Você está na página 1de 6

Asal Usul Tata Surya – Tata surya (solar system) merupakan salah satu galaksi yang terdapat di alam

semesta. Alam semesta merupakan sebuah istilah yang biasa dipakai para ilmuwan untuk menggambarkan
ruang angkasa dan benda-benda langit yang ada di dalamnya.

Ilmu yang mempelajari semua objek langit yang ada di ruang angkasa disebut ilmu Astronomi. Dalam sudut
pandang ilmu astronomi, alam semesta adalah ruang angkasa dengan semua zat serta energi yang terdapat
di dalamnya. Pemahaman manusia mengenai alam semesta pun mengalami banyak perubahan di setiap
zamannya.

Pada awalnya muncul sebuah gagasan yang menganggap bahwa bumi adalah pusat dari alam semesta.
Kemudian gagasan tersebut berubah setelah mereka mengetahui bahwa bumi hanyalah sebuah planet dan
meyakini bahwa matahari adalah pusat dari alam semesta.

Hingga pada akhirnya ditemukan kembali bahwa alam semesta ini terdiri dari banyak sekali galaksi. Dimana
tata surya merupakan sebuah galaksi dengan matahari sebagai pusatnya. Mereka juga beranggapan bahwa
di dalam tata surya terdapat planet-planet yang bergerak memutari matahari sebagai pusatnya (revolusi).

Asal Usul Tata Surya

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa tata surya merupakan sebuah galaksi yang terdiri dari
matahari, 9 planet, satelit, komet, dan asteroid. Semua benda-benda langit terus bergerak dengan lintasan
tertentu, seperti planet-planet yang berevolusi mengelilingi matahari dengan lintasan (orbit) yang
berbentuk elips.

Para ahli astronomi yang mempelajari asal usul tata surya berpendapat bahwa seluruh sistem tata surya
telah terbentuk semenjak 4,5 milyar tahun yang lalu. Hal tersebut berdasarkan pengujian yang dilakukan
1
dengan menghitung umur batuan-batuan yang ada di ruang angkasa dan di bumi. Terdapat berbagai
macam teori asal usul tata surya yang dikemukakan oleh beberapa orang ahli.

1. Teori Nebula atau Kabut (Kant-Laplace)

Teori Nebula atau teori kabut merupakan hipotesis mengenai asal usul tata surya yang pertama kali
disampaikan oleh Emmanuel Swendenborg (1688-1772) pada tahun 1734. Teori ini kemudian
disempurnakan kembali oleh Immanuel Kant (1724-1804) pada tahun 1775. Teori serupa juga
dikemukakan oleh Piere Marquis de Laplace pada tahun 1796. Sehingga teori ini juga dikenal dengan teori
Nebula Kant-Laplace.

Pada teori ini dinyatakan bahwa pada tahap awal, tata surya masih berupa kumpulan kabut raksasa. Kabut
yang merupakan asal usul tata surya ini tersusun dari debu, es, dan gas dengan kandungan hidrogen tinggi.
Kabut ini disebut sebagai nebula. Kemudian kabut mengalami penyusutan karena gaya gravitasi yang
dimilikinya. Selama proses penyusutan kabut tersebut berputar sehingga akhirnya memanas dan berubah
menjadi bintang raksasa.

Bintang raksasa tersebut adalah matahari. Ukuran dari matahari raksasa tersebut terus menyusut dan
berputar semakin cepat. Sehingga cincin-cincin gas dan es terlempar keluar ke sekeliling matahari. Pada
akhirnya akibat adanya gaya tarik gravitasi dan penurunan temperatur, gas dan es tersebut memadat dan
membentuk planet-planet.

Menurut Laplace asal usul tata surya memiliki orbit atau garis edar planet yang berbentuk elips adalah
akibat dari proses terbentuknya galaksi itu sendiri. Hipotesa Nebula juga berhasil menjelaskan bahwa tata
surya berbentuk datar dan orbit elips planet-planet yang memutari matahari bentuknya hampir datar.

2
2. Teori Pasang Surut atau Tidal (Jeans dan Jeffreys)

Pada tahun 1991, ada 2 orang ilmuwan bernama James H. Jeans dan Harold Jeffers yang menyampaikan
teori Pasang Surut atau Tidal. Menurut teori pasang surut ratusan juta tahun yang lalu sebuah bintang
bergerak mendekati matahari dan kemudian menghilang. Pada saat kejadian itu separuh bagian dari
matahari tertarik dan lepas. Dari bagian matahari yang terlepas inilah yang kemudian membentuk planet-
planet.

Ratusan juta tahun yang lalu sebuah bintang bergerak mendekati matahari dan kemudian menghilang.
Pada saat kejadian itu separuh bagian dari matahari tertarik dan lepas. Dari bagian matahari yang terlepas
inilah yang kemudian membentuk planet-planet.

Kejadian tersebut hampir sama seperti pasang surut air laut yang ada di muka bumi yang diakibatkan oleh
gaya tarik gravitasi bulan. Bedanya pasang surut air laut ukurannya lebih kecil dibandingkan teori pasang
surut tata surya. Hal tersebut bisa terjadi dikarenakan kecilnya massa bulan dan jauhnya jarak antara bulan
dan bumi (60 kali jari-jari bumi)

Sedangkan pada teori asal usul tata surya menurut Jeans dan Jeffreys, bintang raksasa yang mendekati
matahari massanya sama dengan massa matahari. Sehingga ketika bintang tersebut mendekat, pada
permukaan matahari terbentuk gunung-gunung gelombang yang besar sekali. Gunung-gunung tersebut
memiliki ketinggian yang luar biasa dan berbentuk seperti lidah pijar raksasa. Lidah pijar yang menjulur dari
matahari sampai ke bintang raksasa.

Lidah tersebut sangat panas dan mempunyai rongga-rongga yang nantinya akan pecah menjadi planet-
planet. Bintang raksasa itu terus bergerak menjauhi matahari sehingga lama kelamaan pengaruhnya akan
hilang. Selanjutnya planet-planet tersebut mengalami pendinginan dan bergerak memutari matahari. Pada
planet-planet besar, proses pendinginan berlangsung lebih lambat daripada planet-planet kecil seperti
Merkurius dan Bumi.

Selam proses pendinginan, planet-planet memutari matahari dengan orbit berbentuk elips. Sehingga pada
suatu saat memungkinkan jarak planet-planet itu menjadi lebih pendek dari biasanya. Pada saat itu terjadi
pasang surut pada permukaan planet-planet dan menyebabkan sejumlah materi terlontar keluar dan
membentuk satelit-satelit planet.

Pada teori pasang surut ini juga dijelaskan bahwa planet-planet tersebut berasal dari pecahan gas matahari
yang berbentuk seperti cerutu. Sehingga ukuran planet-planet menjadi berbeda-beda, akibatnya planet-

3
planet dibagian tengah seperti Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus memiliki ukuran yang besar.
Sedangkan pada bagian ujung planet-planetnya berukuran lebih kecil.

3. Teori Planetesimal (Moulton dan Chamberlin)

Teori Planetesimal pada dasarnya hampir sama dengan teori pasang surut. Teori ini pertama kali
disampaikan oleh seorang astronom bernama Forest R. Moulton (1878-1952) dan ahli kebumian yang
bernama Thomas C. Chamberlin (1834-1928). Planetesimal sendiri berarti planet kecil yang memutari
sebuah inti yang berbentuk gas.

Matahari telah ada sebagai salah satu dari sekian banyak bintang, pada suatu waktu ada sebuah bintang
yang melintas di kejauhan yang tidak terlalu jauh, sehingga terjadi pasang naik antara bintang dan
matahari. Pada saat bintang itu berada jauh dari massa matahari jatuh ke permukaan matahari dan
sebagian tersebar di sekitar matahari, maka ini disebut planetisimal yang dikenal sebagai planet yang
berada di orbitnya dan di sekitar matahari.

4. Teori Bintang Kembar (Fred Hoyle)

Teori bintang kembar adalah salah satu dari banyaknya teori tentang pembentukan dan evolusi tata surya.
Teori ini diusulkan oleh astronom Inggris R.A. Lyttleton, pada tahun 1956. Menurut teori ini tata surya
awalnya terbentuk dari 2 buah bintang kembar raksasa.

Kemudian, salah satu bintang dari bintang kembar itu meledak sehingga menghasilkan puing-puing dan
debu. Hingga akhirnya berevolusi mengelilingi mengelilingi bintang yang satunya (matahari) dan
membentuk planet-planet beserta benda-benda langit lainnya..

Karena bintang yang tidak hilang masih memiliki gravitasi yang kuat, puing-puing tersebut tidak tertarik
masuk ke dalam matahari melainkan bergerak mengelilinginya. Hingga akhirnya serpihan-serpihan debu
dari ledakan tadi menyatu dan memilin hingga akhirnya membentuk planet.

4
Sedangkan batuan-batuan dari puing-puing bintang yang meledak berputar dan membentuk orbit asteroid.
Teori ini mengacu pada hasil penelitian yang membuktikan bahwa pada sistem tata surya lainnya terdapat
bintang kembar.

Sehingga Lyttelton meyakini bahwa asal usul tata surya kita adalah dari hasil ledakan 2 buah bintang
kembar. Dimana salah satu bintang meledak dan membentuk anggota tata surya. Sedangkan yang tidak
hancur menjadi pusat tata surya.

5. Teori Big Bang (George Lemaitre)

Big Bang adalah kata yang mewakili peristiwa ledakan yang sangat besar. Beberapa ilmuwan, sistem tata
surya kita percaya bahwa asal usul tata surya adalah dari bintang yang berukuran sangat besar. Dalam
beberapa juta tahun, usia bintang itu naik, dan akhirnya meledak.

Ledakan yang sangat kuat timbul karena ukuran dan energi yang dimiliki bintang sangatlah besar. Ledakan
ini setara dengan 5 × 1025 kali intensitas ledakan senjata nuklir. Partikel yang dipancarkan oleh ledakan,
meleleh dan dipadatkan oleh gravitasi dan energi dari ledakan ledakan tersebut. Sehingga, terbentuklah
benda-benda langit seperti sekarang ini.

6.Teori Keadaan Tetap atau Steady-State (Bondi, Gold, dan Hoyle)

Menurut teori ini, yaitu teori steady state (teori keadaan tetap) bahwa alam semesta belum memiliki awal
dan tidak akan berakhir. Alam semesta dari dulu selalu tampak sama seperti sekarang, tidak ada yang
berubah.

5
Semua materi di alam semesta terus berekspansi dan bergerak menjauhi kita. Teori keadaan tetap
disampaikan oleh H. Bondi, T. Gold dan F. Foil dari Universitas Cambridge pada tahun 1948. Teori mengacu
kepada prinsip kosmologi sempurna, yaitu pernyataan bahwa alam semesta dimanapun dan kapan pun
akan tetap sama.

Pernyataan ini di dukung oleh hasil penemuan galaksi baru yang mempunyai massa yang sebanding dengan
galaksi lama. Sehingga beranggapan bawah alam semesta termasuk tata surya memiliki luas dan umur
yang tak terhingga.

Teori keadaan tetap benar-benar bertentangan dengan teori Big Bang. Dalam teori asal usul tata surya ini,
ketika galaksi bergerak menjauh satu sama lain, maka akan tercipta ruang kosong. Dalam teori steady
state, ruang angkasa terus menghasilkan materi baru guna mengisi ruang kosong galaksi.

Sehingga galaksi baru akan terbentuk untuk menggantikan galaksi yang bergerak menjauh. Orang-orang
akan setuju bahwa zat baru itu adalah Hedrogen. Zat Itu adalah sumber asal usul tata surya, bintang, dan
galaksi.

7. Teori Awan Kabut atau Proto Planet (Von Weizsaecker)

Teori asal usul tata surya selanjutnya adalah teori awan kabut atau proto planet, yang diajukan oleh Carl
von Weizsaecker dan disempurnakan oleh Gerard P. Kuiper sekitar tahun 1950. Teori awan kabut
menyatakan bahwa sistem tata surya terbentuk oleh sejumlah awan gas yang sangat banyak.

Gumpalan awan gas tersebut menyusut dan menarik partikel-partikel debu hingga berbentuk bola.
Kemudian semuanya memilin sehingga gumpalan bola itu berubah menjadi seperti piringan cakram. Pada
bagian tengah cakram perputarannya lambat sehingga tekanan dan panasnya meningkat. Bagian tegah
tersebut berubah menjadi matahari.

Pada bagian pinggir cakram, perputaran terjadi dengan cepat. Sehingga terbentuk gumpalan-gumpulan
dengan ukuran yang lebih kecil. Gumpalan itu kemudian berubah menjadi planet-planet, asteroid, meteor
atau meteorid, komet, dan satelit-satelit alami yang mengiringi planet.Sekian artikel mengenai asal usul
tata surya. Dari semua teori di atas, tidak ada teori pembentukan tata surya yang bisa dipastikan
kebenarannya. Mengingat terbatasnya akal manusia serta kemampuan manusia dalam menjelajahi ruang
angkasa.