Você está na página 1de 7

Perhitungan Biaya Satuan (Unit Cost) Berdasarkan Clinical Pathway

Bronkopneumonia Anak di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado


Periode Juli 2017- Juni 2018

1Giza E. E. Arikalang
2Edward Nangoy
2Christi D. Mambo

1
Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado
2
Bagian Farmakologi dan Terapi Fakultas Kedokteran Universitas SamRatulangi Manado
Email: gizaarikalang.21@gmail.com

Abstract: Calculation of unit cost could give some information to healthcare policy. Broncho-
pneumonia is a lung inflammation disease that occurs in around 30% of babies with high mortality
risk. This study was aimed to determine the general depiction of unit cost calculation for
bronchopneumonia among pediatric patients at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital according to
clinical pathway. This was an observational retrospective study. Samples were obtained by using
random sampling as many as 42 samples that fulfilled inclusion criteria. Processed data included
patients’ demography, treatment, and the average of direct cost calculation. The results showed that
the implemented therapy consisted of antibiotic, non-antibiotic, fluid therapy, ancillary laboratory
examination, radiology, and ancillary diagnostics. Total cost for drugs was Rp. 8,822,455;
laboratory Rp. 28,568,725; radiology Rp. 9,912,400; and ancillary diagnostic examination Rp.
7,110,000. Compared to the cost covered by BPJS, the hospital had some excess as follows: drug
unit Rp. 958,549, radiology Rp. 1,771,517, and ancillary diagnostic examination Rp. 581,852. For
ancillary laboratory examination in the hospital, there was a difference as much as Rp. 1,341,276
less than the the BPJS coverage. Conclusion: There was an excess difference within drug unit,
radiology, and ancillary examinations for pediatric bronchopneumonia, while laboratorium unit
possess lesser cost than BPJS.
Keywords: bronchopneumnonia, cost unit

Abstrak: Perhitungan biaya satuan merupakan salah satu informasi masukan dalam pembuatan
kebijakan pelayanan. Bronkopneumonia ialah penyakit radang paru yang terjadi pada sekitar 30%
anak balita dengan risiko kematian yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan
gambaran perhitungan biaya satuan pada pasien bronkopneumonia anak di RSUP Prof. Dr. R. D.
Kandou berdasarkan clinical pathway. Jenis penelitian ialah observasional retrospektif. Sampel
penelitian dikumpulkan dengan metode random sampling berjumlah 42 sampel yang memenuhi
kriteria inklusi. Data meliputi data demografi pasien, gambaran pengobatan, dan penghitungan rata-
rata biaya langsung. Hasil penelitian mendapatkan bahwa terapi yang digunakan ialah antibiotik,
non antibiotik, terapi cairan, serta penunjang laboratorium, radiologi, dan penunjang diagnostik.
Total biaya untuk obat Rp. 8.822.455, laboratorium Rp. 28.568.725, radiologi Rp. 9.912.400, dan
penunjang diagnostik Rp. 7.110.000. Bila dibandingkan dengan biaya tanggungan BPJS, rumah
sakit memiliki selisih lebih pada unit obat sebanyak Rp. 958.549, radiologi Rp. 1.771.517, dan
penunjang diagnostik Rp. 581.852. Untuk penunjang laboratorium, terdapat selisih kurang sebesar
Rp. 1.341.276. Simpulan: Pada pengobatan bronkopneumonia anak terdapat perbedaan selisih lebih
pada unit obat, radiologi, dan penunjang diagnostik, serta terdapat selisih kurang pada unit
laboratorium
Kata kunci: bronkopneumonia, perhitungan biaya satuan

7
8 Jurnal e-Biomedik (eBm), Volume 7, Nomor 1, Januari-Juni 2019

Bronkopneumonia adalah penyakit radang METODE PENELITIAN


paru-paru, mengenai satu atau beberapa lobi Jenis penelitian ini ialah observasional
paru, ditandai dengan adanya bercak-bercak retrospektif menggunakan data rekam
infiltrat. Bakteri, virus, parasit, dan jamur medik pasien dan clinical pathway di
merupakan etiologi dari bronkopneumonia. Instalasi Rekam Medis dan Bagian
Bronkopneumonia merupakan suatu mani- Keuangan RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou
festasi klinik dari pneumonia yang paling Manado.
umum terjadi di kalangan anak-anak. Populasi penelitian ialah semua pasien
Penyakit ini, termasuk penyakit infeksi bronkopneumonia anak yang di rawat di
dengan insiden kematian tertinggi di dunia. RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado dan
Tahun 2017, di Indonesia tercatat 447.431 memenuhi kriteria inklusi. Pengambilan
kasus anak bawah lima tahun menderita sampel menggunakan metode random
pneumonia dengan angka kematian men- sampling dan didapatkan sebanyak 42
capai 1.351 kasus.1-3 sampel. Data yang diambil ialah data
Pemerintah Indonesia menetapkan pro- sekunder dari data rekam medik dan data
gram Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) keuangan.
bagi seluruh warga Indonesia dalam upaya
kesejahteraan warga, diselenggarakan oleh HASIL DAN BAHASAN
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Karakteristik Pasien Bronkopneumonia
(BPJS) dengan jaminan kesehatan mengacu Berdasarkan karakteristik pasien bron-
pada kendali mutu dan kendali biaya.4 RSUP kopneumonia anak di RSUP Prof. Dr. R. D.
Prof. Dr. R. D. Kandou Manado, dalam Kandou Manado didapatkan jumlah kasus
rencana strategis bisnis periode tahun 2015- pasien berjenis kelamin laki-laki dan perem-
2019 menyebutkan bahwa terdapatnya puan memiliki perbandingan sama banyak
ketidaksesuaian tarif klaim BPJS dengan yaitu sebesar 50%. Hasil ini agak berbeda
unit cost yang menyebabkan terjadinya dengan penelitian oleh Kaunang et al8 yang
selisih biaya.5 menunjukkan bahwa pasien laki-laki lebih
Dalam bidang farmakologi, farmako- banyak dibandingkan perempuan. Pada
ekonomi merupakan salah satu cabang ilmu penelitian tersebut, karakteristik pasien
yang mempelajari pembiayaan pelayanan diambil berdasarkan metode total sampling
kesehatan. Pembiayaan ini, mencakup sedangkan pada penelitian ini digunakan
bagaimana mendapatkan terapi yang efektif, metode random sampling dengan perhitung-
menghemat pembiayaan, dan meningkatkan an sampel minimal. Kaunang et al8 juga
kualitas hidup pasien.6 mendapatkan frekuensi tertinggi pasien
Informasi tentang biaya satuan (unit bronkopneumonia terdapat pada kelompok
cost) merupakan salah satu infromasi usia 2 bulan sampai kurang dari 12 bulan
masukan dalam membuat kebijakan pela- sedangkan hasil penelitian ini menunjukkan
yanan. Menghitung biaya pengobatan, usia 2 sampai kurang dar 12 bulan dan usia
mencari informasi anggaran, pengendalian 12 bulan sampai kurang dari 24 bulan sama
biaya, penetapan harga yang berkaitan banyak yakni 35,7%. Faktor usia merupakan
dengan pengambilan keputusan merupakan salah satu faktor risiko terjadinya bronko-
tujuan analisis biaya satuan.7 pneumonia. Hal ini dijelaskan bahwa anak
Data tentang biaya satuan pada pelayan- di bawah usia 1 tahun memiliki saluran
an medis, khususnya terhadap pengobatan napas yang lebih sempit sehingga infeksi
pasien bronkopneumonia anak di RSUP saluran napas akan lebih mudah terjadi.9
Prof. Dr. R. D. Kandou sampai saat ini Menurut penelitian yang dilakukan oleh
belum ada. Penelitian ini bertujuan untuk Hartati et al,10 status gizi dan riwayat
melakukan perhitungan biaya satuan terha- pemberian ASI eksklusif juga berpengaruh
dap pengobatan bronkopneumonia anak. terhadap faktor usia.
Arikalang, Nangoy, Mambo: Perhitungan biaya satuan … 9

Gambaran Pengobatan Bronkopneu- pemberian obat dapat menggambarkan


monia keekonomisan biaya pengobatan. Antibiotik
Pengobatan pasien di RSUP Prof. Dr. R. yang paling sering digunakan ialah golong-
D. Kandou Manado berbeda untuk setiap an sefalosporin generasi ketiga meliputi
pasien. Data rekam medik pada kartu pem- sefiksim sirup 73,8%, sefotaksim injeksi
berian obat memperlihatkan bahwa masing- 23,8%, dan seftriakson sebanyak 11,9%.
masing pasien tidak sama dalam mendapat Penggunaan antibiotik sefalosporin generasi
pengobatan; hal ini dapat disebabkan oleh ketiga banyak digunakan karena antibiotik
adanya perbedaan respon tubuh terhadap ini memiliki spektrum luas yang dapat
obat. Pada penelitian ini didapatkan adanya digunakan untuk pengobatan bronkopneu-
perbedaan data pada rekam medik dan data monia yang belum diketahui penyebabnya.
keuangan. Perbedaan yang ditemukan ialah Sefalosporin generasi ketiga jauh lebih aktif
penggunaan obat yang tercatat pada rekam terhadap Enterobacteriaceae, termasuk
medik berbeda dengan catatan pada data strain penghasil penisilinase.13 Banyaknya
keuangan. Sebagai contoh: data rekam penggunaan sefiksim sirup berdasarkan data
medik mencatat bahwa pasien diberikan rekam medik yang dilihat pada ringkasan
ambroxol tetapi tidak tercatat pada data pulang, karena obat ini digunakan untuk
keuangan. Sebaliknya pemberian yang pengobatan pulang.
tercatat dalam data keuangan tidak tercatat Penggunaan antibiotik berdasarkan
pada data rekam medik. Berdasarkan hasil clinical pathway yang digunakan di RSUP
ini, diasumsikan bahwa perbedaan antara Prof. Dr. R. D. Kandou Manado untuk
data keuangan dan rekam medis dapat bronkopneumonia anak usia >2 bulan terba-
mengarah ke terjadinya kekeliruan dalam gi menjadi dua lini yaitu lini pertama meng-
pengelolaan biaya rumah sakit maupun gunakan ampisilin ditambah kloramfenikol
jaminan BPJS. jika tidak ada perubahan atau perbaikan
Pengobatan untuk pasien bronkopneu- tanda dan gejala sesuai panduan praktik
monia anak di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou klinis seperti suhu tubuh, laju pernapasan,
Manado terbagi atas obat antibiotik dan non- sesak, dan batuk. Untuk lini kedua diguna-
antibiotik. Antibiotik merupakan salah satu kan seftriakson. Hasil penelitian menunjuk-
pilihan terapi penyakit bronkopneumonia kan bahwa, dari 42 kasus penderita bronko-
karena sebagian besar disebabkan oleh pneumonia anak, terdapat 18 kasus meng-
bakteri.11 Antibiotik dapat menghambat gunakan antibiotik gabungan ampisilin dan
maupun membunuh penyebab penyakit, kloramfenikol, sedangkan untuk pengguna-
dengan lima mekanisme kerja, yaitu: an antibiotik lini dua berdasarkan clinical
mengganggu metabolisme sel mikroba, pathway ialah sebanyak 5 kasus, 15 kasus
menghambat sintesis dinding sel mikroba, menggunakan gentamisin, juga penggunaan
mengganggu permeabilitas membran sel sulfonamid, nistatin, dan isoniazid masing-
mikroba, menghambat sintesis protein sel masing pada 1 kasus. Untuk terapi antibiotik
mikroba, dan menghambat sintesis atau dari 18 kasus yang diberikan terapi lini
merusak asam nukleat sel mikroba.12 pertama, 11 kasus diberikan pula antibiotik
Hasil penelitian mendapatkan bahwa sefiksim untuk pengobatan pulang, 3 kasus
antibiotik yang digunakan untuk pasien dengan antibitotik lainnya yaitu nistatin,
bronkopneumonia anak selama di rawat inap izoniasid, gentamisin, dan sefotaksim.
di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou ialah Jumlah kasus dengan pengobatan lini
golongan sefalosporin generasi ketiga yaitu pertama sesuai clinical pathway tanpa
sefiksim per oral, sefotaksim intravena, varian pengobatan antibiotik lain ialah 4
seftriakson intravena, golongan penisilin kasus. Penggabungan antibiotik bertujuan
intravena, golongan aminoglikosid intra- untuk meningkatkan aktivitas antibiotik.13
vena dan salep kulit, kloramfenikol Pemberian langsung kombinasi ampisilin
intravena, sulfonamide per oral, isoniazid dan kloramfenikol pada pasien dengan
per oral, dan nistatin per oral. Cara keadaan klinis yang memberat.14
10 Jurnal e-Biomedik (eBm), Volume 7, Nomor 1, Januari-Juni 2019

Untuk 15 kasus (35,7%) penderita Penelitian yang dilakukan Ardayati et al16


bronkopneumonia digunakan gentamisin tentang pengaruh steroid terhadap lama
sebagai terapi antibiotik; penggunaan genta- perawatan pasien menunjukkan bahwa
misin pada penelitian ini ialah sebagai terapi pasien yang diberikan tambahan terapi
empiris. Gentamisin diindikasikan untuk steroid tidak memiliki perbedaan bermakna
infeksi karena kuman Gram-negatif yang terhadap nilai length of stay (lama hari
sensitif dan dapat menyebabkan pneumo- rawat) dibandingkan yang tidak mendapat-
nia.12 Sulfonamid merupakan antibiotik kan terapi steroid.
yang menghambat metabolisme sel mikroba
atau bersifat bakteriostatik berspektrum Gambaran Biaya Pengobatan
luas. Golongan sulfonamid yang digunakan Biaya satuan ialah biaya yang dihitung
ialah sulfadoksin yaitu golongan sulfonamid untuk setiap satu-satuan produk yang diper-
dengan masa kerja yang panjang (absorbsi oleh dari total biaya dibagi dengan jumlah
cepat, eksresi lambat).12 produk (obat, laboratorium, radiologi, diag-
Isoniasid merupakan antibiotik yang nostik elektromedik). Perhitungan untuk
bersifat tuberkulostatik dan tuberkulosid biaya satuan per jenis obat sefiksim sirup
dan merupakan lini pertama dalam pengo- dari 31 kasus, jumlah pemakaian ialah
batan dan pencegahan.12 Pada penelitian, sebanyak 38 sirup dengan total harga Rp.
pasien yang diberikan isoniazid berdasarkan 950.683 maka untuk biaya satuannya ialah
data rekam medik tidak menunjukkan bukti Rp. 950.683 dibagi 38 mendapatkan hasil
tuberkulosis dan tidak diperiksa khusus untuk biaya satuan obat sefiksim sirup Rp.
untuk pemeriksaan tuberkulosis, sehingga 25.017, selanjutnya obat sefotaksim injeksi
pemilihan isoniazid diberikan tunggal untuk dari 10 kasus jumlah obat yang dipakai 79
pencegahan. Nistatin atau antibiotik anti- vial dengan biaya total Rp. 682.732
jamur juga tercatat dalam penggunaan sehingga didapatkan biaya satuan Rp. 8.642.
antibiotik pada penelitian ini. Nistatin Gentamisin injeksi dari 15 kasus dengan
merupakan suatu terapi profilaksis alternatif jumlah penggunaan 67 ampul maka
yang tidak menimbulkan efek samping didapatkan hasil Rp. 324.222 dibagi 67 ialah
sistemik seperti gangguan hati, digunakan Rp. 4.839. Kloramfenikol injeksi mendapat
untuk mencegah terjadinya kolonisasi dari biaya satuan Rp. 14.045, seftriakson injeksi
jamur pada bronkopneumonia yang disebab- Rp. 18.304, ampisilin injeksi Rp. 12.478.
kan oleh jamur seperti candida spp dan Besarnya biaya ditentukan berdasarkan jenis
aspergilus.12 obat yang digunakan. Berdasarkan hasil
Obat non-antibiotik biasanya diberikan penelitian, pada pengobatan bronkopneu-
sebagai terapi suportif atau simptomatik monia banyak digunakan obat bentuk
yang bertujuan untuk mengurangi gejala injeksi. Pemberian dalam bentuk injeksi
atau keluhan pasien. Dari hasil penelitian, diindikasikan untuk pasien yang tidak
obat non-antibiotik terbanyak digunakan adekuat dalam menerima obat tablet. Bentuk
ialah obat analgetik-antipiretik yang injeksi lebih mahal dibandingkan tablet
bertujuan untuk meredakan demam sehing- karena besarnya biaya produksi, sehingga
ga suhu tubuh pasien dapat turun dengan biaya yang digunakan lebih besar.
pemberian parasetamol. Adanya pemberian Biaya obat, biaya penunjang laborato-
analgetik-antipiretik oleh karena hampir rium, biaya penunjang radiologi, dan biaya
semua pasien bronkopneumonia memiliki penunjang elektromedik ialah biaya medis
gejala demam.11 langsung yang dihitung pada penelitian ini.
Berdasarkan clinical pathway, pasien Data rekam medik didapat dari Instalasi
bronkopneumonia juga diberikan terapi Rekam Medik, dan data keuangan dari
dengan kortikosteroid yang memiliki aktifi- Bagian Kefarmasian rumah sakit. Biaya
tas sebagai penghambat inflamasi yang total obat atau jumlah biaya obat dari
menekan ekspresi sitokin proinflamasi dan seluruh macam obat, berdasarkan data
berpotensi mencegah respon inflamasi.15 keuangan obat antibiotik Rp. 5.582.975,
Arikalang, Nangoy, Mambo: Perhitungan biaya satuan … 11

biaya total obat non-antibiotik Rp. berbeda-beda hal ini disebabkan oleh jumlah
1.210.668, dan biaya total terapi cairan Rp. penggunaan obat yang berbeda pada setiap
2.028.812, sehingga jumlah keseluruhan pasien. Biaya per pasien tertinggi pada
biaya obat ialah biaya total antibiotik pasien dengan lama rawat 11 hari Rp.
ditambah biaya total non antibiotik dan 4.935.131. Tingginya biaya pada pasien
biaya total terapi cairan sebanyak Rp. dengan 11 hari rawat disebabkan oleh
8.822.455, bila dibandingkan dengan biaya banyaknya biaya pemeriksaan penunjang
total klaim BPJS Rp. 9.781.004, terdapat laboratorium yang mencapai biaya Rp.
selisih lebih bagi rumah sakit yaitu sebanyak 4.050.000. Banyaknya biaya pemeriksaan
Rp. 958.549. Biaya penunjang laboratorium penunjang laboratorium oleh karena tinggi-
ialah Rp. 28.569.725 bila dibandingkan nya harga yang ditetapkan pada biaya per
dengan biaya klaim BPJS Rp. 27.218.449, satuan jenis pemeriksaan laboratorium, bila
rumah sakit memiliki selisih kurang dibandingkan dengan penghitungan biaya
sebanyak Rp. 1.351.276, sedangkan untuk per jenis pemeriksaan CRP ialah Rp.
penunjang radiologi dan penunjang diagnos- 128.188 tetapi untuk tagihan pada pasien
tik elektromedik masing-masing memiliki dengan 11 hari rawat inap untuk pemerik-
selisih lebih Rp. 1.886.817 dan Rp. 581.852. saan CRP Rp. 327.600. Demikian pula
Pengeluaran biaya terbesar untuk dengan pemeriksaan laboratorium lain yang
pengobatan ialah pada unit laboratorium, digunakan oleh pasien ini seperti darah rutin
sedangkan pengeluaran biaya terendah pada pada penghitungan biaya satuan per jenis
unit penunjang diagnostik. Pemeriksaan pemeriksaan Rp. 59.389 tetapi untuk pasien
penunjang digunakan untuk menunjang ini biaya untuk sekali pemeriksaan darah
diagnosis suatu penyakit. Pemeriksaan rutin Rp. 134.400. Selain adanya pening-
radiologi bronkopneumonia dibutuhkan katan biaya dari harga satuan, menurut
untuk melihat ada tidaknya bercak infiltrat peneliti ini disebabkan oleh banyaknya
pada kedua lapang paru sedangkan penun- varian jenis pemeriksaan laboratorium yang
jang diagnostik elektromedik seperti tes digunakan. Indikasi banyaknya varian
kulit hipersensivitas dan obat untuk mencari pemeriksaan ini dapat diketahui bila ada
jika terdapat reaksi alergi. Pada pemeriksaan wawancara langsung dengan petugas yang
laboratorium berdasarkan clinical pathway bersangkutan.
penelitian ini terdapat varian pemeriksaan, Dari hasil penelitian untuk unit obat
yang juga dapat meningkatkan biaya tagihan ditemukan bahwa terdapat 4 kasus mirip
rumah sakit terhadap pasien. Indikasi dengan clinical pathway yaitu penggunaan
adanya pemeriksaan varian pada penelitian antibiotik lini pertama (kombinasi ampisilin
ini belum dapat ditentukan oleh peneliti dan kloramfenikol), pemberian analgetik-
karena butuh wawancara mendalam dengan antipiretik, dan lain-lain yang mencakup
petugas yang bersangkutan. pemberian terapi cairan, mukolitik, dan
Lama hari rawat setiap pasien berdasar- bronkodilator. Untuk perhitungan biaya
kan hasil penelitian ini berbeda-beda, satuan unit obat pada 4 kasus ini berdasar-
sehingga peneliti menghitung biaya per kan rumus biaya total dibagi jumlah produk/
pasien berdasarkan lama hari rawat. jasa maka perhitungannya Rp. 940.081 bagi
Perhitungan dimulai dengan mengelom- 4 biaya satuan obat Rp. 235.020
pokkan pasien berdasarkan lama hari Menurut peneliti, dengan melihat biaya
rawatnya, kemudian menghitung biaya satuan perjenis obat maupun penunjang
satuan per unit (obat, penunjang labora- dapat menghitung kisaran harga berdasar-
torium, penunjang diagnostik elektromedik, kan clinical pathway yang ada. Pada hari
penunjang radiologi) dengan cara jumlah pertama dari clinical pathway disarankan
seluruh biaya per unit dibagi dengan jumlah untuk melakukan pemeriksaan penunjang
pasien. Setelah mendapat biaya satuan per radiologi dan laboratorium yang mencakup
unit, ditotalkan jumlah seluruh unit. Hasil pemeriksaan darah rutin, analisis gas darah,
penelitian menunjukkan biaya per hari rawat C-reaktif protein (CRP), gula darah sewaktu
12 Jurnal e-Biomedik (eBm), Volume 7, Nomor 1, Januari-Juni 2019

(GDS), kultur darah, dan pemeriksaan laju Banyaknya biaya laboratorium meng-
endap darah, serta pengobatan yang akibatkan peningkatan jumlah biaya, yang
disarankan untuk usia >2 bulan antibiotik bila dilihat dari clinical pathway tidak
lini satu atau lini dua, kortikosteroid, semua pemeriksaan laboratorium harus
antipiretik-analgetik, dan terapi lainnya. diberikan.
Berdasarkan biaya satuan pemeriksaan Total biaya satuan rata-rata per pasien
laboratorium yang ada dan sesuai dengan ialah Rp. 1.480.631. Tingginya biaya rawat
clinical pathway ialah pemeriksaan CRP, pada 11 hari rawat disebabkan banyaknya
darah rutin, dan GDS. Dari data biaya satuan pemeriksaan laboratorium dan tingginya
yang ada, dapat ditarik harga untuk biaya satuan per jenis pemeriksaan yang
pemeriksaan radiologi Rp. 241.765, peme- ditagih untuk pasien dengan 11 hari rawat.
riksaan laboratorium CRP Rp. 128.188, Bila dibandingkan dengan klaim BPJS,
darah rutin Rp. 59.389, dan GDS Rp. maka untuk biaya total per satuan unit
41.575, sehingga jumlah pemeriksaan terdapat selisih lebih pada unit obat, radio-
penunjang Rp. 470.917 yang bila diban- logi, dan penunjang diagnostik, sedangkan
dingkan biaya satuan laboratorium pada 42 untuk penunjang laboratorium terdapat
kasus yang ada Rp. 732.557 maka dapat selisih kurang. Untuk per hari rawat pasien,
menghemat biaya Rp. 261.640. pada hari rawat 2, 3, dan 4 terdapat selisih
Begitu juga dengan penggunaan obat lebih, sedangkan untuk hari rawat 5 hari, 6
berdasarkan clinical pathway tanpa melihat hari, 7 hari, dan 11 hari terdapat selisih
terapi lain-lain, bila dihitung berdasarkan kurang.
biaya satuan per jenis obat, maka untuk
ampisilin injeksi Rp. 12.478, kloramfenikol SARAN
injeksi Rp. 14.045, seftriakson injeksi Rp. Disarankan untuk penelitian lanjutan
18.304, analgetik-antipiretik (parasetamol agar dapat memberikan lebih banyak ma-
sirup) Rp. 4.663, dan kortikosteroid (deksa- sukan ke rumah sakit dalam proses evaluasi
metason) Rp. 2.188. Untuk pasien dengan upaya perbaikan kebijakan pelayanan.
pengobatan lini satu ampisilin tunggal maka Penelitian yang dilakukan hanya meng-
biaya ialah Rp. 19.259, pasien pengobatan gunakan penghitungan biaya satuan pada
lini satu kombinasi ampisilin dengan biaya medis langsung. Perlu pengembangan
kloramfenikol Rp. 33.304, dan untuk pasien penelitian dengan menghitung biaya tidak
pengobatan lini dua seftriakson Rp. 25.155. langsung untuk menggunakan metode-
Biaya yang dihitung ialah biaya taksiran metode dalam studi farmakoekonomi.
menurut peneliti berdasarkan clinical Tidak adanya wawancara mendalam
pathway dan biaya satuan per jenis. Biaya dengan petugas yang bersangkutan membuat
dapat bertambah tergantung jenis obat dan peneliti tidak dapat menentukan indikasi
berapa banyak obat yang digunakan serta pemeriksaan varian pada pemeriksaan
jenis pemeriksaan penunjang yang dibutuh- penun-jang, sehingga disarankan untuk
kan dilihat dari keadaan klinis pasien. Obat penelitian selanjutnya agar peneliti dapat
yang digunakan untuk setiap pasien dapat mewawancarai petugas yang bersangkutan.
berbeda-beda oleh sebab adanya keragaman Untuk perbedaan data antara data
respon tubuh terhadap pengobatan. keuangan dan data rekam medik, diharapkan
dapat menjadi bahan evaluasi bersama agar
SIMPULAN pada penelitian selanjutnya data yang
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat dipakai tidak terdapat perbedaan dan
disimpulkan bahwa perbedaan biaya obat perhitungan biaya menjadi lebih baik.
bergantung jenis obat yang diberikan. Dari
perhitungan biaya ini, data yang dihitung DAFTAR PUSTAKA
ialah dari data keuangan, namun terdapat 1. Behrman RE, Kliegman R, Arvin AM.
beberapa perbedaan data penggunaan obat Pneumonia. Charles G, penyunting.
antara data rekam medis dan data keuangan. Nelson Ilmu Kesehatan Anak Vol. 2
Arikalang, Nangoy, Mambo: Perhitungan biaya satuan … 13

(15th ed). Jakarta: EGC, 2000; p. 883-9. faktor risiko dan karakteristik gejala
2. Fadhila A. Penegakan diagnosis dan penata- klinis dengan kejadian pneumonia pada
laksanaan bronkopneumonia pada balita. Global Medical and Health
pasien bayi laki-laki berusia 6 bulan. Communica-tion. 2016;4(1).
Medula. 2013;1(2):1-10. 10. Hartati S, Nurhaeni N, Gayatri D. Faktor
3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. risiko terjadinya pneumonia pada anak
Data dan informasi profil kesehatan balita. Jurnal Keperawatan Indonesia.
Indonesia 2017. 2018 [cited 2018 Dec 2012;15(1):13-20.
11]. Available from: http://www. 11. Utsman P. Evaluasi penggunaan antibiotic
depkes.go.id/resources/download/ pada balita penderita pneumonia rawat
pusdatin/profil-kesehatan-indonesia/ inap di RSUD Tidar kota Magelang
Data-dan-Informasi_Profil-Kesehatan- tahun 2016. [Skripsi]. Surakarta: Uni-
Indonesia-2017.pdf versitas Muhammadiyah Surakarta;
4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2017.
Buku Pegangan Sosialisasi Jaminan 12. Departemen Farmakologi dan Terapeutik
Kesehatan Nasional dalam Sistem Fakultas Kedokteran Universitas Indo-
Jaminan Sosial Nasional. 2013. [cited nesia. Farmakologi dan Terapi (5th ed).
2018 Sept 24]. Available from: Jakarta: FKUI, 2012.
http://www.depkes.go.id/resources/ 13. Yanti YE. Rasionalitas penggunaan anti-
download/jkn/buku-pegangan- biotika pada pasien rawat inap balita
sosialisasi-jkn.pdf penderita pneumonia dengan pende-
5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia katan metode gyssens di RSUD Sultan
Direktorat Jenderal Bina Upaya Kese- Syarif Mohamad Alkadrie Pontianak
hatan. Rencana strategis bisnis tahun [Skripsi]. Pontianak: Universitas
2015-2019 RSUP Prof. Dr. R. D. Tanjungpura; 2016.
Kandou Manado revisi III. 2016. [cited 14. World Health Organization. Buku Saku
2018 Sept 19]. Available from: Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah
https://www.rsupkandou.com/assets/ Sakit. 2008. [cited 2018 Dec 12].
doc/renstra2016.pdf Available from: http://www.searo.who.
6. Hidhayanto W. Analisis biaya satuan (unit int/indonesia/documents/97897919477
cost) pelayanan rumah sakit: pentingnya 01-buku-saku-kesehatan-anak-
“unit cost”, teori biaya, teknik indonesia.pdf?ua=1
perhitungan, serta kemanfaatannya bagi 15. Confalonieri M. Kodric M. Santagiuliana
rumah sakit. 2009. p. 1-39. Available M. Longo C. Biolo M. Cifaldi R. et al.
form: https://kupdf.net/.../ perhitungan- To use or not use corticosteroids for
unit-cost-ruah-sakit_5a3a1c08e2. pneumonia? A clinician’s perspective.
7. Rascati KL. Essentials of Pharmacoeconomic Monaldi Arch Chest Die. 2012;77(2):
(2nd ed). Philadelphia: Wolters Kluwer, 94-101.
2014; p. 1-8. 16. Ardayati S, Kurniawan NU, Darmawan E.
8. Kaunang CT, Runtunuwu AL, Wahani Pengaruh pemberian steroid sebagai
AMI. Gambaran karakteristik terapi tambahan terhadap rata-rata lama
pneumonia pada anak yang dirawat di pasien dirawat di rumah sakit dan tanda
ruang perawatan intensif anak RSUP klinis pada anak dengan pneumonia.
Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Jurnal Farmasi Klinik Indonesia.
2013-2015. eCl. 2016;4(2). 2017;6(3):181-9.
9. Garina LA, Putri SF, Yuniarti. Hubungan