulan sebelum batas waktu penyampaian SPT Tahunan adalah bulan Januari dan Pebruari.
Dengan demikian PPh Pasal 25 bulan Januari dan Pebruari 2008 adalah sama dengan PPh Pasal
25 bulan Desember 2007.

J. PPh Pasal 25 Jika Dalam Tahun Berjalan Telah Diterbitkan SKP Untuk Tahun
Pajak Yang Lalu

Apabila dalam tahun berjalan diterbitkan Surat Ketetapan Pajak (SKP) untuk tahun pajak yang
lalu, maka besarnya angsuran pajak dihitung kembali berdasarkan SKP tersebut dan berlaku
mulai bulan berikutnya setelah bulan penerbitan SKP

K. PPh Pasal 25 Dalam Hal-hal Tertentu

Direktur Jenderal Pajak berwenang untuk menetapkan penghitungan besarnya angsuran pajak
dalam tahun pajak berjalan dalam hal-hal tertentu, antara lain apabila :

1. Wajib Pajak berhak atas kompensasi kerugian;


2. Wajib Pajak memperoleh penghasilan tidak teratur;
3. ST tahunan Pajak Penghasilan tahun yang lalu disampaikan setelah lewat batas waktu
yang ditentukan;
4. Wajib Pajak diberikan perpanjangan jangka waktu penyampaian SPT Tahunan Pajak
Penghasilan;
5. Wajib Pajak membetulkan sendiri SPT Tahunan Pajak Penghasilan yang mengakibatkan
angsuran bulanan lebih besar dari angsuran bulanan sebelum pembetulan.
6. Terjadi perubahan keadaan usaha atau kegiatan Wajib Pajak.

PERPAJAKAN - Pajak Penghasilan | 10


Keputusan Dirjen Pajak yang mengatur penghitungan besarnya angsuran pajak dalam tahun
berjalan dalam hal-hal tertentu adalah Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor Kep-
537/PJ./2000 tanggal 29 Desember 2000.

L. PENENTUAN SUMBER PENGHASILAN

Dalam menghitung batas jumlah pajak atas penghasilan yang dibayar atau terutang di luar
negeri boleh dikreditkan, perlu diperhatikan penentuan sumber penghasilan sebagai berikut :

1. Penghasilan dari saham dan sekuritas lainnya adalah negara tempat badan yang
menerbitkan saham atau sekuritas tersebut bertempat berkedudukan.
2. Penghasilan berupa bunga, royalti, dan sewa sehubungan dengan penggunaan harga gerak
adalah tempat pihak yang membayar atau dibebani bunga, royalti, atau sewa tersebut
bertempat kedudukan berada
3. Penghasilan berupa imbalan sehubungan dengan jasa, pekerjaan, dan kegiatan adalah
negara tempat pihak yang membayar atau dibebani imbalan tersebut bertempat
kedudukan berada.
4. Penghasilan bentuk usaha tetap adalah negara tempat bentuk usaha tetap tersebut
menjalankan usaha atau melakukan kegiatan.

Mengingat Undang-Undang pajak penghasilan Indonesia menganut pengertian


penghasilan yang luas, maka penentuan sumber penghasilan sebagaimana diatas,
menggunakan prinsip yang sama dengan prinsip diatas, misalnya A sebagai wajib pajak
dalam negeri memiliki sebuah rumah di Singapura dan dalam tahun 1995 rumah tersebut
dijual. Keuntungan yang diperoleh dari penjualan rumah tersebut merupakan penghasilan
yang bersumber di Singapura, karena rumah tersebut terletak di Singapura.

PERPAJAKAN - Pajak Penghasilan | 11


BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Pajak Penghasilan Pasal 24 Adalah Pajak yang dipungut di luar negeri atas penghasilan wajib
pajak di luar negeri.Pajak yang dibayar di luar negeri atas penghasilan luar negeri yang
diperoleh wajib pajak dalam negeri (WPDN) boleh dikreditkan dengan pajak yang terutang
dalam tahun pajak yang sama, sebesar pajak yang dibayarkan diluar negeri tersebut tetapi
tidak boleh melebihi penghitungan pajak yang terutang berdasarkan UU No. 10 Tahun 1994.
Untuk itu harus dicari batas maksimum kredit pajak luar negeri (KPLN) dan PPh Pasal
25adalahPajak Penghasilan (disingkat PPh) dikenakan terhadap Wajib Pajak dalam satu
periode tertentu yang dinamakan tahun pajak. Berdasarkan hal ini, maka perhitungan dan
penghitungan PPh dilakukan setahun sekali yang dituangkan dalam SPT Tahunan. Nah,
karena penghitungan PPh dilakukan setahun sekali, maka penghitungan ini harus dilakukan
setelah satu tahun tersebut berakhir agar semua data penghasilan dalam satu tahun sudah
diketahui. Untuk perusahaan, tentu saja data penghasilan ini harus menunggu laporan
keuangan selesai dibuat.

PERPAJAKAN - Pajak Penghasilan | 12


Daftar Pustaka

http://www.ortax.org/ortax/?mod=studi&page=show&id=10&q=&hlm=1
http://www.pandupajak.org/content/pph25-untuk-wajib-pajak-baru/
http://www.pandupajak.org/content/pph-pasal-24/
http://erwinbpph24.blogspot.com/

PERPAJAKAN - Pajak Penghasilan | 13