Você está na página 1de 16

PERCOBAAN 4

ANALGETIKA

Disusun oleh :
1. Prima Ramadhanis (1041611120)
2. Risca Widyasari (1041611128)
3. Taju Tsalis Setianing D (1041611137)
4. Tilwti Ainul H (1041611140)
5. Widya Ari K.S (1041511186)

PROGRAM STUDI S1 FARMASI


SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI “YAYASAN PHARMASI”
SEMARANG TAHUN AKADEMIK 2018
PERCOBAAN IV
ANALGETIK

A. Tujuan
Setelah menyelesaikan eksperimen ini mahasiswa :
1. Mengenal berbagai cara untuk mengevaluasi secara eksperimental efek analgetik
suatu obat.
2. Memahami dasar-dasar perbedaan dalam daya analgetik berbagai analgetika.
3. Mampu memberikan pandangan yang kritis mengenai kesesuaian khasiat yang
dianjurkan untuk sediaan-sediaan farmasi analgetika.
B. Dasar Teori
Obat analgesik adalah obat yang dapat mengurangi atau menghilangkan rasa nyeri
dan akhirnya akan memberikan rasa nyaman pada orang yang menderita. Nyeri adalah
perasaan sensoris dan emosional yang tidak nyaman,berkaitan dengan ancaman
kerusakan jaringan. Rasa nyeri dalam kebanyakan halhanya merupakan suatu gejala yang
berfungsi sebagai isyarat bahaya tentangadanya gangguan di jaringan seperti peradangan,
rematik, encok atau kejang otot (Tjay, 2007).
Semua senyawa nyeri (mediator nyeri) seperti histamine, bradikin, leukotriendan
prostaglandin merangsang reseptor nyeri (nociceptor )di ujung-ujung saraf bebasdi kulit,
mukosa serta jaringan lain dan demikian menimbulkan antara lain reaksiradang dan
kejang-kejang. Nociceptor ini juga terdapat di seluruh jaringan dan organtubuh,
terkecuali di SSP. Dari tempat ini rangsangan disalurkan ke otak melalui jaringan lebat
dari tajuk-tajuk neuron dengan sangat banyak sinaps via sumsum- belakang, sumsum-
lanjutan dan otak-tengah. Dari thalamus impuls kemudianditeruskan ke pusat nyeri di
otak besar, dimana impuls dirasakan sebagai nyeri (Tjay, 2007).
Rasa nyeri dalam kebanyakan hal hanya merupakan suatu gejala yang berfungsi
melindungi tubuh. Nyeri harus dianggap sebagai isyarat bahaya tentang adanya ganguan
di jaringan, seperti peradangan, infeksi jasad renik, atau kejang otot. Nyeri yang
disebabkan oleh rangsangan mekanis, kimiawi atau fisis dapat menimbulkan kerusakan
pada jaringan. Rangsangan tersebut memicu pelepasan zat-zat tertentu yang disebut
mediator nyeri. Mediator nyeri antara lain dapat mengakibatkan reaksi radang dan
kejang-kejang yang mengaktivasi reseptor nyeri di ujung saraf bebas di kulit, mukosa dan
jaringan lain. Nocireseptor ini terdapat diseluruh jaringan dan organ tubuh, kecuali di
SSP. Dari sini rangsangan di salurkan ke otak melalui jaringan lebat dari tajuk-tajuk
neuron dengan amat benyak sinaps via sumsumtulang belakang, sumsum lanjutan, dan
otak tengah. Dari thalamus impuls kemudian diteruskan ke pusat nyeri di otak besar,
dimana impuls dirasakan sebagai nyeri (Tjay, 2007).
Medicetator nyeri yang penting adalah mista yang bertanggung jawab untuk
kebanyakan reaksi. Akerasi perkembangan mukosa dan nyeri adalah polipeption
(rangkaian asam amino) yang dibentuk dari protein plasma. Prosagilandin mirip
strukturnya dengan asam lemak dan terbentuk dari asam-asam anhidrat. Menurut
perkiraan zat-zat bertubesiset vasodilatasi kuat dan meningkat permeabilitas kapiler yang
mengakibatkan radang dan nyeri yang cara kerjanya serta waktunya pesat dan bersifat
local (Tjay Hoan Tan, 2007).
Obat penghalang nyeri (analgetik) mempengaruhi proses pertama dengan
mempertinggi ambang kesadaran akan perasaan sakit, sedangkan narkotik menekan
reaksi-reaksi psychis yang di akibatkan oleh rangsangan sakir (Anief,2000)
Atas dasar kerja farmakologisnya, analgetika dibagi menjadi 2 kelompok besar,
yaitu :
1. Analgetika perifer (non-narkotik)
Yang terdiri dari obat-obat yang tidak bersifat narkotik dan tidak bekerja sentral.
2. Analgetika narkotik
Khusus digunakan untuk menghalau rasa nyeri hebat seperti fractura atau kanker
(Gunawan, 2007).
Berdasarkan proses terjadinya, rasa nyeri dapat dilawan dengan berbagai cara,
yaitu :
1. Merintangi terbentuknya rangsangan pada reseptor nyeri perifer dengan analgetika
perifer.
2. Merintangi penyaluran rangsangan di saraf-saraf sensoris, misalnya dengan anestetik
local.
3. Blokade pusat nyeri di SSP dengan analgetika sentral atau dengan anestetika umumg
(gunawan, 2007).

Untuk menangani rasa nyeri dapat digunakan obat-obat seperci contoh di bawah ini,
tergantung dari jenis nyerinya. Nyeri ringan dapat ditangani dengan obat perifer, seperti
parasetamol, asetosal, mefenaminat, propifenazon atau aminofenazon. Untuk nyeri sedang
dapat ditambahkan kofein atau kodein. Sedangkan untuk nyeri yang hebat perlu
ditanggulangi dengan morfin atau opiat lainnya.
1. Analgetika perifer
Secara kimiawi, analgetika perifer dapat dibagi dalam beberapa kelompok, yaitu :
a. Parasetamol
b. Salisilat : asetosal, salisilamid dan benorilat
c. Penghambat prostaglandin (NSAID) : ibuprofen
d. Derivat antranilat : mefenaminat, asam niflumat glafenin
e. Derivat pirazolinon : aminofenazon, isopropilfenazon
f. Lainnya : benzidamin
Obat ini mampu meringankan atau menghilangkan rasa nyeri, tanpa mempengaruhi SSP
atau menurunkan kesadaran, juga tidak menimbulkan ketagihan. Kebanyakan zat ini
juga berdaya antipiretis dan atau antiradang. Oleh karena itu obat ini tidak hanya
digunakan sebagai obat antinyeri melainkan juga pada gangguan demam dan
peradangan. (Tjay,2007).
2. Analgetika narkotik
Adalah zat yang bekerja terhadap reseptor opioid khas di SSP hingga persepsi nyeri dan
respons emosional terhadap nyeri berubah. Penggunaan analgetika narkotik dibagi
dalam 3 kelas, yaitu :
a. Non opioida : NSAID, termasuk asetosal dan kodein
b. Opioida lemah : tramadol dan kodein atau kombinasi parasetamol dan kodein
c. Opioida kuat : morfin dan derivatnya. (Katzung,1997).
Efek-efek samping yang biasanya muncul adalah gangguan-gangguan lambung,
usus, kerusakan darah, kerusakan hati, dan ginjal dan juga reaksi-reaksi alergi kulit.
Efek-efek samping ini terjadi terutama terjadi pada penggunaan lama atau pada
dosis besar, maka sebaiknya janganlah menggunakan analgetik ini terus menerus.
(katzung, 1997)
Obat yang kami gunakan dalam praktikum kali ini yaitu
a. Ibuprofen

Obat ini digukan untukmenghilangkan rasa nyeri yang ringan


sampai sedang, terutama nyeri dismonorea primer. Obat ini dapat diberikan
dengan susu atau makanan untuk meminimalkan efek samping saluran
cerna.
Zat ini merupakan campuran rasemis, dengan bentuk-dextro yang
aktif. Ibuprofen diabsorpsi dengan cepat setelah pemberian oral, dan
konsentrasi puncak dalam plasma teramati setelah 15 sampai 30 menit.
Waktu paruh dalam plasma sekitar 2 jam. Ibuprofen banyak (99%) terikat
pada protein plasma, tetapi obat ini hanya menduduki sebagian dari seluruh
tempat ikatan obat pada konsentrasi biasa. Ibuprofen melintas dengan
lambat ke dalam ruang sinovial dan mungkin tetap berada pada konsentrasi
yang lebih tinggi jika konsentrasi dalam plasma menurun.
( Joel G Hardman, 2003)
b. Natrium Diklofenac

Derivat fenilasetat ini termasuk AINS yang terkuat antiradangnya


dengan efek samping yang kurang keras dibandingkan dengan obat
lainnya seperti piroxicam dan indometasin. Obat ini sering digunakan
untuk berbagai macam nyeri, migrain dan encok.
(Anonim,2003)

c. Asam mefenamat

Derivat antranilat juga dengan khasiat analgetik, antipiretik, dan


antiradang yang cukup baik.Mempunyai aktivitas analgesik 2-3 kali
aspirin dan aktivitas antiradang seperlima kali fenilbutazon. Asam
mefenamat banyak digunakan untuk menghilangkan rasa nyeri setelah
operasi gigi. Asam mefenamat menimbulkan toksisitas hematopoitik dan
efek samping iritasi lambung. Batas keamanannya menurun bila diberikan
dalam dosis yang besar dan jangka waktu yang lama sehingga untuk
pengobatan tidak boleh lebih dari 1 minggu. Absorpsi obat dalam saluran
cerna cepat dan hamper sempurna, ± 99% obat terikat oleh protein plasma.
Kadar plasma tertinggi dicapai dalam ± 2 jam setelah pemberian oral,
dengan waktu paro plasma ± 3-4 jam.
(Siswandono, 2008)

d. Parasetamol

Asetaminofen (Parasetamol) merupakan obat lain pengganti aspirin


yang efektif sebagai obat analgesik-antipiretik. Namun, tidak seperti
aspirin, aktivitas antiradangnya lemah sehingga bukan merupakan obat
yang berguna untuk menangani kondisi radang. Karena asetaminofen
ditoleransi dengan baik, banyak efek samping aspirin tidak dimiliki
asetaminofen dan dapat diperoleh tanpa resep. Namun, overdosis akut
menyebabkan kerusakan hati yang fatal.
Asetaminofen hanya merupakan inhibitor siklooksigenase yang
lemah dengan adanya peroksida konsentrasi tinggi yang ditemukan pada
lesi radang, karena itu efek antiradang asetaminofen lemah. Efek
antipiretiknya dapat dijelaskan dengan kemampuannya menghambat
siklooksigenase di otak, yang tonus peroksidanya lemah. Selain itu,
asetaminofen tidak menghambat aktivasi neutrofil, sedangkan NSAID lain
menghambat aktivasi tersebut. Konsentrasi asetaminofen dalam plasma
mencapai puncak dalam 30 sampai 60 menit, waktu paruh dalam plasma
sekitar 2 jam setelah dosis terapeutik.
(Siswandono,. 2008)
e. Deksametason

Deksametason merupakan salah satu kortikosteroid sintetis


terampuh. Kemampuannya dalam menaggulangi peradangan dan alergi
kurang lebih sepuluh kali lebih hebat dari pada yang dimiliki prednison.
(Katzung, 1998)
Penggunaan deksametason di masyarakat sering kali kita jumpai,
antara lain: pada terapi arthritis rheumatoid, systemik lupus erithematosus,
rhinitis alergika, asma, leukemia, lymphoma, anemia hemolitik atau auto
immune, selain itu deksametason dapat digunakan untuk menegakkan
diagnosis sindroma cushing. Efek samping pemberian deksametason
antara lain terjadinya insomnia, osteoporosis, retensi cairan tubuh,
glaukoma dan lain-lain.
( Suherman, 2007)

f. Metil prednisolon

Metil prednisolon Adalah glukokortikoid turunan prednisolon yang


mempunyai efek kerja dan penggunaan yang sama seperti senyawa
induknya. Metilprednisolon tidak mempunyai aktivitas retensi natrium
seperti glukokortikosteroid yang lain.T ½ eliminasi methylprednisolon
200 menit.
(Siswandono, 2008)

C. Alat dan Bahan


Alat :
 Jarum suntik oral (ujung tumpul)
 Spuit injeksi (0,1-1ml)
 Beaker glass
 Stop watch
 Holder tikus
 Neraca ohause
 Water bath
Bahan :
 Larutan CMC Na 0,5%
 Bahan obat : paracetamol, Ibu profen , Na diklofenak , Asam mefenamat ,
Metilprednisolon, deksametason.
Hewan uji :
 Tikus putih jantan
D. Skema Kerja

Lakukan uji penjentikan ekor tikus, dilakukan dengan mencatat


waktu mulai dari ekor tukus dimasukan kedalam air panas
hingga menjentik keluar. (dilakukan sebelum pemberian obat).

Tiap kelompok dibagi menjadi 4 kelompok , masing – masing


mendapat 5 ekor hewan uji, dimana tikus ke-5 sebagai kontrol.

Kelompok I Kelompok III Kelompok V

(Paracetamol) (Na diklofenak) (Metilprednisolon)

suspensi Suspensi Na Suspensi


paracetamol dosis diklofenak dosis 50 Metilprednisolon
Kelompok II Kelompok IV: Kelompok VI
500mg/50 kgBB mg/50 kgBB dosis 8mg/50
manusia. (Ib profen) manusia.(Asam Mefenamat)kgBB manusia.
(Deksametason)

suspensi ibuprofen Suspensi Asam suspensi


dosis 200mg/50 Mefenamat dosis deksametason dosis
kgBB manusia. 500 mg/50kgBB 0,5mg/50 kgBB
manusia. manusia.
Diamakn 10 menit, lakukan penilan respon masing-masing tikus terhadap
stimualsi nyeri. Ulangi kembali selang 20’,30’, 60’, 90’, dan seterusnya sampai

Tabelkan hasil – hasil pengamatan


E. Data Pengamatan
a. Hasil pengamatan

Buat kurva
Waktu Respon (sekon)
Perlakuan Tikus
t0 t10 t20 t30 t60 t90
I 4.7 5.3 3.7 3.5 2.7 2.5
II 4.3 6.5 5.6 7.4 6.2 7.1
Kontrol III 5.4 6.7 6.7 5.7 7.5 7.8
IV 3 3.7 3.7 2.5 3.5 2.7
Rerata 4.35 5.55 4.93 4.78 4.98 5.03
Parasetamol I 2.9 4 4.1 5.23 10.09 11.1
II 2.7 6 8.1 4.1 5.9 4.5
III 1.3 4.4 5.4 6.4 4.5 7.1
IV 3.9 8.3 8.9 8.5 8.1 10.1
Rerata 2.70 5.68 6.63 6.06 7.15 8.20
I 3.2 5.1 4.2 2.8 2.5 4.1
II 3.8 5.4 4.8 3.9 3 6.8
Ibuprofen III 3.8 4.7 3.2 3.9 4.8 5.4
IV 4.1 4.7 4.4 2.6 2.7 4.2
Rerata 3.73 4.98 4.15 3.30 3.25 5.13
I 3.9 3.4 8.5 4 2.6 2.7
II 4.1 6.8 7.6 6.9 4.6 2.5
Asam Mefenamat III 8.4 6.5 7.5 8.2 4.6 2.5
IV 6.3 12.7 10.3 5.2 10.3 5.2
Rerata 5.68 7.35 8.48 6.08 5.53 3.23
I 4.4 5.6 3.5 5.5 3.4 4.9
II 3.9 3.3 4.9 14.3 10.3 3.4
Natrium Diklofenak III 5.2 5.1 6 3 5.5 10
IV 5.7 7.7 15 14.2 6.2 5.4
Rerata 4.80 5.43 7.35 9.25 6.35 5.93
I 2 3.6 3.3 3.6 3.3 1.6
II 3 6.6 5.3 6.6 5.3 3.6
Deksamethasone III 4 5 4 5 4 3.3
IV 2.3 4.3 3.6 4.3 3.6 4
Rerata 2.83 4.88 4.05 4.88 4.05 3.13
I 3.2 4.5 4.5 4.6 3.7 6.7
II 3.4 3.4 3.4 3.5 3.7 3.6
Methyl Prednisolone III 3.4 7.1 7.1 7.3 6.7 4.7
IV 2.6 5.7 5.7 5.3 5 4.3
Rerata 3.15 5.18 5.18 5.18 4.78 4.83

b. Kurva refleksi pengaruh obat-obat terhadap respon tikus


F. Perhitungan
a. Berat mencit :
1. 152,9 gram
2. 171,5 gram
3. 146,9 gram
4. 115 gram
b. Pembuata larutan stok percobaan analgetik :
1. deksamethasone (0,5mg/50kg BB manusia).

(a) Dosis untuk manusia 70kg = x 0,5mg = 0,7 mg

(b) Dosis untuk tikus 200g = 0,7mg X 0,018 = 0,0126 mg

(c) Dosis untuk tikus terbesar (190,9g) = X 0,0126 = 0,0120mg

(d) Cstok = = = = 0,0048 mg/ml

(e) Dibuat 250 ml = 1,203mg/250ml


Tablet deksametasone = 0,5 mg
Bobot rata-rata tablet = 141,08mg
Maka = X 141,08mg = 339,34mg ̴ 332,2mg/250ml

(f) Penimbangan deksamethasone


kertas + zat = 0,8987g
kertas + sisa = 0,5665g -
zat = 0,3322g = 332,2mg/250ml

(g) Cstok sebenarnya = X 0,5mg = 1,1773/250ml = 0,00470mg/ml

c. Perhitungan Dosis dan Volume Pemberian

1 Dosis = x 0,0126 mg = 0,0095mg

2 Vp = = 2,0212 mg

3 Dosis= x 0,0126 mg = 0,0090 mg

4 Vp = = 2,0212 ml = 2 ml

5 Dosis = x 0,0126 mg = 0,0098 mg

6 Vp = = 2,07 ml = 2,1 ml

7 Dosis = x 0,0126 mg = 0,010 mg

8 Vp = = 2,13 ml = 2,1 ml

9 Dosis = x 0,0126 mg = 0,012 mg


10 Vp = = 2,55ml = 2,6 m

G. Pembahasan
Analgetik adalah obat yang digunakan untuk mengurangi rasa sakit atau
nyeri.Nyeri terjadi karena adanya rangsangan kimiawi, fisik, maupun mekanis
menyebabkan terjadinya kerusakan pada jaringan.Rangsangan tersebut memicu pelepasan
zat-zat tertentu (mediator nyeri). Mediator nyeri ini dapat mengakibatkan reaksi radang
dan kejang-kejang, yang mengaktivasi reseptor nyeri di ujung saraf bebas di kulit,
mukosa dan jaringan lain. Kemudian rangsangan diteruskan / disalurkan ke pusat nyeri di
korteks serebri oleh syaraf sensoris melalui sumsum tulang belakang dan thalamus.
Pada praktikum ini dilakukan percobaan tentang obat analgetika, yang bertujuan
untuk mengenal, mempraktekkan dan membandingkan daya analgetik ibuprofen, asam
mefenamat, dexamethason, methylprednisolon, paracetamol, dan natrium diklofenak
menggunakan metode rangsang kimia. Hewan uji yang digunakan adalah tikus putih
jantan. Rangsang fisis yang dilakukan dengan cara memasukan ekor tikus kedalam air
dengan suhu 600C. Metode yang digunakan pada perccobaan kali ini yaitu metode jentik
ekor. Metode ini dengan cara mengamati waktu maupun jumlah jentikan ekor keluar dari
air panas. Metode ini berguna untuk mempelaj ari pengaruh obat-obatan
analgesik atau stimulus berbahaya pada tikus. Hal ini bertujuan untuk menentukan
sensitivitas rasa sakit pada hewan dengan mengukur latensi respon penghindaran ketika
rasa sakit yang disebabkan oleh panas.
Sebelum pemberian obat, dilakukan pengamatan terhadap waktu penjentikan ekor
tikus dari penangas air dengan suhu 600C yang dilakukan sebanyak tiga kali dengan
selang dua menit dengan catatan pengamatan pertama diabaikan dan hasil dari dua
pengamatan terakhir di cari reratanya kemudian dicatat sebagai respon normal masing-
masing tikus terhadap stimulus nyeri. Selanjutnya dilakukan pemberian obat dalam
bentuk suspensi pada tikus berdasarkan masing-masing kelompok, kelompok kontrol
tikus hanya diberikan larutan CMC Na 0,5%, karena suspense yang digunakan
menggunakan CMC Na 0,5%. Obat diberikan dalam bentuk suspensi dan diberikan
secara peroral. Dibuat suspensi karena obat-obat yang digunakan tidak larut dalam air,
sehingga dibuat dalam sediaan suspensi. Obat diberikan terlebih dahulu karena absorbsi
obat secara peroral lebih lama karena harus malalui saluran gastrointestinal.

Setelah pemberian obat didiamkan selama 10 menit, kemudian dinilai respon


masing-masing tikus terhadap stimulus nyeri seperti langkah sebelumnya dan tidak
dibiarkan ekor tikus berada dalam penangas air lebih dari 2 menit setelah pemberian
stimulus nyeri. Kemudian dinilai kembali respon masing-masing tikus pada 20 menit, 30
menit, 60 menit, dan 90 menit sampai efek analgetik nya hilang. Selanjutnya di catat
waktu respon masing-masing tikus dan dibuat dalam bentuk tabel, lalu dari hasil tersebut
dibuat grafik untuk mengetahui obat mana yang mempunyai efek analgetik yang efektif.

Secara teoritis urutan daya analgetik mulai dari yang terkuat adalah asam
mefenamat, na.diklofenak, ,paracetamol, metilprednisolon , dexamethasone . Sedangkan
dari hasil pengamatan, obat yang mempunyai efek analgetik yang efektif adalah Na
Diklofenak. Na diklofenac merupakan golongan obat NSAID yang sering digunakan
untuk menghilangkan rasa nyeri, pembengkakan akibat peradangan. Kemudian yang
kedua yaitu Asam mefenamat merupakan analgetik yang sering digunakan untuk
menghilangkan nyeri akibat sakit gigi. Asam mefenamat merupakan kelompok dari
antiinflamasi nonsteroid, yang bekerja dengan menghambat sintesa prostaglandin dalam
jaringan ringan tubuh dengan menghambat enzim siklooksigenase, sehingga mempunyai
efek analgesic, antipiretik, dan antiinflamasi.

Kemudian selanjutnya yaitu obat parasetamol, paracetamol dapat menghilangkan


rasa nyeri ringan sampai sedang. Dalam golongan obat analgesic, paracetamol memiliki
khasiat sama seperti aspirin atau obat-obat NSAID lainnya. Paracetamol berefek
menghambat prostaglandin di otak tetapi sedikit aktivitasnya sebagai penghambat
prostaglandin perifer. Yang ketiga yaitu kontrol,seharusnya sebagai kontrol dapt
menjetikkan ekornya lebih cepat,karena dia tidak diberi obat. Kemudian metil
prednisolon,metilprednisolon adalah suatu glukokortikoid sintesis yang memiliki efek
antiinflamasi, antialergi, dan anti shock yang sangat kuat, disamping sebagai antirematik.
Selanjutnya adalah ibuprofen,ibuprofen bersifat analgesic dengan daya antiinflamasi
yang tidak terlalu kuat. Senyawa ini bekerja melalui penghambatan enzim
siklooksigenase pada biosintesis prostaglandin, sehingga konversi asam arakidonat
menjadi PG-G2 terganggu. Dan yang terakhir yaitu deksametason,deksametason
merupakan salah satu kortikosteroid sintetis terampuh. Yang digunakan dalam
menaggulangi peradangan dan alergi.

H. Kesimpulan
Dari data pegamatan dapat disimpulkan bahwa :
 Analgetika adalah suatu obat atau senyawa yang dipergunakan untuk mengurangi
rasa sakit (nyeri). Nyeri adalah suatu rasa sakit yang terjadi akibat adanya rangsangan
kimiawi yang dapat merusak jaringan.
 Pada percobaan kali ini rangsang kimiawi yang digunakan adalah na diklofenac.
Daftar Pustaka
Anief,Moh. 2000. Prinsip Umum dan Dasar Farmakologi. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.
Gunawan, S.G. 2007. Farmakologi dan Terapi. Jakarta: Gaya Baru.
Katzung,B.G. 1997. Farmakologi Dasar dan Klinik. Edisi VI. Jakarta: Penerbit Buku
Kedikteran EGC.
Tjay, Tan Hoan, Rahardja,Kirana. 2007. Obat-obat Penting. Jakarta: Gramedia.