Você está na página 1de 13

MAKALAH

AKHLAK TASYAUF

“MEMAHAMI AJARAN TASYAUF”

DOSEN PEMBIMBING:M.Aidil Aqsar, S.Sos. I, M.Kom. I

DISUSUN

H:

KELOMPOK 3

NAMA:

1.AFRIZA MAHENDRA

2.AJENG DWI BARKAH

3.JEFRI MARDHAN

4.MARIA SANTIA SIREGAR

5.MAJALIPA AWALIA

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM

AKUNTANSI SYARIAH

1
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,
kami panjatkan puji syukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala,yang telah
memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah yang berjudul “HAK ASASI MANUSIA”. Sholawat dan salam tetap kita
haturkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad Shallahu‘Alaihi Wa
Sallam dan untuk para keluarga, sahabat, dan pengikutnya yang
setiamendampingibeliau.

Penyusunan makalah ini untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Kewarganegaraan. Makalah ini diharapkan bisa menambah wawasan dan
pengetahuan yang selama ini kita cari dan bisa dimanfaatkan semaksimal dan
sebaik mungkin. Tidak ada gading yang tak retak, demikian pula makalah ini,
oleh karena itu saran dan kritik yang membangun tetap kami nantikan dan kami
harapkan demi kesempurnaan makalah ini.Saya juga mengucapkan terima kasih
kepada pihak-pihak yang telah membantu selama proses penyusunan makalah ini.

KELOMPOK: 3

MEDAN,April 2019

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR……………………………………………………………2

DAFTAR ISI……………………………………………………………………...3

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang……………………………………………………………..….4

a.Rumusan masalah…………………………………………………….4

b.Tujuan penulisan…………….……………………………………….4

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian tasyauf………………………………………………………….…6

2.2 Sejarah munculnya tasyauf……………………………………………………7

2.3Ajaran tasyauf pada masa awal……………………………………………..…9

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan…………………………………………………………………..12

3.2 Daftar pustaka………………………………………………………………..13

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Al-Qur’an dan As-Sunah adalah nash. Setiap muslim kapan dan dimana
pun ditanggung jawab untuk memahami dan melaksanakan kandungannya dalam
bentuk amalan yang nyata. Sumber-sumber tasawuf adalah ajaran –ajaran islam,
sebab tasawuf ditimba dari Al-Qura’an, As-sunah, dan amalan-amalan serta
ucapan para sahabat.
Al-Qur’an merupakan kitab Allah yang didalamnya terkandung muatan-
muatan ajaran islam baik aqidah, syari’ah maupun muamalah. Banyak sekali
dalam Al-Qur’an yang menjelaskan tentang yang bersangkutan dengan dasar Al-
Qur’an. Misalnya tentang mahabbah :

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah


dengan taubatan nasuha (taubat yang semurni-murninya). Mudah-
mudahan Rabbmu menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu
kedalam jannah yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, pada hari
ketika Allah tidak menghinakan nabi dan orang-orang mukmin yang
bersama Dia; sedang cahaya mereka memancar dihadapan dan disebelah
kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami
sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami;
sesungguhnya Engkau maha kuasa atas segala sesuatu”.

A. RUMUSAN MASALAH

Dalam penyusunan makalah ini penulis mengangkat sebuah masalah, yaitu


:
1. Apa itu ilmu tasawuf ?
2. Bagaimana mengetahui sejarah munculnya tasawuf ?
3. Bagaimana ajaran tasawuf pada masa awal ?

B.TUJUAN PENULISAN

1.Untuk mengetahui pengertian dan sejarah Tasyuf

2.Untuk menambah wawasan mengenai akhlak tasyauf

4
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Tasawuf

Sebelum mendefenisikan Tasawuf,di sini akan kita artikan menurut


logat,sebab arti Tasawuf dan asal katanya menjadi perselisihan diantara ahli-ahli
logat

Mengenai arti Tasawuf menurut logat, benyak para pakar telah berbeda
pendapat, di antaranya ada :

1. Berasal dari kata ( ‫ص َفا‬


َ ) artinya suci bersih.

2. Berasal dari kata (ْ‫ص ْو َف ْة‬


ُ ) artinya bulu binatang, karena orang yang masuk
Tasawuf itu memakai pakaian dari bulu binatang dan tidak suka
menggenakan pakaian yang indah-indah seperti yang dipakai kebanyakan
orang.

3. Berasal dari kata(ْ‫صفَّ ْة‬


ُ ) artinya segolongan sahabat Nabi Muhammmad saw
yang menyisihkan dirinya diserambi Masjid Nabawi, sebab di serambi
tersebut sahabat Nabi selalu duduk-duduk bersama Rasullullah saw guna
mendengarkan fatwa-fatwa dari Rasullullah saw.

4. Berasal dari kat(‫ص ْْوفَةُاْالقَفَا‬


ُ ) artinya bulu yang terlembut dengan maksud
bahwa orang sufi itu bersifat lemah lembut.

5. Berasal dari kata(ْ‫ص ّف ْة‬


ِ ) artinya sebab orang-orang sufi mempunyai sifat-
sifat yang terpuji dan mmenjauhi sifat-sifat yang tercela.

6. Berasal dari kata( ْ‫صفَّ ْة‬


ُّ ‫ )ا َ ْه ُل ْال‬artinya orang-orang yang telah mengikuti
Rasullullah pindah dari mekkah ke madinah, sebab karena kehilangan
harta benda,berada dalam keadaan miskin dan tidak mempunyai apa-apa.

7. Berasal dari kata “Shaufanah” yaitu sebangsa buah-buahan kecil berbulu-


bulu yang banyak tumbuh di padang pasir Arabia.

5
8. Ada orang yang mengatakan bahwa asal kata Tasawuf adalah dari gelar
Haus bin Murr, seorang saleh di masa Jahilliyah, gelarnya ialah “Shufah”,
ia senantiasa beri’tikaf dan beribadah disisi Ka’bah.

9. Sebagian pendapat ada yang mengatakan bahwa kata Tasawuf berasal dari
“Shafwah” yang mempunyai arti yang pilihan atau yang terbaik, oleh
karena itu orang Shufi biasa menganggap dirinya adalah orang pilihan
yang terbaik.

10. Dan teori yang terbaru yang datangnya dari Negeri Barat, yang
mengatakan bahwa asal kata Tashawuf itu berasal dari bahasa Yunani
berasal dari bahasa Arab, adapun kata itu adalah Theosophi, dan kata itu
sendiri tersusun dari dua kata yakni kata Theo dan Sophos, Theo artinya
Tuhan dan Sophos itu mempunyai arti Hikmah, Jadi Theosophos itu
artinya adalah Hikmah ke-Tuhanan. Hal ini sebeb ajaran Tashawuf
menurut mereka banyak dipengaruhi oleh ajaran Ynani Neo platonisme.1

Abdul Qasim Qusyairi telah menyatakan pendapatnya bahwa Thasawuf itu


adalah menerapkan dengan secara konsekwen ajaran Al-Qur’an dan Sunnah Nabi
Besar Muhammad saw., berjuang menekan hawa nafsu, menjauhi perbuatan
Bi’dah dan mengikkuti Syahadat dan dari meringan-ringankan Ibadah.

Al Ghazali telah berpendapat bahwa Thasawuf itu adalah memakan makana


yang halal, mengikuti akhlak yang baik, perbuatan dan perintah Rasul yang telah
tercantum dalam sunnahnya. Barangsiapa tidak hafal akan isi Al-Quran dan Hadis
Nabi Muhamad saw., janganlah diikuti, sebab ajaran Tashawuf adalah
berdasarkan ajaran Al-Quran dan Sunnah Nabi.

Abu Bakar Aceh mengatakan bahwa Tashawuf ialah suatu Ilmu Pegetahuan
untuk mencari kecintaan kesempurnaan kerohanian.

Abu Mhammad Al Jurairi mengatakan bahwa tashawuf adalah masuk ke


dalam budi menurrut cotoh yang telah ditinggalkan oleh Nabi Muhammad saw.
dan keluar dari budi yang sangat rendah.

1
Mz,Labib,Menahami Ajaran Tasyauf,(Surabaya:2000),Cv Cahaya Agency.hlm.23

6
Prof. Dr. Hamka, telah berpendapat bahwa tashawuf adalah membersihkan
jiwa dari pengaruh benda atau alam, agar dengan mudah dapat menuju kepada
jalan Allah.

Dari beberapa defenisi yang telah di uraikan oleh pakar atau tokoh-tokoh
tersebut diatas, maka kita dapatt mengambil kesimpulan dan mengerti bahwa yang
telah menjadi inti untuk mencapai tashawuf adalah iman kepada Allah swt,
menyerahkan diri kepada-Nya, mengamalkan amal yang sholeh, dan menjauhi
serta meninggalkan semua larang-larangan Allah swt.

Arti tashawuf adalah berhati mulia dan juga berakhlak baik dengan segala
perangai “athaifatus shufiyah” dan ber-Tawassul dengan segala sifat mereka agar
dapat mempererat hubungan dengan sesama mereka, dan mereka dekat dengan
Allah. Hal tersebut telah dikemukakan oleh sebagian ahli hakekat. Tashawuf
dapat pula diartikan: “berpegang kepada adat yang berdasarkan kepada syara’
baik lahir maupun batin.” Juga dapat diartikan “kesempurnaan manusia adalah
dengan islam, iman dan ikhsan”, bahkan ada yang berpendapat “ berserah diri
kepada Allah atas segala kehendak-Nya”

2.2 SEJARAH MUNCULNYA TASYAUF

Timbulnya tashawuf dalam islam bersamaan dengan kehadiran agama islam


itu sendiri, yaitu semenjak Muhammad saw. diutus menjadi rasul untuk segenap
umat manusia dan seluruh alam semesta.

Memang tashawuf dalam islam telah ada bersamaan dengan datangnya


agama islam itu sendiri, hal ini dapat dilihat dari :

1. Cara hidup Muhammad saw. sendiri sebagai pembawa ajaran islam, yang
senantiasa mempraktekkan hidup juhud, yang mana juhud adlah salah satu
ajaran/amalan terpenting dalam ilmu tashawuf.
2. Bahwa dalam Al-Qur’an sendiri banyak ayat-ayat yang secara langsung
atau tidak langsung menyuruh manusia bertashawuf.2

Ayat –ayat Al-Qur’an tersebut antara lain adalah sebagai berikut :

a. Surat faathir ayat 5

2
Daradjat,Zakiah,Pengantar llmu Tasyauf,(Medan:1983),Institut Islam Negeri Sumatera
Utara.hlm.192

7
ْۖ ْ ‫ق ْ ْۖ ف َ ََل ْ ت َغ ُ َّر ن َّ كُ مُ ْالْ َح ي َ ا ة ُْال د ُّنْ ي َ ا‬
ٌّ ‫َّْللا ِ ْ َح‬
َّ َ ‫ع د‬ ُ َّ ‫ي َ اْأ َي ُّ َه اْال ن‬
َ ‫اس ْ إ ِ َّن‬
ْ ‫ْو‬
ْ‫اَّلل ِ ْالْ غ َ ُر و ُر‬
َّ ِ ‫َو ََل ْ ي َ غ ُ َّر ن َّ كُ ْم ْ ب‬
Artinya : Hai manusia, sesungguhnya janji Allah itu adalah benar, maka
sekali-kali janganlah kehidupan dunia sampai memperdayakan kamu, dan
sekali-sekali janganlah orang yang pandai menipu memperdayakan kamu
tentang Allah.
b. Surat Al-baqarah ayat 186 yang berbunyi

ُ ‫ب ْ ْۖأ ُ ِج ي‬
ِْ ‫ب ْ د َ ع َْو ة َْال د َّاع‬ َ َ ‫َو إ ِ ذ َاْ سَ أ َل‬
ٌ ‫ك ْ ِع ب َ ا ِد يْ عَ ن ّ ِ يْ ف َ إ ِن ّ ِ يْ ق َ ِر ي‬
ۖ ْ ‫إ ِ ذ َاْ د َعَ ا ِن‬
Artinya : jika hamba-Ku bertanya kepadamu tentang diri-Ku, maka Aku
dekat dan Aku mengabulkan seruan yang memanggil jika aku di panggil....
c. Surat An-Nur ayat 35

ِ ‫اْل َ ْر‬
ْۚ ‫ض‬ ْ ‫ْو‬
َ ‫ت‬
ِ ‫او ا‬ ُ ُ ‫َّللا ُْ ن‬
َ ‫ور ْال سَّ َم‬ َّ
Artinya : Allah cahaya langit dan bumi....
Disamping ayat-ayat Al-qur’an di atas, Hadis Nabi sebagai sumber ajaran
kedua dalam islam yang mengisyaratkan supaya manusia bertasawuf
seperti hadis berikut:

ْ‫ْربَ ُح‬
َ ‫ف‬َ ‫ع َر‬ َ ‫فْنَ ْف‬
َ ‫سهُْفَقَ ْد‬ َ ‫ع َر‬ ْْ ‫َم‬
َ ْ‫ن‬
Artinya: orang yang mengenali dirinya merekalah yang mengenali Tuhan
nya.

Hadis ini mengandung arti bahwa manusia dengan Tuhan adalah satu
,karena untuk mengetahui/mengenal Tuhan orang tak perlu pigi jauh-jauh. Cukup
ia masuk kedalam dirinya dan memcoba mengenal/mengetahui diri-nya. Dengan
kenal kepada dirinya, ia akan kenal kepada Tuhannya.

Ajaran-ajaran Al-Qur’an ini lah yang diamalkan oleh Rasul sehingga beliau
menjadi seorang Zuhud(zahid), hidup sederhana dengan pakaian yang ditamabal-
tamabal, ucapan sedikit, shalat diwaktu malam hari dalam waktu yang panjang
dan tidak makan kecuali yang diperolehnya.
Prilaku Zuhud Rasul ini ditiru dan dilanjutkan oleh para sahabat dalam
bentuk yang lebih bervariasi. Demekian seterusnya pada masa tabi’in-
tabi’in,hidup zuhud Rasul ini lebih dikebangkan secara lebih bervariasi, bahkan

8
dimodifikasi dalam bentuk model baru dan menjadilah tasawuf dan pelakunya
disebut mutashowwifun.

2.3 AJARAN TASYAUF PADA MASA AWAL

Kehidupan Rasulullah saw. telah mencerminkan ciri-ciri dan perilaku


kehidupan tokkoh Shufi dimana Rasulullah hidupnya sehari-hari sangat sederhana
dan menderita, disamping beliau menghabiskan waktunya dalam beribadat dan
berTaqarrub kepada Allah swt., itu adalah sebelum Rasulullah secara resmi di
angkat oleh Allah swt. Sebagai Rasul-Nya
Dalam buku “Syakhshuuat Shufiaat”, al Uztadz Syekh Thaha Abdul Baqy
Surur telah berkata bahwa : Kehidupan Rasulullah saw. sebelum dan sesudah
beliau diangkat menjadi Rasul dan Nabi Allah swt. Telah dijadikan suri tauladan
utama bagi sekalian tuku Shufi dan tidak menyeleweng ke jurusan agama-agama
yang lainnya dari agama islam.
Maka didalam mensejarahkan tashawuf islam, pada taraf yang pertama
ssekali berdasar dan bersumberkan kepada sumbernya yang pertama yakni peri
kehidupan Rasulullah saw. sebagai pendiri agama islam. Dan orang yang paling
dimuliakan oleh Allah swt. Diseluruh alam dunia ini.
Tanpa kecuali, bahwa Tashawuf pada masa Rasulullah saw. adalah sifat
umum yang terdapat pada hampir seluruh sahabat-sahabat Nabi. Sehingga sedikit
demi sedikit lahirlah filsafat ibadah dan penyelidikan-penyelidikan mendalam
dalam cara ini,dan bersamaan dengan itu, lahir pulalah mazhab-mazhab rohaniyah
yang telah mendalami masalah ini, dan semua ini juga adanya dalam kata
tashawuf.
Jadi dengan kata lin, bahwa yang memberi dasar tentang tashawuf ialah,
Nabi Muhammad saw. sendiri yang berdasarkan pada wahyu dari Allah swt.
Berupa syariat pada umumnya dan dengan ilham kepada orang-orang khusunya.
Jika kita memperhatikan pertumbhan tashawuf pada mulanya, dapatlah
kita pandang bahwa Tahannuts Rasul di gua hira’, merupakan awal tashawuf pada
diri Nabi Muhammad saw. Tahannuts itu terjadi terjadi sebelum Al Qur’an itu
diturunkan, maka Thannuts itu tidak dapat dijadikan awal tashawuf islam.
Jabar Syekh Abdul Baqy berkata baawa : Tahannuts Rasulullah saw. di
gua Hira’ merupakan cahaya-cahaya pertama dan utama bagi nur tashawuf atau

9
3
itulah benih benih pertama bagi ehidupan rohaniyah yang disebut dengan ilham
hati atau renungan-renungan rohani.
Adapun tashawuf dimasa atau dijaman Rasulullah saw., tidak lain adalah
daripada agama islam itu sendiri.
Yang dimaksud dengan azaz tashawuf adalah semua mereka muslim yang
abid, ubudiyah, semua hidup sangat sederhana atau suhud, dan semuanya cinta
kepada Allah swt. Dan Rasulnya melebihi daripada mencintai dirinya,
keluarganya dan harta bendanya.
Didikan yang dibawa Nabi Muhammad saw. memang bukan hanya
sekedar ngajaran semata-mata. Akan tetapi beliau memberikan contoh dengan
perbuatan-perbuatan dan tingkah laku yang dijalankan sehari-harinya, bukan
hanya menyuruh dan menganjurkan yang ia sendiri tidak melakukannya. maka
demikianlah, padatlah terciptakan manusia yang sempurna untuk hidup sederhana,
menerima seadanya manusia yang adil, manusia yang bersamaan tingkat dan
derajatnya manusia yang mencintai kebaikan, manusia yang bermutu emas dalam
bungkusan pakaian yang compang camping.
Salah seorang sahabat Nabi yang termulia dan terhormat adalah yang
bernama Hudzifah bin Al Yamani, beliau ini menurut catatan sejarah adalah
seorang yang pertama sekali menfilsafatkan ibadah dan menjadikan ibadah secara
satu “Tarekat” yang khusus, diantara sekalian dari sahabat-sahabat Nabi
Muhammad saw.
Bahkan beliau adalah orang yang pertama tama menyampaikan ilmu ilmu
yang kemudian hari dikenal dengan “Tashawuf” dan bahkan beliau juga yang
telah membuka jalan serta teori-teori untuk tashawuf.
Sejak pelajaran ilmu tashawuf telah mendapatkan kedudukan yang tepat
dan tidak akan terlepas dari masyarakat islam sepanjang masa.
Kemudian dengan timbulnya ilmu tashawuf lengkap dalam segenap
bahagiannya, maka hancurlah filsafat kebendaan di Timur. Dihancurkan oleh
gerakan tashawuf yang sangat kuat, matilah gerakan ilhad (atheis-anti agama dan
lain lain paham keduniaan yang biasanya menenggelamkan umat didalam
kedurjanaan dan kekafiran).
Pusaka tashawuf islam didalam bidang literatur, selain dari ruh dan ilmiah
terdaapat didalamnya merupakan kekayaan yang tidak dapat diselami oleh pena
manusia. Kekayaannya lebih dari yang disangka atau diduga oleh manusia.

3
Hidayat,Rahmad,Tasyauf,(Medan:2018),Perdana Publishing.hlm.114

10
Tashawuf adalah yang mengajari manusia cinta kepada Allah swt. Dengan
cinta hamba kepada Tuhannya, dan yang mengajari manusia rindu kepada Allah,
serta selalu merasa senang dengan Tuhan Raahman dan Rahim.
Dunia boleh dimanfaatkan, tetapi jangan terpengaruh oleh godaannya.
Orang yang telah mengingkari patokan dari Rasulullah saw. adalah orang yang
sesat dan bukan termasuk ummat Muhammad saw.
Jadi ciri khas tashawuf dimasa Rasulullah ialah berpegang teguhnya kaum
muslimin dengan Al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad saw.

11
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Tashawuf adalah yang mengajari manusia cinta kepada Allah swt. Dengan cinta
hamba kepada Tuhannya, dan yang mengajari manusia rindu kepada Allah, serta
selalu merasa senang dengan Tuhan Raahman dan Rahim.
Dunia boleh dimanfaatkan, tetapi jangan terpengaruh oleh godaannya.
Orang yang telah mengingkari patokan dari Rasulullah saw. adalah orang yang
sesat dan bukan termasuk ummat Muhammad saw.
Jadi ciri khas tashawuf dimasa Rasulullah ialah berpegang teguhnya kaum
muslimin dengan Al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad saw.

12
3.2 DAFTAR PUSTAKA

Mz, Labib. 2000. Memahami Ajaran Tashowuf. Surabaya : Cv Cahaya Agency

Daradjat, Zakiah. 1983. Pengantar Ilmu Tasawuf. Medan : Institut Islam Negeri
Sumatera Utara

Hidayat, Rahmad. 2018. Akhlak Tasawuf. Medan : Perdana Publishing

13