Você está na página 1de 28

MAKALAH

LAPORAN PENDAHULUAN
TUBEKTOMI PADA WANITA DAN VASEKTOMI PADA PRIA
DAN ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN TUBEKTOMI/VASEKTOMI

OLEH KELOMPOK 2 :

1. ISAK RUFUS B (1811A0013)


2. JUNI DWI R (1811A0035)
3. DHEA FIKAWARA (1811A0004)
4. MEI WULANDARI (1811A0019)
5. UNKY NOVA SILVANDARA (1811A0028)
6. IKA NURWAHYUNI (1811A0011)

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


STIKes SURYA MITRA HUSADA KEDIRI
2018

i
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan

taufik dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Makalah yang

berjudul “Laporan Pendahuluan Tubektomi Pada Wanita dan Vasektomi Pada

Pada Pria dan Asuhan Keperawatan Dengan Tubektomi/Vasektomi”.

Penulis menyadari makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari

kesempurnaan, oleh sebab itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang

membangun dari semua pihak. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan

rahmad dan hidayah-Nya kepada kita semua. Aamiin...

Kediri, 21 Desember 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................... ii


DAFTAR ISI ................................................................................................. iii
BAB I LAPORAN PENDAHULUAN
A. Definisi ........................................................................................ 1
B. Jenis............................................................................................. 2
C. Prosedur Kerja ............................................................................ 2
D. Keuntungan ................................................................................. 5
E. Kerugian ..................................................................................... 6
F. Efek Samping .............................................................................. 7
G. Indikasi ........................................................................................ 8
H. Kontraindikasi ............................................................................. 9
I. Waktu Dilakukan ...................................................................... 10
BAB II ASUHAN KEPERAWATAN
2.1 Kasus ......................................................................................... 11
BAB III PENUTUP ..................................................................................... 24
DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
LAPORAN PENDAHULUAN
A. Definisi
1. Tubektomi
Kata tubektomi berasal dari tuba dan ektomi, tuba : saluran telur
wanita, ektomi : membuang / mengangkat. Namun sekarang definisi ini
sudah diperluas dengan pengertian sterilisasi tuba.
Tubektomi adalah metode kontrasepsi permanen di mana saluran
tuba di blokir sehingga sel telur tidak bisa masuk ke dalam rahim.
Tubektomi adalah prosedur bedah sukarela untuk menghentikan fertilitas
(kesuburan) seseorang perempuan secara permanen (Saifuddin, 2003).
Tubektomi adalah kontrasepsi permanen yang hanya diperuntukkan
bagi mereka yang memang tidak ingin atau boleh memiliki anak (karena
alasan kesehatan). Disebut permanen karena metode kontrasepsi ini tidak
dapat dibatalkan (reversal) bila kemudian Anda ingin punya anak.
Tubektomi adalah setiap tindakan pada kedua saluran telur wanita
yang mengakibatkan orang tidak akan mendapat keturunan lagi
(Prawirohadjo, 2002).
Tubektomi adalah menutup saluran tuba palopi sehingga tidak perlu
memakai alat kontrasepsi serta dapat menghambat penyakit
kebidanan/kandungan.
2. Vasectomi
Vasektomi adalah tindakan operasi ringan dengan cara mengikat
dan memotong saluran sperma sehingga sperma tidak dapat lewat dan air
mani tidak mengandung spermatozoa, dengan demikian tidak terjadi
pembuahan, operasi berlangsung kurang lebih 15 menit dan pasien tak
perlu dirawat. Operasi dapat dilakukan di Puskesmas, tempat pelayanan
kesehatan dengan fasilitas dokter ahli bedah, pemerintah dan swasta, dan
karena tindakan vasektomi murah dan ringan sehingga dapat dilakukan di
lapangan (Siswosudarmo, 2007).
Vasektomi adalah menutup saluran sperma yang menyalurkan
sperma dari pusat produksinya di testis.

1
B. Jenis
1. Tubektomi
a. Minilaparotomi
Sayatan kecil sekitar 3 cm daerah perut bawah (suprapubik)/
subumbilikal (pada lingkar pusat bawah)
b. Laparoskopi (sayatan besar)
Pemeriksaan rongga perut dengan peneropongan memakai alat melalui
sayatan pada dinding perut, setelah lebih dahulu dilakukan pengisian
dengan udara atau gas ke dalamnya (KBBI daring).
2. Vasectomi
a. Vasektomi Tanpa Pisau (VTP atau No-scalpel Vasectomy)
b. Vasektomi dengan insisi skrotum (tradisional)
c. Vasektomi semi permanen
Vasektomi Semi Permanen yakni vas deferen yang diikat dan bisa dibuka
kembali untuk berfungsi secara normal kembali dan tergantung dengan
lama tidaknya pengikatan vas deferen, karena semakin lama vasektomi
diikat, maka keberhasilan semakin kecil, sebab vas deferen yang sudah
lama tidak dilewati sperma akan menganggap sperma adalah benda asing
dan akan menghancurkan benda asing.

C. Prosedur Kerja
a. Tubektomi
1. Cara memblokir saluran tuba dapat dilakukan dalam beberapa cara. Tuba
bisa ditutup dengan mempergunakan implan, klip atau cincin serta
dengan memotong atau mengikat.
2. Metode yang paling dipakai sekarang adalah dengan mempergunakan
laparoskopi kemudian menjepit kedua saluran tuba dengan klip atau
dengan memasang ring.
3. Terdapat beberapa macam tindakan bedah / operasi sterilisasi tuba yaitu
: laparoskopi, mikro-laparoskopi, laparotomi (bersamaan dengan Seksio
Cesarea (SC), mini-laparotomi (operasi kecil), histereskopi (dengan
memasang implan yang akan merangsang jaringan ikat, sehingga saluran

2
tuba akan terblokir), dan pendekatan / teknik melalui vagina (sekarang
tidak dipakai lagi karena tingginya angka infeksi).
4. Pembedahan biasanya dilakukan dengan pembiusan umum. Dokter dapat
menggunakan alat bantu berupa teleskop khusus yang disebut
laparoskop. Teleskop berupa pipa kecil bercahaya dan berkamera ini
dimasukkan melalui sebuah sayatan kecil di perut untuk menentukan
lokasi tuba falopi. Sebuah sayatan lainnya kemudian dibuat untuk
memasukkan alat pemotong tuba falopi Anda. Biasanya, ujung-ujung
tuba falopi kemudian ditutup dengan jepitan. Cara yang lebih tradisional
yang disebut laparotomi tidak menggunakan teleskop dan membutuhkan
sayatan yang lebih besar.
b. Vasectomi
1. Vasektomi dilakukan dengan cara pemotongan Vas Deferens sehingga
saluran transportasi sperma terhambat dan proses penyatuan dengan
ovum tidak bekerja. Seorang pria yang sudah divasektomi, volume air
maninya sekitar 0,15 cc yang tertahan tidak ikut keluar bersama
ejakulasi karena scrotum yang mengalirkannya sudah dibikin buntu.
Sperma yang sudah dibentuk tidak akan dikeluarkan oleh tubuh, tetapi
diserap & dihancurkan oleh tubuh.
2. Teknik Vasektomi Tanpa Pisau
a. Celana dibuka dan baringkan pasien dalam posisi terlentang.
b. Rambut di daerah skrotum dicukur sampai bersih.
c. Penis diplester ke dinding perut
d. Daerah kulit skrotum, penis, supra pubis dan bagian dalam pangkal
paha kiri kanan dibersihkan dengan cairan yang tidak merangsang
seperti larutan iodofor (Betadine) atau larutan klorheksidin (Hibis-
crub) 4%.
e. Tutuplah daerah yang telah dibersihkan tersebut dengan kain steril
berlubang pada tempat skrotum ditonjolkan keluar.
f. Tepat di linea mediana di atas vas deferens, kulit skrotum diberi
anestesi local (Prokain atau Novokain atau Xilokain 1%) 0,5 ml, lalu
jarum diteruskan masuk sejajar vas deferens kearah distal, kemudian

3
dideponair lagi masing-masing 3-4 ml, prosedur ini dilakukan
sebelah kanan dan kiri.
g. Vas deferens dengan kulit skrotum yang ditegangkan difiksasi di
dalam lingkaran klem fiksasi pada garis tengah skrotum. Kemudian
klem direbahkan ke bawah sehingga vas deferens mengarah ke
bawah kulit.
h. Kemudian tusuk bagian yang paling menonjol dari vas deferens,
tepat disebelah distal lingkaran klem dengan sebelah ujung klem
diseksi dengan membentuk sudut ± 45 derajat.
i. Renggangkan ujung-ujung klem pelan-pelan. Semua lapisan jaringan
dari kulit sampai dinding vas deferens akan dapat dipisahkan dalam
satu gerakan. Setelah itu dinding vas deferens yang telah telanjang
dapat terlihat.
j. Dengan ujung klem diseksi menghadap kebawah, tusukkan salah
satu ujung klem diputar menghadap keatas. Ujung klem pelan-pelan
dirapatkan dan pegang dinding anterior vas deferens. Lepaskan klem
fiksasi dari kulit dan pindahkan untuk memegang vas deferens yang
sudah telanjang dengan klem fiksasi lalu lepaskan klem fiksasi.
k. Pada tempat vas deferens yang melengkung, jaringan sekitarnya
dipisahkan pelan-pelan kebawah dengan klem diseksi. Kalau lobang
telah cukup luas, lalu klem diseksi dimasukkan ke lobang tersebut.
Kemudian buka ujung-ujung klem pelan-pelan paralel dengan arah
vas deferens yang diangkat. Diperlukan kira-kira 2 cm vas deferens
yang bebas. Vas deferens di-crush secara lunak dengan klem diseksi,
sebelum dilakukan ligasi dengan benang sutra 3 – 0.
l. Di antara dua ligasi kira-kira 1 – 1,5 cm vas deferens dipotong dan
diangkat. Benang pada putung distal sementara tidak dipotong.
Kontrol perdarahan dan kembalikan putung-putung vas deferens
dalam skrotum.
m. Tarik pelan-pelan pada putung yang distal. Pegang secara halus fasia
vas deferens dengan klem diseksi dan tutup lobang fasia dengan
mengikat sedemikian rupa sehingga putung bagian epididimis

4
tertutup dan putung distal ada di luar fasia. Apabila tidak ada
perdarahan pada keadaan vas deferens tidak tegang, maka benang
yang terakhir dapat dipotong dan vas deferens dikembalikan dalam
skrotum.
n. Lakukanlah tindakan di atas (langkah 7 – 13) untuk vas deferens
sebelah yang lain, melalui luka di garis tengah yang sama. Kalau
tidak ada perdarahan, luka kulit tidak perlu dijahit hanya
diaproksimasikan dengan band aid atau tensoplas.

D. Keuntungan
a. Tubektomi
1. Sangat efektif (0,5 kehamilan per 100 perempuan selama tahun pertama
penggunaan)
2. Tidak mempengaruhi proses me nyusui (breastfeeding)
3. Tidak bergantung pada faktor senggama
4. Baik bagi klien apabila kehamilan akan menjadi risiko kesehatan yang
serius
5. Pembedahan sederhana, dapat dilakukan dengan anestesi lokal
6. Tidak ada efek samping dalam jangka panjang
7. Tidak ada perubahan dalam fungsi seksual (tidak ada efek pada produksi
hormon ovarium)
b. Vasectomi
1. Teknik operasi kecil yang sederhana dapat dikerjakan kapan saja.
2. Komplikasi yang dijumpai sedikit dan ringan
3. Biaya murah dan terjangkau oleh masyarakat
4. Vasektomi akan mengalami klimaktorium dalam suasana alami
(Manuaba, 1998)
5. Baik yang dilakukan pada laki-laki yang tidak ingin punya anak.
6. Vasektomi lebih murah dan lebih sedikit komplikasi dari sterilisasi
tubulus.
7. Laki-laki memiliki kesempatan untuk mengubah kontrasepsi dengan
istrinya.

5
8. Tidak mempengaruhi kemampuan seseorang dalam menikmati
hubunganseksual.

E. Kerugian
a. Tubektomi
1. Metode ini merupakan metode kontrasepsi permanen yang tidak dapat
dipulihkan kembali, kecuali dengan operasi rekanalisasi
2. Anda mungkin akan menyesal di kemudian hari karena memilih metode
ini. Ini bisa terjadi jika anda belum memiliki keyakinan yang benar-
benar mantap memilih metode ini.
3. Akan mengalami rasa sakit dan ketidaknyamanan jangka pendek setelah
dilakukan pembedahan
4. Risiko komplikasi dapat meningkat jika dilakukan anestesi umum
5. Dibutuhkan dokter spesialis ginekologi atau dokter spesialis bedah jika
yang dilakukan adalah proses laparoskopi
6. Tidak dapat melindungi anda dari infeksi menular seksual, termasuk
HIV/AIDS.
b. Vasektomi
1. Cara ini tidak langsung efektif, perlu menunggu beberapa waktu setelah
benar-benar sperma tidak ditemukan berdasarkan analisa sperma.
2. Masih merupakan tindakan operasi maka pria masih merasa takut.
3. Beberapa laki-laki takut vasektomi akan mempengaruhi kemampuan
seks atau menyebabkan masalah ereksi.
4. Ada sedikit rasa sakit dan ketidaknyamanan beberapa hari setelah
operasi, rasa sakit ini biasanya dapat lega oleh konsumsi obat-obatan
lembut.
5. Seringkali harus melakukan dengan kompres es selama 4 jam untuk
mengurangi pembengkakan, perdarahan dan rasa tidak nyaman dan
harus memakai celana yang dapat mendukung skrotum selama 2 hari.
6. Pasien diminta untuk memakai kondom terlebih dahulu untuk
membersihkan tabung dari sisa sperma yang ada. Untuk mengetahui

6
yang steril atau tidak, pemeriksaan mikroskopis biasanya dilakukan 20-
30 kali setelah ejakulasi.
7. Vasektomi tidak memberikan perlindungan terhadap infeksi menular
seksual termasuk HIV.
8. Penyesalan setelah vasektomi lebih besar jika orang itu masih di bawah
usia 25 tahun, telah terjadi perceraian atau anak yang meninggal.
9. Dibutuhkan 1-3 tahun untuk benar-benar menentukan apakah vasektomi
dapat bekerja efektif 100 persen atau tidak. Walaupun vasektomi dinilai
paling efektif untuk mrngontrol kesuburan pria namun masih mungkin di
jumpai suatu kegagalan.
10. Vasektomi dianggap gagal bila:
11. Pada analisis sperma setelah 3 bulan pascavasektomi atau setelah 15 –
20 kali ejakulasi masih dijumpai spermatozoa.
12. Dijumpai spermatozoa setelah sebelumnya azoosperma
13. Istri ( pasangan ) hamil.

F. Efek Samping
a. Tubektomi
Reaksi alergi anestesi
 Menjelaskan sebab terjadinya bahwa adanya reaksi hipersensitif atau
alergi karena masuknya larutan anestesi lokal ke dalam sirkulasi darah
atau pemberian anestesi lokal yang melebihi dosis
 Reaksi ini dapat terjadi pada saat dilakukan tindakan operasi baik
operasi besar atau kecil.
Infeksi atau abses pada luka
 Menjelaskan sebab terjadinya karena tidak terpenuhinya standar
sterilitasi alat operasi dan pencegahan infeksi, atau kurang sempurnanya
teknik perawatan luka pasca operasi
 Gejala ini umumnya terjadi karena kurang diperhatikannya strerilitas
alat dan ruangan, kurang sempurnanya persiapan operasi teknik dan
perawatan luka pasca operasi

7
Perforasi rahim
 Menjelaskan sebab terjadinya dikarenakan elevator rahim didorong
terlalu kuat kearah yang salah, teknik operasi yang cukup sulit dan
peralatan yang kurang memadai, serta keadaan anatomi tubuh yang
rumit (biasanya posisi rahim hiperretrofleksi, adanya perlengketan pada
rahim, pasca keguguran)
 Terangkan mengenai teknik yang dipakai pada tubektomi serta anatomi
tubuh manusia
Perlukaan kandung kencing
 Menjelaskan sebab terjadinya dikarenakan tidak sempurnanya
pengosongan kandung kencing
 Terangkan mengenai teknik yang dipakai pada tubektomi serta anatomi
tubuh manusia
Perlukaan usus
 Menjelaskan sebab terjadinya karena tindakan yang tidak sesuai
prosedur, teknik operasi yang cukup sulit dan peralatan yang kurang
memadai, serta keadaan anatomi tubuh yang rumit
 Terangkan mengenai teknik yang dipakai pada tubektomi serta anatomi
tubuh manusia
Perdarahan mesosalping
 Menjelaskan sebab terjadinya karena terpotongnya pembuluh darah di
daerah mesosalping
b. Vasektomy
 Rasa nyeri atau ketidaknyamanan akibat pembedahan yang biasanya
hanya berlangsung beberapa hari.
 Pembentukan granuloma relatif jarang dan merupakan keluhan yang
nantinya hilang sendiri.
 Infeksi apabila perawatan pasca operasinya tidak bagus.

G. Indikasi
1. Usia >26 tahun
2. Memiliki keturunan > 2

8
3. Yakin telah mempunyai besar keluarga yang sesuai dengan kehendaknya
4. Pada kehamilannya akan menimbulkan risiko kesehatan yang serius
5. Pasca persalinan
6. Pasca keguguran
7. Paham dan secara sukarela setuju dengan prosedur ini

H. Kontraindikasi
a. Tubektomi
1. Hamil
2. Perdarahan vaginal yang belum terjelaskan
3. Infeksi sistemik atau pelvik yang akut
4. Tidak boleh menjalani proses pembedahan
5. Kurang pasti mengenai keinginannya untuk fertilitas di masa depan
6. Belum memberikan persetujuan tertulis
7. Laparoskopi juga tidak boleh dilakukan pada pasien dengan penyakit
jantung dan paru yang berat
8. Jika ada permintaan sterilisasi saat persalinan dan ternyata timbul
komplikasi ada ibu atau janin maka permintaan tersebut bisa di tolak

b. Vasectomi
Beberapa hal yanga dapat menimbulkan kontra indikasi dan cara
penanganannya:
1. Perdarahan
Apabila perdarahan sedikit, cukup dengan pengamatan saja. Bila
banyak, hendaknya dirujuk segera ke fasilitas kesehatan lain yang lebih
lengkap. Di sini akan dilkukan operasi kembali dengan anestesi umum,
membuka luka, mengeluarkan bekuan-bekuan darah dan kemudian
mencari sumber perdarahan serta menjepit dan mengikatnya. Setiap
keluhan pembengkakan isi skrotum pascavasektomi hendaknya dicurigai
sebagai perdarahan dan dilakukan pemeriksaan yang seksama. Bekuan
darah di dalam skrotum yang tidak dikeluarkan akan mengundang
kuman-kuman dan menimbulkan infeksi.

9
2. Hematoma
Biasanya terjadi bila daerah skrotum diberi beban yang berlebihan,
misal naik sepeda, duduk terlalu lama dalam kendaraan dengan jalanan
yang rusak dan sebagainya.
3. Infeksi
Infeksi pada kulit skrotum cukup dengan mengobati menurut prinsip
pengobatan luka kulit. Apabila basah, dengan kompres (dengan zat yang
tidak merangsang). Apabila kering dengan salep antibiotika. Apabila
terjadi infiltrat di dalam kulit skrotum di tempat vasektomi sebaiknya
segera dirujuk ke rumah sakit. Di sini pasien akan diistirahatkan dengan
berbaring, kompres es pemberian antibiotika, dan analgetika.
4. Granuloma sperma
Dapat terjadi pada ujung proksimal vas atau rpidemilis. Gejalanya
merupakan benjolan kenyal dengan kadang – kadang keluhan nyeri.
Granuloma sperma dapat terjadi 1 – 2 minggu setelah vasektomi. Pada
keadaan ini dilakukan eksisi granuloma dan mengikat kembali vas
deferens. Terjadi pada 0.1 – 30 % kasus.

I. Waktu Dilakukan
Tubektomi
1. Setiap waktu selama siklus menstruasi apabila diyakini secara rasional klien
tidak hamil
2. Hari ke-6 hingga ke-13 dari siklus menstruasi (fase proliferasi)
3. Pasca persalinan; minilap di dalam waktu 2 hari atau hingga 6 minggu atau
12 minggu, laparoskopi tidak tepat untuk klien pasca persalinan
4. Pasca keguguran; Triwulan pertama (minilap atau laparoskopi), Triwulan
kedua (minilap saja).

10
BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian
a. Identitas Pasien Identitas Suami
1) Nama : Ny. A 1) Nama : Tn. B
2) Umur : 40 2) Umur : 42
3) Agama : Islam 3) Agama : Islam
4) Suku bangsa : Jawa 4) Suku bangsa : Jawa
5) Pendidikan : SMA 5) Pendidikan : SMA
6) Pekerjaan : IRT 6) Pekerjaan : Swasta
7) Alamat :Sadon
Rt/Rw 05/06 Ngemplak
Boyolali
b. Anamnesa (Data Subjektif)
1) Keluhan Utama
Klien mengatakan tidak ingin memiliki anak lagi karena sudah
memiliki 3 orang anak
2) Riwayat Kesehatan Sekarang
Klien datang bersama dengan suami ke dr.SPOG untuk
berkonsultasi mengenai Keluarga Berencana (KB), klien
mengatakan tidak ingin memiliki anak lagi karena sudah memiliki
3 anak dan tidak ingin merencanakan ke hamilan berikutnya. Klien
menanyakan KB apa yang cocok untuknya, dokter menyarankan
untuk melakukan sterilisasi Tubektomi. Setelah dijelaskan bahwa
Tubektomi melalui proses pembedahan, klien merasa khawatir
3) Riwayat Perkawinan
Klien mengatakan menikah 1 kali umur 23 tahun, lamanya
perkawinan sudah 17 tahun dan telah mempunyai 3 anak
4) Riwayat Menstruasi
a. Menarche : umur 13 tahun
b. Siklus : ± 28 hari

11
c. Lama : ± 1 minggu
d. Banyaknya : sehari 2-3 kali ganti pembalut
e. Teratur/tidak teratur : teratur tiap bulan
f. Sifat darah : encer, ada gumpalan warna merah
kehitaman
g. Dismenorhoe : pada hari pertama kadang terasa
sakit perut tapi tidak mengganggu aktivitas
5) Riwayat Obstetri
No Tahun Tempat Umur Jenis Anak Nifas Keadaan
partus partus kehamilan partus sekarang
JK BB PB Keadaan Laktasi
1 2003 RS 9 bulan Spontan laki- 3300 48 cm Baik 2 tahun Hidup
laki gr
2 2006 RS 9 bulan Spontan Pr 3200 50 cm Baik 2 tahun Hidup
gr
3 2013 RS 9 bulan Spontan Lali- 3500 47 cm Baik 2 tahun Hidup
laki gr

6) Riwayat KB
a) Ibu mengatakan setelah kelahiran anak pertama menggunakan
KB suntik selama 1 tahun Keluhan: ibu mengatakan tidak ada
keluhan
b) Ibu mengatakan setelah kelahiran anak kedua menggunakan
KB suntik selama 6 tahun Keluhan: ibu mengatakan tidak ada
keluhan
7) Riwayat Penyakit
a) Riwayat Penyakit Sekarang
Klien mengatakan sedang tidak sakit apapun, seperti: batuk
pilek, pusing, flu, dll.
b) Riwayat Penyakit Sistemik
a. Jantung : klien mengatakan dada tidak pernah
berdebar kencang dan tidak pernah keluar keringat
dingin pada telapak tangan.

12
b. Ginjal : klien mengatakan tidak pernah mengeluh
nyeri perut bagian bawah baik kanan maupun kiri dan
tidak merasa sakit saat buang air kecil
c. Asma : klien mengatakan tidak pernah merasa
sesak nafas
d. TBC : klien mengatakan tidak pernah batuk
berbulan-bulan ataupun batuk berdarah
e. Hepatitis : klien mengatakan pada mata dan ujung
kuku tidak pernah terlihan kuning
f. DM : klien mengatakan tidak pernah menderita diabetes
g. Hipertensi : klien mengatakan tidak pernah mengalami
tekanan darah tinggi
h. Epilepsi : klien mengatakan tidak pernah mengalami
kejang
c) Riwayat Penyakit Keluarga
a. Penyakit Menurun
Klien mengatakan dalam keluarga tidak ada yang
menderita penyakit menurun seperti asma, jantung
ataupun diabetes.
b. Penyakit Menular
Klien mengatakan dalam keluarga tidak ada yang
menderita penyakit menular seperti penyakit kelamin
ataupun penyakit kulit
d) Riwayat Keturunan Kembar
Klien mengatakan dalam keluarga baik dari pihak dirinya
ataupun dari pihak suami tidak ada yang mempunyai keturunan
kembar.
e) Riwayat Operasi
Klien mengatakan belum pernah operasi apapun

13
8) Riwayat Kebiasaan Sehari-Hari
a) Nutrisi
Klien mengatakan makan sehari 3 kali (nasi, sayur, lauk) dan
minum ± 6 gelas air putih sehari
b) Eliminasi
Klien mengatakan BAK sehari ± 5 kali, warna kuning jernih
dan BAB 1 kali sehari, konsistensi lembek dan warna
kekuningan
c) Istirahat
Klien mengatakan tidur sehari ± 9 jam, tidur siang 1 jam dan
tidur malam 8 jam
d) Aktifitas
Klien mengatakan setiap hari melakukan aktivitasnya sebagai
ibu rumah tangga seperti menyapu, mengepel, mencuci baju,
dll
e) Personal Hygiene
Klien mengatakan sehari mandi 2 kali pagi dan sore hari
f) Kebutuhan seksualitas
Klien merupakan seorang wanita berumur 40 tahun, tidak
mengalami masalah dengan area genitalia, klien sudah menikah
9) Konsep Diri
a) Harga diri
Klien dan suami mengatakan saat ini merasa bahagia dengan
keluarganya saat ini.
b) Ideal diri
Klien sudah bahagia dan tidak ingin memiliki anak lagi karena
sudah bahagia memiliki 3 anak.
c) Identitas diri
Klien mengatakan bahwa dia adalah seorang wanita yang
berumur 40 tahun dengan 3 orang anak dan 1 suami.

14
d) Gambaran diri
Klien mengatakan bahwa dia menerima keadaannya saat ini
sebagai ibu dari 3 orang anak dan sebagai seorang istri.
e) Peran diri
Klien mengatakan selama dirawat di rumah dapat menjalani
peran normalnya yaitu menjadi ibu rumah tangga yang baik
dengan mengurus suami dan ketiga orang anaknya.
f) Kebutuhan Stress Koping
Klien mengatakan saat merasa jenuh di rumah, klien mengajak
keluarga berekreasi keluar rumah.
g) Kebutuhan Komunikasi dan Informasi
Klien mengatakan awalnya bingung akan menggunakan jenis
kontrasepsi apa yang sesuai dengan keinginannya yang tidak
ingin memiliki anak lagi yang aman dan tidak memiliki efek
samping jangka panjang. Sehingga dokter menyarankan untuk
melakukan Tubektomi. Klien mengatakan tidak mengetahui apa
itu Tubektomi. Setelah dijelaskan oleh dokter tentang proses
Tubektomi tersebut klien merasakan khawatir.
h) Kebutuhan Rekreasi
Klien mengatakan selama di rumah hiburannya hanyalah
menyibukkan dirinya dengan berolahraga karena klien memiliki
hobi olahraga.
c. Pemeriksaan Fisik
1) Status Generalis
a. Keadaan Umum : baik
b. Kesadaran : composmentis
c. TTV :
TD : 130/70 mmHg
N : 80 x/m
S : 36,6 0 C
R : 20x/m

15
d. TB : 155 cm
e. BB : 50 kg
2) Pemeriksaan Sistematis
a. Kepala :
Rambut bersih, tidak ada ketombe, tidak rontok warna
hitam. Conjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik.
Hidung simetris bersih, tidak ada polip. Telinga bersih,
simetris tidak ada serumen. Mulut bersih, tidak stomatitis,
gigi tidak caries, gusi tidak berdarah.
b. Leher
Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid dan kelenjar limfe
c. Dada dan axilla
Mammae simetris antara kiri dan kanan, tidak ada benjolan
tidak ada nyeri tekan
d. Abdomen
Tidak ada pembesaran uterus, tidak ada nyeri tekan, tidak
ada bekas operasi
e. Anogenital
1. Vulva vagina
a) Varices : tidak ada varices
b) Luka : tidak ada luka
c) Kemerahan : tidak ada kemerahan
d) Nyeri : tidak ada nyeri
e) Kelenjar Bartolini : tidak ada pembesaran
kelenjar bartolini
f) Pengeluaran pervagina : tidak ada
2. Inspeculo
a) Vagina : warna merah muda
b) Vulva : normal tidak ada varices/oedema
c) Tanda Chadwick : tidak ada warna kebiruan
3. Pemeriksaan dalam
a) Posisi uterus : normal (retrofleksi)

16
b) Tumor/benjolan : tidak ada benjolan
c) Nyeri : tidak ada nyeri sentuh pada portio
4. Anus
Haemoroid : tida ada haemoroid
f. Ekstremitas
Varices : tidak ada varices pada kaki kanan kiri
Oedema : tidak ada oedema pada tangan/kaki
3) Pemeriksan Penunjang
Pemeriksaan labolatorium : Hb 11,6 gr%
Pemeriksaan penunjang lain : tidak dilakukan

17
ANALISA DATA

No. Data Etiologi Masalah


1 DS: Syarat sukarela Defisien pengetahuan
- Klien mengatakan tidak Syarat bahagia
mengetahui jenis Syarat kesehatan
kontrasepsi yang cocok
untuk keinginanannya Keinginan untuk
- Klien mengatakan tidak melakukan
mengetahui tentang apa kontrasepsi permanen
dan bagaimana prosedur
tindakan Tubektomi Tubektomi (MOW)
DO:
- Kurangnya pengetahuan. Pre Operasi

Kurangnya
pengetahuan
mengenai
pembedahan
(kontrasepsi)
2 DS : Syarat sukarela Ansietas
- Klien mengatakan Syarat bahagia
merasa khawatir dengan Syarat kesehatan
proses pembedahan yang
akan dilakukannya. Keinginan untuk
DO : melakukan
- Klien sangat khawatir kontrasepsi permanen

Tubektomi (MOW)

Pre Operasi

Tindakan
pembedahan

Ansietas

18
RENCANA KEPERAWATAN
No. Data Tujuan (NOC) Intervensi (NIC) Evaluasi
Dx
1 - Defisiensi Setelah dilakukan tindakan 1.1 Review pengetahuan S:
pengetahuan keperawatan selama 1x24 jam. pasien mengenai - Klien mengatakan sudah mengetahui
berhubungan dengan Ditunjukan dengan kriteria hasil. kondisinya mengenai berbagai jenis kontrasepsi
kurangnya sumber NOC : pengetahuan : proses 1.2 Identifikasi - Klien mengatakan sudah mengetahui
pengetahuan dan penyakit kemungkinan apa dan bagaimana prosedur tindakan
informasi. Indikator 1 2 3 4 5 penyebab, sesuai tubektomi
DS: kebutuhan.
Faktor-faktor
- Klien mengatakan 1.3 Berikan informasi O:
penyebab
tidak mengetahui pada pasien
dan faktor
jenis kontrasepsi mengenai No Indikator awal akhir Target
yang
yang cocok untuk kondisinya, sesuai 1 Faktor-faktor 1 5 5
berkontribusi
keinginannya kebutuhan. penyebab
Faktor resiko
- Klien mengatakan 2.1Diskusikan dan faktor
tidak mengetahui perubahan gaya yang
tentang apa dan hidup yang mungkin berkontribusi
Keterangan:
bagaimana prosedur diperlukan untuk 2 Faktor resiko 1 5 5
1. Tidak ada pengetahuan
tindakan Tubektomi mencegah
2. Pengetahuan terbatas
DO: komplikasi dimasa A: Masalah belum teratasi
3. Pengetahuan sedang
Kurangnya yang akan datang
4. Pengetahuan banyak
pengetahuan. 2.2 Edukasi pasien P: Intervensi dilanjutkan
5. Pengetahuan sangat
mengenai tindakan
banyak
untuk mengontrol/
meminimalkan
gejala, sesuai
kebutuhan

19
2 Ansietas berhubungan Setelah dilakukan tindakan 1.1 Jelaskan semua S:
dengan pembedahan. keperawatan selama 1 kali 24 jam. prosedur termasuk - Klien mengatakan sudah tidak
DS : Ditunjukkan dengan kriteria hasil. sensasi yang akan merasakan khawatir dan cemas yang
- Klien mengatakan NOC : Tingkat kecemasan dirasakan yang berlebihan
merasa khawatir Indikator 1 2 3 4 5 mungkin akan
dengan proses dialami klien selama O:
Rasa takut
pembedahan yang prosedur dilakukan. No Indikator awal akhir Target
yang
akan dilakukannya. 1.2 Dorong herbalisasi 1 Rasa takut 2 5 5
disampaikan
DO : perasaan , persepsi yang
secara lisan
Klien sangat khwatir dan ketakutan. disampaikan
Rasa cemas
1.3 Berikan aktivitas secara lisan
yang
pengganti yang 2 Rasa cemas 2 5 5
disampaikan
bertujuan untuk yang
secara lisan
mengurangi tekanan. disampaikan
Keterangan: 2.1 Bantu klien meng - secara lisan
1. Berat identifikasi yang
2. Cukup berat memicu kecemasan. A : Masalah teratasi
3. Sedang
4. Ringan 2.2 Instruksikan klien P : Intervensi dihentikan
5. Tidak Ada untuk menggunakan
teknik relaksasi.

20
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
No.
Tgl Jam Implementasi Evaluasi Formatif (Hasil)
Dx
21-12-18 1 08.00 - Review pengetahuan pasien S :
mengenai kondisinya - Klien mengatakan sudah mengetahui mengenai
- Identifikasi kemungkinan penyebab, berbagai jenis kontrasepsi
sesuai kebutuhan. - Klien mengatakan sudah mengetahui apa dan
- Berikan informasi pada pasien bagaimana prosedur tindakan tubektomi
mengenai kondisinya, sesuai
kebutuhan. O:
- Diskusikan perubahan gaya hidup No Indikator awal akhir Target
yang mungkin diperlukan untuk 1 Faktor-faktor penyebab 1 5 5
mencegah komplikasi dimasa yang dan faktor yang
akan datang berkontribusi
- Edukasi pasien mengenai tindakan 2 Faktor resiko 1 5 5
untuk mengontrol/ meminimalkan

21-12-18 2 08.40 - Jelaskan semua prosedur termasuk S :


sensasi yang akan dirasakan yang - Klien mengatakan sudah tidak merasakan khawatir dan
mungkin akan dialami klien selama cemas yang berlebihan
prosedur dilakukan.
- Dorong herbalisasi perasaan , O:
persepsi dan ketakutan. No Indikator awal akhir Target
- Berikan aktivitas pengganti yang 1 Rasa takut 2 5 5
bertujuan untuk mengurangi yang
tekanan. disampaikan
- Bantu klien meng -identifikasi yang secara lisan
memicu kecemasan. 2 Rasa cemas 2 5 5
- Instruksikan klien untuk yang
menggunakan teknik relaksasi. disampaikan
secara lisan

21
EVALUASI KEPERAWATAN
Tanggal No. Jam Evaluasi (SOAP)
Dx
21-12- 1 10.00 S:
18 - Klien mengatakan sudah mengetahui mengenai berbagai jenis kontrasepsi
- Klien mengatakan sudah mengetahui apa dan bagaimana prosedur tindakan tubektomi

O:

No Indikator awal akhir Target


1 Faktor-faktor 1 5 5
penyebab
dan faktor
yang
berkontribusi
2 Faktor resiko 1 5 5

A: Masalah belum teratasi

P: Intervensi dilanjutkan
2 10.00 S :
- Klien mengatakan sudah tidak merasakan khawatir dan cemas yang berlebihan

O:
No Indikator awal akhir Target
1 Rasa takut 2 5 5
yang
disampaikan
secara lisan
2 Rasa cemas 2 5 5

22
yang
disampaikan
secara lisan

A : Masalah teratasi

P : Intervensi dihentikan

23
BAB III
PENUTUP

Bahwa tubektomi adalah KB yang 99% efektif. Hanya 1 dari 200 wanita yang disterilisasi
namun kemudian hamil. Pada kasus yang sangat jarang terjadi itu, tuba falopi wanita
kembali menyambung setelah dipotong atau ditutup. Dengan kategori ;
 Sangat efektif dan mantap Tindakan pembedahan yang aman dan sederhana
 Tidak ada efek samping
 Konseling dan informed consent (persetujuan tindakan) mutlak diperlukan
 Tidak ada perubahan dalam fungsi seksual (tidak ada efek pada produksi hormon
ovarium)

Vasektomi merupakan salah satu pilihan alat kontrasepsi untuk pria yang aman dan
tentunya diperuntukan untuk pria yang tidak ingin punya anak. Prosedur yang dilakukan
untuk vasektomi pun sangat aman karena ini adalah operasi kecil.

24
DAFTAR PUSTAKA

http://dhiyah-muharrikah.blogspot.com/2012/05/tubektomy-dan-vasektomy-makalah.html

25