Você está na página 1de 28

Jurnal Ilmiah Pekerjaan Sosial Volume 13 Nomor 2, Desember 2014

PENERAPAN TERAPI KELUARGA EKSPERIENTAL DAN


TERAPI KELOMPOK SENSITIVITAS TERHADAP
PERILAKU HISTRIONIC PERSONALITY DISORDER (HPD) PENYANDANG
DISABILITAS TUBUH

Cica Annisa Rochmat


Dinas Sosial Kota Tangerang
Jl. Perintis Kemerdekaan No. 1 Cikokol Kota Tangerang
cha_ks02@yahoo.com

Abstract

Histrionic Personality Disorder (HPD) behaviour on subject “AG” is a behavioural disorder which
shows affectation in daily life to get the attention of others. The aim of this research is to examine and
analyse the respondent’s Histrionic Personality Disorder Behaviour, the implementation of
experiential family therapy to decrease respondent’s HPD behaviour and the implementation of
Sensitivity Group Therapy to decrease respondent’s HPD behaviour. This research has the benefits
both theoretical and practical for social work development.
The method used in this research is the Single Subject Design N=1. This research used multiple
baseline design cross variables model. The data collection technique used observation, interview and
documentation study. As for the data source used is primary and secondary data source. The validity
test used statistic test with product moment correlation formula from Pearson and reliability test used
Alpha Cronbach technique. Furthermore the research result is analysed by using quantitative analysis
technique with formula 2 deviation standard.
The result shows that the experiential family therapy and sensitivity group therapy implemented on
subject can decrease HPD behaviour which include the target speaks loudly/yell, dominate the
conversation, shows excessive force talk and overflowing emotions expression. The intervention
conducted by using family and group approach.

Keywords: Histrionic Personality Disorder (HPD) behaviour, people with physical disability,
experiential family therapy, sensitivity group therapy

Abstrak

Perilaku Histrionic Personality Disorder (HPD) subjek “AG” adalah gangguan perilaku yang
memperlihatkan kepura-puraan dalam kesehariannya untuk mendapatkan perhatian dari orang lain.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji dan menganalisa perilaku HPD responden, penerapan
terapi keluarga eksperiental terhadap penurunan perilaku HPD responden dan penerapan terapi
kelompok sensitivitas terhadap penurunan HPD responden. Penelitian ini memiliki manfaat baik
secara teoritis maupun praktis bagi perkembangan pekerjaan sosial.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian Single Subject Design (desain
subjek tunggal) N=1. Penelitian ini menggunakan model multiple baseline designs cross variables.
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan studi dokumentasi.
Adapun sumber data yang digunakan adalah sumber data primer dan sumber data sekunder. Uji
validitas menggunakan uji statistik dengan rumus korelasi produt moment dari Pearson dan uji
reliabilitas menggunakan teknik Alpha Cronbach. Selanjutnya hasil penelitian ini dianalisis
menggunakan teknik analisis kuantitatif, menggunakan rumus 2 standar deviasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terapi keluarga eksperiental dan terapi kelompok sensitivitas
yang dilakukan terhadap subjek dapat menurunkan perilaku HPD yang mencakup target perilaku
berbicara keras/berteriak, mendominasi pembicaraan, menunjukkan gaya bicara yang berlebihan serta
ekspresi emosi yang meluap-luap. Intervensi dilakukan dengan menggunakan pendekatan keluarga
dan kelompok.

Kata kunci: perilaku Histrionik Personality Disorder (HPD), penyandang disabilitas tubuh, terapi
keluarga eksperiental, terapi kelompok sensitivitas.

Pendahuluan tubuh. Bagi penyandang disabilitas tubuh,


perilaku histrionik bisa merupakan dampak dari
Penyandang disabilitas menghadapi masalah kondisi disabilitas yang dialami, namun bisa
yang lebih kompleks dibandingkan manusia jadi kondisi disabilitas tersebut sama sekali
pada umumnya, terlebih karena masalah khusus tidak berkaitan dengan perilaku histrionik.
akibat disabilitas yang dimiliki. Perlakuan Meskipun demikian kehilangan atau
yang tepat dan tidak diskriminatif dari keterbatasan fungsi gerak dapat menjadi
lingkungan serta perhatian atas pemenuhan katalisator atau faktor penambah munculnya
hak-hak penyandang disabilitas dapat perilaku histrionik. Seseorang menjadi rendah
membantu penyandang disabilitas diri atau sebaliknya menghargai diri terlalu
mengembangkan dan menunjukkan potensi- berlebihan. Keadaan ini sangat merugikan
potensi yang ada di dalam dirinya. Saat ini khususnya yang berkenaan dengan hubungan
cukup banyak penyandang disabilitas yang antar manusia.
mampu menunjukkan potensi dan prestasinya
serta mampu berperan aktif di masyarakat Histrionic Personality Disorder (HPD) adalah
namun tidak dapat dipungkiri masih ada pula suatu gangguan yang ditandai oleh perilaku
penyandang disabilitas yang hanya berkutat sombong, egosentris, tidak stabil emosinya,
dengan keterbatasan-keterbatasan menarik perhatian dengan afek yang labil, lekas
kondisinya sehingga tidak mampu tersinggung, tetapi dangkal. Perilakunya yang
mengoptimalkan potensi yang dimiliki. dramatis dan menarik perhatian dapat
mengakibatkan ia berdusta sehingga mungkin
Hambatan yang dialami oleh penyandang menceritakan sesuatu secara luas dan terperinci
disabilitas tubuh seringkali berupa hambatan tanpa dasar fakta (Maramis, 1995, h.292).
dalam kemampuan fisik untuk melakukan Dalam sinopsis Psikiatri (Kaplan dan Sadock,
sesuatu perbuatan atau gerak tertentu yang 1997, h..258) gangguan kepribadian histrionik
berhubungan dengan kegiatan hidup sehari-hari adalah gangguan yang ditandai oleh perilaku
(activity daily living) seperti mandi, makan dan yang bermacam-macam, dramatik, ekstrovert
berpakaian sendiri. Disamping itu juga pada orang yang meluap-luap dan emosional.
hambatan dalam mobilitas seperti menaiki Akan tetapi menyertai penampilan yang
tangga atau bergerak dalam jarak kurang lebih cenderung menarik perhatian, seringkali
100 meter. Selain itu penyandang disabilitas terdapat ketidakmampuan untuk
tubuh sangat rentan mengalami masalah mempertahankan perlekatan yang mendalam
psikologis. Akibat kecacatan yang dimiliki dan berlangsung lama.
dapat mengganggu kejiwaan mental seseorang Berdasarkan hasil praktikum, kasus perilaku
sehingga seseorang menjadi rendah diri atau histrionik pada penyandang disabilitas tubuh
sebaliknya menghargai dirinya terlalu terjadi pada subyek “AG” yang mengalami
berlebihan, mudah tersinggung, kadang- keterbatasan fungsi gerak pada kedua tangan
kadang agresif, pesimistis, labil, sulit untuk yang dialami sejak lahir. Subyek sering
mengambil keputusan dan sebagainya. menunjukkan perilaku mencari perhatian baik
kepada teman-teman sebayanya di balai
Perilaku HPD juga merupakan salah satu maupun kepada instruktur, pekerja sosial
permasalahan dari sekian banyak permasalahan maupun kepada pegawai di lingkungan Balai
yang dapat muncul pada penyandang disabilitas Rehabilitasi Sosial Penyandang Cacat

2
Jurnal Ilmiah Pekerjaan Sosial Volume 13 Nomor 2, Desember 2014

(BRSPC) Cibabat Cimahi. Perilaku mencari menunjukkan bahwa pada beberapa


perhatian subyek seringkali dilakukan dengan kesempatan tertentu subyek mampu
cara mendominasi pembicaraan, mengendalikan keinginannya menjadi pusat
memperlihatkan emosi yang meluap-luap perhatian terutama dalam suatu kelompok
namun dangkal, bersuara keras dan berkata subyek berusaha mengendalikan diri untuk
kasar, namun terkadang melontarkan humor tidak mendominasi pembicaraan. Namun
yang mengundang tawa orang-orang di dalam beberapa kesempatan lainnya subyek
sekitarnya. tidak mampu mengendalikan emosi dan
menunjukkan emosi yang meledak-ledak tanpa
Penyebab munculnya perilaku histrionic alasan yang jelas. Hasil tersebut menunjukkan
personality disorder pada subyek tersebut bahwa perubahan yang sudah diperoleh subyek
karena adanya pengaruh dari pola interaksi selama sesi terapi tidak konsisten, sehingga
keluarga yang kurang memberikan perhatian perilaku tersebut masih dapat muncul jika ada
sehingga subyek berusaha memenuhi peristiwa yang mengikutinya.
kebutuhan tersebut dengan perilaku-perilaku
yang berlebihan dengan tujuan menarik Peneliti mengidentifikasi masih terdapat
perhatian. Selain itu, faktor penyebab perilaku perilaku-perilaku responden yang tidak
histrionik ini dapat pula disebabkan oleh suatu menunjukkan perubahan yang signifikan,
mekanisme pertahanan diri yang maladaptif sehingga peneliti melibatkan keluarga
seperti menggunakan represi, penyangkalan responden sebagai suatu metode intervensi
atau disosiasi. Mekanisme pertahanan diri dalam menangani masalah yang dimiliki oleh
adalah suatu metode yang terbentuk dalam diri responden. Mengingat hubungan subyek dan
individu secara sistematis dan cenderung keluarganya yang tidak begitu dekat, dan
terbentuk secara tidak sadar sebagai upaya subyek sendiri kurang mau terbuka pada
yang dilakukan sebagai cara mengatasi konflik keluarga serta lebih merasa nyaman untuk
atau mengurangi kecemasan. menghabiskan banyak waktu di luar rumah
maka peneliti tertarik untuk menerapkan terapi
Penanganan yang telah dilakukan dalam keluarga eksperiental dalam menangani
praktikum sebelumnya terhadap perilaku permasalahan perilaku histrionik responden.
histrionik pada subyek menggunakan terapi Para terapis eksperiental percaya bahwa cara
kelompok sensitivitas. Terapi kelompok untuk mencapai kesehatan emosional adalah
sensitivitas merupakan salah satu bentuk dari dengan mengungkap tingkatan pengalaman
terapi kelompok yang digunakan oleh pekerja yang lebih dalam, keluarga berpikir bahwa
sosial dalam proses pertolongan kepada mereka tidak dapat merasa dekat sehingga tidak
kelompok untuk membantu klien dalam bisa bertindak sebagai individu. Dengan
menemukan dan mencari solusi permasalahan membantu anggota keluarga untuk
yang dialaminya, agar dapat melaksanakan mengembalikan potensi mereka untuk mencari
fungsi sosialnya secara wajar. Sesuai dengan pengalaman, dia percaya bahwa dia juga
fokus dan tujuannya, pelaksanaan terapi membantu memulihkan kemampuan mereka
kelompok sensitivitas pada subyek berfokus untuk perduli satu sama lain.
pada penurunan keinginan subyek untuk
menjadi pusat perhatian, mengembangkan Berdasarkan latar belakang, masalah utama
interaksi yang efektif antara subyek dan dalam penelitian ini adalah ingin melihat
lingkungan serta meningkatkan kesadaran “Apakah penerapan terapi keluarga
interpersonal antara klien dan lingkungan. eksperiental dan terapi kelompok sensitivitas
efektif dalam menurunkan perilaku HPD
Terapi kelompok sensitivitas dilaksanakan penyandang disabilitas tubuh?”
dalam 5 sesi yakni sesi persiapan, sesi Selanjutnya rumusan masalah utama tersebut
unfreezing, sesi change, sesi refreezing dan sesi dirinci ke dalam sub-sub permasalahan sebagai
pengakhiran. Hasil refleksi praktikum berikut: 1) Bagaimana gambaran perilaku
Histrionic Personality Disorder responden?, 2) disability may be defined as a reduction in
Apakah penerapan terapi keluarga eksperiental personal coping and adaptive function that
efektif dalam menurunkan perilaku HPD causes significant limitation in overall daily
responden?, 3) Apakah penerapan terapi living (kecacatan dapat didefinisikan sebagai
kelompok sensitivitas efektif dalam keadaan berkurangnya fungsi pribadi dalam
menurunkan perilaku HPD responden? memnuhi kebutuhan dan daya penyesuaiannya
sehingga menyebabkan keterbatasan dalam
Tujuan umum penelitian ini adalah untuk keseluruhan penampilan hidup sehari-hari).
memperoleh gambaran secara empirik dan
menganalisis tentang penerapan terapi keluarga Tinjauan Tentang Perilaku Histrionic
eksperiental dan terapi kelompok sensitivitas Personality Disorder (HPD)
dalam menurunkan perilaku HPD penyandang
disabilitas tubuh. Secara khusus penelitian Richard P Halgin (2011:100) menyebutkan
bertujuan untuk menganalisis dan menentukan: bahwa istilah histrionik berasal dari bahasa
1) Gambaran perilaku Histrionic Personality Latin yang berarti “aktor”. Orang yang
Disorder (HPD) responden, 2) Pengaruh terapi memiliki gangguan tersebut memperlihatkan
keluarga eksperiental terhadap penurunan kepura-puraan mereka dalam perilaku
perilaku HPD responden, 3) Pengaruh terapi kesehariannya. Perbedaan antara orang-orang
kelompok sensitivitas terhadap penurunan dengan gangguan tersebut dengan orang-orang
perilak HPD responden. yang menunjukkan perasaannya di saat yang
tepat adalah dari sifat keadaan emosional
Hasil penelitian ini secara teoritis diharapkan mereka yang sepintas lalu dan maksud mereka
dapat menambah khasanah pengetahuan memperlihatkan emosi yang berlebihan adalah
pekerjaan sosial khususnya tentang terapi untuk memanipuasi orang lain daripada
keluarga eksperiental dan terapi kelompok mengungkapkan perasaan mereka yang
sensitivitas dalam menurunkan perilaku HPD sebenarnya.
penyandang disabilitas tubuh, dan secara
praktis diharapkan dapat memberikan Menurut Maramis (1995:292) menyebutkan
sumbangan pemikiran terhadap pemecahan bahwa gangguan Kepribadian Histrionik
masalah perilaku HPD penyandang disabilitas adalah suatu gangguan yang ditandai oleh
tubuh serta memberikan dasar pertimbangan perilaku sombong, egosentris, tidak stabil
bagi stakeholder dalam penyusunan program emosinya, menarik perhatian dengan afek yang
penanganan masalah bagi penyandang labil, lekas tersinggung, tetapi dangkal.
disabilitas tubuh. Perilakunya yang dramatis dan menarik
perhatian dapat mengakibatkan ia berdusta
Tinjauan Tentang Penyandang Disabilitas sehingga mungkin menceritakan sesuatu secara
luas dan terperinci tanpa dasar fakta. Dalam
Penyandang disabilitas merupakan istilah sinopsis Psikiatri (Kaplan dan Sadock, 1997,
yang saat ini digunakan untuk menggantikan h..258) gangguan kepribadian histrionik adalah
istilah penyandang cacat. Kecacatan adalah gangguan yang ditandai oleh perilaku yang
suatu kondisi dimana adanya kelainan fisik dan bermacam-macam, dramatik, ekstrovert pada
atau mental, yang dapat mengganggu atau orang yang meluap-luap dan emosional. Akan
merupakan rintangan dan hambatan bagi tetapi menyertai penampilan yang cenderung
seseorang untuk melakukan aktivitas secara menarik perhatian, seringkali terdapat
selayaknya. Teori kecacatan menurut ketidakmampuan untuk mempertahankan
Perserikatan Bangsa-Bangsa, yaitu: Disability perlekatan yang mendalam dan berlangsung
adalah keterbatasan atau kekurangmampuan lama.
untuk melaksanakan kegiatan secara wajar
bagi kemanusiaan yang diakibatkan oleh Kriteria diagnostik untuk gangguan
kondisi impairment. Menurut NASW: Kepribadian Histrionik menurut DSM-IV

4
Jurnal Ilmiah Pekerjaan Sosial Volume 13 Nomor 2, Desember 2014

(1994, h.657-658) adalah: Pola pervasif kegelisahan. Dasar pemikiran lain dari terapi
emosionalitas dan mencari perhatian yang keluarga eksperiental adalah bahwa cara untuk
berlebihan, dimulai pada masa dewasa muda meningkatkan pertumbuhan individu dan
dan tampak dalam berbagai konteks, seperti kohesi keluarga adalah dengan membebaskan
yang ditunjukkan oleh lima/lebih ciri-ciri semua keinginan dan dorongan. Upaya-upaya
sebagai berikut: a) Tidak merasa nyaman dalam untuk mengurangi sikap mempertahankan diri
situasi dimana ia tidak merupakan pusat dan untuk membuka tingkatan yang lebih
perhatian, b) Interaksi dengan orang lain sering dalam dari pengalaman terletak pada asumsi
ditandai oleh godaan seksual yang tidak pada bahwa kebaikan dasar merupakan sifat alami
tempatnya atau perilaku provokatif, c) manusia.
Menunjukkan pergeseran emosi yang cepat dan
ekspresi emosi yang dangkal, d) Terus menerus Satir (1972), dalam penggambarannya tentang
menggunakan penampilan fisik untuk menarik keluarga yang bermasalah, menekankan pada
perhatian kepada dirinya, e) Memiliki gaya suasana matinya emosi. Keluarga semacam ini
bicara yang sangat impresionistik dan tidak dingin; mereka terlihat bersama di luar
memiliki perincian, f) Menunjukkan kebiasaan. Para orang dewasa merasa tidak
dramatisasi diri, teatrikal, dan ekspresi emosi nyaman berada dekat anak-anak, dan anak-
yang berlebihan, g) Mudah disugesti, yaitu anak belajar untuk tidak menghargai diri
mudah dipengaruhi oleh orang lain atau situasi, mereka sendiri atau peduli kepada orangtuanya.
h) Menganggap hubungan menjadi lebih intim Sebagai akibat dari kurangnya kehangatan
ketimbang keadaan sebenarnya. keluarga, orang-orang ini saling menghindari,
dan menyibukkan diri mereka dengan
Tinjauan Tentang Terapi Keluarga pekerjaan dan pengalihan lain.
Eksperiental
Tujuan terapi keluarga eksperiental menurut
Michael P Nichols dan Richard C Schwartz Nichols (2006) adalah untuk meningkatkan
(2006,198) menungkapkan bahwa terapi pertumbuhan individu serta menguatkan unit
keluarga eksperiental ditemukan atas dasar keluarga. Pertumbuhan individu memerlukan
pemikiran bahwa akar permasalahan dalam integrasi keluarga, dan juga sebaliknya. Rasa
sebuah keluarga adalah penekanan emosional. memiliki dan individualisasi berjalan
Saat anak-anak harus belajar bahwa mereka bersamaan. Selain itu terapi ini bertujuan untuk
tidak bisa selalu melakukan apa yang mereka membantu memperjelas komunikasi dalam
suka, banyak orangtua yang memiliki keluarga dan menghindarkan adanya keluhan-
kecenderungan untuk mencampuradukkan keluhan, sehingga ada usaha untuk menemukan
fungsi instrumental dan ekspresif dari emosi. solusi. Keterlibatan terapis dalam terapi
Mereka mencoba mengatur tingkah laku anak- keluarga eksperiental selain menciptakan
anaknya dengan mengendalikan perasaan hubungan baik, juga mampu mendengarkan
mereka. Hasilnya, anak-anak belajar untuk suara dan emosi klien serta anggota keluarga.
menekan pengalaman emosional mereka untuk
menghindari timbulnya gejolak. Tinjauan Tentang Terapi Kelompok
Sensitivitas
Selanjutnya Nichols mengungkapkan bahwa
meskipun proses ini bersifat universal, keluarga Garvin (1987) menyatakan bahwa kelompok
yang disfungsional cenderung untuk lebih tidak sensitivitas adalah latihan pada kelompok kecil
toleran pada emosi-emosi individu daripada yang menekankan tingkah laku antar anggota
keluarga kebanyakan. Dan hasilnya, anak-anak dan inter anggota yang perhatiannya diberikan
pada keluarga semacam ini seringkali tumbuh pada peran-peran dan proses kelompok. Hasil
dalam keterasingan dari diri mereka sendiri dan yang diharapkan dalam proses kelompok ini
merasakan hanya sisa-sisa dari perasaan yang meliputi klarifikasi nilai kehidupan,
ditekan yakni rasa bosan, apatisme, dan meningkatnya sensitivitas, penerimaan diri dan
orang lain. Kelompok sensitivitas memiliki eksperiental dan terapi kelompok sensitivitas
kemiripan dengan kelompok pertemuan, dan terhadap perilaku HPD. Untuk menjelaskan
kelompok latihan (T-group) yang mengarah pengaruh ini, peneliti akan melakukan kontrol
pada pengalaman kelompok dimana orang dan pengukuran terhadap variabel-variabel
berhubungan satu sama lain dalam suatu gaya penelitian dengan menggunakan analisis
hubungan yang tertutup dan dibutuhkan statistik.
pembukaan diri (self disclosure) yang
bertujuan untuk meningkatkan kesadaran Jenis rancangan eksperimen yang digunakan
interpersonal. dalam penelitian ini adalah rancangan subjek
tunggal (single subject design) atau yang
Jane Howard mengusulkan sebuah deskripsi dikenal dengan rancangan N of 1. Bellini dan
khusus dari kelompok ini yaitu: tujuan Akullian (2007) mengemukakan bahwa dalam
kelompok sensitivitas adalah menjalin paradigma modifikasi perilaku rancangan
keakraban, kepercayaan, dan kesadaran subjek tunggal telah menjadi pendekatan
mengapa mereka berperilaku seperti yang eksperimental yang paling menonjol. Model
mereka lakukan dalam kelompok; yang mereka rancangan subjek tunggal yang digunakan
bawa adalah keterusterangan/kejujuran. adalah model multiple baseline design cross
Mereka didesak untuk “berhubungan dengan variables. Model ini digunakan dengan
perasaan mereka” dan “hidup disini dan saat pertimbangan karena peneliti ingin
ini”. menurunkan perilaku histrionik responden
melalui intervensi terapi keluarga eksperiental
Dalam urutan perubahan perilaku individu dan terapi kelompok sensitivitas, dimana
dalam kelompok terdapat 3 (tiga) proses fase intervensi tersebut diperkirakan dapat
secara umum yang diungkapkan oleh Garvin memberikan efek terhadap perilaku histrionik
(1987) yaitu: a) Fase Unfreezing, terjadi ketika responden yang menjadi target perilaku.
harapan-harapan kita tidak tercapai, pemimpin
biasanya mulai dengan pernyataan yang Subyek dalam penelitian ini adalah seorang
mendorong anggota-anggota kelompok untuk penyadang disabilitas tubuh berinisial “AG”
berpartisipasi, terbuka dan jujur serta yang berusia dua puluh tahun berjenis kelamin
mengharapkan perasaan menjadi berbeda laki-laki, beragama Islam, merupakan eks
(mencair), b) Fase Change, yaitu dengan binaan BRSPC Cibabat Cimahi yang telah
reaksi-reaksi spontan atau memberikan kembali ke keluarganya dan bertempat tinggal
feedback (umpan balik) kepada orang lain, c) di Desa Padamulya Kecamatan Majalaya
Fase Refreezing, yaitu pembekuan kembali, Kabupaten Bandung (N=1). Penelitian ini tidak
dimana perubahan yang telah dicapai menggunakan teknik sampel karena yang
diusahakan tidak mengalami perubahan atau menjadi sampel adalah populasi itu sendiri.
penurunan sehingga perlu pembekuan. Tujuan Penelitian hanya menggunakan satu subjek,
tahap ini adalah perubahan dapat berjalan mengingat sifat penelitian sendiri yang rinci
secara kontinyu sehingga dapat berinteraksi dan komprehensif sehingga sangat
secara efektif. membutuhkan kehadiran dan pengamatan yang
intensif dari peneliti.

Instrumen merupakan alat ukur yang


digunakan dalam penelitian untuk dapat
Metode mengetahui permasalahan dari penelitian
secara tepat. Instrumen yang digunakan dalam
Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian ini adalah: 1) Pedoman Observasi,
kuantitatif dengan metode eksperimen yaitu peneliti menggunakan 2 (dua) jenis pedoman
metode penelitian yang bertujuan untuk observasi di dalam penelitian ini, yaitu: a)
menentukan pengaruh terapi keluarga Pedoman observasi perilaku HPD, b) Pedoman

6
Jurnal Ilmiah Pekerjaan Sosial Volume 13 Nomor 2, Desember 2014

observasi target perilaku, Pedoman ini akan perilaku HPD penyandang disabilitas tubuh.
disusun berdasarkan target perilaku histrionic Teknik yang digunakan dalam pengujian
personality disorder yang akan dirubah, terdiri reliabilitas pada penelitian ini adalah teknik
dari perilaku: berbicara keras/berteriak, Alpha Cronbach karena jenis datanya adalah
mendominasi pembicaraan, menunjukkan gaya data interval. Rumus koefisien reliabilitas
bicara yang berlebihan dan ekspresi emosi yang Alpha Cronbach sebagai berikut :
meluap-luap. 2) Kuesioner, yaitu instrumen
yang digunakan peneliti untuk mengumpulkan =
data kepada keluarga subjek yang berkaitan
Keterangan :
dengan perlakuan keluarga terhadap subjek. 3)
Pedoman Wawancara, dan 4) Pedoman Studi = Reliabilitas
Dokumentasi. = Banyaknya butir pernyataan
= Jumlah varians butir pernyataan
Uji Validitas dan Reliabilitas Pedoman
= Varians total
Observasi Perilaku Histrionic Personality
Secara empirik, tinggi-rendahnya reliabilitas
Disorder (HPD) dan Kuesioner Disfungsi
ditunjukkan oleh suatu angka yang disebut
Keluarga
koefisien reliabilitas. Koefisien reliabilitas
angkanya berada dalam rentang 0,0 sampai
Uji validitas yang akan digunakan untuk
dengan 1,0. Menurut Azwar (2011), semakin
menguji pedoman observasi perilaku histrionik
koefisien reliabilitas mendekati angka 1,0
personality disorder dan kuesioner disfungsi
berarti semakin tinggi reliabilitasnya,
keluarga adalah uji statistik dengan rumus
sebaliknya koefisien yang semakin rendah dan
korelasi product moment dari Pearson, yaitu
mendekati 0,0 berarti semakin rendah
reliabilitasnya.

Uji Reliabilitas Lembar Observasi Target


Keterangan : Perilaku Histrionic Personality Disorder
= Korelasi Product Moment (HPD.)
N = Jumlah responden
= Jumlah nilai tiap butir Penelitian yang berkaitan dengan aspek
= Jumlah nilai total butir perilaku (behavior), pengujian reliabilitas alat
= Jumlah perkalian antara skor butir dengan skor ukurnya seringkali tidak dapat menggunakan
total alat-alat tertentu dan harus dilakukan secara
= Jumlah kuadrat skor butir langsung oleh manusia yang mengandalkan
= Jumah kuadrat skor total ketelitian inderanya. Reliabilitas alat ukur
dilakukan dengan cara observasi atau
Perhitungan validitas alat ukur dalam pengamatan perilaku yang akan dilakukan oleh
penelitian ini dilakukan menggunakan dua orang observer, yaitu peneliti dan guru
komputerisasi dengan bantuan software SPSS kelas subyek.
(Statistical Product and Service Solution) 22.0
for windows. Kriteria pemilihan item Jika pengamatan dilakukan oleh lebih dari satu
berdasarkan korelasi item-total, digunakan orang, maka menurut Sunanto, Takeuchi &
batasan rxy ≥ 0,30. Nakata (2005:28), untuk mengetahui apakah
pencatatan pada data tersebut sudah reliabel
Setelah uji validitas, kemudian dilakukan uji atau belum perlu menghitung persentase
reliabilitas instrumen penelitian. Uji reliabilitas kesepakatan (percent agreement). Persentase
adalah uji statistik yang digunakan untuk kesepakatan dilakukan dengan menghitung
menentukan reliabilitas serangkaian item hasil pengamatan perilaku dari dua orang
pernyataan dalam kehandalannya mengukur pengamat secara berulang-ulang terhadap
responden. Untuk mengukur percent
agreement dapat dilakukan dengan menghitung kuantitatif dengan cara mengukur perbedaan
persentase kesepakatan total (total percent antara skor target perilaku yang diperoleh pada
agreement) dengan rumus sebagai berikut: fase baseline dan fase intervensi, dibandingkan
dengan two standard deviation (2 SD). Analisa
data akan dilakukan untuk menguji hipotesis
Dimana : utama dan sub-sub hipotesis sebagai berikut: 1)
O = Occurrence agreement adalah interval dimana Hipotesis Utama: terapi keluarga eksperiental
target perilaku terjadi dan terjadi persamaan
antara observer satu dan observer dua dan terapi kelompok sensitivitas tidak efektif
N = Non occurrence agreement adalah interval menurunkan perilaku Histrionic Personality
dimana target perilaku tidak terjadi menurut Disorder penyandang disabilitas tubuh. 2) Sub-
kedua observer. sub Hipotesis: Terapi keluarga eksperiental
T = banyaknya interval yang digunakan atau jumlah tidak efektif menurunkan perilaku Histrionic
target perilaku HPD yang akan dirubah.
Personality Disorder (HPD) penyandang
Teknik pengumpulan data yang digunakan di disabilitas tubuh dan Terapi kelompok
dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) sensitivitas tidak efektif menurunkan perilaku
Observasi, dilakukan dengan cara mengamati Histrionic Personality Disorder (HPD)
langsung mengenai perilaku Histrionic penyandang disabilitas tubuh.
Personality Disorder (HPD) responden dengan
menggunakan pedoman observasi. 2) Pembahasan
Kuesioner, yaitu teknik pengumpulan data
yang dilakukan dengan cara memberikan Pertama : Perilaku Histrionic Personality
seperangkat pertanyaan atau pernyataan kepada Disorder (HPD) Subjek “AG”
orang lain yang dijadikan responden untuk
dijawabnya. Kuesioner ini akan diberikan Subjek penelitian ini berinisial “AG’, berjenis
kepada keluarga subjek untuk mengukur kelamin laki-laki dan berumur 20 tahun. Subjek
tingkat disfungsi keluarga yang dilakukan “AG” adalah ex-binaan BRSPC Cibabat
sebelum dan sesudah pelaksanaan terapi Cimahi yang telah mengikuti program
keluarga eksperiental. 3) Wawancara, rehabilitasi sosial selama 8 bulan. Saat
dilakukan dengan cara tanya jawab antara penelitian ini dilaksanakan subjek telah
pewawancara (interviewer) atau peneliti kembali ke orangtua dan melanjutkan sekolah
dengan yang diwawancara (interviewer) atau nya di SLB-BC YKS I Majalaya kelas 2
keluarga subjek yang terdiri dari ayah dan ibu SMALB. Subjek “AG” adalah anak ke-2 dari 5
subjek mengenai perlakuan keluarga terhadap bersaudara dari pasangan suami istri “EP” dan
subjek. 4) Studi dokumentasi, diperoleh dari “TW”.
kumpulan data yang berupa buku, jurnal,
catatan, surat kabar, makalah, dan sebagainya, Untuk mengetahui tingkat perilaku Histrionic
mengenai perilaku histrionik penyandang Personality Disorder (HPD) subjek “AG”
disabilitas tubuh dan perlakuan keluarga sebelum diberikan intervensi maka dilakukan
dengan menggunakan pedoman studi pengukuran dengan menggunakan pedoman
dokumentasi. observasi perilaku Histrionic Personality
Disorder (HPD). Hasilnya adalah perilaku
Untuk mengetahui perubahan hasil intervensi HPD subjek “AG” masuk ke dalam kategori
terhadap target perilaku dilakukan analisis data tinggi dengan skor yang diperoleh 46 seperti
yang diperlihatkan pada tabel 1 berikut ini:

Tabel 1
Hasil Observasi Perilaku HPD “AG” Tahun 2014

NO ASPEK NILAI

8
Jurnal Ilmiah Pekerjaan Sosial Volume 13 Nomor 2, Desember 2014

SL SR JR TP teman sebayanya. Beberapa perilaku harus


1. Pengakuan 0 6 2 0 dikurangi intensitas kemunculannya sehingga
2. Pusat Perhatian 8 3 0 0 interaksi subjek dan lingkungannya menjadi
3. Daya Tarik 4 6 0 0 lebih baik dan harmonis. Perlu penyadaran,
4. Cinta 0 3 4 0 pemahaman, dan bimbingan dalam
5. Ekspresi Emosi 4 6 0 0 mengarahkan perilaku subjek terutama yang
Jumlah 16 24 6 0 berasal dari lingkungan terdekat subjek agar
pada prosesnya dapat turut mendukung dan
mengawasi sehingga tujuan akhir yang ingin
Keterangan : Interval Tinggi : 45 – 60
Interval Sedang : 30 – 44 dicapai segera terwujud, yakni agar subjek
Interval Rendah : 15 – 29 dapat berfungsi sosial dengan wajar.

Tabel diatas menunjukkan bahwa secara umum Kedua: Efektifitas Terapi Keluarga
sebagian besar perilaku HPD subjek “AG” Eksperiental dalam Menurunkan Perilaku
sering muncul. Perilaku Histrionic Personality Histrionic Personality Disorder (HPD)
Disorder (HPD) yang terdiri dari 15 perilaku
yang diobservasi terdapat 8 perilaku yang Pengujian Hipotesis H01
sering muncul dan 4 perilaku yang selalu Terapi keluarga eksperiental tidak efektif
ditampilkan oleh subjek. Perilaku tersebut menurunkan perilaku Histrionic Personality
antara lain masuk dalam aspek pusat perhatian, Disorder (HPD) penyandang disabilitas tubuh.
daya tarik serta ekspresi emosi yakni berbicara
keras/berteriak, mendominasi pembicaraan, Pengamatan terhadap terjadinya perilaku HPD
menunjukkan gaya bicara yang berlebihan serta subjek dalam terapi keluarga eksperiental.
menunjukkan ekspresi emosi yang meluap- Pengamatan pada fase baseline dilakukan
luap. Sedangkan 3 perilaku lainnya yang jarang selama enam sesi dan tahap intervensi
ditampilkan oleh subjek antara lain subjek dilakukan selama dua belas sesi. Pengamatan
menuntut persetujuan dari orang lain, fase baseline dan intervensi dilakukan dalam
menganggap hubungan lebih dekat/intim, dan waktu yang sama yaitu pada pukul 17.00 –
menunjukkan interaksi yang sering ditandai 17.30 dan 18.30 – 19.00 WIB dengan
dengan godaan seksual. pertimbangan bahwa pada waktu tersebut
seluruh anggota keluarga telah menyelesaikan
Perilaku subjek inilah yang sering aktivitas masing-masing dan dapat berkumpul
menyebabkan terjadinya konflik antara subjek bersama di rumah. Hasil pengamatan tersebut
dengan orang-orang di sekitarnya terutama diperlihatkan pada tabel 2 dibawah ini:

Tabel 2
Rekapitulasi Pengukuran Tahap Baseline dan Intervensi Terapi Keluarga Eksperiental
terhadap Perilaku Histrionic Personality Disorder (HPD) Tahun 2014

Sesi
Fase
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Baseline 11 16 15 18 13 15
Intervensi 11 14 13 14 12 12 10 11 11 9 9 7

Pengujian hipotesis dilakukan dengan tahap baseline yaitu 4,84. Skor mean pada
menghitung selisih mean frekuensi tahap baseline adalah 14,67 sedangkan mean
kemunculan target perilaku pada tahap baseline pada tahap intervensi 11,08. Nilai 11,08 lebih
dan tahap intervensi serta membandingkannya besar dari nilai 2 SD dari 14,67 yaitu 4,84
dengan nilai dua standar deviasi dari mean sehingga dapat dikatakan bahwa intervensi
keluarga eksperiental yang dilakukan terhadap Untuk lebih jelas dalam melihat perubahan
perilaku HPD signifikan. yang terjadi pada perilaku HPD dapat dilihat
pada grafik 1 dibawah ini:

Grafik 1
Target Perilaku Histrionic Personality Disorder (HPD)
Terapi Keluarga Eksperiental Fase Baseline dan Intervensi

20
18
Frekuensi Target Perilaku

16
14
12
10
8
6
4
2 Baseline Intervensi
0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18
Sesi

Grafik 1 menunjukkan bahwa pada sesi Pengujian Hipotesis H02 :


ketujuh intervensi terapi keluarga eksperiental Terapi kelompok sensitivitas tidak efektif
subjek “AG” menunjukkan penurunan perilaku menurunkan perilaku Histrionic Personality
HPD dan diikuti penurunan selanjutnya secara Disorder (HPD) penyandang disabilitas tubuh.
berturut-turut pada fase 10, 11 dan 12 hingga
mencapai skor terendah di angka 7. Pengujian Pengamatan terhadap terjadinya perilaku HPD
hipotesis dengan menggunakan rumus 2 subjek dalam terapi kelompok sensitivitas.
standar deviasi diperoleh hasil bahwa nilai Pengamatan pada fase baseline dilakukan
selisih mean baseline dan intervensi lebih besar selama enam sesi dan tahap intervensi
dibandingkan dengan skor 2 standar deviasi dilakukan selama dua belas sesi. Pengamatan
dari mean baseline, maka dikatakan bahwa fase baseline dan intervensi dilakukan dalam
intervensi yang dilakukan signifikan. Dengan waktu yang sama yaitu pada pukul 09.00 –
demikian hipotesis nol ( H01 ) yaitu terapi 09.30 dan 10.00 – 10.30 WIB dengan
keluarga eksperiental tidak efektif menurunkan pertimbangan bahwa pada waktu tersebut
perilaku Histrionic Personality Disorder subjek berada diantara kelompok peergroup di
(HPD) penyandang disabilitas tubuh ditolak. dalam kelas dan pada saat istirahat sekolah,
Ketiga: Efektifitas Terapi Kelompok sehingga dapat dilihat interaksi subjek dengan
Sensitivitas dalam Menurunkan Perilaku kelompoknya. Hasil pengamatan tersebut
Histrionic Personality Disorder (HPD) diperlihatkan pada tabel 3 dibawah ini.

Tabel 3
Rekapitulasi Pengukuran Tahap Baseline dan Intervensi Terapi Kelompok Sensitivitas
terhadap Perilaku Histrionic Personality Disorder (HPD) Tahun 2014

Sesi
Fase
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

10
Jurnal Ilmiah Pekerjaan Sosial Volume 13 Nomor 2, Desember 2014

Baseline 13 19 15 19 13 16
Intervensi 11 16 14 13 11 10 12 7 9 5 5 5

Tabel 3 menunjukkan bahwa fase baseline Grafik 2 menunjukkan bahwa pada sesi
terjadi sebanyak 6 (enam) data poin dan fase kedelapan intervensi terapi kelompok
intervensi dilakukan selama 12 (dua belas) sesi. sensitivitas subjek “AG” menunjukkan
Pengujian hipotesis dilakukan dengan penurunan perilaku HPD yang cukup tajam
menghitung selisih mean frekuensi yakni dari skor 12 menuju skor 7, tetapi sempat
kemunculan target perilaku pada tahap baseline mengalami peningkatan kembali di sesi
dan tahap intervensi serta membandingkannya kesembilan yang mencapai angka 9 namun
dengan nilai dua standar deviasi dari mean pada sesi ke 10, 11, dan 12 terjadi penurunan
tahap baseline yaitu 5,43. Skor mean pada kembali serta skor yang tetap dan merupakan
tahap baseline adalah 15,83 sedangkan mean skor terendah yakni mencapai di
pada tahap intervensi 9,83. Nilai 9,83 lebih angka 5.
besar dari nilai 2 SD dari 15,83 yaitu 5,43
sehingga dapat dikatakan bahwa intervensi
kelompok sensitivitas yang dilakukan terhadap
perilaku HPD signifikan.
Untuk lebih jelas dalam melihat perubahan
yang terjadi pada perilaku HPD pada grafik 2
dibawah ini:

Grafik 2
Target Perilaku Histrionic Personality Disorder (HPD)
Terapi Kelompok Sensitivitas Fase Baseline dan Intervensi

20
Frekuensi Target Perlaku

15

10

5
Baseline Intervensi
0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18
Sesi

bahwa intervensi yang dilakukan signifikan.


Dengan demikian hipotesis nol ( H02 ) yaitu
terapi kelompok sensitivitas tidak efektif
Pengujian hipotesis dengan menggunakan menurunkan perilaku Histrionic Personality
rumus 2 standar deviasi diperoleh hasil bahwa Disorder (HPD) penyandang disabilitas tubuh
nilai selisih mean baseline dan intervensi lebih ditolak.
besar dibandingkan dengan skor 2 standar
deviasi dari mean baseline, maka dikatakan Pengujian Hipotesis Utama H0 :
Terapi keluarga eksperiental dan terapi tersinggung tetapi dangkal. Subjek “AG”
kelompok sensitivitas tidak efektif menurunkan memiliki ciri-ciri perilaku Histrionic
perilaku Histrionic Personality Disorder Personality Disorder (HPD) yang diperoleh
penyandang disabilitas tubuh. dari pengamatan peneliti dan guru sekolah.
Hasil dari pengamatan tersebut menunjukan
Pengujian terhadap hipotesis utama dilakukan adanya perilaku yang membutuhkan perhatian
dengan mengakumulasikan seluruh nilai mean khusus sehingga peneliti menyusun target
frekuensi dari target perilaku kemudian perilaku yang akan diberikan intervensi, yaitu
dibandingkan dengan akumulasi 2 standar perilaku berbicara keras/berteriak,
deviasi pada seluruh mean tahap baseline. mendominasi pembicaraan, menunjukkan gaya
Berdasarkan hasil pengujian hipotesis dengan bicara yang berlebihan, serta menunjukkan
menghitung akumulasi selisih mean frekuensi ekspresi emosi yang meluap-luap.
terjadinya target perilaku pada fase baseline
dan pada fase intervensi yaitu 9,59 serta Penanganan perilaku Histrionic Personality
membandingkan dengan akumulasi nilai 2 Disorder (HPD) subjek “AG” menggunakan
standar deviasi dari mean tahap baseline yakni pendekatan keluarga dengan menerapkan terapi
10,27 maka nilai selisih mean lebih kecil dari 2 keluarga eksperiental. Sebelumnya peneliti
standar deviasi (9,59 < 10,27). Jadi dapat melakukan pengamatan terhadap target
dikatakan bahwa intervensi yang dilakukan perilaku Histrionic Personality Disorder
signifikan. Dengan demikian hipotesis utama (HPD) subjek “AG” yaitu pada fase baseline
(H0) yaitu terapi keluarga eksperiental dan dimana tidak ada intervensi apapun maupun
terapi kelompok sensitivitas tidak efektif feedback atas perilaku subjek. Fase baseline
menurunkan perilaku Histrionic Personality dilaksanakan selama 6 sesi dengan waktu yang
Disorder (HPD) penyandang disabilitas tubuh telah ditentukan. Hasil yang didapatkan pada
ditolak. fase baseline menunjukkan fluktuasi perilaku
subjek yang cenderung mengalami peningkatan
Pengujian hipotesis nol terhadap target perilaku dengan jumlah frekuensi tiap sesi antara 11 –
histrionik yang diberikan intervensi 18 kali kejadian. Pada fase intervensi, peneliti
menunjukkan hasil bahwa kedua sub hipotesis kembali melakukan pengamatan terhadap
dan satu hipotesis nol utama dinyatakan perilaku Histrionik Personality Disorder
ditolak. Hal ini berarti penerapan terapi (HPD) subjek “AG” yang dilakukan dalam 12
keluarga eksperiental dan terapi kelompok sesi. Hasil yang didapatkan menunjukkan
sensitivitas dapat menurunkan perilaku adanya penurunan jumlah frekuensi target
Histrionic Personality Disorder (HPD) subjek perilaku tiap sesi antara 7 – 14 kali kejadian.
“AG”. Penolakan terhadap hipotesis nol ini Antara sesi pertama hingga sesi keenam terjadi
juga menunjukkan bahwa terapi keluarga fluktuasi frekuensi yang turun naik namun
eksperiental dan terapi kelompok sensitivitas memasuki sesi ketujuh sudah mulai terjadi
efektif diterapkan untuk menurunkan perilaku penurunan yang cukup stabil hingga mencapai
Histrionic Personality Disorder (HPD) subjek skor terendah di sesi keduabelas. Hal ini
“AG”. menunjukkan bahwa perilaku Histrionic
Personality Disorder (HPD) dapat diturunkan
Simpulan melalui terapi keluarga eksperiental namun
membutuhkan waktu dalam proses penurunan
Perilaku Histrionic Personality Disorder perilaku yang diharapkan.
(HPD) merupakan perilaku yang
memperlihatkan kepura-puraan dalam perilaku Intervensi selanjutnya adalah dengan
keseharian dengan maksud untuk mencari menggunakan terapi kelompok sensitivitas
perhatian orang lain, yang ditandai oleh yang dilakukan di waktu dan tempat yang
perilaku egosentris, tidak stabil emosi, menarik berbeda dengan pelaksanaan terapi keluarga
perhatian dengan afek yang labil, lekas eksperiental. Terapi kelompok sensitivitas

12
Jurnal Ilmiah Pekerjaan Sosial Volume 13 Nomor 2, Desember 2014

dilaksanakan dengan membentuk kelompok memberikan efek ketertiban dan berurutan,


teman sebaya subjek di sekolah yaitu SLB-BC pemaparan secara bersamaan pada terapi
YKS I Majalaya. Seperti terapi sebelumnya, keluarga eksperiental mungkin telah
sebelum memasuki fase intervensi peneliti mempengaruhi efektivitas terapi kelompok
melakukan pengamatan terhadap perilaku sensitivitas.
Histrionic Personality Disorder (HPD) subjek
“AG” pada tahap baseline selama 6 sesi tanpa Hasil penelitian yang ada, kami
memberikan arahan maupun feedback. Hasil rekomendasikan beberapa hal bagi keluarga
yang didapatkan dari tahap baseline subjek “AG”, peneliti selanjutnya serta
menunjukkan terjadinya peningkatan perilaku Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung. a)
yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan Bagi keluarga subjek “AG”, melanjutkan
fase baseline pada terapi keluarga eksperiental. program penurunan perilaku Histrionic
Jumlah frekuensi target perilaku tiap sesi Personality Disorder (HPD) subjek “AG”
berada antara 13 – 19 kali kejadian. dengan target perilaku mendominasi
pembicaraan dan berbicara keras/berteriak. b)
Pada fase intervensi, peneliti melakukan sesuai Bagi peneliti lanjutan, melanjutkan penelitian
dengan tahapan pada fase terapi kelompok mengenai penerapan terapi keluarga
sensitivitas yang terdiri dari fase unfreezing, eksperiental dan terapi kelompok senstivitas
fase change dan fase refreezing. Intervensi terhadap perilaku Histrionic Personality
dilaksanakan selama 9 hari yang terbagi dalam Disorder (HPD) penyandang disabilitas tubuh
beberapa sesi serta pemberian tugas kelompok. dengan mempertimbangkan bahwa penerapan
Pada saat pelaksanaan intervensi, peneliti terapi keluarga eksperiental dan terapi
mengukur kembali dengan melakukan kelompok sensititivias untuk penyandang
pengamatan target perilaku subjek “AG” dan disabilitas tubuh perlu disertakan pula teknik
didapatkan hasil yang lebih cepat terjadi lain, yaitu teknik reinforcement berupa
penurunannya dibandingkan pada saat proses prompting dan positive reinforcement. c) Bagi
pelaksanaan terapi keluarga eksperiental Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung,
dengan jumlah frekuensi tiap sesi antara 5 – 16 meningkatkan pelayanan sosial terhadap
kali kejadian. Penurunan signifikan terjadi penyandnag disabilitas di Desa Padamulya
sejak sesi kedelapan hingga sesi keduabelas. khususnya penyandang disabilitas tubuh serta
Namun, hal ini masih memerlukan penelitian pelibatan tokoh masyarakat setempat seperti
lebih lanjut, tidak bisa begitu saja mengatakan PSM/TKSK/Pendamping Disabilitas dalam
bahwa terapi kelompok sensitivitas lebih pelaksanaan terapi agar dapat turut berperan
efektif dibandingkan dengan terapi keluarga dalam melanjutkan terapi sampai memperoleh
eksperiental. Intervensi treatmen secara hasil guna dan daya guna yang efektif.
berulang mungkin juga mempengaruhi hasil.
Meskipun desain treatment dikendalikan untuk

Daftar Pustaka

Garvin, Charles. 1987. Contemporary Group Work. Englewood Cliffs. New Jersey: Prentice Hall.Inc.

Halgin P, Richard, and Withbourne K, Susan. 2011. Psikologi Abnormal Perspektif Klinis Pada
Gangguan Psikologis. Edisi 6 Buku 2. Jakarta: Salemba Humanika.
Hepworth, Dean H. Rooney, Roland H and Larson JoAn. 2002. Direct Social Work Practice. 6th
edition. USA: Thomson Learning.

Juang Sunanto. Takeuchi, Koji dan Nakata, Hideo. 2005. Pengantar Penelitian dengan Subyek
Tunggal. Center for Research on International Cooperation in Educational Development
(CRICED) : University of Tsukuba.

Kaplan, H.I., Sadock, B.J., Grebb, J.A. 1997. Sinopsis Psikiatri. Jilid dua edisi ketujuh. Jakarta: Bina
Rupa Aksara.

Klenk, Robert W., & Ryan, Robert M. 1974. The Practice of Social Work. Second edition. Belmont,
CA : Wadsworth Publishing Company, Inc.

Nichols, Michael P. & Schwartz, Richard C. 200). Family Therapy Concepts and Methods. Pearson
Education, Inc.

Rothman, Juliet C. 2003. Social Work Practice, Across Disability. New York: Pearson Education. Inc.

Saifudin Azwar. 2011. Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Gale,T. 2006. Histrionic Personality Disorder. http://www.minddisorder.com/flu-inv/Histrionik-


personality disorder.html diakses pada tanggal 15 November 2013.

PENERAPAN ATTACHMENT BASED FAMILY THERAPY FOR ADOLESCENTS (ABFT-A)


DALAM PENANGANAN MASALAH
KONFLIK SISWI DENGAN ORANGTUANYA

Era Atmiasih
Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah
Jl. Pahlawan No. 12 Semarang
ratmimail@yahoo.com

14
Jurnal Ilmiah Pekerjaan Sosial Volume 13 Nomor 2, Desember 2014

Abstract

Attachment based family therapy for adolescence (ABFT-A) as family therapy aiming to assist the
family on identifying and overcoming of conflict that occur at present as well asin the future. It might
distract the binding-viscidity or affection and break the belief among family member. The objective of
this research is to apply the ABFT-A on problem solving of DR’s pupil conflict with her parents in the
Yunior High School of Al Falah, Bandung. In specific, the aim of this research is to study the problem
characteristic of conflict facing by DR and her parents and applying ABFT-A to reduce behavior of
DR in clash with her parents. Methodology of this research were based on quantitative approach and
designed with single subject (SSD). The research used several parameters i.e. index of parental
attitudes (IPA), child’s attitude toward father (CAF) and child’s attitude toward mother (CAM). Data
were analyzed using comparison of two standard deviation (2 SD) and t-test with two sample
dependent (paired sample).
Data analysis were performed by calculating the change of target behavior in the baseline phase and
intervention phase on each stage of ABFT-A. The result showed that ABFT-A could overcome the
conflict problem between DR and her parents. ABFT-A could be exercised in the application of social
worker at school to assist the problem solving of pupil using their perspective as person in environment
in order to enhance their academic achievement.

Keywords: attachment, attachment based family therapy for adolescence (ABFT-A), conflict, social
workers in schools

Abstrak

Attachment Based Family Therapy for Adolescence (ABFT-A) adalah terapi keluarga, yang bertujuan
memberikan bantuan kepada keluarga dalam mengidentifikasi dan menyelesaikan konflik yang terjadi
sekarang maupun yang akan datang, yang dapat mengganggu ikatan kelekatan dan merusak
kepercayaan antara anggota keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan ABFT-A dalam
penanganan masalah konflik siswi DR dengan orang tuanya di SMP Al Falah Kota Bandung. Secara
khusus penelitian ini ditujukan untuk memahami karakteristik permasalahan konflik yang dialami oleh
DR dengan orangtuanya, dan menerapkan ABFT-A dalam mengurangi perilaku DR yang bertengkar
dengan orang tuanya. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain subyek
tunggal atau Single Subject Design (SSD). Alat ukur yang dipakai adalah Indeks Sikap Orang Tua
terhadap Anak (Index of Parental Attitudes/IPA), Sikap Anak terhadap Bapak (Child’s Attitude
Toward Father/CAF), dan Sikap Anak terhadap Ibu (Child’s Attitude Toward Mother/CAM). Data
yang terkumpul kemudian dianalisa dengan menggunakan perbandingan two standard deviation (2
SD) dan uji beda dua sample dependent (paired sample).
Analisa data dilakukan dengan menghitung perubahan target perilaku pada fase baseline dan fase
intervensi dalam setiap tahapan ABFT-A. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ABFT-A dapat
menangani masalah konflik DR dengan orangtuanya. ABFT-A dapat digunakan dalam praktek
pekerjaan sosial di sekolah yang bertujuan membantu menangani permasalahan siswa dengan
menggunakan perspektif siswa sebagai person in invironment, sehingga mereka dapat meningkatkan
prestasi akademiknya.

Kata kunci: attachment, attachment based family therapy for adolescence (ABFT-A), konflik, pekerja
sosial di sekolah.

Pendahuluan Masa remaja adalah masa transisi dari masa


kanak-kanak menuju masa dewasa yang masih
akan dimasuki. Perubahan-perubahan yang tidak masuk sekolah dan prestasi belajar
sangat khas dialami oleh remaja. Perubahan- menurun Hasil asesmen menunjukkan DR
perubahan tersebut terjadi baik secara fisik, mengalami konflik dalam relasi dengan
psikis, sosial dan spiritual, sehingga orangtuanya.
menimbulkan perubahan yang drastis pada Penyebab permasalahannya DR tidak mau
tingkah laku remaja. Menghadapi masa transisi membantu pekerjaan rumah, sering membantah
yang tidak mungkin dielakkan tersebut, remaja dan bertengkar dengan orangtua, sehingga DR
memerlukan bimbingan dan asuhan dari pulang hingga larut malam, bahkan kabur dari
keluarga terutama orangtua, sehingga remaja rumah. Perilaku DR tersebut ditanggapi oleh
dapat menjalani masa perkembangan ini orangtuanya dengan berniat mengeluarkan DR
dengan baik, tanpa masalah yang berarti. dari sekolah. Maka perlu suatu terapi keluarga
yang dapat menangani konflik DR dengan
Pengasuhan yang baik dalam keluarga akan orangtuanya.
membentuk remaja menjadi pribadi yang Attachment-Based Family Theraphy for
mampu merespon lingkungan sosialnya dengan Adolescents (ABFT- A), sebagai suatu bentuk
baik pula. Orangtua memegang peranan yang terapi keluarga yang berbasis pada kelekatan
sangat penting untuk berhasil atau tidaknya atau attachment, dapat membantu keluarga
seorang remaja dalam menjalankan fungsi dalam mengenali permasalahan yang berkaitan
sosialnya, disamping itu peran lingkungan juga dengan hubungan antara orangtua dengan anak
turut mempengaruhi keberhasilan remaja yang sedang mengalami gangguan. Fokus
dalam memenuhi tugas perkembangannya utama ABFT-A adalah memberikan bantuan
sehingga ia dapat tumbuh dan berkembang kepada keluarga dalam mengidentifkasi dan
dengan wajar. Salah satu lembaga di mana membahas konflik yang terjadi sekarang
remaja dapat tumbuh dan berkembang dengan maupun yang akan datang yang dapat
wajar adalah sekolah. mengganggu ikatan kelekatan dan merusak
Di sekolah seorang siswa dididik untuk kepercayaan antara anggota keluarga, seperti
memiliki pengetahuan dan keterampilan yang diungkapkan Lebow (2005: 23). “ABFT-A
akan berguna untuk masa depannya. Sekolah treatment focused first on helping the family
merupakan media bagi remaja untuk identity and discuss past and present conflict
beradapatasi dengan lingkungan sosialnya dan that have violated the attachment bond and
merupakan institusi pendidikan di mana remaja damaged trust.” Tahapan dalam ABFT-A
berperan sebagai pelajar yang diharapkan dapat adalah: (1) Task One: Relational Reframing
mengembangkan dirinya sesuai dengan (membentuk kembali hubungan). (2) Task Two:
tugasnya. Hurlock mengatakan bahwa masa Building Alliance with Adolescent
perkembangan remaja memiliki tugas untuk (membangun kerjasama dengan remaja). (3)
mencapai perilaku sosial yang bertanggung Task Three: Building Parent Alliance
jawab (1991: 10). Salah satu perilaku (membangun kerjasama dengan orangtua).
bertanggung jawab untuk remaja sebagai (4)Task Four: The Attachment Task (tugas
pelajar adalah memenuhi peraturan sekolah di kelekatan). (5) Task Five: Promoting
mana ia menjadi bagian dari institusi tersebut. Competency (meningkatkan kompetensi).
Sekolah juga merupakan tempat di mana
remaja dapat mengembangkan relasi sosialnya Peneliti tertarik untuk merumuskan suatu
dan mengembangkan toleransi dengan penelitian dengan penerapan Attachment Based
lingkungan sosialnya. Namun, tidak sedikit Family Therapy for Adolescents dalam
remaja yang tidak dapat memenuhi tugas penanganan masalah konflik siswi DR dengan
perkembangan ini dengan baik sebagai akibat orangtuanya. Berdasarkan latar belakang
dari adanya permasalahan dalam keluarga. masalah tersebut di atas maka rumus masalah
yang diajukan adalah: Apakah penerapan
DR merupakan siswi kelas VIII SMP Al Falah, ABFT-A dapat menangani masalah konflik
berusia 14 tahun dengan gejala masalah sering siswi DR dengan orangtuanya di SMP Al Falah

16
Jurnal Ilmiah Pekerjaan Sosial Volume 13 Nomor 2, Desember 2014

Kota Bandung? Rumusan masalah tersebut Peneliti biasanya menggunakan SSD karena
diuraikan dalam sub-sub rumusan desain ini peka terhadap perbedaan individu
permasalahan, yaitu: (1) Bagaimana dan tepat untuk mengevaluasi efek dari
karakteristik masalah konflik yang dialami berbagai intervensi dalam penelitian terapan.
siswi DR?, (2) Apakah ABFT-A dapat Desain penelitian ini menggunakan model A –
mengurangi perilaku DR bertengkar dengan B – A yang menunjukkan adanya hubungan
orangtuanya? sebab akibat antara variabel bebas dan variabel
terikat. Mula-mula target behavior diukur
Berdasarkan latar belakang dan rumusan secara kontinyu pada kondisi baseline (A1)
permasalahan di atas, maka hipotesis utama dengan periode waktu tertentu, kemudian pada
dalam penelitian ini adalah: ABFT-A dapat kondisi intervensi (B), dan kondisi baseline
menangani masalah konflik siswi DR dengan kedua (A2) atau Hasil. Hal ini dimaksudkan
orangtuanya. Selanjutnya hipotesis utama sebagai kontrol untuk fase intervensi sehingga
dibatasi pada sub-hipotesis berikut : ABFT-A memungkinkan untuk menarik kesimpulan
dapat mengurangi perilaku DR bertengkar adanya hubungan fungsional antara variabel
dengan orangtuanya. Penelitian ini bertujuan bebas) (perubahan target perilaku) dengan
untuk: (1) Memahami permasalahan yang variabel terikat (intervensi yang diberikan).
dialami oleh DR dan orangtuanya. (2) (Sunanto, 2005). Model dalam penelitian ini,
Menerapkan Attachment Based Family yaitu: (1) Fase A, merupakan fase baseline
Therapy for Adolescents (ABFT-A) dalam awal atau kondisi awal yang merupakan
mengurangi perilaku DR bertengkar dengan gambaran murni sebelum diberikan perlakuan
orangtuanya. sebagai dasar. Pada fase ini peneliti akan
melakukan asesmen dan observasi terhadap
Metode perilaku target. (2) Fase B, merupakan fase
pelaksanaan perlakuan/intervensi yang
Desain Penelitian ini menggunakan pendekatan merupakan gambaran mengenai kemampuan
kuantitatif dengan disain subjek tunggal (Single yang dimiliki subyek selama diberikan
Subject Design) atau N = 1. Single Subject perlakuan/treatment. Dalam penelitian ini
Design (SSD) merupakan sebuah disain intervensi yang dilakukan adalah seluruh
penelitian untuk mengevaluasi efek suatu tahapan Attachment Based Family Therapy for
perlakukan (intervensi) dengan kasus atau Adolescence (ABFT-A.(3)Fase A, merupakan
subyek tunggal (Kazdin, dalam Latipun, 2011: fase tindak lanjut atau fase kedua A, peneliti
85). Single Subject Design (SSD maupun Single melakukan asesmen dan observasi kembali
Case Design (SCD) adalah label yang merujuk terhadap perilaku target, setelah diberikan
pada label yang sama, tetapi label SCD treatment berupa ABFT-A. Hal ini
mempunyai cakupan yang lebih luas sepanjang dimaksudkan sebagai kontrol untuk fase
berada dalam lingkup kasus tersebut, sehingga intervensi sehingga memungkinkan untuk
tidak membatasi pada seorang subyek saja, menarik kesimpulan adanya hubungan
seperti diungkapkan oleh Harkness & Hensley fungsional antara variabel bebas dengan
dalam Cyntia D Bisman & David Hardcastle variabel terikat.
(1999: 151), “Both SSD and SCD are labels
that refer to same design model. We prefer the Teknik penarikan sampel dalam penelitian ini
label scd because of its inferred broader menggunakan subyek tunggal, yaitu DR yang
inclusion of cases other than an individual berusia 14 tahun, siswa kelas VIII di SMP Al
client as a subject.” SSD atau SCD adalah Falah Kota Bandung. DR mengalami konflik
desain penelitian yang paling sering digunakan dengan orangtuanya, yang ditandai dengan
dalam bidang terapan psikologi, pendidikan, sering bertengkar dengan orangtuanya.
dan perilaku manusia di mana subjek berfungsi
sebagai kontrol dirinya sendiri, daripada Instrumen atau alat ukur yang digunakan dalam
menggunakan individu atau kelompok lain. penelitian ini, adalah: (1) Indeks Sikap
Orangtua terhadap Anak (Index of Parental ukur yang digunakan. Validitas dan reliabilitas
Attitudes/IPA), merupakan alat ukur yang pada instrumen IPA, CAM dan CAF, yaitu:
dipergunakan untuk mengetahui bagaimana hitung reliabilitas pada berbagai pengujian
derajat masalah di dalam hubungan orangtua- mencapai perolehan minimal 0,90 sedangkan
anak menurut orangtua. (2) Sikap Anak skor hitung validitas pada berbagai pengujian
terhadap Ibu (Child’s Attitude Toward mencapai perolehan minimal 0,60.
Mother/CAM), merupakan alat ukur yang
dipergunakan untuk mengetahui bagaimana Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini
derajat masalah di dalam hubungan ibu-anak adalah: (1) Observasi, dilakukan dengan
menurut anak. (3) Sikap Anak terhadap Bapak mengamati perilaku target dalam bentuk
(Child’s Attitude Toward Father/CAF), perilaku DR yaitu bertengkar dengan
merupakan alat ukur yang dipergunakan untuk orangtuanya yang muncul pada periode tertentu
mengetahui bagaimana derajat masalah di dengan cara mentallynya, baik dalam
dalam hubungan bapak-anak menurut anak. mengukur baseline, fase intervensi maupun
Ketiga alat ukur ini terdiri dari 25 item fase akhir.(2) Kuesioner, yaitu dengan
pertanyaan, dan merupakan alat ukur standard menggunakan kuesioner berupa Indeks Sikap
yang bersifat baku yang juga dikembangkan Orang Tua terhadap Anak (Index of Parental
oleh Walter W. Hudson (1993). (4) Pedoman Attitudes/IPA) dari Walter W. Hudson (1993)
Observasi, sebagai alat ukur untuk menghitung yang diisi oleh ibu dan bapak DR, dan Sikap
kemunculan perilaku sesuai dengan perilaku Anak terhadap Ibu (Child’s Attitude Toward
target yang muncul dalam periode waktu Mother/CAM), serta Sikap Anak terhadap
tertentu dengan cara mentallynya, baik dalam Bapak (Child’s Attitude Toward Father/CAF)
mengukur baseline, fase intervensi maupun yang diisi oleh DR. (3) Wawancara, merupakan
fase akhir. Perilaku target yang dihitung suatu proses tanya jawab atau dialog secara
kemunculannya yaitu dalam bentuk perilaku lisan yang dilakukan antara peneliti dengan
DR bertengkar dengan orang tuanya (dengan responden, yaitu DR, ibu dan ayah DR, guru
ibu maupun bapaknya). (5) Pedoman dan teman DR; yang bertujuan untuk
wawancara untuk mengetahui lebih dalam memperoleh informasi yang dibutuhkan oleh
permasalahan dan faktor-faktor pendukung dan peneliti. (4) Studi Dokumentasi, dilakukan
penghambat dalam penerapan ABFT-A dengan cara mempelajari dan menganalisis isi
terhadap penanganan masalah konflik DR dokumen untuk kepentingan penelitian,
dengan orangtuanya. Wawancara dilakukan berupa: catatan pribadi siswa, absensi siswa,
peneliti dengan responden, yaitu DR, ibu dan dan raport siswa.
ayah DR, guru dan teman DR; yang bertujuan
untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan Teknik analisa data dilakukan dengan
oleh peneliti. menggunakan statistik deskriptif dan statistik
inferensial. Statistik deskriptif dilakukan
Validitas dalam penelitian ini dicapai dengan dengan mengukur rata-rata perbedaan antara
triangulasi yaitu melakukan pengukuran pada skor pengukuran target perilaku yang diperoleh
berbagai situasi dan membandingkan hasilnya. pada fase baseline dan fase intervensi pada
Sedangkan reliabilitas dilakukan dengan setiap tahapan ABFT-A dengan menggunakan
melakukan pengukuran secara berulang pada perbandingan two standard deviation (2 SD).
kondisi yang konsisten. Pengukuran target Untuk mendukung hasil analisis, peneliti
perilaku dilakukan pada tiga fase di setiap sesi menambahkan analisis statistik inferensial
terapi yaitu sebelum perlakuan (baseline), pada dengan melakukan uji beda dua sample
saat pemberian perlakuan (intervention) dan independent (paired sample) untuk skala Sikap
setelah perlakuan sesuai disain yang digunakan Orangtua terhadap Anak (Index of Parental
dalam peneilitan ini (A-B-A). Konsultasi Attitudes/IPA) yang diisi oleh ibu dan bapak
dengan pembimbing dilakukan oleh peneliti DR, dan Sikap Anak terhadap Ibu (Child’s
untuk menguji validitas muka terhadap alat Attitude Toward Mother/CAM), serta Sikap

18
Jurnal Ilmiah Pekerjaan Sosial Volume 13 Nomor 2, Desember 2014

Anak terhadap Bapak (Child’s Attitude Toward Penanganan masalah-masalah siswa tersebut
Father/CAF) yang diisi oleh DR. Tujuannya dilakukan baik secara preventif maupun
adalah untuk menguji perbedaan mean antara kuratif, melalui penyuluhan yang dilakukan
dua kelompok data yang dependen. kepada siswa dan orangtua/wali siswa dalam
pertemuan orangtua murid dan guru (POMG),
Pembahasan maupun layanan bimbingan konseling yang
dilakukan oleh guru Bimbingan Konseling.
Sekolah Menengah Pertama (SMP) Al Falah Penanganan masalah siswa oleh guru
merupakan salah satu sekolah yang berada di bimbingan konseling dilakukan dengan
bawah naungan Yayasan Pesantren Islam Al memberikan konseling terhadap siswa
Falah Dago, dengan ijin operasional Nomor bermasalah dan mengadakan pertemuan untuk
0264/C.&/74 tanggal 1 Januari 1974. Gedung membahas masalah siswa dengan orangtua atau
SMP Al Falah terletak di Jalan Cisitu Baru No. keluarga siswa, baik dengan memanggil
52 Bandung, atau tepatnya berada di belakang orangtua siswa ke sekolah atau melakukan
dari Gedung SMA/SMK Al Falah Dago. kunjungan rumah (home visit). Kegiatan
Jumlah Siswa pada tahun 2012/2013 sebanyak tersebut dilakukan berdasarkan arahan dari
734 siswa yang terbagi dalam 18 rombongan kepala sekolah dan hasilnya dilaporkan kepada
belajar. Tenaga pendidik di SMP Al Falah saat kepala sekolah. Tujuannya agar proses belajar
ini berjumlah 39 orang sebagian besar mengajar dapat terselenggara sebagaimana
merupakan guru tidak tetap. SMP Al Falah mestinya dan dapat mencapai tujuan dari
mempunyai visi menyiapkan generasi muslim penyelenggaraan pendidikan itu sendiri.
yang bertaqwa, berbudaya islami, berprestasi
dan berkarya. Misi sekolah, sebagai berikut: (1) Karakteristik masalah konflik yang dialami
Menciptakan lingkungan yang religius. (2) siswi DR adalah: seorang anak perempuan
Menerapkan pendidikan Islam yang terpadu. berusia 14 tahun, anak pertama dari 4
(3) Menciptakan dan mengembangkan jaringan bersaudara. Ayah dan ibu DR orang Sunda asli.
kerja sama. (4) Meningkatkan hubungan Ayahnya ER, berusia 35 tahun, saat ini tidak
kekeluargaan di lingkungan sekolah. (5) mempunyai pekerjaan tetap, kadang menjadi
Mendorong kreatifitas dan kemandirian siswa. buruh bangunan dan membuat layang-layang di
(6) Mengembangkan potensi yang dapat rumah bila tidak ada pekerjaan. Sedang ibunya,
meningkatkan kualitas siswa. (7) SK (berusia 30 tahun), sehari-hari bekerja
Meningkatkan profesionalisme kerja guru dan sebagai pembantu rumah tangga dan menjual
karyawan melalui MGMP, Penataran, dan makanan kecil di rumahnya. Dalam penelitian
Pelatihan. ini, kasus yang ditangani adalah kasus konflik
siswi DR dengan orangtuanya. Pertengkaran
Letak sekolah yang tidak hanya strategis DR dengan orangtuanya terjadi setiap hari,
namun juga berada di tengah pemukiman terutama dengan ayahnya yang kadang disertai
penduduk yang padat dengan kegiatan tindakan kekerasan (ayah memukul dan
masyarakatnya yang dinamis, juga menendang DR). Menurut DR penyebab
memberikan pengaruh tidak baik pada siswa, pertengkarannya dengan orangtua ialah: ketika
sehingga menimbulkan permasalahan siswa. ibu “cerewet” (marah-marah) jika menyuruh
Berdasarkan data dan informasi yang peneliti DR melakukan pekerjaan rumah kemudian DR
peroleh dari hasil wawancara dengan pihak tidak mau melaksanakannya; dan ketika
sekolah (guru Bimbingan Konseling, PKS keinginan DR tidak dituruti oleh ayah maupun
Bidang Kesiswaan dan Kepala Sekolah), ibunya kemudian ia kesal dan pergi dari rumah.
observasi dan studi dokumentasi, permasalahan Hal ini menyebabkan DR merasa tidak betah di
siswa yang sering terjadi di SMP Al Falah, rumah kemudian sering pulang larut malam dan
adalah: (1) Angka ketidakhadiran siswa yang kabur dari rumah. Pada bulan Januari DR 6 kali
tinggi. (2) Penyalahgunaan internet. (3) Tidak pulang hingga larut malam dan 5 kali kabur dari
selektif dalam pergaulan dengan lawan jenis. rumah. DR juga sering tidak mengerjakan tugas
sekolah dan tidak hadir di sekolah. Tingkat Pertama: Pengujian sub hipotesis dengan
ketidakhadiran DR di sekolah sangat tinggi. menggunakan rumus Two Standard Deviation
Pada semester ganjil tahun pelajaran (2 SD).
2012/2013 tercatat sudah 21 hari DR tidak Hasil Pengukuran Tahap Tugas Pembentukan
masuk sekolah, 17 hari diantaranya tanpa Kembali Hubungan (The Relational Reframing
keterangan (alpa). Tingkat kehadirannya pada Task).
bulan Januari 2013 hanya 50. Perilaku DR Nilai rata-rata pada fase baseline adalah 3,375
tersebut ditanggapi oleh orangtuanya dengan dan nilai rata-rata pada fase intervensi adalah
berniat mengeluarkan DR dari sekolah. DR 2,63. Nilai selisih yang diperoleh adalah 0,75
terancam putus sekolah. yang lebih kecil dari nilai 2 SD yaitu 1,04. Nilai
Hasil pengukuran dengan instrumen IPA, ini secara statistik signifikan yang
CAM, dan CAF pada fase baseline, yaitu: IPA menunjukkan bahwa intervensi menimbulkan
yang diisi bapak DR menunjukkan skor 55, IPA akibat bermanfaat. Taraf signifikasi 0,036
yang diisi ibu DR menunjukkan skor 47, dan (P<0,05). Dengan demikian, berdasarkan hasil
CAM maupun CAF yang diisi DR pengujian terhadap tahap tugas pembentukan
menunjukkan skor 41 dan 57 yang kesemuanya kembali hubungan (the relational reframing
mengindikasikan adanya potensi masalah yang task) dapat mengubah perilaku DR yang sering
signifikan secara klinis. bertengkar dengan orangtuanya. Frekuensi
kemunculan perilaku pada setiap fase dapat
Pengujian Hipotesis dan Pembahasan dilihat pada grafik 1 dibawah ini:

Grafik 1
Pengukuran Fase Baseline, Intervensi, dan Hasil pada Tahap
Tugas Pembentukan Kembali Hubungan (the relational reframing task)
terhadap Perilaku Target Bertengkar dengan Orangtua
5
4
3 Baseline

2 Intervensi

1 Hasil

0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24

Hasil Pengukuran Tahap Tugas kerjasama akibat bermanfaat. Taraf signifikasi 0,047
dengan remaja (the adolescent alliance (P<0,05). Dengan demikian, berdasarkan hasil
building task). pengujian terhadap tahap tugas kerjasama
Nilai rata-rata pada fase baseline adalah 2,75 dengan remaja (the adolescent alliance
dan nilai rata-rata pada fase intervensi adalah building task) dapat mengubah perilaku DR
1,88. Nilai selisih yang diperoleh adalah 0,88 yang sering bertengkar dengan orangtuanya.
yang lebih kecil dari nilai 2 SD yaitu 0,93. Nilai Frekuensi kemunculan perilaku pada setiap
ini secara statistik signifikan yang fase dapat dilihat pada grafik 2 dibawah ini:
menunjukkan bahwa intervensi menimbulkan

Grafik 2

20
Jurnal Ilmiah Pekerjaan Sosial Volume 13 Nomor 2, Desember 2014

Pengukuran Fase Baseline, Intervensi, dan Hasil pada Tahap


Tugas Kerjasama dengan Remaja (the adolescent alliance building task) terhadap Perilaku Target Bertengkar
dengan Orangtua

4
3
Baseline
2
Intervensi
1
Hasil
0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24

Hasil Pengukuran Tahap Tugas kerjasama yang lebih kecil dari nilai 2 SD yaitu 1,41. Nilai
dengan orangtua (the parent alliance building ini secara statistik signifikan yang
task). menunjukkan bahwa intervensi menimbulkan
Nilai rata-rata pada fase baseline adalah 2,125 akibat bermanfaat. Taraf signifikasi 0,013
dan nilai rata-rata pada fase intervensi adalah (P<0,05). Dengan demikian, berdasarkan hasil
1,13. Nilai selisih yang diperoleh adalah 1,00 pengujian terhadap tahap tugas kelekatan/kasih
yang lebih kecil dari nilai 2 SD yaitu 1,28. Nilai sayang (the attachment task) dapat mengubah
ini secara statistik signifikan yang perilaku DR yang sering bertengkar dengan
menunjukkan bahwa intervensi menimbulkan orangtuanya. Frekuensi kemunculan perilaku
akibat bermanfaat. Taraf signifikasi 0,039 pada setiap fase dapat dilihat pada grafik 4
(P<0,05). Dengan demikian, berdasarkan hasil dibawah ini:
pengujian terhadap tahap tugas kerjasama
dengan orangtua (the parent alliance building
task) dapat mengubah perilaku DR yang sering
bertengkar dengan orangtuanya. Frekuensi
kemunculan perilaku pada setiap fase dapat
dilihat pada grafik 3 dibawah ini:

Hasil Pengukuran Tahap Tugas kelekatan (the


attachment task).
Nilai rata-rata pada fase baseline adalah 1,25
dan nilai rata-rata pada fase intervensi adalah
088. Nilai selisih yang diperoleh adalah 0,38
Grafik 3
Pengukuran Fase Baseline, Intervensi, dan Hasil pada Tahap
Tugas Kerjasama dengan Orangtua (the parent alliance building task) terhadap
Perilaku Target Bertengkar dengan Orangtua

3
Baseline
2
Intervensi
1 Hasil
0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24
Grafik 4
Pengukuran Fase Baseline, Intervensi, dan Hasil pada Tahap
Tugas Kelekatan (the attachment task) terhadap
Perilaku Target Bertengkar dengan Orangtua

2.5
2
1.5 Baseline

1 Intervensi

0.5 Hasil

0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24

Hasil Pengukuran Tahap Tugas Meningkatkan akibat bermanfaat. Taraf signifikasi 0,017
Kompetensi (The Promoting Competency (P<0,05). Dengan demikian, berdasarkan hasil
Task). pengujian terhadap tahap tugas meningkatkan
Nilai rata-rata pada fase baseline adalah 0,75 kompetensi (the promoting competency task)
dan nilai rata-rata pada fase intervensi adalah dapat mengubah perilaku DR yang sering
0,25. Nilai selisih yang diperoleh adalah 0,50 bertengkar dengan orangtuanya. Frekuensi
yang lebih kecil dari nilai 2 SD yaitu 1,41. Nilai kemunculan perilaku pada setiap fase dapat
ini secara statistik signifikan yang dilihat pada grafik 5 dibawah ini:
menunjukkan bahwa intervensi menimbulkan

Grafik 5
Pengukuran Fase Baseline, Intervensi, Hasil pada Tahap
Tugas Meningkatkan Kompetensi (the promoting competency task) terhadap
Perilaku Target Bertengkar dengan Orangtua

2.5
2
1.5 Baseline
1 Intervensi
0.5 Hasil
0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24

22
Jurnal Ilmiah Pekerjaan Sosial Volume 13 Nomor 2, Desember 2014

Kedua: Pengujian hipotesis utama dengan uji nilai mean antara pengukuran pertama dan
beda dua sample independent (paired sample). kedua adalah 0,8. Hasil uji statistik didapat
Pengujian terhadap skala Sikap Orangtua nilai p = 0,00005, maka diperoleh kesimpulan
terhadap Anak (Index of Parental ada perbedaan yang signifikan antara jawaban
Attitudes/IPA) yang diisi oleh ibu DR: pada pengukuran pertama (sebelum dilakukan
Rata-rata (mean) jawaban ibu DR pada terapi ABFT-A) dengan pengukuran jawaban
pengukuran pertama adalah 3,8. pada kedua (setelah diberikan terapi ABFT-A),
pengukuran kedua diperoleh rata-rata jawaban karena nilai p tersebut lebih kecil dari alpha
2,64. Perbedaan nilai mean antara pengukuran 0,05. Sikap Anak terhadap Bapak (Child’s
pertama dan kedua adalah 1,16. Hasil uji Attitude Toward Father/CAF) yang diisi DR:
statistik didapat nilai p = 0,00007, maka Rata-rata (mean) jawaban DR pada pengukuran
diperoleh kesimpulan ada perbedaan yang pertama adalah 4,4. pada pengukuran kedua
signifikan antara jawaban pada pengukuran diperoleh rata-rata jawaban 2,8. Perbedaan
pertama (sebelum dilakukan terapi ABFT-A) nilai mean antara pengukuran pertama dan
dengan pengukuran jawaban kedua (setelah kedua adalah 1,6. Hasil uji statistik didapat
diberikan terapi ABFT-A), karena nilai p nilai p = 0,00000, maka diperoleh kesimpulan
tersebut lebih kecil dari alpha 0,05. ada perbedaan yang signifikan antara jawaban
Pengujian terhadap skala Sikap Orangtua pada pengukuran pertama (sebelum dilakukan
terhadap Anak (Index of Parental terapi ABFT-A) dengan pengukuran jawaban
Attitudes/IPA) yang diisi oleh bapak DR: kedua (setelah diberikan terapi ABFT-A),
Rata-rata (mean) jawaban bapak DR pada karena nilai p tersebut lebih kecil dari alpha
pengukuran pertama adalah 4,32. Pada 0,05.
pengukuran kedua diperoleh rata-rata jawaban
2,68. Perbedaan nilai mean antara pengukuran Hasil keempat pengujian tersebut menegaskan
pertama dan kedua adalah 1,64. Hasil uji bahwa hipotesis diterima atau pemberian terapi
statistik didapat nilai p = 0,00000, maka ABFT-A dapat menangani konflik antara DR
diperoleh kesimpulan ada perbedaan yang dengan orangtuanya. Pengukuran terhadap
signifikan antara jawaban pada pengukuran instrumen IPA, CAM, dan CAF sebelum dan
pertama (sebelum dilakukan terapi ABFT-A) setelah penerapan ABFT-A terlihat dalam
dengan pengukuran jawaban kedua (setelah grafik 6:
diberikan terapi ABFT-A), karena nilai p
tersebut lebih kecil dari alpha 0,05.
Sikap Anak terhadap Ibu (Child’s Attitude
Toward Mother/CAM), yang didiisi DR:
Rata-rata (mean) jawaban DR pada pengukuran
pertama adalah 3,44. Pada pengukuran kedua
diperoleh rata-rata jawaban 2,64. Perbedaan
Grafik 6
Skor IPA, CAM, dan CAF;
Sebelum dan Sesudah Intervensi

Tes 1 Tes 2

55 47 57
41 30
28 27 27

IPA (BAPAK) IPA (IBU) CAM CAF

Pengamatan peneliti juga menunjukkan bahwa


DR yang semula masih menyimpan rasa sakit
hati karena pernah disebut “bondon” oleh kehadiran. Hal ini berbarengan dengan
bapaknya, dalam pengamatan peneliti tampak meredanya konflik DR dengan orangtua dan
mulai menunjukkan relasi yang membaik meningkatnya kesadaran DR untuk
antara keduanya. DR mau membantu bapaknya memperbanyak aktifitas-aktifitas yang
yang sedang memperbaiki saluran air di loteng bermanfaat di rumah, seperti diperlihatkan
rumah ketika hujan turun, selain itu DR juga dalam tabel 1 dibawah ini.
bisa tersenyum dan tertawa sambil mengobrol
dengan bapaknya. Penerapan ABFT-A juga Tabel 1 menunjukkan DR semakin banyak
mampu meningkatkan motivasi belajar DR (di menggunakan waktu di rumah untuk
rumah maupun di sekolah), yang ditunjukkan melakukan aktifitas atau kegiatan yang positif,
dengan membaiknya kehadiran DR di sekolah, yaitu membereskan kamar, menyapu lantai
diperlihatkan dalam grafik 7 berikut ini. rumah, mencuci baju sendiri, belajar dari jam 7
sampai 8 malam, dan DR juga bersedia untuk
Grafik 7 memperlihatkan bahwa dari bulan sarapan pagi. Kegiatan tersebut merupakan
Januari 2013, DR tidak masuk sekolah selama hasil dialog DR dengan orangtua, sehingga DR
9 hari. Pada bulan Februari menurun yaitu tidak pun melaksanakannya dengan kemauan sendiri
masuk sekolah selama 2 hari. Pada bulan Maret tanpa paksaan apalagi bertengkar dengan
dan April kembali DR sering tidak masuk orangtua. Konflik dengan orangtua yang
sekolah, selama 4 hari di bulan Maret dan 6 hari mereda telah menciptakan suasana yang tenang
di bulan April. DR sering tidak masuk tanpa dan nyaman di rumah. DR pun merasa betah
keterangan (alpa) yaitu sebanyak 15 hari. berada di rumah dan meninggalkan perilaku
negatifnya kabur dari rumah dan pulang larut
malam, yang tampak dalam grafik 8.
Pada bulan Mei tingkat kehadiran DR di
sekolah meningkat cukup tajam yaitu 100%

Grafik 7
Rekapitulasi Absensi DR di Sekolah
Bulan Januari sampai dengan Mei 2013

10
8
6 ALPA

4 IJIN

2 SAKIT

0
JANUARI FEBRUARI MARET APRIL MEI

Sumber: Rekapitulasi presensi siswa SMP Al Falah

24
Jurnal Ilmiah Pekerjaan Sosial Volume 13 Nomor 2, Desember 2014

semester genap tahun 2012/2013

Tabel 1
Rekapitulasi Hasil Monitoring Diri DR
Intensitas Kemunculan Perilaku
Perilaku
Pekan I Pekan II
(3 s.d 9 Mei) (10 s.d 16 Mei)
Membereskan kamar setiap hari pada waktu 4 6
bangun tidur
Menyapu lantai rumah setiap hari 5 7

Mencuci baju sendiri satu minggu dua kali 1 2


Belajar pada jam 7 – 8 malam setiap hari, kecuali 3 5
malam minggu
Sarapan pagi sebelum berangkat sekolah 4 6

Grafik 8
Frekuensi Perilaku Kabur dan
Pulang Larut Malam DR
8
6 KABUR DARI RUMAH
4
2
0 PULANG LARUT
JANUARI FEBRUARI MARET APRIL MEI MALAM

dengan keluarga biasanya berada pada titik


terendah. Konflik antara remaja dengan
orangtuanya ini terjadi dalam relasi antara
orangtua dengan remaja dan dapat
menimbulkan stres, yang berpengaruh pada
prestasi akademik remaja di sekolah.
Penyelesaian konflik remaja dan orangtua
dipengaruhi tingkat kelekatan dalam hubungan
keduanya.

Hubungan dengan kelekatan aman membuat


konflik yang terjadi bersifat konstruktif karena
masing-masing pihak mampu menjalin
komunikasi yang efektif, melakukan proses
Simpulan diskusi dan negosiasi, serta membicarakan
emosi dengan lebih terbuka. Intinya ada dialog
Konflik orangtua-anak merupakan konflik antara orangtua dengan anak. Kelekatan aman
dalam keluarga yang prevalensinya paling dapat membuat konflik membuahkan hasil
tinggi. Konflik ini akan meningkat yang lebih positif, misalnya: saling pengertian
intensitasnya pada masa remaja jika dan kesediaan anak mengikuti nasihat
dibandingkan dengan masa perkembangan orangtua. Salah satu teknik intervensi keluarga
anak sebelumnya. Pada saat tersebut, hubungan berbasis kelekatan, yang bertujuan
memberikan bantuan kepada keluarga dalam (sebelum dilakukan terapi ABFT-A) dengan
mengidentifikasi dan menyelesaikan konflik pengukuran jawaban kedua (setelah diberikan
yang terjadi melalui dialog orangtua dan terapi ABFT-A. Hasil tersebut menyimpulkan
remaja, adalah Attachment-Based Family bahwa ABFT-A dapat menangani konflik
Theraphy for Adolescents (ABFT-A). antara DR dengan orangtuanya. Hasil
Penerapan ABFT-A dilakukan dalam lima penelitian ini juga menunjukkan bahwa ABFT-
tahap yaitu: (1) Tugas membentuk kembali A dapat membantu meningkatkan aktifitas DR
hubungan (The Relational Reframing Task). (2) pada kegiatan positif, yaitu membereskan
Tugas membangun kerjasama dengan remaja kamar, menyapu lantai, mencuci baju sendiri,
(The Building Alliance with Adolescent Task). belajar di rumah pada jam 7 sampai jam 8
(3) Tugas membangun kerjasama dengan malam, dan teratur sarapan pagi.
orangtua (The Building Parent Alliance Task).
(4) Tugas kelekatan (The Attachment Task). (5) Hasil penelitian ini disadari oleh peneliti masih
Tugas meningkatkan kompetensi (The memerlukan penyempurnaan lebih lanjut.
Promoting Competency Task). Rekomendasi diperlukan untuk lebih
meningkatkan atau memperkuat hasil
Hasil pengujian terhadap sub hipotesis penelitian tersebut. Hal ini dilakukan agar
menunjukkan bahwa ABFT-A Tahap Relational penelitian ini dapat memberikan manfaat yang
Reframing Task dapat menurunkan perilaku berkesinambungan, baik bagi subyek penelitian
DR yang sering bertengkar dengan maupun peneliti dan praktisi yang
orangtuanya dengan taraf signifikasi 0,036; berkepentingan terhadap hasil dan kelanjutan
Tahap Building Alliance with Adolescent Task penelitian ini:
dapat menurunkan perilaku DR yang sering
bertengkar dengan orangtuanya dengan taraf 1. Bagi orangtua DR: (a) Berusaha lebih sabar
signifikasi 0,047; Tahap Building Parent dalam memberikan nasihat, dan
Alliance Task dapat menurunkan perilaku DR menghindari kekerasan fisik (memukul,
yang sering bertengkar dengan orangtuanya menendang) dan kekerasan verbal ketika
dengan taraf signifikasi 0,013; Tahap The marah. (b) Permasalahan yang terjadi
Attachment Task dapat menurunkan perilaku diselesaikan dengan dialog dan diskusi
DR yang sering bertengkar dengan tanpa emosi dan pertengkaran, sehingga
orangtuanya dengan taraf signifikasi 0,013; dan penyelesaian masalah tidak mengalahkan
Tahap Promoting Competency Task dapat salah satu pihak (“win-win solution”). (c)
menurunkan perilaku DR yang sering Menghargai usaha dan keberhasilan anak
bertengkar dengan orangtuanya dengan taraf dengan memberikan reward, minimal
signifikasi 0,017. Dengan demikian dapat pujian pada anak. (d) Berlaku sebagai
ditarik kesimpulan bahwa ABFT-A dapat teladan dan pemandu yang baik bagi anak.
menangani masalah konflik DR dengan (e) Memberi penjelasan dan meminta
orangtuanya. Attachment Based Family pengertian kepada anak terhadap
Therapy for Adolescents (ABFT-A) secara keterbatasan yang dimiliki orangtua,
signifikan dapat mengurangi perilaku DR misalnya ketika anak menginginkan
bertengkar dengan orangtuanya. sesuatu sedangkan orangtua belum ada
Hasil pengujian pada hipotesis utama uang, maka orangtua memberi penjelasan
penelitian menunjukkan bahwa pengujian kepada anak tanpa emosi atau terbawa
terhadap IPA yang diisi ibu DR dengan taraf emosi/sikap tidak terima anak. Jika perlu
signifikasi 0,00007; IPA yang diisi oleh bapak meminta maaf karena belum bisa
DR dengan taraf signifikasi 0,00007; CAM dan memenuhi keinginan anak. (f)
CAF yang didiisi DR dengan taraf signifikasi Menggunakan saat-saat luang dan santai di
0,00005, dan 0,00000; maka diperoleh rumah untuk menonton televisi bersama
kesimpulan ada perbedaan yang signifikan atau mengobrol ringan sambil menyisipkan
antara jawaban pada pengukuran pertama canda. (g) Memberikan penguatan pada

26
Jurnal Ilmiah Pekerjaan Sosial Volume 13 Nomor 2, Desember 2014

anak ketika anak menunjukkan perilaku lebih mendalam melalui pendekatan


yang baik. (h) Mendo’akan anak ekologi secara menyeluruh, sehingga
2. Bagi sekolah: (1) Melanjutkan kegiatan proses intervensi tidak hanya terbatas pada
konseling secara intensif minimal satu subyek dan orangtua saja, namun juga
bulan sekali bagi klien DR, sehingga dapat melibatkan keluarga besar dan
dicapai hasil yang optimal dan DR dapat memaksimalkan sistem sumber yang ada di
memelihara dan meningkatkan perubahan lingkungan subyek. (2) Peneliti atau
ke arah yang lebih baik lagi. (2) Sekolah praktisi dapat menggunakan model ABFT-
dalam menyikapi atau menangani siswa A dalam penelitian ini untuk menangani
yang sering membolos tidak permasalahan lain, misalnya anak yang
memandangnya sebagai tindakan mengalami tindak kekerasan orangtua,
indisipliner semata namun juga lebih dalam anak yang mengalami depresi atau
menggali latar belakang penyebab siswa kecemasan, dan anak yang mengalami
sering membolos, sehingga akar gangguan perilaku. Variasi permasalahan
permasalahannya dapat diketahui dan tersebut tentunya akan mendorong
ditangani secara tuntas. (3) Siswa yang penerapan teknik-teknik baru yang semakin
memiliki masalah konflik dengan keluarga memperkaya model ABFT-A ini. (3)
dapat berdampak pula dengan performa Peneliti dan praktisi yang akan melanjutkan
akademik siswa di sekolah. ABFT-A sangat penelitian ini dapat menggunakan format
tepat bagi anak usia remaja yang sedang atau metode penelitian yang lain, sehingga
mengalami masalah-masalah pada masa pengembangan dan penyempurnaan model
transisi yang menimbulkan konflik dengan dapat lebih teruji.
orangtunya. ABFT-A menawarkan proses
dialog dan diskusi yang konstruktif dan
terbukti dapat menangani konflik antara
remaja dengan orangtua.
3. Peneliti atau praktisi: (1) Penelitian ini
membatasi intervensi pada DR dan
orangtuanya saja, belum melibatkan
keluarga besar (extended family) DR.
Peneliti dan praktisi yang akan melanjutkan
penelitian ini dapat melakukan asesmen

Daftar Pustaka

Allen-Meares, Paula. 2007. Social Work Services in Schools: Fifth Edition. USA: Pearson.
Bisman, Cyntia D & David A. Hardcastle. 1999. Integrating Research Into Practice: A Model for
Effective Social Work. Wadsworth Publishing Company.
Crain, William. 2007. Teori Perkembangan: Konsep dan Aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Dadang Sulaeman. 1997. Psikologi Remaja: Dimensi-dimensi Perkembangan. Bandung: Penerbit CV
Mandar Maju.
Hendricks, William. 2012. Bagaimana Mengelola Konflik: Petunjuk Praktis untuk Manajemen Konflik
yang Efektif. Jakarta: Sinar Grafika Offset.
Howe, David. 2005. Child Abuse and Neglect: Attachment, Development and Intervention. New York:
Palgrave Macmillan.
Hurlock, Elizabeth B. 1991. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang
Kehidupan (Edisi ke 5). Jakarta: Erlangga.
Juang Sunanto. 2005. Pengantar Penelitian dengan Subyek Tunggal. CRICED Jepang: University of
Tsukuba.
Latipun. 2011. Psikologi Eksperimen: Edisi Kedua. Malang: UMM Press.
Lebow, Jay. L. 2005. Handbook of Clinical Family Therapy. New Jersey: John Wiley & Sons, Inc.
O’loughlin, Maureen & O’loughlin, Steve. 2008. Social Work with Children and Families. Learning
Matters Ltd. Glasgow.
Sri Esti Wuryani Djiwandono. 2005. Konseling dan Terapi dengan Anak dan Orang Tua. Jakarta: PT
Gramedia Widiasarana Indonesia.
Sri Lestari. 2012. Psikologi Keluarga: Penanaman Nilai dan Penanganan Konflik dalam Keluarga.
Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Eva Ervika. 2006. Efektifitas Pelatihan Perilaku Keibuan Guna Memperbaiki Gangguan Kelekatan.
PSIKOLOGIA Journal. Vol. 2 No. 1: 1-6
Niken Widiastuti, Theresia Widjaya. 2004. Hubungan antara Kualitas Relasi Ayah dengan Harga Diri
Remaja Putra. Jurnal Psikologi. Vol.2. No. 1
Tesis:
Firdaus Sulistijawan. 2010. ABFT-Anxious Adolescent Implementasi Intervensi Gaya Pengasuhan
Keluarga MNH di Kelurahan Sekeloa Kecamatan Coblong Kota Bandung. Tesis. Bandung:
STKS
Sri Sulistiani. 2011. Efektifitas Attachment Based Family Therapy (ABFT) dalam Menangani Konflik
Siswa “ED” dengan Orang Tua di SMK Negeri 8 Semarang. Tesis. Bandung: STKS.
Widayatno. 2010. Efektifitas Attachment Based Family Therapy dalam Penanganan Permasalahan
Kekerasan terhadap Anak (Kasus Keluarga M) di Kampung 200 Kelurahan Dago Kecamatan
Coblong Kota Bandung. Tesis. Bandung: STKS.
Website:
http://www.walmyr.com/CAFSAMPL/pdf. Diunduh pada tanggal 9 Oktober 2012 pukul 20:29
http://www.walmyr.com/IPASAMPL/pdf. Diunduh pada tanggal 13 Januari 2012 pukul 06:19
http://www.iftandcs.org/Family Therapy/Handbook of Clinical Family Therapy.pdf. Diunduh pada
tanggal 19 Oktober 2012 pukul 22:26

28