Você está na página 1de 3

Rini Andriantika lestari 110.2007.235 Tugas jurnal reading obgyn .

Pemeliharaan kehamilan dan persalinan : peran prostaglandin dan memanipulasi imun dan respon inflamasi.

Respon inflamasi dapat dilihat sebagai efektor sistem imun, yang dapat diaktivasi secara independen. Pada jaringan non reproduksi, glukosteroidlah yang mengontrol sistem tersebut. Namun selama kehamilan terutama pada organ uterus, kemungkinan besar progresteron dengan fungsi imunosupresif dan anti inflamasinya berperan terhadap pengaturan respon anti-inflamasi. Prostaglandin pada kehamilan berfungsi untuk mencegah katabolisme yang berlangsung cepat,namun dapat juga mengakhiri kehamilan dan menginisiasi persalinan. Prostaglandin diperlukan untuk mekanisme normal dalam menjaga homeostatic intraseluler, terutama antar sel yang berhubungan dengan sistem imun terutama imunitas mukosa. Prostaglandin pada kehamilan berada dalam cairan amnion. Walaupun amnion tidak terlibat dalam proses inisiasi persalinan, jaringan desidua merupakan jaringan yang lebih terlibat dalam proses inisiasi karena merupakan sumber kaya prostaglandin dan sitokin. PG yang berasal dari desidua akan merangsang jaingan myometrium karena dekat dengan jalur vaskularisasi ke desidua. Produksi PG dalam desidua diketahui distimulasi oleh sitokin atau growth faktor atau aksi sinergis keduanya. Kemungkinan proses persalinan dirangsang oleh respon inflamasi dari PG. Effek antiprofestin : control melalui PG dehidrogenase (PGDH) PGDH diperkirakan berada di bawah control progresteron dalam jaringan reproduktif dan oleh karena itu, aksi dari antiprogresteron seperti RU486 pada PGDH menarik perhatian. Endometrium manusia mendapatkan aktifitas PGDH yang tinggi dan myometrium yang tidak hamil juga tinggi. PGDH pada awal kehamilan memiliki kadar tertinggi pada chorion, desidua dan plesenta. Antiprogrestin secara umum digunakan sebagai metode medis untuk menginduksi aborsi. Pemberian antiprogestin merangsang sensitifitas myometrium terhadap prostaglandin. Sehingga terjadi penyepitan pembuluh darah dan menyebabkan kerusakan jaringan/kematian sel. Progresteron essensial untuk memelihara kehamilan dan hasilnya telah diinterprestasikan sebagai penghabat terhadap myometrium. Pean lain progresteron yaitu sebagai pencegahan terhadapa

penolakan imun terhadap fetus, supresi produksi PG endometrial, dan pemelihara pertumbuhan uterin. Beberapa penelitian melaporkan bahwa progresteron dan agonisnya mempunyai effek imunosupresiif dan antiinflamasi. Sifat antiinflamasi dari progresteron sebagian besar tergantung dari kerjanya dalam pembuluh darah. Bukti telah disebutkan bahwa progresteron menghambat konsentrasi effektif PGE secara perivaskular di desidua dan supresi kortisoldependen serupa dapat terjadi di pembuluh darah non-reproduktif.

Pematangan serviks Organ serviks terdiri dari kolagen yang tertanam dalam substansi dasar yang terdiri dari atas GAG, pembuluh darah dan fibroblast. Dermatam sulfat adalah komponen GAG utama servikdengan jumlah heparin sulfat dan asam hyaluronik yang lebih sedikit. Dermatan sulfat terikat erat ke serat kolagen yang menyebabkan servik menjadi kaku. Mendekati mesa melahirkan , komponen asam hyaluronik meningkat sedangkan konsetrasi dermatan sulfat menurun, mengakibatkan retensi air pada servik, sehingga servik menjadi lunak (dilatasi) dan menipis. Dilatasi dan penipisan (pematangan ) serviks merupakan prasyarat untuk proses persalinan normal. Diketahui neutrofil juga berperan dalam pematangan servik. Kegunaan PGE sebagai alat klinis untuk pematangan serviks mengindikasikan bahwa PG mungkin terlibat dalam mekanisme pematangan serviks. Jika pematangan serviks di induksi oleh infiltrat neutrofil, maka penjelasan yang mungkin dapat dijelaskan yaitu peran PGE pada serviks yang aterm yang melibatkan aksi PG pada effek vascular yang di induksi oleh mediaor IL-8. Penggunaan klinis antiprogrestin seperti RU486 menyebabkan pematangan pada serviks. Progresteron dapat menginhibisi produksi IL-8. Selain itu, antiprogrestin dapat meningkatkan PG yang tersedia dengan membatasi kerusakan.

ENDOKRINOLOGI DALAM PROSES MELAHIRKAN Pengendalian waktu dari proses persalinan merupakan hal yang kompleks dan melibatkab interaksi antara ibu, janin dan plasenta serta membranya. Bukti menyatakan bahwa beberapa aksi kerja parakrin/autokrin, perubahan hormone janin dan kondisi ibu dapat mengendalikan beberapa mekanisme untuk menginduksi terjadinya proses melahirkan. Ada dua mekanisme yang terdaji pada sistem reproduksi wanita yang menyebabkan terjadinya prosees melahirkan,: pertama, uterus yang semula menetap berubah menjadi organ yang berkontraksi seara terkoordinir, kedua, jaringan dan otot polos di daerah serviks harus dapat berdilatasi/meregagng untuk memungkinkan jalanya fetus keluar dari dalam uterus.

Esterogen

Esterogen merupakan salah satu yang terpenting untuk perkembangan dan fungsi uterus. esterogen juga penting untuk pematangan serviks. Progesteron

Selama masa kehamilan, plasenta menjadi sumber utama dalam menghasilkan progesterone. Oksitosin

Oksitosin memegang peranan penting dalam induksi persalinan. Diproduksi di dalam uterus. infuse oksitosin berfungsi untuk merangsang terjadinya kontraksi dan proses persalinan Prostaglandin

Prostaglandin terlibat dalam proses akhir dari kontraksi uterus dan proses melahirkan. Prostaglandin dihasilkan di plasenta dan membrane fetus. CRH

CRH merupakan hormone pada hipotalamusyang berfungsi untuk mengontrol aktivitas ACTH. CRH menstimulasi produksi ACTH fetus. Relaksin

Relaksin adalah sejenis hormone peptide yang merupakan golongan insulin. Relaksin merupakan produk dari korpus luteum, plasent, dan desidua.