Você está na página 1de 14

ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

1. Pengertian
Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) adalah anak yang mempunyai
kelainan/penyimpangan dari kondisi rata-rata anak normal baik secara fisik, mental,
intelektual, sosial maupun emosional.
Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang membutuhkan pendidikan dan
layanan khusus untuk mengoptimalkan potensi kemanusiaannya secara utuh akibat
adanya perbedaan kondisi dengan kebanyakan anak lainnya. Mereka adalah yang secara
fisik, psikologis, kognitif, atau sosial terhambat dalam mencapai tujuan atau kebutuhan
dan potensi secara maksimal sehingga memerlukan penanganan yang terlatih dari tenaga
profesional.

2. Epidemiologi
Jumlah anak berkebutuhan khusus (ABK) di Indonesia dari tahun ke tahun terus
meningkat. PBB memperkirakan bahwa paling sedikit ada 10 persen anak usia sekolah
yang memiliki kebutuhan khusus. Di Indonesia, jumlah anak usia sekolah, yaitu 5 - 14
tahun, ada sebanyak 42,8 juta jiwa. Jika mengikuti perkiraan tersebut, maka diperkirakan
ada kurang lebih 4,2 juta anak Indonesia yang berkebutuhan khusus.
Di Indonesia belum ada data resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah. Menurut
data terbaru jumlah anak berkebutuhan khusus di Indonesia tercatat mencapai 1.544.184
anak, dengan 330.764 anak (21,42 persen) berada dalam rentang usia 5-18 tahun. Dari
jumlah tersebut, hanya 85.737 anak berkebutuhan khusus yang bersekolah. Artinya,
masih terdapat 245.027 anak berkebutuhan khusus yang belum mengenyam pendidikan
di sekolah, baik sekolah khusus ataupun sekolah inklusi. Sedangkan dari asumsi PBB
(Persatuan Bangsa-Bangsa atau United Nations) yang memperkirakan bahwa paling
sedikit 10% anak usia sekolah menyandang kebutuhan khusus. Jumlah anak
berkebutuhan khusus pada tahun 2011 tercatat sebanyak 356.192 anak, namun yang
mendapat layanan baru 86.645 anak dan hingga tahun ini baru 105.185 anak, tahun 2012
pemerintah mentargetkan minimal 50% anak berkebutuhan khusus sudah terakomodir.
3. Etiologi
Faktor-faktor penyebab anak menjadi berkebutuhan khusus, dilihat dari waktu
kejadiannya dapat dibedakan menjadi tiga klasifikasi, yaitu kejadian sebelum kelahiran,
saat kelahiran dan penyebab yang terjadi setelah lahir.
1. Pre-Natal
Terjadinya kelainan anak semasa dalam kandungan atau sebelum proses kelahiran.
Kejadian tersebut disebabkan oleh faktor internal yaitu faktor genetik dan keturunan, atau
faktor eksternal yaitu berupa Ibu yang mengalami pendarahan bisa karena terbentur
kandungannya atau jatuh sewaktu hamil, atau memakan makanan atau obat yang
menciderai janin dan akibta janin yang kekurangan gizi.
Berikut adalah hal-hal sebelum kelahiran bayi yang dapat menyebabkan terjadinya
kelainan pada bayi:
a. Infeksi Kehamilan. Infeksi kehamilan ini bisa terjadi akibat virus Liptospirosis yang
berasal dari air kencing tikus, lalu virus maternal rubella/morbili/campak Jerman dan
virus retrolanta Fibroplasia-RLF.
b. Gangguan Genetika. Gangguan genetika ini dapat terjadi akibat kelainan kromosom,
transformasi yang mengakibatkan keracunan darah (Toxaenia) atau faktor keturunan.
c. Usia Ibu Hamil (high risk group). Usia ibu hamil yang beresiko menyebabkan kelainan
pada bayi adalah usia yang terlalu muda, yaitu 12-15 tahun dan terlalu tua, yaitu di atas
40 tahun. Usia yang terlalu muda memiliki organ seksual dan kandungan yang pada
dasarnya sudah matang dan siap untuk memiliki janin namun secara psikologis belum
siap terutama dari sisi perkembangan emosional sehingga mudah stres dan depresi.
Wanita dengan usia di atas 40, sejalan dengan perkembangan jaman dan semakin
banyaknya polusi zat serta pola hidup yang tidak sehat, bisa menyebabkan kandungan
wanita tersebut tidak sehat dan mudah terinfeksi penyakit.
d. Keracunan Saat Hamil. Keracunan dapat terjadi saat hamil, yaitu bisa diakibatkan janin
yang kekurangan vitamin atau bahkan kelebihan zat besi /timbal misalnya dari hewan laut
seperti mengkonsumsi kerang hijau dan tuna instant secara berlebihan. Selain itu,
penggunaan obat-obatan kontrasepsi ketika wanita mengalami kehamilan yang tidak
diinginkan seperti percobaan abortus yang gagal, sangat memungkinkan bayi lahir cacat.
e. Penyakit menahun seperti TBC (tuberculosis). Penyakit TBC ini dapat terjangkit pada
individu yangm tertular oleh pengidap TBC lain, atau terjangkit TBC akibat bakteri dari
lingkungan (sanitasi) yang kotor. Penyakit TCB ini harus mendapatkan perawatan khusus
dan rutin. Pada ibu hamil yang mengidap TBC, maka dapat mengganggu metabolisme
tubuh ibu dan janin sehingga bayi bisa tumbuh tidak sempurna.
f. Infeksi karena penyakit kotor. Penyakit kotor yang dimaksud adalah penyakit
kelamin/sipilis yang bisa terjangkit pada ibu. Organ kelamin yang terkena infeksi
penyakit sipilis ini dapat menyebabkan tubuh ibu menjadi lemah dan mudah terkena
penyakit lainnya yang dapat membahayakan bagi janin dan ibu.
g. Toxoplasmosis (yang berasal dari virus binatang seperti bulu kucing), trachoma dan
tumor. Penyakitpenyakit tersebut tergolong penyakit yang kronis namun perkembangan
ilmu kedokteran sudah menemukan berbagai obat imunitas, seperti pada ibu yang sudah
diketahui tubuhnya mengandung virus toxoplasma, maka sebelum kehamilan dapat
diimunisasi agar virus tersebut tidak membahayakan janin kelak.
h. Faktor rhesus (Rh) anoxia prenatal, kekurangan oksigen pada calon bayi. Jenis rhesus
darah ibucukup menentukan kondisi bayi, terutama jika berbeda dengan bapak. Kelainan
lainnya adalah ibu yang terjangkit virus yang bisa menyebabkan janin kekurangan
oksigen sehingga pertumbuhan otak janin terganggu.
i. Pengalaman traumatic yang menimpa pada ibu. Pengalaman traumatic ini bisa berupa
shock akibat ketegangan saat melahirkan pada kehamilan sebelumnya, syndrome baby
blue, yaitu depresi yang pernah dialami ibu akibat kelahiran bayi, atau trauma akibat
benturan pada kandungan saat kehamilan.
j. Penggunaan sinar X. Radiasi sinar X dari USG yang berlebihan, atau rontgent, atau
terkena sinar alat-alat pabrik, dapat menyebabkan kecacatan pada bayi karena merusak
sel kromosom janin.
2. Peri-Natal
Sering juga disebut natal, waktu terjadinya kelainan pada saat proses kelahiran
dan menjelang serta sesaat setelah proses kelahiran. Misalnya kelahiran yang sulit,
pertolongan yang salah, persalinan yang tidak spontan, lahir prematur, berat badan lahir
rendah, infeksi karena ibu mengidap Sipilis. Berikut adalah hal-hal yang dapat
mengakibatkan kecacatan bayi saat kelahiran:
a. Proses kelahiran lama, prematur, kekurangan oksigen (Aranatal noxia). Bayi postmatur
atau terlalu lama dalam kandungan seperti 10 bulan atau lebih, dapat menyebabkan bayi
lahir cacat. Hal ini dapat terjadi karena cairan ketuban janin yang terlalu lama jadi
mengandung zat-zat kotor yang membahayakan bayi. Bayi yang prematur atau lahir lebih
cepat dari usia kelahiran, seperti 6-8 bulan, bisa berakibat kecacatan. Apalagi ketika bayi
mengalami kekurangan berat badan ketika kelahiran. Bayi lahir di usia matang yaitu
kurang lebih 40 minggu jika memang sudah sempurna pertumbuhan organnya, terutama
otak. Otak yang belum tumbuh sempurna, dapat menyebabkan kecacatan pada bayi
ketika lahir. Bayi yang ketika lahir tidak langsung dapat menghirup oksigen, misalnya
karena terendam ketuban, cairan kandungan masuk ke paru-paru dan menutupi jalan
pernafasan, atau akibat proses kelahiran yang tidak sempurna sehingga kepala bayi terlalu
lama dalam kandungan sementara tubuhnya sudah keluar dan bayi menjadi tercekik,
maka proses pernafasan bisa tertunda dan bayi kekurangan oksigen.
b. Kelahiran dengan alat bantu. Alat bantu kelahiran meskipun tidak seluruhnya, dapat
menyebabkan kecacatan otak bayi (brain injury), misalnya menggunakan vacum, tang
verlossing.
c. Pendarahan. Pendarahan pada ibu bisa terjadi akibat placenta previa, yaitu jalan keluar
bayi yang tertutup oleh plasenta, sehingga ketika janin semakin membesar, maka gerakan
ibu dapat membenturkan kepala bayi pada plasenta yang mudah berdarah, bahkan sangat
membahayakan ketika bayi dipaksa lahir normal dalam kondisi tersebut. Pendarahan juga
bisa terjadi karena ibu terjangkit penyakit (sipilis, AIDS/HIV, kista).
d. Kelahiran sungsang. Bayi normal akan lahir dalam proses kepala keluar terlebih
dahulu. Bayi dikatakan sungsang apabila kaki atau bokong bahkan tangan yang keluar
dulu. Ibu bisa melahirkan bayinya secara sungsang tanpa bantuan alat apapun, namun ini
sangat beresiko bayi menjadi cacat karena kepala yang lebih lama dalam kandungan,
bahkan bisa berakibat kematian bayi dan ibu. Ketika posisi bayi sungsang, biasanya
dokter menganjurkan untuk melakukan operasi caesar agar terhindar dari resiko
kecacatan dan kematian bayi.
e. Tulang ibu yang tidak proporsional (Disproporsi sefalopelvik). Ibu yang memiliki
kelainan bentuk tulang pinggul atau tulang pelvik, dapat menekan kepala bayi saat proses
kelahiran. Hal ini dapat dihindari dengan melakukan operasi caesar saat melahirkan.
3. Pasca-natal
Terjadinya kelainan setelah anak dilahirkan sampai dengan sebelum usia
perkembangan selesai (kurang lebih usia 18 tahun). Ini dapat terjadi karena kecelakaan,
keracunan, tumor otak, kejang, diare semasa bayi. Berikut adalah hal-hal yang dapat
menyebabkan kecacatan pada anak di masa bayi:
a. Penyakit infeksi bakteri (TBC), virus (meningitis, enchepalitis), diabetes melitus,
penyakit panas tinggi dan kejang-kejang (stuip), radang telinga (otitis media), malaria
tropicana. Penyakit-penyakit tersebut adalah penyakit-penyakit kronis yang bisa
disembuhkan dengan pengobatan yang intensif, namun jika terkena pada bayi maka dapat
menghambat pertumbuhan dan perkembangan fisik dan mental anak, karena terkait
dengan pertumbuhan otak di tahun-tahun pertama kehidupan (golden age).
b. Kekurangan zat makanan (gizi, nutrisi). Gizi dan nutrisi yang sempurna sangat
dibutuhkan bayi
setelah kelahiran. Gizi tersebut dapat diperoleh dari ASI di 6 bulan pertama, dan makana
penunjang dengan gizi seimbang di usia selanjutnya. Jika bayi kekurangan gizi atau
malnutrisi, maka perkembangan otaknya akan terhambat dan bayi dapat mengalami
kecacatan mental.
c. Kecelakaan. Kecelakaan pada bayi terutama pada area kepala dapat mengakibatkan
luka pada otak (brain injury), dan otak sebagai organ utama kehidupan manusia jika
mengalami kerusakan maka dapat merusak pula sistem/fungsi tubuh lainnya.
d. Keracunan. Racun yang masuk dalam tubuh bayi, bisa dari makanan dan minuman
yang dikonsumsi bayi, jika daya tahan tubuh bayi lemah maka dapat meracuni secara
permanen. Racun bisa berasal dari makanan yang kadaluarsa/busuk atau makanan yang
mengandung zat psikoaktif. Racun yang menyebar dalam darah bisa dialirkan pula ke
otak dan menyebabkan kecacatan pada bayi.
4. Identifikasi Anak Berkebutuhan Khusus

Satu hal penting yang perlu diperhatikan adalah bagaimana orang tua dapat
mengenali gejala-gejala kelainan yang terdapat pada anak berkebutuhan khusus sejak
dini. Langkah termudah yang dapat dilakukan orang tua adalah dengan memperhatikan
tumbuh kembang anak. Identifikasi anak berkebutuhan khusus pada usia dini dapat
dilakukan dengan pemantauan tumbuh kembang anak yang meliputi pemantauan dari
aspek fisik, psikologi, dan sosial yang dilakukan secara teratur dan berkesinambungan.
Usia dini, yaitu usia 0 sampai 6 tahun sering juga disebut sebagai fase ”Golden Age”
merupakan masa yang sangat penting untuk memperhatikan “tumbuh kembang anak
secara cermat agar sedini mungkin dapat terdeteksi apabila terjadi kelainan. Pada masa
golden agepenanganan tepat yang diberikan kepada anak berkebutuhan khusus dapat
meminimalisir hambatan yang terjadi pada anak dan secepatnya dapat diberikan
intervensi sesuai dengan kebutuhan.
4. Klasifikasi
Menurut IDEA atau Individuals with Disabilities Education Act Amandements,
klasifikasi dari anak berkebutuhan khusus adalah:
Anak dengan Gangguan Fisik:
1. Tunanetra, yaitu anak yang indera penglihatannya tidak berfungsi (blind/low vision)
sebagai saluran penerima informasi dalam kegiatan sehari-hari seperti orang awas.
Beberapa karakteristik anak-anak tunanetra adalah:
a. Segi Fisik
Secara fisik anak-anak tunanetra, nampak sekali adanya kelainan pada organ
penglihatan/mata, yang secara nyata dapat dibedakan dengan anakanak normal pada
umumnya hal ini terlihat dalam aktivitas mobilitas dan respon motorik yang
merupakan umpan balik dari stimuli visual.
b. Segi Motorik
Hilangnya indera penglihatan sebenarnya tidak berpengaruh secara langsung terhadap
keadaan motorik anak tunanetra, tetapi dengan hilangnya pengalaman visual
menyebabkan tunanetra kurang mampu melakukan orientasi lingkungan. Sehingga
tidak seperti anak-anak normal, anak tunanetra harus belajar bagaimana berjalan
dengan aman dan efisien dalam suatu lingkungan dengan berbagai keterampilan
orientasi dan mobilitas.
c.Perilaku
Kondisi tunanetra tidak secara langsung menimbulkan masalah atau penyimpangan
perilaku pada diri anak, meskipun demikian hal tersebut berpengaruh pada
perilakunya. Anak tunanetra sering menunjukkan perilaku stereotip, sehingga
menunjukkan perilaku yang tidak semestinya. Manifestasi perilaku tersebut dapat
berupa sering menekan matanya, membuat suara dengan jarinya, menggoyang-
goyangkan kepala dan badan, atau berputar-putar. Ada beberapa teori yang
mengungkap mengapa tunanetra kadang-kadang mengembangkan perilaku
stereotipnya. Hal itu terjadi mungkin sebagai akibat dari tidak adanya rangsangan
sensoris, terbatasnya aktifitas dan gerak di dalam lingkungan, serta keterbatasan
sosial. Untuk mengurangi atau menghilangkan perilaku tersebut dengan membantu
mereka memperbanyak aktifitas, atau dengan mempergunakan strategi perilaku
tertentu, seperti memberikan pujian atau alternative pengajaran, perilaku yang lebih
positif, dan sebagainya.
d. Akademik
Secara umum kemampuan akademik, anak-anak tunanetra sama seperti anak-anak
normal pada umumnya. Keadaan ketunanetraan berpengaruh pada perkembangan
keterampilan akademis, khususnya dalam bidang membaca dan menulis. Dengan
kondisi yang demikian maka tunanetra mempergunakan berbagai alternatif media
atau alat untuk membaca dan menulis, sesuai dengan kebutuhannya masing-masing.
Mereka mungkin mempergunakan huruf braille atau huruf cetak dengan berbagai
alternative ukuran. Dengan asesmen dan pembelajaran yang sesuai, tunanetra dapat
mengembangkan kemampuan membaca dan menulisnya seperti temanteman lainnya
yang dapat melihat.
e. Pribadi dan Sosial
Mengingat tunanetra mempunyai keterbatasan dalam belajar melalui pengamatan dan
menirukan, maka anak tunananetra sering mempunyai kesulitan dalam melakukan
perilaku sosial yang benar. Sebagai akibat dari ketunanetraannya yang berpengaruh
terhadap keterampilan sosial, anak tunanetra perlu mendapatkan latihan langsung
dalam bidang pengembangan persahabatan, menjaga kontak mata atau orientasi
wajah, penampilan postur tubuh yang baik, mempergunakan gerakan tubuh dan
ekspresi wajah, mempergunakan intonasi suara atau wicara dalam mengekspresikan
perasaan, menyampaikan pesan yang tepat pada waktu melakukan komunikasi.
Penglihatan memungkinkan kita untuk bergerak dengan leluasa dalam suatu
lingkungan, tetapi tunanetra mempunyai keterbatasan dalam melakukan gerakan
tersebut. Keterbatasan tersebut mengakibatkan keterbatasan dalam memperoleh
keadaan tersebut mengakibatkan tunanetra lebih terlihat memiliki sikap:
• Curiga yang berlebihan pada orang lain, ini disebabkan oleh kekurangmampuannya
dalam berorientasi terhadap lingkungannya
• Mudah tersinggung. Akibat pengalaman-pengalaman yang kurang menyenangkan
atau mengecewakan yang sering dialami, menjadikan anak-anak tunanetra mudah
tersinggung.
• Ketergantungan pada orang lain. Anak-anak tunanetra umumnya memilki sikap
ketergantungan yang kuat pada oranglain dalam aktivitas kehidupan sehari-hari.
Kondisi yang demikian umumnya wajar terjadi pada anak-anak tunanetra berkenaan
dengan keterbatasan yang ada pada dirinya.
2. Tunarungu, yaitu anak yang kehilangan seluruh atau sebagian daya pendengarannya
sehingga tidak atau kurang mampu berkomunikasi secara verbal.
Beberapa karakteristik anak tunarungu, diantaranya adalah:
a. Segi Fisik
• Cara berjalannya kaku dan agak membungkuk. Akibat terjadinya permasalahan pada
organ keseimbangan pada telinga, menyebabkan anak-anak tunarungu mengalami
kekurangseimbangan dalam aktivitas fisiknya.
• Pernapasannya pendek, dan tidak teratur. Anak-anak tunarungu tidak pernah
mendengarkan suara-suara dalam kehidupan sehari-hari, bagaimana bersuara atau
mengucapkan kata-kata dengan intonasi yang baik, sehingga mereka juga tidak terbiasa
mengatur pernapasannya dengan baik, khususnya dalam berbicara.
• Cara melihatnya agak beringas. Penglihatan merupakan salah satu indra yang paling
dominan bagi anak-anak penyandang tunarungu, dimana sebagian besar
pengalamanannya diperoleh melalui penglihatan. Oleh karena itu anak-anak tunarungu
juga dikenal sebagai anak visual, sehingga cara melihatpun selalu menunjukkan
keingintahuan yang besar dan terlihat beringas.
b. Segi Bahasa
• Miskin akan kosa kata
• Sulit mengartikan kata-kata yang mengandung ungkapan, atau idiomatic
• Tatabahasanya kurang teratur
c. Intelektual
• Kemampuan intelektualnya normal. Pada dasarnya anak-anak tunarungu tidak
mengalami permasalahan dalam segi intelektual. Namun akibat keterbatasan dalam
berkomunikasi dan berbahasa, perkembangan intelektual menjadi lamban
• Perkembangan akademiknya lamban akibat keterbatasan bahasa. Seiring terjadinya
kelambanan dalam perkembangan intelektualnya akibat adanya hambatan dalam
berkomunikasi, maka dalam segi akademiknya juga mengalami keterlambatan.
d. Sosial-emosional
• Sering merasa curiga dan syak wasangka. Sikap seperti ini terjadi akibat adanya
kelainan fungsi pendengarannya. Mereka tidak dapat memahami apa yang dibicarakan
oranglain, sehingga anak-anak tunarungu menjadi mudah merasa curiga.
• Sering bersikap agresif
3. Tunadaksa, yaitu anak yang mengalami kelainan atau cacat yang menetap pada alat
gerak (tulang, sendi dan otot).
1.Gangguan Motorik
Gangguan motoriknya berupa kekakuan, kelumpuhan, gerakangerakan yang tidak dapat
dikendalikan, gerakan ritmis dan gangguan keseimbangan. Gangguan motorik ini
meliputi motorik kasar dan motorik halus.
2.Gangguan Sensorik
Pusat sensoris pada manusia terleak otak, mengingat anak cerebral palsy adalah anak
yang mengalami kelainan di otak, maka sering anak cerebral palsy disertai gangguan
sensorik, beberapa gangguan sensorik antara lain penglihatan, pendengaran, perabaan,
penciuman dan perasa. Gangguan penglihatan pada cerebral palsy terjadi karena
ketidakseimbangan otot-otot mata sebagai akibat kerusakan otak.
3.Gangguan Tingkat Kecerdasan
Walaupun anak cerebral palsy disebabkan karena kelainan otaknya tetapi keadaan
kecerdasan anak cerebral palsy bervariasi, tingkat kecerdasan anak cerebral palsy mulai
dari tingkat yang paling rendah sampai gifted. Sekitar 45% mengalami keterbelakangan
mental, dan 35% lagi mempunyai tingkat kecerdasan normal dan diatas rata-rata.
4.Kemampuan Berbicara
Anak cerebral palsy mengalami gangguan wicara yang disebabkan oleh kelainan motorik
otot-otot wicara terutama pada organ artikulasi seperti lidah, bibir, dan rahang bawah,
dan ada pula yang terjadi karena kurang dan tidak terjadi proses interaksi dengan
lingkungan. Dengan keadaan yang demikian maka bicara anak-anak cerebral palsy
menjadi tidak jelas dan sulit diterima orang lain.
5. Emosi dan Penyesuaian Sosial
Respon dan sikap masyarakat terhadap kelainan pada anak cerebral palsy, mempengaruhi
pembentukan pribadi anak secara umum. Emosi anak sangat bervariasi, tergantung
rangsang yang diterimanya. Secara umum tidak terlalu berbeda dengan anak–anak
normal, kecuali beberapa kebutuhan yang tidak terpenuhi yang dapat menimbulkan emosi
yang tidak terkendali. Sikap atau penerimaan masyarakat terhadap anak cerebral palsy
dapat memunculkan keadaan anak yang merasa rendah diri atau kepercayaan dirinya
kurang, mudah tersinggung, dan suka menyendiri, serta kurang dapat menyesuaiakan
diri dan bergaul dengan lingkungan.
Anak dengan Gangguan Emosi dan Perilaku:
1. Tunalaras, yaitu anak yang mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri dan
bertingkah laku tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku.
2. Anak dengan gangguan komunikasi bisa disebut tunawicara, yaitu anak yang
mengalami kelainan suara,artikulasi (pengucapan), atau kelancaran bicara,yang
mengakibatkan terjadi penyimpangan bentuk bahasa,isi bahasa,atau fungsi bahasa.
3. Hiperaktif, secara psikologis hiperaktif adalah gangguan tingkah laku yang tidak
normal, disebabkan disfungsi neurologis dengan gejala utama tidak mampu
mengendalikan gerakan dan memusatkan perhatian.

Anak dengan Gangguan Intelektual:


1. Tunagrahita, yaitu anak yang secara nyata mengalami hambatan dan keterbelakangan
perkembangan mental intelektual jauh dibawah rata-rata sehingga mengalami kesulitan
dalam tugas-tugas akademik, komunikasi maupun sosial.
2. Anak Lamban belajar (slow learner), yaitu anak yang memiliki potensi intelektual
sedikit di bawah normal tetapi belum termasuk tunagrahita (biasanya memiliki IQ sekitar
70-90).
3. Anak berkesulitan belajar khusus, yaitu anak yang secara nyata mengalami kesulitan
dalam tugastugas akademik khusus, terutama dalam hal kemampuan membaca,menulis
dan berhitung atau matematika.
4. Anak berbakat, adalah anak yang memiliki bakat atau kemampuan dan kecerdasan luar
biasa yaitu anak yang memiliki potensi kecerdasan (intelegensi), kreativitas, dan
tanggung jawab terhadap tugas (task commitment) diatas anak-anak seusianya (anak
normal), sehingga untuk mewujudkan potensinya menjadi prestasi nyata, memerlukan
pelayanan pendidikan khusus.
5. Autisme, yaitu gangguan perkembangan anak yang disebabkan oleh adanya gangguan
pada system syaraf pusat yang mengakibatkan gangguan dalam interaksi sosial,
komunikasi dan perilaku.
6. Indigo adalah manusia yang sejak lahir mempunyai kelebihan khusus yang tidak
dimiliki manusia pada umumnya.

5. Masalah kesehatan
Berdasarkan Kemenkes (2010), masalah kesehatan pada anak berkebutuhan khusus dapat
dibagi menjadi 2 kelompok besar, yaitu :
a.Masalah kesehatan yang dibawa sejak lahir atau kelainan congenital seperti Down
syndrome, cerebral palsy, hypotiroid kongenital, anak dengan autis dan kecacatan lain.
b. Masalah kesehatan yang didapat akibat kondisi tertentu seperti terjadinya kekerasan
dan penelantaran pada anak, dan konsekuensinya terjadinya pelanggaran hukum. Hal
tersebut dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan bagi anak berkebutuhan khusus
yang selanjutnya berdampak terhadap penurunan kualitas sumber daya manusia.

5. Pelayanan Kesehatan
Anak berkebutuhan khusus membutuhkan pelayanan kesehatan yang spesifik tergantung
pada kondisi kesehatan dan keadaan lingkungan mereka. Pelayanan kesehatan anak
berkebutuhan khusus berubah setiap waktu dan pelayanan spesifikpun sangat bervariasi.
Pelayanan kesehatan yang spesifik tersebut meliputi:
1). Pelayanan kesehatan dasar: pelayanan preventif, kesehatan gigi dan mulut, pelayanan
resep dokter.
2). Pelayanan kesehatan spesialisasi: Dokter Spesialis, terapi fisik, wicara, dan
occupational terapi, psikologi atau konseling terapi, pusat krisis terpadu/konseling,
pelayanan kesehatan di rumah.
3). Sarana dan prasarana: Kacamata atau pemeriksaan kesehatan mata, alat bantu dengar,
alat bantu jalan (kursi roda, kaki palsu, dll), alat bantu komunikasi (papan pengumuman),
alat-alat medis, prasarana medis.
Daftar Pustaka
1. Ratri, Dinie., 2016. Psikologi Anak Berkebutuhan Khusus. Psikosain: Yogyakarta
2. Garina, L A,. 2012. Pelayanan Kesehatan Anak Berkebutuhan Khusus. Fakultas
Kedokteran Universitas Islam Bandung: Bandung
3. Winarsih S, dkk,. 2013. Panduan Penanganan Anak Berkebutuhan Fisik. Kementrian
Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Indonesia: Jakarta
4. Chamidah, A N,. 2010. Mengenal Anak Berkebutuhan Khusus. Universitas Negeri
Yogyakarta