Você está na página 1de 37

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kesehatan jiwa merupakan salah satu dari empat masalah kesehatan utama di negara-
negara maju. Meskipun masalah kesehatan jiwa tidak dianggap sebagai gangguan yang
menyebabakan kematian secara langsung, namun gangguan tersebut dapat menimbulkan
ketidakmampuan individu dalam berkarya serta ketidak tepatan individu dalam berprilaku
yang dapat mengganggu kelompok dan masyarakat serta dapat menghambat
pembangunan karena mereka tidak produktif. (Hawari, 2001)

Prevalensi gangguan waham menetap di dunia sangat bervariasi, berdasarkan


beberapa literatur, prevalensi gangguan waham menetap pada pasien yang dirawat inap
dilaporkan sebesar 0,5-0,9% dan pada pasien yang dirawat jalan, berkisar antara 0,83-
1,2%. Sementara, pada populasi dunia, angka prevalensi dari gangguan ini mencapai 24-
30 kasus dari 100.000 orang (Ariawan dkk, 2014). Sedangkan di Jawa Tengah sendiri
menurut direktur RSJD Amino Gondohutomo Semarang dr. Sri Widyayati, Sppk, M.Kes
mengatakan di tahun 2009 angka kejadian penderita gangguan jiwa di jawa tengah
berkisar antara 3300 orang sampai 9300 orang, angka kejadian ini merupakan penderita
yang sudah terdiagnosa. Pasien rawat inap yang mengalami gangguan jiwa skizofrenia
paranoid dan gangguan psikotik dengan gejala curiga berlebihan, sikap eksentrik,
ketakutan, murung, bicara sendiri, galak dan bersikap bermusuhan. Gejala ini merupakan
tanda dari skizofrenia dengan perilaku waham sesuai dengan jenis waham yang
diyakininya (medical record, 2010).

Intensitas kecemasan yang tinggi, perasaan bersalah dan berdosa, penghukuman diri,
rasa tidak mampu, fantasi yang tak terkendali, serta dambaan-dambaan atau harapan yang
tidak kunjung sampai, merupakan sumber dari waham. Waham dapat berkembang jika
terjadi nafsu kemurkaan yang hebat, hinaan dan sakit hati yang mendalam (Kartono,
1981).

1
1.2 Rumusan Masalah

Bagaimana konsep Waham, dan Asuhan Keperawatan Waham.

1.3 Tujuan Penulis


1.3.1 Tujuan Umum
Agar mahasiswa mampu memahami tentang gangguan jiwa dengan masalah waham.

1.3.2 Tujuan Khusus


Supaya mahasiswa mampu menjelaskan:
1) Konsep waham
2) Asuhan Keperawatan Jiwa Waham

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi WAHAM
Waham adalah suatu keyakinan yang dipertahankan secara kuat terus-menerus,
tetapi tidak sesuai dengan kenyataan. (Budi Anna Keliat, 2006)
Waham adalah keyakinan seseorang yang berdasarkan penilaian realitas yang salah.
Keyakinan klien tidak konsisten dengan tingkat intelektual dan latar belakang budaya
klien (Aziz R, 2003).
Ramdi (2000) menyatakan bahwa itu merupakan suatu keyakinan tentang isi pikiran
yang tidak sesuai dengan kenyataan atau tidak cocok dengan intelegensia dan latar
belakang kebudayaannya, keyakinan tersebut dipertahankan secara kokoh dan tidak
dapat diubah-ubah.

B. Proses Terjadinya Waham


Proses terjadinya waham dibagi menjadi enam yaitu :
1. Fase Lack of Human need
Waham diawali dengan terbatasnya kebutuhan-kebutuhan klien baik secara fisik
maupun psikis. Secara fisik klien dengan waham dapat terjadi pada orang-orang
dengan status sosial dan ekonomi sangat terbatas. Biasanya klien sangat miskin dan
menderita. Keinginan ia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya mendorongnya untuk
melakukan kompensasi yang salah. Ada juga klien yang secara sosial dan ekonomi
terpenuhi tetapi kesenjangan antara Reality dengan selft ideal sangat tinggi. Misalnya
ia seorang sarjana tetapi menginginkan dipandang sebagai seorang yang dianggap
sangat cerdas, sangat berpengalaman dan diperhitungkan dalam kelompoknya.
Waham terjadi karena sangat pentingnya pengakuan bahwa ia eksis di dunia ini.
Dapat dipengaruhi juga oleh rendahnya penghargaan saat tumbuh kembang ( life span
history ).
2. Fase lack of self esteem
Tidak ada tanda pengakuan dari lingkungan dan tingginya kesenjangan antara self
ideal dengan self reality (kenyataan dengan harapan) serta dorongan kebutuhan yang
tidak terpenuhi sedangkan standar lingkungan sudah melampaui kemampuannya.
Misalnya, saat lingkungan sudah banyak yang kaya, menggunakan teknologi

3
komunikasi yang canggih, berpendidikan tinggi serta memiliki kekuasaan yang luas,
seseorang tetap memasang self ideal yang melebihi lingkungan tersebut. Padahal self
reality-nya sangat jauh. Dari aspek pendidikan klien, materi, pengalaman,
pengaruh, support system semuanya sangat rendah.
3. Fase control internal external
Klien mencoba berfikir rasional bahwa apa yang ia yakini atau apa-apa yang ia
katakan adalah kebohongan, menutupi kekurangan dan tidak sesuai dengan
kenyataan. Tetapi menghadapi kenyataan bagi klien adalah sesuatu yang sangat berat,
karena kebutuhannya untuk diakui, kebutuhan untuk dianggap penting dan diterima
lingkungan menjadi prioritas dalam hidupnya, karena kebutuhan tersebut belum
terpenuhi sejak kecil secara optimal. Lingkungan sekitar klien mencoba memberikan
koreksi bahwa sesuatu yang dikatakan klien itu tidak benar, tetapi hal ini tidak
dilakukan secara adekuat karena besarnya toleransi dan keinginan menjaga perasaan.
Lingkungan hanya menjadi pendengar pasif tetapi tidak mau konfrontatif
berkepanjangan dengan alasan pengakuan klien tidak merugikan orang lain.
4. Fase environment support
Adanya beberapa orang yang mempercayai klien dalam lingkungannya
menyebabkan klien merasa didukung, lama kelamaan klien menganggap sesuatu yang
dikatakan tersebut sebagai suatu kebenaran karena seringnya diulang-ulang. Dari
sinilah mulai terjadinya kerusakan kontrol diri dan tidak berfungsinya norma ( Super
Ego ) yang ditandai dengan tidak ada lagi perasaan dosa saat berbohong.
5. Fase comforting
Klien merasa nyaman dengan keyakinan dan kebohongannya serta
menganggap bahwa semua orang sama yaitu akan mempercayai dan mendukungnya.
Keyakinan sering disertai halusinasi pada saat klien menyendiri dari lingkungannya.
Selanjutnya klien lebih sering menyendiri dan menghindar interaksi sosial ( Isolasi
sosial ).
6. Fase improving
Apabila tidak adanya konfrontasi dan upaya-upaya koreksi, setiap waktu
keyakinan yang salah pada klien akan meningkat. Tema waham yang muncul sering
berkaitan dengan traumatik masa lalu atau kebutuhan-kebutuhan yang tidak terpenuhi
( rantai yang hilang ). Waham bersifat menetap dan sulit untuk dikoreksi. Isi waham
dapat menimbulkan ancaman diri dan orang lain. Penting sekali untuk mengguncang

4
keyakinan klien dengan cara konfrontatif serta memperkaya keyakinan relegiusnya
bahwa apa-apa yang dilakukan menimbulkan dosa besar serta ada konsekuensi sosial.

C. Faktor Prediposisi WAHAM


1. Genetis : diturunkan, adanya abnormalitas perkembangan sistem saraf yang
berhubungan dengan respon biologis yang maladaptif.
2. Neurobiologis : adanya gangguan pada korteks pre frontal dan korteks limbic
3. Neurotransmitter : abnormalitas pada dopamine, serotonin dan glutamat.
4. Virus : paparan virus influensa pada trimester III
5. Psikologis : ibu pencemas, terlalu melindungi, ayah tidak peduli.

D. Faktor Presipitasi WAHAM


1. Proses pengolahan informasi yang berlebihan
2. Mekanisme penghantaran listrik yang abnormal.
3. Adanya gejala pemicu

Rentang respon neurobiologi :

E. Manifestasi Klinis WAHAM


1. Gangguan fungsi kognitif (perubahan daya ingat)
Cara berpikir magis dan primitif, perhatian, isi pikir, bentuk dan
pengorganisasian bicara (tangensial, neologisme, sirkumtansial)
2. Fungsi persepsi
Depersonalisasi dan halusinasi
3. Fungsi emosi
5
Afek tumpul à kurang respon emosional, afek datar, afek tidak sesuai, reaksi
berlebihan, ambivalen

4. Fungsi motorik
Imfulsif à gerakan tiba-tiba dan spontan, manerisme, stereotopik à gerakan yang
diulang-ulang, tidak bertujuan, tidak dipengaruhi stimulus yang jelas, katatonia.
5. Fungsi sosial : kesepian
Isolasi sosial, menarik diri dan harga diri rendah.Dalam tatanan keperawatan
jiwa respon neurobiologis yang sering muncul adalah gangguan isi pikir : waham dan
gangguan persepsi sensori : halusinasi.

F. Klasifikasi Waham
Tanda dan gejala waham berdasarkan jenisnya meliputi :
1. Waham kebesaran: individu meyakini bahwa ia memiliki kebesaran atau kekuasaan
khusus yang diucapkan berulang kali, tetapi tidak sesuai kenyataan. Misalnya, “Saya
ini pejabat di departemen kesehatan lho!” atau, “Saya punya tambang emas.”
2. Waham curiga: individu meyakini bahwa ada seseorang atau kelompok yang berusaha
merugikan/mencederai dirinya dan siucapkan berulang kali, tetapi tidak sesuai
kenyataan. Contoh, “Saya tidak tahu seluruh saudara saya ingin menghancurkan hidup
saya karena mereka iri dengan kesuksesan saya.”
3. Waham agama: individu memiliki keyakinan terhadap terhadap suatu agama secara
berlebihan dan diucapkan berulang kali, tetapi tidak sesuai kenyataan. Contoh, “Kalau
saya mau masuk surga, saya harus menggunakan pakaian putih setiap hari.”
4. Waham somatic: individu meyakini bahwa tubuh atau bagian tubuhnya terganggu
atau terserang penyakit dan diucapkan berulang kali, tetapi tidak sesuai dengan
kenyataan. Misalnya, “Saya sakit kanker.” (Kenyataannya pada pemeriksaan
laboratorium tidak ditemukan tanda-tanda kanker, tetapi pasien terus mengatakan
bahwa ia sakit kanker).
5. Waham nihilistik: Individu meyakini bahwa dirinya sudah tidak ada di
dunia/meninggal dan diucapkan berulang kali, tetapi tidak sesuai kenyataan.
Misalnya, ”Ini kan alam kubur ya, sewmua yang ada disini adalah roh-roh”.
6. Waham sisip pikir : keyakinan klien bahwa ada pikiran orang lain yang disisipkan ke
dalam pikirannya.

6
7. Waham siar pikir : keyakinan klien bahwa orang lain mengetahui apa yang dia
pikirkan walaupun ia tidak pernah menyatakan pikirannya kepada orang tersebut
8. Waham kontrol pikir : keyakinan klien bahwa pikirannya dikontrol oleh kekuatan di
luar dirinya.

Kategori Waham :
1. Waham sistematis: konsisten, berdasarkan pemikiran mungkin terjadi walaupun
hanya secara teoritis.
2. Waham nonsistematis: tidak konsisten, yang secara logis dan teoritis tidak mungkin

G. Penatalaksanaan WAHAM
1. Psikofarmakologi
2. Pasien hiperaktif / agitasi anti psikotik low potensial
3. penarikan diri high potensial
4. ECT tipe katatonik
5. Psikoterapi
6. Perilaku, terapi kelompok, terapi keluarga, terapi supportif

H. Pohon Masalah WAHAM

7
I. Asuhan Keperawatan WAHAM
1. Data yang Perlu Dikaji
a. Resiko tinggi mencederai diri, orang lain dan lingkungan
1). Data subjektif
Klien memberi kata-kata ancaman, mengatakan benci dan kesal pada
seseorang, klien suka membentak dan menyerang orang yang mengusiknya jika
sedang kesal, atau marah, melukai / merusak barang-barang dan tidak mampu
mengendalikan diri.
2). Data objektif
Mata merah, wajah agak merah, nada suara tinggi dank eras, bicara
menguasai, ekspresi marah, pandangan tajam, merusak dan melempar barang-
barang.
b. Kerusakan komunikasi : verbal
1). Data subjektif
Klien mengungkapkan sesuatu yang tidak realistik
2). Data objektif
Flight of ideas, kehilangan asosiasi, pengulangan kata-kata yang didengar dan kontak mata
kurang
c. Perubahan isi pikir : waham (..)
1). Data subjektif :
Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya ( tentang agama, kebesaran,
kecurigaan, keadaan dirinya) berulang kali secara berlebihan tetapi tidak sesuai
kenyataan.
Pertanyaan yang dapat digunakan untuk mengkaji waham :
a). Apakah pasien memiliki pikiran/isi pikir yang berulang-ulang diungkapkan dan
menetap?
b). Apakah pasien takut terhadap objek atau situasi tertentu, atau apakah pasien
cemas secara berlebihan tentang tubuh atau kesehatannya?
c). Apakah pasien pernah merasakan bahwa benda-benda disekitarnya aneh dan tidak
nyata?
d). Apakah pasien pernah merasakan bahwa ia berada diluar tubuhnya?
e). Apakah pasien pernah merasa diawasi atau dibicarakan oleh orang lain?
f). Apakah pasien berpikir bahwa pikiran atau tindakannya dikontrol oleh orang lain
atau kekuatan dari luar?

8
g). Apakah pasien menyatakan bahwa ia memiliki kekuatan fisik atau kekuatan
lainnya atau yakin bahwa orang lain dapat membaca pikirannya?
2). Data objektif :
Klien tampak tidak mempunyai orang lain, curiga, bermusuhan, merusak (diri,
orang lain, lingkungan), takut, kadang panik, sangat waspada, tidak tepat menilai
lingkungan / realitas, ekspresi wajah klien tegang, mudah tersinggung
d. Gangguan harga diri rendah
1). Data subjektif
Klien mengatakan saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu apa-apa, bodoh,
mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan malu terhadap diri sendiri
2). Data objektif
Klien terlihat lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih alternatif tindakan,
ingin mencedaerai diri/ ingin mengakhiri hidup

J. Masalah Keperawatan WAHAM yang Mungkin Muncul


1. Resiko tinggi mencederai diri, orang lain dan lingkungan
2. Kerusakan komunikasi : verbal
3. Perubahan isi pikir : waham

K. Rencana Keperawatan WAHAM


Diagnosa Keperawatan 1: kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan
waham
1. Tujuan umum :
Klien tidak terjadi kerusakan komunikasi verbal
2. Tujuan khusus :
a). Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat:
Tindakan :
(1). Bina hubungan. saling percaya: salam terapeutik, perkenalkan diri, jelaskan
tujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang, buat kontrak yang jelas topik,
waktu, tempat).
(2). Jangan membantah dan mendukung waham klien: katakan perawat menerima
keyakinan klien “saya menerima keyakinan anda” disertai ekspresi menerima,
katakan perawat tidak mendukung disertai ekspresi ragu dan empati, tidak
membicarakan isi waham klien.

9
(3). Yakinkan klien berada dalam keadaan aman dan terlindungi: katakan perawat
akan menemani klien dan klien berada di tempat yang aman, gunakan
keterbukaan dan kejujuran jangan tinggalkan klien sendirian.
(4). Observasi apakah wahamnya mengganggu aktivitas harian dan perawatan diri.
b). Klien dapat mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki
Tindakan :
 Beri pujian pada penampilan dan kemampuan klien yang realistis.
 Diskusikan bersama klien kemampuan yang dimiliki pada waktu lalu dan saat ini
yang realistis.
 Tanyakan apa yang biasa dilakukan kemudian anjurkan untuk melakukannya saat
ini (kaitkan dengan aktivitas sehari hari dan perawatan diri).
 Jika klien selalu bicara tentang wahamnya, dengarkan sampai kebutuhan waham
tidak ada. Perlihatkan kepada klien bahwa klien sangat penting.
c) Klien dapat mengidentifikasikan kebutuhan yang tidak terpenuhi
Tindakan :
 Observasi kebutuhan klien sehari-hari.
 Diskusikan kebutuhan klien yang tidak terpenuhi baik selama di rumah maupun di
rumah sakit (rasa sakit, cemas, marah)
 Hubungkan kebutuhan yang tidak terpenuhi dan timbulnya waham.
 Tingkatkan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan klien dan memerlukan waktu
dan tenaga (buat jadwal jika mungkin).
 Atur situasi agar klien tidak mempunyai waktu untuk menggunakan wahamnya.
d) Klien dapat berhubungan dengan realitas
Tindakan :
 Berbicara dengan klien dalam konteks realitas (diri, orang lain, tempat dan waktu).
 Sertakan klien dalam terapi aktivitas kelompok : orientasi realitas.
 Berikan pujian pada tiap kegiatan positif yang dilakukan klien
e) Klien dapat menggunakan obat dengan benar
Tindakan :
 Diskusikan dengan kiten tentang nama obat, dosis, frekuensi, efek dan efek samping
minum obat
 Bantu klien menggunakan obat dengan priinsip 5 benar (nama pasien, obat, dosis, cara
dan waktu).

10
 Anjurkan klien membicarakan efek dan efek samping obat yang dirasakan
 Beri reinforcement bila klien minum obat yang benar.
f) Klien dapat dukungan dari keluarga
Tindakan :
 Diskusikan dengan keluarga melalui pertemuan keluarga tentang: gejala waham, cara
merawat klien, lingkungan keluarga dan follow up obat.
 Beri reinforcement atas keterlibatan keluarga.

Diagnosa Keperawatan 2: Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan


berhubungan dengan waham
1. Tujuan Umum:
Klien terhindar dari mencederai diri, orang lain dan lingkungan.
2. Tujuan Khusus:
a) Klien dapat membina hubungan saling percaya.
Tindakan:
· Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, empati, sebut nama perawat dan
jelaskan tujuan interaksi.
· Panggil klien dengan nama panggilan yang disukai.
· Bicara dengan sikap tenang, rileks dan tidak menantang.
· Beri perhatian dan penghargaan : teman klien walau tidak menjawab.
b) Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan.
Tindakan:
· Beri kesempatan mengungkapkan perasaan.
· Bantu klien mengungkapkan perasaan jengkel / kesal.
· Dengarkan ungkapan rasa marah dan perasaan bermusuhan klien dengan sikap tenang.
c) Klien dapat mengidentifikasi tanda tanda perilaku kekerasan.
Tindakan :
· Anjurkan klien mengungkapkan yang dialami dan dirasakan saat jengkel/kesal.
· Observasi tanda perilaku kekerasan.
· Simpulkan bersama klien tanda tanda jengkel / kesal yang dialami klien.
d) Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.
Tindakan:
· Anjurkan mengungkapkan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.

11
· Bantu bermain peran sesuai dengan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.
· Tanyakan “apakah dengan cara yang dilakukan masalahnya selesai?”
e) Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan.
Tindakan:
· Bicarakan akibat/kerugian dari cara yang dilakukan.
· Bersama klien menyimpulkan akibat dari cara yang digunakan.
· Tanyakan apakah ingin mempelajari cara baru yang sehat.
f) Klien dapat mengidentifikasi cara konstruktif dalam berespon terhadap kemarahan.
Tindakan :
· Beri pujian jika mengetahui cara lain yang sehat.
· Diskusikan cara lain yang sehat.Secara fisik : tarik nafas dalam jika sedang kesal,
berolah raga, memukul bantal / kasur.
· Secara verbal : katakan bahwa anda sedang marah atau kesal / tersinggung
· Secara spiritual : berdo’a, sembahyang, memohon kepada Tuhan untuk diberi
kesabaran.
g) Klien dapat mengidentifikasi cara mengontrol perilaku kekerasan.
Tindakan:
· Bantu memilih cara yang paling tepat.
· Bantu mengidentifikasi manfaat cara yang telah dipilih.
· Bantu mensimulasikan cara yang telah dipilih.
· Beri reinforcement positif atas keberhasilan yang dicapai dalam simulasi.
· Anjurkan menggunakan cara yang telah dipilih saat jengkel / marah.
h) Klien mendapat dukungan dari keluarga.
Tindakan :
· Beri pendidikan kesehatan tentang cara merawat klien melalui pertemuan keluarga.
· Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga.
i) Klien dapat menggunakan obat dengan benar (sesuai program).
Tindakan:
· Diskusikan dengan klien tentang obat (nama, dosis, frekuensi, efek dan efek samping)
· Bantu klien mengunakan obat dengan prinsip 5 benar (nama klien, obat, dosis, cara
dan waktu).
· Anjurkan untuk membicarakan efek dan efek samping obat yang dirasakan.

12
Diagnosa Keperawatan 3: Perubahan isi pikir : waham ( …….. ) berhubungan
dengan harga diri rendah
1. Tujuan umum :
Klien tidak terjadi gangguan konsep diri : harga diri rendah/klien akan meningkat harga
dirinya.
2. Tujuan khusus :
a) Klien dapat membina hubungan saling percaya
Tindakan :
· Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, perkenalan diri, jelaskan tujuan
interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang, buat kontrak yang jelas (waktu, tempat
dan topik pembicaraan)
· Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya
· Sediakan waktu untuk mendengarkan klien
· Katakan kepada klien bahwa dirinya adalah seseorang yang berharga dan
bertanggung jawab serta mampu menolong dirinya sendiri
b) Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
Tindakan :
· Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
· Hindarkan memberi penilaian negatif setiap bertemu klien, utamakan memberi
pujian yang realistis
· Klien dapat menilai kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
c) Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan
Tindakan :
· Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
· Diskusikan pula kemampuan yang dapat dilanjutkan setelah pulang ke rumah
d) Klien dapat menetapkan / merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang
dimiliki
Tindakan :
· Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai
kemampuan
· Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien
· Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan
e) Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi dan kemampuan
Tindakan :

13
· Beri kesempatan mencoba kegiatan yang telah direncanakan
· Beri pujian atas keberhasilan klien
· Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah
f) Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada
Tindakan :
· Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien
· Bantu keluarga memberi dukungan selama klien dirawat
· Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah
· Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga

14
ASUHAN KEPERAWATAN JIWA WAHAM KEBESARAN PADA TN. B DI RSJ HB
SA'ANIN PADANG

A. PENGKAJIAN
Ruang Rawat : Flamboyan
Tgl di Rawat : 17 September 2005

I. Identitas Klien
Insial : Tn B
Jenis kelamin : Laki-laki
Umur : 30 tahun
Informan : Status, klien, keluarga
Tanggal pengkajian : 3 Oktober 2005
No. RM : 45738

II. Alasan Masuk


Tn. B masuk melalui instalasi gawat darurat diantar oleh keluarganya dengan
keluhan karena mengamuk di Gramedia dan berkelahi dengan tukang parkir disana dan
sejak 4 hari sebelum masuk klien suka tiap sebentar gonta ganti baju tanpa alasan yang
jelas, keluar masuk rumah, emosi labil, mengikuti kemauan sendiri, tidur malam tidak
nyenyak, sering mandi tengah malam, marah-marah pada orang lain jika kemauannya
tidak dipenuhi. Berkelahi dengan orang lain, memecahkan perabotan rumah tangga,
berbicara dan senyum-senyum sendiri, terkadang menangis tanpa sebab, keluarga
kemudian mengurung klien dikamar karena klien mengamuk sampai memukul anggota
keluarga / orang lain yang ada didekatnya, karena tidak ada perubahan ± 1 hari maka
keluarga membawa klien ke RS Jiwa HB. Sa’anin Padang.

III. Faktor Predisposisi


1. Pernah mengalami gangguan jiwa masa lalu
Masuk RS Jiwa kali ini bukanlah untuk yang pertama kalinya. Klien
mengatakan ini adalah yang kelima kalinya masuk RS Jiwa. Keluhan penyakit
seperti ini atau gangguan jiwa pada klien dirasakan lebih kurang 10 tahun yang lalu.
Klien mengatakan terakhir dirawat satu setengah tahun yang lalu pulang dengan
tenang (pengertian ada, kontak sosial baik ) dengan anjuran untuk kontrol teratur di

15
poliklinik atau puskesmas terdekat dan minum obat secara teratur. Klien mengatakan
sejak 1 minggu yang lalu tidak minum obat, ia yang memegang dan mengatur
obatnya serta ia sering kelupaan minumnya.
Klien telah lima kali masuk RS jiwa yaitu :
1. Rawat I pada tahun 2000
2. Rawat II pada tahun 2001
3. Rawat III pada tahun 2001
4. Rawat IV pada tahun 2004
5. Rawat V pada tahun 2005
Setiap kali masuk rumah sakit jiwa HB. Sa'anin Padang keluarga mengatakan klien
datang dengan emosi labil, suka mengamuk dan marah-marah dirumah, keluarga
didekatnya dipukuli sampai keluarga takut
2. Pengobatan sebelumnya
Klien mengatakan pergi lambat ke dokter jiwa, kedokter spesialis ataupun ketempat
praktek dan rumah sakit jiwa Prof. Dr. Hb Sa’anin Padang sampai klien menceritakan
kalau dirinya kenal dengan dokter Najmir, dr. Diana dan banyak lagi yang disebutnya.
Klien mengatakan biasanya mengambil obat ke poliklinik setiap 2 minggu sekali. Klien
mengatakan juga pernah dibawa kedukun ataupun di beri pengajian (rukiyat) dan
hasilnya tidak begitu berarti.
3. Riwayat Aniaya/kekerasan
Klien mengatakan waktu kecil tidak pernah dianiaya atau mengalami kekerasan
oleh orang lain atau keluarga. Tetapi klien mengatakan setiap kemauannya tidak
terpenuhi klien suka marah-marah, melempar perabotan pada orang lain sampai
memukul keluarganya (menendang adiknya), klien juga mengatakan jika kemauannya
tidak dipenuhi maka emosinya akan meningkat dan ia tidak bisa mengontrol emosinya
tersebut. Selama dirawat klien pernah mengancam teman sekamarnya jika tidak mau
mengikuti perintahnya, ekspresi klien terlihat marah saat mengancam, wajah tampak
tegang.
MK : - Resiko tinggi mencederai orang lain/lingkungan
- Penatalaksanaan regimen terapeutik tidak efektif
4. Riwayat anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa
Klien mengatakan adik laki-laki ibunya pernah mengalami hal yang hampir sama,
tetapi hanya sekali mengalami kelainan jiwa kemudian dia bisa sembuh setelah dibawa
pada orang pintar

16
MK : Koping keluarga tidak efektif
4. Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan
Klien mengatakan ibunya sudah meninggal sejak tahun 2002. Klien mengatakan
ibunya adalah orang yang terdekat dengan dirinya dan belum sempat membahagiakan
ibunya, namun tuhan telah mengambilnya. Klien mengatakan hal lain yang membuat dia
bersedih dan menyesal sampai saat ini adalah keinginan untuk berbuat baik dan
memperhatikan adik perempuannya. Klien mengatakan merasa bersalah telah
menendang adiknya karena disaat itu emosinya labil dan tidak tekontrol. Klien
mengatakan sering putus cinta dan ditinggal pacarnya yang kawin dengan orang lain.
Hasil observasi saat pengkajian, klien tampak bersedih saat menceritakan pengalaman
masa lalunya, klien tampak sedih saat sehari sebelum puasa karena ingat ibunya yang
telah meninggal, klien menulis surat yang isinya penyesalan terhadap pacarnya.
MK : Berduka disfungsional

IV. Pemeriksaan Fisik


1. Tanda-tanda vital
TD : 130 /100 mmHg
N : 84 x/mnt
S : 370C
RR : 20 x/mnt
2. Ukur
TB : 165 cm
BB : 55 kg
3. Keluhan fisik
Klien mengatakan matanya sakit karena terjatuh didepan kamar, saat observasi mata
klien masih bengkak dan ada tanda lebam agak kehitaman
MK : Gangguan rasa nyaman : nyeri

17
V. Psikososial
1. Genogram

Klien adalah anak laki-laki dari 5 bersaudara, ia berasal dari keluarga yang cukup
berada, klien mengatakan ia tinggal bersama saudara dan pamannya. Semenjak kecil ia
diasuh oleh kedua orang tuanya dengan penuh kasih sayang. Apapun kenginannya, keluarga
selalu memenuhi, jika tidak terpenuhi klien selalu merajuk atau marah.
Klien mengatakan bahwa keputusan dirumah diambil oleh ayahnya termasuk
keputusan untuk dirawat di RSJ, klien mengatakan pamannya juga mengalami hal yang
sama dengannya, klien mengatakan didalam keluarga tidak terdapat diskusi untuk
menyelesaikan suatu masalah, komunikasi antara keluarga tertutup, dimana anggota
keluarga tidak pernah bercerita jika ada masalah. Pengambilan keputusan dalam keluarga
oleh ayahnya tanpa didisusunkan dulu dengan anggota keluarga lain.Keluarga baru satu kali
mengunjungi klien selama dirawat di RSJ.
MK: koping keluarga tak efektif
2. Konsep Diri
a Citra diri
Klien mengatakan menyukai seluruh bagian tubuhnya, tetapi yang paling klen sukai
adalah tangan kananya, karena lebih kuat.
b. Indentitas diri
Klien mengatakan anak yang ke 3 dari 5 bersaudara. Sebelumnya bekerja di
penjahit sinar sebagai tukang membuat pola atau memakaikan kancing tetapi yang
paling cepat klien mengobras. Ia puas sebagai laki-laki

18
c. Peran
Klien mengatakan didalam keluarganya ia berperan sebagai anak yang sangat
menyayangi ibunya, dimasyarakat ia berperan sebagai masyarakat biasa yang
mengikuti aturan yang dimasyarakat. Sebelum dirawat ia bekerja dipenjahit sinar yang
saa hasilnya digunakan untuk diri sendiri
d. Ideal diri
Klien berharap cepat sembuh dan dapat bekerja kembali seperti semula, setelah
keluar ia berkeingian berziarah ke makan ibunya dan meminta maaf pada adik
perempuannya yang pernah ditendangnya.
e. Harga diri
Klien mengatakan ia merasa tak berharga, selalu menyusahkan orang lain dan
tidak mandiri dalam hal pekerjaan, klien mengatakan ia merasa tidak dihargai oleh
lingkungannya karena tidak ada yang mau mendengar apa yang ia ceritakan. Klien
tampak menunduk sambil mengurut dadanya ketika menceritakan tentang harga
dirinya.
MK: Gangguan konsep diri : harga diri rendah
3. Hubungan Sosial
Klien mengatakan orang yang paling berarti bagi dirinya adalah ibunya tapi
sekarang ibunya tak ada lagi, sehingga tidak ada seorang yang berarti bagi dirinya,
sewaktu ibunya masih hidup ia selalu menceritakan kepada ibunya dan sekarang tak ada
tempat ia bercerita lagi, klien mengatakan dulu ia sering ikut kegiatan di
masyarakatnya, temannya banyak, selama dirawat di RSJ hubungan klien dengan teman-
temannya baik dan ikut serta membantu temannya bila ada kegiatan gotong royong.
MK : -
4. Spiritual
a. Nilai dan keyakinannya
Menurut klien semua yang ada dibumi, dilangit adalah musik, sang pencipta.
Demikian juga dengan dirinya. Setiap yang terjadi adalah kehendak Tuhan termasuk
yang didalamnya sekarang
b. Kegiatan ibadah
Klien tahu dengan kewajibannya yaitu sholat tetapi ada dikerjakan dan terkadang
ditinggalkannya. Dilihat dari ceritanya, klien sepertinya seorang yang tahu dengan
ajaran agama menurut cerita klien dia dulu sering mendapat juara sholat jenazah,
lomba azan dll. Klien bisa menulis ayat kursi dan sering membaca ayat-ayat pendek

19
MK : -

VI. Status Mental


1. Penampilan
Klien penampilan rapi, dengan baju yang selalu dimasukkan kedalam celana,
memakai ikat pinggang, rambut rapi selalu disisir, baju selalu diganti. Klien
mengatakan selalu mandi pagi, kemarin baru potong kuku kecuali jempol karena
menurut klien tukang jahit harus panjang jempolnya biar mudah menjahit
Mk : -
2. Pembicaraan
Klien mengatakan kalau dirinya terlalu banyak bicara dan terlalu cepat, ia susah
mengatur percakapannya. Saat berbicara klien cepat, cadel, pembicaraan sering
terputus, bila berbicara topiknya selalu berubah-ubah dari satu topik ke topik yang
lain.
MK : Gangguan komunikasi verbal
3. Aktifitas Motorik
Klien dapat beraktivitas dengan baik, seperti membersihkan ruangan setiap pagi klien
adalah salah satu pasien yang bisa diharapkan untuk bekerja.
MK : -
4. Alam Perasaan
Pada saat ditanyakan klien kenapa murung pada hari Selasa tanggal 4 Oktober 2005
klien mengatakan dia sedih mengingat ibunya yang sudah meninggal dan besok
adalah puasa pertama, dia tak bisa berkumpul dengan keluarga. Klien juga
menunjukkan sebuah surat yang isinya berupa penyesalan terhadap pacarnya
MK : Berduka disfungsional
5. Afek
Saat diwawancarai dan menceritakan masalahnya baik pengalaman yang
menyenangkan maupun yang menyedihkan respon yang diperhatikan klien sesuai
dengan stimulus ketika ditanya klien dapat menjawab dengan serius.
MK : -
6. Interaksi selama wawancara
Selama interaksi kontak mata klien bagus, klien cukup kooperatif. Walaupun
terkadang klien memunculkan sifat defensifnya ia mengatakan dirinya seorang yang
pintar dan hebat, dia yang membuat bom molotof.

20
MK : Gangguan komunikasi verbal
7. Persepsi
Klien mengatakan bahwa ia tidak mendengar suara-suara atau melihat bayangan.
MK : -
8. Proses Pikir
Klien dapat menjawab pertanyaan dengan baik, terkadang dalam pembicaraan klien
suka berbelit-belit tapi sampai pada tujuan (sirkum stansial), tetapi ini hanya kadang-
kadang tidak sering dilakukan.
MK : -
9. Isi Pikir
Pada saat pengkajian klien mengatakan bahwa dia hebat dan pintar, klien mengatakan
dia bisa memerintahkan orang ditempat kerjanya, klien mengatakan dia yang merakit
bom molotof, klien juga mengatakan dia kuliah di AIM, klien juga mengatakan dia
lulusan universitas di New York, klien mengatakan bisa membuat lampu dengan
sekali tepuk. Klien tampak membanggakan diri sambil membusungkan dadanya
ketika bercerita bahwa dia yang membuat bom molotof, semua yang dikatakan klien
diulang berkali-kali ( 2 –3 kali perhari ), klien mengatakan hal yang berbeda dengan
kenyataan secara berulang-ulang, klien sulit diorientasi ke realita, kalau bercerita klien
sering menguji orang lain kemudian mengatakan orang lain bodoh dengan rawut
wajah meremehkan orang lain.
MK : Gangguan isi pikir : waham kebesaran
10. Tingkat Kesadaran
Klien mengatakan bahwa ia sekarang berada di RS Jiwa Gadut diantar oleh
keluarganya karena suka mengamuk dan muntah-muntah dirumah, suka memecahkan
perabotan. Klien dapat menyebutkan tanggal, hari dan bulan serta tahun pada saat
dilakukan pengkajian.
MK : -
11. Memori
o Klien dapat mengingat kejadian sewaktu 6 bulan yang lalu ketika merantau
keperawang dan berdagang disana (kedai kelontong), klien dapat mengingat
kejadian-kejadian sebelum dibawa kerumah sakit jiwa dan ketika dibawa kerumah
sakit jiwa (diikat dan disuntik).
o Klien dapat mengingat nama perawat, klien dapat menceritakan kehidupan klien
sebelum masuk RS Jiwa klien merantau ke Batam, perawang dan Jakarta

21
MK : -
12. Tingkat konsentrasi dan berhitung
Klien dapat berkonsentrasi dengan apa yang sedang ia lakukan, kemampuan
berhitung sederhana seperti 3 x 3, 5 + 4, dan lain-lain.
MK : -
13. Kemampuan penilaian
Klien dapat mengambil keputusan yang sederhana seperti saat ia muntah dikamar dia
tahu harus membersihkan ruangan tersebut walaupun perlu diarahkan
MK : -
14. Daya Tilik Diri
Klien mengatakan dirinya tidak sakit, hanya dia tidak bsa mengontrol dirinya kalau
sedang emosi labil.
MK : -

VII. Kebutuhan Persiapan Pulang


1. Kemampuan klien mampu memenuhi/menyediakan kebutuhan
Klien mampu memilih pakaian yang tepat dan menyimpan pakaian setelah dicuci
klien rapi dalam penampilan, bersih tidak acak-acakan.
2. Kegiatan Hidup Sehari-hari
a. Perawatan diri
Pada saat pengkajian (setiap pagi) klien tampak habis mandi, gigi terlihat bersih
klien mengatakan ia mandi 2-3 x sehari, pagi dan sore kadang-kadang siang hari
jika klien merasa gerah. Klien dapa menyebutkan peralatan mandi yang ia
gunakan seperti sabun, odol dan sikat gigi dan handuk, klien juga mampu
merapikan diri sesudah mandi seperti menyisir rambutnya
b. Nutrisi
Frekuensi makan klien 3x/sehari yang ditambah dengan snack yang disediakan
oleh pihak RS. Menu makan terdiri dari nasi, lauk dan sayuran serta buah yang
bervariasi sesuai dengan yang disediakan dan RS porsi makan habis, klien
makan menggunakan tangan bersama klien di meja makan
c. BAB dan BAK
Klien BAB 1-2 sehari, konsistensi lunak, BAK + 5x/sehari, klien mampu
menggunakan kamar mandi, BAB dan BAK.

22
d. Tidur
Klien mengatakan ia tidur jam 10 atau 11 malam dna bangun pagi dalam
keadaan segar jam 5 Subuh, klien mengatakan ia jarang tidur siang. Sebelum
tidur biasanya klien mengisi waktunya dengan menonton TV, klien mengatakan
ia tidur nyenyak dan sekali-kali berminpi, tapi bukan mimpi menakutkan.
3. Kemampuan Klien
Klien mengatakan Di RS Jiwa ini klien teratur minum obat karena selalu dikontrol oleh
perawat, namun kalau dirumah klien tidak teratur minum obat karena kelupaan, klien
sendiri yang memegang dan mengetahui obatnya
4. Klien mempunyai sistem pendukung
Klien mengatakan ia sangat senang, jika ada peluangnya yang datang, ia merasa ini
menunjukkan ia masih disayang keluarganya
5. Apakah klien menikmati pekerjaan/hobi
Klien mengatakan sebelum di rawat ia bekerja sebagai pedagang kelontong sewaktu
dirantau dan ketika kembali ke rumahnya ia ikut bekerja sebagai penjahit dan pada usaha
yang dimiliki oleh keluargnya. Namun klien mengatatakan lebih senang berdagang
daripada menjahit yang membuatnya cepat bersih.

VIII. Mekanisme Koping


Klien mengatakan jika ada masalah dia tidak bisa tenang, suka bicara sendiri, mondar-
mandir dan marah-marah pada orang lain Klien mengatakan. sulit untuk mengontrol diri,
kadang-kadang sampai memukul orang lain, Klien mengatakan suka sakit kepala jika
keinginannya tidak dipenuhi keluarga, dada terasa sesak dan sakit. Klien terlihat marah-
marah dengan teman sekamarnya, klien tampak mengomel ketika gotong royong bila ada
temannya yang tidak mau bekerja.
MK : Koping individu tidak efektif

IX. Masalah Psikososial dan Lingkungan


1. Masalah dengan dukungan kelompok
Klien mengatakan sekarang temannya tidak ada, apalagi sejak ia masuk RSJ,
temannya tidak ada satupun yang menjenguknya, sampai klien mengatakan “teman itu
adanya disaat senang-senang, dikala susah tidak ada seorangpun yang
memperdulikannya”.

23
2. Masalah dengan Lingkungan
Klien mengatakan lingkungannya biasa saja, orang-orang disekelilingnya dapat
menerima kondisinya jika klien tenang,
3. Masalah dengan Pekerjaan
Klien ingin cepat pulang agar bisa membelikan adiknya sebuah printer, klien ingin
berdagang karena hal tersebut tidak membosankan
4. Masalah dengan Perumahan
Klien ingin segera berkumpul dengan keluarga yang ada dijalan damar, klien
mengatakan disana dia bisa membantu menjahit
5. Masalah dengan dukungan Yankes
Klien mengatakan kalau klien pulang dia akan rajin minum obat dan akan rajin
kontrol ke poliklinik RSJ

X. Pengetahuan
Klien mengatakan ia tidak mengetahui tentang penyakitnya, tidak tahu apa itu waham,
klien mengatakan ia hanya tahu kalau penyakitnya itu muncul dan ia tidak mampu
mengontrol emosinya, Klien mengatakan bahwa waham itu adalah melihat bayangan dan
mendengar suara. Klien tampak terdiam dan bingung saat ditanya tentang apa itu waham.
Klien menjawab salah ketika ditanya apa itu waham.
MK : Kurang pengetahuan

XI. Aspek Medis


Diagnosa Medis : Schizofrenia Paranoid

Pengobatan : Stelazine 3 x 5 mg
Clorpromazine (CPZ) 1 x 100 mg
Haloperidol (HLP) 3 x 1,5 mg
Bamgetol 3 x 200 mg

24
XII. ANALISA DATA

No Data Masalah
1 DS :
- Klien mengatakan dia hebat dan pintar Gangguan isi pikir :
- Klien mengatakan dia bisa memerintah Waham kebesaran
orang di tempat kerjanya
- Klien mengatakan dia yang merakit Bom
molotof
- Klien mengatakan dirinya tamat kuliah di
AIM
- Klien mengatakan dia lulusan universitas di
New York
- Klien mengatakan bisa membuat lampu
dengan sekali tepuk

DO :
- Klien mengatakan hal yang berbeda dengan
kenyataan secara berulang-ulang
- Klien sulit di orientasi ke realita
- Klien tampak membanggakan diri sambil
membusungkan dada ketika bercerita bahwa
dia yang membuat bom molotof
- Semua yang dikatakan klien diulang
berkali-kali ( 2 – 3 x perhari )
- Kalau bercerita klien sering menguji orang
lain dan mengatakan orang lain bodoh dengan
wajah meremehkan orang lain

Daftar Masalah Keperawatan


1. Perubahan isi pikir : waham kebesaran

25
Diagnosa Keperawatan
1. Perubahan isi pikir : waham kebesaran b.d harga diri rendah

CATATAN PERKEMBANGAN

Inisial Klien : Tn. B


Umur : 28 tahun
Ruangan : Flamboyan
No.Mr : 45738
No. Hari/
Implementasi Evaluasi
Dx Tanggal
Dx.1 Senin, 1. Membina hubungan saling percaya S:
Tik 3 Oktober 05 antara perawat dan klien - “Selamat pagi bu”
1 jam 09.00- Menyapa klien dengan ramah baik nama saya :BS”
Wib- verbal maupun non verbal O:
09.55 Wib “ Selamat pagi” sambil tersenyum” - Klien menatap
- Memperkenalkan diri dengan sopan perawat dan
“Nama saya Y, saya mahasiswa PSIK menjabat tangan
yang akan bertugas disini selama 1 perawat kontak
minggu, nama Tn sapa ? (klien berada mata (+) selama
di balik teralis sambil berjabat tangan interaksi
dengan jlien jaraknya + 75 cm) A:
- Menjelaskan tujuan berinteraksi “Tn- Klien
B karena saya disini + 1 minggu jadi menunjukkan
kita sekarang sampai seterusnya bisa penerimaan
ngobrol-ngobrol Tn. B” Tidak apa-apa terhadap
khan ? kita ngobrol usah lama-lama kedatangan perawat
buat hari ini. Gimana, Tn B bersedia P :
ngobrol dengan saya hari ini ? Jadi- Lanjutkan ke
kalau Tn. B ataupun teman lainnya tujuan khusus 2 Dx.
butuh bantuan saya,saya akan 1
berusaha membantu, saya setiap
paginya ada disini sampai jam 2”
- Kontak mata (+) selama berinteraksi

26
- Menerima klien apa adanya
- Menunjukkan sikap perhatian pada
klien dan memperhatikan kebutuhan
klien
Dx.1 Selasa 2. Membantu klien mengenal waham S:
Tik 4 Oktober 05 - Mengucapkan salam terapeutik.” - Membalas salam “
2 jam Selamat pagi B” Pagi juga Y”
10.00Wib- - Membicarakan kontrak yang - Klien mengatakan
10.30 Wib kemaren “B’, sesuai janji Y kemarin waham itu yang
kalau Y tanya dan cerita dan cerita- dengar suara dan
cerita sama B tentang waham, B’ seperti lihat
nanti dengar Ya biar B tau” bayangan
“iya”, pernahkah dengar atau tahu kan Y?”
mengenai waham”
“pernah, waham itu delusikan ?” yang O:
ada lihat bayangan atau suara yang - Klien terus
kita dengar” mendengar dan
“Iya bukan itu ! waham artinya memperhatikan
Keyakinan seseorang yang tidak yang dijelaskan
sesuai dengan kenyataan”. Waham itu - Kontak mata (+)
ada waham agama., waham
kebesaran, waham somatik, waham A:
nihilistik, waham curiga - Klien telah
“B, waham itu bisa disebabkan mengenal waham
banyak faktor, bisa karena psikososial
mungkin karena hubungan dengan P:
lingkungan, biologis karena memang - Intervensi
otaknya yang ada kelainan, genetik itu dilanjutkan ke
jika ada anggota keluarga tujuan khusus
kemungkinan besar keluarga lainnya selanjutnya (Tik 3)
juga bisa dapat
“Ngerti khan B ? ”kalau tandanya
kaya yang B’ bilang tadi, gejalanya

27
bisa banyak bicara, menghindari
orang lain, mudah tersinggung tak
bisa membedakan yang nyata, isi
pembicaraan tidak sesuai

Dx.1 Rabu Klien menolak interaksi hari


Tik 5 Oktober 05 ini dengan alasan malas.
3 Jam 11.00-
11.30 Wib
Dx 1 Kamis 3. Membantu klien mengenal cara S:
Tik 6 Oktober 05 mengontrol waham - Membalas salam
3 Jam 11.00- - Mengucapkan salam “Siang juga Y”
11.30 Wib terapeutik “Selamat Siang B” - Iya, Y, kita
- Mengingatkan kontrak” siang B ngobrol tentang
“B’ masih ingat yang kita bicarakan wahamkan ?”
kemaren kan?” - Iya Y,
- Mengkaji cara klien mengatasi kemarenkan B yang
waham katanya kemaren B bisa buat buat bom
bom, B yang pintar sendiri, terus - Y bukan tidak
gimana tuch…. Apa yang B lakukan percaya sama B’. B’
?” kan dulu suka
- Memberi reinforcement karena mau belajar kimia ST….
mengungkapkan perasaan saat tahu masalah
- Membuat kontrak untuk besok” merakit bom
“B, Y tahu B pintar, tapi apa yang Y
bilang, kita tidak boleh membicarakan O:
yang tidak sesuai dengan yang - Klien terdiam
sesungguhnya B’ ingatkan….” mendengarkan apa
“B Besok kita masih ngobrol tentang yang dijelaskan dan
masalah B ini ya… tertunduk
terimakasih ya sudah mau cerita sama
Y, berarti B mau berbagi keluhan A:
dengan Y, besok ya kita bahas lagi - Klien mengenal

28
mengontrol waham

P:
- Intervensi
dilanjutkan masih
TIK 3
Dx 1 Jum’at - Mengingatkan kontrak S:
Tik 7 Oktober 05 - Mengucapkan salam terapeutik “ - “hallo juga sie….
3 08.00-09.00 “Hallo B, gimana keadaan hari ini….? Sarapan tadi abis
Sarapan abis tadi pagi ? tidurnya tidurnya nyenyak ga
nyenyak khan ? kemaren kita janji ada ???????
nyambung lagi khan - Iya, B bisa
“jadi B sudah pikir apa yang harus B menjahit ini celana
lakukan yang B pakai B
- Mengkaji lagi cara mengatasi yang jahit rapi kan,
waham… ada kantong
“B mengerti kan kalau waham itu kita didalam biar orang
harus sesuai dengan kenyataan apa ga tau Y….”
yang kita lakukan. Kalau ada pikiran
seperti itu, B harus ingat itu tidak O:
boleh, karena memang itu tidak - Klien terdiam
ada…B kan masih punya kemampuan berfikir dan
lain kan ?” menganggukkan
- Memberi motivasi untuk kepala klien
meningkatkan kemampuan jahitan B tersenyum setelah
“rapi…. diberi pujian
Kemampuan B itu kan bagus bisa
menghasilkan sesuatu yang berguna, A:
karya B dipakai orang, B harus - Klien dapat
bangga.” mengontrol
- Memberi reinforcement (+) wahamnya
“sekarang B mengerti, B banyak yang
bisa dibanggakan, teruskan saja ya P:

29
besok pekerjaannya kalau Sudah - Lanjutkan atau
pulang.” beri inforcement
(+), lanjutkan
intervensi lain
Dx 1 Senin, - Menyapa klien dengan ramah baik S:
10 Oktober 05 verbal dan non verbal. “klien mengatakan
09.00-09.20 “ Pagi, B…” dengan senyum ramah klien cemas dengan
“gimana kabar B ? prosedur ECT yang
- Mengingatkan kontrak akan dilakukan”
“B, seperti janji kita hari jumat
kemarin, kita ngobrol lagi ya ?” O:
- Menanyakan keluhan (here & now) Klien tampak
“gimana perasaan B hari ini? “ tegang dan takut.
(Interaksi tidak dilanjutkan karena
hari ini klien melaksanakan prosedur
ECT) A:
- Membuat kontrak untuk besok Intervensi tidak
“Ya, udah sekarang B di ECT dulu, dapat dilanjutkan
tapi besok B jam 10.00 WIB ikut Y karena kondisi klien
ya. Y besok mau ujian mau kasih tidak
penyuluhan tentang pemberian obat memungkinkan
untuk b. Besok ada dosen Y, juga untuk pelaksanaan
sama ibuk E… . B tenang aja ya. TUK 5.
Jangan cemas.”
- Terminasi untuk sementara P:
Berjabat tangan untuk mengakhiri Intervensi
pembicaraan. dilanjutkan besok.

30
Dx 1 Selasa, - Membuka interaksi dengan klien S:
Tik 11 Oktober 05 Memberi salam Klien menjawab
5 10.00-10.35 Memperkenalkan dosen salam perawat
Membuat kontrak waktu Klien dapat
Menjelaskan interaksi menyatakan nama
Mendiskusikan keluhan obat yang
- Mendiskusikan dan menggali digunakan, efek
pengetahuan klien tentang : samping obat dan
Jenis obat yang digunakan cara mengatasi
Manfaat obat yang digunakan ESO, prinsip 5
Menjelaskan efek samping obat benar dan akibat
Menjelaskan cara mengatasi dari menghentikan
efek samping obat obat secara
Menjelaskan akibat penghentian obat mendadak.
secara mendadak
- Memberikan reinforcement (+) O:
terhadap jawaban klien. Kontak mata klien
- Menyimpulkan dan menanyakan (+)
keluhan setelah minum obat. Klien berjabat
- Mendiskusikan dan menjelaskan tangan perawat dan
prinsip 5 benar. dosen
Klien dapat
menjawab
pertanyaan yang
diajukan perawat.
A:
Klien mampu
menguasai materi
pemberian obat
P:
Intervensi
dilanjutkan dengan
evaluasi TIK

31
sebelumnya.

Dx 1 Rabu, - Membuka interaksi dengan klien S:


12 Oktober 05 Memberi salam Klien menjawab
09.00-09.25 Mengingatkan kontrak salam perawat
Menjelaskan interaksi Klien mengatakan
Mendiskusikan keluhan klien ingin pulang
“Jadi, bagaimana kondisi B hari ini ? karena di bangsal
B sekarang punya keinginan apa?” seperti dipenjara.
- Mengakhiri interaksi Klien mengatakan
“Ya sudah kalau B mau istirahat ga tidak mau
apa-apa? diwawancarai,
- Membuat kontrak untuk interaksi karena klien merasa
besok bosan dan mau
istirahat karena baru
di ECT untuk yang
kedua
O:
Klien tampak malas
Klien tampak ingin
sendiri untuk hari

32
ini
A:
Intervensi tidak
dapat dilanjutkan
karena kondisi klien
yang tidak ingin
diganggu.
P:
Intervensi
dilanjutkan besok.
Dx 1 Kamis, (Evaluasi cara mengontrol waham) S:
13 Oktober 05 - Menyapa klien denagn ramah Klien menjawab
11.00-11.30 - Mengingatkan kontrak salam perawat
- Menanyakan keluhan Klien mengatakan
- Mengevaluasi pengenalan waham kondisinya baik-
terhadap klien setelah dikenalkan baik saja
waham itu apa ? Klien mengatakan
- Pembagian waham waham itu adalah
Waham agama gangguan/
Waham keberasan keyakinan dimana
Waham somatic waham itu berbeda
Waham nilistik dengan kenyataan
- Membuat kontrak untuk berinteraksi dan dilakukan
selanjutnya berulang.
- Mengakhiri interaksi dengan klien O:
Klien berjabat
tangan dengan
perawat
Klien mampu
menjawab
pertanyaan yang
diberikan perawat
A:

33
Klien dapat
mengulang topik
yang telah
didiskusikan
P:
intervensi
dilanjutkan
Dx 1 Jumat, - Membuka interaksi dengan klien S:
14 Oktober 05 Memberi salam Klien menjawab
12.00-12.45 Mengingatkan kontrak salam perawat
Menjelaskan tujuan interaksi Klien mengatakan
- Mendiskusikan cara mengontrol cara mengontrol
waham waham dengan
- Mendiskusikan kegiatan yang akan mengaji, sholat,
dilakukan setelah kembali kerumah nonton, baca Koran
- Membuat kontrak untuk berinteraksi Klien mengatakan
selanjutnya kegiatannya kalau
- Mengakhiri interaksi dengan klien sudah kembali
kerumah klien akan
bekerja
O:
Klien tampak serius
membicarakan topik
ini
A:
Klien mampu untuk
mengulang
bagaimana cara
mengontrol waham
P:
Intervensi
dilanjutkan untuk
TIK selanjutnya.

34
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Klien Tn B umur 28 Tahun dirawat diruang flamboyant RS Jiwa Prof HB.Sa’anin


Padang, sejak tanggal 17 September 2005 sampai dengan 19 Oktober 2005 merupakann
klien dirawat ulang yang kelima kalinya. Dari pengkajian diperoleh data bahwa Tn B
mengalami waham kebesaran, selalu merasa memiliki kekuasaan dan kemampuan dalam
beberapa hal misalnya, klien mengatakan: “saya bisa merakit bom, wsaya hebat dan
pintar, saya suka memerintah ditempat kerja, saya kuliah di new york, saya bisa membuat
lampu sekali tepuk”, hal ini selalu diungkapkannya berulang-ulang. Klien juga
mengatakan setiap permintaannya tidak dipenuhi klien menjadi marah-marah, melempar
perabotan pada orang lain sampai memukul keluarganya ( menendang adiknya), sulit
berorientasi dengan realitas, klien tampak membanggakan diri, suka meremehkan orang
lain, ekspresi wajah mengancam. Data lain yang diperoleh adalah klien mengatakan dia
merasa dirinya tidak berharga, klien mengatakan selelu menyusahkan orang lain, tidak
mandiri, dank lien mengatakan dirinya tidak dihargai oleh orang dilingkungannya.
Dari data diatas diperoleh masalah, Resiko menciderai orang lain dan lingkungan,
Perubahan isi pikir: waham kebesaran dan Gangguan konsep diri : harga diri rendah.
Selanjutnya ditegakkan sebagai diagnosa pertama yaitu : Resiko menciderai orang lain dan
lingkungan berhubungan dengan perubahan isi pikir : waham kebesaran, dan diagnosa
kedua adalah Perubahab isi pikir : waham kebesaran sehubungan dengan gangguan konsep
diri : harga diri rendah. Setelah dilakukan implementasi dari intervensi dari diagnosa
keperawatan pertama dan kedua klien menunjukkan kemajuan yang berarti,
Evaluasi dari masing-masing tindakan yang dilakukan dilihat dari respon klien
secara subjektif yaitu ungkapan perasaan san dan pemahaman klien secara verbal,
kemudian respon klien yang ditampilkan secara verbal diamati secara objektif. Dari
evaluasi tindakan diperoleh hasil bahwa intervensi dari diagnosa I dan diagnosa II dan dari
masing-masing tujuan khusus intervensi tercapai sesuai rencana.

35
B. Saran
Dalam melakukan asuhan keperawtan jiwa, sebagai tenaga keperawtan yang professional
diharapkan :
1. Mampu menerapkan teori yang ada kedalam implementasi tindakan
dilapangan.
2. Pemanfaatan Instrumen diri pribadi agar lebih meningkatkan penerapan
tekhnik komunikasi terapeutik sehingga asuhan keperawatan yang telah direncanakan
dapat terlaksana secara optimal.
3. Klien dengan gangguan isi pikir agar, selalu diikutsertakan dalam kegiatan
kelompok, meningkatkan interaksi dengan orang lain, berkomunikasi secara efektif
dan klien dapat mengenal orientasi secara realita.

36
DAFTAR PUSTAKA

· Keliat, Budi Anna. (2006). Kumpulan Proses Keperawatan Masalah Jiwa.


Jakarta : FIK, Universitas Indonesia
· Aziz R, dkk. Pedoman asuhan keperawatan jiwa. Semarang: RSJD Dr. Amino
Gondoutomo. 2003
· Tim Direktorat Keswa, Standar Asuhan Keperawatan Jiwa, Edisi 1, Bandung, RSJP
Bandung, 2000
· Kusumawati dan Hartono . 2010 . Buku Ajar Keperawatan Jiwa . Jakarta : Salemba
Medika
· Stuart dan Sundeen . 2005 . Buku Keperawatan Jiwa . Jakarta : EGC .

37