Você está na página 1de 4

Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) adalah kajian mengenai

dampak penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup
yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha atau
kegiatan. Kajian pada AMDAL meliputi kemungkinan terjadinya perubahan sosial-ekonomi
dan perubahan biofisik Iingkungan
Dalam menyusun dokumen Amdal, Pemrakarsa wajib menggunakan pendekatan
studi:
a. tunggal;
b. terpadu; atau
c. kawasan.
Pendekatan studi tunggal dilakukan apabila pemrakarsa merencanakan untuk melakukan 1
jenis usaha atau kegiatan yang kewenangan pembinaan atau pengawasannya berada di bawah
1 kementerian, lembaga pemerintah nonkementerian, satuan kerja pemerintah provinsi, atau
satuan kerja pemerintah kabupaten/kota. Pendekatan studi terpadu dilakukan apabila
pemrakarsa merencanakan untuk melakukan lebih dari 1 jenis usaha atau kegiatan yang
perencanaan dan pengelolaannya saling terkait dalam satu kesatuan hamparan ekosistem serta
pengawasannya berada di bawah lebih dari 1 kementerian, lembaga pemerintah
nonkementerian, satuan kerja pemerintah provinsi, atau satuan kerja pemerintah
kabupaten/kota. Pendekatan studi kawasan dilakukan apabila pemrakarsa merencanakan
untuk melakukan lebih dari 1 usaha atau kegiatan yang perencanaan dan pengelolaannya
saling terkait, terletak dalam satu kesatuan zona rencana pengembangan kawasan, yang
pengelolaannya dilakukan oleh pengelola kawasan.
Dalam pelaksanaan AMDAL, terdapat dokumennya. Komponen dokumen AMDAL
antara lain:
a. Dokumen kerangka acuan analisis dampak lingkungan hidup (KA-ANDAL) yang
merupakan ruang lingkup studi analisis dampak lingkungan hidup .Dokumen ini
menjabarkan kedalaman analisis mengenai dampak lingkungan hidup yang
disepakati oleh pemrakarsa, penyusun AMDAL, dan Komisi Penilai.

b. Dokumen analisis mengenai dampak lingkungan hidup (ANDAL) yang memuat


telaahan tentang dampak besar dan penting suatu rencana usaha dan/ atau kegiatan
berdasarkan arahan yang telah disepakati dalam dokumen KA-ANDAL. Metode
dalam penyusunan dokumen ANDAL yaitu metode identifikasi rona lingkungan
hidup awal, metode prakiraan dampak kegiatan pembangunan, dan metode
evaluasi dampak penting.

c. Dokumen rencana pengelolaan lingkungan hidup (RKL) yang memuat upaya


penanganan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup yang
diakibatkan oleh rencana usaha atau kegiatan. RKL dapat digunakan sebagai
petunjuk bentuk rekayasa teknologi atau rekayasa lingkungan yang akan
diterapkan dalam upaya mengurangi dampak.

d. Dokumen rencana pemantauan lingkungan hidup (RPL) yang memuat rencana-


rencana pemantauan terhadap berbagai komponen lingkungan hidup yang telah
dikelola akibat terkena dampak besar dan penting dari rencana usaha atau
kegiatan. Pelaksanaan RPL berorientasi pada data sistematik, berulang, dan
terencana.

Dokumen AMDAL harus disusun oleh pemrakarsanya. Pemrakarsa dapat meminta jasa
konsultan untuk menyusun dokumen AMDAL atau disebut dengan penyusun AMDAL..
Penilai AMDAL di tingkat pusat, dibentuk oleh Menteri, sedangkan di tingkat daerah,
dibentuk oleh Gubernur. Komisi Penilai di tingkat pusat disebut dengan Komisi Penilai Pusat,
sedangkan Komisi Penilai di tingkat daerah disebut dengan Komisi Penilai Daerah. Komisi
Penilai Pusat berkedudukan di Kementrian Lingkungan Hidup, sedangkan Komisi Penilai
daerah di tingkat provinsi berkedudukan di Rapeldarda atau instansi pengelola lingkungan
hidup provinsi

Tahapan pelaksanaan AMDAL yaitu :


a. Persiapan, dimana dilakukan perapihan administrasi pelaksanaan AMDAL antara lain
menyusun jadwal kegiatan, jadwal pelingkupan, surat-menyurat, dan persiapan penyusunan
KA¬ANDAL.
b. Pelingkupan, yang akan menghasilkan identifikasi tentang:
• ruang lingkup studi yang mencakup identifikasi komponen usaha dan/atau kegiatan yang
akan berdampak dan komponen lingkungan yang terkena dampak
• isu-isu pokok
• batas wilayah studi
• jenis data, informasi, dan lain sebagainya yang diperlukan dalam pelaksanaan
• kebutuhan pakar dalam tim penyusun AMDAL
• metode AMDAL
• batas waktu studi dan jadwal studi
• biaya yang diperlukan

c. Proses pengumuman dan konsultasi masyarakat. Sebelum dilaksanakan penyusunan KA-


ANDAL, maka pemrakarsa wajib mengumumkan rencana kegiatannya selama waktu yang
ditentukan dalam peraturan, menanggapi masukan dari masyarakat, dan memberikan
konsultasi kepada masyarakat.

d. Penyusunan kerangka acuan ANDAL (KA-ANDAL), yang merupakan proses untuk


menentukan lingkup masalah yang akan dikaji pada ANDAL setelah sebelumnya lingkup
masalah diidentifikasi pada proses pelingkupan. Setelah selesai disusun, pemrakarsa
kemudian mengajukan dokumen KA-ANDAL untuk dinilai oleh Komisi Penilai.

e. Penyusunan ANDAL, RKL, dan RPL. Setelah KA-ANDAL disetujui oleh Komisi Penilai,
maka dilanjutkan dengan penyusunan ANDAL. Berdasarkan acuan pada KA-ANDAL, maka
RKL dan RPL juga kemudian disusun sebagai dokumen pelengkap keseluruhan dokumen
AMDAL. RKL menghasilkan matriks tentang pengelolaan lingkungan hidup, sedangkan RPL
memuat cara pemantauan lingkungan berdasarkan prediksi yang telah disusun. Pemantauan
dilaksanakan oleh pemantau independen. Pemrakarsa kemudian akan mengajukan dokumen
ANDAL, RKL, dan RPL pada Komisi Penilai.

f) Diskusi dan asistensi. Pada saat penyusunan KA-ANDAL, ANDAL, RKL, dan RPL
dilakukan diskusi dan asistensi, yang hasilnya presentasi mengenai AMDAL.

g) Legalisasi dokumen. Setelah dokumen AMDAL tersusun maka dilakukan legalisasi atau
pengesahan secara hukurn oleh instansi yang berwenang.

Referensi :

PP nomor 27 tahun 1999


PP nomor 27 tahun 2012