Você está na página 1de 27

ANALISIS DATA PENELITIAN KUALITATIF

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Penelitian Kualitatif

Ampuan Dra Haniek Sri Pratini, M.Pd

Disusun oleh:

1. Matius Praska (161414011)


2. Felicia Emmanuela (161414049)
3. Elisabet Falentina Bahy (161414051)
4. Laurensia Lintang Setyamurti (161414067)
5. Jesica Dwi Prananda (161414069)
6. Brigita Gitalia Ratri (161414070)
7. Natalia Tatag Hendralita (161414073)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang hingga saat ini masih
memberikan kita nikmat iman dan kesehatan, sehingga saya diberi kesempatan yang
luar biasa ini yaitu kesempatan untuk menyelesaikan tugas penulisan makalah tentang
“Analisis Data Kualitatif.” Kami menyampaikan rasa terimakasih yang
sebanyak-banyaknya untuk Ibu Dra. Haniek Sri Pratini M.Pd selaku dosen mata
kuliah Penelitian Kualitatif yang telah menyerahkan kepercayaannya kepada kami
guna menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Kami juga berharap dengan
sungguh-sungguh supaya makalah ini mampu berguna serta bermanfaat dalam
meningkatkan pengetahuan sekaligus wawasan terkait analisis data kualitatif serta
sekaligus langkah-langah tentang bagaimana cara melakukan analisis data pada
penelitian kualitatif. Selain itu kami juga sadar bahwa pada makalah kami ini dapat
ditemukan banyak sekali kekurangan serta jauh dari kesempurnaan. Oleh sebab itu,
kami benar-benar menanti kritik dan saran untuk kemudian dapat kami revisi dan
kami tulis di masa yang selanjutnya, sebab sekali kali lagi kami menyadari bahwa
tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa disertai saran yang konstruktif. Di akhir kami
berharap makalah sederhana kami ini dapat dimengerti oleh setiap pihak yang
membaca. Kami pun memohon maaf yang sebesar-besarnya apabila dalam makalah
kami terdapat perkataan yang tidak berkenan di hati.
Pada prinsipnya pengolahan data (analisis) ada 2 cara, hal ini tergantung dari datanya,
yaitu :

A. Analisis Non Statistik

Analisis Non Statistik dilakukan terhadap data kualitatif. Dalam hal ini penelitian
kualitatif mengajak seseorang untuk mempelajari suatu masalah yang ingin di
teliti secara mendasar dan mendalam sampai ke akar-akarnya. Masalah dilihat
dari berbagai segi. Data yang dikumpulkan bukanlah secara random atau mekanik,
tetapi dikuasi oleh pengembangan hipotesis. Apa yang ditemukan pada suatu saat
adalah satu pedoman yang langsung terdapat apa yang akan dikumpulkan
berikutnya dan di mana akan dicari (Margono, 2009 : 190).

Dalam Moleong (2010 : 287) disebutkan bahwa terdapat 3 model analisis data
kualitatif, antara lain :

1. Metode Perbandingan Tetap


Secara umum menururt Tohirin (2012 : 148-149) proses analisis data dengan
metode perbandingan tetap (Constant Method) adalah :
1) Reduksi data.
Langkah pertama yang dilakukan pada tahap ini adalah mengidentifikasi
satuan atau unit, yaitu unit-unit terkecil yang ditemukan dalam data yang
memiliki makna jika dikaitkan dengan fokus data masalah penelitian.
Sesudah satuan diperoleh, selanjutnya melakukan coding data
(memberikan kode pada setiap satuan data).
2) Kategorisasi atau menyusun kategori, yaitu upaya memilah-milah setiap
satuan data ke dalam untuk-untukan yang memiliki kesamaan.
Sealnjutnya setiap kategori diberi nama yang disebut label.
3) Sintesisasi atau mensintesiskan, yaitu mencari kaitan antara satu kategori
dengan kategori lainnya. Selanjutnya, kaitan satu kateori dengan kategori
lainnya diberi nama atau label lagi
4) Menyusun hipotesis kerja. Hipotesis kerja sudah merupakan teori
substansif (teori yang berasal dan masih terkait dengan data). hipotesis
kerja harus terkait dan menjawab pertanyaan penelitian.
Bagan Proses Analisis Data dengan Metode Perbandingan Tetap

Reduksi Data Kategorisasi Sintesisasi Hipotesis Kerja

•Identifikasi •Labeling •Mengkaitkan •Jawaban


•Coding antar Rumusan
kategori Masalah
•Labeling

2. Metode Analisis Data Menurut Spradley


Teknik analisa data kualitatif model Spradley secara keseluruhan proses
penelitian terdiri atas: pengamatan deskriptif, analisis domein, pengamatan
terfokus, analisis taksonomi, pengamatan terpilih, analisis komponensial, dan
diakhiri dengan analisis tema (Moleong 2010 : 302). Proses tersebut dapat
disederhanakan dalam empat tahap sebagai berikut :
i. Analisis Domein
Analisis domein (bidang) dilakukan terhadap data yang diperoleh dari
pengamatan berperanserta / wawancara atau pengamatan deskriptif
yang terdapat dalam catatan lapangan. Ada 6 tahap analisis domein :

1) Memilih salah satu hubungan semantik dari sembilan yang ada :


termasuk, spasial, sebab-akibat, rasional, lokasi tempat bertindak,
fungsi, alat-tujuan, urutan, dan memberi atribut / nama

2) Menyiapkan lembar analisis domein

3) Memilih salah satu sampel catatan lapangan

4) Mencari istilah acuan dan istilah bagian yang cocok

5) Mengulangi usaha pencarian domein

6) Membuat daftar domein yang ditemukan

ii. Analisis Taksonomi


Setelah selesai analisis domein, dilakukan pengamatan dan wawancara
terfokus berdasarkan fokus yang sebelumnya telah dipilih oleh peneliti.
Hasil terpilih untuk memperdalam data ditemukan melalui pengajuan
sejumlah pertanyaan kontras. Data hasil wawancara terpilih dimuat
dalam catatan lapangan. Ada 7 langkah analisis taksonomi yaitu :

1) Memilih satu domein untuk dianalisis

2) Mencari kesamaan atas dasar hubungan semantik yang sama


digunakan untuk domein itu

3) Mencari tambahan istilah bagian

4) Mencari domein yang lebih besar dan lebih inklusif

5) Membentuk taksonomi sementara

6) Mengadakan wawancara terfokus untuk mengecek analisis yang


telah dilakukan

7) Membangun taksonomi secara lengkap

iii. Analisis Komponen


Setelah analisis taksonomi, dilakukan wawancara terpilih untuk
memperdalam data yang telah ditemukan melalui pengajuan sejumlah
pertanyaan kontras. Data hasil wawancara terpilih dimuat dalam
catatan lapangan. Ada 8 langkah analisis komponen yaitu :

1) Memilih domein yang akan dianalisis

2) Mengidentifikasi seluruh kontras (perbedaan) yang telah


ditemukan

3) Menyiapkan lembar paradigma

4) Mengidentifikasi dimensi kontras yang memiliki 2 nilai

5) Menggabungkan dimensi kontras yang berkaitan erat menjadi


satu

6) Menyiapkan pertanyaan kontras (berlawanan) untuk ciri yang


tidak ada

7) Mengadakan pengamatan terpilih untuk melengkapi data

8) Menyiapkan paradigma (pola pikir) lengkap


iv. Analisis Tema
Analisis tema merupakan seperangkat prosedur untuk memahami
secara holistik pemandangan yang sedang diteliti. Sebab setiap
kebudayaan terintegrasi dalam beberapa jenis pola yang lebih luas.
Dalam penelitian ini untuk menemukan tema universal dipilih satu dari
6 topik, diantaranya : konflik sosial, kontradiksi budaya, teknik kontrol
sosial, hubungan sosial pribadi, memperoleh dan menjaga status, dan
memecahkan masalah.

3. Metode Analisis Data Menurut Miles and Huberman


Teori Miles dan Huberman menemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data
kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung terus menerus sampai
tuntas, sehingga datanya jenuh. Ukuran kejenuhan data ditandai dengan tidak
diperolehnya lagi data atau informasi baru. Berikut tahap analisis data menurut
Miles dan Huberman
1) Pengumpulan Data
Menurut Miles dan Huberman, 1984: 23, tahap pengumpulan data yaitu
data yang didapatkan dari hasil dokumentasi, observasi, wawancara, dan
dicatat dalam catatan lapangan yang memuat dua bagian yakni reflektif
dan deskriptif. Catatan reflektif ialah catatan yang terjadi dari komentar,
pendapat, kesan, dan tafsiran peneliti mengenai temuan yang dijumpai,
dan merupakan bahan rencana pengumpulan data untuk tahap selanjutnya.
Catatan deskriptif ialah catatan alami, catatan mengenai apa yang
didengar, dilihat, dan dialami sendiri oleh peneliti tanpa adanya penafsiran
dan pendapat dari peneliti terhadap fenomena yang dialami. Keberhasilan
dalam pengumpulan data banyak di tentukan oleh kemampuan peneliti
menghayati situasi sosial yang dijadikan fokus penelitian (Yusuf, 2014).
Untuk menentukan bentuk teknik pengumpulan data yang dibutuhkan,
peneliti hendaknya mengidentifikasi pertanyaan-pertanyaan yang
dirumuskan dalam fokus penelitian. Setiap rumusan pertanyaan yang ada
dalam fokus penelitian, boleh jadi membutuhkan teknik pengumpulan
data yang berbeda-beda pula. Misalnya rumusan pertanyaan nomor satu
hanya membutuhkan teknik wawancara, rumusan pertanyaan nomor dua
selain membutuhkan teknik wawancara juga membutuhkan teknik
observasi dan dokumentasi.
Berikut adalah teknik pengumpulan data:
a) Observasi
Secara harfiah observasi diturunkan dari bahasa latin yang berarti
“melihat” dan ”memperhatikan”. Istilah observasi dapat
didefinisikan sebagai “perhatian yang terfokus terhadap kejadian,
gejala”. Poerwandari (2003) menyatakan bahwa observasi adalah
dasar semua ilmu pengetahuan. Hal senada diungkapkan oleh
Marshall (dalam Sugiyono, 2010) yang menegaskan bahwa
observasi merupakan metode pengumpulan data dimana peneliti
belajar tentang perilaku dan makna dari perilaku tersebut.
“Pada observasi ini, peneliti mengamati peristiwa, kejadian, pose,
dan sejenisnya disertai dengan daftar yang perlu diobservasi”
(Sulistyo-Basuki, 2006: 149). Peneliti melakukan pengamatan
langsung dengan membawa data observasi yang telah disusun
sebelumnya untuk melakukan pengecekan kemudian peristiwa yang
diamati dicocokkan dengan data observasi.
b) Wawancara Terstruktur
Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan
itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pihak pewawancara (interviewer)
yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewee) yang
memberikan jawaban atas pertanyaaan itu (Moleong, 2008: 186).
“Wawancara terstruktur adalah wawancara dengan menggunakan
daftar pertanyaan yang telah disiapkan sebelumnya”
(Sulistyo-Basuki, 2006: 171). Wawancara terstruktur dilakukan oleh
peneliti bila peneliti mengetahui secara jelas dan terperinci
informasi yang dibutuhkan dan memiliki satu daftar pertanyaan
yang sudah ditentukan atau disusun sebelumnya yang akan
disampaikan kepada responden (Ulber Silalahi, 2009: 313).
Pewawancara memiliki sejumlah pertanyaan yang telah disusun dan
mengadakan wawancara atas dasar atau panduan pertanyaan
tersebut. Ketika responden merespon atau memberikan
pandangannya atas pertanyaan yang diajukan, pewawancara
mencatat jawaban tersebut. Kemudian pewawancara melanjutkan
pertanyaan lain yang sudah disusun atau disediakan. Pertanyaan
yang sama kemudian akan ditanyakan kepada setiap orang
responden dalam peristiwa yang sama. Keuntungan wawancara
terstruktur adalah mampu memperoleh jawaban yang cukup
berkualifikasi. Dapat dilakukan dengan dua cara yaitu probing dan
promping. Probing adalah pewawancara meminta reponden
menjelaskan jawabannya secara mendalam. Promping adalah upaya
untuk menjamin responden telah memilih sejumlah kemungkinan
sebelum menjawab pertanyaan. (Sulistyo-Basuki, 2006: 171).
c) Dokumentasi
Teknik dokumentasi menurut Arikunto (2010: 134) adalah
mencari data mengenai hal atau variabel yang berupa catatan,
transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda
dan sebagainya. Dalam hal ini metode diperlukan guna melengkapi
hal-hal yang dirasa belum cukup dalam data-data yang telah
diperoleh melalui pengumpulan lewat dokumen/catatan yang ada
dan dianggap relevan dengan masalah yang diteliti.
Bentuk instrumen dokumentasi terdiri atas dua macam yaitu
pedoman dokumentasi yang memuat garis-garis besar atau kategori
yang akan dicari datanya, dan check-list yang memuat daftar
variabel yang akan dikumpulkan datanya. Perbedaan anatar kedua
bentuk instrumen ini terletak pada intensitas gejala yang diteliti.
Pada pedoman dokumentasi, peneliti cukup menuliskan tanda
centang dalam kolom gejala, sedangkan check-list, peneliti
memberikan tally pada setiap pemunculan gejala (N. Cooper dkk,
2002) Instrumen dokumentasi dikembangkan untuk penelitian
dengan menggunakan pendekatan analisis. Selain itu digunakan juga
dalam penelitian untuk mencari bukti-bukti sejarah, landasan hukum,
dan peraturan-peraturan yang pernah berlaku. Subjek penelitiannya
dapat berupa bukubuku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan,
notulen rapat, catatan harian, bahkan bena-benda bersejarah seperti
prasasti dan artefak (Clemmens, 2003). Dokumen dalam penelitian
kualitatif digunakan sebagai penyempurna dari data wawancara dan
observasi yang telah dilakukan. Dokumen dalam penelitian
kualitatif dapat berupa tulisan, gambar, atau karya monumental dari
obyek yang diteliti (Ulfatin, 2014).
d) Tinjauan Literatur
Tinjauan literatur digunakan sebagai bagian dari komponen
teknik pengumpulan data. Pemahaman tentang tinjauan literatur
adalah sebagai berikut (Sulistyo-Basuki, 2006: 220): Pada tinjauan
literatur, seseorang secara sistematis mencoba membaca semua
literatur yang relevan dalam sebuah subjek, kadang-kadang
mewawancarai pakar dalam subjek tersebut, kemudian
mengorganisasi, mensintesis, dan menilai secara kritis sejumlah
informasi.
e) GD (Focus Group Discussion)
FGD dilakukan untuk mengumpulkan data tertentu bukan untuk
disiminasi informasi dan bukan pula untuk membuat keputusan.
Sehubungan dengan itu, ketika akan memilih untuk
menggunakannya setiap penyelenggara FGD harus merumuskan
atau menetapkan data yang akan dikumpulkan dengan melakukan
GGD. Pada dasarnya, FGD adalah suatu wawancara mendalam yang
dilakukan oleh peneliti dengan sekelompok orang dalam waktu.
Sekelompok orang tersebut tidak diwawancarai terpisah, melainkan
bersamaan dalam suatu pertemuan (Afrizal, 2014). Menurut
Kriyantono dalam (Ardianto, 2010), terdapat beberapa hal yang
perlu diketahui oleh peneliti dalam melaksanakan FGD, yaitu:
a. Tidak ada jawaban benar atau salah dari responden. Setiap
orang (peserta FGD) harus merasa bebas dalam menjawab,
berkomentar atau berpendapat (positif atau negatif) asal sesuai
dengan permasalahan diskusi.
b. Selain interaksi dan perbincangan harus terekam dengan baik.
Diskusi harus berjalan dalam suasana informal, tidak ada
peserta yang menolak menjawab. Meskipun tidak ditanya,
peserta dapat memberikan komentar sehingga terjadi tukar
pendapat secarat erus-menerus.
c. Moderator harus mampu membangkitkan suasana diskusi agar
tidak ada yang mendominasi pembicaraan dan tidak ada yang
jarang berkomentar (diam saja).
Berikut ini ada beberapa strategi dalam pengumpulan data:
Mc Millian dan Scumacher (2001:465) menjelaskan beberapa
strategi pengumpulan data sebagai berikut :
1. Tuliskan sebanyak mungkin komentar pengamat dalam
catatan lapangan atau pun transkrip wawancara.
2. Tuliskan ringkasan observasi dan wawancara untuk
memfokuskan penelitian.
3. Mainkan ide-ide dalam pikiran peneliti. Kaitkan ide-ide
penelitian dengan topik awal penelitian.
4. Eksplorasi pustaka buku lalu tuliskan beberapa hal yang
berkaitan dengan topik penelitian.
5. Gunakan metafora dan analogi terkait topik atau
bagian-bagian penelitian. Metafora atau analogi bukan untuk
melabeli kategori penelitian melainkan untuk membilas
ide-ide dengan cara menangkap esensi yang diamati.
Misalnya, menganalogikan peran guru sebagai pencegah
siswa keluar sekolah.
Instrumen pengumpulan data yang dapat digunakan dalam
penelitian (Gulo, 2000) :
1. Bentuk Instrumen Tes
Tes dapat berupa serentetan pertanyaan, lembar kerja, atau
sejenisnya yang dapat digunakan untuk mengukur
pengetahuan, keterampilan, bakat, dan kemampuan dari
subjek penelitian. Lembar instrumen berupa tes ini berisi
soal-soal ter terdiri atas butir-butir soal. Setiap butir soal
mewakili satu jenis variabel yang diukur. Berdasarkan
sasaran dan objek yang diteliti, terdapat beberapa macam
tes, yaitu:
a. Tes kepribadian atau personality test, digunakan
untuk mengungkap kepribadian seseoranng yang
menyangkut konsep pribadi, kreativitas, disiplin,
kemampuan, bakat khusus, dan sebagainya
b. Tes bakat atau aptitude test, tes ini digunkan untuk
mengetahui bakat seseorang.
c. Tes inteligensi atau intelligence test, dilakukan untuk
memperkirakan tingkat intelektual seseorang.
d. Tes sikap atau attitude test, digunakan untuk
mengukur berbagai sikap oranng dalam menghadapi
suatu kondisi,
e. Tes minat atau measures of interest, ditunjukan untuk
menggali minat seseorang terhadap sesuatu,
f. Tes prestasi atau achievement test, digunakan untuk
mengetahui pencapaian sesorang setelah dia
mempelajari sesuatu.
Bentuk instrumen ini dapat dipergunkan salah satunya
dalam mengevaluasi kemampuan hasil belajar siswa
disekolah dasar, tentu dengan memperhatikan aspek aspek
mendasar seperti kemampuan dalam pengetahuan, sikap
serta keterampilan yang dimiliki baik setelah
mennyelesaikan salah satu materi tertentu atau seluruh
materi yang telah disampaikan.
2. Bentuk Instrumen Interview
Suatu bentuk dialaog yang dilakukan oleh peneliti untuk
memperoleh informasi dari responden dinamakan
interview. Instrumennya dinamakan pedoman wawancara
atau interview guide. Dalam pelaksanaannya, interview
dapat dilakukan secara terstruktur dan tidak terstruktur
(bebas). Secara bebas artinya pewawancara bebas
menanakan apa saja kepada terwawancara tanpa harus
membawa lembar pedomannya. Syarat interview seperti ini
adalah pewawancara harus tetap mengingat data yang
harus terkumpul. Lain halnya dengan interview yang
bersifat terpimpin, pewawancara berpedoman pada
pertanyaan lengkap dan terperinci, layaknya sebuah
kuesioner. Selain itu ada juga interview yang bebas
terpimpin, dimana pewawancara bebas melakuakan
interview dengan hanya menggunakan pedoman yang
memuat garis besarnya saja. Peneliti harus memutuskan
besarnya strukrtur dalam wawancara, struktur wawancara
dapat berada pada rentang tidak berstruktur sampai
berstruktur. Penelitian kualitatif umumnya menggunakan
wawancara tidak berstruktur atau semi berstruktur
(Rachmawati, 2007).
a. Wawancara tidak berstruktur, tidak berstandard,
informal, atau berfokus dimulai dari pertanyaan
umum dalam area yang luas pada penelitian.
Wawancara ini biasanya diikuti oleh suatu kata
kunci, agenda atau daftar topik yang akan
mencakup dalam wawancara. Namun tidak ada
pertanyaan yang ditetapkan sebelumnya kecuali
dalam wawancara yang awal sekali.
b. Wawancara semi berstuktur.
Wawancara ini dimulai dari isu yang mencakup
dalam pedoman wawancara. Pedoman wawancara
bukanlah jadwal seperti dalam penelitian kuantitatif.
Sekuensi pertanyaan tidaklah sama ada tiap
partisipan bergantung pada proses wawancara dan
jawaban tiap individu. Namun pedoman wawancara
menjamin peneliti dapat mengumpulkan jenis data
yang sama dari partisipan.
c. Wawancara berstruktur atau berstandard.
Beberapa keterbatasan pada wawancara jenis ini
membuat data yang diperoleh tidak kaya. Jadwal
wawancara berisi sejumlah pertanyaan yang telah
direncanakan sebelumnya. Tiap partisipan
ditanyakan pertanyaan yang sama dengan urutan
yang sama pula. Jenis wawancara ini menyerupai
kuesioner survei tertulis.
d. Wawancara kelompok.
Wawancara kelompok merupakan instrumen yang
berharga untuk peneliti yang berfokus pada
normalitas kelompok atau dinamika seputar isyu
yang ingin diteliti.
e. Faktor prosedural/ struktural, dimensi prosedural
bersandar pada wawancara yang bersifat natural
antara peneliti dan partisipan atau disebut juga
wawancara tidak berstruktur.
f. Faktor konstekstual. Dimensi konsektual mencakupi
jumlah isyu. Pertama, terminology yang di dalam
wawancara dianggap penting. Kedua, konteks
wawancara yang berdampak pada penilaian respon.
Instrumen wawancara digunakan dalam penelitian
kualitatif karena dapat mengungkap informasi lintas
waktu, yaitu berkaitan dengan dengan masa lampau,
masa sekarang, dan masa yang akan datang. Dan data
yang dihasilkan dari wawancara bersifat terbuka,
menyeluruh, dan tidak terbatas, sehingga mampu
membentuk informasi yang utuh dan menyuluruh dalam
mengungkap penelian kualitatif (Ulfatin, 2014).
2) Reduksi Data
Menurut Miles dan Huberman (1992: 16) sebagaimana ditulis Malik,
reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada
penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data “kasar” yang
muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan. Menurut Sugiyono (2007:
15) reduksi data adalah analisis data yang dilakukan dengan memilih
hal-hal pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dan dicari tema
serta polanya.
Reduksi data berlangsung terus menerus selama proyek yang
berorientasi penelitian kualitatif berlangsung. Selama pengumpulan data
berlangsung, terjadi tahapan reduksi, yaitu membuat ringkasan, mengkode,
menelusuri tema, membuat gugus-gugus, membuat partisi, dan menulis
memo.
Langkah-langkah yang dilakukan dalam reduksi data di antaranya adalah
menajamkan analisis, menggolongkan atau mengkategorisasikan ke dalam
tiap permasalahan melalui uraian singkat, mengarahkan, membuang yang
tidak perlu, dan mengorganisasikan data, sehingga dapat ditarik
kesimpulan dan diverifikasi. Data yang direduksi merupakan seluruh data
mengenai permasalahan penelitian.
Proses analisis data mestinya dimulai dengan menelaah seluruh data yang
tersedia dari berbagai sumber. Setelah dikaji, langkah berikutnya adalah
membuat rangkuman untuk setiap kontak atau pertemuan dengan informan.
Pada saat merangkum data biasanya terdapat satu unsur yang tidak dapat
dipisahkan dengan kegiatan tersebut. Kegiatan yang tidak dapat dipisahkan
ini dikenal dengan istilah membuat abstraksi, yakni membuat ringkasan
yang inti, proses, dan persyaratan yang berasal dari responden tetap dijaga.
Berdasar rangkuman yang dibuat ini kemudian peneliti melakukan
reduksi data yang kegiatannya mencakup unsur-unsur spesifik termasuk 1)
proses pemilihan data atas dasar tingkat relevansi dan kaitannya dengan
setiap kelompok data, 2) menyusun data dalam satuan-satuan sejenis,
pengelompokkan data ini juga dapat diekuivalenkan sebagai kegiatan
kategorisasi/variabel, dan 3) membuat coding data sesuai dengan kisi-kisi
kerja penelitian.
3) Coding (Pengodean)
Coding merupakan kegiatan merubah data berbentuk huruf menjadi data
berbentuk angka/ bilangan. Kegunaan dari coding adalah untuk
mempermudah pada saat analisis data dan juga mempercepat pada
saat entry data. Entry data adalah transfer coding data dari kuisioner ke
software. Pengkodean data dilakukan untuk memberikan kode yang
spesifik pada respon jawaban responden untuk memudahkan proses
pencatatan data.
Pemberian kode pada data adalah menterjemahkan data kedalam
kode-kode yang biasanya dalam bentuk angka. Tujuannya ialah untuk
dapat dipindahkan kedalam sarana penyimpanan, misalnya komputer dan
analisa berikutnya. Dengan data sudah diubah dalam bentuk angka-angka,
maka peneliti akan lebih mudah mentransfer kedalam komputer dan
mencari program perangkat lunak yang sesuai dengan data untuk
digunakan sebagai sarana analisa. Secara praktis dan efektif, langkah awal
coding dapat dilakukan melalui 3 tahapan yaitu:
1. Peneliti menyusun transkripsi verbatif (kata demi kata) atau
catatan lapangan dengan memberikan kolom kosong di sebelah
kiri dan kanan transkrip
2. Melakukan penomeran secara kontinyu melakukan penomoran
pada baris-baris transkrip atau catatan lapangan tersebut,
3. Peneliti memberikan nama pada masing-masing berkas dengan
kode-kode tertentu, kode yang dipilih haruslah kode yang
mudah diingat dan dianggap paling tepat mewakili berkas
tersebut serta jangan lupa menuliskan tanggal di setiap berkas.
Coding sangatlah penting dalam penelitian kualitatif guna memudahkan
peneliti dalam menarasikan dan menganalisis data secara sistematis serta
menemukan kembali data-data yang mungkin terlupakan dengan melihat
catatan lapangan yang telah dibuat sebelumnya.
Pengodean menurut Mc Millian dan Schumacher (2001:467) adalah
proses membagi data ke dalam bagian-bagian sistem klasifikasi. (Coding
is a process of dividing data into parts by classification system).
Sedangkan menurut Miles dan Huberman,1994:65) dalam Alwasilah
(2002:230), kode adalah “efficient data-labelling and data-retrieval
devices”.

Batasan Pengodean (coding)


Menurut Lofland (1977) dalam Alwasilah(2002:230), ada enam
fenomena yang dapat dijadikan kode dalam penelitian kualitatif :
a. Tindakan (acts), yaitu hal yang terjadi pada waktu relatif
singkat seperti memulai pelajaran, mengucapkan salam,
atau memanggil siswa.

b. Aktivitas (activities), yaitu hal yang terjadi dalam satu


periode dan merupakan unsur penting dalam partisipasi
sosial, misalnya diskusi kelas, presentasi di depan
kelas,dll.
c. Makna (meanings), yaitu produk ucapan (verbal) dari
responden yang membatasi atau mengarahkan kegiatan.

d. Partisipasi (patisipation), yaitu keterlibatan responden


secara keseluruhan dalam situasi yang sedang diteliti.

e. Hubungan (relationship), yaitu hubungan-hubungan


antara berbagai orang secara simultan dalam satu latar.

f. Latar (settings), yaitu latar dalam suatu studi dan


dianggap sebagai satu unit analisis.

Sedangkan menurut Bogdan dan Biklen (1992) dalam Alwasilah


(2002:230-231), batasan pengodean berkisar :

a. Setting/contex, yaitu informasi umum ihwal latar studi peneliti.

b. Definition of the situation, yaitu bagaimana responden memahami,


mendefinisikan, dan memersepsi satu latar atau topik yang sedang
peneliti pelajari.

c. Perspectives, yaitu bagaimana persepsi responden ihwal sesuatu


yang sedang peneliti pelajari.

d. Ways of thinking about people and objects, yaitu pemahaman


responden satu sama lain, orang luar, dan objek (lebih spesifik dari
perspekstif di atas).

e. Process, yaitu urutan kejadian, terutama sesuatu yang tidak terjadi.

f. Activities, yaitu jenis-jenis perilaku yang terjkadi secara rutin.

g. Events, yaitu kegiatan khusus, terutama yang tidak sering terjadi.

h. Strategies, yaitu cara melaksanakan sesuatu, taktik, dan metode


yang ditempuh responden untuk mencapai cita-citanya.

i. Relationship and social structures, yaitu pola-pola yang


terdefinisikan secara tidak resmi seperti klik, koalisi, hubungan
asrama, persahabatan, atau perseteruan.
j. Methods, yaitu problem, kesenangan, dan dilema dalam proses
penelitian—khususnya yang terkait dengan komentar dari pengamat
lapangan.

Semua data-data di atas dapat dijadikan kode, hanya saja tidak bisa
dipaksakan untuk beberapa kategori yang memang tidak cocok. Pada
kenyataannya, semakin banyak data yang diperoleh maka proses pengodean
akan semakin banyak. Oleh karena itu, semakin besar pula kemungkinan
terjadi recoding atau pengode-ulangan. Selan itu, pengodean yang telah
peneliti tetapkan memiliki kemungkinan akan memiliki anak kode atau
sub-kode. Kode akan terus menerus digunakan sampai analisis selesai.
Pengodean dihentikan jika terjadi kejenuhan dan telah terjadi keteraturan
kategori (Miles dan Huberman (1994:62) dalam Alwasilah, (2002:231)).

Berikut adalah cara pengodean / coding:

Menurut Mc Millian dan Schumacher (2001:467-468), seorang peneliti


ketika melakukan pengodean menggunakan salah satu sistem
pengklasifikasian sebagai berikut :

1. segmenting the data into units of content called topic (less than 25-30)
and grouping the topics into larger clusters to form categogories.
Membagi-bagikan data pada muatan unit-unit yang disebut topik
(kurang lebih 25-30) dan mengelompokkan topik-topik ke dalam
kumpulan data yang lebih besar untuk membentuk kategori;

2. starting with pretermined categories of no more than four six and


breaking each category into smaller subscategories. Memulai dengan
kategori-kategori yang ditentukan sebelumnya (tidak lebih dari 4-5)
lalu memecah kategori menjadi sukategori yang lebih kecil;

3. combining the strategies, using some pretermined categories and


adding discovered new categories. Mengombinasikan strategi-strategi
dengan menggunakan beberapa kategori yang ditentukan sebelumnya
dan menambahkan kategori-kategori yang baru ditemukan.
1. Pengkodean Terbuka
Pengkodean terbuka adalah proses perincian, latihan, perbandingan,
konseptualisasi dan kategori data dalam sifat dimensinya.
Pengkodean terbuka merupakan bagian analisis yang secara khusus
berkenaan dengan pemberian nama dan kategorisasi fenomena
melalui pengujian data. Istilah-istilah penting dalam pengkodean
terbuka yaitu: konsep, kategori dan dimensi. Konsep adalah
pengertian mengenai nama, tempat, kejadian yang memiliki ciri-ciri
tertentu, konsep juga disebut fenomena. Kategori adalah klasifikasi
konsep, konsep yang relatif abstrak disebut juga kategori. Dimensi
adalah rangkaian kesatuan sifat suatu tempat.
Untuk mengembangkan kategori, harus diketahui sifat dan
dimensinya. Sifat adalah karakteristik suatu kategori, dimensi adalah
ukuran luas, lokasi atau tempat sifat kategori. Sifat dan ukuran luas
dikembangkan secara sistematis untuk membangun hubungan
kategori dan subkategori menjadi kategori pokok.
Sifat dan dimensi kategori dikembangkan seluas-luasnya sesuai
dengan disiplin ilmu yang diteliti. Dalam disiplin ilmu sosial,
Lofland (1984) dalam Moleong(1994), menggabungkan interogasi
data antara kategori satuan-satuan sosial yang terdiri antara lain:
pengertian, peranan, hubungan, kelompok dan gaya hidup dengan
pertanyaan-pertanyaan: tipe, struktur, frekuensi terjadi, penyebab,
proses, konsekuensi dan strategi manusianya.
2. Pengkodean Aksial
Pengkodean aksial adalah serangkaian prosedur yang disusun
dengan cara baru setelah pengkodean terbuka dengan bentuk kode
yang terdiri: kondisi, ukuran, konteks, strategi dan konsekuensi
(dalam Strauss dan Corbin, 1997). Model paradigma yang lengkap
dari rangkaian pengkodean aksial yaitu: kondisi sebab akibat –
fenomena – konteks - kondisi penghalang – strategi - konsekuensi.
Kondisi sebab akibat adalah peristiwa kejadian yang mengacu pada
suatu gejala atau perkembangan suatu fenomena. Konteks adalah
serangkaian sifat-sifat khusus yang mengacu pada suatu fenomena,
konteks menunjukkan serangkaian kondisi yang khusus pada
strategi aksi maupun interaksi yang ditetapkan. Strategi aksi
interaksi adalah strategi yang mengacu pada pengaturan,
pemeliharaan, perawatan dan respon terhadap suatu respon.
Konsekuaesi adalah suatu akibat atau hasil aksi dan interaksi.
Contoh rumusan pengkodean berporos sederhana tentang peristiwa
sakit: Ketika sakit (kondisi), saya demam (fenomena), saya
mengambil aspirin (strategi), setelah itu saya merasa lebih baik
(konsekuensi).
Kegiatan lain yang masih termasuk dalam mereduksi data, yakni kegiatan
memfokuskan, menyederhanakan, dan mentransfer dari data kasar ke
catatan lapangan. Terlebih dalam penelitian kualitatif, hal ini merupakan
kegiatan kontinyu. Oleh karena itu, peneliti perlu sering memeriksa dengan
cermat hasil catatan yang diperoleh dari setiap terjadi kontak antara peneliti
dengan informan/partisipan.
4) Penyajian Data
Setelah data di reduksi, langkah analisis selanjutnya adalah penyajian
data. Penyajian data merupakan sekumpulan informasi tersusun yang
memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan
pengambilan tindakan (Miles dan Huberman, 1992 : 17).
Dalam melakukan penyajian data tidak semata-mata mendeskripsikan
secara naratif, akan tetapi penyajian data diarahkan agar data hasil reduksi
terorganisirkan, tersusun dalam pola hubungan, sehingga makin mudah
dipahami dan merencanakan kerja penelitian selanjutnya. Pada langkah ini
peneliti berusaha menyusun data yang yang relevan sehingga menjadi
informasi yang dapat disimpulkan dan memiliki makna tertentu. Prastowo
(2012:244) mengatakan bahwa penyajian data di sini merupakan
sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya
penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Dengan melihat
penyajian-penyajian, kita akan dapat memahami apa yang sedang terjadi
dan apa yang harus dilakukan berdasarkan atas pemahaman yang kita
dapat dari penyajian-penyajian tersebut.
Prosesnya dapat dilakukan dengan cara menampilkan data, membuat
hubungan antar fenomena untuk memaknai apa yang sebenarnya terjadi
dan apa yang perlu ditindaklanjuti untuk mencapi tujuan penelitian.
Penyajian data yang baik merupakan satu langkah penting menuju
tercapainya analisis kualitatif yang valid dan handal. Miles and Hubermen
(1984) menyatakan: ”the most frequent form of display data for
qualitative research data in the post has been narrative text” atau artinya
adalah yang paling sering digunakan untuk menyajikan data dalam
penelitian kualitatif adalah dengan teks yang bersifat naratif. Miles dan
Huberman membantu para peneliti kualitatif dengan model-model
penyajian data yang analog dengan model-model penyajian data
kuantitatif statis, dengan menggunakan tabel, grafiks, matriks dan
semacanyan yaitu bukan diisi dengan angka-angka melainkan dengan kata
atau phase verbal.
Dalam bukunya Qualitative Data Analysis disajikan mengenai
model-model penyajian data untuk analisis kualitatif. Miles dan
Huberman menyajikan 9 model dengan 12 contoh penyajian data
kualitatif bentuk matriks, gambar atau grafik analog dengan model yang
biasanya digunakan dalam metodologi penelitian kuantitatif statistik.
 Model 1 adalah model untuk mendeskripsikan model penelitian.
Dapat berupa sosiogram, organigram atau menyajikan peta geografis.
 Model 2 adalah model yang dipakai untuk memantau komponen atau
dimensi penelitian, yaitu dengan checklist matrik. Karena matriks itu
tabel dua dimensi, maka pada barisnya dapat disajikan komponen
atau dimensinya, pada kolom disajikan kurun waktunya. Isi checklist
hanyalah tanda-tanda singkat.
 Model 3 adalah model untuk mendeskripsikan perkembangan antar
waktu. Isinya bukan sekedar tanda cek, melainkan ada diskripsi
verbal dengan satu kata atau phase.
 Model 4 adalah matriks tataperan, yang mendeskripsikan pendapat,
sikap, kemampuan atau lainnya dari berbagai pemeranan.
 Model 5 adalah matriks konsep terklaster. Digunakan untuk
meringkas berbagai hasil penelitian dari berbagai ahli yang pokok
perhatiannya berbeda.
 Model 6 adalah matriks tentang efek atau pengaruh. Model ini hanya
mengubah fungsi-fungsi kolom-kolomnya, diganti untuk
mendeskripsikan perubahan sebelum dan sesudah mendapat
penyuluhan, sebelum dan sesudah deregulasi dan yang semacamnya.
 Model 7 adalah matriks dinamika lokasi. Melalui model ini diungkap
dinamika lokasi untuk berubah. Model ini berguna bagi peneliti yang
memang hendak melihat dinamika sosial suatu lokasi, tetapi memang
tidak banyak peneliti yang mengungkap hal tersebut cukup sulit.
 Model 8 adalah menyusun daftar kejadian. Daftar kejadian dapat
disusun kronologis atau diklasterkan.
 Model 9 adalah jaringan klausal dari sejumlah kejadian yang
ditelitinya. Dari deskripsi atau sajian yang diringkaskan dalam
berbagai model tersebut dapat diharapkan agar mempermudah kita
untuk merumuskan prediksi kita.
5) Penarikan Kesimpulan
Penyusunan kesimpulan dilaksanakan selama proses penelitian
berjalan seperti halnya proses reduksi data, setelah data terkumpul
saat mencukupi kemudian dibuat kesimpulan sementara dan sesudah
data betul-betul lengkap disusun kesimpulan akhir. Sejak awal
penelitian, peneliti senantiasa berupaya mencari arti data yang
terkumpul. Oleh karena itu, perlu mencari persamaan, hubungan,
tema, pola, hipotesis, hal-hal yang sering timbul, dan seterusnya.
Kesimpulan yang didapatkan bersifat sementara, samar-samar dan
diragukan tetapi dengan bertambahnya data baik dari hasil wawancara
ataupun dari hasil pengamatan dan dengan didapatkannya
keseluruhan data dari penelitian. Kesimpulan-kesimpulan tersebut
harus diverifikasi dan diklarifikasi selama proses penelitian berjalan.
Data yang ada lalu diintegrasikan ke dalam unit-unit informasi yang
menjadi rumusan-rumusan kategori dengan berpijak pada prinsip
holistik dan bisa di interpretasikan tanpa informasi tambahan. Data
tentang informasi yang dianggap sama disatukan ke dalam satu
kategori sehingga memberi peluang munculnya kategori baru dari
kategori yang telah ada.
B. Analisis Statistik

Penelitian kualitatif tidak selalu tidak membutuhkan bantuan statistik. Hal


ini dikarenakan ketika dilakukan penelitian kualitatif, data yang dihasilkan tidak
hanya berbentuk kata-kata saja tetapi dapat berupa angka-angka dimana
memerlukan statistik untuk menjelaskannya. Hanya saja dalam penelitian
kualitatif, statistik yang diperlukan tidak seperti pada penelitian kuantitatif. Pada
penelitian kualitatif statistik yang digunakan hanya berupa statistik deskriptif.
Selain itu pada penelitian kualitatif statistik tidak digunakan untuk menarik
kesimpulan.

Data dalam penelitian kualitatif berbentuk kategori, karakteristik berbentuk


kalimat, kata-kata atau gambar. Selain itu data kualitatif menunjukan kualitas
sesuatu seperti motivasi, minat, dan lainnya. Contoh data kualitatif: siswa itu
rajin, motivasi belajarnya rendah dan sebagainya.

Kita dapat melakukan pengklasifikasian terhadap data kuantitatif menjadi


kualitatif. Misalkan data motivasi belajar siswa yang diukur menggunakan angket
motivasi belajar akan menghasilkan data kuantitatif berupa angka-angka skor
motivasi belajar. Skor motivasi belajar tersebut dapat diiubah menjadi kualitas
tentang motivasi belajar dengan menggunakan syarat-syarat tertentu, misalnya
kategori tersebut dibuat sebagai berikut:

Dengan mencari rata-rata dan standar deviasi dari skor motivasi belajar
tersebut kita dapat mengetahui kualitas dari motivasi belajar setiap sampel
penelitian. Misalkan setelah dihitung didapat rata-rata 29,4 dan standar
deviasinya 4,4 sehingga motivasi belajar tersebut menjadi;
Kita bisa mengatakan bahwa motivasi belajar tinggi jika skor motivasi
belajarnya diatas 33,8 (> 33,8 ), motivasi belajar rendah jika skor motivasi belajarnya
dibawah 25,0 (< 25,0) dan selain itu dikatakan motivasi belajar berada di kategori
sedang.

Secara umum statistik dapat dibagi menjadi dua yaitu statistik deskriptif dan
inferensial. Analisis statistik deskriptif biasanya dipergunakan jika tujuan
penelitiannya untuk penjajagan atau pendahuluan, tidak menarik kesimpulan, hanya
memberikan gambaran/deskripsi tentang data yang ada. Analisis statistik inferensial
dipergunakan jika peneliti akan memberikan interpretasi mengenai data, atau ingin
menarik kesimpulan dari data yang dihasilkan.

1. Teknik Analisis Data secara Deskriptif:

a. Menghitung jumlah

b. Menghitung rata-rata (mean)

c. Menghitung nilai presentasi

d. Membuat grafik

2. Teknik Analisis Data secara Inferensial

a. Parametrik Ilmu statistik yang mempertimbangkan jenis sebaran atau


distribusi data, yaitu apakah data menyebar secara normal atau tidak. Dengan
kata lain, data yang dianalisis menggunakan statistik parametrik harus
memenuhi asumsi normalitas. Contohnya:

1) Uji-Z (1 atau 2 Sampel)

2) Uji-t (1 atau 2 Sampel)

3) Korelasi Pearson
4) Perancangan Percobaan (One or Two Way Anova Parametrik)

b. Non-parametrik Statistik bebas sebaran (tidak mensyaratkan bentuk sebaran


parameter populasi, baik normal atau tidak). Selain itu, statistik
nonparametrik menggunakan skala pengukuran sosial, yaitu nominal dan
ordinal yang umumnya tidak berdistribusi normal. Contohnya:

1) Uji Tanda (Sign Test)

2) Rank Sum Test (Willcoxon)

3) Rank Correlation Test (Spearman)

Berdasarkan data yang diperoleh, peneliti akan menarik kesimpulan menjawab


tujuan penelitian yang diajukan. Jika analisis data dilakukan dengan cara statistik dari
uji data statistik yang telah dilakukan maka kemungkinan kesimpulannya sebagai
berikut:

1. Hubungan anatara variabel-variabel penelitian atau perbedaan antara


sampel-sampel yang diteliti sangat signifikan atau hanya signifikan
saja (jika digunakan aturan keputusan konvensional, atau signifikan
pada taraf signifikan atau sekian persen (jika dilakukan aturan
keputusan tidak konvensional).
2. Hubungan antara variabel-variabel yang diteliti atau perbedaan antara
sampel-sampel yang diteliti tidak signifikan.
Dalam kemungkinan hasil yang pertama, kemungkinan hipotesis alternatifnya
(hipotesis penelitian) diterima berarti hipotesis nol ditolak. Menerima hipotesis
alternatif berarti adanya dugaan hubungan atau adanya perbedaan dinyatakan terbukti.
Sebaliknya dalam kemungkinan hasil yang kedua, hipotesis alternatifnya dinyatakan
tidak terbukti.
Kesimpulan dari hasil uji statistik belumlah merupakan produk terakhir dari
suatu penelitian ilmiah. Pembahasan itu menjadi sangat penting jika ternyata hipotesis
penelitannya tidak dapat dibuktikan. Dalam keadaan demikian penelitian
berkewajiban mengkaji kemungkinan sebab-sebab tidak terbuktinya hasil hipotesis.
Beberapa sumber tidak terbuktinya hipotesis dapat dicari dari:
1. Landasan teori yang digunakan untuk menyusun hipotesis sudah kadarluasa.
Sudah kadarluasa disini maksudnya yaitu kurang sahih atau kurang kuat.
2. Sampel penelitian terlalu kecil.
3. Sampel penelitian tidak diambil secara acak.
4. Kurang cermatnya mengeliminasi atau menetralisasi variabel-variabel luar.
5. Instrumen atau metode pengumpulan data tidak sahih.
6. Rencana penelitian yang digunakan tidak tepat.
7. Perhitungan-perhitungan dalam analisisnya kurang cermat.
8. Hipotesisnya sendiri yang “palsu”, dan kenyataan bertentangan dengan
hipotesis itu (sutrisno hadi (1981) dalam buku “Metodologi Penelitian
Pendidikan” oleh Margono)

Dalam hubungan dengan kemungkinan tidak terbuktinya hipotesis perlu


dikemukakan bahwa dalam penelitian suatu hipotesis tidak tebukti, hipotesisnya gagal
dan penelitiannya sama sekali gagal. Sering kali suatu penelitian membawa beberapa
hipotesis dan tidak terbuktinya satu atau dua hipotesis memang tidak jarang terjadi.
Walaupun penelitiannya hanya membawa satu hipotesis, tidak terbuktinya hipotesis
itupun tidak berarti menggagalkan seluruh penelitian. Yang penting peneliti dapat
mengemukakan keterangan atau alasan yang kuat mengenai
kemungkinan-kemungkinan sebab tidak terbuktinya hipotesis tersebut dalam
pembahasan atau diskusi hasil analisisnya.

Cukup berat bagi peneliti untuk “mengakui”, misalnya bahwa instrumen kurang
sahih, samplingnya kurang baik, pengontrolan variabel ekstraneus (variabel yang ikut
mempengaruhi hubungan antara variabel bebas dan variabel tergantung) kurang
cermat, atau landasan-landasan teorinya kurang kuat. Jika saja setelah usaha optimal
dan hasilnya memang dimikian. Peneliti tinggal menggali beberapa kemungkinan
sebabnya yang secara metodologik lebih dapat dipertanggungjawabkan, misalnya
kurang besarnya sampel atau kemungkinan tidak sahihnya teori-teori yang ada. Sebab
kemungkinan seperti ini dapat membawa lahirnya teori baru.
KESIMPULAN

Analisis data pada penelitian kualitatif dibagi menjadi 2 yaitu analisis non statitstik
dan analisis statistik.

Analisis data non statistik yang sering digunakan pada penelitian kualitatif adalah
analisis menurut Miles and Huberman yang terdiri dari 4 tahap yaitu pengumpulan
data, reduksi data beserta coding (pengkodean), penyajian data dan penarikan
kesimpulan.

Analisis data statistik dibagi menjadi dua yaitu parametrik dan non parametrik. Data
yang dianalisis menggunakan statistik parametrik harus memenuhi asumsi normalitas
contohnya uji-z, uji-t, korelasi pearson, dan perancangan percobaan. Sedangkan untuk
yang non parametrik uji tanda (sign test) , rank sum test (willcoxon), dan rank
correlation test (spearman).
DAFTAR PUSTAKA

Margono. 2009. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Jaya, Ardat. 2013. Penerapan Statistik Untuk Pendidikan. Bandung: Citapustaka


Media Perintis

Kurniawan, Asep. 2018. Metodologi Penelitian Pendidikan. Bandung: PT Remaja


Rosdakarya

Makalah : Suci Sundusiah. Analisis Data Kualitatif. 2010