Você está na página 1de 4

AUTIS

Autisme berasal dari kata auto yang berarti sendiri. Anak autistik ialah anak yang mengalami gangguan berat
yang antara lain mempengaruhi cara seseorang untuk berkomunikasi dan berhubungan dengan orang lain
(Sutadi,2002). Autisme juga merupakan gangguan perkembangan organik yang mempengaruhi kemampuan
anak-anak dalam berinteraksi dan menjalani kehidupanny. Kartono dan Gulo (2003) mendefinisikan autisme
sebagai kecenderungan pikiran-pikiran dan persepsi seseorang yang dipengaruhi oleh hasrat dan keinginannya
serta dalam fantasi dan khayalan-khayalannya, dimana kenyataan objektif tidak terlihat karena adanya
kecenderungan melihat dunia secara subjektif. Matson, (dalam APA,1987) juga mengemukakan bahwa autistik
merupakan gangguan perkembangan yang berentetan atau pervasif. Gangguan perkembangan ini terjadi secara
jelas pada waktu bayi, maa anak-anak dan masa remaja. Autistik adalah suatu perkembangan yang kompleks
menyangkut komunikasi, interaksi sosial dan aktivitas imajinasi dan anak autis adalah anak yang mempunyai
masalah atau gangguan dalam bidang komunikasi, interaksi sosial, gangguan sensoris, pola bermain, perilaku
dan emosi (Depdiknas,2002).Autisme merupakan gangguan perkembangan fungsi otak yang kompleks dan
sangat bervariasi (spektrum), biasanya, gangguan perkembangan ini meliputi cara berkomunikasi, berinteraksi
sosial, dan kemampuan berimajinasi. Autisme adalah gejala menutup diri sendiri secara total, dan tidak mau
berhubungan lagi dengan dunia luar, merupakan gangguan perkembangan yang komplek, mempengaruhi
perilaku, dengan akibat kekurangan kemampuan komunikasi, hubungan sosial dan emosional dengan orang lain,
kemampuan motorik kasar, kemampuan motorik halus, dan tidak tergantung dari ras, suku, strata-ekonomi,
strata sosial, tingkat pendidikan, geografis tempat tinggal, maupun jenis makanan. Tanda-tanda ini semuanya
dimulai sebelum anak berusia tiga tahun. Autisme mempengaruhi pengolahan informasi di otak dengan
mengubah cara sel saraf dan sinapsis mereka menghubungkan dan mengatur; bagaimana hal ini terjadi tidak
dipahami dengan baik. Autisme merupakan gangguan perkembangan fungsi otak yang kompleks dan sangat
bervariasi (spektrum), biasanya, gangguan perkembangan ini meliputi cara berkomunikasi, berinteraksi sosial,
dan kemampuan berimajinasi.

Terapi Sensori Integrasi (“SI”) sebagai salah satu bentuk Terapi Okupasi dan treatment pada Anak
Berkebutuhan Khusus yang juga seringkali digunakan sebagai cara untuk melakukan upaya perbaikan, baik
untuk perbaikan gangguan perkembangan atau tumbuh kembang atau gangguan belajar, gangguan interaksi
sosial, maupun perilaku lainnya. Sensori Integrasi merupakan suatu proses mengenal, mengubah, membedakan
sensasi dari sistem sensori untuk menghasilkan suatu respon berupa “Perilaku Adaptif Bertujuan”.
Terapi Sensori Integrasi menekankan stimulasi pada tiga indra utama, yaitu taktil, vestibular, dan
proprioseptif. Ketiga sistem sensori ini memang tidak terlalu familiar dibandingkan indera pengelihatan dan
pendengaran, namun sistem ini sangat penting karena membantu interpretasi dan respon anak terhadap
lingkungan.
Sistem Taktil
Sistem taktil merupakan sistem sensori terbesar yang dibentuk oleh reseptor di kulit, yang mengirim informasi
ke otak terhadap rangsangan cahaya, sentuhan, nyeri, suhu, dan tekanan. Sistem taktil terdiri dari dua
komponen, yaitu protektif dan diskriminatif, yang bekerja sama dalam melakukan tugas dan fungsi sehari-hari.
Hipersensitif terhadap stimulasi Taktil yang dikenal dengan tactile defensiveness, dapat menimbulkan
mispersepsi terhadap sentuhan, berupa respon menarik diri saat disentuh, menghindari kelompok orang,
menolak makan makanan tertentu atau memakai baju tertentu, serta menggunakan ujung-ujung jari, untuk
memegang benda tertentu.
Bentuk lain disfungsi ini adalah perilaku yang mengisolasi diri atau menjadi irritable. Bentuk hiposensitif dapat
berupa reaksi kurang sensitif terhadap rangsang nyeri, suhu, atau perabaan suatu obyek. Anak akan mencari
stimulasi yang lebih dengan menabrak mainan, orang, perabot, atau dengan mengunyah atau menggigit benda.
Kurangnya reaksi terhadap nyeri dapat menyebabkan anak berada dalam bahaya.
Sistem Vestibular
Sistem vestibular terletak pada telinga dalam (kanal semisirkular) dan mendeteksi gerakan serta perubahan
posisi kepala. Sistem vestibular merupakan dasar tonus otot, keseimbangan, dan koordinasi bilateral. Tanda
anak yang hipersensitif terhadap stimulasi vestibular mempunyai respon fight atau flight antara lain: anak takut
atau lari dari orang lain,anak bereaksi takut terhadap gerakan sederhana, peralatan bermain di tanah, atau berada
di dalam mobil.
Sistem Proprioseptif
Sistem Proprioseptif terdapat pada serabut otot, tendon dan ligamen yang memungkinkan anak secara tidak
sadar mengetahui posisi dan gerakan tubuh. Contoh dari sistem ini adalah gerakan motorik halus, antara lain
menulis, mengangkat sendok dan mengancingkan baju. Hipersensitif terhadap sistem propioseptif
menyebabkan berkurangnya kemampuan menginterpretasikan umpan balik/feed back dari setiap gerakan dan
tingkat kewaspadaan yang relative rendah. Tanda disfungsi sistem proprioseptif adalah clumsiness,
kecenderungan untuk jatuh, postur tubuh yang aneh, makan yang berantakan, dan kesulitan memanipulasi objek
kecil, seperti kancing. Hiposensitif sistem proprioseptif menyebabkan anak suka menabrak benda, menggigit
atau membentur benturkan kepala.
GANGGUAN PROSES SENSORI
Sensor Integrasi (“SI”) terjadi akibat pengaruh input sensori, antara lain sensasi melihat, mendengar, taktil,
vestibular, dan proprioseptif. Proses ini berawal dari dalam kandungan dan memungkinkan perkembangan
respon adaptif, yang merupakan dasar berkembangnya ketrampilan yang lebih kompleks, seperti bahasa,
pengendalian emosi, dan berhitung. Gangguan dalam pemrosesan sensori ini dapat menimbulkan berbagai
masalah fungsional dan perkembangan yang dikenal sebagai disfungsi sensori integrasi. Prevalens gangguan
proses sensori makin kecil peluangnya pada anak tanpa cacat 5% sampai 10%, tetapi makin besar peluang
terjadi prevalens pada anak dengan kecacatan 40% hingga 88%.
Pada keadaan gangguan proses sensori, input sensori dari lingkungan dan internal tubuh bekerja secara masing-
masing, sehingga anak tidak mengetahui apa yang sedang terjadi dan apa yang harus dilakukan. Tahapan proses
sensori meliputi pengenalan, orientasi, interpretasi dan organisasi. Konsep progresi perkembangan, sensori
integrasi terjadi saat anak yang berkembang mulai mengerti dan menguasai input sensori yang dialami.
Mispersepsi dapat menimbulkan berbagai gangguan perkembangan dan perilaku.
Gangguan pemrosesan sensori terbagi menjadi beberapa tipe, yaitu:

1. Sensory Modulation Disorder (SMD). Pada SMD anak mengalami kesulitan merespon input sensori
sehingga memberikan respon perilaku yang tidak sesuai. Sensory Modulation Disorder terbagi menjadi
tiga subtipe, yaitu:

 Sensory Over-responive (SOR), respon terhadap sensasi lebih cepat, intens dan lebih lama dari sewajarnya.
 Sensory Under-responive (SUR), kurang respon/tidak memperhatikan rangsangan sensori dari lingkungan.
Menyebabkan apatis atau tidak memiliki dorongan untuk memulai sosialisasi dan eksplorasi.
 Sensory Seeking/Craving (SS), seringkali merasa tidak puas dengan rangsangan sensori, cenderung mencari
aktivitas yang sensasional.

2. Sensory-Based Motor Disorder (SBMD). Pada SBMD, anak memiliki gerakan postural yang buruk.
Pada disfungsi ini anak mengalami kesalahan dalam menginterpretasikan input sensori yang berasal
dari sistem proprioseptif dan vestibular. SBMD mempunyai dua subtipe, yaitu:

 Dyspraxia, anak memiliki gangguan dalam menerima dan melakukan perilaku baru juga memiliki koordinasi
yang buruk pada ranah oromotor, motorik kasar dan halus.
 Postural Disorder, anak mengalami kesulitan untuk menstabilkan tubuh saat bergerak maupun beristirahat. Anak
dengan gangguan postural biasanya tampak lemah, mudah lelah, dan cenderung tidak menggunakan tangan yang
dominan.

3. Sensory Discrimination Disorder (SDD), pada sensory ini anak mengalami kesulitan dalam
menginterpretasikan kualitas rangsangan sehingga tidak dapat membedakan sensasi yang serupa. SDD
pada sistem visual dan auditory dapat menyebabkan gangguan bahasa dan belajar, sedangkan SDD
pada sistem taktil, proprioseptif dan vestibular menyebabkan gangguan kemampuan motorik.

EFEKTIVITAS TERAPI SENSORI INTEGRASI

Terapi Sensori Integrasi memperlihatkan adanya manfaat untuk anak dengan retardasi mental ringan,
autisme, dan gangguan proses sensori. Meskipun dalam beberapa literatur, efektivitas Terapi Sensori Integrasi
dinyatakan tidak lebih baik daripada terapi alternatif, akan tetapi beberapa penelitian membuktikan bahwa
efektivitas Terapi Sensori Integrasi dinilai memuaskan pada anak-anak dengan kondisi retardasi mental ringan
dan Autism Spectrum Disorder dalam mengoptimalkan pemrosesan sensori dan respon motorik. Penelitian juga
menunjukkan Terapi Sensori Integrasi ini juga efektif pada anak ADHD dalam mengurangi kesulitan pada
gangguan Sensory Motor Disorder (SMD). Terapi Sensori Integrasi banyak digunakan untuk tata laksana anak
dengan gangguan perkembangan, belajar, maupun perilaku.
Terapi Sensori Integrasi umumnya dilakukan dengan pola permainan, namun bukan permainan sembarangan,
karena di dalam permainan tersebut terdapat trik-trik khusus untuk melatih anak yang berguna untuk
meningkatkan daya kepekaan pada anak. Dalam Terapi Sensori Integrasi terdapat banyak metode di setiap
permainan yang berguna dalam pembentukan karakter anak. Terapi Sensori Integrasi juga dapat dilakukan
dengan media air di kolam renang (Terapi Sensori Akuatik).
Sebelum orang-orang mengenal apa itu Terapi Sensori Integrasi, banyak orang tua yang membawa anaknya ke
Klinik Tumbuh Kembang Anak atau Pusat Terapi untuk memberikan terapi mengeluh dan memprotes tentang
metode yang diberikan para Terapis kepada anaknya, karena orang tua menganggap bahwa anak-anak mereka
hanya diajak bermain saja, padahal kenyataannya memang seperti itulah cara Terapis memberikan Terapi
Sensori Integrasi yang mana di dalam permainan yang diberikan terdapat banyak metode untuk meningkatkan
konsentrasi dan kepekaan anak.
Contoh permainan yang seringkali diberikan Terapis antara lain: mencocokan gambar puzzle, berjalan di atas
garis atau balok titian dan menyamakan warna. Permainan tersebut berguna untuk melatih daya konsentrasi
anak, penglihatan anak dan motorik pada anak. Orang Tua tidak perlu merasa cemas dengan proses terapi yang
diberikan oleh Terapis, karena memang seperti itu metode yang dapat diterapkan pada anak untuk melatih
tingkat kepekaannya. Berbagai jenis gangguan termasuk gangguan Sensori Integrasi apabila diatasi sejak dini
maka dampak positifnya pada anak akan semakin cepat dan hasilnya semakin maksimal.

Gejala Autisme (1)

Gejala autisme secara umum terdeteksi pada saat usia anak belum mencapai usia tiga tahun dengan tingkat yang
bervariasi pada tiap anak, mulai dari gejala ringan hingga berat. Adakalanya guru di sekolah baru akan melihat
gejala tersebut ketika menerapkan cara mendidik anak balita di sekolah. Tidak semua anak akan menunjukkan
semua gejala, namun beberapa diantaranya akan tampak pada anak mulai dari usia tersebut:

 Kesulitan bersosialisasi yang konstan, termasuk kesulitan berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain
secara lisan, sulit menggunakan dan memahami bahasa, tidak menggunakan bahasa tubuh untuk menyampaikan
maksudnya.
 Menunjukkan pengulangan perilaku seperti sering mengepakkan tangan, berputar – putar tanpa tujuan,
membenturkan kepala, juga minat dan aktivitas yang terbatas.
 Memasuki usia mampu bicara namun tidak mampu menjalin percakapan atau interaksi dengan orang lain.
 Lebih suka bermain sendiri dan sulit berteman. Kemungkinan anak dengan autisme memang akan terlihat
kurang peduli dan berminat pada anak – anak lainnya.
 Kesulitan menyesuaikan diri dengan perubahan seperti pada rutinitasnya atau perubahan pada lingkungannya.
 Menyukai benda – benda yang tidak biasa atau mempunyai bagian yang tidak biasa.
 Pada usia dini, beberapa anak yang mengalami autisme tidak menggunakan suara vokal atau mengoceh. Anak
yang berusia lebih tua mempunyai kesulitan untuk menggunakan perilaku non verbal untuk berinteraksi dengan
orang lain. Anak sulit sekali menjalin kontak mata atau bahkan tidak ada kontak mata, sulit menampakkan
beragam ekspresi wajah, bahasa tubuh dan gestur.
 Sulit mengerti emosi dan perasaan orang lain, dan sulit memulai atau turut serta dalam pembicaraan dengan
layak.
 Anak dengan autisme akan cenderung mengulangi akta – kata atau frasa yang diucapkan orang lain tanpa
membentuk gaya bicara mereka sendiri dan tidak mengembangkan kemampuan berbahasanya sendiri. Beberapa
anak terlihat tidak bermain peran atau berimajinasi, dan sebagian lainnya justru terus menerus memainkan dan
mengulang permainan peran yang sama.
 Beberapa anak menyukai rutinitas yang sama persis dan perubahan kecil akan menyebabkan mereka tantrum.
Beberapa menunjukkan bahwa mereka terganggu dengan menjentikkan jari, mengulang tindakan seperti
menyala matikan lampu, membuka dan menutup pintu, atau membariskan benda – benda.
 Anak terpaku dengan satu kegiatan atau ritual yang tidak ada tujuan dan tidak ada gunanya. Anak
mempertahankan satu atau beberapa inatnya dengan cara berlebihan.
GEJALA AUTIS (2)
Gangguan Kemampuan Sosial
Autisme berkaitan dengan gangguan kemampuan sosial yang penderitanya berinteraksi berbeda dengan orang
pada umumnya. Pada tingkat gejala ringan, ciri-ciri autisme yang muncul adalah tampak canggung saat
berhubungan dengan orang lain, mengeluarkan komentar yang menyinggung orang lain, dan tampak terasing
saat berkumpul bersama orang lain. Penderita autis dengan tingkat gejala autis yang parah biasanya tidak suka
berinteraksi dengan orang lain. Mereka juga cenderung menghindari kontak mata1. Pada anak-anak, gejala
autis berupa gangguan kemampuan sosial ini dapat terlihat dari ketidaktertarikannya pada permainan bersama
serta sulit berbagi dan bermain secara bergantian2.
Kesulitan Berempati
Sangat sulit bagi anak penderita autisme untuk memahami perasaan orang lain, sehingga mereka jarang
berempati terhadap orang lain. Mereka juga sulit mengenali dan memahami bahasa tubuh atau intonasi bicara.
Saat berbicara dengan orang lain, komunikasi cenderung bersifat satu arah karena mereka lebih banyak
membicarakan dirinya sendiri. Untungnya, kemampuan berempati ini dapat dilatih dan meningkat jika mereka
rutin diingatkan untuk belajar mempertimbangkan perasaan orang lain1.
Tidak Suka Kontak Fisik
Tak seperti anak lain pada umumnya, sebagian anak penderita autisme tidak menyukai jika mereka disentuh
atau dipeluk. Namun, tidak semua menunjukkan gejala yang sama. Sebagian anak dengan autisme sering dan
senang memeluk mereka yang dekat dengannya1.
Tidak Suka Suara Keras, Beberapa Aroma, dan Cahaya Terang
Anak penderita autisme umumnya merasa terganggu dengan suara keras yang mengagetkan, perubahan kondisi
cahaya, dan perubahan suhu yang mendadak. Diyakini bahwa yang membuat mereka merasa terganggu adalah
perubahan mendadak, sehingga mereka tidak bisa mempersiapkan diri terlebih dahulu. Bagi anak-anak dengan
autisme, memberitahu mereka tentang sesuatu yang akan terjadi ternyata bermanfaat bagi mereka1.
Gangguan Bicara
Ciri-ciri autisme bisa juga Anda deteksi dengan mengetahui kemampuan bicara pada anak. Diketahui bahwa
40% dari anak-anak dengan autisme tidak dapat berbicara atau hanya dapat mengucapkan beberapa kata saja.
Sekitar 25-30% dapat mengucapkan beberapa kata pada usia 12-18 bulan, namun sesudahnya kehilangan
kemampuan berbicara. Sedangkan sisanya baru dapat berbicara setelah agak besar. Intonasi penderita autisme
saat berbicara biasanya cenderung datar dan bersifat formal. Mereka juga suka mengulang kata atau frase
tertentu, atau dikenal sebagai echolalia1.
Suka Tindakan Berulang
Anak autis menyukai hal yang sudah pasti sehingga mereka menikmati melakukan rutinitas yang sama terus
menerus atau sering melakukan tindakan yang berulang-ulang. Adanya perubahan pada rutinitas sehari-hari
akan terasa sangat mengganggu bagi mereka1. Tindakan yang berulang ini dapat bervariasi dan dikenal sebagai
stimulating activities (stimming), serta biasanya menjadi suatu obsesi tersendiri bagi penderita autisme2.
Perkembangan Tidak Seimbang
Perkembangan anak pada umumnya bersifat seimbang, artinya perkembangannya meliputi banyak faktor dan
bertahap. Sebaliknya, perkembangan pada anak-anak autis cenderung tidak seimbang: perkembangan di satu
bidang terjadi dengan cepat namun terhambat di bidang lainnya. Sebagai contoh, perkembangan kemampuan
kognitif terjadi dengan pesat namun kemampuan bicara masih terhambat atau perkembangan kemampuan bicara
terjadi dengan pesat namun kemampuan motorik masih terhambat1.