Você está na página 1de 9

HUBUNGAN PERSEPSI, SIKAP, DAN DUKUNGAN PADA PEKERJA BAGIAN PRODUKSI JAMU LENGKAP DENGAN KEPATUHAN PEMAKAIAN ALAT

PELINDUNG DIRI (APD) DI PT. LEO AGUNG RAYA SEMARANG.


Rizqi Firdausi Peminatan Keselamatan dan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro E-mail : rizqifirdausi@gmail.com ABSTRAK Keselamatan dan Kesehatan Kerja karyawan akan tercapai bila semua karyawannya mau mematuhi peraturan yang telah ditetapkan oleh perusahaan untuk menggunakan APD. Kepatuhan merupakan salah satu perilaku keselamatan yang dipengaruhi oleh faktor Predisposing, Enabling dan Reinforcing. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan persepsi, sikap, dan dukungan pada pekerja bagian produksi jamu lengkap dengan kepatuhan pemakaian alat pelindung diri (APD) di PT. Leo Agung Raya Semarang. Penelitian ini merupakan penelitian dengan pendekatan cross sectional. Populasi dari penelitian ini adalah pekerja di bagian produksi jamu lengkap yang berjumlah 124 orang dan diambil sampel dengan cara purposive sampling didapatkan 55 orang. Analisis yang dipakai dalam penelitian ini adalah analisis univariat dan analisis bivariat menggunakan uji Chi Square. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan yang bermakna antara Persepsi (pvalue = 0,323), sikap (pvalue = 0,050), dan dukungan (pvalue = 0,327) dengan kepatuhan responden dalam menggunakan APD. Disarankan agar penyediaan serta penggunaan APD yang tepat, training, sosialisasi dan penyuluhan, sistem reward and punishment, pengawasan dan pemeliharaan APD. ABSTRACT Occupational Safety and Health staff will be achieved if all employees would comply with the rules set by the company to use the PPE. Compliance is one of safety behavior that is influenced by Predisposing, Enabling and Reinforcing factors. The purpose of this study was to determine the relationship between perception, attitude, and support for the workers of complete jamu production with the use of personal protective equipment (PPE) compliance at PT. Leo Agung Raya Semarang. This study is a cross sectional approach. The population of this study to the workers on the complete herbal medicines production, amount to 124 people and sampled by purposive sampling found 55 people. The analysis used in this study is univariate and bivariate analysis using Chi Square. The results showed no significant correlation between the perception (pvalue = 0.323), attitude (pvalue = 0.050), and support (pvalue = 0.327) with adherence of respondents in the use of PPE. It is recommended that the provision and proper use of PPE, training, socialization and education, reward and punishment system, supervision and maintenance of PPE. PENDAHULUAN Penggunaan teknologi maju sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia secara luas, namun tanpa disertai dengan pengendalian yang tepat akan dapat merugikan manusia itu sendiri. Penggunaan mesin-mesin, pesawat, instalasi dan bahan-bahan berbahaya akan terus meningkat sesuai kebutuhan industrialisasi dan memberikan kemudahan bagi suatu proses produksi, tentunya efek samping yang tidak dapat dielakkan adalah bertambahnya jumlah dan ragam sumber bahaya bagi pengguna teknologi itu sendiri.1 Perlindungan tenaga kerja melalui usaha-usaha teknis pengamanan tempat, peralatan dan lingkungan kerja sangat perlu diutamakan. Namun kadang-kadang keadaan bahaya masih belum dapat dikendalikan sepenuhnya sehingga digunakan alat pelindung diri.2 Pemakaian alat pelindung diri merupakan cara terakhir guna menanggulangi bahaya yang terjadi di tempat kerja.3

Keselamatan dan Kesehatan Kerja karyawan akan tercapai bila semua karyawannya mau mematuhi peraturan yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Upaya perlindungan tenaga kerja perlu ditingkatkan agar dapat menghindarkan pekerja dari penyakit akibat kerja serta terjadinya kecelakaan akibat kerja dari sumber-sumber bahaya yang terdapat di perusahaan.4 Berdasarkan survey awal di bagian produksi jamu lengkap PT. Leo Agung Raya Semarang diketahui bahwa dari hasil pengamatan masih banyak karyawan yang belum sadar akan pentingnya manfaat dari alat pelindung yang diberikan oleh perusahaan dengan tidak mengenakan masker, sarung tangan ataupun ear muff sebagai pelindung kesehatan mereka. 12 pekerja yang diamati pada awal penelitian, 33,3% tidak menggunakan masker, 75% tidak menggunakan sarung tangan, serta 83,3% pekerja tidak memakai ear muff. Pekerja sudah dibagikan masker, sarung tangan dan ear muff, namun mereka mengaku kurang nyaman dalam menggunakannya serta kurangnya pengawasan dalam penggunaannya. Pekerja di PT. Leo Agung Raya bekerja 8 jam perhari selama 5 hari seminggu. PT. Leo Agung Raya sebelum membangun pabrik baru di Jl. Tambak Aji I/10 Ngaliyan Semarang ini sudah sesuai dengan desain keamanan. Untuk proses subtitusi tidak dapat dilakukan karena bahan jamu tidak dapat diganti dengan bahan lain. Mesin-mesin di perusahaan ini sudah dirancang untuk menjaga keamanan pekerja, namun mesin masih menimbulkan bising serta menghasilkan debu. Menurut dokter perusahaan untuk pengendalian bahaya debu dan bising sudah diterapkan pengaturan waktu kerja dan pemantauan kesehatan pekerja namun, penyuluhan tentang kesehatan jarang dilakukan, dan pemantauan debu dan tingkat kebisingan pada seluruh bagian produksi belum pernah dilakukan. Perilaku atau kepatuhan pekerja menurut L. Green dipengaruhi beberapa faktor.5 Faktorfaktor yang dianggap menjadi penyebab kepatuhan pekerja dalam pemakaian alat pelindung diri adalah umur, masa kerja, pendidikan terakhir, pengetahuan, sikap, peraturan perusahaan, penyuluhan, dukungan dan pengawasan. Berdasarkan perumusan masalah di atas, dapat disimpulkan pertanyaan penelitian yaitu "Apakah terdapat hubungan persepsi, sikap, dan dukungan pada pekerja bagian produksi jamu lengkap dengan kepatuhan pemakaian alat pelindung diri (APD) di PT. Leo Agung Raya Semarang". Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan persepsi, sikap, dan dukungan pada pekerja bagian produksi jamu lengkap dengan kepatuhan pemakaian alat pelindung diri (APD) di PT. Leo Agung Raya Semarang. METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah Explanatory Research dengan menggunakan rancangan cross sectional. Populasi penelitian adalah pekerja yang berada pada bagian produksi jamu lengkap di PT. Leo Agung Raya Semarang berjumlah 124 orang. Pengambilan sampel sebelumnya dilakukan seleksi berdasarkan Purposive Sampling yaitu sampel yang memenuhi kriteria yang telah ditentukan.6 Berdasarkan hasil seleksi sampel yang memenuhi kriteria tersebut maka didapatkan 55 sampel. Jenis data yang dikumpulkan adalah Data primer yaitu meliputi data melalui wawancara, observasi tersamar dengan bantuan lembar observasi untuk mengetahui kebiasaan responden dalam pemakaian APD, untuk mengetahui kepatuhan responden serta kuesioner. Data sekunder diperoleh dari perusahaan seperti gambaran umum perusahaan, jumlah karyawan, dan proses kerja, selain itu juga melalui studi pustaka (buku perpustakaan, jurnal, artikel) dan media internet yang berhubungan variabel penelitian. Dalam analisa univariat, data-data akan disajikan dengan variabel distribusi frekuensi dan prosentase pada tiap variabel. Analisis ini digunakan untuk mengetahui gambaran persepsi, sikap, dan dukungan pada pekerja dan gambaran tentang kepatuhan pemakaian APD dalam bentuk mean, median, dan modus dalam bentuk tabel-tabel sehingga tergambar fenomena-fenomena yang berhubungan dengan variabel yang diteliti.7 Analisis data bivariat dilakukan terhadap dua variabel yang diduga berhubungan atau korelasi yaitu variabel bebas dengan variabel terikat. Metode

statistik yang digunakan adalah analisis non parametik dengan uji nilai chi-square dan rasio prevalensi.8 HASIL PENELITIAN Adapun hasil dalam penelitian ini dapat dilihat seperti berikut: Tabel 4. 1 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Persepsi, Sikap, dan Dukungan Mengenai Pemakaian APD di Bagian Produksi PT. Leo Agung Raya Semarang Tahun 2011 Kurang Tidak Baik Baik Total Baik No. Variabel f % f % f % f % 1. Persepsi pekerja 26 47,3 25 45,5 4 7,3 55 100 2. Sikap pekerja 39 70,9 14 25,5 2 3,6 55 100 Dukungan pada 3. 39 70,9 10 18,2 6 10,9 55 100 pekerja Tabel 4. 1 memberikan informasi bahwa responden yang mempunyai persepsi baik tentang pemakaian APD sebanyak 26 orang (47,3%). Berdasarkan tabel tersebut juga dapat diketahui bahwa prosentase terbanyak pada sikap dan dukungan pemakaian APD responden yang baik memiliki jumlah yang sama yaitu sebanyak 70,9% (39 orang). Tabel 4. 2 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kepatuhan Responden Memakai APD di Bagian Produksi PT. Leo Agung Raya Semarang Tahun 2011 No. Kepatuhan APD Frequency (f) Percent (%) 1. Patuh 24 43,6 2. Tidak patuh 31 56,4 Total 55 100 Hasil yang ditunjukkan oleh tabel 4. 2 dapat dilihat bahwa dari 55 responden terdapat jumlah responden yang patuh dan yang tidak patuh. Jumlah responden yang tidak patuh lebih banyak yaitu 31 orang (56,4%). Tabel 4. 3 Tabulasi Silang Persepsi Responden dengan Kepatuhan Pemakaian APD di Bagian Produksi PT. Leo Agung Raya Semarang Tahun 2011 kepatuhan APD Total Kategori No. Patuh Tidak Patuh Persepsi f % f % f % 1. Baik 14 53,8% 12 46,2% 26 100% 2. Kurang baik 9 36% 16 64% 25 100% 3. Tidak baik 1 25% 3 75% 4 100% Tabel 4. 3 memperlihatkan bahwa jumlah responden yang patuh dalam pemakaian APD adalah yang memiliki persepsi tentang APD yang baik yaitu sebanyak 14 responden (53,8%). Responden yang tidak patuh dalam pemakaian APD merupakan responden yang memiliki persepsi tentang APD yang kurang baik sebanyak 16 orang (64%). Hasil analisis uji statistik chi square untuk hubungan persepsi responden dengan kepatuhan pemakaian APD pada tingkat signifikansi = 0,05 diperoleh hasil pvalue sebesar 0,323. Hal ini menunjukkan bahwa Ho diterima berarti secara statistik tidak ada hubungan yang bermakna antara persepsi pekerja bagian produksi dengan kepatuhan pemakaian APD.

Tabel 4. 4 Tabulasi Silang Sikap Responden dengan Kepatuhan Pemakaian APD di Bagian Produksi PT. Leo Agung Raya Semarang Tahun 2011 kepatuhan APD Total Kategori No. Patuh Tidak Patuh Sikap f % f % f % 1. Baik 21 53,8% 18 46,2% 39 100% 2. Kurang baik 3 21,4% 11 78,6% 14 100% 3. Tidak baik 0 0% 2 100% 2 100% Dari tabel 4. 4 dapat diketahui bahwa jumlah responden yang patuh dalam pemakaian APD dengan sikap tentang APD yang baik memiliki jumlah sebanyak 21 orang (53,8%) dari keseluruhan responden. Demikian juga dengan responden yang tidak patuh dalam pemakaian APD juga merupakan responden yang memiliki sikap tentang APD yang baik yaitu sebanyak 18 orang (46,2%). Hasil analisis uji statistik chi square untuk hubungan sikap responden dengan kepatuhan pemakaian APD pada tingkat signifikansi = 0,05 diperoleh hasil pvalue sebesar 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa Ho diterima berarti secara statistik tidak ada hubungan yang bermakna antara sikap pekerja bagian produksi dengan kepatuhan pemakaian APD. Tabel 4. 5 Tabulasi Silang Dukungan yang Diperoleh Responden dengan Kepatuhan Pemakaian APD di Bagian Produksi PT. Leo Agung Raya Semarang Tahun 2011 kepatuhan APD Total Kategori No. Patuh Tidak Patuh Dukungan f % f % f % 1. Baik 19 48,7% 20 51,3% 39 100% 2. Kurang baik 4 40% 6 60% 10 100% 3. Tidak baik 1 16,7% 5 83,3% 6 100%
.

Tabel 4. 5 menunjukkan bahwa jumlah responden yang patuh dalam pemakaian APD adalah yang memperoleh dukungan yang baik yaitu sebanyak 19 responden (48,7%). Demikian juga dengan responden yang tidak patuh dalam pemakaian APD juga merupakan responden yang memperoleh dukungan yang baik yaitu sebanyak 20 orang (51,3%). Hasil analisis uji statistik chi square untuk hubungan dukungan yang diperoleh responden dengan kepatuhan pemakaian APD pada tingkat signifikansi = 0,05 diperoleh hasil pvalue sebesar 0,327. Hal ini menunjukkan bahwa Ho diterima berarti secara statistik tidak ada hubungan yang bermakna antara dukungan yang diperoleh pekerja bagian produksi dengan kepatuhan pemakaian APD. Tabel 4. 6 Hasil Uji Statistik Hubungan Persepsi, Sikap, dan Dukungan Responden dengan Kepatuhan Pemakaian APD di Bagian Produksi PT. Leo Agung Raya Semarang Tahun 2011 Signifikansi No. Variabel Keterangan (pvalue) 1. Persepsi 0,323 Tidak ada hubungan bermakna 2. Sikap 0,050 Tidak ada hubungan bermakna 3. Dukungan 0,327 Tidak ada hubungan bermakna

PEMBAHASAN Persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh proses penginderaan, yaitu merupakan proses diterimanya stimulus oleh individu melalui alat indera. Apa yang ada dalam diri individu akan ikut aktif dalam persepsi karena persepsi merupakan aktivitas yang integrated dalam diri individu.9 Berdasarkan hal tersebut, maka dalam persepsi dapat dikemukakan karena perasaan, kemampuan berfikir, pengalaman-pengalaman individu tidak sama, maka dalam mempersepsi sesuatu stimulus, hasil persepsi mungkin akan berbeda antara individu satu dengan yang lain. Dari hasil analisa data seperti yang dapat dilihat pada tabel 4. 1 didapatkan bahwa sebagian besar responden memiliki persepsi tentang APD yang baik yaitu 47,3% dan kurang baik sebanyak 45,5%. Menurut data yang diperoleh dari kuesioner, sebagian besar responden juga mempunyai keyakinan kualitas APD yang disediakan masih diragukan. Hal tersebut didukung dengan wawancara dengan pekerja. Mereka mengeluhkan bahwa masker yang mereka pakai belum cukup untuk menghindarkan mereka dari debu. Terkadang pekerja harus memakai 2 sampai 3 masker untuk menghindari paparan debu. Sikap merupakan produk dari proses sosialisasi dimana seseorang bereaksi sesuai dengan stimulan yang diterimanya, sebelum orang itu mendapat info atau melihat obyek itu tidak mungkin terbentuk suatu sikap meskipun sikap dikatakan mendahulukan tindakan aktif tetapi merupakan predisposisi atau mempermudah untuk bertindak terhadap obyek tertentu. Dari hasil yang diperoleh digambarkan pada tabel 4. 1 bahwa lebih dari 50% responden memiliki sikap yang baik atau positif mengenai pemakaian APD. Dari hasil penelitian, dapat diketahui bahwa hampir keseluruhan responden mengatakan bahwa belum adanya sanksi atau hukuman yang tegas dari perusahaan apabila tidak memakai APD. Green menganalisa bahwa sikap termasuk salah satu faktor predisposisi evaluatif yang banyak menentukan bagaimana individu bertindak.5 Responden yang memiliki sikap tidak baik umumnya mengatakan merasa tidak nyaman, terpaksa, hanya ikut-ikutan teman kerja, melepas APD saat bekerja, serta belum ada pengawasan dari pihak perusahaan. Belum adanya pengawas khusus mengecek kelengkapan APD pekerja dikarenakan kurangnya adanya untuk membayar pekerja tambahan. Seseorang terkadang tidak memberikan dukungan sosial kepada orang lain ketika ia sendiri tidak memiliki sumber daya untuk menolong orang lain, atau tengah menghadapi stres, harus menolong dirinya sendiri, atau kurang sensitif terhadap sekitarnya sehingga tidak menyadari bahwa orang lain membutuhkan dukungan darinya.10 Dari keseluruhan responden, 6 orang memperoleh dukungan yang tidak baik tentang APD dan 10 orang memperoleh dukungan yang kurang baik seperti yang terlihat pada tabel 4. 1. Kebanyakan responden menyatakan bahwa atasan tidak menegur mereka bila mereka tidak memakai APD. Selebihnya 39 orang mendapatkan dukungan yang baik, dapat dari keluarga, adapula yang didapat dari atasan dan rekan kerjanya sendiri. Kepatuhan merupakan suatu hal yang penting agar dapat mengembangkan rutinitas (kebiasaan) yang dapat membantu dalam mengikuti jadwal yang kadang kala rumit dan mengganggu kegiatan sehari-hari.11 Untuk mengetahui kepatuhan dari responden dilakukan observasi selama 3 hari secara acak. Observasi yang dilakukan tersebut tanpa memberitahukan terlebih dahulu kepada responden yang akan diteliti. Hal ini dilakukan agar responden tidak mengetahui jika sedang diamati sehingga dapat melihat perilaku responden yang sebenarnya dalam pemakaian APD saat mereka melakukan pekerjaannya. Responden juga tidak dapat melakukan manipulasi atau perubahan kebiasaan hanya untuk menyelamatkan nama baik dari masing-masing responden. Observasi yang dilakukan selama 3 hari tersebut karena dalam penelitian ini tidak hanya ingin melihat praktek responden dalam pemakaian APD tetapi kepatuhan responden dalam pemakaian APD tersebut. Berdasarkan hasil pengolahan data dapat diketahui bahwa dari 55 responden terdapat jumlah responden yang patuh dan yang tidak patuh seperti pada tabel 4. 2. Jumlah responden yang patuh sebanyak 24 orang sedangkan jumlah responden yang tidak patuh lebih banyak yaitu 31 orang. Berdasarkan hasil antara persepsi dengan kepatuhan pemakaian APD dapat diketahui bahwa secara statistik tidak ada hubungan yang bermakna antara persepsi tentang APD pekerja bagian produksi dengan kepatuhan pemakaian APD. Hal ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan

oleh Edwin yang menyatakan bahwa ada hubungan bermakna antara persepsi pada kepatuhan penggunaan Alat Pelindung Diri pekerja bagian produksi kulkas di PT. LG Tangerang tahun 2005.12 Apa yang ada dalam diri individu akan ikut aktif dalam persepsi karena persepsi merupakan aktivitas yang integrated dalam diri individu. Berdasarkan hal tersebut, maka dalam persepsi dapat dikemukakan karena perasaan, kemampuan berfikir, pengalaman-pengalaman individu tidak sama, maka dalam mempersepsi sesuatu stimulus, hasil persepsi mungkin akan berbeda antara individu satu dengan yang lain. Persepsi itu bersifat individual.9 Dari tabel 4. 1 menunjukkan jumlah yang hampir sama pada responden yang memiliki persepsi yang baik dan kurang baik mengenai APD yaitu sebesar 47,3% dan 45,5%. Pada tabel 4. 3 dapat terlihat bahwa jumlah terbanyak responden 16 orang yang tidak patuh dalam pemakaian APD merupakan responden yang memiliki persepsi tentang APD yang kurang baik. Berdasarkan hasil uji diatas dapat diketahui bahwa responden yang memiliki persepsi yang baik tidak menjamin bahwa seseorang akan bertindak sesuai dengan ketentuan yang ada. Banyak APD yang memang belum sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan pada setiap bagian dalam pelaksanaanya. Contohnya pada bagian sortasi diberikan sarung tangan kain yang tebal sehingga bila digunakan banyak simplisia yang menempel di sarung tangan tersebut. Responden lain juga memakai masker kain sampai 3 lapis, dengan lapisan yang paling dalam dibasahi karena menurut responden 1 masker belum mencukupi. Berdasarkan hal tersebut yang menyebabkan persepsi tidak berhubungan dengan kepatuhan adalah walaupun pekerja sudah memiliki persepsi yang baik tentang APD namun hal ini tidak akan mempengaruhi perilaku pekerja memakai APD apabila faktor enabling seperti masih jarangnya penyuluhan tentang manfaat dan kegunaan APD serta kurangnya pengawasan dari atasan. Dari tabel 4. 4 hasil antara sikap dan kepatuhan responden didapatkan jumlah responden yang patuh dalam pemakaian APD dengan sikap tentang APD yang baik memiliki jumlah 21 orang. Prosentase terbanyak adalah responden yang memiliki sikap pemakaian APD yang baik seperti pada tabel 4. 1 sebesar 70,9%. Berdasarkan hasil pengolahan data, didapatkan bahwa secara statistik tidak ada hubungan yang bermakna antara sikap pekerja bagian produksi dengan kepatuhan pemakaian APD. Penelitian ini serupa dengan penelitian yang dilakukan oleh Endro pada petani di Desa Doplang Kabupaten Blora bahwa tidak ada hubungan antara sikap dengan kepatuhan penggunaan APD dalam menyemprot hama.13 Berdasarkan data diatas sikap baik responden yang patuh dalam memakai APD memiliki jumlah yang sama dengan responden yang tidak patuh. Hal ini menunjukkan hubungan antara sikap dan perilaku sangat ditentukan oleh faktor-faktor situasional tertentu dalam hal ini adalah bagaimana responden menyikapi lingkungan tempat kerja mereka yang juga merupakan suatu kondisi yang dapat mengubah hubungan antara sikap dan perilaku. Tidak adanya hubungan dalam penelitian ini dikarenakan walaupun pekerja mengetahui adanya prosedur kerja dalam memakai APD, namun dari perusahaan sendiri belum ada hukuman atau sanksi yang tegas apabila tidak memakai APD. Kurangnya contoh yang diberikan serta pengawasan yang kurang dari pihak perusahaan mengenai pemakaian APD yang mempengaruhi pekerja untuk lebih sering tidak memakai APD dan mengakibatkan tidak adanya hubungan antara sikap dengan kepatuhan penggunaan APD. Hasil pengolahan data yang dilakukan untuk mengetahui hubungan antara dukungan pada pekerja dan kepatuhan pemakaian APD menunjukkan bahwa secara statistik tidak ada hubungan yang bermakna antara dukungan yang diperoleh pekerja bagian produksi dengan kepatuhan pemakaian APD. Hasil yang serupa pada penelitian yang dilakukan oleh Albertus bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara faktor pendorong dengan kepatuhan pemakaian APD pada pekerja pengelas bengkel las teralis di Barito Semarang.14 Tabel 4. 1 memperlihatkan sebesar 70,9% responden mendapatkan dukungan yang baik. Sebanyak 20 responden yang tidak patuh dalam pemakaian APD juga merupakan responden yang memperoleh dukungan yang baik. Hal ini ditunjukkan pada tabel 4. 5. Dari data tersebut diatas dapat diketahui bahwa dukungan pada reponden yang baik, belum tentu responden tersebut patuh memakai APD. Kurangnya komunikasi antara pekerja dengan atasan mengenai hasil temuan inspeksi keselamatan kerja yang melibatkan seluruh bagian agar dapat segera dilakukan tindakan

penanggulangan yang lebih efektif dan efisien seperti pengadaan APD yang tidak mencukupi dengan kebutuhan. Contohnya masker kain, keefektifan masker kain 2 minggu namun pada pelaksanaannya masker kain baru diganti hingga sebulan pemakaian. Terkadang responden harus membawa pulang dan mencucinya terlebih dahulu di rumah setiap hari. Hal ini berlaku juga pada penggunaan ear muff pada bagian yang memiliki kebisingan sebesar 95,6 dB(A). Penggunaan ear muff menurut pekerja menyebabkan daun telinga mereka panas dan sakit. Apabila APD yang digunakan lebih tepat dan sesuai dengan pekerjaannya maka perusahaan dapat menghemat, karena APD lebih awet, kebutuhan penggantian tidak terlalu sering, serta berkurangnya pekerja yang cuti akibat sakit. Berdasarkan observasi yang dilakukan pada saat penelitian hal yang menyebabkan dukungan pada pekerja tidak berhubungan dengan kepatuhan adalah walaupun secara teoritis dukungan yang diperoleh seseorang mempengaruhi perilakunya, namun faktor lain juga berpengaruh seperti ketersediaan APD yang tidak mencukupi serta belum adanya hukuman atau sanksi yang tegas. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan : 1. Responden yang bekerja di bagian produksi PT. Leo Agung Raya Semarang memiliki persepsi baik tentang APD sebanyak 26 orang (47,3%). 2. Lebih dari 50% responden yang memiliki sikap baik tentang penggunaan APD yaitu sebanyak 70,9% (39 orang). 3. Responden lebih banyak yang mendapatkan dukungan baik dalam pemakaian APD yaitu sebanyak 39 orang atau dengan prosentase 70,9%. 4. Tingkat kepatuhan responden dalam pemakaian APD dalam penelitian ini 43,6% atau sebanyak 24 responden patuh menggunakan APD dan yang tidak patuh sebanyak 56,4% atau 31 responden. 5. Persepsi dengan kepatuhan responden dalam menggunakan APD dalam penelitian ini adalah tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan ditunjukkan berdasarkan hasil analisis pvalue (0,323) lebih besar dari nilai (0,05). 6. Tidak adanya hubungan yang bermakna antara sikap dengan kepatuhan responden dalam menggunakan APD dalam penelitian ini dengan ditunjukkan berdasarkan hasil analisis pvalue (0,05) sama dengan nilai (0,05). 7. Dukungan dengan kepatuhan responden dalam menggunakan APD dalam penelitian ini adalah tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan ditunjukkan berdasarkan hasil analisis pvalue (0,327) lebih besar dari nilai (0,05). Saran yang dapat diberikan berdasarkan hasil penelitian adalah sebagai berikut : 1. Bagi Pekerja a. APD yang diberikan oleh perusahaan untuk menjaga keselamatan dan kesehatan pekerja sendiri, pekerja sebaiknya menggunakan APD tersebut untuk memelihara kesehatan dan menjaga keselamatan dirinya sendiri dan orang-orang disekitar mereka. b. Pekerja dapat lebih terbuka kepada atasan menyangkut penggunaan APD karena memakai alat-alat perlindungan diri yang diwajibkan pengusaha merupakan kewajiban tenaga kerja, namun tenaga kerja mempunyai hak menytakan keberatan jika alat-alat tersebut diragukan olehnya. Hal ini tertuang dalam pasal 12 UU No. 1 th 1970. 2. Bagi PT. Leo Agung Raya a. Penyediaan serta penggunaan APD yang tepat sesuai dengan pekerjaannya masingmasing ditiap bagian. APD yang tepat : 1) Masker Masker kain yang digunakan masih dirasa kurang melindungi oleh pekerja serta adanya keluhan belakang daun telinga yang pegal saat memakainya, maka sebaiknya digunakan masker kain serat sintetis yang lebih tebal dan bentuknya menutupi celah antara hidung

dan tulang pipi dan lebih nyaman digunakan. Tali dari masker tersebut juga dicari yang berbahan elastis yang tidak digunakan dibelakang telinga. Alat pelindung Mechanical Filter Respirator berguna untuk menangkap partikelpartikel zat padat, debu, kabut, uap logam dan asap. Respirator ini biasanya dilengkapi dengan filter yang berfungsi untuk menangkap debu dan kabut dengan kadar kontaminasi udara tidak terlalu tinggi atau partikel yang tidak terlalu kecil. Filter pada respirator ini terbuat dari fiberglass atau wol dan serat sintetis yang dilapisi dengan resin untuk memberi muatan pada partikel. Keefektivan masker ini sampai dengan 2 bulan. 2) Sarung tangan Sarung tangan disesuaikan lagi dengan pekerjaan masing-masing seperti bagian sortasi sebaiknya menggunakan sarung tangan yang berbahan plastik atau karet tipis (vinyl dan neoprene) untuk mencegah jamur mikotoksin pada simplisia menyentuh kulit pekerja. Sarung tangan dengan bahan ini dapat dipakai hingga 3 bulan. Bagian sortasi pil juga sebaiknya tidak menggunakan sarung tangan berbahan karet atau kain tetapi dari bahan plastik sekali pakai karena lebih nyaman dari pada sarung tangan karet dan tidak meninggalkan serat kain jika menggunakan sarung tangan berbahan kain. 3) Ear plug Penggunaan ear muff pada pekerja kurang tepat karena pada tingkat kebisingan hingga 95,6 dB(A) hanya melampaui 10 dB(A) dari ambang batas, sehingga lebih tepat guna dan hemat jika menggunakan ear plug yang terbuat dari bahan karet dan plastik yang dicetak (Molded rubber/plastiic) dapat digunakan berulang kali (Non Disposable). Alat ini dapat mengurangi suara sampai 20 dB(A) dan dapat digunakan sampai 3 bulan. b. Training tentang penggunaan APD baru agar pekerja dapat mengaplikasikan APD tersebut dengan baik dan benar. c. Sosialisasi dan penyuluhan tentang pentingnya manfaat dan fungsi dari penggunaan APD untuk meningkatkan motivasi di lingkungan kerja guna meminimalisir terjadinya penyakit dan kecelakaan akibat kerja. d. Adanya seorang pengawas khusus mengecek kelengkapan APD yang berkeliling agar penggunaan APD pekerja pada saat bekerja meningkat. Hal ini didukung dengan memberikan contoh yang baik dalam penggunaan APD oleh atasan. e. Penting ditambahkan pada peraturan yang telah diberlakukan sebuah sistem reward and punishment pada pekerja atas penggunaan APD karena hal ini dapat memicu motivasi kepatuhan pekerja. f. Pemeliharaan peralatan dan sarana pendukung dalam proses produksi lebih ditingkatkan. Untuk mengurangi kondisi tidak aman aman di tempat kerja sehingga dapat mencegah potensi bahaya yang mungkin terjadi. g. Perlu adanya pembahasan dan komunikasi yang baik antar pekerja dan atasan mengenai ketidak sesuaian dipekerjaan yang melibatkan seluruh bagian agar dapat segera dilakukan tindakan penanggulangan, pencegahan, dan intervensi yang lebih efektif dan efisien. h. Pencegahan penyakit dan kecelakaan kerja dapat dilakukan dengan berbagai upaya penanggulangan teknis lainnya, hal ini bertujuan untuk meminimalkan biaya kecelakaan sehingga perusahaan dapat menghemat.
DAFTAR PUSTAKA 1. Tarwaka. Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Manajemen dan Implementasi K3 di Tempat Kerja.

Surakarta : Harapan Press. 2008.Depkes, R.I., Pencegahan dan Penanggulangan Chikungunya, Jakarta, 2002. 2. Sumamur. Higene Perusahaan dan Kesehatan Kerja. Jakarta : PT. Toko Gunung Agung. 1996. 3. Siswanto, A. Winarni, Ririh. Alat Pelindung Diri. Surabaya : Balai Hiperkes dan Keselamatan Kerja. 1991.

4. Santoso, Gempur. Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Jakarta : Prestasi Pustaka. 2004. 5. Green, Lawrence, Marshal W. Kreuter, Sigrid G Deeds, Kay B. Patridge. Health Promotion Today and a Framework for Planning. Palo Alto, CA : Mayfield. 1986. 6. Saryono. Metodologi Penelitian Kesehatan, Penuntun Praktis Bagi Pemula. Yogyakarta : Mitra Cendekia. 2008. 7. Sugiyono. Statistik Untuk Penelitian. Alfabeta : Jakarta. 2002. 8. Kurniawan, Albert. Belajar Mudah SPSS Untuk Pemula. Yogyakarta : Mediakom. 2009. 9. Walgito, Bimo. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta : Penerbit Andi. 2002. 10. Helmi. Pengaruh Dukungan Sosial Keluarga terhadap Penyesuaian Diri di Masa Pensiun. Medan : USU Repository. 2008. (Diakses pada tanggal 8 Maret 2011) http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/17670/4/Chapter%20II.pdf 11. Isrianika. Kepatuhan Ibu Hamil dalam Mengkonsumsi Tablet Zat Besi. 2009. (Diakses pada tanggal 1 Maret 2011) http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/104/jtptunimus-gdl-isrianikag-5163-3-bab2.pdf 12. Bandjar, Edwin Mukri. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan Penggunaan Alat Pelindung Diri Pekerja Bagian Produksi Kulkas di PT. LG Tangerang Tahun 2005. Depok : FKM UI. 2006. 13. Yulianto, Endro Hari. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Penggunaan Alat Pelindung Diri dalam Menyemprot Hama di Desa Doplang Kecamatan Jati Kabupaten Blora [Skripsi]. Semarang : FKM UNDIP. 2004. 14. Prasetya, Albertus Ari Eka. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Pemakaian Alat Pelindung Diri pada Tenaga Pengelas Bengkel Las Teralis di Barito Semarang. Semarang : FKM UNDIP. 2007.