Você está na página 1de 18

AUTISME

I. DEFINISI
Autisme adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan jenis gangguan perkembangan pervasive pada anak yang mengakibatkan gangguan atau keterlambatan pada bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial. Yang akan mempengaruhi perkembangan anak baik fisik maupun mental. Autisme adalah perkembangan yang kompleks yang disebabkan oleh adanya kerusakan pada otak, sehingga mengakibatkan gangguan pada perkembangan komunikasi, perilaku, kemampuan sosialisasi, sensoris dan belajar. Biasanya, gejala sudah mulai tampak pada anak berusia dibawah 3 tahun (Ginanjar, 2001). Gangguan autistik atau autisme juga sering disebut autisme infatil. Gangguan ini merupakan salah satu dari kelompok gangguan perkembangan pervasive yang paling dikenal dan mempunyai cirri khas : Adanya gangguan yang menetap pada interaksi sosial, komunikasi, yang menyimpang, dan pola tingkah laku yang terbatas serta stereotip. Fungsi yang abnormal ini biasanya telah muncul sebelum usia 3 tahun. Lebih dari dua per tiga mempunyai fungsi di bawah rata-rata.

II. ETIOLOGI
Menurut Budiman ( kompas, 26-9-200 ), peningkatan kasus autisme belakangan ini, selain faktor kondisi dalam rahim seperti terkena virus toksoplamosis, sitomegalovirus, rubella atau herpes, dan faktor herediter, juga diduga karena pengaruh zat-zat beracun. Misalnya timah hitam ( Pb) dari knalpot kendaraan, cerobong pabrik, cat tembok; kadmiun ( Cd ) dari batu batere; serta air raksa (Hg) yang juga digunakan untuk menjinakkan kuman untuk imunisasi. Demikian pula antibiotk yang memusnahkan hampir semua kuman baik dan buruk di saluran pencernaan, sehingga jamur merajarela di usus. Logam logam berat yang menumpuk di tubuh wanita dewasa masuk ke janin lewat demineralisasi tulang, dan tersalur ke bayi melalui ASI. Menurut widyawati, yakni beberapa teori tantang penyebab autisme antara lain: Teori psikososial Kanner memepertimbangkan adanya pengaruh psikogenik sebagai penyebab autisme : orang tua yang emosional, kaku, dan obssesif, yang mengasuh anak mereka dalam suatu atmosfer yang secara emosional kurang hangat, bahkan dingin. Pendapat lain mengatakan adanya trauma pada anak yang disebabkan hostilitas yng tidak disadari dari ibu, yang sebenarnya tidak menghendaki anak ini. Ini mengakibatkan gejala penarikan diri dengan autisme. Menurut Bruno Bettelheim, perilaku orang tua dapat menimbulkan perasaan terancam pasa anak-anak. Teoriteori ini pada 1950-1960 sempat membuat hubungan dokter dengan orang tua mengalami krisis dan menimbulkan perasaan bersalah serta bingung pada para orang tua yang telah cukup berat bebannya dengan mengasuh anak dengan autisme. Teori biologis

Teori ini menjadi berkembang karena beberapa fakta seperti berikut : adanya hubungan yang erat dengan retardasi mental ( 75-80% ), perbandingan laki-laki : perempuan = 4 :1 , meningkatnya insiden gangguan kejang ( 25 %), dan adanya beberapa kondisi medis serta genetik yang mempunyai hubungan dengan gangguan ini. Hingga sekarang ini diyakini bahwa ganguan autisme merupakan suatu sindrom prilaku yang dapat disebabkan oleh berbagai kondisi yang mempengaruhi sistim saraf pusat. Namun demikian, sampai saat ini belum diketahui dengan pasti letak abnormalitasnya. Hal ini diduga karena adanya disfungsi dari batang otak dan mesolimbik. Namun, dari penelitian terakhir ditemukan kemungkinan adanya keterlibatan dari serebelum. Berbagai kondisi tersebut antara lain : 1. Faktor genetik hasil penelitian terhadap keluarga dan anak kembar menunjukkan adanya faktor genetik yang berperan dalam perkembangan autisme. Pada anak kembar satu telur ditemukan sekitar 36-89%, sedang pada anak kembar dua telur 0%. Pada penelitian terhadap keluarga ditemukan 2,5-3% autisme pada saudara kandung, yang berarti 50-100 kali lebih tinggi dibanding pada populasi normal. Penelitian terbaru menemukan adanya peningkatan gangguan psikiatik pada anggota keluarga dari penyandang autisme berupa peningkatan insiden gangguan afektif dan ansietas, juga peningkatan gangguan dalam fungsi sosial. Selain itu, juga telah ditemukan adanya hubungan antara autisme dengan sindrom fragile-S, yaitu suatu keadaan abnormal dari kromosom X. pada sindrom ini ditemukan kumpulan berbagai gejala, seperti retardasi mental dari yang ringan sampai yang berat, kesulitan belajar yang ringan, daya ingat jangka pendek yang buruk, fisik yang abnormal pada 80% pada laki-laki dewasa, clumsiness, serangan kejang, dan hiperefleksi. Sering pula tampak gangguan prilaku seperti hiperaktif, gangguan pemusatan perhatian, ompulsif dan ansietas. Gambaran autisme seperti tidak mau bertukar pandang, stereotip, pengulangna kata-kata, dan perhatian atau minat yang terpusat pada suatu objek sering ditemukan. Diduga terdapat 0-20% sindrom fragile X pada autisme. Walau demikian hubungna kedua kondisi tersebut masih diperdebatkan. 2. Faktor perinatal Komplikasi prenatal, perinatal dan neonatal yang meningkat juga ditemukan pada anak dengan autisme.komplikasi yang paling sering dilaporkan adalah adanya pendarahan setelah trimester pertama dan kontoran janin pada cairan amnion, yang merupakan tanda bahaya dari janin ( fetal distress ). Penggunaan obat-obatan tertentu pada ibu yang sedang mengandung diduga ada hubungan denga timbulnya autisme. Adanya komplikasi bersalin berupa terlambat menangis, gangguan pernafasan, anemia pada janin, juga diduga da hubungannya dengan autisme. 3. Model neuroanatomi berbagi kondisi neuropatologi diduga mendorong timbulnya gangguan prilaku pada anak autisme. Ada beberapa daerah di otak anak penyandang autisme yang diduga mengalami disfungsi. Adanya kesamaan perilaku autistic dan perilaku abnormal pada orang dewasa yang diketahui mempunyai lesi di otak, dijadikan dasar dari berbagai teori penyebab autisme.

4. Hipotesis neurokemistri sejak ditemukan adanya kenaikan kadar serotonin di dalam darah pada sepertiga anak autistic pada 1961, fungsi neurotransmitter pada autisme menjadi fokus perhatian banyak peneliti. Dengan anggapan bila fungsi neurokemistri yang ditemukan merupakan dasar dari perilaku dan kognitif yang abnormal, tentu dengan terapi obat diharapkan disfungsi neurotransmitter ini akan dapat dikoreksi. Beberapa jenis neurotransmitter yang diduga mempunyai hubungan dengan autisme antara lain serotonin, dopamin, dan opioid endogen. Teori imunologi Ditemukannya penurunan beberapa respon dari sistim imun pada beberapa anak autistik meningkatkan kemungkinan adanya dasar imunologis pada beberapa kasus autisme. Ditemukannya antibody beberapa ibu terhadap antigen lekosit anak mereka yang autisme, memperkuat dugaan ini, karena ternyata antigen lekosit juga ditemukan pada sel-sel otak. Dengan demikian, antibody ibu dapat secara langsung merusak jaringan saraf otak janin yang menjadi penyebab autisme. Infeksi virus Peningkatan frekuensi yang tinggi dari gangguan autisme pada anak-anak dengan kongenital rubella, herpes simplek ensefalitis, dan sitomegalovirus infection, juga pada anak-anak yang lahir selama musim semi dengan kemungkinan ibu mereka menderita influenza musim dingin saat mereka ada di dalam rahim, telah membuat para peneliti menduga infeksi virus ini merupakan salah satu penyebab autisme.

III. INSIDEN
Biasanya, autisme lebih sering ditemukan pada anak laki-laki dibanding anak perempuan, yaitu 4 : 1. dikatakan bahwa anak laki-laki lebih mudah mendapat gangguan fungsi otak, namun anak perempuan penyandang autisme biasanya mempunyai gejala yang lebih berat. Selain itu, pada tes inteligensi hasilnya lebih rendah dibanding anak laki-laki.

IV. MANIFESTASI KLINIS


1. Hambatan kualitatif dalam interaksi social interaksi social pada anak autisme dibagi dalam 3 kelompok, yaitu : a) menyendiri ( aloof ) : banyak terlihat pada anak-anak yang menarik diri, acuh tak acuh, dan akan kesal bila diadakan pendekatan sosial serta menunjukkan perilaku serta perhatian yang terbatas ( tidak hangat ). b) Pasif : dapat menerima pendekatan social dan bermain dengan anak lain jika pola permainannya disesuaikan dengan dirinya. c) Aktif tapi aneh : secara spontan akan mendekati anak lain, namun interaksi ini sering kali tidak sesuai dan sering hanya sepihak. Hambatan sosial pada anak autisme akan berubah sesuai dengan perkembangan usia. Biasanya, denagn bertambahnya usia maka hambatan tampak semakin berkurang. 2. Hambatan kualitatif dalam komunikasi verbal/nonverbal dan dalam bermain Keterlambatan dan abnormalitas dalam berbahasa serta berbicara merupakan keluhan yang sering, diajukan para orang tua, sekitar 50% mengalami hal ini :

Bergumam yang biasanya muncul sebelum dapat mengucapkan kata-kata, mungkin tidak tampak pada autisme. Sering mereka tidak memahami ucapan yang ditujukan pada mereka. Biasanya mereka tidak menunjukkan atau memakai gerakan tubuh untuk menyampaikan keiginannya, tetapi denagn mengambil tangan orang tuanya untuk mengambil objek yang di maksud. Mengalami kesukaran dalam memahami arti kata-kata serta kesukaran dalam menggunakan bahasa dalam konteks yang sesuai dan benar. Bahwa satu kata mempunyai banyak arti mungkin sulit untuk dapat mengerti oleh mereka. Anak autisme sering mengulang kata-kata yang baru saja mereka dengar atau yang pernah mereka dengar sebelumnya tanpa maksud untuk berkomunikasi. Bila bertanya sering menggunakan kata ganti orang dengan berbalik, seperti saya menjadi kamu dan menyebut diri sendiri sebagai kamu . Mereka sering berbicara pada diri sendiri dan mengulang potongan kata atau lagu dari televise dan mengucapkannya dimuka orang lain dalam suasana yang tidak sesuai. Penggunaan yang aneh atau dalam arti kiasan, seperti seorang anak berkata sembilan setiap ia melihat kereta. Anak- anak ini juga mengalami kesukaran dalam berkomunikasi walaupun mereka dapat berbicara dengan baik, karena tidak tau kapan giliran mereka giliran berbicara, memilih topik pembicaraan atau melihat kepada lawan bicaranya. Mereka akan terus mengulang-ualng pertanyaan biarpun mereka telah mengetahui jawabannya atau memperpanjang pembicaraan tentang topik yang mereka sukai tanpa memperdulikan lawan bicaranya. Bicaranya sering dikatakan monoton, kaku, dan memjemukan. Mereka juga sukar mengatur volume bicaranya. Kesukaran dalam mengekspresikan perasaan atau emosinya melalui nada suara Komunikasi non-verbal juga mengalami gangguan. 3. Aktivitas dan minat yang terbatas Abnormalitas dalam bermain terlihat pada anak autisme, seperti pada kebanyakan stereotip, diulang-ulang, dan tidak kreatif. Beberapa anak tidak mengguanakan mainannya dengan sesuai, juga kemampuannya untuk menggantikan suatu benda dengan benda lain yang sejenis sering tidak sesuai. Anak autisme menolak adanya perubahan lingkungan dan rutinitas baru. Mereka juga sering memaksa orangtua untuk mengulang suatu kata atau potongan kata.

4.

5.

6.

7.

8.

Dalam hal minat : terbatas, sering aneh, dan diulang-ulang. Misalnya mereka sering membuang waktu berjam-jam hanya untuk memainkan saklar lampu, memutar-mutar botol, atau mengingat-ingat rute kereta api. Mereka mungkin sulit dipisahkan dari suatu benda yang tidak lazim dan menolak meninggalkan ruamah tanpa benda tersebut, misalnya seorang anak lakilaki yang selalu membawa penghisap debu kemanapun dia pergi. Stereotip tampak pada hampir semua anak autisme, termasuk melompat turun naik, memainkan jari-jari tangannnya di depan mata, menggoyang-goyang tubuhnya atau menyeringai Mereka juga menyukai objek yang berputar, seperti mengamati putaran kipas angin atau mesin cuci. Gangguan kognitif Hampir 75-80% anak mengalami retardasi mental dengan derajat rata-rata sedang. Menarik untuk diketahui bahwa beberapa anak autisme menunjukkan kemampuan memecahkan masalah yang luar biasa, seperti mempunyai daya ingat yang sangat baik dan kemampuan membaca yang diatas batas penampilan intelektualnya. Sebanyak 50% dari idiot savants, yakni orang dengan retardasi mental yang menunjukkan kemampuan luar biasa, seperti menghitung kalender, memainkan satu lagu hanya dari sekali mendengar, mengingat nomor-nomor telepon yang ia baca dari buku telepon, adalah seorang penyandang autisme. Gangguan prilaku motorik Kebanyakan anak autisme menunjukkan adanya stereotip, seperti bertepuk-tepuk tangan dan menggoyang-goyangkan tubuh. Hiperaktif biasa terjadi terutama pada anak prasekolah. Namun, sebaliknya, dapat terjadi hipoaktif. Beberapa anak juga menunjukkan gangguan pemusatan perhatian dan impulsivitas. Juga didapatkan adanya koordiansi motorik yang terganggu, tiptoe walking, clumsiness, kesulitan belajar, menyikat gigi, memotong makanan, dan mengancingkan baju. Respon abnormal terhadap perangsangan indera Beberapa anak menunjukkan hipersensitivitas terhadap suara ( hiperakusis) dan menutup telinganya bila mendengar suara keras seperti suara petasan, gonggongan anjing, dan sirine polisi. Anak yang lain mungkin justru lebih tertarik dengan suara jam tangan atau remasan kertas. Sinar yang terang, termasuk sinar lampu sorot di ruang praktek dokter gigi, mungkin membuatnya tegang walaupun pada beberapa anak malah menyukai sinar. Mereka mungkin sangat sensitive pada sentuhan, memakai baju yang terbuat dari serat yang kasar seperti wol, atau baju dengan label yang masih menempel, atau berganti baju dari lengan pendek mengganti lengan panjang, semua iti dapat membuat mereka tempertantrums. Di lain pihak ada juga yang tidak pejka terhadap rasa sakit dan tidak menangis saat mengalami lika yang parah.anak mungkin tertarik pada rangsangan indera tertentu seperti objek yang berputar. Pola tidur terbalik dan gangguan makan. Gangguan tidur berupa terbaliknya pola tidur, terbangun tengah malam.gangguan makan berupa keengganan terhadap makanan tertentu karena tidak menyukai tekstur atau baunya, menuntut hanya makan jenis makanan yang terbatas, menolak mencoba makanan baru, dapat snagat menyulitkan orang tua. Gangguan afek dan mood

Beberapa anak menunjukkna perubahan mood yang tiba-tiba mungkin menangis atau tertawa tanpa alasan yang jelas.sering juga tampak tertawa sendiri, dan beberapa anak tampak mudah menjadi emosional. Rasa takut yang kadang-kadang muncul terhdap objek yang sebetulnya tidak menakutkan. Cemas perpiusahan yang berat, juga depresi berat mungkin ditemukan pada anak autisme. 9. Perilaku yang membahayakan diri sendiri dan agresvitas melawan orang lain Kemungkinan mereka mengigit tangan atau jari sendiri sampai berdarah, membenturbenturkan kepala, mencubit, menarik rambut sendiri, atau memukul diri sendiri. 10. Gangguan kejang Dapat kejang epilepsi pada sekitar 10-25% kena autisme. Ada korelasi antara serangan kejang dengan beratnya retardasi mental dan derajat disfungsi susunan saraf pusat.

V.

PATHWAY
Kelainan imunologi ibu
Prilaku orang tua (emosional, kaku, obsesif) Abnormalitas SSP,kerusakan serebrum

virus,zat beracun

Factor genetik

Lewat ASI Lewat demineralisasi tulang

Antibody ibu menyerang sel otak janin

Abnormalitas kromosom X Perasaan terancam

Masuk ke bayi Trauma pad anak Hambatanprilaku membahayakan kualitatif dalam Masuk ke janin risiko membahayakanjar.saraf janin kom.verbal/non verbal perhatian/minat terpusat 1 objek Hambatandiri/agresif komunikasi Merusak diri

Sindrom Fragile
Respon abnormal thd Ggn.kognitif,psikomotor, rangsangan indra dan afektif tuk makan Keengganan ansietas

AUTISME

Ggn.pemenuhan nutrisi

Risiko perubahan peran orang tua

VI. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK


Pemeriksaan medis yang dilakukan pada anak autisme adalah pemeriksaan fisik, pemeriksaan neuorologis, tes psikologis, tes pendengaran, tes ketajaman penglihatan, MRI (Magnetic Resonance Imaging), EEG (Electro Encephalogram), pemeriksaab sitogenetik untuk abnormalitas kromosom, pemeriksaan darah, dan pemeriksaan air seni.

VII. PENATALAKSANAAN

Tujuan terapi pada gangguan autisme adalah untuk mengurangi masalah perilaku serta meningkatkan kemampuan belajar dan perkembangannya, terutama dalam penggunaan bahasa. Tujuan ini dapat tercapai dengan baik melalui suatu program terapi yang menyeluruh dan bersifat individual, dimana pendidikan khususdan terapi wicara merupakan komponen yang penting. Suatu tim kerja terpadu yang terdiri dari tenaga pendidik, tenaga medis ( psikiater, dokter anak ), psikolog, ahli terapi wicara, pekerja social dan perawat, sangat diperlukan agar dapat mendeteksi dini, serta memberi penanganan yang sesuai dan tepat waktu. Semakin dini terdeteksi dan mendapat penanganan yang tepat, akan dapat tercapai hasil yang optimal. Pendekatan edukatif Anak dengan autisme seharusnya mendapatkan pendidikan khusus. Rencana pendidikan sebaiknya dibuat secara individulsesuai dengan kebutuhan masing-masing anak. Juga perlu diperhitungkan tidak hanya kelemahan anak ini, namun juga kekuatan yang mereka punyai, agar guru dapat mempertimbangkannya dalam memeberikan keterampilan baru. Yang terbaik bagi mereka adalah suatu bentuk pelatihan yang sangat terstruktur, sehingga kecil kesempatan bagi anak untuk melepaskan diri dari teman-temannya, dan guru akan segera bertindak bila melihat anak melakukan aktivitas sendiri. Latihan yang terstruktur ini juga mempermudah anak untuk dapat memperkirakan kemungkinan apa yang akan terjadi di sekitarnya. Idealnya, anak ikut serta pelatihan ini, dengan harapan ia dapat memperoleh kemampuan untuk bekerja sendiri. Pendekatan ini tentunya membutuhkan suatu kelas yang perbandingannya murid dan guru yang rendah. Dalam perjalanan bahasa, anak lebih mudah mengembangkan kemampuannya dalam berkomunikasi bila focus pembicaraan mengenai hal-hal yang ada dalam kehidupanseharihari. Pada beberapa anak dapat dicoba dengan melatih bahasa isyarat. Demikian pula dalam melatih ketrampilan social, hubungan timbal balik, memahami aturan-aturan social, memusatkan perhatian bila berada dalam suatu kelompok, dan kemampuan mengerjakan cara-cara yabg diajarkan oleh pembimbingnya, merupakan masalah-masalah yang kemungkinan dapat berhasil dicapai dalam program untuk remaja dan dewasa muda. Terapi perilaku Dengan modifikasi perilaku yang spesifik diharapkan dapat membantu anak autisme dalam mempelajari perilaku yang diharapkan membuang perilkau yang bermasalah. Dalam suatu penelitian dikatakan, dengan terapi yang intensif selama 1-2 tahun, anak yang masih muda ini dapat berhasil meningkatkan IQ dan fungsi adaptasinya lebih tinggi dibanding kelompok anak yang tidak memperoleh terapi yang intensif. Pada akhir dari terapi, sekitar 42% dapat masuk ke sekolah umum. Agresivitas yang cukup banyak ditemukan pada anak autisme, memerlukan penanganan yang spesifik, yakni : Anak : a. Ajari keterampilan berkomunikasi ( non-verbal ) b. Tingkatkan keterampilan social ( dengan peragaan ) Medis : a.Konsultasi endokrinologi : untuk mengatasi agresivitas seksual.

b.Konsultasi neurologi : untuk menyingkirkan adanya kejang lobus temporalis dan sindrom hipotalamik. Lingkungan : Lingkungan harus aman, teratur dan responsive. Sekolah : Periksa prestasi akademik yang diharapkan. Catat reaksi dari teman-teman. Coba kurangi tuntutan dan perubahan. Konsultasi dengan para ahli. Rumah : Bagaimana penerimaan keluarga terhadap anak ( orang tua dan saudarasaudaranya ). Catat tuntutan-tuntutan terhadap anak dan coba kurangi setiap perubahan rutinitas. Pembatasan ruang adalah penting. Konsultais dengan para ahli.

Bangkitkan rasa percaya diri pada anak : a. Bantu anak untuk melatih control diri : stop-lihat-dengar b. Praktikkan latihan relaksasi : napas dalam atau musik. c. Ajari mendeteksi bahaya. Kembangkan berbagai keterampilan sebagai pengganti agresivitas, seperti keterampilan social, berkomunikasi, kerjasama, menggunakan waktu senggang, dan berekreasi. Kurangi perubahan rutinitas yang mendadak. Hendaknya keluarga mempunyai rencana terhadap apa yang diharapkan dari anak di rumah : a. Rutinitas sehari hari pada pagi hari, sepulang sekolah, dan sore hari. b.Gunakan gambar-gambar untuk anak non-verbal dan mempunyai fungsi yang lebih rendah. Bagi anak dengan agresivitas yang berat : a.Pakai cara istirahat ( time out ) untuk meredakan dan dapat mengontrol diri lebih baik. b.Batasi reaksi emosional untuk menjadi agresif dengan berkata tidak atau stop. c. Gunakan alat bantu fisik untuk mengontrol anak. d. Koreksi terhadap akibat negatif yang dibuat anak. e.Pengendalian fisik terhadap agresivitas yang berat dan hilangnya control diri. f. Pastikan anak mempunyai rutinitas sehari-hari yang teratur. g.Semua teknik diatas harus digunakan dengan hati-hati dan dibawahsupervisi professional yang telah terlatih Teknik pencegahan timbulnya agresivitas : a. Bina hubungan yang kuat dengan anak. b. Pastikan anak mempunyai rutinitas yang teratur, terutama di rumah.

c. Tinjau kembali bermacam tuntutan terhadap anak. d. Bagaimana mengatur perubahan rutinitas ( sebelum/sesudah hari libur ). e. Jelaskan dan sipakan anak terhadap perubahan. f. Kurangi suara dan keributan disekitarnya. g.Buat rencana untuk hari-hari buruk dengan memilih suatu tempat yang tenang agar anak lebih tenang. h.Pergunakan relaksasi dan kontrol diri sebagai cara untuk memberi lebih banyak keterampilan pada anak. i.Pertemuan rutin dengan anggota tim agar mereka menyadari tanda-tanda agresivitas. j.Supervisi dan ahli jiwa yang terlatih dalam terapi perilaku kognitif. Psikoterapi Dengan adanya pengetahuan tentang factor bilogi pada autisme, psikodinamik psikoterapi yang dilakukan pada anak masih kecil, termasuk terapi bermain yang tidak terstruktur, adalah tidak sesuai lagi. Psikoterapi individual, baik dengan atau tanpa obat, mungkin lebih sesuai pada mereka yang telah mempunyai fungsi lebih baik, saat usia mereka meningkat, mungkin timbul perasaan cemas atau depresi ketika mereka menyadari kelainan dan kesukaran dalam membina hubungan dengan orang lain. VIII. PENGOBATAN Pada kelompok anak autisme dengan gejala-gejala seperti tempertrantums, agresivitas, melukai diri sendiri, hiperaktivitas, dan stereotip, pemberian obat-obatan yang sesuai dapat merupakan salah satu bagian dari program terapi komprehensif. Pemeriksaan yang lengkap dari kondisi fisik dan laboratorium harus dilakukan sebelum memulai pemberian obatobatan. Periode istirahat dari obat, setiap 6 bulan di anjurkan untuk menilai apakah obat masih diperlukan dalam terapi. Obat-obatan yang digunakan antara lain : Antipsikotik : untuk membelok reseptor dopamine. Fenfluramine : untuk menurunkan serotonin. Nalterxone : untuk anatagonis opioida. Simpatonimetik : untuk menurunkan hiperaktivitas. Clomipramine : untuk anti depresan. Clonidine : untuk menurunkan aktivitas noradregenik.

IX. PROGNOSIS
Hasil penelitian menemukan bahwa : Dua per tiga dari anak autisme mempunyai prognosis yang buruk : tidak dapat mandiri. Seperempat dari anak autisme mempunyai prognosis yang sedang : terdapat kemajuan di bidang sosial dan pendidikan, walaupun ada problem perilaku. Sepersepuluh dari anak-anak autisme mempunyai prognosis yang baik : mempunyai kehidupan social yang normal atau hampir normal dan berfungsi dengan baik di sekolah ataupun ditempat kerja.

X.

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian Psikososial Menarik diri, dan tidak responsif terhadap orangtua Memiliki sikap menolak perubahan secara ekstrem Keterikatan yang tidak pada tempatnya dengan objek Perilaku menstimulasi diri Permainan stereotype Perilaku destruktif terhadap diri sendiri dan orang lain Peka terhadap suara-suara yang lembut bukan pada suatu prmbicaraan Kemampuan bertutur kata menurun. Menolak mengkonsumsi makanan yang tidak halus Neurologis Respon yang tidak sesai terhadap stimulus Reflek menghisap buruk Tidak mampu menangis ketika lapar. Gastrointestinal Penurunan nafsu makan Penurunan berat badan 2. Diagnosa keperawatan
1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan

penurunan nafsu makan 2. Hambatan komunikasi yang berhubungan dengan kebingungan terhadap stimulus 3. Risiko membahayakan diri sendiri atau orang lain berhubungan dengan rawat inap di rumah sakit 4. Risiko perubahan peran orang tua berhubungan dengan gangguan yang terjadi

3. Rencana keperawatan

No. 1.

Tujuan dan Kriteria Hasil Ketidakseimbangan Setelah diberikan asuhan nutrisi kurang dari keperawatan diharapkan kebutuhan tubuh kebutuhan nutrisi pasien berhubungan dengan dapat terpenuhi dengan penurunan nafsu makan criteria hasil intake nutrisi adekuat, tidak ada tandatanda malnutrisi, berat badan dalam rentang normal

Diagnosa

Intervensi a. Laktosa dan protein dibatasi b. Konsultasikan makanan klien dengan ahli gizi c. Berikan makanan pilihan, makanan halus d. Berikan makanan dengan porsi kecil tapi sering a. Ketika berkomunikasi dengan anak bicaralah dengan kalimat singkat yang terdiri dari 1 hingga 3 kata dan ulangi perintah sesuai yang diperlukan

Rasional a. Klien dengan autisme memiliki masalah pada metabolisme dan pencernaan laktosa dan protein b. Menyesuaikan kebutuhan gizi klien c. Klien autis menolak memakan-makanan yang tidak halus d. Meningkatkan intake makanan a. Kalimat yang sederhana dan berulang-ulang mungkin merupakan satu-satunya cara berkomunikasi karena anak autistic mungkin tidak mampu mengembangkan tahap pikiran operasional yang konkrit. Kontak mata

Hambatan komunikasi yang berhubungan dengan kebingungan terhadap stimulus

Setelah diberikan asuhan keperawatan hambatan komunikasi pada anak dapat teratasi dengan criteria hasil anak dapat mengkomunikasikan kebutuhannya dengan menggunakan kata-kata atau gerakan tubuh yang sederhana, konkrit (keinginan akan makan tidur dan kenyamanan)

b. Gunakan irama, music dan gerakan tubuh untuk membantu perkembangan komunikasi sampai anak dapat memahami bahasa c. Bantu anak mengenali hubungan antara sebab dan akibat dengan cara menyebutkan perasaannya yang khusus dan mengidentifikasi penyebab stimulus bagi mereka d. Ketika berkomunikasi dengan anak, bedakan kenyataan dengan fantasi, dalm pernyataan yang singkat dan jelas

langsungmendorong anak berkosentrasi pada pembicara serta menghubungkan pembicaraan dengan bahasa dan komunikasi karena artikulasi anak yang tidak jelas bahasa tubuh dapat menjadi satu-satunya cara baginya untuk mengkomunikasikan pengenalan atau pemahaman terhadap isi pembicaraan b. Gerakkan fisik dan suara membantu anak mengendali integritas tubuh serta batasanbatasannya sehingga mendorongnya terpisah dari orang lain. c. Memahami konsep penyebab dan efek membantu anak membangun kemampuan untuk terpisah dari objek serta orang lain dan mendorongnya mengekspresikan

d. e. Sentuh dan gendong bayi, tetapi semampu yang dapat ditoleransi

e.

3.

Risiko membahayakan diri sendiri atau orang lain berhubungan dengan rawat inap di rumah sakit

Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan anak tidak melakukan tindakan yang dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain dengan criteria hasil anak memperlihatkan penurunan kecenderungan melakukan kekerasan atau

a. Sediakan lingkungan kondusif dan sebanyak mungkin rutinitas sepanjang periode perawatan di rumah sakit

a.

b. Lakukan intervensi keperawatan dalam sesi singkat dan sering.

b.

kebutuhan serta perasaannya melalui kata-kata Biasanya anak autisik tidak mampu membedakan antara realita dan fantasi dan gagal untuk mengenali nyeri atau sensasi lain serta peristiwa hidup dengan cara bermakna. Menekan perbedaan antara realitas dan fantasi membantu anak mengekspresikan kebutuhan serta perasaannya Menyentuh dan menggendong mungkin tidak membuat anak autis merasa nyaman Anak yang autistic dapat berkembang melalui lingkungan yang kondusif dan rutinitas dan biasanya tidak dapat beradaptasi terhadap perubahan dalam hidup mereka Sesi yang singkat dan sering memungkinkan

perilaku merusak diri sendiri

Dekati anak dengan sikap lembut, bersahabat, dan jelaskan apa yang anda akan lakukan dengan kalimat yang jelas, dan sederhana. Apabila dibutuhkan, demonstrasikan prosedur kepada orang tua

c. Gunakan restrain fisik selama prosedur ketika membutuhkannya, untuk memastikan keamanan anak dan untuk mengalihkan amarah dan frustasinya d. Gunakan tehnik modifikasi perilaku yang tepat untuk menghargai perilaku positif dan menghukum prilaku yang negative e. Ketika anak berperilaku destruktif tanyakan apakah ia mencoba menyampaikan sesuatu, misalnya apakah ia ingin sesuatu untuk dimakan.

anak mudah mengenal peawat serta lingkungan rumah sakit. Mempertahankan sikap tenang, ramah dan mendemonstrasikan prosedur pada orang tua, dapat membantu anak menerima intervensi sebagai tindakan yang tidak mengancam, dapat mencegah perilaku destruktif c. Restrain fisik dapat mencegah anak dari tindakan mencederai diri sendiri d. Pemberian imbalan dan hukuman dapat membantu mengubah perilaku anak dan mencegah episode kekerasan e. Setiap peningkatan perilaku agresif menunjukan perasaan stress meningkat, kemungkinan muncul

4.

Risiko perubahan peran orang tua berhubungan dengan gangguan yang terjadi

Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan perubahan peran orang tua dapat teratasi dengan criteria hasil orang tua mendemonstrasikan ketrampilan peran menjadi orang tua yang tepat

a. Anjurkan orang tua untuk mengekspresikan perasaan dan kekhawatiran mereka

b. Rujuk orang tua kekelompok pendukung autism setempat dan kesekolah khusus jika diperlukan

c. Anjurkan orang tua untuk mengikuti konsling

dari kebutuhan untuk berkomunikasi a. Membiarkan orang tua mengekspresikan perasaan dan kekhawatiran mereka tentang kondisi kronis anak membantu mereka beradaptasi terhadap frustasi dengan lebih baik b. Kelompok pendukung memperbolehkan orang tua menemui orang tua dari anak yang menderita autis untuk berbagi informasi dan memberikan dukungan emosional c. Kontak dengan kelompok swabantu membantu orang tua memperoleh informasi tentang masalah terkini, dan prkembangan yang berhubungan dengan autism.

4. Evaluasi 1. Intake nutrisi adekuat, tidak ada tanda-tanda malnutrisi, berat badan dalam rentang 2. Anak dapat mengkomunikasikan kebutuhannya dengan menggunakan kata-kata atau gerakan tubuh yang sederhana, konkrit (keinginan akan makan tidur dan kenyamanan) 3. Anak memperlihatkan penurunan kecenderungan melakukan kekerasan atau perilaku merusak diri sendiri 4. Orang tua mendemonstrasikan ketrampilan peran menjadi orang tua yang tepat

DAFTAR PUSTAKA

Masra, Ferizal. 2008. Autisme : Gangguan Perkembangan Anak. Available from : URL : http : // www. tempointeraktif. com/ Medika arsip hor-1. htm . Andriani Yusuf, Elvi. 2008. Autisme : Masa Kanak. Available from : URL : http : // library. usu. ac.id / download/ fk / psikologi-elvi. pdf. Astuti, Idayu. 2006. Mengenal Autisme dan terapinya. Available from : URL : http : // www. ditplb. or. id. Accessed, March, 27, 2008. Autisme. http : // meddlinux. Blogspot.com. Informasi Mengenai Autisme dan Pendidikannya. http : // www. tootiekidzcenter. blogspot.com Morgan Speer, Kathleen.2008. Rencana Asuhan Keperawatan Pediatric. Jakarta: EGC