Você está na página 1de 8

ARTIKELPENELITIAN

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemberian ASI Eksklusif di


Puskesmas Simalingkar Medan
Santika Sihombing1, Maestro Bina Utama Simanjuntak2, Alexander P Marpaung3
ABSTRACT
Background:Exclusive breastfeeding is only to give breast milk without giving food and
drinks other than breast milk including water during breastfeeding (except medicines and
vitamin or mineral drops) from the time the baby is born until the age of 6 months. The
Coverage of breastfeeding in Indonesia in 2018 amounted to 73.06%. This figure has not yet
reached the target set by the government at 80%. So it’s necessary to study the factors that
cause the low coverage of exclusive breastfeeding.
Method:The type of research is an observational analytic method with cross sectional
design. Data were analyzed by using multiple logistic regression tests with a sample of 80
women who had 6-11 month-old infants. This study aims to determine the relationship
between the types of childbirth, the role of health workers, sources of information,
educational status, employment status with the factors that affect exclusive breastfeeding in
Simalingkar Health Center, Medan.
Results:The results showed that there was a relationship between the types of childbirth (p =
<0.001) with exclusive breastfeeding, there was a relationship between the role of health
1
Program Studi Pendidikan Dokter, workers with exclusive breastfeeding (p = <0.001), there was no relationship between the
Fakultas Kedokteran source of information with exclusive breastfeeding (p = 0,293), there is no relationship
Universitas Methodist Indonesia, between educational status and exclusive breastfeeding (p = 0.468), and there is a
2
Departemen Ilmu Kesehatan
relationship between employment status and exclusive breastfeeding (p = 0.001).
Masyarakat & Kedokteran
Komunitas, Conclusion: Based on this study it can be concluded that there is a relationship between the
Fakultas Kedokteran type of delivery, the role of health workers, employment status to exclusive breastfeeding.
Universitas MethodistIndonesia Keywords:Exclusive breastfeeding, the role of health workers
3
Departemen Ilmu Kesehatan
Tropis Fakultas Kedokteran ABSTRAK
Universitas MethodistIndonesia Latar Belakang: Pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif adalah hanya memberikan
ASI saja tanpa memberikan makanan dan minuman selain ASI termasuk air putih selama
menyusui (kecuali obat-obatan dan vitamin atau mineral tetes) yaitu sejak bayi lahir hingga
berumur 6 bulan. Cakupan pemberian ASI di Indonesia tahun 2018 sebesar 73,06%. Angka
Korespondesi:
santika076@gmail.com
ini belum mencapai target yang telah ditetapkan oleh pemerintah yaitu 80%. Sehingga perlu
pengkajian mengenai faktor-faktor apa saja yang menyebabkan rendahnya cakupan ASI
Eksklusif.
Metode:Jenis penelitian yang digunakan adalah metode observasional analitik dengan desain
cross sectional. Analisa data dengan chi-square dengan jumlah sampel 80 orang ibu yang
mempunyai bayi 6-11 bulan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara
jenis persalinan, peran tenaga kesehatan, sumber informasi, status pendidikan, status
perkerjaan dengan faktor- faktor yang mempengauhi ASI Eksklusif di Puskesmas
Simalingkar Medan.
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara jenis persalinan
(p=<0,001) dengan pemberian ASI Eksklusif, ada hubungan antara peran tenaga kesehatan
dengan pemberian ASI Eksklusif (p=<0,001), tidak ada hubungan antara sumber informasi
dengan pemberian ASI Eksklusif (p = 0,293), tidak ada hubungan antara status pendidikan
dengan pemberian ASI Eksklusif (p = 0,468), dan ada hubungan antara status pekerjaan
dengan pemberian ASI Eksklusif (p = 0,001).
Kesimpulan: Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara
jenis persalinan, peran tenaga kesehatan, status pekerjaan terhadap pemberian ASI Eksklusif.
Kata kunci : Pemberian ASI Eksklusif, Peran tenaga kesehatan

235
Jurnal Kedokteran Methodist, Vol. 11 No. 2 Desember 2018, Sup 1
http://ojs.lppmmethodistmedan.net

PENDAHULUAN kekuatan korelasi yang kuat. Berdasarkan dari data di atas


menunjukkan bahwa hipotesis dapat diterima karena telah
Menurut World Health Organization (WHO) terbukti bahwa adanya analisis yang menunjukkan
pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif adalah hubungan yang bermakna antara pendidikan dengan sikap
hanya memberikan ASI saja tanpa memberikan makanan pemberian ASI eksklusif.8
dan minuman selain ASI termasuk air putih selama Dalam penelitian Chettri, S (2018) mengatakan faktor-
menyusui (kecuali obat-obatan dan vitamin atau mineral faktor secara signifikan dalam pemberian ASI eksklusif
tetes) yaitu sejak bayi lahir hingga berumur 6 bulan. seperti tingkat pendidikan ibu, tingkat pendidikan suami,
Setelah 6 bulan bayi dapat dikenalkan makanan dan pekerjaan suami. Prevalensi ibu yang memberi ASI
pendamping ASI dan dianjurkan pemberian ASI eksklusif pada ibu yang bekerja sangat rendah. Hal ini
dilanjutkan hingga dua tahun atau lebih.1 diperoleh bahwa hanya 24 (17,5%) dari 137 ibu yang
Berdasarkan data United Nations Internasional bekerja sesuai dengan pedoman WHO. Sekitar 51% dari
Childrens Emergency Fund (UNICEF), sebanyak 136,7 mereka menghubungkan awal untuk bekerja sebagai
juta bayi lahir diseluruh dunia dan hanya 32,6% dari penghalang utama bagi pemberian ASI eksklusif. Alasan
mereka yang disusui secara eksklusif dalam 6 bulan lain yaitu sekresi ASI yang tidak memadai, penambahan
pertama. Bayi yang tidak diberi ASI Eksklusif di negara berat badan bayi yang buruk meskipun menyusui dan jarak
industri lebih besar meninggal dari pada bayi yang diberi jauh dari rumah ke tempat kerja.9
ASI Eksklusif, sementara di negara berkembang hanya Dalam penelitian Widdefrita dan Mohanis (2013)
39% ibu-ibu yang memberikan ASI Eksklusif.2 bahwa ada hubungan antara peran petugas kesehatan
Cakupan pemberian ASI di Indonesia tahun 2018 dengan pemberian ASI eksklusif. Berdasarkan kenyataan
masih belum mencapai target yang telah ditetapkan oleh yang didapatkan dilapangan, bahwa dari 52 responden
pemerintah. Data dari Direktorat Jenderal Kesehatan sebagian besar dengan kategori peran petugas kesehatan
Masyarakat menunjukkan bayi yang mendapatkan ASI rendah yaifu 57,7%. Kecenderungan ini terjadi karena
eksklusif di Indonesia adalah 73,06% .3 petugas kesehatan dalam memainkan peran dengan baik,
Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) sesuai dengan pengharapan klien. Dimana saat melakukan
Indonesia pada tahun 2007-2013 terjadinya fluktuasi pelayanan kesehatan petugas belum mampu melakukan
prevalensi pemberian ASI eksklusif dari 32% menurun komunikasi persuasif yang baik dalam pemberian ASI
ke 15,3% dan di tahun 2013 meningkat pada angka eksklusif. Ini terlihat dari jawaban yang dikemukan
30,2%.4 responden mengenai pertanyaan dorongan petugas
Menurut Kementrian Kesehatan Republik Indonesia kesehatan, dimana sebagian besar responden menjawab
(Kemenkes RI) 2018, dilaporkan bayi yang mendapat tidak pemah. Sehingga responden memiliki informasi yang
ASI eksklusif umur 0-6 bulan berdasarkan propinsi 2017 kurang mengenai pemberian ASl eksklusif.10
tertinggi yaitu Sumatera Selatan 48,08%, DKI Jakarta Abdullah dan Ayubi (2012) mengatakan sekitar 83,6%
46,60% dan Nusa Tenggara Timur 43,14%. Sedangkan responden yang banyak terpapar informasi tentang ASI
yang terendah adalah Sumatera Utara 10,73%, Gorontalo eksklusif mempunyai pengetahuan yang baik tentang
12,70% .5 pemberian ASI eksklusif. Dalam penelitian ini, sumber
Data dari Profil Kesehatan Sumatera Utara tahun informasi terbanyak didapat dari internet, buku, dan media
2017 mengalami penunuruan. Cakupan persentase bayi massa. Majalah merupakan media sumber informasi yang
yang diberi ASI Eksklusif dari tahun 2011-2015 paling banyak diakses ibu pekerja. Dengan demikian,
cenderung menunjukkan peningkatan, dan cakupan pada promosi ASI eksklusif pada kelompok ibu pekerja akan
tahun 2015 mengalami peningkatan yang cukup lebih efektif disampaikan melalui majalah dibanding media
signifikan sebesar10% dibandingkan tahun 2014 dan massa lainnya.11
telah mencapai target nasional yaitu 40%. Namun di Penelitian yang dilakukan oleh Hasiana (2015)
tahun 2016 terjadi penurunan yang tajam dibanding menggunakan desain analitik observasional dengan
tahun 2015 dan tidak mencapai target nasional. Terdapat rancangan penelitian cross sectional menemukan bahwa
tiga daerah dengan pencapain <15% yaitu kota Medan dari 23 subjek yang bersalin melalui sectio caesarea, 13
(6,7%) dan Tebing Tinggi (7,4%), Nias Utara (11,5%).6 subjek tidak berhasil ASI eksklusif, dan dari 88 subjek
Beberapa faktor yang menyebabkan bayi tidak yang bersalin normal, 14 subjek tidak berhasil ASI
diberikan ASI dengan baik.Faktor tersebut adalah faktor eksklusif. Hasil analisis dengan chi-square didapatkan
karakteristik ibu, faktor bayi, lingkungan, dukungan bahwa sectio caesarea menurunkan keberhasilan ASI
keluarga, pendidikan kesehatan, sosial ekonomi dan eksklusif secara sangat signifikan (p < 0,001) dan odds
budaya. 7 ratio 6,871 kali lebih besar kemungkinan gagal. Sectio
Menurut penelitian Widiyanto (2012) hubungan caesarea menurunkan keberhasilan ASI eksklusif.12
pendidikan dengan sikap pemberian ASI Eksklusif. Berdasarkan latar belakang diatas, maka peneliti tertarik
Berdasarkan hasil Uji Korelasi Rank Spearman maka untuk mengetahui tentang faktor-faktor yang
diperoleh nilai sig= 0,000 yang menunjukkan bahwa mempengaruhi ASI eksklusif untuk mencapai target
korelasi antara pendidikan dengan sikap adalah pemerintah dan kesehatan di Indonesia.
bermakna. Nilai koefisien Korelasi Rank Spearman METODE
0,691 menunjukkan bahwa korelasi positif dengan
236
Jurnal Kedokteran Methodist, Vol. 11 No. 2 Desember 2018, Sup 1
http://ojs.lppmmethodistmedan.net

Dalam penelitian ini, metode penelitian yang Tabel 6 Distribusi Frekuensi Pemberian ASI Eksklusif di Puskesmas
Simalingkar Medan
digunakan adalah observasional analitik dengan
pendekatan cross-sectional. No Pemberian ASI Eksklusif Frekuensi %
Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu 1 Caesar 48 60.0
yang memiliki bayi usia 6-11 bulan di Puskesmas 2 Normal 32 40.0
Simalingkar Medan yaitu 100 orang. Berdasarkan Total 80 100,0
rumus proporsi binomunaldan kriteria inklusi pada Tabel 6 menunjukkan bahwa pemberian ASI Eksklusif
penelitian ini kriteria inklusi didapat sebanyak 80 pada bayi mayoritas tidak diberi ASI Eksklusif sebanyak
sampel. 48 orang (60%).

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Bivariat


Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh dari data Tabel 7Pengaruh Jenis Persalinan DenganPemberian ASI
wawancara di Puskesmas Simalingkar Medan Eksklusif Pada Bayi
Hasil Univariat Pemberian ASI
Eksklusif Pada Bayi
Tabel 1 Distribusi Frekuensi Jenis Persalinan Responden Di Puskesmas Tidak
Total
Simalingkar Medan diberi Diberi p
Jenis Persalinan
No Jenis Persalinan Frekuensi % ASI ASI value
1 Caesar 50 62.5 Eksklusif Eksklusif
2 Normal 30 37.5 N % n % n %
Total 80 100,0 Caesar 10
38 76 12 24 50
Tabel 1 menunjukkan bahwa jenis persalinan responden 0
Normal 66, 10 <0,00
mayoritas caesar sebanyak 50 orang (62,5%). 10 33,3 20
7
30
0 1
10
Tabel 2 Distribusi Frekuensi Peran Tenaga Kesehatan Di Puskesmas Total 48 60 32 40 80
0
Simalingkar Medan
No Peran Tenaga Kesehatan Frekuensi % Tabel 7 menunjukkan bahwa dari 50 orang responden
1 Tidak mendukung 42 52.5 dengan jenis persalinan caesar terdapat sebanyak 38 orang
2 Mendukung 38 47.5 (76%) bayi yang tidak diberi ASI Eksklusif dan 12 orang
Total 80 100.0 (24%) bayi yang diberi ASI Eksklusif. Dari 30 orang
Tabel 2 menunjukkan bahwa peran tenaga kesehatan responden dengan jenis persalinan normal terdapat
mayoritas tidak mendukung sebanyak 42 orang (52,5%). sebanyak 10 orang (33,3%) bayi yang tidak diberi ASI
Tabel 3 Distribusi Frekuensi Sumber Informasi di Puskesmas
Eksklusif dan 20 orang (66,7%) bayi yang diberi ASI
Simalingkar Medan Eksklusif. Hasil uji statistik diperoleh nilai p=<0,001
No Sumber Informasi Frekuensi % artinya bahwa ada pengaruh jenis persalinan dengan
1 Tidak ada 13 16.2 pemberian ASI Eksklusif pada bayi.
2 Ada 67 83.8 Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Warsini
Total 80 100.0
(2015) bahwa ada hubungan bermakna antara jenis
Tabel 3 menunjukkan bahwa sumber informasi
persalinan dengan keberhasilan pemberian ASI Eksklusif.
mayoritas ada sebanyak 67 orang (83,8%).
Bahwa responden dengan jenis persalinan pervagina
Tabel 4 Distribusi Frekuensi Pendidikan Responden di Puskesmas mempunyai kemungkinan 2,53 kali untuk bisa berhasil
Simalingkar Medan memberikan ASI Eksklusif kepada bayi mereka
No Pendidikan Frekuensi % dibandingkan dengan jenis persalinan dengan operasi
1 Rendah (SD, SMP) 17 21.2 seksio sesarea.13
2 Tinggi (SMA/D3/S1) 63 78.8
Menurut Hasiana (2015), rendahnya pelaksanaan
Total 80 100.0 inisiasi menyusui dini pada persalinan caesar terjadi karena
Tabel 4 menunjukkan bahwa pendidikan responden berbagai faktor yaitu adanya pemisahan ibu dan bayi,
mayoritas tinggi sebanyak 63 orang (78,8%). ketidaknyamanan dan nyeri setelah operasi, ibu sering
mengeluh kelelahan sehingga membutuhkan waktu lebih
Tabel 5 Distribusi Frekuensi Pekerjaan Responden di Puskesmas ekstra untuk memulihkan diri sebelum mampu untuk
Simalingkar Medan
No Pekerjaan Frekuensi %
menggendong dan menyusui bayinya. Ketidaknyamanan,
nyeri dan kelelahan merupakan kondisi psikis setelah
1 Tidak bekerja 38 47.5
2 Bekerja 42 52.5
persalinan. Produksi ASI sangat dipengaruhi oleh kondisi
Total 80 100.0
psikis tersebut sehingga ibu akhirnya tidak berhasil
menyusui dengan baik. Penelitian di Swedia menemukan
Tabel 5 menunjukkan bahwa mayoritas responden pada hari kedua setelah persalinan caesar, kadar prolaktin
bekerja sebanyak 42 orang (52,5%). dan oksitosin di dalam darah menurun.12

237
Jurnal Kedokteran Methodist, Vol. 11 No. 2 Desember 2018, Sup 1
http://ojs.lppmmethodistmedan.net

Pemberian ASI
Ekslusif Pada Bayi
Tidak
Tabel 8 Pengaruh Peran Tenaga Kesehatan Dengan Sumber
diberi Diberi
Total
p
Pemberian ASI Eksklusif Pada Bayi Informasi
ASI ASI value
Eksklusif Eksklusif
Pemberian ASI n % n % n %
Eksklusif Pada Bayi 7 3 0
Tidak Total 10
Total 48 60 32 40 80
Peran Tenaga diberi Diberi p 0
Kesehatan ASI ASI value
Eksklusif Eksklusif Tabel 9 menunjukkan bahwa dari 13 orang
N % n % n %
responden yang tidak mendapat sumber informasi terdapat
Tidak mendukung 16, 10 sebanyak 10 orang (76,9%) bayi yang tidak diberi ASI
35 83,3 7 42
7 0 Eksklusif dan 3 orang (23,1%) bayi yang diberi ASI
Mendukung 65, 10 <0,00 Eksklusif. Dari 67 orang responden yang mendapat
13 34,2 25 38
8 0 1 informasi terdapat sebanyak 38 orang (56,7%) bayi yang
10
Total 48 60 32 40 80
0 tidak diberi ASI Eksklusif dan 29 orang (43,3%) bayi yang
diberi ASI Eksklusif. Hasil uji statistik diperoleh nilai
Tabel 8 menunjukkan bahwa dari 42 orang responden p=0,293 artinya bahwa tidak ada pengaruh sumber
dengan peran tenaga kesehatan yang tidak mendukung informasi dengan pemberian ASI Eksklusif pada bayi.
terdapat sebanyak 35 orang (83,3%) bayi yang tidak Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang
diberi ASI Eksklusif dan 7 orang (16,7%) bayi yang dilakukan oleh Zakaria (2014), hasil analisis uji statistik
diberi ASI Eksklusif. Dari 38 orang responden dengan menunjukkan nilai p = 0,19 > 0,05 artinya tidak terdapat
peran tenaga kesehatan yang mendukung terdapat hubungan yang bermakna antara keterpaparan informasi
sebanyak 13 orang (34,2%) bayi yang tidak diberi ASI dengan tindakan pemberian ASI eksklusif. 15
Eksklusif dan 25 orang (65,8%) bayi yang diberi ASI Menurut Kever (2014), hasil analisis menyatakan
Eksklusif. Hasil uji statistik diperoleh nilai p=<0,001 bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara sumber
artinya bahwa ada pengaruh peran tenaga kesehatan informasi dan minat ibu untuk mempraktikkan menyusui
eksklusif. Dari 113 responden (88,9%) yang menyadari
dengan pemberian ASI Eksklusif pada bayi.
pemberian ASI Eksklusif, 64% menerima informasi dari
Menurut Mamonto (2015) menunjukan bahwa ada
petugas kesehatan, 22% dari teman dan kerabat ,5,30% dari
hubungan antara peran tenaga kesehatan dengan
radio dan 7,96% dari televisi.16
pemberian ASI eksklusif, dimana sebagaian besar
responden yang tidak memberikan ASI secara eksklusif Tabel 10 Pengaruh Pendidikan Dengan Pemberian ASI
dikarenakan peran/dukungan dari tenaga kesehatan yang Eksklusif Pada Bayi
kurang baik yaitu sebesar 80,9% (55 responden). 14 Pemberian ASI
Ekslusif Pada Bayi
Menurut Mohanis (2013), dikaitkan dengan kejadian Tidak
di lapangan bahwa responden dengan kategori peran Total
Pendidikan diberi Diberi p
petugas kesehatan rendah memberikan ASI Eksklusif ASI ASI value
lebih sedikit dari pada responden dengan kategori Eksklusif Ekslusif
n % n % n %
dorongan petugas kesehatan tinggi. Kecenderungan ini
terjadi karena, kurang komunikasi persuasif yang Rendah 70, 29, 10
12 5 17
(SD,SMP) 6 4 0
dilakukan petugas saat melakukan pelayanan kesehatan Tinggi 57, 42, 10
ditambah lagi tidak adanya usaha yang responden lihat 36 27 63 0,468
(SMA/D3/S1) 1 9 0
dari petugas untuk mendukung pemberian ASI Eksklusif, 10
Total 48 60 32 40 80
ini terlihat dari sebagian besar responden tidak pemah 0
mendapat pelayanan dan penjelasan dari petugas
mengenai kesulitan dan hambatan dalam pemberian Tabel 10 menunjukkan bahwa dari 17 orang
ASI.10 responden yang berpendidikan rendah (SD,SMP) terdapat
sebanyak 12 orang (70,6%) bayi yang tidak diberi ASI
Tabel 9 Pengaruh Sumber Informasi Dengan Pemberian Eksklusif dan 5 orang (29,4%) bayi yang diberi ASI
ASI Eksklusif Pada Bayi Eksklusif. Dari 63 orang responden yang berpendidikan
Pemberian ASI tinggi (SMA/D3/S1) terdapat sebanyak 36 orang (57,1%)
Ekslusif Pada Bayi bayi yang tidak diberi ASI Eksklusif dan 27 orang (42,9%)
Tidak bayi yang diberi ASI Eksklusif. Hasil uji statistik Chi-
Sumber Total
diberi Diberi p
Informasi
ASI ASI value square diperoleh nilai p=0,468 artinya bahwa tidak ada
Eksklusif Eksklusif pengaruh pendidikan dengan pemberian ASI Eksklusif
n % n % n % pada bayi.
Tidak ada 76, 23, 10 Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang
10 3 13
9 1 0 0,293
dilakukan oleh Pitaloka (2018) yang berjudul hubungan
Ada 38 56, 29 43, 67 10
antara pengetahuan dan pendidikan ibu dengan pemberian
238
Jurnal Kedokteran Methodist, Vol. 11 No. 2 Desember 2018, Sup 1
http://ojs.lppmmethodistmedan.net

ASI Eksklusif di Desa Kedungrejo Kecamatan Waru Tabel 12 Hasil Seleksi Variabel Yang Dapat Masuk Dalam
Kabupaten Sidoarjo yaitu hasil pengujian menunjukkan Model RegresiLogistik Ganda
bahwa nilai signifikansinya 0.252 (p> 0,05). Hal ini Variabel
p Nilai Pemodelan
menunjukkan bahwa pendidikan ibu tidak berhubungan value Ketetapan
Jenis persalinan <0,001 p<0,25 Masuk pemodelan
dengan pemberian ASI Eksklusif pada bayi 6-12 bulan.
Hasil pengujian dengan menggunakan Odds Ratio Peran tenaga p<0,25 Masuk pemodelan
<0,001
kesehatan
menunjukkan ternyata ibu yang berpendidikan rendah p>0,25 Tidak masuk
cenderung memberikan ASI Eksklusif pada bayi 6-12 Sumber informasi 0,293
pemodelan
bulan sebanyak 0,346 kali dibanding dengan ibu yang Pendidikan 0,468
p>0,25 Tidak masuk
berpendidikan tinggi.17 pemodelan
Pekerjaan 0,001 p<0,25 Masuk pemodelan
Menurut Fiola (2014), tingkat pendidikan ibu
dengan anak balita yang terbanyak adalah tamat SMA
(53,3 %). Terdapat 30,2% ibu dengan anak balita yang Tabel 12 menujukkan bahwa variable jenis persalinan,
memberikan ASI Eksklusif selama 6 bulan pada peran tenaga kesehatan, dan pekerjaan memiliki nilai
anaknya. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara p<0,25 sehingga dapat masuk dalam model regresi logistik
tingkat pendidikan ibu rumah tangga dengan lama ganda.
pemberian ASI Eksklusif pada anaknya. 18
Tabel 13 Model Regresi Logistik terhadap PemberianASI
Tabel 11Pengaruh Pekerjaan Dengan Pemberian ASI Eksklusif di Puskesmas Simalingkar Medan
95% C.I
Eksklusif Pada Bayi Variabel B Nilai p OR
Pemberian ASI Lower Upper
Eksklusif Pada Bayi Jenis persalinan 1.462 0.021 4.315 1.250 14.894
Tidak Peran tenaga 2.293 0.001 9.902 2.694 36.394
Total
Pekerjaan diberi Diberi p kesehatan
ASI ASI value -2.121 0.001 0.120 0.033 0.441
Eksklusif Eksklusif Pekerjaan
n % n % n % Constant -2.800 0.038 0.061
Tidak bekerja 39, 60, 10 Tabel 13 menunjukkan bahwa variabel yang dominan
15 23 38
5 5 0 berpengaruh terhadap pemberian ASI Ekslusif adalah
Bekerja 78, 21, 10
33
6
9
4
42
0
0,001 variabel peran tenaga kesehatan (p=0,001;OR=9,9 95%CI
10 2,694-36,394), yang artinya bahwa peran tenaga kesehatan
Total 48 60 32 40 80
0 yang tidak mendukung memiliki peluang berisiko 9,9 kali
Dari tabel 11 menunjukkan bahwa dari 38 orang lebih besar bayi tidak diberi ASI Eksklusif disbanding
responden yang tidak bekerja terdapat sebanyak 15 orang peran tenaga kesehatan yang mendukung.
(39,5%) bayi yang tidak diberi ASI Eksklusif dan 23
orang (60,5%) bayi yang diberi ASI Eksklusif. Dari 42 Kesimpulan
orang responden yang bekerja terdapat sebanyak 33 Dari 80 responden dapat disimpulkan bahwa :
orang (78,6%) bayi yang tidak diberi ASI Eksklusif dan a. Pemberian ASI Eksklusif pada bayi 6-11 bulan di
9 orang (21,4%) bayi yang diberi ASI Eksklusif. Hasil Puskesmas Simalingkar Medan mayoritas tidak
uji statistik diperoleh nilai p=0,001 artinya bahwa ada diberi ASI Eksklusif sebanyak 48 orang (60%) dan
pengaruh pekerjaan dengan pemberian ASI Eksklusif yang diberi ASI Eksklusif sebanyak 32 orang
pada bayi. (40%).
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang b. Jenis persalinan memiliki hubungan signifikan
dilakukan oleh Sihombing (2018) yang dilaksanakan di dengan pemberian ASI Eksklusif. Hal ini terlihat
wilayah kerja Puskesmas Hinaikiri yaitu berdasarkan dari nilai signifikan p-value =<0,001 dimana
hasil uji statistik di peroleh nilai p =0,005 < 0,05 artinya nilainya lebih kecil dari nilai kepercayaan ( P
ada hubungan bermakna antara pekerjaan dengan <0.05).
pemberian ASI Eksklusif. Menurutnya masa cuti pada c. Peran tenaga kesehatan memiliki hubungan
ibu yang bekerja akan mempengaruhi pemberian ASI signifikan dengan pemberian ASI Eksklusif. Hal ini
secara eksklusif kepada bayinya. Ibu yang bekerja akan terlihat dari nilai signifikan p-value =<0,001
memberikan susu formula kepada bayinya.7 dimana nilainya lebih kecil dari nilai kepercayaan (
Menurut Bahriyah (2018), hasil uji statistik P <0.05).
menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara d. Sumber informasi tidak memiliki hubungan
pekerjaan ibu terhadap pemberian ASI Eksklusif pada signifikan dengan pemberian ASI Eksklusif. Hal ini
bayi (P=0,018) dan ibu yang tidak bekerja mempunyai terlihat dari nilai signifikan p-value =0,293 dimana
peluang sebesar 0,396 kali lebih besar untuk memberikan nilainya lebih besar dari nilai kepercayaan ( P
ASI Eksklusif dibanding dengan tidak memberikan ASI <0.05).
Eksklusif.19 e. Status pendidikan tidak memiliki hubungan
signifikan dengan pemberian ASI Eksklusif. Hal ini
Hasil Multivariat terlihat dari nilai signifikan p-value =0,468 dimana

239
Jurnal Kedokteran Methodist, Vol. 11 No. 2 Desember 2018, Sup 1
http://ojs.lppmmethodistmedan.net

nilainya lebih besar dari nilai kepercayaan ( P 9. Chhetri S, Rao AP, Guddattu V. Factors affecting
<0.05). exclusive breastfeeding (EBF) among working
f. Status pekerjaan memiliki hubungan signifikan mothers in Udupi taluk , Karnataka. Clin Epidemiol
dengan pemberian ASI Eksklusif. Hal ini terlihat Glob Heal [Internet]. Elsevier; 2018;(June):2.
dari nilai signifikan p-value =0,001 dimana 10. Mohanis W. Peran Petugas Kesehatan dan Status
nilainya lebih kecil dari nilai kepercayaan ( P Pekerjaan Ibu Dengan Pemberian ASI eksklusif.
<0.05). 2013;8(1):4–9.
g. Hasil analisis Multivariat pada penelitian ini 11. Giri Inayah Abdullah dan Dian Ayubi. Determinan
menemukan bahwa faktor yang paling dominan Perilaku Pemberian Air Susu Ibu Ekslusif pada Ibu
mempengaruhi pemberian ASI Eksklusif di Pekerja. 2012;300–1.
Puskesmas Simalingkar Medan adalah peran 12. Hasiana ST, Ivone J, Rentian N, Faal B,
tenaga kesehatan. Kedokteran F, Maranatha UK, et al. The Effects Of
Cesarean Delivery To The Success Of Exclusive.
Saran 2015;(2007).
Berdasarkan hasil penelitian, maka saran yang dapat 13. Warsini. Hubungan antara Jenis Persalinan,
penulis sampaikan guna meningkatkan pelaksanaan Tingkat Pendidikan, Tingkat Pendapatan dan Status
pemberian ASI Eksklusif di adalah sebagai berikut : Pekerjaan dengan Keberhasilan ASI eksklusif 6
a. Petugas kesehatan baik dokter, bidan dan petugas buulan di Kecamatan Baki Kabupaten Sukoharjo.
gizi Puskesmas agar lebih aktif dan giat untuk Surakarta; 2015;
memberikan penyuluhan kepada ibu-ibu saat hamil 14. Mamonto T. Faktor - Faktor yang Berhubungan
tentang perawatan payudara agar setelah dengan Pemberian ASI Ekslusif pada Bayi di
melahirkan ASI segera keluar dan pada ibu Wilayah Kerja Puskesmas Kota Bangon. J Kesmas
menyusui serta keluarganya tentang pentingnya [Internet]. 2015;1:56–66. Available from:
ASI eksklusif, manfaat ASI dan cara pemberian https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/kesmas/articl
ASI eksklusif yang baik dan benar . e/view/7241
b. Diharapkan juga peneliti lain dapat lebih lanjut 15. Zakaria R. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan
meneliti faktor-faktor yang mempengaruhi ASI Tindakan Ibu dalam Pemberian ASI eksklusif di
eksklusif selain jenis persalinan, peran tenaga Wilayah Kerja Puskesmas Tilongkabila Kabupaten
kesehatan, sumber informasi, status pendidikan dan Bone Bolango Tahun 2014 Factors Related to
status pekerjaan. Measures Of Exclusive Breast-Feeding Mothers In
c. Diharapkan pembaca dapat memanfaatkan data The Working Area of The District Health Center
yang saya teliti guna menambah ilmu dan wawasan. Tilongkabila Bone Bolango 2014 Gorontalo
dengan Angka kematian bayi tertinggi setelah
Provinsi Papua barat bayinya . Kementerian
DAFTAR PUSTAKA Kesehatan Republik pemberian eksklusif telah
1. Kramer M, Kakuma R. Optimal duration of menargetkan trend prevalensi ASI eksklusif dari
exclusive breastfeeding (Review). Cochrane tahun yang berarti . Data Susenas tahun 2004-.
Database Syst Rev [Internet]. 2009;(8):1. 2014;281–93.
2. United National Internasional Child Emergency 16. Kever RT, Dathini H, Martins SDM, Inna AK,
Fund. Progaming Guide “Infant And Young Habu H, Saidu MA, et al. Knowledge of Exclusive
Child Feeding”. 2011;(June). Breastfeeding and Proposed Infant Feeding Pattern
3. Profil Kesehatan Indonesia. Profile Kesehatan of Post-Natal Mothers in Maiduguri , Nigeria.
Indonesia Tahun 2017 [Internet]. Ministry of 2014;3(5):66–71.
Health Indonesia. 2018. 107-108 p. 17. Pitaloka DA, Abrory R, Pramita AD. Hubungan
4. Badan Penelitian dan Pengembangan. Riset antara Pengetahuan dan Pendidikan Ibu dengan
Kesehatan Dasar. 2013; Pemberian ASI Eksklusif di Desa Kedungrejo
5. Ministry of Health. Data dan Informasi - Profil Kecamatan Waru Kabupaten Sidoarjo Correlation
Kesehatan Indonesia (Data and Information - between Knowledge , Education and Exclusive
Indonesia Health Profil). 2018;1–184. Breastfeeding among Mothers in Kedungrejo
6. Suryani irma. Profil kesehatan kota medan. Village , Waru Sub-district , Sidoarjo District.
Profil Kesehat sumatra utara. 2016;51. 2018;265–70.
7. Sihombing S. Hubungan Pekerjaan dan 18. Fiola R, Trevino P. Hubungan Antara Pendidikan
Pendidikan Ibu Dengan Pemberian ASI Ibu terhadap Lama Pemberian ASI Eksklusif pada
Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Hinai Anak di Jakarta Timur. 2014;
Kiri Tahun 2017. 2018;5(01):40–5. 19. Bahriyah F, Putri M, Jaelani AK, Indragiri AK.
8. Widiyanto S, Aviyanti D, A MT. Hubungan Hubungan pekerjaan ibu terhadap pemberian asi
Pendidikan dan Pengetahuan Ibu tentang ASI eksklusif pada bayi. 2017;2(June):113–8.
Eksklusif dengan Sikap terhadap Pemberian ASI
Eksklusif Subur. J Kedokteran Muhammadiyah.
2012;1(2):25–9.
240
Jurnal Kedokteran Methodist, Vol. 11 No. 2 Desember 2018, Sup 1
http://ojs.lppmmethodistmedan.net

241
Jurnal Kedokteran Methodist, Vol. 11 No. 2 Desember 2018, Sup 1
http://ojs.lppmmethodistmedan.net

242

Interesses relacionados