Você está na página 1de 36

PRESENTASI KASUS

DEMAM BERDARAH DENGUE GRADE II

Pembimbing :
dr. Tjahaya Bangun, Sp.A

Disusun Oleh :
Rizvialdi
030.15.002

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BUDHI ASIH
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
25 MARET 2019 – 30 MEI 2019
LEMBAR PENGESAHAN

Presentasi kasus yang berjudul:

“Demam Berdarah Dengue Grade II”

Yang disusun oleh

Rizvialdi
030.15.002

Telah diterima dan disetujui oleh pembimbing:

dr. Tjahaya Bangun, Sp.A

Sebagai salah satu syarat dalam mengikuti dan menyelesaikan


Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak RSUD Budhi Asih

Periode 25 Maret 2019 – 30 Mei 2019

Jakarta, April 2019

Pembimbing

dr. Tjahaya Bangun, Sp.A

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan YME, karena berkat rahmat-Nya saya dapat menyelesaikan
makalah ini.
Makalah ini disusun dalam rangka memenuhi tugas kepaniteraan klinik bagian Ilmu
Penyakit Anak Studi Pendidikan Dokter Universitas Trisakti di Rumah Sakit Umum Daerah
Budhi Asih
Saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam
penyelesaian makalah ini, terutama :
1. Dr. Tjahaya Bangun, Sp.A selaku pembimbing dalam penyusunan makalah,
2. Teman-teman yang turut membantu penyelesaian makalah ini,
3. Serta pihak-pihak lain yang bersedia meluangkan waktunya untuk membantu saya.
Saya menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan. Saya mengharapkan
kritik dan saran yang dapat membangun dan bertujuan untuk ikut memperbaiki makalah ini
agar dapat bermanfaat untuk pembaca dan masyarakat luas.

Jakarta, April 2019

Rizvialdi
030.15.002

iii
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN....................................................................................ii
KATA PENGANTAR............................................................................................iii
DAFTAR ISI.......................................................................................................... iv
BAB I. PENDAHULUAN......................................................................................5
BAB II. LAPORAN KASUS..................................................................................6
BAB III. TINJAUAN PUSTAKA .........................................................................20
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................36

iv
BAB I
PENDAHULUAN

Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) atau Demam Berdarah Dengue adalah demam akut
yang diikuti oleh dua atau lebih dari gejala berikut: nyeri retro-orbital, nyeri kepala, rash,
mialgia, atralgia, leukopenia atau manifestasi perdarahan (tes toniquet positif, ptechiae,
purpura atau ekimosis, epistaksis, gusi berdarah, hematemesis, atau melena. Mual dan muntah
terus-menerus, nyeri perut bisa ditemukan tetapi bukan merupakan kriteria DHF.1 Infeksi virus
dengue merupakan salah satu penyakit dengan vektor nyamuk ”mosquito borne disease” yang
paling penting di seluruh dunia terutama di daerah tropis dan subtropics.2

Dengue Hemorrhagic Fever (Demam Berdarah Dengue) disebabkan oleh infeksi virus
dengue. Virus ini masuk kedalam genus Flavivirus, famili Flaviviridae, dan mempunyai 4 jenis
serotipe yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4. Pada saat ini jumlah kasus masih tetap
tinggi rata-rata 10-25 per 100.000 penduduk, namun angka kematian telah menurun bermakna
<2%. Umur terbanyak yang terkena infeksi dengue adalah kelompok umur 4-10 tahun,
walaupun makin banyak kelompok umur lebih tua. Spektrum klinis infeksi dengue dapat dibagi
menjadi (1) gejala klinis paling ringan tanpa gejala (silent dengue infection), (2) demam
dengue, (3) demam berdarah dengue (DBD) dan (4) demam berdarah dengue disertai syok
(sindrom syok dengue/DSS).4
Demam berdarah adalah demam akut yang didefinisikan oleh adanya demam disertai
dua atau lebih manifestasi berikut :

1. Demam yang berlangsung 2-7 hari


2. Bukti pendarahan mayor atau minor
3. Trombositopenia (≤100,000 sel per mm3)
4. Bukti kebocoran plasma yang ditunjukkan oleh hemokonsentrasi (peningkatan
hematokrit ≥20% di atas rata-rata atau penurunan hematokrit ≥ 20% dari awal
setelah pemberian terapi penggantian cairan) efusi pleura, dan asites.1

Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) terus bertambah. Secara nasional, jumlah
kasus hingga tanggal 3 Februari 2019 adalah sebanyak 16.692 kasus dengan 169 orang
meninggal dunia. Kasus terbanyak ada di wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, NTT, dan
Kupang.3

5
BAB II
LAPORAN KASUS

BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
RS PENDIDIKAN : RSUD BUDHI ASIH
STATUS PASIEN KASUS
Nama Mahasiswa : Rizvialdi Pembimbing : dr. Tjahaya Bangun, Sp.A

NIM : 030.15.002 Tanda tangan :

IDENTITAS PASIEN 1
Nama : An. A
Jenis kelamin : Perempuan
Umur : 7 tahun 4 bulan 29 hari
Tempat/ tanggal lahir : Jakarta, 31-10-2011
Suku bangsa : Sunda-Betawi
Agama : Islam
Pendidikan : SD
Alamat : Jl. Kapuk 2 No. 28 RT/RW 009/005, Duren Sawit, Jakarta Timur
ORANG TUA
Ayah Ibu
Nama : Tn. S Nama : Ny. M
Umur : 51 tahun Umur : 46 tahun
Pekerjaan : Ojek online Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Pendidikan : STM Pendidikan : SMA
Suku bangsa : Sunda Suku bangsa : Betawi
Agama : Islam Agama : Islam
Alamat : Jl. Kapuk 2 No. 28 RT/RW Alamat : Jl. Kapuk 2 No. 28 RT/RW
009/005, Duren Sawit, Jakarta 009/005, Duren Sawit, Jakarta
Timur Timur

Hubungan dengan orang tua : Pasien merupakan anak kandung.

6
I. ANAMNESIS

Dilakukan secara alloanamnesis dengan Ny. M dan Tn. S Dahlia Timur pada tanggal
31 Maret 2019 pukul 16.30 WIB.
Keluhan utama : Demam sejak 5 hari SMRS
Keluhan tambahan : Mual dan muntah

A. Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien merasakan demam sejak hari senin tanggal 25 Maret 2019 pada siang
hari sepulang sekolah. Demam mendadak tinggi, namun demam sempat turun
pada hari kamis tanggal 28 Maret 2019 (hari ke-4) lalu naik kembali pada hari
Jumat 29 Maret 2019 dan langsung dibawa ke IGD RSUD Budhi Asih.
Sebelumnya pasien sudah dibawa berobat ke puskesmas sebanyak 2x dengan
diagnosis awal Tonsilofaringitis. Sudah diterapi berdasarkan diagnosis tetapi tidak
kunjung membaik.
Mual dan muntah sempat dialami pasien pada hari pertama dan kedua
demam. Muntah sebanyak 4x sehari berisi air dan makanan yang telah dimakan.
Pasien mengaku merasakan pusing selama demam. Bercak merah timbul pada
kaki dan tangan pasien pada hari Jumat sebelum dibawa ke RSUD Budhi Asih.
Orang tua pasien mengatakan sudah ada 4 orang teman sekolahnya yang terserang
demam berdarah.

B. Riwayat Penyakit yang Pernah Diderita

Penyakit Umur Penyakit Umur Penyakit Umur

Alergi (-) Difteria (-) Penyakit ginjal (-)

Cacingan (-) Diare (-) Penyakit jantung (-)

DBD 7 tahun Kejang (-) Radang paru (-)

Otitis (-) Varicella (-) TBC (-)

Hipereaktif
Parotitis (-) Operasi (-) (-)
bronkus
Kesimpulan riwayat penyakit yang pernah diderita: Pasien baru saja mengalami DBD
pada saat ini dan dirawat di RSUD Budhi Asih. Tidak ada riwayat penyakit serius lainnya.

7
C. Riwayat Kehamilan/ Persalinan

Morbiditas kehamilan Anemia (-), hipertensi (-),


diabetes mellitus (-), penyakit
jantung (-), penyakit paru (-),
merokok (-), infeksi (-), minum
KEHAMILAN
alkohol (-)

Perawatan antenatal Rutin kontrol puskesmas 1 bulan


sekali dan selalu datang sesuai
anjuran.

Tempat persalinan Rumah Sakit

Penolong persalinan Dokter

Spontan
Cara persalinan
Penyulit : -

Masa gestasi Cukup bulan

Berat lahir : 3.100 gr

Panjang lahir : orangtua pasien


KELAHIRAN
tidak ingat

Lingkar kepala : orangtua pasien


tidak ingat
Keadaan bayi
Langsung menangis (+)
Kemerahan (+)
Kuning (-)
Nilai APGAR : Ibu pasien tidak
tahu
Kelainan bawaan : Tidak ada

Kesimpulan riwayat kehamilan/ persalinan :. Pasien lahir dengan cara persalinan


spontan dengan keadaan yang tidak memerlukan resusitasi.

8
D. Riwayat Perkembangan

- Pertumbuhan gigi I : 10 bulan (Normal: 5-9 bulan)


- Gangguan perkembangan mental : Tidak ada
- Psikomotor :
Tengkurap : 4 bulan (Normal: 3-4 bulan)
Duduk : 6 bulan (Normal: 6-9 bulan)
Berdiri : 7 bulan (Normal: 9-12 bulan)
Berjalan : 12 bulan (Normal: 12-18 bulan)
Bicara : 7 bulan (Normal: 9-12 bulan)
- Perkembangan pubertas :
Rambut Pubis :-
Payudara :-
Menarche :-
Kesimpulan riwayat pertumbuhan dan perkembangan : Sesuai usia, pasien belum
mengalami perkembangan pubertas, tidak terdapat keterlambatan perkembangan pasien

E. Riwayat Makanan

Umur (bulan) ASI/PASI Buah/ Biskuit Bubur Susu Nasi Tim

0–1 ASI - - -

1–4 ASI + + -

4–6 ASI + + -

6–8 ASI + + -

8 – 10 ASI + + +

10-12 ASI + + +

9
Jenis Makanan Frekuensi dan Jumlah

Nasi/ Pengganti Nasi 2-3x/hari.

Sayur 2x/hari

Daging 1 minggu 2 kali

Telur 1x/hari

Ikan -

Tahu 2x/ minggu (1 potong)

Tempe 2x/ minggu (1 potong)

Susu 1x / hari

Kesimpulan Riwayat Makanan : Pasien mendapatkan asi eksklusif selama 1 tahun


serta dilanjutkan dengan susu formula dan makan pendamping. Saat ini pasien rutin
mengkonsumsi makanan dengan kualitas dan kuantitas cukup.

F. Riwayat Imunisasi

Vaksin Dasar (umur) Ulangan (umur)

3 4
Hepatitis B Lahir 2 bulan
bulan bulan

Polio Lahir 2 bulan 3 bulan 4 bulan 18 bulan

BCG 1 bulan

DPT 2 bulan 3 bulan 4 bulan 18 bulan

Hib 2 bulan 3 bulan 4 bulan 18 bulan

Campak 9 bulan 18 bulan

Kesimpulan riwayat imunisasi: Imunisasi dasar sudah lengkap.

10
G. Riwayat Keluarga

Jenis Lahir Mati Keterangan


No Usia Hidup Abortus
Kelamin Mati (sebab) Kesehatan
1. 24 tahun Laki- laki + - - - Sehat
2. 22 tahun Laki- laki + - - - Sehat
Sakit
3. 7 tahun Perempuan + - - -
(Pasien)
4. 6 tahun Perempuan + - - - Sehat
Kesimpulan corak reproduksi : Pasien merupakan anak ke-3 dari 4 bersaudara

H. Riwayat Pernikahan

Ayah Ibu

Nama Tn.S Ny.M

Perkawinan ke- 1 1

Umur saat menikah 26 tahun 22 tahun

Pendidikan terakhir STM SMA

Suku Sunda Betawi

Agama Islam Islam

Keadaan kesehatan Sehat Sehat

Kosanguinitas - -

Riwayat Penyakit - -

Riwayat Keluarga : Orangtua pasien tidak mempunyai riwayat penyakit

I. Riwayat Lingkungan
Pasien tinggal bersama dengan kedua orang tua di rumah Sendiri yang hanya
mempunyai 1 lantai. Ventilasi dan pencahayaan baik. Sumber air dari PAM dan sumber
air minum dari air kemasan isi ulang. Rumah pasien terletak di kawasan padat penduduk
dan berdempetan antara rumah satu dengan rumah lainnya.
Kesimpulan Riwayat lingkungan pasien: Rumah pasien berada di kawasan padat
penduduk, air minum dari air kemasan isi ulang, dan sirkulasi dan pencahayaan baik.

11
II. PEMERIKSAAN FISIK
STATUS GENERALISATA
KEADAAN UMUM
Kesan Sakit : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos Mentis
Kesan Gizi : Baik

DATA ANTROPOMETRI

Berat Badan : 23,3 kg


Tinggi Badan : 123 cm

STATUS GIZI
- BB / U = 23,3/23 x 100% = 101,3%
- TB/U = 123/122 x 100% = 100 %
- BB/TB = 23,3/26 x100% = 89,6%
Kesimpulan status gizi : Dari ketiga parameter yang digunakan diatas didapatkan
kesan gizi baik
TANDA VITAL
- Nadi : 90x/ menit, kuat, isi cukup, ekual kanan dan kiri,
regular
- Tekanan Darah : 100/60 mmHg
- Pernapasan : 24 x/ menit
- Suhu : 37o C
- SpO2 : 98%

Kepala: Normosephali
Rambut: Rambut hitam, lurus, lebat, distribusi merata, dan tidak mudah dicabut
Wajah: Wajah simetris, tidak ada pembengkakan, luka ataupun jaringan parut
Mata
Sklera ikterik : -/- Nistagmus : -/-
Konjungtiva anemis : -/- Cekung : -/-
Exophtalmus : -/- Kornea jernih : +/+
Enophtalmus : -/- Strabismus : -/-

12
Lensa jernih : +/+ Lagoftalmus : -/-
Palpebra oedem : -/- Ptosis : -/-
Pupil : isokor
Refleks cahaya : langsung +/+, tidak langsung +/+
Telinga
Bentuk : Normotia
Tuli : -/-
Nyeri tarik aurikula : -/-
Nyeri tekan tragus : -/-
Liang telinga : lapang
Membran timpani : Tidak diperiksa
Serumen : -/-
Refleks cahaya : Tidak diperiksa
Cairan : -/-
Ruam merah : -/-
Hidung
Bentuk : simetris Napas cuping hidung : -/-
Sekret : -/- Deviasi septum :-
Mukosa hiperemis : -/- hipertrofi konka : -/-
Bibir : Sianosis (-), pucat (-)
Mulut : Trismus (-), oral hygiene baik, halitosis (-), mukosa gigi berwarna merah
muda, mukosa pipi berwarna merah muda, arcus palatum simetris dengan
mukosa palatum berwarna merah muda
Lidah : Normoglosia, mukosa berwarna merah muda, hiperemis (-),
atrofi papil (-), tremor (-), coated tongue (-)
Tenggorokan :Tonsil T1-T1, hiperemis (-), detritus (-), dinding posterior faring
hiperemis (-), arcus faring tidak hiperemis, uvula terletak ditengah.
Leher : Bentuk tidak tampak kelainan, edema (-), massa (-), tidak teraba
pembesaran tiroid maupun kelenjar getah bening.
Thoraks
Jantung: BJ I & BJ II regular, murmur (-), gallop (-)

13
Paru-paru
Inspeksi : Bentuk thoraks simetris , gerak dinding dada simetris kanan dan
kiri, retraksi intercostal (-) retraksi subcostal (-) retraksi
suprasternal (-)
Palpasi : nyeri tekan (-), benjolan (-), gerak napas simetris kanan dan kiri
Perkusi : sonor di kedua lapang paru
Auskultasi : suara napas vesikuler +/+, ronkhi -/-, wheezing -/-
Abdomen
Inspeksi : Tidak tampak distensi , ruam (-), kulit keriput (-), ascites (-)
gerak dinding perut saat pernapasan simetris, gerakan peristaltik
(-), rose spot (-)
Auskultasi : Bising usus (+), frekuensi 1-3x/menit
Perkusi : Timpani pada seluruh regio abdomen. Shifting dullness (-).
Palpasi : Supel, nyeri tekan (-), turgor kulit baik, hepar dan lien tidak
teraba membesar
Kulit : Tidak ikterik, tidak sianosis, tidak lembab, tidak terdapat
efloresensi yang bermakna, ptechie (+) pada tangan dan kaki
Genitalia : Jenis kelamin perempuan
Kelenjar getah bening :
Preaurikuler : tidak teraba membesar
Postaurikuler : tidak teraba membesar
Submandibula : tidak teraba membesar
Supraclavicula : tidak teraba membesar
Axilla : tidak teraba membesar
Inguinal : tidak teraba membesar
Ekstremitas :
Inspeksi : Simetris, tidak terdapat kelainan pada bentuk tulang, sianosis (-
), edema tungkai -/-, ptechie (+) pada tangan dan kaki
Palpasi : Akral hangat pada keempat ekstremitas, sianosis (-), capillary
refill time <3 detik.

14
III. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Hematologi 29/03/19

Hasil Satuan Nilai normal

Leukosit (WBC) 5.7 ribu/uL 4,5-12,5


Eritrosit (RBC) 5.1 juta/uL 4,4-5,9
Hemoglobin (HGB) 12.7 g/dL 12,8-16,8
Hematokrit (HCT) 38 % 35-47
Trombosit (PLT) 125 ribu/uL 184-488
MCV 75.0 fL 69-93
MCH 25 Pg 22-34
MCHC 33,3 g/dL 32-36
RDW 12,1 % <14

Hematologi 30/03/19

Hasil Satuan Nilai normal

Leukosit (WBC) 5.6 ribu/uL 4,5-12,5


Eritrosit (RBC) 4.5 juta/uL 4,4-5,9
Hemoglobin (HGB) 11.7 g/dL 12,8-16,8
Hematokrit (HCT) 33 % 35-47
Trombosit (PLT) 107 ribu/uL 184-488
MCV 73.9 fL 69-93
MCH 25.9 Pg 22-34
MCHC 35,0 g/dL 32-36
RDW 11,9 % <14

15
Hematologi 31/03/19

Hasil Satuan Nilai normal

Leukosit (WBC) 5.4 ribu/uL 4,5-12,5


Eritrosit (RBC) 4.9 juta/uL 4,4-5,9
Hemoglobin (HGB) 12.4 g/dL 12,8-16,8
Hematokrit (HCT) 36 % 35-47
Trombosit (PLT) 137 ribu/uL 184-488
MCV 74.3 fL 69-93
MCH 25.5 Pg 22-34
MCHC 34.3 g/dL 32-36
RDW 11,9 % <14

16
IV. RESUME
Pasien anak perempuan usia 7 tahun 4 bulan 12 hari, datang ke IGD RSUD Budhi
Asih dengan keluhan demam pada tanggal 29 Maret 2019 pukul dibawa oleh
orangtuanya. Demam sejak 5 hari sebelum masuk rumah sakit. Demam mendadak
tinggi dan tidak naik-turun. Demam disertai dengan mual dan muntah + 4x/hari saat
demam hari pertama dan kedua berisi cairan. Pasien sempat berobat ke puskesmas 2x
dan telah diterapi sampai demamnya turun hari ke-4 dengan diagnosis dokter
tonsilofaringitis. Namun hari ke-5 demam mendadak tinggi dan timbul bercak merah
pada tangan dan kaki (ptekie) pasien, sehingga orangtua pasien membawa pasien ke
IGD RSUD Budhi asih. Pada lingkungan sekolah pasien sudah terdapat 4 orang
temannya yang sakit DBD.
Pada pemeriksaan fisik, pasien tampak sakit sedang, compos mentis, status gizi
baik. Nadi: 90x/ menit, kuat, isi cukup, ekual kanan dan kiri, regular. Tekanan darah
: 100/60 mmHg, Pernapasan: 24 x/ menit. Suhu: 37 C. Pada status generalis
didapatkan ptechiae pada tangan dan kaki pasien. Pada pemeriksaan laboratorium
didapatkan :
Hematologi 29/03/19

Hasil Satuan Nilai normal

Leukosit (WBC) 5.7 ribu/uL 4,5-12,5


Eritrosit (RBC) 5.1 juta/uL 4,4-5,9
Hemoglobin (HGB) 12.7 g/dL 12,8-16,8
Hematokrit (HCT) 38 % 35-47
Trombosit (PLT) 125 ribu/uL 184-488
MCV 75.0 fL 69-93
MCH 25 Pg 22-34
MCHC 33,3 g/dL 32-36
RDW 12,1 % <14

17
V. DIAGNOSIS BANDING
Demam dengue
Demam thyphoid

VI. DIAGNOSIS KERJA


Demam Berdarah Dengue grade II

VII. TATALAKSANA
Non- Medikamentosa
- Tirah baring dengan monitor
- Pantau tanda vital dan hematologi rutin
Medikamentosa
- IVFD Asering 3cc/KgBB/Jam
- Injeksi Rantin 2x25 mg
- Ambroxol 3x5 mg p.o
- CTM 3x1 mg
- Salbutamol 3x1 mg
- Tab Paracetamol 250mg (jika demam)

VIII. PROGNOSIS
Ad vitam : bonam
Ad fungsionam : bonam
Ad Sanactionam : Dubia ad bonam

18
IX. FOLLOW UP

30/03/2019 31/03/2019 01/04/2019

S Demam (-) H ke-6, batuk kering, Demam (-) H ke-7, batuk kering, Demam (-) H ke-8, batuk kering,
muntah (-), belum BAB, BAK mual (-), muntah (-). BAB 1x mual (-), muntah (-). BAB dalam
sedikit berwarna kuning dalam batas normal. BAK dalam batas normal. BAK dalam batas
batas normal normal

O KU : Tampak sakit ringan KU : Tampak sakit ringan KU : Tampak sakit ringan


Kesadaran : CM Kesadaran : CM Kesadaran : CM
TD : 110/70 TD : 120/90 TD : 110/65
HR : 75x/menit HR : 100x/menit HR : 97x/menit
RR : 32x/menit RR : 24x/menit RR : 32x/menit
S : 36,8 S : 36,8 S : 36,7
Status generalis Status generalis Status generalis
Ptechiae pada kaki dan tangan Ptechiae pada kaki dan tangan Ptechiae pada kaki dan tangan
pasien pasien pasien

A➢ DHF grade II ➢ DHF grade II DHF grade II

P - IVFD Asering - IVFD Asering 3cc/KgBB/Jam - IVFD Asering


3cc/KgBB/Jam - Injeksi Rantin 2x25 mg 3cc/KgBB/Jam
- Injeksi Rantin 2x25 mg - Ambroxol 3x5 mg - Injeksi Rantin 2x25 mg
- Ambroxol 3x5 mg - CTM 3x1 mg - Ambroxol 3x5 mg
- CTM 3x1 mg - Salbutamol 3x1 mg - CTM 3x1 mg
- Salbutamol 3x1 mg - Tab Paracetamol 250mg (jika - Salbutamol 3x1 mg
- Tab Paracetamol 250mg (jika demam) - Tab Paracetamol 250mg
demam) (jika demam)

19
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

1. Definisi

Demam Dengue adalah demam akut yang diikuti oleh dua atau lebih dari gejala berikut
: nyeri retro-orbital, nyeri kepala, rash, mialgia, atralgia, leukopenia atau manifestasi
perdarahan (tes toniquet positif, petekie, purpura atau ekimosis, epistaksis, gusi berdarah,
darah dalam muntah, urine atau feses. Anoreksia, mual, muntah yang terus-menerus, nyeri
perut bisa ditemukan tetapi bukan merupakan kriteria DD.1

Demam berdarah adalah demam akut yang didefinisikan oleh adanya demam disertai
dua atau lebih manifestasi berikut :

5. Demam yang berlangsung 2-7 hari


6. Bukti pendarahan mayor atau minor
7. Trombositopenia (≤100,000 sel per mm3)
8. Bukti kebocoran plasma yang ditunjukkan oleh hemokonsentrasi (peningkatan
hematokrit ≥20% di atas rata-rata atau penurunan hematokrit ≥ 20% dari awal
setelah pemberian terapi penggantian cairan) efusi pleura, dan asites.1

20
2. Etiologi

DemamDengue merupakan penyakit demam akut yang disebabkan oleh virus


genus Flavivirus, famili Flaviviridae, mempunyai 4 jenis serotipe yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-
3, DEN-4, dan ditularkan melalui perantara nyamuk Aedes aegypti atau Aedes albopictus. Dari
4 serotipe dengue yang terdapat di Indonesia, DEN-3 merupakan serotipe yang dominan dan
banyak berhubungan dengan kasus berat, diikuti dengan serotipe DEN-2.3

Gambar 1 : Virus Dengue

3. Epidemiologi

Di Indonesia, jumlah kasus Demam Berdarah cenderung meningkat dari tahun ke tahun.
Meningkatnya angka demam berdarah di berbagai kota di Indonesia disebabkan oleh sulitnya
pengendalian penyakit yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Indonesia merupakan
salah satu negara endemik Demam Dengue yang setiap tahun selalu terjadi KLB di berbagai
kota dan setiap 5 tahun sekali terjadi KLB besar.

Berdasarkan rentang umur dari tahun 2005 hingga tahun 2008, kasus demam berdarah
memiliki pola yang sama yaitu terjadi peningkatan pada bulan Januari hingga bulan April 2009,
dimana banyak terdapat penderita yang berumur 5-13 tahun. Penderita demam berdarah
meningkat dari tahun 2005 hingga tahun 2008 dan meningkat secara signifikan pada tahun
2007.

21
Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) terus bertambah. Secara nasional, jumlah
kasus hingga tanggal 3 Februari 2019 adalah sebanyak 16.692 kasus dengan 169 orang
meninggal dunia. Kasus terbanyak ada di wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, NTT, dan
Kupang.3

4. Patofisiologi

DBD terjadi pada sebagian kecil pasien demam dengue. Meskipun DBD dapat terjadi
pada pasien yang mengalami infeksi virus dengue untuk pertama kalinya, sebagian besar kasus
DBD terjadi pada pasien dengan infeksi sekunder. Hubungan antara terjadinya DHF / DSS dan
infeksi dengue sekunder berimplikasi pada sistem kekebalan tubuh dalam patogenesis DBD.
Baik imunitas bawaan seperti sistem komplemen dan sel NK serta imunitas adaptif termasuk
imunitas humoral dan sel yang termediasi terlibat dalam proses ini. Peningkatan aktivasi
kekebalan, terutama selama infeksi sekunder, menyebabkan respon sitokin yang berlebihan, ini
mengakibatkan perubahan permeabilitas pembuluh darah. Selain itu, produk virus seperti NS1
mungkin memainkan peran dalam mengatur aktivasi komplemen dan permeabilitas pembuluh
darah. Ciri-ciri DBD adalah permeabilitas pembuluh darah yang meningkat sehingga terjadi
kebocoran plasma, terganggunya volume intravaskular, dan syok pada kasus yang berat.
Kebocoran ini unik karena ada kebocoran selektif plasma dalam rongga pleura dan peritoneal
serta periode kebocoran yang pendek (24-48 jam).

22
Gambar 2. Patogenesis terjadinya syok pada DBD6

Gambar 3. Patogenesis Perdarahan DBD6

23
5. Klasifikasi

Infeksi Virus Dengue dibagi menjadi 5 klasifikasi berdasarkan WHO :

Grade Tanda dan Gejala Pemeriksaan Penunjang


DF Demam mendadak dengan 2 dari o Leukositopenia
kriteria berikut : o Thrombocytopenia
o Hematokrit meningkat
o Sakit Kepala
5-10%
o Nyeri Retro-
orbital
o Nyeri Otot
o Nyeri
sendi/tulang
o Kemerahan (rash)
DHF I Demam dan terdapat manifestasi o Thrombositopenia
perdarahan tidak spontan <100.000sel/mm2
(Rumple-leed +) dan bukti o Hematokrit meningkat >20%
kebocoran plasma

II Grade I dengan perdaraham o Thrombositopenia


spontan <100.000sel/mm2
o Hematokrit meningkat >20%

III Grade I atau II dengan tanda o Thrombositopenia


kegagalan sirkulasi (nadi lemah, <100.000sel/mm2
tekanan nadi<20mmHg, o Hematokrit meningkat >20%
hipotensi.

IV Grade III ditambah Syok dengan o Thrombositopenia


tidak terdeteksinya tekanan <100.000sel/mm2
darah dan Nadi o Hematokrit meningkat >20%

Tabel 1. Klasifikasi Demam karena Infeksi Dengue Berdasarkan WHO5

24
6. Manifestasi Klinis

Gambar 2. Perjalanan Penyakit Dengue4

Gambaran klinis penderita dengue terdiri atas 3 fase yaitu fase febris, fase kritis
dan fase pemulihan. Pada fase febris Biasanya demam mendadak tinggi 2 – 7 hari, disertai
muka kemerahan, eritema kulit, nyeri seluruh tubuh, mialgia, artralgia dan sakit kepala. Pada
beberapa kasus ditemukan nyeri tenggorok, injeksi farings dan konjungtiva, anoreksia, mual
dan muntah. Pada fase ini dapat pula ditemukan tanda perdarahan seperti ptekie, perdarahan
mukosa, walaupun jarang dapat pula terjadi perdarahan pervaginam dan perdarahan
gastrointestinal.

Fase kritis terjadi pada hari 3 – 5 sakit dan ditandai dengan penurunan suhu tubuh
disertai kenaikan permeabilitas kapiler dan timbulnya kebocoran plasma yang biasanya
berlangsung selama 24 – 48 jam. Kebocoran plasma sering didahului oleh lekopeni progresif
disertai penurunan hitung trombosit. Pada fase ini dapat terjadi syok.

Fase pemulihan Bila fase kritis terlewati maka terjadi pengembalian cairan dari
ekstravaskuler ke intravaskuler secara perlahan pada 48 – 72 jam setelahnya. Keadaan umum
penderita membaik, nafsu makan pulih kembali, hemodinamik stabil dan diuresis membaik.

25
Kriteria klinis :

• Demam akut 2-7 hari, kadang-kadang bifasik


• Kecenderungan pendarahan berupa :

- Tes tourniquet positif


- Ptekie, ekimosis, purpura
- Pendarahan mukosa, saluran cerna, tempat penyuntikan
- Hematemesis atau melena

• Hepatomegali
• Gejala renjatan

- Nadi lemah, cepat dan kecil sampai tidak teraba


- Tekanan nadi < 20 mmHg
- Tekanan darah turun
- Kulit teraba dingin dan lembab, terutama daerah akral (ujung hidung, jari, kaki)
- Sianosis sekitar mulut

Kriteria Lab :

• Trombositopenia <100.000/ mm3


• Bukti kebocoran plasma dan peningkatan permeabilitas vaskular
dengan manifestasi :

o Peningkatan Ht> 20 % dari baseline sesuai umur dan jenis kelamin pada
populasi tersebut
o Penurunan Ht> 20% setelah terapi cairan
o Tanda kebocoran plasma berupa efusi pleura, asites dan
hipoproteinemia

Diagnosis klinis ditegakkan bila didapatkan >2 gejala klinis dengan trombositopenia dan
hemokonsentrasi.

26
7. Diagnosis

a. Anamnesis

Pada setiap keluhan demam perlu ditanyakan berapa lama demam berlangsung;
karakteristik demam apakah timbul mendadak, remitten, intermitten, kontinu, apakah
terutama saat malam hari, dsb. Hal lain yang menyertai demam dan terdapat pada gejala
klinis demam dengue juga perlu ditanyakan misalnya pegal, nyeri otot, nyeri retro
orbita, sesak nafas, adanya manifestasi perdarahan, dsb. Dari anamnesa diharapkan kita
bisa mengarahkan kecurigaan terhadap penyebab demam itu sendiri.4 Lalu juga
ditanyakan apakah terdapat gejala perdarahan spontan seperti mimisan, gusi berdarah,
kemerahan pada ekstremitas, dan juga BAB dan muntah berwarna hitam. Pada
kebocoran plasma tanyakan daerah yang sering mengalami kebocoran plasma seperti
sesak napas (efusi pleura) dan perut yang membesar (ascites).

b. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik dibagi menjadi 2 yakni pemeriksaan umum dan pemeriksaan


sistematis. Penilaian keadaan umum pasien antara lain meliputi kesan keadaan sakit
pasien (tampak sakit ringan, sedang, atau berat); tanda – tanda vital pasien (kesadaran
pasien, nadi, tekanan darah, pernafasan, dan suhu tubuh); status gizi pasien; serta data
antropometrik (panjang badan, berat badan, lingkar kepala, lingkar dada).4

Selanjutnya dilanjutkan dengan pemeriksaan sistematik organ dari ujung


rambut sampai ujung kuku untuk mengarahkan ke suatu diagnosis. Demam merupakan
salah satu keluhan dan gejala yang paling sering terjadi pada anak dengan penyebab
bias infeksi maupun non infeksi, namun paling sering disebabkan oleh infeksi. Pada
pemeriksaan fisik, pasien diukur suhunya baik aksila maupun rektal. Perlu dicari
adanya sumber terjadinya demam, apakah ada kecurigaan yang mengarah pada infeksi
baik virus, bakteri maupun jamur; ada tidaknya fokus infeksi; atau adanya proses non
infeksi seperti misalnya kelainan darah yang biasanya ditandai dengan dengan pucat,
panas, atau perdarahan.4

27
Pemeriksaaan yang tidak kalah penting dalam infeksi dengue adalah menilai
status hidrasi dan tanda tanda syok pada pasien. Pada dengue fever sendiri status hidrasi
dan tanda tanda syok sangat menentukan diagnosis dan tatalaksana pemberian cairan
untuk kedepannya.

3. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang terdiri dari:

a. pemeriksaan laboratorium

Diperlukan untuk mengetahui tanda-tanda infeksi virus pada pasien dan juga
mengetahui tingkat kebocoran plasma pada pasien. Selain itu juga mengetahui tingkat
trombosit pasien yang membantu menyebabkan manifestasi perdarahan pada pasien.
Yang paling utama diperiksa adalah leukosit, hemoglobin, hematokrit, dan trombosit.
Selain itu, hitung jenis juga dapat dilakukan untuk mengetahui infeksi yang dialami
oleh pasien. Pemeriksaan serologi juga tidak kalah penting. Pemeriksaan serologi NS-
1 pada hari pertama dan kedua, serta dengue blot (IgM dan IgG) pada hari keenam
demam juga bisa digunakan untuk menguatkan diagnosis infeksi dengue.

b. pemeriksaan radiologi

Foto X-ray thorax bisa dilakukan apabila terdapat kecurigaan kebocoran plasma pada

pleura (efusi pleura)

28
8. Diagnosis Banding

• Selama fase akut penyakit, sulit untuk membedakan DBD dari demam dengue dan
penyakit virus lain yang ditemukan di daerah tropis. Maka untuk membedakan dengan
campak, rubela, demam chikungunya, leptospirosis, malaria, demam tifoid, perlu
ditanyakan gejala penyerta lainnya yang terjadi bersama demam. Pemeriksaan
laboratorium diperlukan sesuai indikasi.
• Penyakit darah seperti trombositopenia purpura idiopatik (ITP), leukemia, atau anemia
aplastik, dapat dibedakan dari pemeriksaan laboratorium darah tepi lengkap disertai
pemeriksaan pungsi sumsum tulang apabila diperlukan.
• Penyakit infeksi lain seperti sepsis, atau meningitis, perlu difikirkan apabila anak
mengalami demam disertai syok.

29
9. Penatalaksaan

Terapi infeksi virus dengue dibagi menjadi penatalaksanaan kasus tersangka infeksi
virus dengue, demam dengue, DBD derajat I dan II, dan DBD derajat III dan IV. Prinsip
tatalaksana infeksi dengue adalah pemberian cairan, oleh karena itu perlu diketahui balans
cairan dan kebutuhan cairan anak.4

30
31
32
33
Kriteria untuk pemulangan pasien

Adapun kriteria untuk pemulangan pasien adalah sebagai berikut:

• Tidak adanya demam selama setidaknya 24 jam tanpa menggunakan terapi anti-demam.

• Kembalinya nafsu makan.

• Perbaikan klinis terlihat.

• Output urin baik.

• Minimal 2-3 hari setelah sembuh dari syok.

• Tidak ada gangguan pernapasan dari efusi pleura dan tidak terdapat asites .

• Hitungan trombosit lebih dari 50 000 / mm3. Jika tidak, pasien dapat dianjurkan untuk
menghindari kegiatan berat setidaknya 1-2 minggu sampai trombosit kembali normal. Dalam
kasus yang paling rumit, trombosit meningkat normal dalam waktu 3-5 hari.

10. Komplikasi

a) Ensefalopati dengue

Dapat terjadi pada DBD dengan maupun tanpa syok, cenderung terjadi edema otak dan
alkalosis, maka bila syok teratasi cairan diganti dengan cairan yang tidak mengandung HCO3 -
, dan jumlah cairan harus segera dikurangi. Larutan laktar ringer dekstrosa segera ditukar
dengan larutan NaCl (0,9%) : glukosa (5%) = 3:1. untuk mengurangi edema otak diberikan
kortikosteroid, tetapi bila terdapat perdarahan saluran cerna sebaiknya kortikosteroid tidak
diberikan. Bila terdapat disfungsi hati, maka diberikan vitamin K intravena 3-10 mg selama 3
hari, kadar gula darah diusahakan >60 mg/dl, mencegah terjadinya peningkatan tekanan
intrakranial dengan mengurangi jumlah cairan (bila perlu diberikan diuretik), koreksi asidosis
dan elektrolit. Perawatan jalan nafas dengan pemberian oksigen yang adekuat. Untuk
mengurangi produksi amoniak dapat diberikan neomisin dan laktulosa. Pada DBD ensefalopati
mudah terjadi infeksi bakteri sekunder, maka untuk mencegah dapat diberikan antibiotik

34
profilaksis (kombinasi ampisilin 100mg/kgbb/hari + kloramfenikol 75 mg/kgbb/hari).
Usahakan tidak memberikan obat-obat yang tidak diperlukan (misalnya antasid, anti muntah)
untuk mengurangi beban detoksifikasi obat dalam hati.

b) Kelainan Ginjal

Kelainan ginjal akibat syok yang berkepanjangan dapat terjadi gagal ginjal akut. Dalam
keadaan syok harus yakin benar bahwa penggantian volume intravascular telah benar-benar
terpenuhi dengan baik. Apabila diuresis belum mencukupi 2 ml/kgbb/jam, sedangkan cairan
yang diberikan sudah sesuai kebutuhan, maka selanjutnya furosemid 1 mg/kgbb dapat
diberikan. Pemantauan tetap dilakukan untuk jumlah diuresis, kadar ureum, dan kreatinin.
Tetapi apabila diuresis tetap belum mencukupi, pada umumnya syok juga belum dapat
dikoreksi dengan baik, maka pemasangan CVP (central venous pressure) perlu dilakukan
untuk pedoman pemberian cairan selanjutnya.

c) Edema paru

Edema paru adalah komplikasi yang mungkin terjadi sebagai akibat pemberian cairan yang
berlebihan. Pemberian cairan pada hari sakit ketiga sampai kelima sesuai panduan yang
diberikan, biasanya tidak akan menyebabkan edema paru oleh karena perembesan plasma
masih terjadi. Tetapi pada saat terjadi reabsorbsi plasma dari ruang ekstravaskular, apabila
cairan diberikan berlebih (kesalahan terjadi bila hanya melihat penurunan hemoglobin dan
hematokrit tanpa memperhatikan hari sakit), pasien akan mengalami distress pernafasan,
disertai sembab pada kelopak mata, dan ditunjang dengan gambaran edema paru pada foto
rontgen dada. Gambaran edema paru harus dibedakan dengan perdarahan paru.

11. Prognosis

Dubia at Vitam : Dubia at Bonam

Dubia at Sanationam : Dubia at Bonam

Dubia at Functionam : Dubia at Bonam

35
DAFTAR PUSTAKA

1. Kliegman, Stanton, Geme ST, Schor, Behrman. Nelson Textbook of Pediatrics 19th
edition. Philadelphia: Elsevier. 2011. Pg: 1147-1160.
2. Setiabudi D. Evaluation of Clinical Pattern and Pathogenesis of Dengue Haemorrhagic
Fever. Dalam: Garna H, Nataprawira HMD, Alam A, penyunting. Proceedings Book
13th National Congress of Child Health. KONIKA XIII. Bandung, July 4-7, 2005.h.329
3. Kasus DBD terus bertambah. Available at:
http://www.depkes.go.id/article/view/19020600004/kasus-dbd-terus-bertambah-
anung-imbau-masyarakat-maksimalkan-psn.html. Accesssed April 2, 2019
4. Karyanti, MR. Diagnosis dan Tatalaksana Terkini Dengue. Jakarta: Divisi Infeksi dan
Pediatri Tropik, Departemen Ilmu Kesehatan Anak, RSUPN Cipto Mangunkusumo,
FKUI. 2011. Hal. 1-14.
5. World Health Organization-South East Asia Regional Office. Comprehensive
Guidelines for Prevention and Control of Dengue and Dengue Hemorrhagic Fever.
India: WHO; 2011.p.1-67.
6. Sukohar A. Demam Berdarah Dengue(DBD). Medula. 2014; 2(2): 1-15.

36