Você está na página 1de 21

AKUNTANSI PERUSAHAAN MANUFAKTUR

Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Penganter Akuntansi 2

JURUSAN AKUNTANSI

Kelas : 2A – AKT

Nama Dosen : Nani Rohaeni

Disusun oleh : Kelompok 1

1. Apriansyah Sarif 11021800020


2. Dika Arman 11021800267
3. Fira Darmawanti 11021800063
4. Khusnafa Sarah Indayanti 11021800209
5. Mudrijah 11021800263
6. Putri Jelita Agustina 11021800123

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS BINA BANGSA

2019
A. PENGERTIAN PERUSAHAAN MANUFAKTUR
Perusahaan manufaktur adalah jenis perusahaan yang mengaplikasikan mesin,
peralatan, dan tenaga kerja, untuk mengolah bahan mentah/baku menjadi barang jadi yang
bernilai jual. Dengan kata lain, kegiatan utama dari perusahaan manufaktur adalah mengelola
dan mengolah bahan mentah menjadi suatu barang jadi yang memiliki nilai jual dan dipasarkan
dalam skala besar kepada konsumen. Pada dasarnya kegiatan perusahaan ini merupakan proses
produksi dengan memperhatikan Standar Operasional Prosedur (SOP) tertentu sebagai acuan
dalam bekerja. Umumnya, jenis perusahaan ini melakukan kegiatan produksi dalam skala
besar.
Dan dalam proses pengolahannya, bahan baku tersebut dikombinasikan dengan bahan
pembantu lainnya dan didukung oleh variable cost (biaya variabel) dan fixed cost (biaya tetap).
Biaya variabel adalah biaya yang jumlahnya tergantung pada kuantitas barang jadi yang
diproduksi. Biaya variabel akan meningkat jika barang yang diproduksi juga naik. (Misalnya,
biaya bahan baku dan tenaga kerja langsung). Sedangkan biaya tetap adalah biaya yang tidak
tergantung pada jumlah barang yang diproduksi. (Misalnya, biaya sewa, gaji pegawai tetap,
dan pengeluaran biaya bulanan yang jumlah sama).
B. KARAKTERISTIK PERUSAHAAN MANUFAKTUR
Manufacturing company memiliki beberapa karakteristik tertentu yang tidak terdapat
pada industri lainnya. Adapun beberapa ciri-ciri perusahaan manufaktur adalah sebagai
berikut:
1. Proses Pengolahan Produk
Kegiatan perusahaan ini dilakukan dengan pengolahan bahan mentah menjadi suatu
barang jadi dimana prosesnya membutuhkan waktu dan tenaga yang cukup besar. Barang siap
jadi tersebut kemudian dijual ke konsumen melalui proses pemasaran.
2. Mesin Berskala Besar
Kegiatan produksi pada manufacturing company menggunakan mesin-mesin dan
peralatan dengan skala besar agar dapat menghasilkan suatu produk dalam jumlah tertentu dan
kualitas tertentu. Namun, kegiatan produksi masih tetap membutuhkan tenaga manusia yang
profesional untuk mengendalikan mesin-mesin dan peralatan tersebut.
3. Biaya Produksi
Agar dapat menghasilkan produk jadi berkualitas dengan jumlah besar maka
dibutuhkan biaya yang besar pula untuk mendukung kegiatan produksi. Biaya tersebut adalah
untuk pengadaan bahan baku, biaya tenaga kerja, perawatan mesin, dan lain-lain.

2
Meskipun biaya produksi dalam industri ini sangat besar, namun potensi keuntungan yang
dapat dihasilkan pun jumlahnya sangat besar.
4. Proses Produksi
Kegiatan produksi pada perusahaan manufaktur pada umumnya sangat kompleks
sehingga membutuhkan pembagian tugas dan koordinasi yang baik antar divisi. Misalnya,
tenaga operator mesin bekerja memastikan mesin bekerja sesuai fungsinya, sedangkan
bagian quality control bekerja memastikan produk yang dihasilkan sesuai standar dan layak
dijual ke pasar.
5. Pemasaran dan Penjualan
Kegiatan produksi akan sangat berkaitan dengan proses pemasaran dan penjualan
produk. Tanpa adanya pemasaran dan penjualan yang baik maka proses produksi akan
mengalami masalah.
Perusahaan manufaktur umumnya melakukan berbagai upaya pemasaran semaksimal
mungkin agar penjualan produknya meningkat. Bahkan, seringkali perusahaan mengeluarkan
biaya yang besar untuk melakukan kegiatan promosi agar produknya lebih dikenal masyarakat
dan menarik minat konsumen untuk membeli.

C. FUNGSI PERUSAHAAN MANUFAKTUR


Secara umum, ada empat fungsi pokok dari perusahaan manufakur, yaitu:
1. Fungsi Produksi
Fungsi ini adalah kegiatan utama dari manufacturing company, yaitu mengolah bahan
mentah menjadi suatu barang jadi yang siap dipasarkan kepada konsumen. Kegiatan ini
membutuhkan biaya, misalnya biaya bahan baku, gaji pekerja produksi, biaya perawatan
mesin, dan lainnya.
2. Fungsi Pemasaran
Fungsi ini bertujuan untuk mencapai tujuan dari kegiatan perusahaan, yaitu
memperoleh keuntungan dengan menjual produk yang dihasilkan. Kegiatan ini
mengeluarkan biaya, misalnya biaya promosi, biaya distribusi, biaya sewa gedung, dan
biaya gaji karyawan pemasaran.
3. Fungsi Administrasi dan Umum
Ini merupakan fungsi kegiatan manufaktur yang berkaitan dengan kebijakan,
pengarahan, dan pengawasan, sehingga kegiatan perusahaan berjalan secara efektif dan

3
efisien. Kegiatan ini juga membutuhkan biaya, misalnya biaya personalia, biaya akuntansi,
dan lainnya.
4. Fungsi Keuangan
Ini adalah fungsi penyediaan berbagai kebutuhan dana yang diperlukan oleh perusahaan
untuk berbagai kegiatannya, baik itu kegiatan produksi maupun upaya pengembangan
perusahaan.

D. AKUNTANSI PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR


Proses akuntansi dalam jenis perusahaan apapun pada dasarnya bertujuan menyediakan
laporan keuangan untuk memenuhi kepentingan manajemen maupun kepentingan pihak ektern.
Dalam hubungan dalam penyediaan laporan keuangan , sasaran akuntansi adalah transaksi
keuangan yang dilakukan oleh perusahaan. Kegiatan usaha pokok perusahaan manufaktur
adalah mengelola bahan baku hingga menjadi produk yang siap untuk dijual, kemudian
menjadi produk yang dihasilkan untuk memperoleh keuntungan.
Keuntungan (laba) yang diperoleh perusahaan manufaktur, pada dasarnya adalah selisih
antara hasil penjualan (penghasilan) dengan harga pokok penjualan dan beban usaha lainnya.
Dalam perusahaan manufaktur yang dijual adalah bahan yang dibuat sendiri sehingga harga
pokoknya tergantung kepada biaya-biaya yang dikeluarkan untuk pembuatannya biaya-biaya
yang bersangkutan kemudian dikenal dengan biaya produksi. Biaya-biaya yang dikeluarkan
untuk pembuatan produk dikelola dengan suatu sistem yang antara lain didukung dengan
prosedur pencataan pengiktisaran biaya pembuatan produk merupakan bidang khusus dalam
akuntansi yang disebut dengan akuntansi (cose accounting).
Seperti disebutkan diatas perusahan manufaktur menjadi produk yang dihasilkan untuk
memperoleh keuntungan terjadinya penghasilan mengakibatkan perubahan pada susunan
aktiva, kewajiban dan ekuitas perusahaan pencatatan dan pengiktisaran transaksi terjadinya
penghasilan dan transaksi lainnya yang mengakibatkan perusahaan aktiva, bidang akuntansi
keuangan (financial accounting).
Kesimpulan dari keterangan diatas, dalam hubungan penyediaan laporan keuangan
akuntansi yang diselengarakan dalam perusahaan manufaktur terdiriatas sebagai berikut:
a) Akuntansi biaya, kegiatan ini meliputi pencatatan pengiktisaran dan pelaporan
transaksi-transaksi yang menyangkut biaya. Pembuatan produk kegiatannya bertujuan
menyadiakan laporan biaya produksi untuk memenuhi kepentingan manajemen antara
lain: informasi mengenai harga pokok produk yang dihasilkan.

4
b) Akuntansi keuangan, kegiatan ini meliputi pencatatan pengiktisaran dan pelaoran
transaksi-transaksi yang menyangkut perubahan aktiva, kewajiban dan ekuitas .
Perusahaan kegiatannya bertujuan menyediakan laporan keungan untuk memenuhi
kepentingan manajemen dan pihak ektern. Dalam pelaksanaanya kegiatan akuntansi
keuangan nengunakan data yang dihasilkan dari proses akuntansi biaya, antara lain:
menngenai harga pokok penjualan nilai persediaan produk jadi dalam penyusunan
neraca

1. Rekening Perusahaan Manufaktur


Rekening-rekening utama perusahaan manufaktur pada dasarnya tidak jauh
berbeda dengan perusahaan jasa dan dagang.
Tapi ada rekening-rekening yang hanya digunakan dalam perusahaan manufaktur,
antara lain:
Rekening persediaan perusahaan manufaktur:
 Persediaan bahan baku
 Persediaan bahan pembantu
 Persediaan barang dalam proses
 Persediaan barang jadi
Rekening biaya produksi:
 Biaya bahan baku; biaya angkut pembelian bahan baku
 Biaya tenaga kerja langsung; insentif, upah langsung
 Biaya overhead pabrik (bop); sewa pabrik, asuransi pabrik, listrik, air,
penyusutan
 Harga pokok produksi

2. Penggolongan Biaya pada Perusahaan manufaktur


A. Pengertian Biaya
Biaya adalah pengorbanan sumber ekonomi yang diperlukan untuk memperoleh
barang atau jasa yang secara langsung berhubung dengan usaha memperoleh
penghasilan. Dalam pengertian tersebut yang dimaksud dengan sumber ekonomi adalah
barang atau jasa yang mempunyai manfaat atau yang mempunyai sifat langka.
Dalam hubungannya dengan penghasilan yang diperoleh perusahaan dalam suatu
periode, biaya dibedakan antara lain sebagai berikut:

5
 Biaya yang manfaatnya habis digunakan untuk memperoleh penghasilan pada
periode saat terjadinya untuk biaya semacam ini digunakan biaya istilah biaya
(expense).
Contoh antara lain harga pokok produk yang dijual harga pokok penjualan.
 Biaya yang manfaatnya akan digunakan untuk memperoleh penghasilan pada
periode yang akan datang atau biaya yang manfaatnya belum dapat dinikmati
(unekpired cost) biaya semacam ini diperlukan sebagai aktiva.
Contoh: antara lain sediaan produk jadi akhir periode.

Akun-akun besar yang digunakan


a. Akun sediaan bahan baku sebagai tempat pencatatan pembeliaan barang baku.
b. Akun gaji dan upah sebagai tempat mencatat gaji dan upah yang terjadi dalam
suatu periode baik upah bagian produksi maupun non produksi.
c. Akun biaya overhead pabrik tempat menapung biaya-biaya produksi selain biaya
tenaga kerja langsung.
d. Akun barang dalam proses sebagai tempat penampung biaya produksi yang
terjadi dalam suatu periode.
e. Akun persediaan akun dalam proses sebagai proses mencatat harga pokok barang
barang yang belum selesai diproses pada akhir periode.
f. Sediaan produk jadi sebagai tempat mencatat harga pokok barang yang selesai
diproses pada periode tertentu.
g. Akun harga pokok penjualan sebagai tempat mencatat harga pokok yang dijual.
B. Pengolongan Biaya Dalam Perusahaan Manufaktur
a) Pengolongan biaya berdasarkan fungsi-fungsi pokoknya.
 Biaya pemasaran adalah biaya-biaya yang terjadi dalam hubungannya dengan
baik memperoleh pesanan dan memenuhi pesanan.
Contoh: biaya pemesanan pesawat.
 Biaya administrasi dan umum adalah biaya-biaya yang terjadi dalam
hubungannya dengan pengaturan, pengawasan dan tata usaha organisasi
perusahaan yang bersangkutan.
Contoh: gaji direksi, biaya perlengkapan kantor, penyusutan
 Biaya produksi adalah biaya-biaya yang terjadi dalam hubungannya dengan
proses pengelolaan bahan baku menjadi produk yang siap untuk dijual.

6
Contoh: biaya bahan baku, biaya tenaga kerja,biaya overhead pabrik.

b) Pengolongan biaya berdasarkan hubungannya sesuatu yang dibiayai


 Biaya lansung adalah biaya yang terjadi karena ada sesuatu yang dibiayai bahan
baku dalam pembuatan produk. Biaya tersebut timbul karena ada yang yang
dibiayai yaitu produk.
 Biaya tidak langsung adalah biaya yang tidak bergantung pada ada atau tidak
adanya sesuatu yang dibiayai. Misalnya biaya penyusutan mesin dan biaya
asuransi pabrik. Biaya-biaya tersebut akan tetap terjadi walaupun tidak ada proses
pembuatan produk

c) Pengolongan Biaya Berdasarkan Hubungannya Dengan Volume Kegiatan


 Biaya tetap atau kontan adalah biaya yang sampai tingkat kejadiaan tertentu
jumlahnya tetap, tidak terpengaruh oleh perubahan volume kegiatan. Termasuk
ke dalam golongan biaya tetap, pajak antara lain biaya penyusutan aktiva tetap,
pajak bumi & bangunan, amortisasi patent, biaya sewa & asuransi.
 Biaya variabel adalah biaya yang jumlahnya berubah sebanding (proporsional)
dengan perubahan volume kegiatan. Termasuk ke dalam golongan ini adalah
biaya bahan langsung, biaya tenaga kerja langsung, biaya bahan bakar tenaga
listrik dan uang lembur.
 Biaya semi variabel adalah biaya-biaya yang mempunyai unsur-unsur yang tetap
dan variabel, oleh karena itu biaya ini sering disebut biaya campuran (mixed
cost).Contoh: biaya semi variable antara lain biaya pengawasan, biaya
pemeriksaan jasa bagian penggajian jasa bagian kalkulasi, biaya pemeliharaan &
perbaikan mesin, biaya pemanasan & perbaikan penerangan, biaya listrik untuk
penerangan.
d) Penggolongan Biaya Berdasarkan Jangka Waktu Manfaatnya
 Pengeluaran modal (capital expenditur) yang mempunyai manfaat lebih dari 1
periode akuntansi pada saat terjadi pengeluaran dibebankan sebagai aktiva dan
dibebankan dalam tahun-tahun yang dinikmati manfaatnya dengan cara
dialokasikan.
Contoh: depresiasi, amortisasi, deplesi
 Pengeluaran pendapatan (revenue expenditure) yaitu pengeluaran yang
mempunyai manfaat dalam periode akuntansi terjadinya pengeluaran tersebut.

7
C. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan biaya produksi ditentukan oleh cara produksinya. Pada
dasarnya, cara memproduksi dapat dibedakan menjadi 2, yaitu cara memproduksi atas
dasar pesanan (custom produktion) dan atas dasar produksi massal (mass produktion)
1. Cara memproduksi atas dasar pesanan (custom produktion)
Perusahaan yang melakukan produksinya berdasarkan pesanan, baru akan melakukan
kegiatan produksi bila ada pesanan.
Contoh: perusahaan percetakan dan perusahaan kapal terbang pada perusahaan
semacam ini, setiap jenis atau unit barang yang dibuat mempunyai ciri-ciri (identitas)
tersendiri yang berbeda dengan identitas jenis atau unit barang lainnnya. Dengan
demikian, biaya produksi untuk setiap jenis barang yang dibuat akan berbeda dengan
produksi barang jenis lainnya oleh karena itu untuk menentukan harga pokok barang
yang dibuat biaya produksi untuk pembuatan setiap jenis barang harus dikumpulkan
secara tersendiri.
Metode pengumpulan biaya yang diterapkan dalam perusahaan semacam ini,
disebut metode harga pokok pesanan (job order cost method) biaya produksi
dikumpulkan untuk setiap pesanan dan harga pokok persatuan dihitung dengan rumus
sebagai berikut:
Harga pokok persatuan = jumlah biaya produksi suatu pesanan : jumlah produk yang
dipesan

2. Cara memproduksi atas dasar produksi massal (Mass production)


Perusahaan yang melakukan produksinya berdasarkan produksi massal, biasanya
memproduksi massal untuk keperluan persediaan digudang. Dalam perusahaan
semacam ini, barang diproduksi secara massal sehingga produksi yang dihasilkan
merupakan produk standar yang mempunyai bentuk ukuran dan kualitas yang sama.
Dengan demikian, harga pokok setiap unit yang dihasilkan juga akan sama untuk
menghitung harga pokok setiap produk biaya produksi dikumpulkan untuk suatu
periode tertentu, kemudian dibagi sama rata terhadap produk yang dihasilkan selama
periode tersebut.
Metode pengumpulan biaya yang diterapkan pada perusahan untuk menghasilkan
satu jenis barang disebut metode harga pokok proses (process cost method) harga
produk persatuan produksi dihitung dengan rumus sebagai berikut:

8
Harga pokok per unit = jumlah biaya produksi selama periode tertentu : jumlah satuan
produksi yang dihasilkan selama periode tertentu.

D. Kelengkapan Yang Di Perlukan


Pada Perusahaan manufaktur yang menyelenggarakan akuntansi secara manual,
kelengkapan yang di perlukan dalam penerapan metode harga pokok pesanan,antara
lain:
1. Buku jurnal pembelian, tempat mencatat transaksi pembelian bahan baku, bahan
penolong, dan barang-barang lainnya.
2. Buku jurnal pemakaian bahan baku, tempat mencatat harga pokok bahan baku
yang dipakai (biaya bahan baku) dalam suatu periode tertentu.
3. Kartu harga pokok produk, tempat mencatat biaya produksi untuk tiap jenis
produk, kartu tersebut berfungsi sebagai buku pembantu (rincian) harga pokok
barang dalam proses.
4. Buku jurnal umum, dalam pencatatan biaya produksi berfungsi sebagai tempat
mencatat pembebanan biaya overhead pabrik, harga pokok produk dalam proses
akhir periode.
5. Buku jurnal khusus lainnya seperti jurnal penjualan, penerimaan kas dan jurnal
pengeluaran kas.
6. Kartu sediaan bahan baku, kartu piutang, dan kartu hutang sebagai buku
pembantu.

E. Pengolongan Dan Pembebanan Biaya Produksi


Dalam perusahan yang membuat lebih dari satu jenis produk, biaya produksi untuk
setiap jenis produk dikumpulkan secara individual. Untuk memudahkan pembebanan
biaya kepada setiap jenis produk yang
dibuat, biaya produksi secara garis besar digolongkan menjadi biaya produksi langsung
dan biaya produksi tidak langsung.
1. Biaya produksi langsung
Biaya produksi langsung terdiri atas biaya bahan langsung dan biaya tenaga
kerja langsung. Biaya-biaya tersebut merupakan biaya yang mudah ditelusuri
melekatnya pada setiap produk yang dibuat.

9
Oleh karena itu, baik biaya bahan langsung maupun biaya tenaga kerja langsung dapat
secara langsung dihitung (diperlakukan) sebagai bagian dari harga pokok produk.
Artinya biaya bahan langsung biaya tenaga kerja langsung yang dibebankan kepada
produk adalah biaya yang sesungguhnya terjadi untuk pembuatan produk yang
bersangkutan.
2. Biaya produk tidak langsung
Biaya yang termasuk kedalam golongan biaya produksi tidak langsung adalah
biaya-biaya yang tidak dapat secara langsung diperlakukan sebagai bagian dari harga
pokok produk (dibebankan kepada produk) dalam perusahaan yang membuat lebih dari
satu jenis produk banyak ditemukan biaya yang sulit ditelusuri melekatnya pada
produk, atau terlalu rumit untuk secara langsung diprhitungkan sebagai bagian dari
harga pokok tiap jenis produk yang dibuat.
Sebagai contoh, pada perusahaan mebel yang membuat remari dan meja, akan sulit
untuk menghitung harga plitur yang sesungguhnya habis digunakan untuk
menyelesaikan sebuah lemari, atau untuk menghitung harga lem perekat yang
sesungguhnya dipakai untuk menyelesaikan sebuah meja.
Dalam penerapan metode harga pokok pesanan, pembebanan biaya produksi
langsung atau biaya overhead pabrik (BOP) kepada produk, dihitung dengan tarif
tertentu yang ditetapkan berdasarkan pengalaman produksi periode yang lalu. Misalnya
pada periode-periode yang lalu jumlah biaya overhead pabrik yang sesungguhnya rata-
rata sebesar 40% dari pemakaian bahan baku. Artinya jika bahan baku yang dipakai
untuk menyelesaikan produk A seharga Rp 1.000.000,00 maka BOP yang dibebankan
pada produk A adalah 40% x Rp 1.000.000,00.
Dari keterangan diatas, dapat disimpulkan bahwa pengumpulan biaya produksi
metode harga pesanan mempunyai ciri-ciri (karakteristik) sebagai berikut:
1) Biaya produksi digolongkan menjadi dua golongan yaitu biaya produksi langsung
dan biaya produksi tidak langsung atau biaya overhead pabrik (BOP).
2) Biaya produksi tidak langsung dibebankan kepada produk berdasarkan tarif yang
ditetapkan sebelum proses produksi, artinya bukan biaya yang sesungguhnya terjadi.
3) Biaya produksi untuk pembuatan setiap jenis produk dikumpulkan secara tersendiri.
4) Harga pokok setiap jenis produk yang dibuat dihitung setelah produk yang
bersangkutan selesai diproses. Artinya tidak tiap akhir periode.
Biaya produksi untuk menyelesaikan setiap jenis produk dicatat dalam kartu harga
pokok. Dalam hal ini kartu harga pokok berfungsi sebagai tempat mencatat biaya

10
bahan langsung dan biaya tenaga kerja langsung yang sesunggguhnya terjadi.
Semantara biaya produksi tidak langsung atau biaya overhead pabrik (BOP) yang
dibebankan dicatat setelah produk yang bersangkutan selesai diproses. Dengan
demikian apabila telah dicatat dalam kartu harga pokok produk yang bersangkutan.
F. Penghitungan Dan Pencatatan Biaya Produksi
Biaya produksi adalah biaya-biaya yang berhubungan dengan proses
pengolahan bahan baku hingga menjadi produk yang siap untuk dijual. Secara umum
terdiri atas biaya bahan baku, biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik(BOP). Oleh
karena itu kegiatan akuntansi biaya produksi secara garis besar meliputi kegiatan
sebagai berikut.
1. Penghitungan dan pencatatan biaya bahan baku
2. Penghitungan dan pencatatan biaya tenaga kerja
3. Penghitungan dan pencatatan harga pokok produk selesai
4. Penghitungan dan pencatatan biaya overhead pabrik
5. Penghitungan dan pencatatan harga pokok barang dalam proses akhir periode
(barang yang pada akhir periode belum selesai diproses).
1. Penghitungan dan pencatatan biaya bahan baku
a. Prosedur pemakaian bahan baku
Pengeluaran bahan baku untuk dipakai dalam proses produksi melibatkan bagian
produksi, bagian gudang, bagian kartu sediaan dan kartu biaya (harga pokok), serta
bagian jurnal. Secara garis besar prosedur pengeluaran bahan baku dari gudang sebagai
berikut.
1. Bagian produksi mengisi formulir bukti permintaan bahan baku sekurang kurangnya
dalam rangkap 3 (tiga), kemudian diserahkan kepada bagian gudang.
2. Bagian gudang mengisi formulir bukti pengeluaran barang gudang sesuai dengan
jenis dan kuantitas yang tertulis dalam bukti permintaan, juga dalam rangkap 3 (tiga).
a) Lembar 1 bukti permintaan bahan bersama bukti pengeluaran barang gudang
diserahkan kepada bagian kartu sediaan dan kartu harga pokok.
b) Lembar 2 bukti permintaan bahan dan bukti pengeluaran barang gudang
bersama bahan yang bersangkutan diserahkan kepada bagian produksi.
c) Lembar 3 bukti permintaan bahan dan bukti pengeluaran barang gudang
dicatat dalam kartu gudang, kemudian disimpan sebagai arsip.
3. Bagian kartu sediaan dan kartu harga pokok mengisi bukti permintaan bahan dan
bukti pengeluaran barang gudang dengan harga satuan barang yang bersangkutan,

11
mencatat dalam kartu sediaan dan kartu harga pokok produk yang dibuat. Kemudian
bukti permintaan bahan dan bukti pengeluaran barang gudang yang bersangkutan
diserahkan kepada bagiab jurnal untuk dicatat dalam buku jurnal.
b. Penghitungan biaya bahan baku
Harga pokok bahan baku yang dipakai dalam proses produksi (biaya bahan
baku) bergantung kepada sistem pencatatan dan metode penilaian sediaan bahan baku
yang diterapkan. Ada 2 macam sistem pencatatan sediaan bahan baku yang dapat
digunakan yaitu sistem fisik (phycical sistem) dan sistem perpetual (perpetual system).
Dalam penerapan metode harga pokok pesanan, sediaan bahan baku di catat, menurut
sistem pencatatan perpetual. Artinya harga bahan baku pokok di hitung setiap terjadi
pemakaian dalam proses produksi. Sementara metode penilaian yang dapat di gunakan
adalah metode FIFO (MPKP), LIFO (MTKP) dan metode rata-rata.
c. Pencatatan Biaya Bahan Baku
Dalam penerapan metode harga pokok pesanan biaya produksi di kumpulkan
untuk masing-masing produk yang di buat, mutasi sediaan bahan baku di catat menurut
sistem pencatatan perpetual. Oleh karena itu pencatan harga pokok bahan baku yang di
pakai dalam proses produksi (Biaya Bahan Baku) selain di catat dalam jurnal, juga
harus di catat dalam kartu sediaan bahan baku dan kartu harga pokok produk yang di
buat.
Seperti di sebutkan di muka bahwa dalam penerapan metode harga pokok pesanan,
di gunakan sistem pencatatan perpetual. Artinya mutasi sediaan baik bahan baku
maupun produk selesai di catat dalam akun sediaan.

2. Penghitungan dan pencatatan biaya tenaga kerja langsung


a. Prosedur Perhitungan dan pencatatan biaya tenaga kerja langsung
Tenaga kerja langsung adalah tenaga kerja langsung fisik terlibat dengan
pembuatan produk. Biaya yang timbul karenanya merupakan biaya tenaga kerja utama
yang dapat di telusuri melekatnya pada produk. Besarnya biaya tenaga kerja langsung
dapat dihitung berdasarkan jam kerja, hari kerja, dan satuan produk. Dalam perusahaan
yang membuat lebih dari satu jenis produk, untuk menghitung jumlah jam kerja yang
dipergunakan dalam proses produksi, karyawan bagian produksi dilengkapi dengan
kartu-kartu sebagai berikut.

12
 Kartu jam hadir (clock card). Kartu tersebut tiap hari kerja dimasukkan ke dalam
jam pencatat waktu (time clock) oleh karyawan yang bersangkutan pada saat
datang, setelah istirahat, dan pada saat pulang.
 Kartu jam kerja (kartu tugas). Kartu ini diisi dengan data jumlah jam kerja dan
untuk pekerjaan dimana jam kerja itu digunakan.
Prosedur penghitungan dan pencatatan biaya tenaga kerja langsung melibatkan bagian-
bagian sebagai berikut:
1. Bagian Produksi
2. Bagian Gaji dan Upah
3. Bagian Hutang
4. Bagian Jurnal, Buku Besar, dan Laporan
5. Bagian Kartu Sediaan dan Kartu Harga Pokok
b. Penyusunan daftar gaji dan upah
Dalam perusahaan-perusahaan yang besar pada umumnya mempunyai departemen
(bagian) yang khusus bertugas memberi gaji dan mengurus administrasi gaji dan upah
pegawai. Bagian administrasi gaji dan upah bertugas antara lain mencatat
penggolongan tugas, tarif upah untuk setiap pegawai, jumlah jam kerja atau hari kerja
setiap pegawai, menghitung upah yang harus di bayar, mengatur pemotongan upah,
membuat surat pernyataan upah untuk setiap pegawai yang memuat data upah kotor,
potongan-potongan termasuk PPH 21, dan jumlah upah bersih yang harus diterima
paegawai yang bersangkutan.
Daftar gaji dan upah dibuat tiap akhir periode tertentu, bergantung kepada sistem
pengupahan yang digunakan misalnya mingguan atau bulanan. Daftar upah disusun
berdasarkan data kartu jam hadir dan kartu tugas pegawai setelah data pada kedua kartu
tersebut di cocokkan. Dialam daftar gaji dan upah diinformasikan mengenai gaji dan
upah kotor tiap pegawai, potongan-ptongan serta gaji dan upah bersih yang harus di
terima masing-masing pegawai.
c. Pencatatan biaya dan tenaga kerja langsung
Daftar gaji dan upah dalam perusahaan manufaktur dapat saja memuat rincian gaji
dan upah karyawan bagian produksi, bagian pemasaran dan bagian administrasi umum.
Dalam hal demikian total dan upah kotor untuk karyawan semua bagian dicatat debet
akun gaji dan upah.

13
3. Penghitungan dan pencatatan Biaya Overhead Pabrik yang di bebankan
a. Penetapan Tarif Biaya Overhead Pabrik
Beberapa pilihan yang dapat digunakan sebagai dasar untuk menetapkan tarif BOP
yang dibebankan antara lain:
 Biaya Bahan Baku
 Biaya Tenaga Kerja langsung
 Jam Kerja Langsung
b. Pencatatan Biaya Overhead Pabrik
 Mencatat BOP yang sesungguhnya
 Mencatat BOP yang dibebankan
 Mencatat selisih BOP
c. Penghitungan dan Pencatatan Harga Pokok Produk Jadi
d. Penghitungan dan Pencatatan Harga Pokok Barang Dalam Proses
e. Penghitungan biaya produksi apabila terdapat BDP awal periode

G. Metode Pencatatan Persediaan


1. Metode Pencatatan Periodikal
Metode pencatatan periodikal adalah metode di mana mutasi jumlah barang
tidak dicatat, baik pada saat pembelian atau saat digunakan untuk produksi.
Jurnal yang timbul dari transaksi yang berkaitan dengan barang adalah sebagai berikut:
 Pembelian Bahan Baku/Pembantu:

(Debit) Pembelian Rp xxx


(Kredit) Hutang Dagang/Kas Rp xxx

 Pemakaian Baku/Pembantu:

Tidak dijurnal

 Penjualan Barang Jadi:

(Debit) Piutang Dagang Rp xxx


(Kredit) Penjualan Rp xxx

 Proses penyesuaian di akhir periode:

14
Mencatat nilai persediaan Akhir :

(Debit) Persediaan Bahan Baku (Akhir) Rp xxx


(Kredit) Ihtisar Pabrikasi (Bahan) Rp xxx

(Debit) Persediaan Barang Dalam Proses (Akhir) Rp xxx


(Kredit) Ihtisar Pabrikasi (Barang Dalam Proses) Rp xxx

(Debit) Persediaan Barang Jadi (Akhir) Rp xxx


(Kredit) Ihtisar Laba Rugi (Barang Jadi Akhir) Rp xxx

Mencatat nilai persediaan Awal (pembalik pada awal periode) :

(Debit) Ihtisar Pabrikasi (Bahan) Rp xxx


(Kredit) Persediaan Bahan Baku (Awal) Rp xxx

(Debit) Ihtisar Pabrikasi (Barang Dalam Proses) Rp xxx


(Kredit) Persediaan Barang Dalam Proses (Awal) Rp xxx

(Debit) Ihtisar Laba Rugi (Barang Jadi Awal) Rp xxx


(Kredit) Persediaan Barang Jadi (Awal) Rp xxx

15
Format Laporan Laba Rugi dengan menggunakan metode periodikal adalah sebagai
berikut:

2. Metode Pencatatan Persediaan Perpetual


Metode pencatatan persediaan perpetual adalah metode pencatatan persediaan
di mana mutasi jumlah barang selalu dicatat. Baik jumlah barang saat pembelian
maupun saat digunakan untuk proses produksi. Jurnal yang timbul dari penggunaan
metode pencatatan persediaan perpetual adalah sebagai berikut:

 Pembelian Bahan baku dan pembantu:

(Debit) Persediaan Bahan Baku Rp xxx


(Debit) Persediaan Bahan Pembantu Rp xxx
(Kredit) Hutang Dagang /Kas Rp xxx

 Pemakaian Bahan baku dan pembantu :

(Debit) BDP Biaya Bahan Baku Rp xxx


(Kredit) Persediaan Bahan Baku Rp xxx

16
(Debit) BDP Overhead Pabrik – Bahan Pembantu Rp xxx
(Kredit) Persediaan Bahan Pembantu Rp xxx

 Pemakaian/Pencatatan Biaya Upah dan Overhead:

(Debit) BDP Upah Langsung Rp xxx


(Kredit) Hutang Gaji/Upah Rp xxx

(Debit) BDP Overhead Pabrik Sesungguhnya Rp xxx


(Kredit) Persediaan Bahan Pembantu Rp xxx
(Kredit) Kas/hutang Biaya Rp xxx

 Mencatat laporan Barang Jadi Hasil Produksi:

(Debit) Persediaan Barang Jadi Rp xxx


(Kredit) BDP Biaya Bahan Baku Rp xxx
(Kredit) BDP Upah Langsung Rp xxx
(Kredit) BDP Overhead Pabrik Rp xxx

 Mencatat laporan Barang Dalam Proses Akhir Periode:

(Debit) Persediaan Barang Dalam Proses Rp xxx


(Kredit) BDP Biaya Bahan Baku Rp xxx
(Kredit) BDP Upah Langsung Rp xxx
(Kredit) BDP Overhead Pabrik Rp xxx

 Penjualan Barang Jadi :

(Debit) Piutang Dagang Rp xxx


(Kredit) Penjualan Rp xxx

(Debit) Harga Pokok Penjualan Rp xxx


(Kredit) Persediaan Barang Jadi Rp xxx

 Proses penyesuaian di akhir periode:

Mencatat nilai persediaan Akhir (selisih antara catatan dan stock opname):

(Debit) Selisih persediaan Rp xxx


(Kredit) Persediaan Bahan Baku Rp xxx
(Kredit) Persediaan Barang Jadi Rp xxx

17
Dan format Laporan Laba Rugi menggunakan pencatatan persediaan perpetual
adalah sebagai berikut:

3. Kombinasi Metode Pencatatan Periodikal dan Perpetual


Kenyataan dalam dunia manufaktur, perusahaan sangat membutuhkan
informasi yang terperinci tentang mutasi bahan baku, bahan pembantu dan barang jadi.
Bila kita menggunakan metode periodikal, berarti mengorbankan informasi tentang
mutasi bahan baku, bahan pembantu, dan barang jadi. Solusi yang bisa dilakukan adalah
dengan mengombinasikan metode pencatatan periodikal dan perpetual seperti berikut
ini:

a. Persediaan Bahan Baku


Pencatatan persediaan bahan baku dilakukan dengan menggunakan
metode pencatatan perpetual murni berdasarkan actual cost.
Actual cost adalah nilai bahan baku dicatat sesuai dengan harga pembelian aktualnya.
Penggunaan bahan baku dalam proses produksi juga dicatat sesuai dengan harga pokok
aktualnya.
b. Persediaan Bahan Pembantu
18
Metode yang digunakan untuk mencatat persediaan bahan pembantu sama
dengan persediaan bahan baku. Saat membeli bahan pembantu dari pemasok,
dicatat sesuai dengan harga beli. Demikian juga saat menggunakan bahan pembantu
dalam proses produksi, dicatat sesuai dengan nilai perolehan atas bahan
pembantu tersebut.
c. Persediaan Barang Dalam Proses
Untuk menentukan nilai persediaan barang dalam proses digunakan metode
taksiran. Alasan penggunaan metode tersebut karena sulit untuk menentukan harga
pokok barang dalam proses. Taksiran nilai persediaan barang dalam proses ditentukan
dengan cara sebagai berikut:

Selanjutnya dibuat jurnal penyesuaian dan digunakan sebagai penentu nilai harga pokok
penjualan di laporan laba rugi.
d. Persediaan Barang Jadi
Untuk mencatat jumlah persediaan barang jadi digunakan metode perpetual.
Sedangkan nilai rupiah atas harga pokok barang jadi dicatat dengan
menggunakan dua pendekatan berikut:
 Pendekatan 1 : Mencatat nilai harga pokok barang jadi dengan metode periodikal.

Melalui pendekatan ini, perusahaan mencatat nilai rupiah barang jadi


menggunakan metode harga pokok periodikal dan menggunakan metode perpetual
untuk mencatat jumlah barangnya. Proses pencatatannya adalah dengan mencatat
jumlah setiap barang jadi akan tetapi nilai rupiah atas barang jadi tersebut dicatat
dengan nilai nihil. Dengan demikian maka kita tetap bisa menganalisa keluar masuknya
barang jadi tanpa memengaruhi nilai persediaan barang jadi di neraca. Nilai persediaan
barang jadi akhir ditetapkan berdasarkan hasil stock opname di akhir periode. Hasil
stock opname tersebut selanjutnya dibuatkan jurnal penyesuaian dengan menyajikan
nilai persediaan akhir barang jadi di neraca Dan mengurangkan nilai persediaan akhir
barang jadi di laporan laba rugi. Pada awal periode berikutnya nilai persediaan barang
jadi akhir tersebut digunakan sebagai dasar untuk membuatkan jurnal pembalik pada
awal periode berikutnya. Kelemahan dari metode ini adalah kita tidak bisa sewaktu-
waktu menampilkan laporan laba rugi, karena selalu tergantung pada hasil stock

19
opname. Selama nilai persediaan akhir tidak dimasukkan dalam laporan laba rugi, maka
laporan laba rugi yang dihasilkan belum menunjukkan laba rugi perusahaan yang nyata.

 Pendekatan 2: Nilai harga pokok barang jadi dicatat dengan metode perpetual
atas dasar harga pokok standar

Pendekatan ini sedikit lebih rumit, tetapi cara ini lebih efektif dalam
mengendalikan harga pokok penjualan. Setiap barang jadi yang dilaporkan dari bagian
produksi akan dicatat dengan harga pokok standar. Dengan mencatat harga pokok
standar atas nilai persediaan barang jadi, maka otomatis setiap terjadi penjualan akan
dicatat pula harga pokok penjualan berdasarkan harga pokok standar. Barang jadi yang
belum terjual (persediaan barang jadi akhir) juga menjadi pengurang dari nilai harga
pokok penjualan berdasarkan harga pokok standar. Bagi perusahaan yang belum bisa
menentukan nilai harga pokok standar atas barang jadi yang dihasilkan akan mengalami
kesulitan untuk menerapkan pendekatan ini. Solusinya sebenarnya mudah, yaitu dengan
cara menentukan harga pokok standar atas barang jadi berdasarkan atas harga jual
barang jadi tersebut dikurangi dengan presentasi laba atas produk tersebut. Jika
perusahaan menginginkan laba kotor atas setiap produk yang dihasilkan. Misalnya
sebesar 20% dari harga jual, maka harga pokok standar barang jadi ditentukan sebesar
80% dari harga jualnya. Harga pokok standar barang jadi bisa ditentukan secara masal
untuk semua jenis barang jadi, bisa juga ditentukan secara terpisah untuk setiap jenis
barang jadinya.

4. Harga Pokok Produksi


Perusahaan manufaktur dalam memproduksi barang ada yang berdasarkan
pesanan dan produksi masal. Ada 2 sistem untuk menghitung harga pokok dari 2 sistem
produksi tersebut, yaitu: Sistem harga pokok pesanan dan Sistem harga pokok standar
a. Sistem Harga Pokok Pesanan
Setiap ada pesanan, maka dibuatkan satu kelompok pesanan. Setiap transaksi
yang berhubungan dengan pesanan ini dimasukkan dalam kelompok pesanan ini. Mulai
dari proses pemesanan dan pembelian bahan baku dan bahan pembantun, pengeluaran
biaya operasional dan biaya produksi. Proses ini dilakukan untuk menghitung berapa
jumlah biaya yang sudah dikeluarkan untuk pesanan ini. Setelah memasukkan semua
komponen biaya produksi (bill of material – BOM) dari bahan baku, bahan pembantu,
proses produksi hingga barang jadi. Selanjutnya dihitung harga pokok penjualan

20
pesanan tersebut. Dengan menggunakan sistem harga pokok pesanan, bisa
mengkibatkan tertundanya laporan keuangan. Keterlambatan itu karena ada beberapa
komponen biaya yang baru bisa diketahui di akhir periode seperti biaya listrik, biaya
penyusutan, biaya gaji. Dan biaya-biaya yang sifatnya baru dihitung pada akhir periode.
Untuk mengetahui laba rugi perusahaan kita buat Laporan Laba Rugi khusus untuk
persanan tersebut, dari laporan itu kita dapat mengetahui laba kotor dan laba bersihnya.

b. Sistem Harga Pokok Standar


Kelemahan sistem harga pokok pesanan, selain mengakibatkan telatnya laporan
keuangan, bagian marketing juga kesulitan untuk menentukan harga jual barang.
Kelemahan tersebut dapat dihilangkan dengan menggunakan sistem harga pokok
standar. Melalui sistem ini, perusahaan dapat menentukan harga pokok suatu produk
sebelum produk tersebut diproduksi. Untuk menentukan harga pokok standar,
perusahaan bisa menghitung semua komponen biaya produksi (Bill of Material)
berdasarkan pada pengalaman masa lalu. Dan prediksi masa depan tentang
perkembangan harga bahan baku, bahan pembantu, upah, dan biaya overhead. Dengan
sistem harga pokok standar, harga pokok suatu barang sudah dapat diketahui diawal
sebelum barang tersebut diproduksi. Selain itu dapat membantu bagian pemasaran
untuk menentukan harga jualnya. Dengan menggunakan sistem harga pokok standar,
akan menimbulkan selisih antara biaya standar (standard cost) dengan biaya aktual
(actual cost) di akhir periode akuntansi. Hal itu dapat terjadi karena harga pokok
produksi dihitung berdasarkan biaya aktual yang telah dikeluarkan. Adanya selisih
tersebut, maka perlu dibuat jurnal penyesuaian selisih harga pokok standar dengan
aktual. Selisih tersebut bisa dibebankan ke rekening Biaya Overhead Pabrik atau Harga
Pokok Penjualan Barang Jadi.

21