Você está na página 1de 50

LAPORAN STUDI KASUS

PRAKTEK KERJA LAPANGAN


MANAJEMEN ASUHAN GIZI KLINIK (MAGK)
DI RS PKU MUHAMMADIYAH SURAKARTA

Disusun sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas

Praktek Kerja Lapangan Manajemen Asuhan Gizi Klinik

Disusun Oleh:

KARTIKA ROHMAH HIDAYATI

J300120009

PROGRAM STUDI ILMU GIZI JENJANG D3

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

2015

1
LAPORAN STUDI KASUS MENDALAM 1

PRAKTEK KERJA LAPANGAN MANAJEMEN ASUHAN GIZI KLINIK

PENATALAKSANAAN DIIT PADA PASIEN DIABETES MELLITUS


DENGAN HIPERTENSI DAN NSTEMI DI BANGSAL MULTADZAM NO B.9
RS PKU MUHAMMADIYAH SURAKARTA

Disusun sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas

Praktek Kerja Lapangan Manajemen Asuhan Gizi Klinik

Disusun Oleh:

KARTIKA ROHMAH HIDAYATI

J300120009

PROGRAM STUDI ILMU GIZI JENJANG D3

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

2015

2
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL . .....................................................................................i


DAFTAR ISI .. ............................................................................................. ii
DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN ... .......................................................................... iv

A. Latar Belakang .. ....................................................................... 1


B. Tujuan .................................................................................... 2
C. Waktu dan Tempat . .................................................................. 3
D. Jenis dan Cara Pengambilan .. .................................................. 3
E. Manfaat .................................................................................... 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Diabetes Mellitus ....................................................................... 5


1. Definisi.................................................................................. 5
2. Etiologi. ................................................................................ 6
3. Patofisiologi .......................................................................... 7
4. Manajemen Terapi Gizi . ....................................................... 7
B. Hipertensi .................................................................................. 8
1. Definisi.................................................................................. 8
2. Etiologi.................................................................................. 9
3. Patofisiologi ......................................................................... 9
4. Manajemen Terapi Gizi . ...................................................... 10
C. NSTEMI .................................................................................... 10
1. Definisi ............................................................................... 10
2. Etiologi. ............................................................................... 10
3. Patofisiologi ......................................................................... 11
4. Manajemen Terapi Gizi . ...................................................... 11
D. Interaksi Obat dan Makanan .................................................... 12

BAB III SKRINING GIZI DAN NUTRITION CARE PROSESS

A. Skrining Gizi ............................................................................. 14


B. Identitas Pasien ........................................................................ 15
C. Assesment Gizi ........................................................................ 15
1. Data Subjektif
a. Riwayat Penyakit .. .......................................................... 15
b. Riwayat Gizi . ................................................................. 15
2. Data Objektif

3
a. Pemeriksaan Antropometri ... .......................................... 16
b. Pemeriksaan Biokimia .................................................... 17
c. Pemeriksaan Fisik dan Klinik .. ........................................ 17
d. Dietery History . ............................................................... 17
e. Terapi Medis ................................................................... 18
D. Kesimpulan Assesment Gizi .................................................... 19
E. Diagnosis Gizi . ........................................................................ 19
F. Intervensi Gizi .. ........................................................................ 19
G. Rencana Konsultasi Gizi .. ........................................................ 22
H. Implementasi . .......................................................................... 23
I. Rekomendasi Diet ................................................................... 24

BAB IV PEMBAHASAN MONITORING DAN EVALUASI

A. Evaluasi Data Subjektif


1. Monitoring dan Evaluasi Keluhan Utama Pasien ................. 25
B. Evaluasi Data Objektif
1. Monitoring dan Evaluasi Data Antropometri ........................ 25
2. Monitoring dan Evaluasi Data Biokimia ............................... 27
3. Monitoring dan Evaluasi Data Fisik dan Klinik. .................... 28
4. Monitoring dan Evaluasi Asupan Makan ...... .................... 29
C. Perkembangan Terapi Diet ...................................................... 31

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan. ............................................................................. 32
B. Saran. ...................................................................................... 33

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

4
DAFTAR LAMPIRAN

1. Menu RS tanggal 28 Mei 2015


2. Rekomendasi Menu
3. Hasil Recall ke 1
4. Hasil Recall ke 2
5. Hasil Recall ke 3
6. Hasil Recall ke 4
7. Leaflet

5
HALAMAN PENGESAHAN

LAPORAN STUDI KASUS MENDALAM 1

PENATALAKSANAAN DIIT PADA PASIEN DIABETES MELLITUS DENGAN

HIPERTENSI DAN NSTEMI DI BANGSAL MULTADZAM NO B.9

RS PKU MUHAMMADIYAH SURAKARTA

DAN

LAPORAN STUDI KASUS MENDALAM 2

PENATALAKSANAAN DIIT PADA PASIEN DIABETES MELLITUS DENGAN

DISLIPIDEMIA, DAN HIPOKALEMIA DI BANGSAL

HIGH CARE UNIT (HCU) NO 1 RS PKU MUHAMMADIYAH SURAKARTA

Telah dipresentasikan dan disahkan pada Juni 2015

Mengetahui,

Pembimbing Lapang Pembimbing Akademik

(Ratna Wardatun N, S.Gz) (Luluk Ria Rakhma, S.Gz., M.Gizi)

6
HALAMAN PENGESAHAN

LAPORAN STUDI KASUS MENDALAM 1

PENATALAKSANAAN DIIT PADA PASIEN DIABETES MELLITUS DENGAN

HIPERTENSI DAN NSTEMI DI BANGSAL MULTADZAM NO B.9

RS PKU MUHAMMADIYAH SURAKARTA

DAN

LAPORAN STUDI KASUS MENDALAM 2

PENATALAKSANAAN DIIT PADA PASIEN DIABETES MELLITUS DENGAN

DISLIPIDEMIA, DAN HIPOKALEMIA DI BANGSAL

HIGH CARE UNIT (HCU) NO 1 RS PKU MUHAMMADIYAH SURAKARTA

Telah dipresentasikan dan disahkan pada Juni 2015

Mengetahui,

Pembimbing Lapang Pembimbing Akademik

(Ratna Wardatun N, S.Gz) (Luluk Ria Rakhma, S.Gz., M.Gizi)

7
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan karunia,
hidayah, serta inayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Praktek
Kerja Lapangan Manajemen Asuhan Gizi Klinik di RS PKU Muhammadiyah
Surakarta. Proses pengambilan data dan penyusunan laporan ini, penulis banyak
menemui kendala dan hambatan, namun berkat bimbingan, arahan, dan bantuan
berbagai pihak, penulis dapat menyelesaikannya. Perkenankanlah dengan setulus
hati penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada:
1. Ibu Setyaningrum Rahmawaty, A, M.Kes., Ph.D, selaku Kepala Program Studi
Gizi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta.
2. Ibu Luluk Ria Rakhma, S.Gz., M.Gizi selaku Pembimbing Akademik untuk
Praktek Kerja Lapangan Manajemen Asuhan Gizi Klinik.
3. Ibu Sri Sunarni, AMG selaku kepala instalasi gizi RS PKU Muhammadiyah
Surakarta.
4. Ibu Asri Dwi Hastuti, AMG selaku Pembimbing Lapang
5. Ibu Ratna Wardatun N, S.Gz selaku Pembimbing Lapang
6. Ibu Rufaida, S.Gz selaku Pembimbing Lapang
7. Ibu Ainun, S.Gz selaku Pembimbing Lapang
8. Bapak dan Ibu yang senantiasa memberikan do’a dan dukungan demi
kelancaran penyusunan laporan ini.
9. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan Laporan Praktek Kerja
Lapangan Manajemen Asuhan Gizi Klinik.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa di dalam laporan ini terdapat
kekurangan-kekurangan dan jauh dari apa yang kami harapkan. Kritik, saran dan
usulan yang membangun demi perbaikan di masa yang akan datang sangat kami
harapkan. Terimakasih.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb
Surakarta, Juni 2015

Penulis

8
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Diabetes Mellitus adalah salah satu penyakit yang banyak diderita

oleh masyarakat Indonesia. Diabetes mellitus merupakan sekelompok kelainan

heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa darah atau hiperglikemia,

dengan berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal, dan

menimbulkan komplikasi akut serta kronik. Menurut Perkumpulan Endokrinologi

Indonesia tahun 2006, seseorang didiagnosa menderita Diabetes Mellitus jika

memiliki kadar gula darah sewaktu > 200 mg/dl dan gula darah puasa > 126

mg/dl.

Berdasarkan data dari Riskesdas tahun 2013 terdapat 2,1% dari total

penduduk Indonesia yang menderita Diabetes Mellitus. Prevalensi terbesar

terdapat di DI Yogyakarta (2,6%), DKI Jakarta (2,5%) dan Sulawesi Utara

(2,4%). Prevalensi DM cenderung lebih tinggi terjadi pada perempuan daripada

laki-laki dan lebih tinggi terjadi pada masyarakat perkotaan daripada masyarakat

pedesaan. Perubahan gaya hidup dengan konsumsi makanan yang tidak sehat

dan kurangnya aktifitas fisik menyebabkan peningkatan jumlah penderita DM.

Peningkatan prevalensi DM ini diikuti dengan peningkatan kejadian komplikasi

seperti, hipertensi, penyakit jantung koroner, stroke, retinopati, dan nefropati

(Smeltzer dan Bare, 2002).

Hipertensi merupakan keadaan dimana tekanan darah meningkat

melebihi batas normal. Hipertensi menjadi salah satu faktor resiko penyebab

penyakit kardiovaskuler seperti gagal jantung dan jantung koroner. Data dari

Riskesdas tahun 2013 menyebutkan bahwa 26,5% penduduk Indonesia

menderita hipertensi. Prevalensi hipertensi cenderung meningkat dengan

bertambahnya umur. Pengendalian hipertensi dapat dilakukan dengan cara

meningkatkan aktifitas fisik, mengonsumsi makanan tinggi serat dan rendah

garam, serta menghindari merokok.

9
Pasien dengan penyakit diabetes mellitus, hipertensi, dan penyakit

jantung sangat memerlukan dukungan dari berbagai hal, salah satunya

dukungan gizi. Gizi diperlukan untuk mencapai atau mempertahankan status

gizi ideal serta memenuhi kebutuhan nutrisi untuk proses penyembuhan. Oleh

karena itu perlu adanya penatalaksanaan diit dengan NCP (Nutrition Care

Process) atau proses asuhan gizi.

Kasus yang diambil untuk studi kasus ini adalah penatalaksanaan diet

pada pasien Diabetes Mellitus dengan Hipertensi dan NSTEMI (Non-

ST Elevation Myocardial Infarction). Penatalaksanaan diit dengan menggunakan

NCP yang dimulai dari assesment, diagnosis gizi, intervensi gizi, monitoring dan

evaluasi. Penatalaksanaan diit ini diharapkan dapat membantu proses

penyembuhan penyakit pada pasien.

B. Tujuan

1. Tujuan Umum

Mahasiswa mampu melaksanakan terapi diit pada pasien Diabetes

Mellitus dengan Hipertensi dan NSTEMI (Non-ST Elevation Myocardial

Infarction) di bangsal Multadzam.

2. Tujuan Khusus

a. Mahasiswa mampu melaksanakan assesment gizi pada pasien Diabetes

Mellitus dengan Hipertensi dan NSTEMI (Non-ST Elevation Myocardial

Infarction).

b. Mahasiswa mampu memberikan diagnosis gizi pada pasien Diabetes

Mellitus dengan Hipertensi dan NSTEMI (Non-ST Elevation Myocardial

Infarction).

c. Mahasiswa mampu melaksanakan intervensi dan implementasi gizi pada

pasien Diabetes Mellitus dengan Hipertensi dan NSTEMI (Non-

ST Elevation Myocardial Infarction).

10
d. Mahasiswa mampu melakukan monitoring dan evaluasi pada pasien

Diabetes Mellitus dengan Hipertensi dan NSTEMI (Non-

ST Elevation Myocardial Infarction).

e. Mahasiswa mampu merencanakan dan menyusun menu sesuai dengan

kebutuhan gizi pasien dan standar menu rumah sakit Diabetes Mellitus

dengan Hipertensi dan NSTEMI (Non-ST Elevation Myocardial Infarction).

C. Waktu dan Tempat

Monitoring pasien dilaksanakan tanggal 25 Mei sampai 28 Mei 2015

di bangsal Multadzam no B 9.

D. Jenis dan Cara Pengumpulan Data

1. Jenis Data

a. Data Primer

Data primer meliputi data antropometri dan riwayat gizi pasien.

b. Data Sekunder

Data sekunder meliputi data fisik, klinis, biokimia, dan diagnosis yang

didapatkan dari rekam medis pasien.

2. Cara Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara,

dan dari data rekam medis pasien.

E. Manfaat

1. Bagi Mahasiswa

Sebagai bahan pembelajaran untuk memahami penatalaksanaan

asuhan gizi bagi pasien rawat inap di RS PKU Muhammadiyah Surakarta.

2. Bagi RS PKU Muhammadiyah Surakarta

Sebagai bahan masukan bagi pihak rumah sakit dalam

penyelenggaraan makan pasien rawat inap.

11
3. Bagi Pasien

Menambah pengetahuan pasien tentang penyakit Diabetes Mellitus

dengan Hipertensi dan NSTEMI (Non-ST Elevation Myocardial Infarction) dan

akibat yang ditimbulkan.

12
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Diabetes Mellitus

1. Definisi

Diabetes mellitus merupakan kumpulan gejala yang timbul pada

seseorang yang mengalami peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat

kekurangan hormon insulin (Almatsier, 2010). Insulin merupakan suatu hormon

yang dihasilkan oleh kelompok sel beta di pankreas. Insulin dan glukagon

berfungsi untuk mengendalikan kadar glukosa didalam darah (Setiabudi,

2008).

Gejala pada penyakit diabetes mellitus yaitu banyak makan (polifagi),

banyak minum (polidipsi), banyak kencing (poliuri), lemas, berat badan turun,

dan mudah lelah. Faktor resiko diabetes mellitus dapat teriadi pada usia lebih

dari 40 tahun, obesitas/ kegemukan, hipertensi, adanya disipidemia (gangguan

pada lemak), penyakit kardiovaskuler, dan TBC (Kartani, 2002).

Diabetes mellitus merupakan gangguan metabolik yang tidak dapat

disembuhkan, tetapi dapat dikendalikan dengan cara melaksanakan diet atau

pengaturan pola makan dengan menaati 3 J, yaitu tepat jumlah, tepat jadwal,

dan tepat jenis makanan. Kondisi penderita diabetes mellitus yang lebih kronik,

dapat dikendalikan dengan pengaturan makan dan suntikan insulin secara

teratur. Diabetes mellitus dapat menjadi penyebab terjadinya komplikasi

penyakit seperti gangguan pada mata atau retinopati, ginjal, jantung, otak,

infeksi yang sukar diobati sampai terjadinya pembusukan pada jaringan tubuh

yang dapat menyebabkan seseorang harus amputasi pada jaringan tubuh

tersebut (Sutanegoro dan Suastika, 1993).

13
2. Etiologi

Menurut WHO (1985), klasifikasi dari etiologi penyakit diabetes

mellitus dibagi menjadi 4, yaitu:

a. IDDM (Insulin Dependent Diabetes Mellitus)

Insulin Dependent Diabetes Mellitus (Diabetes Mellitus Tergantung

Insulin) atau Diabetes Mellitus Tipe 1 merupakan diabetes mellitus yang

disebabkan oleh destruksi sel beta Langerhans akibat proses autoimun.

Faktor pencetus terjadinya IDDM yaitu genetik, lingkungan, dan infeksi virus

( Bare & Suzanne, 2002).

b. NIDDM (Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus)

Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus atau yang dikenal dengan

diabetes mellitus tipe 2 merupakan hiperglikemi yang disebabkan

terbatasnya produksi insulin oleh pankreas. Faktor resiko terjadinya

diabetes tipe 2 yaitu genetik, overweight, dan obesitas. Pencegahan dari

diabetes tipe 2 yaitu mempertahankan berat badan ideal, penurunan berat

badan, olahraga yang cukup, dan pengaturan pola makan yang benar (Bare

& Suzanne, 2002).

c. MRDM (Malnutrisi Related Diabetes Mellitus)

Malnutrisi Related Diabetes Mellitus atau diabetes mellitus terkait

malnutrisi merupakan diabetes mellitus yang terjadi karena konsumsi

makanan rendah kalori dan rendah protein.

d. Diabetes Mellitus Tipe Lain

Diabetes mellitus yang berhubungan dengan keadaan atau sindrom

tertentu antara lain disebabkan oleh penyakit pankreas, penyakit hormonal,

konsumsi obat dalam jangka waktu lama, dan sindrom genetik tertentu

(Perkeni, 1998).

14
3. Patofisiologi

a. Diabetes Mellitus Tipe 1

Menurut Corwin (2000) pada Diabetes Mellitus tipe 1, terdapat

ketidakmampuan pankreas dalam menghasilkan insulin karena hancurnya

sel-sel beta pulau Langerhans. Hal ini menyebabkan kadar glukosa darah

puasa dan post prandial meningkat. Tingginya konsentrasi glukosa dalam

darah, menyebabkan glukosuria dan ekskresi yang disertai dengan

pengeluaran cairan serta elektrolit yang berlebihan sehingga penderita akan

mengalami poliuri (banyak kencing) dan polidipsi (banyak minum).

Defisiensi insulin dapat menyebabkan terganggunya metabolisme protein

dan dan lemak sehingga mengakibatkan penurunan berat badan.

b. Diabetes Mellitus Tipe 2

Menurut Corwin (2000) terdapat dua masalah pada diabetes mellitus

tipe 2, yaitu resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin. Resistensi

insulin merupakan suatu gangguan dimana glukosa tidak dapat masuk

kedalam sel meskipun kadar insulin dalam darah tinggi. Hal ini akan

mengakibatkan sel menjadi kekurangan glukosa.

4. Manajemen Terapi Gizi

Tujuan dari manajemen terapi gizi Diabetes Mellitus adalah

membantu pasien memperbaiki kebiasaan makan dan olahraga untuk

mendapatkan kontrol metabolik yang lebih baik, dengan cara sebagai berikut:

a. Mempertahankan kadar glukosa darah supaya mendekati normal dengan

menyeimbangkan asupan makanan dengan insulin, dengan obat penurun

glukosa oral, dan aktifitas fisik.

b. Mencapai dan mempertahankan kadar lipida serum normal.

c. Memberi cukup energi untuk mempertahankan atau mencapai berat badan

normal.

15
d. Menghindari atau menangani komplikasi akut pasien yang menggunakan

insulin, seperti: hipoglikemia, komplikasi jangka pendek, dan jangka lama.

e. Meningkatkan derajat kesehatan secara keseluruhan melalui gizi yang

optimal.

Syarat-syarat diet penyakit Diabetes Mellitus adalah sebagai berikut:

a. Energi cukup yaitu 25-30 kkal/kg BBI. Makanan dibagi dalam 3 porsi besar,

yaitu makan pagi (20%), makan siang (30%), makan sore (25%), serta 2-3

porsi kecil untuk selingan (10-15%).

b. Protein cukup yaitu 10-15% dari kebutuhan energi total.

c. Lemak sedang yaitu 20-25% dari kebutuhan energi total. Asupan kolesterol

dibatasi yaitu <300 mg.

d. Karbohidrat cukup yaitu 60-70% dari kebutuhan energi total.

e. Membatasi asupan karbohidrat sederhana.

f. Asupan serat dianjurkan 25 g/hari dengan mengutamakan serat larut air

dalam sayur dan buah.

g. Pasien Diabetes Mellitus dengan tekanan darah tinggi harus mengurangi

asupan natrium.

h. Cukup vitamin dan mineral (Almatsier, 2010).

B. Hipertensi

1. Definisi

Hipertensi merupakan keadaan peningkatan tekanan darah sistolik

lebih besar dari 140 mmHg dan diastolik lebih besar dari 90 mmHg. Tekanan

sistolik berkaitan dengan tingginya tekanan pada arteri bila jantung

berkontraksi (denyut jantung). Tekanan diastolik berkaitan dengan tekanan

dalam arteri bila jantung berada dalam keadaan relaksasi.

Diagnosis hipertensi tidak boleh ditegakan berdasarkan sekali

pengukuran, kecuali bila tekanan darah diastolik (TDD) ≥ 120 mmHg dan atau

tekanan darah sistolik (TDS) ≥ 210 mmHg. Pengukuran pertama harus

16
dikonfirmasi pada sedikitnya dua kunjungan lagi dalam waktu satu

sampai beberapa minggu (tergantung dari tingginya tekanan darah tersebut).

Diagnosis hipertensi ditegakan bila dari pengukuran berulang-ulang tersebut

diperoleh nilai rata-rata TDD ≥ 90 mmHg dan atau TDS ≥ 140 mmHg

(Ganiswara, 1995).

2. Etiologi

Berdasarkan penyebabnya, hipertensi dibedakan menjadi 2 yaitu

hipertensi primer dan hipertensi sekunder.

1) Hipertensi Primer

Hipertensi primer merupakan hipertensi yang tidak atau belum

diketahui penyebabnya secara pasti. Penyebab hipertensi primer atau

esensial adalah multifaktor, terdiri dari faktor genetik dan lingkungan.

Faktor keturunan bersifat poligenik dan terlihat dari adanya riwayat

penyakit kardiovaskuler dalam keluarga. Faktor predisposisi genetik ini

dapat berupa sensitifitas terhadap natrium, kepekaan terhadap stress,

peningkatan reaktivitas vaskuler (terhadap vasokonstriksi) dan resistensi

insulin (Setiawati dan Bustami, 1995:315-342).

2) Hipertensi Sekunder

Hipertensi sekunder merupakan hipertensi yang disebabkan atau

sebagai akibat dari adanya penyakit lain (terdapat sekitar 5% - 10% kasus)

penyebabnya antara lain hipertensi akibat penyakit ginjal (hipertensi renal),

hipertensi endokrin, kelainan saraf pusat, obat-obat dan lain-lain.

3. Patofisiologi

Menurut Darmojo dan Martono (2006), patofisiologi terjadinya

hipertensi pada usia lanjut sedikit berbeda dengan hipertensi yang terjadi

pada dewasa muda. Faktor yang berperan pada hipertensi adalah:

17
1) Penurunan kadar renin karena menurunya jumlah nefron akibat proses

menua.

2) Peningkatan sensitivitas terhadap asupan natrium.

3) Penurunan elastisitas pembuluh darah perifer akibat proses menua akan

meningkatkan resistensi pembuluh darah perifer yang pada akhirnya akan

mengakibatkan hipertensi.

4) Sistolik saja (ISH = Isolated Systolic Hypertension).

4. Manajemen Terapi Gizi

Tujuan dari manajemen terapi gizi Hipertensi atau Diet Garam

Rendah adalah membantu menghilangkan retensi garam atau air dalam

jaringan tubuh dan menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi.

Adapun syarat-syarat diet Garam Rendah adalah sebagai berikut:

a. Cukup energi, protein, mineral, dan vitamin.

b. Bentuk makanan sesuai keadaan penyakit.

c. Jumlah natrium disesuaikan dengan berat tidaknya retensi garam atau air

(Almatsier, 2010).

C. NSTEMI (Non-ST Elevation Myocardial Infarction)

1. Definisi

NSTEMI merupakan penyakit yang disebabkan oleh penurunan suplai

oksigen dan peningkatan kebutuhan oksigen miokard yang diperberat oleh

obstruksi koroner.

2. Etiologi

NSTEMI terjadi karena thrombosis akut atau proses vasokonstrikai

koroner, sehingga terjadi eskemia miokard dan dapat menyebabkan nekrosis

jaringan miokard dengan derajat lebih kecil, biasanya terbatas pada

subendokardium. Keadaan ini tidak dapat menyebabkan elevasi segmen ST,

18
namun menyebabkan pelepasan penanda nekrosis. Penyebab paling umum

adalah penurunan perfusi miokard yang dihasilkan dari penyempitan arteri

koroner disebabkan oleh thrombus nonocclusive yang telah dikembangkan

pada plak aterosklerotik terganggu.

3. Patofisiologi

Non ST elevation myocardial Infarction (NSTEMI) dapat disebabkan

oleh penurunan suplai oksigen dan atau peningkatan kebutuhan oksigen

miokard yang diperberat oleh obstruksi koroner. NSTEMI terjadi karena

trombosis akut atau prosesvasokonstriksi koroner. Trombosis akut pada arteri

koroner diawali dengan adanya ruptur plak yang tidak stabil.

Plak yang tidak stabil ini biasanya mempunyai inti lipid yang besar,

densitas otot polos yang rendah, fibrous cap yang tipis dan konsentrasi faktor

jaringan yang tinggi. Inti lemak yang cenderung ruptur mempunyai konsentrasi

ester kolesterol dengan proporsi asam lemak tak jenuh yang tinggi. Pada

lokasi ruptur plak dapat dijumpai sel makrofag dan limfosit T yang

menunjukkan adanya proses inflamasi. Sel-sel ini akan mengeluarkan sitokin

proinflamasi seperti TNF α , dan IL-6. Selanjutnya IL-6 merangsang

pengeluaran hsCRP di hati.

4. Manajemen Terapi Gizi

Terapi gizi atau diet yang diterapkan pada Non ST elevation

myocardial Infarction (NSTEMI) yaitu Diet Jantung. Tujuan dari diet jantung

adalah sebagai berikut:

a. Memberikan makanan secukupnya tanpa memberatkan kerja jantung.

b. Menurunkan berat badan bila terlau gemuk.

c. Mencegah atau menghilangkan penimbunan garam atau air.

Adapun syarat-syarat diet jantung adalah sebagai berikut:

a. Energi cukup yaitu 25-30 kkal/kg BBI.

19
b. Protein cukup yaitu 10-15% dari kebutuhan energi total.

c. Lemak rendah hingga sedang yaitu 15-25% dari kebutuhan energi total.

d. Asupan kolesterol rendah, terutama bila disertai dislipidemia.

e. Karbohidrat cukup yaitu 60-70% dari kebutuhan energi total.

f. Asupan serat dianjurkan 25 g/hari dengan mengutamakan serat larut air

dalam sayur dan buah untuk menghindari konstipasi.

g. Pasien dengan tekanan darah tinggi harus mengurangi asupan natrium (2-3

g/hari).

h. Cairan cukup yaitu ± 2 liter/hari.

i. Cukup vitamin dan mineral, hindari penggunaan suplemen kalsium, kalium,

dan magnesium jika tidak dibutuhkan.

j. Bentuk makanan disesuaikan dengan keadaan penyakit dan diberikan

dalam porsi kecil.

k. Apabila kebutuhan gizi tidak dapat dipenuhi melalui makanan, makan dapat

diberikan tambahan berupa makanan enteral, parenteral, maupun

suplemen gizi (Almatsier, 2010).

D. Interaksi Obat dan Makanan

Interaksi obat dan makanan terjadi apabila makanan yang dimakan

mempengaruhi bahan dalam obat yang diminum, sehingga obat tidak dapat

bekerja secara maksimal. Interaksi ini dapat menyebabkan efek yang berbeda-

beda, seperti peningkatan atau penurunan efektivitas obat dan berbagai efek

samping. Makanan juga dapat menunda, mengurangi, atau meningkatkan

penyeraoan obat (Wahyuningsih, 2013).

20
Berikut ini beberapa obat yang memiliki interaksi dengan makanan:

Tabel 1

Interaksi Obat dan Makanan

Obat Fungsi Interaksi dengan Zat Gizi


Lasix obat diuretic untuk mengurangi melarutkan elektrolit dan mineral
cairan tubuh melalui urin melalui urin
Nipedipin obat anti hipertensi untuk minum bersamaan dengan jus
menurunkan tekanan darah jeruk atau anggur dapat
menurunkan efektivitas obat
Amlodipine obat anti hipertensi untuk minum bersamaan dengan jus
menurunkan tekanan darah jeruk atau anggur dapat
menurunkan efektivitas obat
Captopril obat anti hipertensi untuk menurunkan ketajaman rasa
menurunkan tekanan darah pada lidah dan ketajaman pada
hidung untuk membaui sehingga
dapat menurunkan nafsu makan

21
BAB III

SKRINING GIZI DAN NUTRITION CARE PROCESS (NCP)

A. Skrining Gizi
Tabel 2
NUTRITIONAL RISK SCREENING (NRS-2002)

Nama : Bp. TMAD Usia : 49 tahun


Bangsal : Multadzam B.9 Diagnosis : Diabetes Mellitus, Nyeri
dada, Hipertensi dan NSTEMI
Tanggal masuk RS : 19 Mei 2015 Tanggal skrining : 25 Mei 2015

1. Skrining Awal
No Kriteria Jawaban
1 Apakah IMT < 20.5 atau LLA < 25 cm untuk Ya Tidak
wanita dan LLA < 26.3 cm untuk pria?
2 Apakah pasien kehilangan BB dalam 3 bulan
terakhir?
3 Apakah asupan makan pasien menurun 1 Ya
minggu terakhir?
4 Apakah pasien dengan penyakit berat ? (ICU)
- Jika tidak untuk semua kriteria skrining diulang 1 minggu kemudian
- Jika ada 1 atau lebih kriteria dengan jawaban ya dilakukan skrining lanjut

2. Skrining Lanjut I
Risiko Gizi Kriteria
Absen (Skor = 0) Status gizi normal
Ringan (Skor = 1) Kehilangan BB > 5% dalam 3 bulan atau asupan 50-75%
dari kebutuhan
Sedang (Skor = 2) Kehilangan BB > 5% dalam 2 bulan atau IMT 18.5-20.5
atau asupan 25-50% dar kebutuhan

Berat (Skor = 3) Kehilangan BB > 5% dalam 1 bulan (> 15% dalam 3 bulan)
atau IMT < 18.5 atau asupan 0-25% dari kebutuhan.

3. Skrining Lanjut II
Risiko Gizi Kriteria
Absen (Skor = 0) Kebutuhan gizi normal
Ringan (Skor = 1) Fraktur, pasien kronik (sirosis hati, COPD, HD rutin, DM,
kanker)
Sedang (Skor = 2) Bedah mayor, stoke, pneumonia berat, kanker darah
Berat (Skor = 3) Cedera kepala, transplantasi sumsum, pasien ICU
(APACHE>10)

22
B. Identitas Pasien
Nama (initial) : Bp. TMAD No RM : 0301757
Umur : 49 tahun Ruang : Multadzam B.9
Jenis Kelamin : Laki-laki Tgl Masuk : 19 Mei 2015
Agama : Islam Tgl Kasus : 25 Mei 2015
Pekerjaan/Penghsilan : Swasta Alamat : Semanggi 5/9 Pasar
Kliwon Surakarta
Pendidikan : SMA Diagnosis : Diabetes Mellitus, Nyeri
Medis dada, Hipertensi dan
NSTEMI
Aktivitas fisik (lama : 10 jam/ hari Suku/Bangsa : Jawa
tidur)

C. Assesment Gizi
1. Data Subjektif
a. Riwayat Penyakit
Keluhan Utama sering kencing, dada panas, tengkuk kaku
Riwayat Penyakit Dahulu -
Riwayat Penyakit Keluarga -
Riwayat Penyakit Diabetes Mellitus, Nyeri dada, Hipertensi dan
Sekarang/Diagnosis medis NSTEMI

b. Riwayat Gizi
Alergi/ pantangan
terhadap bahan -
makanan tertentu

Diet yang pernah Sebutkan jenis dan frekuensi


dijalankan -
Kebiasaan makan Sebutkan jenis dan frekuensi
Makanan pokok: nasi 3x sehari @ ½ centong
Lauk hewani: 1-2 x seminggu @ 1 potong
Lauk nabati: tahu, tempe 2-3x sehari @ 1 potong
Sayuran: bayam 3x sehari @ 1 sendok sayur
Buah: pepaya 2-3x sehari @ 1 potong
Makanan yang Keripik dan gorengan
disukai
Suplementasi gizi Sebutkan jenis/nama dan frekuensi

23
-
Cara pengolahan Digoreng, direbus
makanan
Gangguan fungsi Konstipasi
gastrointestinal
Perubahan berat -
badan
Lain-lain -

2. Data Objektif

a. Pemeriksaan Antropometri

BB idaman/ideal : TB -100 = 160 – 100 = 60 kg

Rentang lengan : 162 cm Rumus estimasi TB berdasar rentang lengan :


= 118,24+(0,28x RL)-(0,07 x U)
=118,24+(0,28x 162)-(0,07 x 49)
= 118,24+45,36-3,43
= 163,6-3,43
= 160 cm
Lingkar lengan atas : 30
cm %LLA = pengukuran sebenarnya x 100%

nilai standar

= 300x100%
306

= 98%

24
b. Pemeriksaan Biokimia

Pemeriksaan Kadar Rentang Normal Keterangan


Urin/darah
GDS 376,9 g/dl 70-140 g/dl tinggi
Alpha HBDH 241,3 u/L <182 u/L tinggi
Troponin 1 1,20 ug/L <0,01 ug/L tinggi
CKMB Massa 7,19 mg/L <5,1 mg/L tinggi
Urin:
Glukosa +1 negatif tinggi
Keton +3 negatif tinggi
Protein +2 negatif tinggi

c. Pemeriksaan Fisik dan Klinik

Pemeriksaan Hasil Pemeriksaan


Kesan Umum sedang, compos mentis
Vital sign :
1. Tensi 173/121 mmHg
2. Respirasi 20 x/menit
3. Nadi 88x/menit
4. Suhu 36oC
Kepala/abdomen/ekstrimitas dll -

d. Dietary history
Hasil Recall 24 jam diet : Rumah Sakit
Tanggal : 25 Mei 2015
Diet RS : NT, DM 1700 kkal

Implementasi Energi Protein Lemak KH Na


(Kcal) (g) (g) (g) (mg)
Asupan Oral 770,7 28,6 23,5 113,3 1177,8
Asupan Enteral
Parrenteral
Kebutuhan 1621 69,4 46 234 1391,3
% Asupan 47% 41% 51% 48% 84%

25
e. Medical History

1) Pemeriksaan Penunjang : Pulmo dan besar cor normal

2) Terapi Medis :

Jenis Obat/ Fungsi Interaksi dengan


tindakan Zat Gizi
ISDN 5 g 3x1 mengobati kardiovaskuler -
Clopidogrel 1x1 pengencer darah untuk menurunkan -
kejadian trombotik
Aspilet 1x1 meringankan sakit kepala -
Amlodipine 5mg menurunkan tekanan darah minum bersamaan
1x1 dengan jus jeruk
atau anggur dapat
menurunkan daya
kerja obat
Candesartan 5mg menurunkan tekanan darah -
1x1
Alprazolam obat penenang -
0,5mg 1x1
Ranitidin 1 mengobati maag/ mengatur sekresi -
ampul/12jam asam lambung
Ketorolac 1 obat anti inflamasi -
ampul/12jam
Apidra 3x4 unit mengontrol kadar glukosa darah/ -
mengobati diabetes mellitus
Infus RL 16 tpm menambah cairan dan elektrolit -
Sotatik 1 meringankan asam lambung -
ampul/8jam
Dulcolax memperlancar buang air besar -

26
D. Kesimpulan Assesment Gizi
Antropometri Status gizi baik/ normal
Biokimia a. Pasien mengalami hiperglikemi dibuktikan dengan
kadar GDS tinggi
b. Pasien mengalami NSTEMI (gangguan jantung)
dibuktikan dengan kadar alpha HBDH, troponin 1,
dan CKMB massa tinggi
Fisik dan Klinik Pasien mengalami hipertensi
Dietery History a. Asupan energi, protein, lemak, dan karbohidrat
defisit berat
b. Asupan natrium defisit ringan
Medical Histrory Pasien mempunyai riwayat glukosa darah tinggi,
hipertensi, dan gangguan pencernaan

E. Diagnosis Gizi

NI-5.4 :penurunan kebutuhan zat gizi (karbohidrat sederhana) berkaitan

dengan diabetes mellitus dibuktikan dengan kadar GDS 376,9 g/dl

NI-5.4 : penurunan kebutuhan zat gizi (lemak) berkaitan dengan NSTEMI

dibuktikan dengan hasil lab alpha HBDH, troponin 1, dan CKMB massa tinggi

NI-5.4 : penurunan kebutuhan zat gizi (natrium) berkaitan dengan hipertensi

dibuktikan dengan tensi tinggi, yaitu 173/121 mmHg.

NB-1.2 : kebiasaan makan yang salah berkaitan dengan NSTEMI dan

hipertensi dibuktikan dengan sering mengonsumsi makanan yang digoreng

dan keripik.

F. Intervensi Gizi

1. Tujuan Diet

a. Memberikan asupan makanan yang adekuat

b. Meningkatkan nafsu makan dan asupan makanan pasien

c. Mempertahankan status gizi normal

d. Membantu menurunkan kadar GDS mencapai normal

e. Membantu menurunkan tekanan darah mencapai normal

27
2. Syarat/ Prinsip Diet

a. Energi diberikan sesuai kebutuhan, yaitu 2100 kkal

b. Protein diberikan cukup, yaitu 15% dari kebutuhan energi total

c. Lemak diberikan rendah, yaitu 15% dari kebutuhan energi total

d. Karbohidrat diberikan sesuai kebutuhan, yaitu 362 gram

e. Pembatasan asupan karbohidrat sederhana

f. Pembatasan asupan natrium, yaitu 600 mg/ hari

g. Vitamin dan mineral cukup, terutama kalium, kalsium, dan magnesium

h. Makanan diberikan dalam bentuk makanan lunak

3. Perhitungan Kebutuhan Energi dan Zat Gizi

Kalori basal = BBI (kg) x 30 kkal


= 60 kg x 30 kkal = 1800 kkal
Koreksi umur = 5% x kalori basal
= 5% x 1800 = 90 kkal
1710 kkal
Aktifitas fisik = 10% x kalori basal
= 10% x 1800 = 180 kkal
+
1890 kkal
Stress metabolik = 10% x kalori basal
= 10% x 1800 = 180 kkal
+
2070 kkal = 2100 kkal
Kebutuhan Energi = 2100 kkal

Kebutuhan Protein = 15% x energi

= 15% x 2100

= 315 / 4

= 78,75 gram

28
Kebutuhan Lemak = 15% x energi

= 15% x 2100

= 315 / 9

= 35 gram

Kebutuhan Karbohidrat = energi – (protein + lemak)

= 2100 – (315+315)

= 2100 – 630

= 1470 / 4

= 367,5 gram

4. Jenis Diet, Bentuk Makanan, dan Cara Pemberian

a. Jenis Diet : NT, Diet DM 2100 kkal, Rendah Garam II, dan

Rendah Lemak

b. Bentuk Makanan : Makanan lunak

c. Cara Pemberian : Oral

Pembahasan Preskripsi Diet:

Pasien diberikan terapi diet Nasi Tim, DM 1900 kkal, Rendah Garam

II, dan Rendah Lemak dalam bentuk makanan lunak, secara oral. Frekuensi

pemberian yaitu 3 kali makanan utama dan 2 kali snack.

29
G. Rencana Konsultasi Gizi

Masalah
Tujuan Materi Konseling Keterangan
Gizi
Asupan meningkatkan asupan makanan 80- pengetahuan mengenai pentingnya asupan 1. sasaran : pasien dan
makanan 100% gizi seimbang dan motivasi untuk keluarga pasien
inadekuat meningkatkan asupan makanan 2. ruang : bangsal
Hiperglikemi memberikan pengetahuan makanan yang dianjurkan atau Multadzam B.9
mengenai hiperglikemi, penyebab, diperbolehkan, makanan yang dibatasi dan 3. waktu : 15 menit
pencegahan, dan cara makanan yang tidak diperbolehkan 4. metode : diskusi dan tanya
penanggulangan jawab
Hipertensi memberikan pengetahuan makanan yang dianjurkan atau 5. media : leaflet dan daftar
mengenai hipertensi, penyebab, diperbolehkan, makanan yang dibatasi dan bahan makanan penukar
pencegahan, dan cara makanan yang tidak diperbolehkan 6. monitoring dan evaluasi :
penanggulangan memberikan pertanyaan
Jantung memberikan pengetahuan kepada makanan yang dianjurkan atau kepada pasien dan
pasien mengenai diet rendah lemak diperbolehkan, makanan yang dibatasi dan keluarga pasien mengenai
makanan yang tidak diperbolehkan materi

30
H. Rencana Monitoring dan Evaluasi

Monitoring Yang Diukur Pengukuran Evaluasi/ Target


Anamnesis sering kencing, wawancara, keluhan berkurang
dada panas, setiap hari dan nafsu makan
tengkuk kaku, meningkat
nafsu makan
berkurang
Antropometri BB awal masuk dan mempertahankan
ketika keluar status gizi normal
Rumah Sakit
Biokimia GDS kolaborasi RS kadar mencapai
Alpha HBDH normal
Troponin 1
CKMB Massa
Urin:
Glukosa
Keton
Protein
Fisik dan Klinik Tensi setiap hari tekanan darah
mencapai nilai
normal, yaitu 120/80 –
140/90 mmHg
Asupan Zat Gizi Energi, protein, setiap hari terpenuhi 80 – 100%
lemak, asupan
karbohidrat, dan
natrium

I. Implementasi

a. Jenis Diet : NT, Diet DM 1900 kkal, Rendah Garam II, dan

Rendah Lemak

b. Bentuk Makanan : Makanan lunak

c. Cara Pemberian : Oral

31
Standar Diet RS tanggal 28 Mei 2015

Energi Protein Lemak KH Na


Implementasi
(kkal) (gram) (gram) (gram) (mg)
Standar Diet RS 1784,4 86,3 72 265,3 762,8
Rekomendasi Diet 2014 91 40,6 336,4 794,5
Infus
Kebutuhan (Planning) 2100 78,7 35 367,5 800
% Standar/ 84% 109% 205% 72% 95%
Kebutuhan

J. Rekomendasi Diet

Rekomendasi Standar
Standar Diet RS
Diet
Nasi tim 150 g Nasi tim 250 g
Sosis basah 50 g Sosis basah 50 g
Makan Pagi
Tempe bacem 50 g Tempe bacem 50 g
Soto daging 50 g Soto daging 50 g
Susu 240 ml Susu 240 ml
Selingan Pagi
Mega mendung 75 g Mega mendung 75 g
Nasi tim 200 g Nasi tim 275 g
Telur ceplok air mata sapi 50 Telur ceplok air mata sapi 50
g g
Makan Siang Tahu bergedel kukus 50 g Tahu bergedel kukus 50 g
Sop rolade 75 g Sop rolade 75 g
Lalap timun 50 g Lalap timun 100 g
Pepaya 100 g Pepaya 100 g
Kepok rebus 50 g Kepok rebus 100 g
Selingan Siang
Teh 240 ml Teh 240 ml
Nasi tim 200 g Nasi tim 275 g
Lele fillet goreng tepung 50 g Lele fillet goreng tepung 50 g
Makan Malam Tempe bumbu sate 50 g Tempe bumbu sate 50 g
Lodeh kluwih 75 g Sayur asem 75 g
Ca sawi putih 50 g Ca sawi putih 50 g
Selingan - -
Malam

32
BAB IV

PEMBAHASAN MONITORING DAN EVALUASI

A. Monitoring dan Evaluasi Data Subyektif

1. Monitoring dan Evaluasi Keluhan Utama Pasien

Pada saat pengambilan kasus, pasien sudah dirawat selama 7 hari di Rumah

Sakit. Hasil evaluasi keluhan utama pasien dapat dilihat dalam tabel berikut ini:

Tabel 3

Evaluasi Keluhan Utama Pasien

Tanggal Keluhan Utama Pasien


sering kencing, dada panas dan nyeri, tengkuk kaku,
25 Mei 2015
nafsu makan berkurang

26 Mei 2015 nafsu makan berkurang


susah kencing, saluran kencing seperti tersumbat, nafsu
27 Mei 2015
berkurang
28 Mei 2015 tidak ada keluhan
(Sumber: Data Primer, 2015)

Pada awal pengambilan data, pasien mengeluhkan sering kencing,

dada panas dan nyeri, tengkuk kaku, nafsu makan berkurang. Pasien kurang

nafsu makan karena merasa takut kadar glukosa darahnya akan meningkat

apabila menghabiskan makanan yang diberikan dari Rumah Sakit. Monitoring

hari ke 3 terlihat nafsu makan pasien masih berkurang atau rendah, hal ini

dapat dilihat dari hasil recall dan comstok.

B. Monitoring dan Evaluasi Data Objektif

1. Monitoring dan Evaluasi Data Antropometri

Pengukuran antropometri dilakukan pada saat awal pengambilan

kasus dan hari terakhir monitoring.

33
Hasil pengukuran antropometri dapat dilihat dalam tabel berikut ini:

Tabel 4

Evaluasi Data Antropometri

BB idaman/ideal : TB -100 = 160 – 100 = 60 kg


Rentang lengan : 162 cm Rumus estimasi TB berdasar rentang
lengan :
= 118,24+(0,28x RL)-(0,07 x U)
=118,24+(0,28x 162)-(0,07 x 49)
= 118,24+45,36-3,43
= 163,6-3,43
= 160 cm
Lingkar lengan atas : 30 cm
%LLA = pengukuran sebenarnya x 100%

nilai standar
= 300x100%
306
= 98%
(Sumber: Data Primer, 2015)

Hasil pengukuran pada saat awal pengambilan kasus dan akhir

monitoring adalah sama. Pasien tidak ditimbang menggunakan bathroom scale

karena pasien termasuk dalam kategori resiko jatuh, sehingga pengukuran

dilakukan menggunakan rentang lengan dan LLA (Lingkar Lengan Atas).

Status gizi pasien berdasarkan %LLA adalah gizi baik yaitu 98%. Menurut

NHANES I (1971-1974) dan NHANES II (1976-1974) dalam Anggraeni (2012),

kategori status gizi berdasarkan %LLA yaitu:

a. Gizi baik : > 85%

b. Gizi kurang : 70,1 – 84,9%

c. Gizi buruk : <70%

34
2. Monitoring dan Evaluasi Data Biokimia

Pemeriksaan biokimia untuk jenis pemeriksaan gula darah sewaktu

(GDS) dilakukan setiap hari. Hasil pemeriksaan biokimia dapat dilihat dalam

tabel berikut ini:

Tabel 5

Evaluasi Data Biokimia

Jenis Tanggal
Pemerik Satuan
25-05-2015 26 Mei 2015 27 Mei 2015 28 Mei 2015
saan
GDS g/dl 376 213 136 148
Alpha u/L 241,3 - - -
HBDH
Troponin ug/L 1,2 - - -
1
CKMB mg/L 7,19 - - -
Massa
Urin:
Glukosa +1 - - -
Keton +3 - - -
Protein +2 - - -
Segmen 50-100 - - -
Leukosit
Eritrosit >100 - - -
(Sumber: Rekam Medis 0301757, 2015)

Berdasarkan hasil pemeriksaan biokimia pada awal pengambilan

kasus, kadar GDS sangat tinggi. Pemeriksaan biokimia penegak jantung dan

ginjal menunjukkan hasil yang tidak normal. Hari kedua dan ketiga monitoring

menunjukkan kadar GDS mengalami penurunan, sedangkan pada hari terakhir

monitoring kadar GDS mengalami peningkatan. Nilai normal GDS yaitu 70-140

mg/dl, sedangkan menurut Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI)

tahun 2006, kadar normal GDS yaitu < 200 mg/dl. Menurut Fox dan Kilvert

(2010), kadar GDS dapat dipengaruhi oleh asupan makanan. Asupan

makanan tinggi energi dan rendah serat dapat mengganggu kepekaan sel-sel

pankreas dalam memproduksi insulin, sehingga dapat meningkatkan kadar

GDS.

35
3. Monitoring dan Evaluasi Data Fisik dan Klinik

a. Monitoring dan Evaluasi Data Fisik

Hasil pemeriksaan fisik dapat dilihat dalam tabel berikut ini:

Tabel 6

Data Fisik

Tanggal Pemeriksaan Fisik


Keadaan umum sedang, compos mentis, nafsu makan
25 Mei 2015
kurang
Keadaan umum sedang, compos mentis, nafsu makan
26 Mei 2015
kurang
Keadaan umum sedang, compos mentis, nafsu makan
27 Mei 2015
kurang
Keadaan umum sedang, compos mentis, nafsu makan
28 Mei 2015
kurang
(Sumber: Rekam Medis 0301757, 2015)

Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik selama pengamatan 4 hari,

keadaan fisik terutama nafsu makan pasien tidak mengalami peningkatan.

Pasien merasa badannya agak lemas, hal ini mungkin dikarenakan asupan

makanan yang defisit sehingga membuat badan menjadi lemas.

b. Monitoring dan Evaluasi Data Klinik

Hasil pemeriksaan klinik dapat dilihat dalam tabel berikut ini:

Tabel 7

Data Klinik

Jenis Tanggal
Satuan
Pemeriksaan 25-05-2015 26-05-2015 27-05-2015 28-05-2015
Tensi mmHg 173/121 110/70 130/80 130/80
Nadi x/menit 88 78 80 82
Respirasi x/menit 20 20 20 20
o
Suhu C 36 36 36 36,3
(Sumber: Rekam Medis 0301757, 2015)

Berdasarkan data tersebut, tekanan darah pasien pada awal kasus

yaitu 173/121 mmHg. Sedangkan tekanan darah normal berkisar antara

120/80 sampai 140/90 mmHg. Tekanan darah yang tinggi pada pasien dapat

disebabkan karena pasien setiap hari sering mengonsumsi camilan berupa

keripik dan gorengan. Diakhir pengamatan, tekanan darah pasien menjadi

36
130/80 mmHg. Penurunan tekanan darah pasien ini dapat disebabkan karena

pengaturan pola makan selama di rumah sakit dan pemberian obat amlodipine

dan candesartan yang berfungsi untuk menurunkan tekanan darah. Nadi

pasien pada awal kasus hingga akhir kasus berada dalam rentang normal

yaitu 60 sampai 100x/menit. Respirasi pasien dari awal kasus hingga akhir

kasus yaitu 20x/menit yang masuk dalam kategori normal. Suhu pasien dari

awal kasus hingga akhir kasus normal, yaitu 36o C dan 36,3o C.

4. Monitoring dan Evaluasi Makan Pasien

Perkembangan asupan makan pasien dapat dilihat dalam tabel

berikut ini:

Tabel 8

Data Asupan Makan Tanggal 25 Mei 2015

Energi Lemak Karbohidrat Na


Protein (g)
(kkal) (g) (g) (g)
Asupan 782,7 30,7 23,5 114,5 1177,8
Standar RS 1621 69,4 46 234 1391,3
% asupan 47% 41% 51% 48% 84%
Keterangan DB DB DB DB DR

Tabel 9

Data Asupan Makan Tanggal 26 Mei 2015

Energi Lemak Karbohidrat Na


Protein (g)
(kkal) (g) (g) (g)
Asupan 979,7 47,8 27,6 134,5 722,3
Standar RS 1672,5 76,4 40,5 252,1 1040,7
% asupan 58% 62% 68% 53% 69%
Keterangan DB DB DB DB DB

Tabel 10

Data Asupan Makan Tanggal 27 Mei 2015

Energi Protein Lemak Karbohidrat Na


(kkal) (g) (g) (g) (g)
Asupan 687,7 41,1 20,8 83,9 235,3
Standar RS 1621,7 77,6 49,7 219,7 389,2
% asupan 42% 52% 40% 38% 60%
Keterangan DB DB DB DB DB

37
Tabel 11

Data Asupan Makan Tanggal 28 Mei 2015

Energi Protein Lemak Karbohidrat Na


(kkal) (g) (g) (g) (g)
Asupan 824,6 55,1 31,9 79,1 711
Standar RS 1784,4 86,3 72 265,3 762,8
% asupan 46% 63% 44% 29% 93%
Keterangan DB DB DB DB N
(Sumber: Data Primer Terolah, 2015)

Keterangan:

DB : Defisit Berat (<70%)

DS : Defisit Sedang (70-79%)

DR : Defisit Ringan (80-89%)

N : Normal (90-120%)

Asupan zat gizi pasien selama dirumah sakit hanya didapatkan dari

makanan yang diberikan oleh rumah sakit. Pasien tidak mengonsumsi

makanan dari luar rumah sakit. Berdasarkan data yang diperoleh selama

pengamatan dapat disimpulkan bahwa rata-rata asupan energi, protein, lemak

dan karbohidrat mengalami defisit sedang hingga defisit berat. Sedangkan

asupan natrium mengalami defisit pada hari kedua dan ketiga pengamatan,

namun kembali normal pada hari terakhir pengamatan.

Asupan makanan yang rendah dikarenakan pasien merasa takut

kadar glukosa darahnya akan meningkat apabila menghabiskan makanan

yang diberikan oleh rumah sakit. Pasien perlu diberikan edukasi agar mau

untuk meningkatkan asupan makanan, karena asupan makanan yang defisit

akan mengganggu proses penyembuhan penyakit pada pasien.

38
C. Perkembangan Terapi Diet

Selama awal pengambilan kasus hingga akhir kasus terdapat perkembangan

terapi diet pada pasien. Perkembangan terapi diet dapat dilihat dalam tabel

berikut ini:

Tabel 9

Perkembangan Terapi Diet

Tanggal Jenis Diet Bentuk Makanan Cara Pemberian


25 Mei 2015 NT, DM 1700 Lunak Oral
26 Mei 2015 NT, DM 1900 Lunak Oral
27 Mei 2015 NT, DM 1900 Lunak Oral
28 Mei 2015 NT, DM 1900 Lunak Oral
(Sumber: Data Primer dan Sensus Pasien, 2015)

Pasien mengalami perkembangan terapi diet dari diet DM 1700 kkal menjadi

diet DM 1900 kkal. Hal ini dikarenakan glukosa darah pasien mulai normal. Diet DM

1700 kkal, 1900 kkal, dan 2100 kkal dapat diberikan kepada penderita Diabetes

Mellitus yang memiliki status gizi normal. Sedangkan untuk status gizi lebih diberikan

diet DM 1300 kkal sampai 1500 kkal, untuk pasien dengan status gizi kurang

diberikan diet DM 2300 kkal sampai 2500 kkal.

39
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Diagnosa medis pasien adalah diabetes mellitus, nyeri dada, hipertensi, dan

NSTEMI.

2. Hasil antropometri pasien menunjukkan status gizi baik.

3. Hasil klinik pasien menunjukkan tekanan darah tinggi.

4. Hasil biokimia pasien menunjukkan kadar GDS tinggi.

5. Hasil dietery history menunjukkan kebiasaan makan yang salah ditandai

dengan suka mengonsumsi keripik dan gorengan.

6. Hasil medical history menunjukkan bahwa pasien mengalami hiperglikemi,

hipertensi, dan gangguan saluran cerna.

7. Diagnosis gizi pasien meliputi:

NI-5.4 :penurunan kebutuhan zat gizi (karbohidrat sederhana) berkaitan

dengan diabetes mellitus dibuktikan dengan kadar GDS 376,9 g/dl

NI-5.4 : penurunan kebutuhan zat gizi (lemak) berkaitan dengan NSTEMI

dibuktikan dengan hasil lab alpha HBDH, troponin 1, dan CKMB massa tinggi

NI-5.4 : penurunan kebutuhan zat gizi (natrium) berkaitan dengan

hipertensi dibuktikan dengan tensi tinggi, yaitu 173/121 mmHg.

NB-1.2 : kebiasaan makanan yang salah berkaitan dengan dengan NSTEMI

dan hipertensi dibuktikan dengan sering mengonsumsi makanan yang

digoreng dan keripik.

8. Implementasi yang dilakukan adalah pemberian diet NT, DM 2100 kkal, RG

II, dan Rendah Lemak.

9. Asupan makanan pasien selama studi kasus masih defisit yaitu energi 39%,

protein 56%, lemak 33%, dan karbohidrat 28,4%. Asupan natrium sudah

normal yaitu 101%.

40
10. Hasil pengamatan selama studi kasus:

a. Pemeriksaan antropometri : status gizi pasien tidak mengalami perubahan,

yaitu status gizi baik.

b. Pemeriksaan klinis : tekanan darah pasien mengalami penurunan

menjadi normal.

c. Pemeriksaan biokimia : hari terakhir pemeriksaan, GDS pasien

mengalami peningkatan dari hari sebelumnya.

d. Asupan makan : asupan makan pasien mengalami sedikit

peningkatan, tetapi masih defisit.

B. Saran

a. Pasien sebaiknya mematuhi diet dan meningkatkan asupan makannya.

b. Pasien sebaiknya mematuhi anjuran makanan yang diperbolehkan, makanan

yang dibatasi dan tidak diperbolehkan.

c. Pasien sebaiknya membatasi asupan camilan dan gorengan agar tidak

meningkatkan tekanan darah dan glukosa darah.

41
DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, S.(2010).Prinsip Dasar Ilmu Gizi.Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.


Arini Setiawati dan Zunilda Bustami. 2001. Antihipertensi. Dalam : Sulistia G.
Ganiswarna, dkk., Editor : Farmakologi dan Terapi. Edisi 4. Jakarta :
Bagian Farmakologi FKUI. 315-342.
Corwin Elizabeth J. Buku saku patofisiologi : Sistem kardiovaskular. Edisi 1.
Jakarta : EGC, 2009.h.477
Darmojo dan Martono. (2006). Geriatri. Jakarta : Yudistira.
PERKENI (1998). Konsensus Pengelolaan Diabetes Melitus di Indonesia.
Jakarta
Sarwono Waspadji, Kartini Sukardji, Meida Octarna. 2002. Pedoman Diet
Diabetes Mellitus. Jakarta : Balai Penerbit FKUI
Setiabudi, Rianto. 2007. Pengantar Antrimikrobia. Dalam: Dalam Ganiswara,
Sulistia G, editor. Farmakologi dan Terapi. Edisi 5. Jakarta: Bagian
Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, hal 585-95
Smeltzer, Suzanne C. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah Brunner &
Suddart, Edisi 8. Jakarta EGC
Wahyuningsih, Retno. 2013. Penatalaksanaan Diet pada Pasien. Yogyakarta :
Graha Ilmu

42
MENU RS TANGGAL 28 MEI 2015

Sarapan Berat Energi Protein Lemak KH Na


nasi tim 150 g 175,7 kcal 3,3 0,3 38,6 g 0
telur ayam 30 g 46,5 kcal 3,8 3,3 0,3 g 37,2
soto daging pku 50 g 34,9 kcal 3,5 2,2 1,2 g 5,5
daging ayam 20 g 57,0 kcal 5,4 3,8 0,0 g 14,6
tempe kedele murni 50 g 99,5 kcal 9,5 3,8 8,5 g 3
kecap 5g 3,0 kcal 0,5 0 0,3 g 279,3
gula tropicana slim 10 g 1,0 kcal 0 0 0,4 g 0
minyak kelapa sawit 10 g 86,2 kcal 0 10 0,0 g 0
Selingan Pagi
susu diabetasol 60 g 156,0 kcal 6 4,2 23,4 g 66
mega mendung 50 g 102,1 kcal 2 2,3 18,7 g 163
Makan Siang
nasi tim 200 g 234,2 kcal 4,4 0,4 51,4 g 0
telur ayam 50 g 77,6 kcal 6,3 5,3 0,6 g 62
tahu 50 g 38,0 kcal 4,1 2,4 0,9 g 3,5
sop rolade pku 75 g 88,2 kcal 12, 8 7,2 9,8 g 38,3
ketimun mentah 50 g 6,5 kcal 0,3 0,1 1,4 g 1
minyak kelapa sawit 10 g 86,2 kcal 0 10 0,0 g 0
pepaya 100 g 39,0 kcal 0 0,1 9,8 g 3
Selingan Sore
pisang kepok 50 g 58,0 kcal 0,4 0,1 15,6 g 2,5
Makan Malam
nasi tim 200 g 234,2 kcal 4,4 0,4 51,4 g 0
ikan lele 50 g 41,9 kcal 7,4 1,1 0,0 g 20
minyak kelapa sawit 10 g 86,2 kcal 0 10 0,0 g 0
tempe kedele murni 50 g 99,5 kcal 9,5 3,8 8,5 g 3
lodeh kluwih pku 75 g 53,4 kcal 3 2 26,3 g 4,5
sawi putih mentah 50 g 7,5 kcal 1,1 0 1,0 g 8

Keterangan Jumlah
Energi 1912,3 kcal
Protein 88,3 g
Lemak 72,9 g
Karbohidrat 268,0 g
Na 714,3 mg

43
REKOMENDASI MENU

Sarapan Berat Energi Protein Lemak KH Na


nasi tim 250 g 292,8 kcal 5,5 0,5 64,3 g 0
telur ayam 20 g 31,0 kcal 2,5 2,1 0,2 g 24,8
daging ayam 30 g 85,5 kcal 8,1 7,7 0,0 g 21,9
soto daging pku 50 g 34,9 kcal 3,5 2,2 1,2 g 5,5
tempe kedele murni 50 g 99,5 kcal 9,5 3,8 8,5 g 3
kecap 5g 3,0 kcal 0,5 0 0,3 g 279,3
Selingan Pagi
susu diabetasol 30 g 78,0 kcal 3 2,1 11,7 g 33
mega mendung 75 g 204,1 kcal 3,9 4,7 37,4 g 326
Makan Siang
nasi tim 275 g 322,1 kcal 6,1 0,6 70,7 g 0
telur ayam 50 g 77,6 kcal 6,3 5,3 0,6 g 62
tahu 50 g 38,0 kcal 4,1 2,4 0,9 g 3,5
sop rolade pku 50 g 58,8 kcal 8,5 4,8 6,5 g 25,5
ketimun mentah 100 g 12,9 kcal 0,7 0 2,8 g 2
Selingan Sore
pisang kepok 100 g 115,9 kcal 0,8 0,2 31,2 g 5,7
teh 5g 2,5 kcal 0 0 0,5 g 5,5
gula diabetasol 10 g 0 kcal 0 0 0 g 0
Makan Malam
nasi tim 275 g 322,1 kcal 6,1 0,6 70,7 g 0
ikan lele 50 g 41,9 kcal 7,4 1,1 0,0 g 20
tempe 50 g 99,5 kcal 9,5 3,8 8,5 g 3
sayur asem 75 g 72,1 kcal 4,5 2,5 9,8 11,3
sawi putih mentah 50 g 7,5 kcal 1 0,1 1,0 g 8
Jumlah 2014 91 40,6 336,4 794,5
Kebutuhan 2100 78,7 35 367,5 800
% Asupan 95% 115% 116% 91% 99%

44
HASIL RECALL HARI KE 1 TANGGAL 25 MEI 2015

Makan Siang 24 Mei 2015 Berat


nasi tim
beras putih giling 31 g
bola-bola bumbu bistik
daging sapi 15 g
tahu bumbu bacem
tahu 20 g
ca sawi putih
sawi putih mentah 50 g
minyak kelapa sawit 5g
Snack Sore 24 Mei 2015
pisang kepok 50 g
Makan Sore 24 Mei 2015
nasi tim
beras putih giling 31 g
telur puyuh bumbu bacem
telur puyuh 15 g
tempe bumbu bacem
tempe kedele murni 20 g
ca sawi sendok
ca sawi sendok 50 g
minyak kelapa sawit 5g
Makan Pagi 25 Mei 2015
nasi tim
beras putih giling 31 g
oseng soon, buncis, janten
bihun 10 g
buncis mentah 20 g
jagung muda berjanggel 20 g
daging bumbu kacang
daging sapi 25 g
tahu bergedel kukus
tahu 15 g
kecap 20 g

PROSENTASE ASUPAN ZAT GIZI HASIL RECALL

HARI KE 1 TANGGAL 25 MEI 2015

Energi Protein Lemak KH Na


Implementasi
(Kkal) (g) (g) (g) (mg)
Asupan Oral 782,7 30,7 23,5 114,5 1177,8
Kebutuhan 1621 69,4 46 234 1391,3
% Asupan 47% 41% 51% 48% 84%

45
HASIL RECALL HARI KE 2 TANGGAL 26 MEI 2015

Makan Siang 25 Mei 2015 Berat


nasi tim
beras putih giling 25 g
telur bacem
telur ayam 25 g
kecap 3g
tempe bacem
tempe kedele murni 25 g
kecap 3g
sop timlo
wortel 10 g
kapri muda mentah 5g
bihun 10 g
jamur kuping segar 5g
daging menthok 20 g
Makan Malam 25 Mei 2015
beras putih giling 25 g
ayam bumbu sate
daging ayam 25 g
tahu bumbu opor
tahu 25 g
sayur podomoro
labu siam mentah 10 g
kacang panjang mentah 10 g
wortel 5g
santan (kelapa dan air) 20 g
ketimun mentah 20 g
Makan Pagi 26 mei 2015
nasi biasa
beras putih giling 75 g
telur omelet tahu sayur
telur ayam 25 g
tempe bumbu bacem
tempe kedele murni 50 g
kecap 5g
setup sayur
buncis mentah 10 g
wortel 10 g
kentang 10 g
kacang merah 5g
daging sapi 10 g

46
PROSENTASE ASUPAN ZAT GIZI HASIL RECALL

HARI KE 2 TANGGAL 26 MEI 2015

Energi Protein Lemak KH Na


Implementasi
(Kkal) (g) (g) (g) (mg)
Asupan Oral 979,7 47,8 27,6 134,5 722,3
Kebutuhan 1672,5 76,4 40,5 252,1 1040,7

% Asupan 58% 62% 68% 53% 69%

47
HASIL RECALL HARI KE 3 TANGGAL 27 MEI 2015

Makan Siang 26 Mei 2015 Berat


nasi tim
beras putih giling 25 g
ikan patin bumbu rujak t cabe
ikan segar 50 g
tahu bumbu bacem
tahu 15 g
kecap 5g
bayam segar 10 g
labu siam mentah 10 g
santan (kelapa saja) 3g
toge kacang hijau mentah 20 g
minyak kelapa sawit 2g
pepaya 50 g
Makan Malam 26 Mei 2015
nasi tim
beras putih giling 25 g
daging giling gadon
daging sapi 30 g
tempe kering tanpa cabe
kecap 5g
tempe kedele murni 20 g
ca labu siam
labu siam mentah 30 g
gula pasir 10 g
Makan Pagi 27 Mei 2015
nasi tim
beras putih giling 25 g
ayam bumbu bandung
daging ayam 40 g
sambal goreng labu siam
labu siam mentah 30 g

PROSENTASE ASUPAN ZAT GIZI HASIL RECALL

HARI KE 3 TANGGAL 27 MEI 2015

Energi Protein Lemak KH Na


Implementasi
(Kkal) (g) (g) (g) (mg)
Asupan Oral 687,5 41,1 20,8 83,9 635,3
Kebutuhan 1621,7 77,6 49,7 219,7 389,2

% Asupan 42% 52% 40% 38% 60%

48
HASIL RECALL HARI KE 4 TANGGAL 28 MEI 2015

Makan Siang 27 Mei 2015 Berat


nasi tim 75 g
daging bumbu empal
manis
daging sapi 50 g
tempe bumbu rendang
tempe kedele murni 20 g
sayur asem pku 20 g
orak arik pku 20 g
Makan Sore 27 Mei 2015
nasi tim 75 g
telur bacem
telur ayam 50 g
kecap 5g
tahu bumbu bistik
tahu 20 g
sop bakso ayam pku 20 g
ca sawi sendok 20 g
Makan Pagi 28 Mei 2015
nasi tim 75 g
telur ayam 20 g
daging ayam 30 g
tempe bacem
tempe kedele murni 50 g
kecap 5g
soto daging pku 20 g

PROSENTASE ASUPAN ZAT GIZI HASIL RECALL

HARI KE 4 TANGGAL 28 MEI 2015

Energi Protein Lemak KH Na


Implementasi
(Kkal) (g) (g) (g) (mg)
Asupan Oral 824,6 55,1 31,9 79,1 711
Kebutuhan 1784,4 86,3 72 265 762,8
% Asupan 46% 63% 44% 29% 93%

49
50