Você está na página 1de 2

ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

==================================
Psikolog : Yemima Tri Wuryani (Klinis)

Pengertian
 Istilah ABK tidak ada di PPDGJ III / ICD X.
 Kapan muncul istilah ABK ?
 Tampaknya setelah era globalisasi, demokratisasi, keterbukaan.
 Tuntutan keadilan perilaku terhadap anak-anak.
 Agar diperlakukan “khusus”, akibat gangguannya (fisik/fisiologis, mental/emosional,
sosial, kognitif, afektif, psiko-motorik)
 Biasa untuk kepentingan pendidikan formal (kurang memperhatikan diferensiasi,
semua anak dianggap relatif sama)
 Mungkin kata-kata abnormal /menyimpang (menyakitkan hati orangtua/dewasa)
 Istilah Abnormal (statistik, sos-budaya, proses belajar, kesehatan jiwa/fungsional, dll)
 Maka semua Abnormal kesehatan jiwa/fungsional  “ABK”
 Misal kasus-kasus (retardasi mental, gangguan perkembangan, belajar/ pervasiv/
perilaku/ emosional/fungsional/ “TIC” / Hiperkinetik / gangguan bahasa, dll)

Kasus ABK
Seorang anak laki-laki bernama F usia 3.1 tahun. Saat ini diasuh oleh kakek-neneknya
sejak usia 3 bulan, karena ibunya F bekerja di Jakarta, ayahnya bekerja di Australia. F saat ini
masuk pra-sekolah ‘play group’ selama 1.5 tahun. Guru ‘play grup’ melihat perilaku F yang
‘berbeda’ dengan anak-anak lainnya : bila ditanya F tidak menjawab pertanyaan tetapi justru
mengulang pertanyaan, bila berjalan sering menggunakan jari-jari kaki, tumit diangkat
keatas/ bahasa jawa: ‘jinjit’, seringkali mengepak-ngepak lengannya, tampak kurang
memperhatikan terutama bila diajak bicara. Namun perintah-perintah sederhana mampu
dilakukan seperti : cuci tangan, ambil sendok, pakai sepatu, BAB dan BAK ditempatnya,
memakai dan melepas baju, sepatu.
Perilaku bermain lebih menyukai bermain sendiri, bila dekat dengan temannya lebih
banyak mendorong dan menabrak badan kepada teman yang berada di dekatnya sehingga
temannya menjauh dari F. Perilaku makan, masih menolak makanan kasar (ubi, jagung, roti
yang agak keras), banyak menolak makanan yang baru dikenalnya, seringkali sebelum
makan-makanan dicium-ciuminya. F seringkali “mengamuk” : menangis dalam waktu cukup
lama, bila F tidak mendapat hadiah berupa cap bintang ditangannya. Perilaku F yang lain
(laporan neneknya) sangat suka menggambar, mendengarkan cerita, membawa boneka yang
bentuknya ikan, bahkan hampir setiap hari pergi ke ‘play group’ membawa boneka ikan.
Perkembangan perilaku F di kelas di laporkan pada nenek, tetapi nenek menyatakan
tidak ada masalah bahkan menyatakan F sangat pandai berhitung, hafal abjad/alfabet, dapat
main kartu. Tetapi diakui bicara belum jelas dan dianggap biasa karena cucu-cucu yang lain
juga seperti itu. Bahkan kakeknya menyatakan perkembangan F lebih cepat daripada cucu-
cucunya yang lain. Namun kakeknya mengakui F sering rewel, tidak mau tidur terutama di
malam hari, sepertinya takut tetapi tidak jelas takut apa?

Pertanyaan untuk diskusi


1. Jelaskan prosedur penanganan anak F!
 Deteksi (pakai alat apa? Cara apa?
 Diagnosisnya apa?
 Apakah perlu stimulasi/intervensi (intervensi apa saja)?
2. Apakah perlu dirujuk profesi lain? Profesi apa saja? Alasannya apa?
3. Konseling perlu dilakukan kepada siapa saja?
4. Sebagai psikolog (klinis), kemampuan apa yang saudara tingkatkan untuk menolong
F?