Você está na página 1de 70

KORELASI UNSUR RUNUT KOBALT (Co), ZINK (Zn),

DAN BESI (Fe) PADA RAMBUT DENGAN TINGKAT


KECERDASAN SISWA SMPN 2 CIPEUCANG,
PANDEGLANG

IIS DAHRIAH

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2011
PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Korelasi Unsur Runut Kobalt
(Co), Zink (Zn), dan Besi (Fe) pada Rambut dengan Tingkat Kecerdasan Siswa
SMPN 2 Cipeucang, Pandeglang adalah karya saya dengan arahan komisi
pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi
manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan
dari penulis lain telah disebutkan dalam tesis dan dicantumkan dalam Daftar
Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Bogor, Juli 2011

Iis Dahriah
NIM G451090051
ABSTRACT

IIS DAHRIAH. Correlation of Trace Elements Cobalt, Zink, and Iron of Hair
with Student’s Intelligence at SMPN 2 Cipeucang in Pandeglang. Supervised by
DONDIN SAJUTHI, HENDRA ADIJUWANA, and Th.RINA
MULYANINGSIH

Inorganic compounds contained in the human body could form different


types of elements in a very small number called trace elements. Related to
intelligence of children could be seen that the trace element is essential for human
health. Lack of nutrients could lead to inhibit brain development and lower
intelligence. Hair analysis provides a wealth of information about health and trace
element status of the human body. This research aims to identify, correlate, and
compare the trace element that cobalt (Co), zinc (Zn), and iron (Fe) of student’s
hair to their intelligence level at SMPN 2 Cipeucang, Pandeglang which
performed on the eighth grade students aged 14-15 years. The analysis of trace
elements in student’s hair by neutron activation analysis (NAA) has been
investigated. The results showed that the average concentration of Co, Zn and Fe
was 442.6±19.4 µg/g, 502.6±18.3 µg/g, and 77.0±16.3 µg/g, respectively.
Statistical analysis showed that there was a negative correlation between the
concentration of Co with student’s intelligence for the nonscience students, while
the concentration of Zn and Fe had a positive correlation to intelligence for the
science students, but both Zn and Fe were influenced by the sex nonscience
factor’s.

Keywords : trace element, intelligence, hair’s analysis, NAA.


RINGKASAN

IIS DAHRIAH. Korelasi Unsur Runut Kobalt (Co), Zink (Zn), dan Besi (Fe) pada
Rambut dengan Tingkat Kecerdasan Siswa SMPN 2 Cipeucang, Pandeglang.
Dibimbing oleh DONDIN SAJUTHI, HENDRA ADIJUWANA, dan Th.RINA
MULYANINGSIH.

Unsur runut adalah senyawa anorganik yang terdapat dalam tubuh manusia
dapat berupa berbagai unsur dalam jumlah yang sangat kecil (< 100 mg/hari).
Unsur runut diperlukan untuk pertumbuhan dan kesehatan, membantu
keseimbangan, kebutuhan, dan perkembangan otak berperan dalam pembentukan
neurotransmitter, serta sebagai katalis dalam aktivitas enzim. Unsur yang diteliti
kobalt (Co), zink (Zn), dan besi (Fe) merupakan logam esensial yang dibutuhkan
manusia yang berperan bagi metabolisme tubuh. Berkaitan dengan kecerdasan
anak-anak dapat diketahui bahwa unsur runut sangat penting bagi kesehatan
manusia. Pada perkembangan mental anak unsur runut kobalt, zink, dan besi
sangat berperan.
Kobalt adalah unsur runut esensial tubuh, yang merupakan komponen dari
struktur vitamin B12 (sianokobalamin), berperan agar otak dan sistem saraf dapat
berfungsi dengan baik. Fungsi dalam tubuh membantu proses metabolisme asam
amino metionin dan pembentukan sel darah merah. Kobalt juga penting untuk
fungsi otak dan sistem syaraf, yang memiliki efek pada fungsi kognitif. Zink
merupakan unsur runut esensial bagi tubuh yang sangat terkenal sebagai
"penentu" kerja enzim dan hormon, juga sebagai mikromineral yang dapat
meningkatkan kecerdasan. Manfaat Zn dibutuhkan oleh semua reaksi di otak,
membantu produksi zat-zat kimia penting dan protein di dalam otak. Zat besi
merupakan unsur runut terpenting bagi manusia yang berperan membantu otak
untuk memproses nutrisi yang dibutuhkan untuk aktivitas otak serta membantu
proses neurotransmiter. Zat besi berperan dalam pembentukan neurotransmitter
dopamin, kekurangan zat besi menurunnya jumlah dopamin dapat terjadi
gangguan perilaku, sulit konsentrasi dan menurunkan kecerdasan, sehingga
mengganggu kemampuan belajar dan menurunkan prestasi belajar. Analisis unsur
runut pada rambut banyak menyimpan informasi tentang kesehatan dan status
unsur runut dari tubuh manusia, karena unsur runut yang terakumulasi di rambut
pada umumnya memiliki konsentrasi yang lebih tinggi dibandingkan jaringan lain.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi, mengkorelasikan, dan
membandingkan unsur runut kobalt, zink, dan besi pada rambut dengan tingkat
kecerdasan siswa SMP menggunakan metode analisis aktivasi neutron (AAN).
Untuk analisis korelasi antara kadar unsur runut Co, Zn, dan Fe pada rambut
dengan tingkat kecerdasan siswa, menggunakan uji Pearson SAS dan
menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA) one-way, dimana nilai signifikan
p ≤ 0,05, memperhitungkan populasi perbedaan jenis kelamin dan nilai raport
siswa berdasarkan pengelompokan bidang ilmu sains dan non sains.
Hasil analisis sampel rambut dengan metode AAN menunjukkan hasil
rerata dari unsur Co, Zn, dan Fe berturut-turut adalah 442,6±19,4 μg/g,
502,6±18,3 μg/g, dan 77,0±16,3 μg/g. Berdasarkan analisis statistik, kadar Co
dengan tingkat kecerdasan hanya non sains berkorelasi negatif dan berbeda nyata
(p≤0,05). Hal ini ditunjukkan dengan penurunan kadar Co disertai dengan
peningkatan tingkat kecerdasan. Pada kadar Zn dan Fe hanya kelompok sains
yang terdapat korelasi positif dan berbeda nyata (p≤ 0,05). Hal ini menunjukkan
terdapat korelasi antara kadar Zn dan Fe dengan kecerdasan.
Korelasi Unsur Runut Kobalt (Co) dengan Kecerdasan Siswa
Kadar Co pada non sains lebih tinggi dibandingkan pada sains,
dikarenakan pada kelompok sains siswa lebih banyak dituntut berfikir secara
fokus dan logis dalam memecahkan masalah yang berkaitan dengan sains seperti
perhitungan, angka, berfikir abstrak dan pemecahan masalah, yang membutuhkan
pemikiran dan pemahaman yang cukup, sedangkan kelompok non sains siswa
lebih banyak mendeskripsikan suatu pokok bahasan dengan sendirinya
berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki, misalnya berkaitan
dengan sejarah, ekonomi, budaya, politik. Pada non sains tingkat rendah kadar Co
cukup tinggi karena penggunaan energi berfikir dalam pelajaran sedikit
dibandingkan tingkat tinggi, sehingga kadar Co yang terakumulasi di rambut
tidak digunakan sepenuhnya. Kemungkinan memiliki kemampuan atau bakat
dibidang lain seperti bidang olah raga, kesenian, keterampilan, karena menurut
Iskandar (2010) kecerdasan tidak hanya berhubungan dengan kognitif saja, dalam
beberapa hal kecerdasan bisa termasuk kreativitas, kepribadian, minat, bakat,
watak, pengetahuan. Siswa kelompok ini, mereka lebih antusias dibidang yang
memiliki skill, sehingga berfikir mereka merasa lebih nyaman dan senang.
Pada faktor jenis kelamin baik sains maupun non sains kadar Co lebih
tinggi perempuan karena kemampuan absorpsi pada laki-laki lebih tinggi dari
pada perempuan pada semua golongan usia. Disamping itu, karena faktor nutrisi
didaerah perkampungan ini seperti tempe, oncom yang mengandung fermentasi
lebih banyak dikonsumsi masyarakat karena makanan tersebut mudah didapat,
harganya pun terjangkau untuk dibeli. Makanan tersebut memiliki kobalt yang
tinggi dan ditemukan vitamin B12 dalam jumlah yang relatif besar (Sari 2004).
Korelasi Unsur Runut Zink (Zn) dengan Kecerdasan Siswa
Pada kelompok sains menunjukkan semakin tinggi kadar unsur Zn maka
pengaruhnya semakin bagus terhadap tingkat kecerdasan siswa. Kadar Zn
tertinggi pada tingkat tinggi, pada kelompok ini siswa tersebut pintar, rajin dan
kemauan keras untuk belajar baik dikelas atau rumah. Kadar terendah oleh tingkat
rendah. Anak yang dalam tubuhnya mempunyai kadar Zn tinggi, kecerdasannya
lebih baik dan nilai pelajarannya juga lebih baik, maka Zn mempunyai fungsi
untuk meningkatkan perkembangan kecerdasan, perkembangan kecerdasan anak-
anak yang kekurangan Zn tidak baik (Darwono 2010).
Sebaliknya, pada kelompok non sains kadar rendah ditemukan pada
tingkat tinggi, hal ini berbeda dengan hasil penelitian yang menyatakan anak yang
dalam tubuhnya mempunyai kadar Zn tinggi, kecerdasannya lebih baik dan nilai
pelajarannya juga lebih baik. Prestasi belajar dalam hal ini dipengaruhi oleh faktor
luar yaitu prasarana belajar dan pendekatan belajar dari siswa itu sendiri. Hal ini
sesuai dengan pendapat Huwae (2006) bahwa secara garis besar faktor yang
mempengaruhi prestasi belajar dibagi menjadi faktor internal dan eksternal.
Faktor internal adalah faktor yang ada dalam diri siswa yang meliputi faktor
fisiologis dan faktor psikologis (intelegensi, status gizi, bakat, minat), sedangkan
faktor eksternal adalah faktor yang berada di luar siswa yang meliputi faktor
lingkungan sosial dan faktor non sosial (faktor perbedaan individual dan faktor
pendekatan belajar).
Kadar unsur Zn pada laki-laki baik sains maupun non sains lebih rendah
dibandingkan perempuan dikarenakan aktivitas laki-laki lebih banyak (Almatsier
2006). Ekskresi melalui keringat terbuang lebih banyak, sehingga yang
terakumulasi di rambut sedikit. Siswa yang mengalami kadar Zn rendah, bukan
berarti siswa tersebut mengalami defisiensi Zn, secara nutrisi siswa tersebut sudah
tercukupi kebutuhan nutrisinya, akan tetapi kadar Zn rambut yang rendah
merupakan indikator yang baik untuk mengetahui adanya defisiensi Zn ringan
maupun sedang. Bila dalam tubuh terjadi defisiensi Zn maka seng rambut akan
diambil sebagai seng endogen untuk mencukupi kebutuhan seng. Pada seseorang
dengan defisiensi seng berat, konsentrasi Zn rambut akan rendah (Huwae 2006).
Korelasi Unsur Runut Besi (Fe) dengan Kecerdasan Siswa
Pada kelompok sains menunjukkan semakin tinggi kadar unsur Fe maka
pengaruhnya semakin bagus terhadap tingkat kecerdasan siswa, begitu juga
sebaliknya dengan non sains. Pada sains kadarnya sangat tinggi karena kelompok
siswa sains memiliki asupan nutrisi zat besi yang seimbang sehingga pengaruh
terhadap kemampuan belajar siswa bagus. Secara fisiologi Fe sebagian besar
berada dalam hemoglobin mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan
tubuh. Beberapa bagian dari otak mempunyai kadar besi tinggi diperoleh dari
transport yang dipengaruhi oleh reseptor transferin dan saraf dopamin sebagai
neurotransmitter (pengantar saraf). Fe berpengaruh terhadap fungsi otak, terutama
terhadap fungsi sistem neurotransmitter. Oleh karena itu, kadar besi dalam darah
meningkat selama pertumbuhan hingga remaja, maka pengaruh terhadap
kemampuan belajar dan daya pikir menjadi bagus (Zair 2011).
Pada non sains kadar unsur Fe rendah sekali. Berdasarkan hasil analisis
sebagian siswa memiliki kadar Fe yang tidak terdeteksi dalam rambut. Hal ini
kemungkinan siswa mengalami defisiensi Fe yaitu kurang zat besi, dapat terjadi
karena konsumsi makanan yang kurang seimbang atau gangguan absorpsi besi
sehingga mengalami penurunan kemampuan intelektual, prestasi belajar yang
rendah, karena zat besi mempunyai pengaruh terhadap kemampuan belajar
(Almatsier 2006).
Kadar unsur Fe baik sains maupun non sains lebih besar laki-laki
dibandingkan perempuan karena kebutuhan Fe wanita lebih besar dari pada laki-
laki, kemungkinan kurangnya zat besi karena rendahnya zat besi dalam makanan,
anemia karena kurang darah dan mentruasi pada wanita (Almatsier 2006). Jadi, Fe
tertinggi dapat dilihat dari sains, sedangkan Fe terendah dapat dilihat dari non
sains, karena pada jenis kelamin baik sains maupun non sains tidak berbeda nyata.
Jika unsur Co, Zn dan Fe memiliki kadar yang tinggi terhadap kecerdasan,
secara nutrisi sudah terpenuhi dalam sel otak, maka siswa tersebut dikatakan
pintar. Namun, ternyata unsur Co berkorelasi negatif dengan kecerdasan non
sains, sedangkan unsur Zn dan Fe berkorelasi positif dengan kecerdasan sains. Hal
ini membuktikan bahwa kadar unsur Co, Zn dan Fe di rambut tidak selalu
berpengaruh terhadap kecerdasan siswa laki-laki atau perempuan. Kecerdasan
seseorang tidak semata-mata ditunjang oleh faktor nutrisi tetapi dipengaruhi oleh
faktor lain, seperti faktor genetik, lingkungan, nutrisi, latar belakang sosial
ekonomi, rendahnya pendidikan orang tua, penggunaan eksternal lainnya
(shampoo atau cat rambut).

Kata kunci : unsur runut, kecerdasan, analisis rambut, AAN


©Hak Cipta milik IPB, tahun 2011
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan
atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan,
penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau
tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan
yang wajar bagi IPB.
Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis
dalam bentuk apapun tanpa izin IPB
KORELASI UNSUR RUNUT KOBALT (Co), ZINK (Zn),
DAN BESI (Fe) PADA RAMBUT DENGAN TINGKAT
KECERDASAN SISWA SMPN 2 CIPEUCANG,
PANDEGLANG

IIS DAHRIAH

Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Magister Sains pada
Program Studi Kimia

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2011
Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis : Dr.dr. Irma Herawati Suparto, M.S.
Halaman Pengesahan

Judul Tesis : Korelasi Unsur Runut Kobalt (Co), Zink (Zn), dan Besi
(Fe) pada Rambut dengan Tingkat Kecerdasan Siswa
SMPN 2 Cipeucang, Pandeglang
Nama : Iis Dahriah
NIM : G451090051

Disetujui
Komisi Pembimbing

Prof. drh. Dondin Sajuthi, MST.Ph.D


Ketua

Ir. Hendra Adijuwana, MST Ir. Th. Rina Mulyaningsih, M.Si


Anggota Anggota

Diketahui

Ketua Program Studi Dekan Sekolah Pascasarjana


Pascasarjana Kimia

Prof. Dr. Purwantiningsih Sugita,M.S. Dr. Ir. Dahrul Syah

Tanggal Ujian : 04 Juli 2011 Tanggal Lulus :


PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala
karunianya berupa ilmu pengetahuan sehingga karya ilmiah ini dapat diselesaikan.
Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Februari 2011
ini adalah “Korelasi Unsur Runut Kobalt (Co), Zink (Zn), dan Besi (Fe) pada
Rambut dengan Tingkat Kecerdasan Siswa SMPN 2 Cipeucang, Pandeglang”.
Terima kasih penulis ucapkan kepada Prof.drh.Dondin Sajuthi, MST.Ph.D
sebagai Ketua Komisi Pembimbing, Ir. Hendra Adijuwana, MST dan Ir.Th.Rina
Mulyaningsih, M.Si sebagai Anggota Komisi Pembimbing yang telah banyak
memberi arahan dan saran serta motivasi. Ungkapan terima kasih juga
disampaikan kepada Dr.dr.Irma Herawati Suparto, M.S sebagai Penguji Luar
Komisi pada ujian akhir yang telah member masukan dan saran. Disamping itu,
penghargaan dan terima kasih penulis sampaikan kepada rekan-rekan di Batan-
Puspiptek Serpong yang telah berbesar hati membantu kelancaran selama
penelitian. Terima kasih yang tak terhitung kepada kedua orang tua, suami
tercinta, abah dan ibu mertua serta seluruh keluarga yang telah memberikan
dukungan moril dan do’a yang tiada putus hingga penulis dapat menyelesaikan
tulisan ini. Tidak lupa juga kepada teman-teman seperjuangan Pasca Kimia.
Akhir kata, semoga Allah SWT membalas segala kebaikan yang telah
diberikan. Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

Bogor, Juli 2011

Iis Dahriah
RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Pandeglang, 02 Juni 1982 dari bapak H. Encep


Damiri dan ibu Hj.Sopiah. Penulis merupakan putri pertama dari 7 (tujuh)
bersaudara. Pendidikan Sarjana ditempuh di Program Pendidikan Kimia Fakultas
Tarbiyah UIN Sunan Gunung Djati Bandung, lulus pada tahun 2005. Pada tahun
2009 penulis mendapatkan beasiswa dari Departemen Agama (Depag) untuk
melanjutkan Magister pada Program Studi Kimia, Program Pascasarjana Institut
Pertanian Bogor.
Penulis mulai bekerja sebagai Guru Bidang Studi IPA di MTs Albarkah
Kamelangan, Pandeglang Banten dan SMPN 2 Cipeucang, Pandeglang Banten
dari tahun 2006 sampai sekarang.
DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL …...……………………………………………………. vi


DAFTAR GAMBAR …………………………………………...………… vii
DAFTAR LAMPIRAN ..………………………………………………….. viii
PENDAHULUAN…………………………………………………………. 1
Latar Belakang …...………………………………………………….. 1
Tujuan Penelitian…….……………………………………………….. 4
Rumusan Masalah..……..……………………………………………. 4
Hipotesis ……………………………………………………………... 4
Manfaat Penelitian ………………………………………………….... 4

TINJAUAN PUSTAKA…………………………………………………… 5
Unsur Runut ………………………………………………………….. 5
Analisis Unsur Runut pada Rambut…………………………………. 11
Kecerdasan Siswa…… …..…………………………………………... 13
Analisis Aktivasi Neutron (AAN)..…………………………………... 14

BAHAN DAN METODE…………………………………………………. 18


Alat dan Bahan ……………………………………………................ 18
Waktu dan Tempat …………………………………………………... 18
Tahapan Prosedur Kerja……………………………………………… 18
Analisis Statistik.. ………………………………………………......... 21

HASIL DAN PEMBAHASAN……………………………………………. 22


Hasil Analisis .. ……………………………………………………… 22
Analisis Statistik.……………………………………………………... 25

SIMPULAN DAN SARAN………………………………………………... 36


DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………….. 37
LAMPIRAN……………………………………………………………….. 41
DAFTAR TABEL

Halaman

1 Kecukupan mineral Fe dan Zn per hari dibutuhkan manusia


berdasarkan kelompok umur ………….…………………………….. 10

2 Kategori nilai pengelompokan siswa berdasarkan sains dan non


sains...................................................................................................... 18

3 Distribusi responden menurut jenis kelamin dan bidang


ilmu…………………………………………………………………… 19

4 Kadar unsur Co, Zn dan Fe pada rambut siswa berdasarkan tingkat


kecerdasan siswa sains dan non sains………………………………… 22

5 Korelasi unsur runut Co, Zn dan Fe berdasarkan kelompok sains dan


non sains ……………………………………………………………... 25

6 Uji Duncan tingkat kecerdasan siswa dengan kadar Co ….…………. 28

7 Uji Duncan tingkat kecerdasan siswa dengan kadar Zn……………… 31

8 Uji Duncan tingkat kecerdasan siswa dengan kadar Fe……………… 34


DAFTAR GAMBAR

Halaman

1 Struktur molekul vitamin B12 ..……………………………………… 6

2 Prinsip dasar AAN……………………………………………………. 15


60
3 Skema Peluruhan Co ……………………………………………... 16

4 Rangkaian alat pencacah spektrometer gamma ……………............... 21

5 Kadar unsur pada rambut siswa berdasarkan kelompok sains dan non
sains ………………………………………………………………….. 23

6 Distribusi kadar unsur Co berdasarkan tingkat kecerdasan dan jenis


kelamin ………………………………………………………………. 26

7 Distribusi kadar unsur Zn berdasarkan tingkat kecerdasan dan jenis


kelamin ………………………………………………………………. 29

8 Distribusi kadar unsur Fe berdasarkan tingkat kecerdasan dan jenis


kelamin ………………………………………………………………. 32

9 Distribusi kadar unsur Co, Zn dan Fe berdasarkan bidang ilmu……… 34


DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1 Diagram alir penelitian ………………………………………………. 41

2 Spektrum sampel rambut ……………………………………………. 42

3 Grafik kalibrasi detektor dengan Ba-133, Cs-137, dan Co-60 ……… 43

4 Hasil analisis spektrum SRM dan sampel rambut dengan 44


Genie 2000 …………………………………………………………...

5 Contoh perhitungan sampel rambut kode 1 SPRA…………………... 46

6 Data hasil analisis unsur Co, Zn, dan Fe dalam sampel rambut …….. 48

7 Data hasil analisis rerata unsur Co, Zn, dan Fe dalam sampel
rambut ……………………………………………………….............. 50

8 Korelasi unsur runut Co, Zn dan Fe pada rambut terhadap kecerdasan


siswa…………………………………………………………………... 52
1

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Senyawa anorganik yang terdapat dalam tubuh manusia dapat berupa
berbagai jenis unsur dalam jumlah yang sangat kecil atau sering disebut sebagai
unsur runut. Unsur runut diperlukan dalam jumlah sangat sedikit (< 100 mg/hari)
dan umumnya terdapat dalam jaringan dengan konsentrasi sangat kecil (< 1
mg/hari) (Sofyan 2007). Unsur runut terutama diperlukan untuk pertumbuhan dan
kesehatan tulang, tangan, kaki, gigi, rambut, dan kulit. Unsur runut juga
dibutuhkan untuk membantu keseimbangan otak dan kebutuhan otak. Jenis-jenis
mineral yang dibutuhkan untuk perkembangan otak adalah Na, K, Ca, Fe, Zn, I,
Co dan Cl yang berperan dalam pembentukan neurotransmiter (Sutomo 2009).
Unsur runut esensial memiliki peran penting dalam kesehatan manusia.
Kebanyakan fungsi unsur runut dalam tubuh sebagai katalis dalam aktivitas
enzim. Reaksi serupa apabila berlangsung di luar tubuh memerlukan suhu atau
tekanan yang cukup tinggi. Kondisi tersebut dapat dicapai berkat bantuan enzim
sebagai biokatalisator yang dalam aktivitasnya hampir semua enzim memerlukan
unsur runut seperti pada metaloenzim atau sebagai kofaktor enzim/koenzim.
Unsur runut esensial memiliki rentang yang dibutuhkan oleh tubuh dan masih
dapat diterima oleh tubuh. Diluar rentang ini, unsur runut terjadi defisiensi dan
toksisitas. Defisiensi unsur runut dalam tubuh dapat menyebabkan gangguan
kesehatan dan penyakit-penyakit kronik, sebaliknya dalam konsentrasi yang
berlebih, unsur runut bersifat toksik dan dapat membahayakan kesehatan (Santoso
2008).
Berkaitan dengan kecerdasan anak-anak dapat diketahui bahwa unsur
runut sangat penting bagi kesehatan manusia. Pada perkembangan mental anak
unsur runut kobalt, zink, dan besi sangat berperan. Kobalt penting untuk fungsi
otak dan sistem syaraf, yang memiliki efek menguntungkan pada fungsi kognitif.
Zink juga adalah salah satu unsur runut penting bagi otak. Defisiensi zink akut
dapat menyebabkan hambatan psikologis neurologis. Zink di dalam otak adalah
penting karena mempengaruhi sintesis DNA, struktur kromatin dan pembelahan
sel. Secara umum menunjukkan bahwa defisiensi zink dapat mempengaruhi
2

belajar dan daya ingat, sedangkan besi membantu otak untuk memproses nutrisi-
nutrisi yang dibutuhkan untuk aktivitas otak serta membantu proses
neurotransmiter.
Rambut bukanlah sekadar penghias kepala. Analisis unsur runut pada
rambut mempunyai potensi unik yang banyak menyimpan informasi penting dan
menyediakan salah satu catatan yang paling akurat dari kesehatan dan status unsur
runut dari tubuh manusia, meliputi bidang kedokteran (kondisi kesehatan tubuh
seseorang, golongan darah), ilmu biologi, forensik, lingkungan bahkan kecerdasan
intelektual seseorang bisa dideteksi melalui rambut. Hal ini dipertegas oleh
Nnorom et al. (2005) setiap bagian dari tubuh manusia mengandung setidaknya
beberapa unsur kimia, meskipun sejumlah besar unsur ini ditemukan dalam
jumlah yang terdeteksi dalam jaringan tubuh manusia, seperti darah, urin, dan
rambut, menurut Marlowe et al. (1983) unsur runut yang terakumulasi di rambut
pada umumnya memiliki konsentrasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan
konsentrasi jaringan lain, sehingga terus menerus memberikan informasi status
gizi mineral dan paparan polutan logam berat, dan dapat berfungsi sebagai fungsi
fisiologis.
Dalam penelitian ini unsur runut yang diteliti adalah kobalt (Co), zink
(Zn), dan besi (Fe) merupakan logam esensial yang dibutuhkan manusia yang
sangat berperan bagi metabolisme tubuh. Pengambilan sampel rambut dilakukan
di kelas VIII SMPN 2 Cipeucang, Pandeglang sebanyak 36 siswa. Dipilihnya
sekolah ini karena tingkat SMP memiliki tingkat kecerdasan yang bervariasi
dimana sekolah ini terdapat di daerah perkampungan yang jaraknya jauh dari
perkotaan dengan memiliki letak geografis dataran rendah.
Kecerdasan dipengaruhi oleh tiga hal, yaitu genetik, lingkungan, dan gizi.
Kekurangan zat gizi tertentu bisa menyebabkan perkembangan otak terhambat dan
menurunkan kecerdasan anak. Begitu juga dengan faktor gizi asupan nutrisi siswa
sehari-hari yang kurang mendukung, misalnya bahan makanan yang mengandung
Zn seperti ikan, daging, telur, dan produk makanan hewani lainnya tidak dapat
dibeli, karena harga yang cukup mahal sedangkan pendapatan orang tua siswa
kebanyakan dibawah rata-rata, sehingga nutrisi ini dipenuhi dari bahan makanan
nabati yang kandungan Zn-nya relatif lebih rendah.
3

Walaupun demikian bukan berarti kecerdasan siswa lemah karena faktor


gizi bukan penentu utama. Faktor pendukung lain adalah faktor lingkungan
keluarga dalam memotivasi belajar serta lingkungan sekolah yang membantu
menyalurkan potensi dan bakat siswa baik dibidang keilmuan dan keahlian untuk
mengembangkan potensi berfikir sehingga anak-anak tersebut tidak kalah
bersaing dengan sekolah lain.
Penelitian mengenai unsur mineral pada rambut sudah dilakukan seperti
yang dimuat dalam artikel yaitu penelitian mengenai unsur zink pada rambut
dihubungkan dengan kecerdasan intelektual siswa Sekolah Dasar (SD) usia 7-10
tahun menunjukkan bahwa unsur Zn berkorelasi positif dengan kecerdasan
intelektual (Anonim 2008). Penelitian lain oleh Huwae (2006) yang dilakukan
pada anak SD usia 6-8 tahun mengenai hubungan kadar Zn dengan memori jangka
pendek diperoleh terdapat korelasi positif antara kadar seng (Zn) dengan memori
jangka pendek.
Atas dasar penelitian tersebut, maka akan dilakukan penelitian mengenai
korelasi unsur runut kobalt (Co), zink (Zn), dan besi (Fe) pada rambut dengan
tingkat kecerdasan siswa SMP usia 14-15 tahun menggunakan analisis aktivasi
neutron (AAN). Metode AAN merupakan metode analisis berbasis teknik nuklir
yang dapat digunakan secara luas untuk penelitian di berbagai bidang seperti ilmu
bahan, biologi, geokimia, lingkungan, keamanan pangan, forensik, dan
sebagainya.
Keuntungan metode ini, yaitu dengan jumlah sampel yang relatif sedikit
mampu menganalisis multi unsur secara simultan, uji tidak merusak, sensitif
dengan limit deteksi mencapai orde nanogram. Kandungan logam Co, Zn dan Fe
di dalam cuplikan rambut biasanya terdapat dalam jumlah kecil, sehingga untuk
analisisnya diperlukan metode yang memiliki akurasi dan sensitivitas tinggi,
sehingga tepat untuk analisis unsur runut di dalam berbagai jenis cuplikan
(Mulyaningsih 2009).
4

Tujuan Penelitian

1. Mengidentifikasi unsur runut kobalt (Co), zink (Zn), dan besi (Fe) pada
rambut dengan tingkat kecerdasan siswa SMP menggunakan analisis aktivasi
neutron (AAN).

2. Mengkorelasikan serta membandingkan unsur runut kobalt (Co), zink (Zn),


dan besi (Fe) pada rambut dengan tingkat kecerdasan siswa SMP pada bidang
ilmu sains dan non sains.

Rumusan Masalah

Berdasarkan dari latar belakang, maka didapat rumusan masalah mengenai


bagaimana korelasi antara unsur runut kobalt (Co), zink (Zn), dan besi (Fe) pada
rambut dengan tingkat kecerdasan siswa SMP.

Hipotesis
1. Kadar unsur runut kobalt (Co), zink (Zn), dan besi (Fe) pada rambut siswa
SMP berkorelasi positif terhadap kecerdasan intelektual.
2. Semakin tinggi kadar unsur runut kobalt (Co), zink (Zn), dan besi (Fe) pada
rambut siswa kelas VIII SMPN 2 Cipeucang, Pandeglang, maka tingkat
kecerdasan siswa akan semakin baik prestasinya.

Manfaat Penelitian
Diharapkan dari hasil penelitian ini, memberikan pengetahuan tentang
peranan unsur runut kobalt (Co), zink (Zn), dan besi (Fe) pada rambut terhadap
tingkat kecerdasan dan meningkatkan kualitas perkembangan siswa khususnya
perkembangan intelektual.
5

TINJAUAN PUSTAKA

Unsur Runut
Unsur runut adalah Senyawa kimia yang sangat dibutuhkan untuk
tumbuh kembang tubuh dalam konsentrasi sedikit dan sebagai mineral penting
tubuh yang dibutuhkan secara spesifik dalam jumlah < 1 mg/hari (Santoso dan
Advisor 2009).
Ditinjau dari fungsinya unsur runut umumnya merupakan bagian dari
sistem enzim, yaitu berupa metaloenzim dan kompleks logam-enzim. Pada
metaloenzim unsur logam terdapat dalam jumlah tertentu dan merupakan bagian
integral dari molekul enzim (Sofyan 2007). Fungsi unsur runut dalam proses
kehidupan sangatlah penting, terutama dalam pembuatan enzim, misalnya kobalt
untuk sintesis vitamin B12, sebagai katalisator atau kofaktor dalam berbagai
fungsi biologis, zink salah satu pembuat unsur enzim-enzim hidrogenase dan zat
besi untuk katalase sitokrom. Mineral penting dalam proses absorpsi maupun
masuknya berbagai nutrien kedalam sel termasuk sel otak (Hidayat et al. 2006 ).
Unsur runut berperan dalam keseimbangan asam-basa dan transfer oksigen
dari paru-paru ke jaringan, unsur Zn berperan pada multiplikasi sel, sedangkan Co
yang menunjang fungsi biologi sebagai komponen nutrien spesifik, yaitu satu
atom Co terdapat di pusat molekul vitamin B12 (Sofyan 2007). Beberapa unsur
runut yang berpengaruh terhadap kecerdasan otak :

Unsur Runut Kobalt (Co)


Kobalt merupakan unsur runut esensial untuk tubuh, karena merupakan
komponen dari struktur vitamin B12, sehingga untuk memperoleh cukup kobalt,
harus memperoleh cukup vitamin B12. Vitamin B12 tidak dapat disintesis oleh
tubuh manusia. Vitamin ini mengandung ion kobalt sehingga dikenal sebagai
sianokobalamin. Sianokobalamin (vitamin B12), memegang peran kunci agar otak
dan sistem saraf dapat berfungsi dengan baik. Vitamin ini bersifat larut dalarn air,
dan dapat disintetis oleh bakteri dalam usus. Manusia memperoleh kobalamin dari
makanan hewani seperti hati, ginjal, daging, dan vegetarian (makanan nabati).
Makanan nabati mengandung sedikit kobalt bergantung pada kandungan tanah
6

tempat tumbuhnya. Kandungan gizi yang diperlukan untuk pembentukkan sel


darah merah.
Kobalt dalam makanan ini membantu sintesis hemoglobin dan penyerapan
besi dari makanan. Fungsi vitamin B12 dalam tubuh adalah membantu proses
metabolisme asam amino metionin dan pembentukan sel darah merah. Kebutuhan
kobalt kira-kira 0,0015 mg (1,5 μg) vitamin B12 per hari. Fungsi kobalt berperan
membentuk bagian dari struktur vitamin B12. Defisiensi vitamin B12 dapat
menyebabkan gejala anemia dengan gejala peradangan dan pendarahan usus,
gampang cape, lelah, lesu, penyakit pada kulit. Sumber vitamin B12 terdapat
dalam hati, ginjal, daging, susu, ikan, kacang-kacangan, sayuran hijau, dan sereal
(Nugroho 2009). Berikut adalah struktur molekul vitamin B12 (Sianokobalamin).
CH3
NH 2COCH 2CH2 CH3 CH2CONH2
NH2COCH2
CH2CH2CONH2
CH3
CN
CH3 N N
Co+ N
CH 3
H N N
CH 3 N CH 3
NH2COCH2
CH 3
H
CH3 CH3 CH2CH2CONH2
H
H
O- OH H
CH2CH2CONHCH2 C O P O HO
H CH2OH
CH3 O

Gambar 1 Struktur molekul vitamin B12 (British Pharmacopoeia 2004).

Metabolisme Kobalt (Co)


Kobalt adalah esensial dalam tubuh karena kobalt merupakan komponen
sianokobalamin (vitamin B12). Vitamin B12 sebagai koenzim dalam beberapa
reaksi enzimatik, paling banyak khususnya pada reaksi transfer metil bahwa
homosistein berubah menjadi metionin dan untuk memisahkan reaksi perubahan
metilmalonilkoenzim A (CoA) ke suksinil-CoA. Vitamin B12 juga bagian dari
beberapa enzim yang mencakup dalam hematopoiesis, defisiensi dapat dengan
mudah merusak anemia. Recommended Dietary Allowance (RDA) vitamin B12
untuk orang dewasa adalah 2,4 µg/hari, dimana kandungan kobalt 0,1 µg.
7

Sebanyak 85 % ekskresi kobalt dilakukan melalui urin, selebihnya melalui feses


dan keringat (Institute of Medicine 2004).

Unsur Runut Zink (Zn)


Zink adalah unsur runut yang banyak dijumpai di lingkungan. Mineral ini
sangat terkenal sebagai "penentu" kerja enzim dan hormon. Ratusan enzim dan
hormon memerlukan mikromineral ini. Zink dikenal pula sebagai mikromineral
yang dapat meningkatkan kecerdasan. Manfaat zink dibutuhkan oleh semua reaksi
di otak, membantu produksi zat-zat kimia penting dan protein di dalam otak,
berperan membentuk energi dari glukosa dan protein. Akibat defisiensi zink
kelesuan, cepat marah, kebiasaan makan yang buruk, keletihan, obesitas. Sumber
zink terdapat pada daging, kerang-kerangan, susu dan makan bersusu misalnya
keju, roti, dan produk sereal.
Zink merupakan unsur runut yang esensial bagi tubuh. Beberapa jenis
enzim memerlukan zink bagi fungsinya dan bahkan ada enzim yang mengandung
zink dalam struktur molekulnya, diantaranya karbonat anhidrase (mengandung
zink 0,33%) dan fosfatase alkalis. Zink merupakan agen reduksi yang baik dan
dapat membentuk ikatan yang stabil dengan ion-ion lain membentuk garam-garam
(Sedioetama 1996).
Beberapa tahun belakangan ini, seiring dengan meningkatnya standar
kehidupan, standar gizi anak-anak usia sekolah juga cenderung meningkat, tetapi
yang tidak boleh diabaikan adalah gizi pertumbuhan anak-anak usia sekolah yang
kekurangan zink. Penyebab utama kurangnya zink pada usia anak sekolah karena
kurangnya pemasukan, penyerapan, dan penggunaan zink. Terdapat tiga aspek
utama yang mempengaruhi perkembangan inteligensi anak-anak:
1. Zink dapat meningkatkan pertumbuhan, dan regenerasi sel otak besar yang
merupakan dasar zat perkembangan inteligensi.
2. Daerah ingat otak besar mengandung zink yang sangat banyak, kekurangan
zink dapat menyebabkan daya ingat anak menurun.
3. Kekurangan zink memperlambat penyampaian pesan syaraf, sehingga reaksi
anak menjadi lambat, bahkan dapat menyebabkan kekacauan fungsi otak, dan
menyebabkan hiperaktif (Darwono 2010).
8

Metabolisme Zink (Zn)


Penyerapan Zn terjadi pada bagian atas usus halus. Zink diangkut oleh
albumin dan transferin masuk ke aliran darah dan dibawa ke hati. Kelebihan Zn
akan disimpan dalam hati dalam bentuk metalotionein, sedangkan yang lainnya
dibawa ke pankreas dan jaringan tubuh lain. Didalam pankreas, Zn digunakan
untuk membuat enzim pencernaan, yang pada waktu makan dikeluarkan kedalam
saluran pencernaan. Dengan demikian saluran cerna memiliki dua sumber Zn,
yaitu dari makanan dan cairan pencernaan pankreas. Absorpsi Zn diatur oleh
metalotionein yang disintesis didalam sel dinding saluran pencernaan. Bila
konsumsi Zn tinggi, didalam sel dinding cerna akan diubah menjadi metalotionein
sebagai simpanan, sehingga absorpsi berkurang. Metalotionein didalam hati
mengikat Zn hingga dibutuhkan oleh tubuh. Metalotionein diduga mempunyai
peranan dalam mengatur kandungan Zn didalam cairan intraseluler. Kekurangan
Zn diduga penyebab makanan sedikit mengandung daging, ayam dan ikan yang
merupakan sumber utama Zn. Defisiensi Zn kronis mengganggu sistem dan fungsi
otak (Almatsier 2006).
Banyaknya Zn yang diserap berkisar antara 15-40%. Absorpsi Zn
dipengaruhi oleh status Zn dalam tubuh. Bila lebih banyak Zn yang dibutuhkan,
lebih banyak pula Zn yang diserap. Begitu pula jenis makanan mempengaruhi
absorpsi. Serat dan fitat menghambat ketersediaan biologis Zn, sebaliknya protein
histidin, metionin dan sistein dapat meningkatkan penyerapan. Tembaga dalam
jumlah melebihi kebutuhan faal menghambat penyerapan Zn. Nilai albumin dalam
plasma merupakan penentu utama penyerapan Zn. Albumin merupakan alat
transpor utama Zn. Penyerapan Zn menurun bila nilai albumin darah menurun,
misalnya dalam keadaan gizi kurang. Zink diekskresikan melalui feses.
Disamping itu Zn dikeluarkan melalui urin dan keringat serta jaringan tubuh yang
dibuang, seperti kulit, sel dinding usus, cairan haid dan mani (Almatsier 2006).

Unsur Runut Besi (Fe)


Zat besi merupakan unsur runut terpenting bagi manusia dan paling
banyak terdapat di dalam tubuh manusia. Besi juga berperan dalam membantu
otak untuk memproses nutrisi-nutris yang dibutuhkan untuk aktivitas otak serta
9

membantu proses neurotransmiter. Hampir seratus jenis kimiawi neurotransmitter


untuk sekian banyak fungsi otak. Kekurangan salah satu kimiawi penghubung
antarsel otak ini berakibat fungsi otak terganggu. Setiap bagian fungsi otak
diperankan oleh satu kimiawi vital ini. Zat besi juga turut berperan dalam
pembentukan neurotransmitter dopamin, dimana neurotransmitter adalah zat
kimia pada syaraf yang berfungsi mengatur sel syaraf untuk menghantar stimulus
dan kekurangan zat besi bisa menghambat produksinya. Kekurangan Fe berarti
menurunnya jumlah dopamin yang dapat terjadi gangguan perilaku hiperaktif,
sulit konsentrasi dan menurunkan kecerdasan, sehingga akan mengganggu
kemampuan belajar dan menurunkan prestasi belajar (Almatsier 2006).
Beberapa bagian dari otak mempunyai kadar besi tinggi yang diperoleh
dari transport besi yang dipengaruhi oleh reseptor transferin. Kadar besi dalam
darah meningkat selama pertumbuhan hingga remaja. Kadar besi otak yang
kurang pada masa pertumbuhan tidak dapat diganti setelah dewasa. Defisiensi besi
berpengaruh negatif terhadap fungsi otak, terutama terhadap fungsi sistem
neurotransmitter. Akibatnya, kepekaan reseptor saraf dopamin berkurang yang
dapat berakhir dengan hilangnya reseptor tersebut. Daya konsentrasi, daya ingat,
dan kemampuan belajar terganggu, dan kemampuan mengatur suhu tubuh
menurun. Defisiensi berpengaruh luas terhadap kualitas sumber daya manusia,
yaitu terhadap kemampuan belajar untuk berkonsentrasi dan belajar serta
produktivitas kerja (Almatsier 2006).
Menurunnya produktivitas kerja pada kekurangan besi disebabkan oleh
dua hal, yaitu : (a) berkurangnya enzim mengandung besi dan besi sebagai
kofaktor enzim yang terlibat dalam metabolisme energi. (b) menurunnya
hemoglobin darah. Akibatnya, metabolisme energi di dalam otot terganggu dan
terjadi penumpukan asam laktat yang menyebabkan rasa lelah. Oleh karena itu
apabila terjadi kekurangan hemoglobin mengakibatkan anemia sehingga aktivitas
tubuh terutama daya berpikir akan menurun (Almatsier 2006).
Besi yang berasal dari tubuh, berasal dari tiga sumber yaitu besi yang
diperoleh dari hasil perusakan sel-sel darah merah, besi yang diambil dari
penyimpanan dalam badan, dan besi yang diserap dari saluran pencernaan. Besi
berfungsi sebagai komponen penyusun sel darah merah (hemoglobin), kekurangan
10

besi dapat menyebabkan anemia. Sebagian besar besi berada dibdalam


hemoglobin, yaitu molekul protein mengandung besi dari sel darah merah dan
mioglobin di dalam otot. Hemoglobin dalam darah berfungsi sebagai pengangkut
oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh dan membawa kembali
karbondioksida dari seluruh sel ke paru-paru untuk dikeluarkan dari tubuh.
Hemoglobin akan mengangkut oksigen ke sel–sel yang membutuhkannya untuk
metabolisme glukosa, lemak dan protein menjadi energi (ATP) (Sari 2004).
Telah banyak penelitian dilakukan mengenai hubungan antara keadaan
kurang besi dan dengan uji kognitif. Walaupun ada beberapa penelitian
mengemukakan bahwa defisiensi besi kurang nyata hubungannya dengan
kemunduran intelektual tetapi banyak penelitian membuktikan bahwa defisiensi
besi mempengaruhi pemusnahan perhatian (atensi), kecerdasan, dan prestasi
belajar di sekolah. Dengan memberikan intervensi besi maka nilai kognitif
tersebut naik secara nyata (Sari 2004). Tabel berikut ditampilkan angka
kecukupan mineral Zn dan Fe per hari berdasarkan kelompok umur.
Tabel 1 Kecukupan mineral Zn dan Fe per hari dibutuhkan manusia berdasarkan
kelompok umur

Kelompok Umur (tahun)/kondisi Zn (mg)/hari Fe (mg)/hari

Bayi 0,0-0,5 5 6
0,0-0,5 5 10
Anak 1-3 10 10
4-6 10 10
7-10 10 10
Pria 11-14 15 12
15-18 15 12
19-24 15 10
25-50 15 10
51+ 15 10
Wanita 11-14 12 15
15-18 12 15
19-24 12 15
25-50 12 15
51+ 12 10

Sumber :Mulyaningsih (2009)


11

Metabolisme Besi (Fe)


Besi yang ada pada bahan makanan adalah besi elemen. Hanya Fe2+ ini
yang diabsorbsi usus halus. Untuk mengatur masuknya besi dalam tubuh maka
tubuh memiliki suatu cara yang tepat guna. Besi hanya dapat masuk ke dalam
mukosa apabila ia dapat bersenyawa dengan apoferritin. Jumlah apoferritin yang
ada dalam mukosa usus tergantung pada kadar besi tubuh. Bila besi dalam tubuh
sudah cukup maka semua apoferritin yang ada dalam mukosa usus terikat oleh Fe
menjadi ferritin.
Dengan demikian tidak ada lagi apoferitin yang bebas sehingga tidak ada
besi yang dapat masuk ke dalam mukosa. Besi yang ada dalam mukosa usus
hanya dapat masuk ke dalam darah bila berikatan dengan β-globulin yang ada
dalam plasma. Gabungan Fe dengan β-globulin disebut ferritin. Apabila semua β-
globulin dalam plasma sudah terikat Fe maka Fe2+ yang terdapat dalam mukosa
usus tidak dapat masuk ke dalam plasma dan turut lepas ke dalam lumen usus sel
mukosa usus lepas dan diganti dengan sel baru. Hanya Fe2+ yang terdapat dalam
transferrin dapat digunakan dalam eritropoesis, karena sel eritoblas dalam sum-
sum tulang hanya memiliki reseptor untuk ferritin.
Kelebihan besi yang tidak digunakan disimpan dalam stroma sum-sum
tulang sebagai ferritin. Besi yang terikat pada β-globulin selain berasal dari
mukosa usus juga berasal dari limpa, tempat eritrosit yang sudah tua masuk ke
dalam jaringan limpa untuk kemudian terikat pada β-globulin dan kemudian ikut
aliran darah ke sum-sum tulang untuk digunakan eritoblas membentuk
hemoglobin. Hemoglobin berfungsi sebagai pengangkut oksigen ke seluruh
jaringan tubuh, apabila terjadi kekurangan hemoglobin mengakibatkan anemia
sehingga aktivitas tubuh terutama daya berpikir akan menurun (Almatsier 2006).

Analisis Unsur Runut pada Rambut


Analisis mineral rambut adalah alat penilaian yang berharga bagi
kesehatan yang mengukur tingkat mineral penting serta unsur runut dari sejumlah
kecil sampel rambut. Analisis mineral rambut sangat berharga karena dua alasan
(1) mineral memainkan peran yang sangat penting dalam kesehatan manusia dan,
(2) logam berat seperti timah, merkuri, dan aluminium dapat memainkan peran
12

utama dalam banyak penyakit, tekanan darah tinggi khususnya dan neurologis
penyakit (Murray 2007). Disamping itu, analisis rambut juga merupakan metoda
diagnosis non invasif, artinya sampel mudah didapat, dibawa, dan disimpan serta
rambut juga dapat memberikan informasi jangka panjang karena unsur-unsur
konsentrasi dalam rambut lebih tinggi jika dibandingkan dengan yang diperoleh
di jaringan tubuh atau cairan (Frazao dan Mitiko 2007).
Potensi tambahan pada rambut sebagai biomarker, analisis sampel rambut
memiliki beberapa keuntungan. Komponen utama pada rambut adalah protein
keratin dimana membuat stabil dan kuat. Pada waktu yang sama, rambut mudah
diambil dan tidak memerlukan penyimpanan khusus atau pengawetan. Unsur
runut juga banyak terakumulasi di rambut pada konsentrasi sedikitnya sepuluh
kali lebih tinggi dari serum darah atau urin (Gellein et al. 2008).

Mekanisme Pengikatan Unsur Runut pada Rambut


Salah satu jenis bahan pencemar yang dapat membahayakan kesehatan
manusia adalah logam berat, yang akan terakumulasi pada bagian tubuh tertentu,
seperti ginjal, hati, kuku, jaringan lemak, dan rambut. Pada manusia unsur runut
dapat terakumulasi dalam rambut. Jumlah unsur runut dalam rambut berkorelasi
dengan jumlah unsur runut yang di absorpsi oleh tubuh.
Rambut adalah bagian tubuh dari makhluk hidup yang banyak
mengandung protein struktural yang tersusun oleh asam-asam amino sistin yang
mengandung ikatan disulfida (-S–S-) dan sistein yang mengandung gugus
sulfhidril (-SH) yang berkemampuan mengikat unsur runut yang masuk ke dalam
tubuh (Saeni 1997). Unsur runut tertentu juga dibutuhkan dalam proses
kehidupan. Misalnya dalam proses metabolisme untuk pertumbuhan dan
perkembangan sel-sel tubuh. Sebagai contoh Co dibutuhkan untuk pembentukan
vitamin B12, Fe dibutuhkan untuk pembuatan hemoglobin, dan Zn berfungsi
dalam enzim-enzim hidrogenase.

Sifat Fisik dan Kimia Beberapa Logam Berat


Logam berat adalah unsur-unsur kimia dengan bobot jenis lebih besar dari
5 g/cm3, terletak di sudut kanan bawah daftar berkala, mempunyai afinitas yang
13

tinggi terhadap unsur S dan biasanya bemomor atom 22 sampai 92 dari periode 4
sampai 7. Afinitas yang tinggi terhadap unsur S mendorong terjadinya ikatan
logam berat dengan S pada setiap kesempatan. Sebagian logam berat merupakan
zat pencemar yang berbahaya. Logam-logam ini bereaksi dengan unsur belerang
dalam enzim, sehingga enzim tersebut menjadi tak aktif. Gugus karboksilat (-
COOH) dan amino (-NH 2 ) dalam asam amino juga bereaksi dengan logam berat
(Saeni 1997).

Bioindikator Rambut
Gugus sulfhidril (–SH) dan disulfida (–S–S-) dalam rambut mampu
mengikat unsur runut yang masuk ke dalam tubuh dan terikat di dalam rambut.
Senyawa sulfida mudah terikat oleh unsur runut, maka bila unsur runut masuk ke
dalam tubuh, unsur runut tersebut akan terikat oleh senyawa sulfida dalam rambut
(Pettrucci 1982).
Helai rambut terdiri dari zat tanduk yang berisi protein keratin. Zat ini juga
terdapat pada kuku, bulu, dan tanduk hewan menyusui. Fungsi dari rambut adalah
untuk melindungi pengaruh panas dan dingin. Pada daerah panas bulu yang halus
dan tipis akan melindungi sengatan matahari, sedangkan pada daerah dingin, bulu
yang tebal dapat menahan panas badan. Jumlah unsur runut pada rambut
berkorelasi dengan jumlah unsur runut yang diabsorpsi oleh tubuh. Oleh karena
itu rambut dapat dipakai sebagai bahan biopsi. Dari studi terhadap senyawa
metilmerkuri menunjukkan bahwa jumlah senyawa itu dalam rambut berhubungan
dengan metilmerkuri di daerah sekitar rambut itu tumbuh (Saeni 1997).
Semakin tua umur seseorang, semakin bertambah daerah yang ditumbuhi
rambut di permukaan tubuhnya. Rambut seseorang paling tebal pada usia 20
tahun, dan setelah itu setiap helai rambut mengisut, sehingga pada usia 70 tahun,
rambutnya sudah setipis ketika masih bayi (Saeni 1997).

Kecerdasan Siswa
Kecerdasan Intelektual merupakan kecerdasan dasar yang berhubungan
dengan proses kognitif, pembelajaran kecenderungan menggunakan kemampuan
matematis-logis dan bahasa, pada umumnya hanya mengembangkan kemampuan
14

kognitif (menulis, membaca, menghafal, menghitung dan menjawab). Kecerdasan


ini sering kita kenal dengan kecerdasan rasional, karena menggunakan potensi
rasio dalam memecahkan masalah. Tingkat kecerdasan intelektual seseorang dapat
di uji melalui tes, yakni dengan ujian daya ingat, daya nalar, penguasaan kosa
kata, ketepatan menghitung, dan menganalisis data (Iskandar 2010).
Definisi kecerdasan atau inteligensi diajukan oleh beberapa ahli psikologi.
Kecerdasan didefinisikan sebagai kemampuan verbal, keterampilan pemecahan
masalah dan kemampuan untuk belajar dari pengalaman hidup sehari-hari dan
menyesuaikan diri dengannya. David Weschler berpendapat kecerdasan
merupakan kemampuan individu untuk berfikir dan bertindak terarah, serta
mengolah dan menguasai lingkungan secara efektif (Mutalazimah dan Asyanti
2009).
Kecerdasan anak-anak juga diketahui bahwa unsur runut sangat penting
bagi dampak kesehatan manusia. Dalam unsur runut Co, Zn, dan Fe pada
perkembangan mental anak-anak memiliki dampak. Kecerdasan anak adalah
untuk mengevaluasi tingkat kesehatan mental anak-anak yang merupakan
indikator penting dari perkembangan mental yang baik tergantung pada integritas
neurologis dari pengembangan sistem, sementara gizi adalah bahan dasar filogeni
saraf kranial. Pada periode kritis perkembangan otak, kekurangan gizi, struktur
dan fungsi akan memiliki sifat abadi dari kerusakan, sehingga mempengaruhi
tingkat kecerdasan anak-anak. Dari unsur runut pada kecerdasan anak menjadi
perhatian tentang beragam unsur runut untuk lebih memahami sejauh mana efek
terhadap kecerdasan anak-anak.

Analisis Aktivasi Neutron (AAN)


Analisis Aktivasi Neutron (AAN) adalah salah satu teknik nuklir yang
digunakan untuk mengkuantifikasi unsur-unsur kimia yang terkandung dalam
suatu materi. Pada AAN cuplikan yang akan dianalisis diiradiasi dengan
menggunakan sumber neutron. Sumber neutron ini dapat diperoleh dari reaksi fisi
yang terjadi pada reaktor nuklir. Teknik ini didasarkan pada reaksi penangkapan
neutron termal oleh inti atom yang terkandung dalam materi uji. Reaksi inti ini
berlangsung di fasiltas iradiasi yang menyediakan sumber neutron. Hasil interaksi
15

tersebut menghasilkan spesi atom baru yang kelebihan satu buah neutron dan
dalam keadaan tidak stabil. Untuk mencapai ke keadaan stabil, spesi tidak stabil
tersebut melepaskan partikel beta yang umumnya diikuti oleh emisi sinar gamma.
Sinar gamma yang diemisikan adalah bersifat khas untuk setiap radionuklida, dan
umumnya akan membentuk suatu spektrum yang disebut sebagai spektrum
gamma. Dengan menggunakan detektor HPGe resolusi tinggi, spektrum yang
terbentuk dapat dipilah dan radionuklida yang terkandung dalam materi dapat
diidentifikasi dan selanjutnya dikuantifikasi (Sutisna 2008). Gambar 2 berikut
menunjukkan ilustrasi mengenai prinsip dasar analisis aktivasi neutron.

Gambar 2 Prinsip dasar AAN

Apabila unsur-unsur stabil dalam cuplikan diiradiasi dengan neutron,


maka terjadi macam-macam reaksi inti, namun yang digunakan dalam AAN
adalah reaksi neutron gamma (n, γ) yang artinya suatu unsur jika ditembak dengan
neutron maka unsur tersebut akan berubah menjadi unsur lain sambil melepaskan
sinar-γ.
Contoh:
59 60
Co + Co +

64 65
Zn + Zn +

58 59
Fe + Fe +

Reaksi di atas dapat ditulis sebagai 59Co (n, γ) 60Co, 64Zn (n, γ) 65Zn, 58
Fe (n,
γ) 59Fe. Pemilihan reaksi pengaktifan yang perlu diikuti dengan pemilihan fasilitas
radiasi yang bersesuaian. Skema peluruhannya dapat digambarkan sebagai berikut
16

60
Gambar 3 Skema Peluruhan Co
(Sumber : Mulyaningsih 2002)

Analisis aktivasi neutron banyak dilakukan dan diaplikasikan diberbagai


disiplin ilmu, seperti biologi, pertanian, kedokteran, farmasi, arkeologi, geologi,
dan ilmu lainnya. Salah satu pemanfaatannya dalam kegiatan medis yaitu untuk
memeriksa unsur-unsur yang diperlukan tubuh yang terdapat dalam berbagai
sampel. Keunggulan dari metode analisis aktivasi neutron, antara lain yaitu:
1. Dengan jumlah sampel yang relatif sedikit mampu menganalisis multi unsur
secara simultan.
2. pengujian yang bersifat tidak merusak sampel, yaitu tidak memerlukan
reagen pada preparasi sampel relatif sederhana.
3. Kepekaan atau sensitivitas pengukuran yang relatif tinggi, yaitu mampu
menganalisis unsur dalam sampel dengan kadar sangat rendah (10-12-10-I0g).
4. Selektivitas yang tinggi dengan kemampuan identifikasi unsur secara
simultan dan tidak membutuhkan pelarutan sehingga kemungkinan
kontaminasi silang dapat dihindari.
5. Dapat diaplikasikan dalam berbagai jenis sampel (padat, cair, gas)
Dengan demikian evaluasi unsur-unsur yang terdapat dalam materi dapat
ditentukan secara serempak dalam jumlah cuplikan yang relatif sedikit (50 - 100
mg) (Sutisna 2008).
Meskipun AAN mempunyai beberapa keunggulan, tetapi AAN juga
mempunyai beberapa kelemahan diantaranya adalah:
1. Memerlukan fasilitas dan peralatan iradiasi yang mahal yaitu reaktor fisi
atau akselerator partikel.
2. Laboratorium yang digunakan untuk melakukan analisis ini harus
17

mempunyai perlengkapan khusus untuk penanganan zat radioaktif.


3. Untuk analisis radionuklida berumur panjang diperlukan waktu analisis
yang relatif lama.
4. Preparasi, iradiasi dan penggunaan banyak unsur standar tidak efisien
karena banyak menyita waktu (Mulyaningsih dan Sumardjo 2008).
Metode AAN dapat digunakan untuk analisis kualitatif dan kuantitatif
Analisis kualitatif adalah untuk mengetahui unsur-unsur apa saja yang terkandung
dalam cuplikan, sedangkan analisis kuantitatif untuk mengetahui kadar atau
konsentrasi unsur-unsur tersebut dalam cuplikan. Analisis kuantitatif ini
dilakukan setelah analisis kualitatif dilakukan. Pada metode ini bersarnaan dengan
cuplikan dipersiapkan unsur standar dengan jenis sarna dengan unsur yang
terkandung dalarn cuplikan yang akan dianalisis dan kuantitasnya telah diketahui
secara pasti. Kemudian diiradiasi secara bersarnaan cuplikan yang akan dianalisis
dan unsur standar pada posisi iradiasi dan waktu iradiasi yang sarna
(Mulyaningsih 2002).
Untuk menghitung kadar dalam cuplikan digunakan metode komparatif,
untuk itu diperlukan cuplikan standar yang mengandung unsur yang akan
ditentukan, yang jumlah dan komposisi telah diketahui dengan pasti. Cuplikan
standar disiapkan dengan perlakuan yang sama seperti cuplikan yang diselidiki
dan diiradiasi bersama-sama, sehingga mengalami paparan neutron yang sama
besarnya. Dengan membandingkan laju cacah cuplikan dan standar dapat dihitung
kadar unsur didalam cuplikan dengan rumus.
(cps ) a Exp(−λ .t da )
Wa = .Wst (Sumber : Mulyaningsih 2008)
(cps ) st Exp( −λ .t st )

Wa = kadar unsur dalam cuplikan (μg/g)


Wst = kadar unsur dalam standar (µg/g)
(cps)a = laju cacah radionuklida cuplikan (luas spektrum/detik)
(cps)st = laju cacah radionuklida bahan standar (luas spektrum/detik)
λ = ln2/t 1/2 (detik-1)
t da = waktu peluruhan radionuklida cuplikan (detik)
t st = waktu peluruhan radionuklida standar (detik)
t 1/2 = waktu paro unsur (detik)
18

BAHAN DAN METODE

Alat dan Bahan


Alat yang diperlukan dalam penelitan ini adalah spektrometri gamma yang
dilengkapi dengan detektor Germanium kemurnian tinggi (HPGe), perangkat
lunak pengolah data GENIE 2000, gelas piala, pengaduk gelas, petri disc,
desikator, gunting stainless stell, pinset, neraca mikro, vial polietilena LDPE (Low
Density Polyethylene), kapsul iradiasi dari aluminium dan polietilena. Bahan yang
digunakan adalah sampel rambut, aseton, akuabides, dan sarung tangan karet.

Waktu dan Tempat


Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari s/d April 2011, di
laboratorium Kimia Anorganik Departemen Kimia IPB Bogor dan PTBIN Batan
Puspiptek Serpong, Tangerang.

Tahapan Prosedur Kerja


Penentuan pengambilan sampel
Pengukuran tingkat kecerdasan dalam penelitian ini dilakukan dengan
mengukur hasil belajar siswa yang diambil dari nilai raport. Pengambilan sampel
dikelompokan menjadi dua kelompok yaitu sains dan non sains. Tabel berikut
menunjukkan kriteria kategori pengelompokan sains dan non sains nilai siswa
berdasarkan nilai raport.

Tabel 2 Kategori nilai pengelompokan siswa berdasarkan sains dan non sains

Rentang Nilai Rentang Nilai Bidang


Kategori kelompok
Bidang Ilmu Sains Ilmu non Sains
Rendah ≤ 65 ≤ 65
Sedang 66-74 66-74
Tinggi ≥ 75 ≥ 75

Disamping tingkat kecerdasan diambil dari nilai hasil belajar siswa


(raport), penentuan unsur runut juga dipengaruhi oleh jenis kelamin dan
kelompok bidang ilmu sains dan non sains. Berikut adalah Tabel 3 menunjukkan
distribusi responden berdasarkan jenis kelamin dan kelompok bidang ilmu.
19

Tabel 3 Distribusi responden menurut jenis kelamin dan bidang ilmu

Jenis Kelamin Kelompok Bidang Ilmu Frekuensi


Laki-laki Sains 9
Non-Sains 9

Perempuan Sains 9
Non-Sains 9
Jumlah 36

Pengambilan Sampel Rambut


Sampel rambut dalam penelitian ini diperoleh dari sekolah SMPN 2
Cipeucang, Pandeglang, Banten. Sampel rambut diambil sebanyak 36 siswa (18
laki-laki dan 18 perempuan), kelas 8 usia antara 14-15 tahun. Sampel rambut
siswa diperoleh berdasarkan hasil nilai belajar siswa yang diambil dari nilai
raport. Kelas 8 dikelompokkan menjadi 2, yaitu berdasarkan kelompok bidang
ilmu sains dan non sains, masing-masing kelompok dibagi menjadi 3 kelompok
yaitu tinggi, sedang, dan rendah berdasarkan kriteria yang sudah ditentukan.
Sampel rambut dipotong ± 2 cm dari kulit kepala sebanyak ± 50 mg dengan
gunting stainless steel digunakan untuk di analisis. Sampel disimpan di plastik
yang disegel. Selama pengambilan atau pemilihan sampel rambut, tiap-tiap
individu mengisi biodata siswa (nama, jenis kelamin, usia, alamat tempat tinggal).
Setiap sampel rambut disimpan dalam kantong plastik bersama dengan biodata
dikumpulkan untuk setiap individu, dan dikirim ke laboratorium untuk analisis
(Acuan dimodifikasi dari : Frazão dan Mitiko 2007).

Preparasi Sampel (pencucian, pengeringan, dan penimbangan)


Di laboratorium, rambut hasil sampling dipotong-potong 2–5 mm
kemudian dicuci dengan akuabides 50 ml, kemudian dilanjutkan pencucian
dengan aseton 50 ml. Bilas dengan akuabides (2x50 ml) dan kembali dengan
aseton (2x50 ml), keringkan sampel rambut dalam desikator selama satu malam.
Rambut yang telah dipotong-potong halus ditimbang dengan neraca mikro
dalam vial polietilena dengan berat antara 40-110 mg, masing-masing sampel
sebanyak dua kali ulangan (duplo). Lalu vial ditutup rapat dan diberi label.
Semua data preparasi (penimbangan) dicatat. Kemudian dibuat satu larutan
20

standar tetes campuran dengan komposisi dan konsentrasi yang mendekati dengan
nilai yang tertera dalam sertifikat untuk unsur-unsur yang akan diuji. Larutan
standar multi unsur sebanyak 50 µl diteteskan ke dalam vial yang telah dicuci
kemudian dibiarkan mengering dengan cara menyimpannya dalam desikator
selama 3-4 hari (Ratnawati dan Mulyaningsih 2007)
Kemudian disiapkan penimbangan bahan acuan standar SRM (Standard
Reference Material) sebagai kontrol mutu metode. Tetapi pada penelitian ini
digunakan SRM rambut 086 dari IAEA sebagai komparator. Setelah itu dilakukan
penyiapan target yang terdiri atas sampel yang akan dianalisis, SRM dan standar
tetes. Target ini dimasukkan ke dalam kapsul iradiasi yang terbuat dari aluminium
(Ratnawati dan Mulyaningsih 2007).

Iradiasi
Sampel, standar tetes dan bahan acuan standar (SRM) rambut diiradiasi
secara bersamaan pada posisi dan kondisi iradiasi yang sama. Untuk cuplikan
yang diiradiasi dengan waktu iradiasi panjang, vial polietilina dibungkus terlebih
dahulu dengan aluminium foil kemudian dimasukkan ke dalam kapsul rabbit yang
terbuat dari aluminium, sesuai dengan lamanya waktu iradiasi. Iradiasi dilakukan
dalam fasilitas sistem rabbit RSG-GAS selama 2 jam untuk unsur dengan waktu
paruh panjang. Kemudian didinginkan selama waktu tertentu sebelum dilakukan
pencacahan (Ratnawati dan Mulyaningsih 2007).

Sampel Hasil Iradiasi dengan Waktu Iradiasi Panjang


Sampel yang telah diiradiasi diluruhkan di fasilitas sistem rabbit sampai
aktivitas memenuhi persyaratan proteksi radiasi untuk keselamatan kerja.
Kemudian kapsul iradiasi dibawa ke tempat pembuka sampel hasil iradiasi,
menggunakan tong penjepit. Sampel pasca iradiasi selanjutnya dibuka, dan
disusun dalam tempat yang mempunyai pelindung Pb (NTL 2008).

Pencacahan
Pencacahan sampel pasca iradiasi yang telah didinginkan dilakukan
dengan detektor resolusi tinggi (HPGe), dengan lama pengukuran sekitar 1 jam.
Posisi sampel dan unsur standar terhadap detektor adalah sama (Ratnawati dan
Mulyaningsih 2007). Kemudian dicacah dengan spektrometer sinar gamma.
21

Rangkaian alat pencacah spektrometer gamma digambarkan sebagai berikut:

Gambar 4 Rangkaian alat pencacah spektrometer gamma

Analisis Kualitatif dan Kuantitatif


Analisis kualitatif unsur yang terdapat dalam sampel rambut dan bahan
standar menggunakan perangkat lunak Genie-2000. Sebelum analisis kualitatif
dilakukan, spektrometer-γ terlebih dahulu dikalibrasi dengan sumber standar yang
energinya telah diketahui, yaitu Co-60 dengan energi 1173,24 keV dan 1332,50
keV, Ba-133 dengan energy 81,00; 256,02 keV dan Cs dengan energy 661,66
keV. Tujuan kalibrasi untuk melihat hubungan antara jumlah cacahan disumbu y
dan energi sumbu x. Spektrum hasil kalibrasi dapat dlihat pada Lampiran 3.
Proses analisis kualitatif dilakukan dengan mengolah puncak spektrum
dengan nilai cacah pada energi utama dengan peranti lunak Genie-2000 sehingga
didapat jenis unsur dalam sampel. Adapun contoh spektrum sampel rambut dapat
dilihat pada Lampiran 2. Analisis kuantitatif kadar unsur dalam sampel rambut
dihitung menggunakan program Microsoft Excel.

Analisis Statistik
Analisis data konsentrasi unsur runut pada rambut siswa menggunakan
statistik rerata dan standar deviasi (SD). Data yang berkaitan dengan nilai raport
siswa di uji dengan transformasi data dengan tujuan agar data tersebar secara
normal. Nilai secara statistika dibandingkan menggunakan analisis sidik ragam
(ANOVA) one-way, dimana nilai signifikan p ≤ 0,05, memperhitungkan populasi
perbedaan jenis kelamin dan nilai raport siswa berdasarkan bidang ilmu sains dan
non sains. Analisis korelasi kadar unsur runut Co, Zn, dan Fe pada rambut dengan
tingkat kecerdasan siswa, menggunakan uji Pearson SAS ( Forte et al. 2005).
22

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Analisis
Data hasil pengujian sampel rambut pada penelitian ini diperoleh dengan
metode instrumental analisis aktivasi neutron (IAAN), dimana kadar unsur Co, Zn
dan Fe dalam sampel rambut yang merupakan hasil rerata berdasarkan bidang
ilmu sains dan non sains ditampilkan pada Tabel 4 dan Gambar 5 dibawah ini.

Tabel 4 Kadar unsur Co, Zn dan Fe pada rambut siswa berdasarkan tingkat
kecerdasan siswa sains dan non sains

Bidang Unsur Kelompok


Ilmu (μg/g) Rendah Sedang Tinggi

Co 364,8±33,8 46,5± 2,1 80,9± 1,8


Laki-laki
Zn 524,0±24,3 170,7± 3,6 184,7± 4,5
Fe 172,0±38,5 82,3±19,4 138,8±15,0
SAINS
Co 363,4±11,4 190,2± 3,8 337,6±36,4
Perempuan Zn 621,3±11,0 528,8±18,8 849,1± 5,0
Fe 131,5±51,4 92,1± 25,2 119,9±18,8

Co 185,1± 19,1 153,1± 6,4 70,5± 3,3


Laki-laki Zn 226,6± 11,7 294,8± 9,8 145,9± 4,7
NON Fe 3,8 ± 1,5 26,8± 7,4 38,5± 6,0
SAINS Co 2433,9±64,4 1046,3±50,2 39,4± 0,6
Perempuan Zn 949,2±37,4 1240,6±79,3 295,6± 9,1
Fe 69,6± 20,7 23,0± 10,5 25,1± 15,8

Dari Tabel 4 menunjukkan bahwa kisaran unsur Co, Zn, dan Fe berturut-
turut 39,4±0,6 μg/g-2433,9±64,4 μg/g, 145,9±4,7μg/g-1240,6±79,3 μg/g, dan
3,8±1,5 μg/g-72,0±38,5 μg/g. Dari ketiga unsur Co, Zn, dan Fe kadar unsur yang
tertinggi terdapat pada unsur Co sebesar 2433,9±64,4 μg/g, sedangkan kadar
unsur terendah terdapat pada unsur Fe sebesar 3,8±1,5 μg/g. Untuk data hasil
analisis dapat dilihat pada Lampiran 7.
Adapun hasil rerata dari unsur Co, Zn, dan Fe berturut-turut adalah
442,6±19,4 μg/g, 502,6±18,3 μg/g, dan 77,0±16,3 μg/g. Hal ini telah dilakukan
oleh Frazao dan Saiki (2007) mengenai penentuan unsur runut pada rambut
23

manusia menggunakan analisis aktivasi neutron, objek yang diteliti berusia 15-65
tahun sehingga hasil yang diperoleh unsur Co, Zn, dan Fe berturut-turut adalah
409±2 μg/g, 132,02±0,3 μg/g, dan 11,7±0,2 μg/g.
Perbedaan dari hasil analisis dengan hasil penelitian terdahulu jika dilihat
dari masing-masing unsur kadar unsurnya cukup jauh, hal ini mungkin karena
rentang umur yang diambil pada penelitian ini cukup sempit yaitu menggunakan
sampel rambut siswa SMP berusia 14-15 tahun, sedangkan penelitian terdahulu
sampel rambut diambil pada rentang usia yang cukup lebar yaitu antara 15-65
tahun. Jadi, masih dianggap wajar dengan perbedaan usia, maka kadar masing-
masing unsur dapat mempengaruhi. Hal ini membuktikan bahwa unsur runut
dipengaruhi oleh faktor dari unsur itu sendiri, usia dan perbedaan jenis kelamin.
Dibawah ini gambar kelompok tingkat kecerdasan siswa yang terlihat jelas
antara perbedaan ketiga unsur berdasarkan bidang ilmu sains dan non sains.

3000
2433,9
2500
Kadar Unsur (μg/g)

2000

1500 1240,6

1000 Co

500 Zn
145,9 39,4
172 3,8 Fe
0
tinggi

tinggi

tinggi

tinggi
rendah

sedang

rendah

sedang

rendah

sedang

rendah

sedang

Sains (Laki-laki) Sains Non sains (Laki- Non sains


(Perempuan) laki) (Perempuan)

Gambar 5 Kadar unsur pada rambut siswa berdasarkan kelompok sains dan non
sains
Pada Gambar 5 menunjukkan bahwa unsur Co yang memiliki kadar
tertinggi terdapat pada non sains perempuan tingkat rendah sebesar 2433,9±64,4
μg/g, sedangkan kadar unsur Co terendah pada non sains perempuan tingkat tinggi
sebesar 39,4±0,6 μg/g. Kebutuhan tubuh akan kobalt (Co) sebanyak 0,0015 mg
(1,5 μg)/hari. Co pada non sains perempuan memiliki kadar yang paling tertinggi
dikarenakan pada daerah ini pola makan umumnya mengkonsumsi makanan
24

berfermentasi seperti tempe, oncom. Tempe dan oncom merupakan salah satu
produk dari industri rumah tangga karena tempe dan oncom adalah salah satu
makanan yang memiliki kandungan gizi dan sumber protein yang aman dan
murah dengan nilai cerna yang cukup tinggi, selain itu harganya juga terjangkau
sehingga tempe merupakan makanan yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat,
keberadaan vitamin 12 dalam tempe cukup tinggi (Astawan 2008) dan ada
makanan khas kampung yaitu nasi yang dikeringkan (ranginang), dan sejenis
makanan itu. Makanan ini ternyata mengandung kadar kobalt (vitamin 12) yang
relatif tinggi (Sari 2004), dan makanan ini cenderung lebih disukai oleh kaum
perempuan dijadikan sebagai cemilan. Wajar jika perempuan memiliki kobalt
lebih tinggi, sehingga ekskresi atau pengeluaran tubuh yang berlebih terakumulasi
dirambut lebih banyak.
Pada unsur Zn yang memiliki kadar tertinggi terdapat pada non sains
perempuan tingkat sedang sebesar 1240,6±79,3 μg/g, sedangkan kadar unsur Zn
yang terendah pada non sains laki-laki tingkat tinggi sebesar 145,9±4,7 μg/g.
Kebutuhan tubuh akan zink (Zn) laki-laki (11-18 tahun) 15 mg/hari, zink (Zn)
perempuan (11-18 tahun) 12 mg/hari. Unsur Zn kadarnya lebih rendah dibanding
Co, karena pola makan atau nutrisi didaerah ini akan bahan makanan yang
mengandung Zn berupa produk makanan hewani untuk pemenuhan kebutuhan
sehari-harinya tidak dapat dibeli sehingga kurang terpenuhi dikarenakan
pendapatan orang tua di daerah ini dibawah rata-rata.
Bahkan pada unsur Fe yang memiliki kadar tertinggi terdapat pada sains
laki-laki tingkat rendah sebesar 172,0±38,5 μg/g, sedangkan kadar unsur Fe yang
terendah pada non sains laki-laki tingkat rendah sebesar 3,8±1,5 μg/g. Kebutuhan
tubuh akan besi (Fe) laki-laki (11-18 tahun) 12 mg/hari, besi (Fe) perempuan (11-
18 tahun) 15 mg/hari. Unsur Fe kadar tertinggi oleh siswa laki-laki dikarenakan
pola makan atau asupan nutrisi, biasanya laki-laki lebih cuek tidak ada pantangan
dalam makanan, sedangkan Fe pada perempuan kadarnya lebih rendah
dikarenakan perempuan biasanya lebih cenderung diet untuk menjaga agar
tubuhnya tidak gemuk, jadi pola makananya diatur. Di samping itu kaum
perempuan setiap bulan umumnya mengalami menstruasi sehingga ekskresi
berupa darah yang dikeluarkan cukup banyak bahkan sekaligus, sehingga kadar Fe
25

perempuan lebih banyak yang terbuang.


Kebutuhan manusia perhari pada unsur Co, Zn dan Fe yang telah
disebutkan diatas merupakan kecukupan nutrisi yang diperlukan tubuh perhari,
artinya jika tubuh kekurangan kebutuhan nutrisi dari standar unsur yang telah
ditentukan berarti mengalami defisiensi. Sebaliknya, jika melebih dari kebutuhan
unsur, akan disimpan sebagai cadangan jika suatu saat tubuh memerlukan atau
kekurangan unsur tersebut. Namun, jika sudah tidak digunakan lagi oleh tubuh
karena pengeluaran tubuh yang berlebih akan dibuang atau diekskresikan melalui
beberapa jaringan, seperti feses, urin, keringat, darah, kuku, rambut. Tetapi
ekskresi yang terakumulasi di rambut memiliki konsentrasi yang tinggi dibanding
jaringan lain. Jadi, banyak sedikitnya yang terakumulasi dirambut tergantung dari
kecukupan nutrisi yang sudah tidak digunakan lagi oleh tubuh.
Pada Gambar 5 diatas dapat dilihat bahwa kadar tertinggi unsur Co dan
Zn di dominasi oleh perempuan non sains, sedangkan unsur Fe kadar tertinggi
oleh laki-laki sains.
Analisis Statistik
Data nilai raport siswa ditransformasi agar menyebar secara normal.
Kemudian data tersebut dengan kadar unsur runut dilakukan uji dengan parameter
uji-F, dimana terdapat signifikan (berbeda nyata) apabila nilai p ≤ 0,05 . Berikut
adalah penjelasan mengenai korelasi unsur runut Co, Zn dan Fe, berdasarkan
bidang ilmu sains dan non sains yang akan dibahas setiap unsur. Berikut adalah
korelasi unsur runut Co, Zn dan Fe berdasarkan kelompok sains dan non sains.

Tabel 5 Korelasi unsur runut Co, Zn dan Fe berdasarkan kelompok sains dan non
sains

Unsur Kelompok Kadar (μg/g) Korelasi (r) P(≤0,05)

Co  Sains 230,6±14,9 -0,352 0,152


 Non Sains 654,7±24,0 -0,419 0,029*

Zn  Sains 479,8±11,2 0,241 0,033*


 Non Sains 525,4±25,3 -0,027 0,063

Fe  Sains 122,9±22,3 0,345 0,015*


 Non Sains 31,1±10,3 -0,254 0,111

*Berbeda nyata pada taraf uji 5 % antara kadar unsur runut terhadap kecerdasan siswa
26

Pada Tabel 5 menunjukkan bahwa kadar Co dengan kelompok sains


terdapat korelasi negatif dan tidak berbeda nyata (p≥ 0,05), sedangkan non sains
juga terdapat korelasi negatif dan berbeda nyata (p≤ 0,05) . Hal ini ditunjukkan
dengan penurunan kadar Co disertai dengan peningkatan tingkat kecerdasan.
Pada kadar Zn dan Fe kelompok sains terdapat korelasi positif dan berbeda
nyata (p ≤ 0,05) . Hal ini menunjukkan terdapat korelasi antara kadar Zn dan Fe
dengan kelompok sains, sedangkan non sains memiliki korelasi negatif tetapi
tidak berbeda nyata (p ≥ 0,05). Hal ini menunjukkan tidak terdapat korelasi antara
kadar Zn dan Fe dengan kelompok non sains. Kecendrungan ini ditemukan dalam
penelitian mengenai hubungan IQ siswa SD usia 7-10 tahun menyatakan bahwa
unsur Zn memiliki korelasi positif (r=0,392) dengan IQ (Anonim 2008).
Penelitian lain oleh Huwae (2006) yang dilakukan pada anak SD usia 6-8 tahun
mengenai hubungan kadar Zn dengan memori jangka pendek diperoleh terdapat
korelasi positif antara kadar seng (Zn) dengan memori jangka pendek. Hasil
analisis dengan kedua penelitian sebelumnya memiliki nilai korelasi yang
berbeda, hal ini disebabkan perbedaan usia dan tingkat pendidikan yang berbeda.

Korelasi Unsur Runut Kobalt (Co) dengan Kecerdasan Siswa


Korelasi unsur runut kadar Co tingkat kecerdasan siswa dan faktor jenis
kelamin berdasarkan kelompok sains dan non sains ditampilkan pada Gambar 6.

1400 1309,5
1161,7
Kadar Unsur Co (μg/g)

1200
1000
800 599,7
600 364,1
400 297
209,2 164,1 136,2
200 118,3 54,9
0
Laki-laki

Laki-laki
Sedang

Sedang
Rendah

Tinggi

Rendah

Tinggi

Perempuan

Perempuan

Sains Non Sains Sains Non Sains

Tingkat Kecerdasan Jenis Kelamin

Gambar 6 Distribusi kadar unsur Co berdasarkan tingkat kecerdasan dan jenis kelamin
27

Pada Gambar 6 menunjukkan bahwa kadar Co pada non sains lebih tinggi
dibandingkan pada sains, dikarenakan pada kelompok sains siswa lebih banyak
dituntut berfikir secara fokus dan logis dalam memecahkan masalah yang
berkaitan dengan sains seperti berkaitan dengan perhitungan, angka, berfikir
abstrak dan pemecahan masalah. Hal ini membutuhkan pemikiran dan
pemahaman yang cukup untuk menguras pemikiran.
Sedangkan kelompok non sains siswa justru lebih banyak mendeskripsikan
suatu pokok bahasan dengan sendirinya berdasarkan pengetahuan dan pengalaman
yang dimiliki, sehingga siswa hanya dituntut menceritakan suatu narasi yang
didasarkan dari pemahaman atau persoalan yang sudah ada, misalnya berkaitan
dengan sejarah, ekonomi, budaya, politik dan sebagainya. Pada non sains tingkat
rendah kadar Co cukup tinggi karena penggunaan energi berfikir dalam pelajaran
sedikit dibandingkan tingkat tinggi, sehingga unsur Co yang terakumulasi di
rambut utuh atau tidak digunakan sepenuhnya. Kemungkinan juga kelompok ini
memiliki kemampuan atau bakat dibidang lain seperti bidang olah raga, kesenian,
keterampilan, karena menurut Iskandar (2010) kecerdasan tidak hanya
berhubungan dengan kognitif saja, dalam beberapa hal kecerdasan bisa termasuk
kreativitas, kepribadian, minat, bakat, watak, pengetahuan. Siswa kelompok ini,
mereka lebih antusias dibidang yang memiliki skill, sehingga berfikir mereka
merasa lebih nyaman dan senang. Ada faktor-faktor yang yang mempengaruhi
hasil belajar siswa seperti faktor fisiologis (kondisi fisik individu) maupun
psikologis (kecerdasan siswa, motivasi, minat, sikap dan bakat).
Pada faktor jenis kelamin baik sains maupun non sains kadar Co lebih
tinggi perempuan dibandingkan laki-laki karena kemampuan absorpsi pada laki-
laki lebih tinggi dari pada perempuan pada semua golongan usia (Astawan 2008).
Disamping itu, karena faktor nutrisi didaerah perkampungan ini seperti tempe,
oncom yang mengandung makanan berfermentasi lebih banyak dikonsumsi
masyarakat karena makanan tersebut mudah didapat, harganya pun terjangkau
untuk dibeli. Makanan tersebut memiliki kobalt yang tinggi dan ditemukan
vitamin B12 dalam jumlah yang relatif besar (Sari 2004). Biasanya makanan
tersebut cenderung disukai kaum perempuan. Jadi, dari Gambar 6 dapat terlihat
28

bahwa kadar Co jenis kelamin sains tidak berbeda nyata, sedangkan pada jenis
kelamin non sains berbeda nyata.
Kadar Co semua siswa ada yang rendah, sedang, dan tinggi. Pada unsur
Co ini beberapa siswa yang mengalami kadar Co rendah baik faktor kecerdasan
maupun faktor jenis kelamin. Kadar Co rendah bukan berarti terjadi defisiensi Co,
Hal ini menunjukkan pola makan untuk pemenuhan kebutuhan tubuh sudah
terpenuhi, hanya saja ekskresi atau pengeluaran tubuh yang berlebih terakumulasi
di rambut sedikit.
Karena faktor kecerdasan dan jenis kelamin berbeda nyata maka dapat
diketahuit taraf mana saja dalam faktor tersebut yang saling berbeda. Hal itu dapat
dilihat melalui uji lanjut Duncan seperti sebagai berikut :

Tabel 6 Uji Duncan tingkat tingkat kecerdasan dengan kadar Co

Tingkat Kecerdasan Rerata kadar Co

NSS (Non Sains tingkat Sedang) 2,65a


SR (Sains tingkat Rendah) 2,23a
NSR (Non Sains tingkat Rendah) 2,21a
ST (Sains tingkat Tinggi) 2,07ab
SS (Sains tingkat Sedang) 2,01ab
NST (Non Sains tingkat Tinggi) 1,86b

Angka yang di ikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5 %

Tabel 6 menunjukkan bahwa ternyata pada objek yang tengah diteliti dari
enam kelompok tingkat kecerdasan membentuk dua populasi baru yang saling
berbeda terkait besarnya pengaruh terhadap kadar unsur Co, Terlihat bahwa NSS,
SR, NSR, ST dan SS berada dalam satu populasi dengan besar kadar unsur
tertinggi dimiliki oleh kelompok Non Sains Sedang (NSS), sehingga dapat
disimpulkan ternyata minat dan bakat siswa di bidang sains berapapun
kecerdasannya, akan memiliki kadar Co yang sama dengan siswa yang memiliki
bakat non sains dengan tingkat menengah kebawah, Namun secara keseluruhan,
kadar Co terendah dimiliki oleh siswa dengan tingkat kecerdasan sedang sampai
dengan tinggi bila berasal dari kelompok sains dan tingkat kecerdasan tinggi bila
ia berasal dari kelompok non sains.
29

Korelasi Unsur Runut Zink (Zn) dengan Kecerdasan Siswa


Korelasi unsur runut Kadar Zn tingkat kecerdasan siswa dan faktor jenis
kelamin berdasarkan kelompok sains dan non sains ditampilkan pada Gambar 7.

900 828,5
767,7
800
Kadar Unsur Zn (μg/g)
666,4
700 572,7 587,9
600 516,9
500 349,7
400 293,2
300 220,7 222,3
200
100
0 Sedang

Sedang
Rendah

Tinggi

Rendah

Tinggi

Laki-laki

Laki-laki
Perempuan

Perempuan
Sains Non Sains Sains Non Sains

Tingkat Kecerdasan Jenis Kelamin

Gambar 7 Distribusi kadar unsur Zn berdasarkan tingkat kecerdasan dan jenis kelamin

Pada Gambar 7 diatas menunjukkan bahwa pada kelompok sains, semakin


tinggi kadar unsur Zn maka pengaruhnya semakin bagus terhadap tingkat
kecerdasan siswa. Kadar Zn tertinggi ditemukan pada tingkat tinggi, karena pada
kelompok ini siswa tersebut pintar, rajin, ulet dan berkemauan keras untuk belajar
baik dikelas maupun rumah. Kadar terendah Zn oleh tingkat rendah. Anak-anak
yang di dalam tubuhnya mempunyai kadar Zn lebih tinggi, kecerdasannya lebih
baik dan nilai pelajarannya juga lebih baik, maka Zn mempunyai fungsi untuk
meningkatkan perkembangan kecerdasan, perkembangan kecerdasan anak-anak
yang kekurangan Zn tidak baik (Darwono 2010).
Sebaliknya, pada kelompok non sains semakin tinggi kadar unsur Zn maka
pengaruhnya semakin kecil terhadap tingkat kecerdasan siswa. Pada kelompok
non sains justru kadar rendah ditemukan pada tingkat tinggi, hal ini berbeda
dengan hasil penelitian yang menyatakan anak yang dalam tubuhnya mempunyai
kadar Zn lebih tinggi, kecerdasannya lebih baik dan nilai pelajarannya juga lebih
baik. Prestasi belajar dalam hal ini dipengaruhi oleh faktor luar yaitu prasarana
belajar dan pendekatan belajar dari siswa itu sendiri. Hal ini sesuai dengan
30

pendapat Huwae (2006) bahwa secara garis besar faktor yang mempengaruhi
prestasi belajar dibagi menjadi faktor internal dan eksternal. Faktor internal adalah
semua faktor yang ada dalam diri siswa yang meliputi faktor fisiologis dan faktor
psikologis (intelegensi, status gizi, bakat, minat), sedangkan faktor eksternal
adalah faktor yang berada di luar siswa yang meliputi faktor lingkungan sosial dan
faktor non sosial (faktor perbedaan individual dan faktor pendekatan belajar).
Pada kelompok ini mayoritas perempuan, mereka lebih cenderung menyenangi
pelajaran dibidang lain yang bersifat skill seperti kesenian, keterampilan
memasak, tata boga, sehingga kemampuan befikir mereka lebih bagus dibidang
tersebut, karena kecerdasan tidak hanya berhubungan dengan kognitif saja, dalam
beberapa hal kecerdasan bisa termasuk kreativitas, kepribadian, minat, bakat,
watak, pengetahuan. Bidang yang bersifat skill biasanya membutuhkan kreativitas
dan minat siswa, sehingga siswa berfikirnya merasa lebih nyaman dan senang.
Kadar unsur Zn pada laki-laki baik sains maupun non sains lebih rendah
dibandingkan perempuan dikarenakan aktivitas laki-laki biasanya lebih banyak
dibandingkan perempuan (Almatsier 2006). Ekskresi atau pengeluaran tubuh yang
berlebih melalui keringat terbuang lebih banyak, sehingga yang terakumulasi di
rambut sedikit. Penelitian yang dilakukan oleh Takyi (2004), ditemukan faktor
jenis kelamin pada anak sekolah usia 2,5-18 tahun hasilnya tidak berbeda nyata
dengan kadar Zn rambut pada anak sekolah. Hal ini dibuktikan oleh Sofyan
(2007), ditemukan bahwa secara umum perbedaan nilai yang diperoleh
dilaboratorium antara laki-laki dan perempuan diduga erat hubungannya dengan
pengaruh hormon dan perbedaan masa jaringan. Pada konsentrasi unsur Zn ini
tidak berbeda nyata antara laki-laki dan perempuan, akan tetapi beberapa peneliti
yang lain menyatakan adanya perbedaan yang relatif kecil.
Begitu juga dengan keberadaan siswa di sekolah ini, bagi siswa laki-laki
biasanya selain belajar dikelas dan aktifitasnya di bidang ekstra kurikuler juga,
mereka sering bermain olah raga ketika pulang sekolah atau sore harinya seperti
sepakbola, futsal, badminton, bola voli. Ditambah lagi aktifitas diluar sekolah
yaitu di rumah dan di daerah pekampungan biasanya anak laki-laki membantu
orang tuanya menggembala kambing atau kerbau, menanam di kebun atau ladang.
Beda halnya dengan siswa perempuan, walaupun aktif di kegiatan ekstra
31

kurikuler, ketika kegiatan belajar mengajar dan kegiatan ekstra kurikuler sudah
selesai, mereka biasanya cenderung langsung pulang, dikarenakan siswa
perempuan membantu orang tua di rumah. Di perkampungan anak-anak
perempuan walaupun masih usia SMP mereka lebih cenderung membantu ibunya
dirumah, seperti memasak, ke sawah, mengasuh adiknya yang masih kecil, dan
sebagainya. Jadi, pada Gambar 7 diatas, bahwa baik sains maupun non sains kadar
Zn perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki.
Siswa yang mengalami kadar Zn rendah, bukan berarti siswa tersebut
mengalami defisiensi Zn, secara nutrisi siswa tersebut sudah tercukupi kebutuhan
nutrisinya, akan tetapi kadar seng rambut yang rendah berpengaruh terhadap
fungsi kognitif otak (Thatcher et al. 1984). Kadar Zn rambut yang rendah
merupakan indikator yang baik untuk mengetahui adanya defisiensi Zn ringan
maupun sedang. Bila dalam tubuh terjadi defisiensi Zn maka seng rambut akan
diambil sebagai seng endogen untuk mencukupi kebutuhan seng, maka akan
mempengaruhi pertumbuhan rambut, sehingga analisis rambut lebih tepat
menggambarkan kecukupan Zn pada masa lampau. Pada seseorang dengan
defisiensi seng, konsentrasi Zn rambut akan rendah (Huwae 2006).
Karena faktor kecerdasan dan jenis kelamin nyata maka kita dapat melihat
taraf mana saja dalam faktor tersebut yang saling berbeda. Hal itu dapat dilihat
melalui uji lanjut Duncan sebagai berikut :
Tabel 7 Uji Duncan tingkat kecerdasan siswa dengan kadar Zn

Tingkat Kecerdasan Rerata kadar Zn

NSS (Non Sains tingkat Sedang) 6,15a


SR (Sains tingkat Rendah) 5,96ab
NSR (Non Sains tingkat Rendah) 5,64abc
SS (Sains tingkat Sedang) 5,58abc
NST (Non Sains tingkat Tinggi) 5,02bc
ST (Sains tingkat Tinggi) 4,84c

Angka yang di ikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5 %

Tabel 7 menunjukkan ternyata pada objek yang tengah diteliti dari enam
kelompok tingkat kecerdasan membentuk tiga populasi baru yang saling berbeda
terkait besarnya pengaruh terhadap kadar unsur Zn. Terlihat bahwa NSS, SR,
32

NSR, dan SS berada dalam satu populasi dengan besar kadar unsur tertinggi
dimiliki oleh kelompok Non Sains Sedang (NSS), sehingga dapat disimpulkan
ternyata apapun bakat siswa, Sains maupun Non Sains, bila berada dalam rentang
kecerdasan rendah sampai sedang tidak berbeda nyata besar kadar unsur Zn-nya.
Dalam kelompok tersebut besar kadar unsur Zn sama.
Dapat dilihat juga antara SR, NSR, SS, dan NST besar kadar unsur tidak
berbeda nyata secara statistik. Kelompok NSR, SS, NST, dan ST juga tidak
berbeda nyata secara statistik. Menariknya, ternyata kadar unsur Zn terkecil
dimiliki oleh siswa yang masuk kriteria ST, sains dengan tingkat kecerdasan
tinggi, ST dengan NSR, SS, dan NST tidak berbeda nyata.

Korelasi Unsur Runut Besi (Fe) dengan Kecerdasan Siswa


Korelasi unsur runut kadar Fe tingkat kecerdasan siswa dan faktor jenis
kelamin berdasarkan kelompok sains dan non sains ditampilkan pada Gambar 8.

140 129,4 131,3


114,5
Kadar Unsur Fe (μg/g)

120
100 87,2
80 65,8
60
32 28,3
40 22,9 22,1 23
20
0
Sedang

Sedang
Rendah

Tinggi

Rendah

Tinggi

Laki-laki

Laki-laki
Perempuan

Perempuan

Sains Non Sains Sains Non Sains

Tingkat Kecerdasan Jenis Kelamin

Gambar 8 Distribusi kadar unsur Fe berdasarkan tingkat kecerdasan dan jenis kelamin

Pada Gambar 8 menunjukkan bahwa Pada unsur Fe tingkat kecerdasan


sains sama dengan kadar Zn, semakin tinggi kadar unsur Fe maka pengaruhnya
semakin bagus terhadap tingkat kecerdasan siswa, begitu juga sebaliknya dengan
non sains, semakin tinggi kadar unsur Fe maka pengaruhnya semakin kecil
terhadap tingkat kecerdasan siswa. Pada sains kadarnya sangat tinggi
dibandingkan non sains karena kelompok siswa sains memiliki asupan nutrisi zat
33

besi yang seimbang sehingga pengaruh terhadap kemampuan belajar siswa cukup
bagus. Selain itu, secara fisiologi besi dengan konsentrasi tinggi sebagian besar
berada di dalam hemoglobin yang mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh
jaringan tubuh. Hemoglobin akan mengangkut oksigen ke sel–sel yang
membutuhkannya untuk metabolisme glukosa, lemak dan protein menjadi energi.
Di samping itu, beberapa bagian dari otak mempunyai kadar besi tinggi yang
diperoleh dari transport besi yang dipengaruhi oleh reseptor transferin dan saraf
dopamin sebagai neurotransmitter (pengantar saraf). Fe berpengaruh terhadap
fungsi otak, terutama terhadap fungsi sistem neurotransmitter. Oleh karena itu,
kadar besi dalam darah meningkat selama pertumbuhan hingga remaja, maka
pengaruh terhadap kemampuan belajar dan daya pikir menjadi bagus (Zair 2011).
Pada non sains baik tingkat rendah, sedang dan tinggi, kadar Fe rendah
sekali dibandingkan sains. Berdasarkan hasil analisis sebagian siswa memiliki
kadar Fe yang tidak terdeteksi dalam rambut, sebenarnya bukan berarti tidak
terdeteksi hanya saja memiliki kadar Fe dibawah limit deteksi, dapat dilihat di
lampiran 5. Hal ini kemungkinan siswa tersebut mengalami defisiensi Fe yaitu
kurang zat besi, dapat terjadi karena konsumsi makanan yang kurang seimbang
atau gangguan absorpsi besi sehingga berpengaruh luas terhadap kualitas sumber
daya manusia yaitu mengalami penurunan kemampuan intelektual, seperti
kemampuan verbal, mengingat berkonsentrasi, berfikir analog dan sistematis,
serta prestasi belajar yang rendah, karena zat besi (Fe) mempunyai pengaruh
terhadap kemampuan belajar. Kemampuan belajar yang diharapkan adanya
prestasi belajar pada anak sekolah terhadap materi pelajaran yang diperoleh
(Almatsier 2006).
Kadar unsur Fe baik sains maupun non sains lebih besar laki-laki
dibandingkan perempuan karena perempuan menyerap Fe lebih banyak
disebabkan kebutuhan Fe wanita lebih besar dari pada laki-laki, kemungkinan
kurangnya zat besi karena rendahnya zat besi dalam makanan, anemia dan
mentruasi pada wanita (Almatsier 2006). Umumnya Fe pada wanita ketika
mengeluarkan ekskresi darah menstruasi lebih banyak, sehingga terakumulasi di
rambut sedikit. Jadi, Fe tertinggi dapat dilihat dari sains, Fe terendah dari non
sains, karena pada jenis kelamin baik sains maupun non sains tidak berbeda nyata.
34

Faktor kecerdasan dan jenis kelamin nyata maka dapat melihat taraf mana
dalam faktor tersebut yang saling berbeda, dengan melihat uji Duncan sebagai
berikut :

Tabel 8 Uji Duncan tingkat kecerdasan siswa dengan kadar Fe

Tingkat kecerdasan Rerata kadar Fe

ST ( Sains tingkat Tinggi) 2,44a


SR (Sains tingkat Rendah) 2,21ab
SS (Sains tingkat Sedang) 2,19ab
NSR (Non Sains tingkat Rendah) 1,96bc
NSS(Non Sains tingkat Sedang) 1,84bc
NST (Non Sains tingkat Tinggi) 1,71c

Angka yang di ikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5 %

Tabel 8 menunjukkan bahwa objek yang diteliti dari enam kelompok


tingkat kecerdasan membentuk tiga populasi baru yang saling berbeda terkait
besarnya pengaruh terhadap kadar unsur Fe. ST, SR, dan SS berada dalam satu
populasi dengan besar kadar unsur tertinggi dimiliki kelompok Sains Tinggi (ST).
Dapat disimpulkan berapapun tingkat kecerdasan siswa, bila bakatnya berada
dalam sains maka besar kadar unsur Fe pada rambut sama. Jadi, siswa dengan
bakat sains memiliki kadar Fe tertinggi dari pada non sains. Semua siswa non
sains termasuk dalam populasi yang berbeda, berapapun tingkat kecerdasannya.
Dari ketiga unsur Co, Zn, dan Fe, dapat dilihat perbedaan masing-masing
unsur berdasarkan bidang ilmu pada Gambar 9 dibawah ini.

700 654,7
600 525,4
Kadar Unsur (μg/g)

479,8
500
400
300 230,6 Sains
200 122,9 Non Sains
100 31,1
0
Co Zn Fe
Unsur

Gambar 9 Distribusi kadar unsur Co, Zn dan Fe berdasarkan bidang ilmu


35

Pada Gambar 9 menunjukkan bahwa kadar unsur Co dan Fe memiliki


perbedaan rentang nilai yang besar antara kelompok sains dan non sains sehingga
kadarnya sangat jauh berbeda. Jika unsur Co kadar tertinggi pada non sains yang
kadarnya hampir tiga kali lipatnya kadar Co sains. Sebaliknya unsur Fe kadar
tertinggi pada sains yang kadarnya hampir empat kali lipatnya kadar Fe non sains,
sedangkan kadar Zn rentang nilainya kecil sehingga kecendrungan kadarnya
hampir sama.
Jika unsur Co, Zn dan Fe memiliki kadar yang tinggi terhadap kecerdasan,
secara nutrisi sudah terpenuhi dalam sel otak, karena kebutuhannya sudah
terpenuhi tubuh dengan baik maka siswa tersebut dikatakan pintar. Namun,
ternyata unsur Co berkorelasi negatif dengan kecerdasan non sains, sedangkan
unsur Zn dan Fe berkorelasi positif dengan kecerdasan sains. Hal ini
membuktikan bahwa kadar unsur Co, Zn dan Fe di rambut tidak selalu
berpengaruh atau berkorelasi terhadap kecerdasan siswa laki-laki atau perempuan.
Kecerdasan seseorang tidak semata-mata ditunjang oleh faktor nutrisi saja tetapi
juga dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti faktor genetik, lingkungan,
nutrisi, latar belakang sosial ekonomi, rendahnya pendidikan orang tua,
penggunaan eksternal lainnya (shampoo atau cat rambut), dan sebagainya.
Black (2003) menyebutkan bahwa unsur runut yang mempunyai kaitan
dengan proses kognitif pada bayi dan anak usia muda yaitu kobalt (Co), seng (Zn),
dan besi (Fe). Dalam penelitian Frihandini (1996) dan Mc Gregor (2002)
menyebutkan bahwa gangguan kognitif anak juga dipengaruhi faktor anemia,
status sosial ekonomi, kemiskinan, tidak ada atau kurangnya stimulasi di rumah,
kurangnya kehangatan keluarga, rendahnya tingkat pendidikan orang tua, gizi
kurang. Namun, dalam penelitian ini, tidak semua faktor-faktor yang berpengaruh
diatas dimasukkan dalam penelitian ini karena keterbatasan tenaga dan dana,
sehingga unsur runut yang diteliti antara lain kadar kobalt, seng, dan besi.
36

SIMPULAN DAN SARAN


Simpulan

Dari hasil penelitian analisis unsur Co, Zn, dan Fe pada rambut siswa
terhadap tingkat kecerdasan, dapat disimpulkan bahwa :
1. Kadar Co>Zn>Fe, dimana kadar Co (kobalt) sebesar 2433,9±64,4 μg/g, kadar
Zn (zink) sebesar 1240±79,3 μg/g dan kadar Fe (besi) sebesar 3,8±1,5 μg/g.
2. Berdasarkan bidang ilmu sains dan non sains, kadar tertinggi unsur Co dan Zn
didominasi oleh perempuan non sains, sedangkan kadar unsur Fe tertinggi
terdapat pada laki-laki sains.
3. Terdapat korelasi negatif antara kadar Co dengan kecerdasan siswa non sains,
sedangkan kadar unsur Zn dan Fe berkorelasi positif dengan kecerdasan
siswa sains.
4. Pada jenis kelamin kadar Co tidak berbeda nyata baik sains maupun non
sains, sedangkan kadar unsur Zn dan Fe tidak berbeda nyata dengan jenis
kelamin sains, tetapi berbeda nyata dengan jenis kelamin non sains.

Saran
1. Perlu penelitian lebih lanjut korelasi unsur lainnya selain unsur runut Co, Zn
dan Fe dalam rambut dengan kecerdasan.
2. Perlu dilakukan pengelompokan tingkat berdasarkan Psikotest (test IQ).
3. Dilakukan penelitian lanjut dengan mempertimbangkan faktor-faktor berikut
seperti status sosial ekonomi, nutrisi/gizi kurang, kemiskinan, tidak ada atau
kurangnya stimulasi di rumah, rendahnya tingkat pendidikan orang tua.
4. Perlu penelitian lebih lanjut mengenai pengambilan sampel pada tingkat
pendidikan yang berbeda.
37

DAFTAR PUSTAKA

Almatsier S. 2006. Prinsip Dasar Ilmu Gizi, Jakarta : Gramedia.

[Anonim]. 2004. Toxicological profile for cobalt. Dept. Health Human Service.

________. 2008. Hair zink, copper, lead content and the relationship between
children's IQ. Med Papers Article. 3-14.

Astawan, Made. 2008. Tempe Cegah Penuaan dan kanker Payudara.


http://www.docudesk.com [23 September 2008]

Black MM. 2003. Micronutrient deficiencies and cognitive function. J Nutr 133:
3927S-3931S.

British Pharmacopoeia. 2004. Her majesty’s stationery office. British


Pharmacopoeia Commission. Vol I, London.

Darwono. 2010. Pengetahuan dasar teori gizi zink. Majalah Suplemen Zink Tiens.

Forte G, Alimonti A, Violante N, Marco D, Senofonte O, Petrucci, Sancesario G,


Bocca B. 2005. Calcium, copper, iron, magnesium, silicon and zink
content of hair in Parkinson’s disease. J Trace Elem Med Biol 19:195–201.

Frazao SV, Saiki M, 2007. Study on trace element determination in human head
hair using neutron activation analysis. Int Nucl Atlantic Conference-INAC
ISBN: 978-85-99141-02-1.

Frihandini D. 1996. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kadar seng darah


pada anak balita [tesis]. Semarang : Program Pascasarjana, Universitas
Diponegoro.

Gellein K, Lierhagen S, Brevik PS, Teigen M, Kaur P, Singh T, Flaten TP,


Syversen T. 2008. Journal trace element profiles in single strands of
human hair determined by HR-ICP-MS. Norw Univ Sci Technol, Biol
Trace Elem Res 123:250–260.

Hambidge M. 2003. Biomarker of trace mineral inake and status. Am Soc Nutr Sci
: 948-955.
38

Hidajat B, Irawan R, Hidayati N. 2006. Nutrisi dan perilaku, Divisi Nutrisi dan
Metabolik Bagian Ilmu Kesehatan Anak. Surabaya: Fakultas Kedokteran,
Universitas Airlangga.

Hidayat AA, 2010. Hubungan ikan dan kecerdasan otak. Artikel Biology Health,
NetSains,com.

Husaini NA. 1989. Study nutritional anemia and assessment of information


compilation for supporting and formulating national policy and program.
Jakarta: Direktorat Bina Gizi Masyarakat.

Huwae FJ. 2006. Hubungan antara kadar seng (Zn) dengan memori jangka
pendek pada anak sekolah dasar [tesis], Semarang: Program Pascasarjana,
Universitas Diponegoro.

Inoue Y, Osawa T, Matsui A, Asai Y, Murakami Y, Matsui T, Yano H. 2002.


Changes of serum mineral concentration in horses during exercise, Asian
Aust J Anim Sci 15: 531−536.

Institute of Medicine. 2000. Dietary reference intakes for thiamine, riboflavin,


niacin, vitamin B6, folate, vitamin B12, pantothenic acid, biotin and
choline. Washington DC: National Academy Press, 306-356,
http://www,nap,edu/books/0309065542/html/index,html,

Iskandar. 2010. Merajut kecerdasan manusia, Artikel resume psikologi


pendidikan, Kampung blog,com.

Man CK. 2002. Analysis of trace elements in scalp hair of mentally retarded
children. J Radioanalytical Nucl Chem 253:375–377.

Marlowe M, Moon C, Errera J, Stellern J. 1983. Hair mineral content as a


predictor of mental retardation. Orthomolecular Psychiatry 12:26-33.

Mc Gregor SG, Ani C. 2002. A rev of studies on the effect of iron defisiension
cognitive development in children. J Nutr 132:2065-2068.

Mohammed NK. 2008. Nuclear techniques applied to biological samples from


Tanzania to monitor the nutritional status of children [tesis]. Faculty of
Engineering and Physical Sci Univ of Surrey.
39

Muhammad A, Sianipar O, 2005. Penentuan defisiensi besi anemia penyakit


kronis menggunakan peran indeks sTfR-F. Indones J Clin Pathol Med
Lab 12: 915.

Mulyaningsih R. 2009. Kandungan unsur Fe dan Zn dalam bahan pangan produk


pertanian, peternakan dan perikanan ditentukan dengan metode ko-AANI.
Indones J Nucl Sci Technol. Pusat Teknologi Bahan Industri Nuklir-
BATAN Puspiptek, Serpong, Tangerang, ISSN 1411-3481:1-10.

Mulyaningsih R, Sumardjo. 2008. Perbandingan akurasi metode AAN-


komparatif dan K0-AAN dalam analisis abu terbang batu bara. J. Tek.
Reaktor Nukl. Pustek Bahan dan Industri Nuklir BATAN 10:46-56,

Murray M. 2007. Value of hair mineral analysis. NHF Memorial Library.

Mutalazimah, Asyanti S. 2009. Status Yodium dan fungsi kognitif anak Sekolah
Dasar di SDN Kiyaran I Kecamatan Cangkringan Kabupaten Sleman.
Jurnal Penelitian Sains & Teknologi. Program Studi Gizi Fakultas Ilmu
Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta 10:50–60.

Mutiara E. 2004. Mekanisme keterkaitan zink dan fungsi otak. Pengantar Falsafah
Sains (PPS702) Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Nnorom IC, Igwe JC, Ejimone JC. 2005. Multielement analyses of human scalp
hair samples from three distant towns in southeastern Nigeria. Dept Indust
Chem. Abia State Univ. Uturu, Nigeria, African J. Biotech 4:1124-1127.

[NTL] Nuclear Technique LUMBS. 2008. Instruksi kerja analisis unsur dengan
metode AAN. Nomor LUM-lK-03-01:2,

Nugroho HSW. 2009. Mineral, Bahan kuliah Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di


Dinkes, Ponorogo. www,heruswn,teach-nology,com

Petrucci RH. 1982. General Chemistry. McMillan Publ, Co, Inc, New York

Putranti AH. 1996. Hubungan asupan makanan terhadap kadar seng plasma
[tesis]. Semarang : Program Pascasarjana, Universitas Diponegoro.
40

Ratnawati E, Mulyaningsih R. 2007. Validasi metode AANI dalam hubungannya


dengan fasilitas iradiasi sistem rabbit RSG-GAS, (Seminar Nasional III
SDM Teknologi Nuklir Yogyakarta). Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir-
BATAN, ISSN 1978-0176.

Saeni MS. 1997. Penentuan Tingkat Pencemaran Logam Berat dengan Analisis
Rambut. Bogor: Fakultas MIPA. Institut Pertanian Bogor.

Santoso B, Advisor M. 2009. Mengenal mikro mineral untuk hidup lebih sehat.
Artikel. PT Otsuka Indonesia, Jakarta.

Santoso M. 2008. Pengembangan teknik deteksi unsur mineral esensial pada


gangguan kesehatan yang berkaitan dengan intake makanan dan pengaruh
lingkungan. Pusat Teknologi Nuklir Bahan dan Radiometri - BATAN
Bandung.

Sari WA. 2004. Anemia defisien besi pada balita. Sumatera Utara: Fakultas
Kedokteran, Universitas Sumatera Utara.

Sedioetama. 1996. Ilmu Gizi Dasar. Jakarta : Dian Rakyat.

Sofyan R. 2007. Pengaruh variabilitas biologi pada penentuan unsur runutan


dalam sains biomedik. Pusat Teknologi Nuklir Bahan dan Radiometri
Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Tinjauan Pustaka.

Sutisna. 2008. Laboratorium AAN PTBIN Serpong. Pusat Teknologi Bahan


Industri Nuklir Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) Kawasan
Puspiptek, Serpong, Tangerang.

Sutomo B. 2009. Nutrisi tepat untuk kecerdasan anak. Info Boga. Asia Blogging
Network.

Takyi EEK. 2004. Hair zink status and its correlation with height indicator in pre-
school and school children from a mixed income, low density (mild)
community in Southern Ghana, East African Med J 81:1.

Thatcher RW, Mc Alester R, Lester ML, Cantor DS. 1984. Hair mineral and diet
prediction of reading performance in children. Ann NY Acad Sci 433:87-
96.
41

Lampiran 1
Diagram alir penelitian

SAMPEL RAMBUT

- Siswa kelas 8
SAMPLING - Usia 14-15 tahun

Kelas 8 dikelompokkan 2, sains


PENGELOMPOKAN SAMPEL dan non sains, masing-masing
BERDASARKAN NILAI RAPORT kelompok dibagi menjadi 3,
kel. tinggi, sedang, dan rendah

- Dipotong,diambil dari kulit kepala


PENGAMBILAN 2-10 cm sebanyak 50 mg
SAMPEL - Masing2 individu mengisi kuis
(Acuan:Frazão&Mitiko 2007),

-dicuci dg aquabidest 50 ml
PENCUCIAN -pencucian dg aseton 50 ml
KORELASI -bilas dg aquabidest (2x50 ml), kembali
dicuci dg aseton (2x50 ml)
dikeringkan

DESIKATOR (semalaman)

Ditimbang

Neraca mikro 40-110 mg,


ANALISIS DATA dalam vial polietilena

Data preparasi (penimbangan)


dicatat dalam log book preparasi

ANALISIS AKTIVASI
NEUTRON (AAN)

(Acuan : Nuclear Technique LUMBS 2008)


42

Lampiran 2 Spektrum sampel rambut

Co-60
1332,50 keV
43

Lampiran 3 Grafik kalibrasi detektor dengan Ba-133, Cs-137, dan Co-60


44

Lampiran 4 Hasil Analisis spektrum SRM dan sampel rambut dengan


Genie 2000

ANALISIS SPEKTRUM GAMMA


******************************************************************
Report Generated On : 11/03/2011 11:41:47
Sample Title : 086E
Peak Locate Threshold : 3,00
Peak Locate Range (in channels) : 1 - 8192
Peak Area Range (in channels) : 143 - 8192
Identification Energy Tolerance : 1,000 keV
Sample Size : 1,000E+000 Unit
Sample Taken On :
Acquisition Started : 03/03/2011 14:43:10
Live Time : 3600,0 seconds
Real Time : 3603,5 seconds
Dead Time : 0,10 %
Energy Calibration Used Done On : 23/02/2011

******************************************************************
***** PEAK WITH NID REPORT *****
******************************************************************
Detector Name: MP2_MCA2
Sample Title: 086E
Peak Analysis Performed on: 11/03/2011 11:45:13
Peak Analysis From Channel: 143
Peak Analysis To Channel: 8192
Tentative NID Library: C:\GENIE2K\CAMFILES\Stdlib,nlb
Peak Match Tolerance : 1,000 keV

Peak ROI ROI Peak Energy Net Peak Net Area Continuum Tentative
No, Start End Centroid (keV) Area Uncert, Counts Nuclide
HG-203

F 35 2855- 2874 2863,64 1099,64 1,20E+002 14,20 1,04E+002 FE-59


M 36 2893- 2928 2905,01 1115,55 1,39E+003 39,64 1,38E+002 ZN-65

F 38 3046- 3066 3055,10 1173,29 3,53E+002 21,01 6,85E+001 CO-60


M 39 3355- 3384 3361,80 1291,26 4,62E+001 8,99 3,74E+001 FE-59
F 42 3458- 3480 3468,76 1332,41 2,76E+002 18,57 4,18E+001 CO-60

M = First peak in a multiplet region


m = Other peak in a multiplet region
F = Fitted singlet

Errors quoted at 1,000 sigma


45

******************************************************************
***** GAMMA SPECTRUM ANALYSIS *****
******************************************************************
Report Generated On : 11/03/2011 11:47:35
Sample Title : 1SPRA
Peak Locate Threshold : 3,00
Peak Locate Range (in channels) : 1 - 8192
Peak Area Range (in channels) : 143 - 8192
Identification Energy Tolerance : 1,000 keV
Sample Size : 1,000E+000 Unit
Sample Taken On :
Acquisition Started : 03/03/2011 10:42:45
Live Time : 3600,0 seconds
Real Time : 3603,4 seconds
Dead Time : 0,09 %

Energy Calibration Used Done On : 23/02/2011


Peak with NID Report 11/03/2011 11:49:57 Page 1

******************************************************************
***** PEAK WITH NID REPORT *****
******************************************************************
Detector Name: MP2_MCA2
Sample Title: 1SPRA
Peak Analysis Performed on: 11/03/2011 11:49:49
Peak Analysis From Channel: 143
Peak Analysis To Channel: 8192
Tentative NID Library: C:\GENIE2K\CAMFILES\Stdlib,nlb
Peak Match Tolerance : 1,000 keV

Peak ROI ROI Peak Energy Net Peak Net Area Continuum Tentative
No, Start End Centroid (keV) Area Uncert, Counts Nuclide

F 21 2856- 2870 2863,09 1099,43 9,53E+001 13,84 9,69E+001 FE-59


M 22 2891- 2927 2904,86 1115,49 2,66E+003 53,91 1,20E+002 ZN-65
F 24 3044- 3064 3054,89 1173,21 3,83E+002 22,17 8,64E+001 CO-60
M 25 3354- 3398 3362,59 1291,57 7,55E+001 9,91 2,48E+001 FE-59
F 28 3459- 3479 3468,75 1332,40 2,60E+002 17,89 2,60E+001 CO-60

M = First peak in a multiplet region


m = Other peak in a multiplet region
F = Fitted singlet

Errors quoted at 1,000 sigma


46

Lampiran 5 Contoh perhitungan sampel rambut kode 1 SPRA

 Kode Sampel Rambut 1 SPRA Co-60 dengan energy 1173,24 keV

(cps ) a Exp(−λ .t da )
Wa = .Wst
(cps ) st Exp(−λ .t st )

Wa = kadar unsur dalam cuplikan (μg/g);


Wst = kadar unsur dalam standar (µg/g);
(Cps)a = laju cacah radionuklida cuplikan (luas spektrum/detik);
(Cps)st = laju cacah radionuklida bahan standar (luas spektrum/detik);
λ = ln2/t 1/2 (detik-1);
t da = waktu peluruhan radionuklida cuplikan (detik);
t st = waktu peluruhan radionuklida standar (detik);
t 1/2 = waktu paro unsur (detik).

Wa = x x 3,68530 μg

W = 1,08498 x 0,9999 x 3,68530 μg

W = 3.99826 μg ( konsentrasi unsur dalam target )

Konsentrasi unsur dalam target =

= 54,85 μg/g

 Kode Sampel Rambut 1 SPRA Zn-60 dengan energy 1115,55 keV

(cps) a Exp(−λ.t da )
Wa = .Wst
(cps) st Exp(−λ.t st )

W = x x 12,30890 μg
47

W = 1,9137 x 0,9995 x 12,30890 μg

W = 23,544 μg ( konsentrasi unsur dalam target )

Konsentrasi unsur dalam target =

= 322,98 μg/g

 Kode Sampel Rambut 1 SPRA Fe-59 dengan energy 1099,25 keV

(cps) a Exp(−λ.t da )
Wa = .Wst
(cps) st Exp(−λ.t st )

W = x x 9,06584 μg

W = 0,79416 x 0,9974 x 9,06584 μg

W = 7,18109 μg ( konsentrasi unsur dalam target )

Konsentrasi unsur dalam target =

= 98,51 μg/g
48

Lampiran 6

Data hasil analisis unsur Co, Zn, dan Fe dalam sampel rambut

No Kode Co (μg/g) Zn (μg/g) Fe (μg/g)


1 1LST 28,12 ± 1,88 106,15 ± 3,60 Ttd
2 68,93 ± 3,81 101,07 ± 4,80 74,39 ± 12,70
3 2LST 26,23 ± 1,78 134,68 ± 5,81 Ttd
4 200,56 ± 9,94 171,14 ± 7,11 294,42 ± 62,73
5 3LST 59,27 ± 3,02 277,92 ± 9,29 47,69 ± 14,47
6 28,20 ± 2,23 308,08 ± 8,29 Ttd
7 1LSS 78,29 ± 4,36 141,66 ± 6,51 Ttd
8 103,92 ± 5,64 175,08 ± 6,96 113,97 ± 65,28
9 2LSS 22,08 ± 2,17 201,24 ± 6,19 Ttd
10 16,32 ± 1,79 183,69 ± 3,68 67,04 ± 18,58
11 3LSS 29,93 ± 2,11 152,98 ± 4,76 60,98 ± 15,57
12 27,23 ± 2,02 166,25 ± 3,27 70,37 ± 17,10
13 1LSR 70,02 ± 3,86 180,68 ± 5,75 61,17 ± 16,10
14 16,67 ± 1,86 153,54 ± 3,25 241,27 ± 53,78
15 2LSR 21,26 ± 0,92 110,16 ± 3,36 95,47 ± 67,71
16 25,46 ± 0,99 111,61 ± 4,03 Ttd
17 3LSR 690,79 ± 112,20 1258,29 ± 92,39 Ttd
18 1319,95 ± 210,39 1340,86 ± 98,92 256,69 ± 93,49
19 1SPT 18,53 ± 4,52 29,62 ± 4,11 93,97 ± 28,62
20 25,79 ± 6,74 32,35 ± 5,93 Ttd
21 2SPT 776,79 ± 125,61 48,20 ± 6,80 Ttd
22 1110,73 ± 177,87 2874,73 ± 208,28 109,84 ± 49,39
23 3SPT 43,30 ± 11,04 22,10 ± 5,31 155,83 ± 34,69
24 45,58 ± 3,02 240,40 ± 11,48 Ttd
25 1SPS 30,48 ± 2,18 149,11 ± 9,68 Ttd
26 28,74 ± 1,59 157,56 ± 8,18 Ttd
27 2SPS 26,34 ± 1,94 899,36 ± 43,76 Ttd
28 56,70 ± 3,43 887,35 ± 43,59 Ttd
29 3SPS 769,25 ± 35,42 608,35 ± 31,07 292,02 ± 77,03
30 176,51 ± 8,81 465,49 ± 24,33 257,91 ± 74,13
31 1SPR 54,85 ± 4,61 322,99 ± 12,30 98,51 ± 18,50
32 136,85 ± 9,77 374,33 ± 13,50 127,45 ± 23,44
33 2SPR 868,61 ± 54,28 1550,43 ± 51,88 214,65 ± 40,38
34 176,82 ± 11,76 314,10 ± 10,54 Ttd
35 3SPR 502,37±1,98 625,81 ± 20,54 Ttd
36 358,90±22,42 531,90 ± 17,91 67,38 ±20,49
49

37 1NSLT 186,31 ±12,60 165,95 ±7,21 91,93 ±19,32


38 84,21 ±7,47 165,24±9,86 Ttd
39 2NSLT 76,96 ±6,80 205,86 ±11,29 Ttd
40 40,36 ±4,10 184,87 ±10,40 23,98 ±9,92
41 3NSLT 1,40 ± 0,18 7,11 ± 0,86 1,71 ±0,23
42 1,40 ± 0,18 83,35 ± 3,23 Ttd
43 1NSLS 223,05 ±16,35 692,38 ±30,69 23,98 ±9,92
44 93,87 ±7,89 189,93 ±10,52 69,46 ±25,55
45 2NSLS 325,01 ±24,56 231,82 ±12,86 Ttd
46 135,77 ±10,86 180,57 ±10,02 Ttd
47 3NSLS 53,92 ±2,60 171,26 ±13,90 Ttd
48 59,76 ±3,56 199,60 ±20,72 30,95 ± 8,93
49 1NSLR 23,93 ±1,21 157,58 ±12,42 Ttd
50 158,13 ±7,03 200,68 ±15,77 Ttd
51 2NSLR 34,72 ±1,66 123,87 ±9,90 Ttd
52 33,79 ±1,56 173,32 ±13,24 Ttd
53 3NSLR 276,14 ± 61,20 352,11 ± 24,85 9,30 ±2,75
54 564,12 ± 124,12 349,85 ± 24,67 15,35 ±6,31
55 1NSPT 36,42 ±1,80 386,35 ±29,20 Ttd
56 64,25 ±1,17 468,67 ±18,47 Ttd
57 2NSPT 5,86 ±0,21 241,90 ±9,28 20,81 ±9,79
58 6,00 ±0,20 119,13 ±5,79 22,71 ±10,71
59 3NSPT 54,50 ±1,06 131,03 ±7,99 Ttd
60 47,92 ±0,95 295,80 ±12,77 Ttd
61 1NSPS 10,24 ±0,33 271,56 ±11,90 Ttd
62 13,69 ±0,40 285,07 ±10,80 Ttd
63 2NSPS 754,89 ± 73,25 2342,42 ± 221,73 Ttd
64 736,03 ± 71,16 1997,55 ± 188,75 21,14 ±6,78
65 3NSPS 3622,46 ± 340,71 1339,08 ± 128,45 25,92 ±10,89
66 1074,81 ± 103,73 1205,63 ± 116,38 34,64 ±11,71
67 1NSPR 2061,29 ± 194,94 1557,36 ± 147,29 133,18 ±27,87
68 11357,20 ± 1061,26 1532,24 ± 147,56 40,45 ±18,89
69 2NSPR 971,07 ± 92,23 2046,37 ± 192,48 62,56 ±15,09
70 0,93 ± 0,19 7,54 ± 0,98 Ttd
71 3NSPR 64,16 ± 2,36 264,41 ± 9,52 Ttd
72 29,65 ± 1,36 286,15 ± 9,92 Ttd

ttd : tidak terdeteksi karena kadarnya lebih kecil dari limit deteksi
Limit deteksi Co : 0,91 μg/g
Zn : 6,19 μg/g
Fe : 2,62 μg/g
50

Lampiran 7

Data hasil analisis rerata unsur Co, Zn, dan Fe dalam


sampel rambut

Unsur
No Kode
Co (μg/g) Zn (μg/g) Fe (μg/g)
1 1LST 52,4 ± 1,7 104,4 ± 2,9 74,4 ± 12,7
2 2LST 140,1 ± 1,8 153,6 ± 4,5 294,1 ± 62,7
3 3LST 50,1 ± 1,8 296,2 ± 6,2 47,7 ± 14,5
4 1LSS 91,4 ± 3,5 160,8 ± 4,8 114,0 ± 65,3
5 2LSS 19,5 ± 1,4 188,9 ± 3,2 67,0 ±18,6
6 3LSS 28,6 ± 1,5 162,5 ± 2,7 65,9 ± 11,5
7 1LSR 59,6 ± 1,7 161,9 ± 2,8 166,0 ± 15,4
8 2LSR 23,6± 0,7 110,8±2,6 95,5 ± 67,7
9 3LSR 1011,3 ± 99,0 1299,4±67,5 256,7±93,5
10 1SPT 21,9 ±3,8 30,6±3,4 94,0±28,6
11 2SPT 945,4±102,6 2284,6 ±6,8 109,8±49,4
12 3SPT 45,4±2,9 232,2± 4,8 155,8±34,7
13 1SPS 29,4± 1,3 154,3±6,2 ttd
14 2SPS 44,5±1,7 893,4±30,9 ttd
15 3SPS 496,6± 8,5 538,6 ±19,2 276,4± 53,4
16 1SPR 102,5± 4,2 350,1± 9,1 113,3±14,5
17 2SPR 558,3±11,5 933,9±10,3 213,7± 38,8
18 3SPR 429,3± 18,4 580,1±13,5 67,4±20,5
19 1NSLT 148,8±6,4 165,7±5,8 91,9± 19,3
20 2NSLT 61,2±3,5 195,6±7,6 21,9±5,3
21 3NSLT 1,4± 0,1 76,2±0,8 Ttd
22 1NSLS 167,2±7,1 496,2±10,0 49,4± 9,2
23 2NSLS 235,8±9,9 206,2±7,9 ttd
24 3NSLS 56,2±2,1 182,0±11,5 31,0± 8,9
25 1NSLR 99,8±1,2 179,2±9,8 ttd
26 2NSLR 34,2±1,1 149,7±7,9 ttd
27 3NSLR 421,2±54,9 351,0±17,5 11,4±2,5
28 1NSPT 60,9± 1,0 451,1±15,6 ttd
29 2NSPT 5,9±0,1 194,8±4,9 21,8±7,2
30 3NSPT 51,3±0,7 240,8±6,8 ttd
51

31 1NSPS 12,2±0,3 279,3±8,0 ttd


32 2NSPS 745,4±51,0 2169,7±143,7 21,0±6,4
33 3NSPS 2381,5± 99,2 1272,8±86,2 31,2± 8,0
34 1NSPR 6765,0±191,7 1545,0±104,2 117,7±15,6
35 2NSPR 486,0± 0,2 1027,0± 1,0 62,6± 15,1
36 3NSPR 50,6± 1,2 275,7± 6,9 ttd

ttd : tidak terdeteksi karena kadarnya lebih kecil dari limit deteksi
Limit deteksi Co : 0,91 μg/g
Zn : 6,19 μg/g
Fe : 2,62 μg/g
52

Lampiran 8

Korelasi unsur runut Co, Zn dan Fe pada rambut terhadap


kecerdasan siswa

N Nilai Kadar Unsur (μg/g)


O Raport Co r Zn R Fe r
1 72,5 52,4 ± 1,7 -0,289 104,4 ± 2,9 0,166 74,4 ± 12,7 0,143
2 72 140,1 ± 1,8 153,6 ± 4,5 294,1 ± 62,7
3 71,5 50,1 ± 1,8 296,2 ± 6,2 47,7 ± 14,5
4 70 91,4 ± 3,5 160,8 ± 4,8 114,0 ± 65,3
5 69,5 19,5 ± 1,4 188,9 ± 3,2 67,0 ±18,6
6 68,5 28,6 ± 1,5 162,5 ± 2,7 65,9 ± 11,5
7 65 59,6 ± 1,7 161,9 ± 2,8 166,0 ± 15,4
8 65 23,6± 0,7 110,8±2,6 95,5 ± 67,7
9 62 1011,3 ± 99,0 1299,4±67,5 256,7±93,5
10 71 21,9 ±3,8 30,6±3,4 94,0±28,6
11 71 945,4±102,6 2284,6 ±6,8 109,8±49,4
12 70,5 45,4±2,9 232,2± 4,8 155,8±34,7
13 70 29,4± 1,3 154,3±6,2 Ttd
14 69,5 44,5±1,7 893,4±30,9 Ttd
15 69 496,6± 8,5 538,6 ±19,2 276,4± 53,4
16 66 102,5± 4,2 350,1± 9,1 113,3±14,5
17 65 558,3±11,5 933,9±10,3 213,7± 38,8
18 66 429,3± 18,4 580,1±13,5 67,4±20,5
19 77,5 148,8±6,4 165,7±5,8 91,9± 19,3
20 75 61,2±3,5 195,6±7,6 21,9±5,3
21 75 1,4± 0,1 76,2±0,8 Ttd
22 70 167,2±7,1 496,2±10,0 49,4± 9,2
23 70 235,8±9,9 206,2±7,9 Ttd
24 70 56,2±2,1 182,0±11,5 31,0± 8,9
25 65 99,8±1,2 179,2±9,8 Ttd
26 60 34,2±1,1 149,7±7,9 Ttd
27 62,5 421,2±54,9 351,0±17,5 11,4±2,5
28 82,5 60,9± 1,0 451,1±15,6 19,0±15,5
29 80,5 5,9±0,1 194,8±4,9 21,8±7,2
30 75 51,3±0,7 240,8±6,8 34,5±58,6
31 71 12,2±0,3 279,3±8,0 16,6±12,9
32 70 745,4±51,0 2169,7±143,7 21,0±6,4
33 70 2381,5± 99,2 1272,8±86,2 31,2± 8,0
34 65 6765,0±191,7 1545,0±104,2 117,7±15,6
35 60 486,0± 0,2 1027,0± 1,0 62,6± 15,1
36 64 50,6± 1,2 275,7± 6,9 28,7± 62,5
53

Ket : r : Koefisien korelasi


Ttd : Tak terdeteksi