Você está na página 1de 3

ARBITRASI

Cara untuk menyelesaikan sengketa internasional yang ada umumnya


dibagi dalam dua kelompok. Cara yg selama ini telah dibahas yaitu:

• Negosiasi

• Mediasi Penyelesaian

• Penyelidikan dan Diplomatik

• Konsiliasi

Sebab pihak-pihak memegang kontrol atas sengketa itu dan dapat menerima
atau menolak suatu penyelesaian yang diusulkan kalau mereka
mengganggapnya pantas. Arbitrasi dan Penyelesaian Yudisial dilain pihak,
dipakai bila yang diinginkan adalah keputusan yang mengikat. Biasanya
berdasarkan pada hukum internasional, dan oleh karena itu dikenal sebagai cara
menyelesaikan menurut hukum.

Bentuk Arbitrasi

Langkah pertama yang diambil untuk menentukan apakah negara-negara


yang membuat rencana peraturan umum untuk menyerahkan sengketa yang
akan timbul pada arbitrasi, atau merundingkan suatu compromis (persetujuan)
guna menyerahkan suatu sengketa yang sudah terjadi adalah memutuskan
untuk menunjuk jenis pengadilannya.
Satu kemungkinan ialah dengan membentuk komisi yang terdiri dari
jumlah yang sama arbitrator nasional atau dari warga negara sendiri, yang
ditunjuk oleh para pihak, dan seorang anggota netral (atau wasit) yang diserahi
kasus-kasus tersebut jika anggota nasional tidak dapat menyetujui.

Bentuk arbitrasi lain berasal dari praktek yang sudah lama ada untuk
menyerahkan suatu sengketa pada keputusan kepala negara atau pemerintahan
asing. Arbitrasi dalam bentuk ini memiliki keuntungan, seperti:
• Arbitrator yang kuat “Beguna jika dibutuhkan tekanan
atau ajakan untuk
Mendukung suatu pihak untuk menerima
keputusan yang tidak menguntungkan,atau para ahli
dan sumber
Sumber diminta untuk mengadakan
penyelesaian mis-
alnya menyelesaikan tugas seperti
melakukan pemeta-
an atau survey”
• Seperti Mediator yang kuat
Kelemahan bentuk arbitrasi ini adalah bahwa sudah biasa bagi arbitrator yang
berkuasa penuh untuk menjawab pertanyaan dengan tanpa alasan yang jelas.

Seleksi Abitrator

Keanggotaan pengadilan college, sebagaimana penunjukan arbitrator


tunggal, merupakan persoalan perundingan para pihak, di mana tiap pihak
umumnya menunjuk satu atau lebih arbitrator “nasional” dan selebihnya
anggota “netral” yang disetujui mereka. Untuk alasan yang jelas hasil arbitrasi
college sering memberi keputusan terhadap anggota atau anggota-anggota yang
netral. Oleh karenannya adalah sangat penting bagi pemerintah yang
bersangkutan untuk menentukan siapa yang akan jadi anggota netral, yang
kadang-kadang sukar untuk menyetujui calon yang sesuai. Untuk
mepertimbangkan hal ini perjanjian arbitrasi sering mengatakan bahwa dalam
hal tidak terjadi persetujuan anggota netral dapat ditunjuk oleh Presiden
Mahkamah Internasional atau oleh pihak yang tidak berkepentingan. Perjanjian
seperti ini terbukti bermanfaat dalam beberapa kesempatan. Dalam arbitrasi
Lake Lanoux, misalnya, pemerintah Prancis dan Spanyol menyerahkan pemilihan
ketua pengadilan kepada Raja Swedia dan dalam kasus Rann of kutch,
sekretaris Jendral Perserikatan Bangsa Bangsa melakukan fungsi yang sama
untuk India dan Pakistan.

Memberikan kewenangan pada pihak ketiga untuk mengambil langkah-


langkah yang perlu untuk melengkapi anggota pengadilan merupakan
keuntungan dalam arti ganda. Dalam kasus diatas hal ini memungkinkan negara-
negara yang memang mengalami kesulitan guna menghindari jalan buntu, tapi
ini juga mencegah suatu negara yang memperlihatkan keberatan terhadap
seluruh ide arbitrasi dari menghalangi proses melalui penolakan kosong untuk
bekerja sama dalam anggota netral.

Perjanjian perdamaian dengan Bulgaria, Hungaria dan Rumania


membuktikan bahwa sengketa yang timbul dari interpretasi atau eksekusi
mereka harus diserahkan pada komisi arbitrasi. Sesuai dengan praktek umum
komisi ini terdiri dari anggota nasional yang ditunjuk oleh masing masing pihak
dan seorang anggota ketiga yang ditunjuk melalui persetujuan, atau jika gagal,
melalui Sekretaris Jendral Perserikatan Bangsa Bangsa.
Ketika dilakukan usaha membuat prosedur arbitrasi mulai bekerja, negara
negara tergugat tersebut menolak untuk menunjuk wakil mereka untuk komisi
itu. Pada tahun 1950 semua masalah itu diserahkan pada Mahkamah
Internasional, ketika Majelis Umum meminta pendapat yang bersifat nasehat
(advisory opinion) tentang akibat hukum tindakan ini. Pertama tama Mahkamah
Internasional menolak argumen negara tergugat itu bahwa tidak ada sengketa
yang dapat dikenai ketentuan penyelesaian dari Perjanjian Perdamain, dan
mengatakan bahwa Bulgaria, Hungaria dan Rumania mempunyai kewajiban
untuk menunjukan anggota komisi mereka. Tapi hal ini dipakai untuk bacaan
teks yang meragukan, menurut Mahkamah Internasional, harus ditafsirkan
hanya untuk meliputi keadaan dimana pihak-pihak gagal mencapai persetujuan.
akibatnya, meskipun kegagalan responden untuk membuat penunjukan mereka
melibatkan tanggung jawab internasional, kegagalan itu sendiri tidak dapat
mebenarkan pembentukan komisi melalui cara yang diusulkan.

Kasus Perjanjian Perdamaian adalah sebuah ilustrasi menarik dari kendala


yang negara yang segan bisa mendapatkan tempat di jalan arbitrase dan
perawatan yang
harus diambil untuk menutup semua kontinjensi ketika merancang
ketentuan berurusan
dengan penunjukan arbiter.

Seperti dalam kasus perselisihan anggota netral, solusi yang paling


sederhana adalah ketentuan yang menyatakan bahwa
setelah tiga bulan, atau beberapa periode yang cocok lainnya,penunjukan yang
diperlukan mungkin dapat
dilakukan oleh pihak luar. Meskipun tidak selalu disertakanbahkan hari
ini, ketentuan tersebut telah menjadi ciri dari perjanjianbilateral lebih dari lima
puluh tahun dan telah disahkan oleh Komisi Hukum Internasional
dan Pengadilan Tetap Arbitrase.

*Internasional Dispute settlement J. G. Merrills