Você está na página 1de 36

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Subsidi pada hakikatnya merupakan instrument fiscal yang bertujuan untuk memastikan terlaksanakannya peran Negara dalam aktivitas ekonomi guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara adil dan merata. Skema ini kian penting tatkala negara (pemerintah) telah mengurangi perannya secara signifikan dalam aktivitas ekonomi, sehingga pemerintah yang

berposisi sebagai regulator layak mengeksekusi pemberian subsidi. Oleh karena itu, subsidi sebagai instrumen fiskal ini kadang kala juga disebut sebagai salah satu skema untuk mengurangi dampak kegagalan pasar (market failure). Dalam kerangka ini, subsidi pasti diperuntukkan bagi sektor ekonomi yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Walaupun dalam implementasi di berbagai negara sektor-sektor ekonomi yang diberikan subsidi itu memiliki perbedaan, namun secara umum sektor ekonomi tersebut bagi pemerintah masing-masing merupakan sektor ekonomi yang paling penting. Bagi negara-negara maju, sektor pertanian merupakan salah satu sektor ekonomi utama yang mendapatkan subsidi. Pemilihan sektor ini bukan tanpa dasar, karena dibandingkan sektor ekonomi lainnya, sektor pertanian di negara-negara maju memiliki daya saing yang relatif kurang baik. Oleh karena itu, sebagai bagian integral untuk memproteksi serbuan produk pertanian asing sekaligus memastikan eksistensi sektor pertanian domestik, maka subsidi pertanian tersebut diberikan. Dengan begitu, tampak bahwa subsidi pertanian selain sebagai salah satu strategi untuk melaksanakan internasional perdagangan

juga lebih bermakna meningkatkan produktivitas masyarakat daripada memenuhi

kebutuhan konsumsi semata. Kenyataan ini tentu berbeda dengan realitas yang ada di negara berkembang, di

mana mayoritas subsidi yang diberikan oleh pemerintah bukan untuk sektor pertanian. Di Indonesia sendiri, porsi terbesar atas subsidi diberikan dalam bentuk subsidi bahan bakar minyak (BBM). Dalam satu dekade terakhir, porsi subsidi BBM selalu lebih dari 50 persen terhadap total subsidi yang diberikan oleh pemerintah. Penumpukan subsidi BBM ini kian besar tatkala pada sisi

penawaran terjadi penurunan lifting minyak domestik secara konsisten dalam sepuluh tahun terakhir dan di sisi permintaan terus naiknya pertumbuhan konsumsi BBM (terutama oleh kendaraan bermotor). 1

Bahan bakar minyak (BBM) merupakan energi yang tidak terbarukan yang terbentuk dari fosil di dalam perut bumi dan di abad modern ini telah menjadi salah satu kebutuhan primer yang penting bagi penduduk dunia. Di Indonesia konsumsi BBM menunjukkan trend yang meningkat setiap tahun dimana saat ini mencapai 1,3 juta barrel perhari. Sedangkan produksi nasional saat ini berkisar 950.000 barrel perhari. Sementara itu angka pertumbuhan konsumsi BBM yang tercatat sekitar 6% pertahun memberikan tekanan berat terhadap pendapatan dan belanja negara (APBN). Melonjaknya volume pemakaian BBM disebabkan pengaturan alokasi BBM bersubsidi yang selama ini berjalan tidak tepat sasaran karena sebagian jatuh ke pihak yang sebenarnya tidak berhak, karena sebenarnya subsidi tersebut dinikmati oleh kelompok masyarakat menengah ke atas sehingga dirasakan tidak pantas dan tidak adil. Penerapan kebijakan subsidi memang sangat membantu pemerintah untuk mengurangi pengeluaran APBN. Tapi seperti biasa kebijakan pemerintah selalu saja membawa dampak bagi perekonomian. Terdapat faktor yang mempengaruhi peningkatan konsumsi BBM di dalam negeri. Adapun faktor-faktor tersebut antara lain : 1. Bertambahnya penggunaan kendaraan bermotor baik roda 4, bis, truk, maupun roda 2. 2. Penambahan mesin-mesin industri bagi pihak perusahaan (terutama swasta). 3. Energi pembangkit listrik yang baru yang tentunya memerlukan pasokan BBM sebagai bahan bakar. Dengan kebijakan yang dimunculkan oleh pemerintah pada BBM menyebabkan pihak swasta harus merogoh sakunya lebih dalam lagi untuk membeli BBM dan akibatnya perusahaan harus mengurangi tenaga kerjanya untuk menutupi biaya operasional. Kalau sudah begini tambah banyak lagi pengangguran, kalau pengangguran sudah semakin banyak, kita tunggu saja akibat yang lebih parah, semoga tidak akan timbul, yakni meningkatnya angka pelanggaran-pelanggaran kriminalitas. Selain masalah subsidi terutama subsidi BBM, APBN juga terbebani oleh pengeluaran negara yang bertujuan dengan pelayanan publik yang tanpa biaya atau gratis. Penyelenggaraan pelayanan

publik sebagai bagian dari tugas pokok bagi aparatur pemerintah, dalam pelaksanaannya membutuhkan suatu sistem yang dapat secara efektif menjamin penyelenggaraannya sesuai dengan kebutuhan dan harapan masyarakat. Untuk itu perlu dilakukan suatu upaya yang berkesinambungan dalam menjaga kualitas penyelenggaraannya melalui pengukuran kinerja pelayanan yang bersangkutan. Berdasarkan latar belakang diatas maka paper ini akan membahas dampak atau pengaruh subsidi BBM dan pelayanan publik yang gratis terhadap anggaran dan perekonomian.

1.2. Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang masalah yang dijelaskan di atas, maka rumusan masalah sebagai berikut : 1. Apa definisi subsidi dan pelayanan ? 2. Bagaimana kebijakan pemerintah tentang subsidi BBM ? 3. Apa saja pengaruh yang ditimbulkan dari kebijakan subsidi BBM baik terhadap anggaran maupun terhadap perekonomian? 4. Apa saja pengaruh yang ditimbulkan akibat pelayanan pemerintah yang bebas biaya atau gratis terhadap anggaran dan perekenomian?

1.3. Tujuan Penulisan


Untuk Memenuhi tugas pertemuan kelima mata kuliah akuntansi majemen sektor pemerintah.

BAB II LANDASAN TEORI


A. Pelayanan Publik
Pelayanan publik adalah pelayanan yang diberikan bagi masyarakat oleh pemerintah yang berupa pelayanan administrasi, pengembangan sektor unggulan dan penyediaan barang dan jasa seperti rumah sakit, pasar, pengelolaan air bersih, perumahan, tempat pemakaman umum, perparkiran, persampahan, pariwisata dan lain- lain. Pelayanan publik menjadi sebuah tanggungjawab pemerintah baik di pusat maupun di daerah (penjelasan Pasal 4 PP No.50 tahun 2007 tentang tata cara pelaksanaan Kerjasama Daerah). Pelayanan publik adalah segala kegiatan dalam rangka pemenuhkan kebutuhan dasar sesuai dengan hak-hak dasar setiap warga nergara dan penduduk atas suatu barang, jasa dan atau pelayanan administrasi yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan yang terkait dengan kepentingan publik. Seiring dengan diberlakukanya otonomi daerah dan semakin kuatnya demokratisasi pada saat ini, maka tuntutan akan tanggung jawab pelayanan publik juga semakin kuat dan terbuka. Pelayanan publik merupakan suatu pelayanan yang diamanahkan oleh bangsa dan Negara untuk diselenggarakan oleh aparatur pemerintah sebagaimana tertuang dalam UUD 1945. Untuk itu kinerja dalam pengelolaan pelayanan publik menjadi sebuah ukuran kinerja pemerintah daerah, terutata Kepala daerahnya. Dalam berbagai kesempatan, tidak sedikit masyarakat yang menyampaikan ketidakpuasannya atas kinerja pelayanan publik. Masyarkat menuntut

penyelenggaraan pengelolaan pelayanan publik dapat lebih responsif, transparan, partisipatif dan akuntabel terhadap kebutuhan masyarakat. Aparatur penyelenggara pelayanan publik diharapkan dapat menyediakan pelayanan yang sesuai dengan harapan dan keinginan masyarakat, yaitu pelayanan yang berkualitas. Namun demikian, pada implementasinya penyelenggaran pelayanan publik masih jauh dari harapan masyarakat. Seringkali respon atas permasalahan yang muncul dalam pelayanan publik hanya ditindaklanjuti terbatas pada perencanaan dan penganggaran. Kenyataan yang ada adalah, penyediaan anggaran saja tidaklah cukup dan masih banyak menyisakan persoalan.

Kompleksitas masalah dalam pelayanan publik disebabkan oleh beberapa hal, yaitu: i. Sumber daya aparatur yang kurang memiliki kompetensi dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya serta tidak memiliki perspektif kinerja yang kondusif bagi perbaikan kualitas pelayanan melainkan lebih terfokus pada paradigma lama yaitu kekuasaan, uang dan jabatan. ii. iii. Birokrasi dalam proses pelayanan publik terlalu berbelit belit, rumit dan panjang Proses pengadaan bang dan jasa yang terkait dengan pelayanan publik yang tidak transaparan dan tidak akuntabel. iv. Sistem pengawasan nasional yang buruk. Pengawasan lebih terfokus pada keuangan, dan bukan pada pengawasan ouput dan impact dari penyelenggaraan sebuah kegiatan v. Fungsi pemerintahan yang masih tumpang tindih dan tidak terkoordinasi.

Dari kondisi tersebut, dapat terlihat bahwa kualitas pelayanan masih terpusat pada peningkatan kondisi bagi penyelenggara pelayanan dan bukan pada pengguna pelayanan. Padahal pada haketanya pengertian kualitas pelayanan lebih berpusat pada upaya pemenuhan kebutuhan dan keinginan pelanggan serta ketepatan penyampaiannya untuk mengimbangi harapan pelanggan. Kualitas pelayanan tergantung pada kemampuan penyedia jasa dalam memenuhi harapan konsumennya secara konsisten.

Kebijakan Pelayanan publik


Penyelenggaraan pelayanan publik tentu tidak dapat berjalan dengan baik apabila tidak ada suatu pedoman yang mengaturnya. Harapan dari seorang pengguna pelayanan atas pelayanan publik yang diselenggarakan adalah pelayanan yang berkualitas baik. Peningkatkan kualitas pelayanan public tidak berarti hanya meningkatkan kapasitas atau menambah jumlah semata. Namun perlu penekanan pada pentingnya sistem pengelolaan pelayanan yang baik. Dalam hal ini, adanya suatu aturan atau kebijakan kondusif yang dapat menambah dukungan terhadap terwujdunya suatu pelayanan publik yang baik sangat diperlukan.

Pelayanan publik gratis


Kebijakan pelayanan publik gratis diilhami dari lahirnya Undang-Undang No.32 tahun 2004 yang merupakan pembaharuan dari UU No 22 /1999 tentang Otonomi Dae- rah yang memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah untuk mengurus daerahnya sendiri secara mandiri atau yang dikenal dengan istilah Otonomi Daerah. Otonomi daerah menurut UU No 22/1999 adalah kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat, sesuai dengan

perundang-undangan. Dengan otonomi daerah, sebagian besar kewenangan yang tadinya berada di pemerintah pusat berpindah ke daerah otonom (Kabupaten/Kota). 5

B. Subsidi Sekilas Tentang Subsidi di Indonesia


Pengertian subsidi berdasarkan KBBI adalah bantuan uang dan sebagainya kepada yayasan, perkumpulan, dan sebagainya (biasanya dari pihak pemerintah), subsidi silang berarti subsidi dari pemerintah (atau badan swasta) kepada yang kurang mampu yang berasal dari mereka yang mampu (misal harga bensin naik banyak dengan maksud untuk memberi subsidi kepada pemakai minyak tanah yang kurang yang umumnya rakyat kurang mampu; ongkos pasien kaya ditinggikan untuk memba dicari upaya untu menumbuhkan subsidi silang antara pasien yang mampu dan pasien yang kurang mampu. Jadi disimpulkan subsidi adalah sebuah pembayaran oleh pemerintah untuk produsen , distributor dan konsumen bahkan masyarakat dalam bidang tertentu.Misalnya untuk mencegah penurunan dari industri (misalnya, sebagai hasil dari operasi yang tidak menguntungkan terus menerus) atau kenaikan harga produknya atau hanya untuk mendorong untuk mempekerjakan tenaga kerja yang lebih (seperti dalam kasus subsidi upah). Contohnya adalah subsidi ekspor untuk mendorong penjualan ekspor; subsidi pada beberapa bahan makanan untuk menekan biaya hidup, subsidi harga Bahan bakar minyak, dan subsidi pertanian untuk mendorong perluasan produksi pertanian dan mencapai kemandirian dalam produksi pangan. Subsidi dapat dianggap sebagai suatu bentuk proteksionisme atau penghalang perdagangandengan memproduksi barang dan jasa domestik yang kompetitif terhadap barang dan jasa impor. Subsidi dapat mengganggu pasar dan memakan biaya ekonomi yang besar. Bantuan keuangan dalam bentuk subsidi bisa datang dari suatu pemerintahan, namun istilah subsidi juga bisa mengarah pada bantuan yang diberikan oleh pihak lain, seperti perorangan atau lembaga non-pemerintah. Subsidi pada hakikatnya merupakan instrument fiskal yang bertujuan untuk memastikan terlaksananya peran Negara dalam aktivitas ekonomi guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara adil dan merata. Dalam kerangka ini, subsidi pasti diperuntukan bagi sektor ekonomi yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Walaupun dalam implementasi di berbagai Negara sektor-sektor ekonomi yang diberikan subsidi itu memiliki perbedaan, namun secara umum sektor ekonomi tewrsebut bagi pemerintah masingmasing merupakan sektor ekonomi yang paling peting. Bagi Negara-negara maju, sektor pertanian merupakan salah satu sektor ekonomi utama yang mendapat subsidi. Pemilihan sektor ini bukan tanpa dasar, karena dibandingkan dengan sektor ekonomi lainnya. sektor pertanian di Negaranegara maju memiliki daya saing yang relatif kurang baik. Oleh karena itu sebagai bagian terpadu 6

untuk melindungi serbuan produka asing sekaligus memastikan keberadaan sektor pertanian domestic, maka subsidi pertanian tersebut diberikan. Dengan begitu, tampak bahwa subsidi pertanian selain sebagai salah satu strategi untuk melaksanakan perdagangan internasional juga lebih bermakna meningkatkan produktivitas masyarakat daripada memenuhi kebutuhan konsumsi semata. Kenyataan ini tentu berbeda dengan realitas yang ada di Negara berkembang, dimana mayoritas subsidi yag diberikan pemerintah bukan untuk sektor pertanian. Di Indonesia sendiri, porsi terbesar atas subsidi diberikan dalam bentuk subsidi bahan bakar minyak (BBM). Dalam satu dekade terakhir, porsi subsidi BBM cukup besar dari total subsidi yang diberikan oleh pemerintah. Penumpukan subsidi BBM ini kian besar tatkala pada sisi penawaran terjadi penurunan minyak domestic secara konsisten sepuluh tahun terakhir dan disisi permintaan terus naiknya pertumbuhan konsumsi BBM (terutama kendaraan bermotor). Dan subsidi BBM ini sangat mudah terpengaruhi oleh harga minyak dunia yang pada tahun 2008. Walaupun subsidi BBM tergolong kategori subsidi konsumsi yang belum pasti memberikan imbas positif terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat kelas bawah, namun bukan lantas pemberian subsidi BBM yang sangat besar ini tidak memiliki dasar yang kuat. Bagi pemerintah, setidaknya ada dua penyebab atas dieksekusinya subsidi BBM. Pertama, BBM merupakan komoditas utama yang memiliki dampak pengganda strategis bagi perekonomian nasional, sehingga ketika subsidi BBM dikurangi yang mengakibatkan kenaikan harga BBM, secara langsung dan tidak langsung pasti akan memberikan tekanan terhadap perekonomian nasional. Membentang dari sisi moneter (naiknya inflasi secara drastis), terjadinya ketidakstabilan pasar modal jangka pendek, meningkatnya angka kemiskinan dan pengangguran, tergerusnya iklim investasi, sampai dengan melambatnya pertumbuhan ekonomi. Kedua, selama Sembilan tahun terakhir (sejak era demokrasi) BBM bukan lagi murni sebagai komoditas ekonomi, tetapi telah menjadi komoditas politik, sehingga ketika subsidi BBM dipangkas guna menyesuaikan dengan berbagai keadaan akan menyebabkan terjadinya instabilitas politik. Dalam jangka menengah, penurunan subsidi BBM tersebut juga pasti akan mereduksi modal politik rezim pemerintah yang sedang berkuasa untuk mempertahankan kekuasaan. Oleh karena itu, subsidi BBM walaupun sangat membebani APBN dan juga mengurangi hak warga Negara kelas bawah tetap diberlakukan. Lebih dari itu, kian besarnya subsidi yang dipatok dalam APBN Indonesia satu decade terakhir mengilustrasikan bahwa subsidi semakin perlu diberlakukan ketika sistem ekonomi mulai sarat dengan mekanisme pasar. Seperti diketahui seiring dengan mulai mengakarnya sistem demokrasi politik di Indonesia, sistem ekonomi Indonesia mau diakui atau tidak telah banyak dipandu oleh 7

mekanisme pasar. Sayangnya, sektor privat penggerak mekanisme pasar terbatas tersebut lebih banyak didominasi oleh asing dan pelaku besar domestik, sehingga mekanisme tersebut berjalan sangat tidak sempurna. Oleh karena itu, dapat dipahami mengapa hasil yang kemudian muncul dari implementasi mekanisme pasar tersebut justru lebih banyak mendonasikan ketidakseimbangan kesejahteraan masyarakat. Tepat pada titik inilah, subsidi sebagai salah satu skema untuk mengurangi imbas kegagalan pasar menyeruak. Tapi, skema subsidi yang diformulasikan di Indonesia bukan secara mutlak diperuntukkan bagi masyarakat kelas bawah, baik dalam bentuk subsidi yang dapat menstimulus peningkatan produktivitas masyarakat kelas bawah, desain subsidi yang bisa membentuk modal sosial dan akan berkontribusi besar dalam perekonomian nasional di masa mendatang, maupun memberikan jaminan sosial secara berkala kepada masyarakat yang sangat miskin. Oleh karena itu, secara keseluruhan implementasi subsidi di Indonesia dalam kerangka mengatasi dampak kegagalan pasar kurang memerlihatkan hasil yang maksimal.

Jenis Jenis Subsidi di Indonesia


Berdasarkan data belanja subsidi dalam Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) 2010 . Belanja subsidi di Indonesia terdiri atas : 1. subsidi premium 2. subsidi solar 3. subsidi minyak tanah 4. subsidi elpiji 5. subsidi pangan 6. subsidi listrik 7. subsidi benih 8. subsidi pupuk 9. subsidi pengawasan pupuk 10. subsidi PPh 11. subsidi PPN 12. subsidi BM 13. subsidi BPHTB 14. subsidi PT. KAI 15. subsidi PT. PELNI 8 16. subsidi PT. POS 17. subsidi dalam rangka PSO lainnya 18. subsidi bunga KPR 19. subsidi bunga ketahanan pangan 20. subsidi bunga kredit biofuel 21. subsidi imbalan jasa penjamin KUR 22. subsidi risk sharing KKP dan energy 23. subsidi bunga pengusaha NAD dan Nias 24. subsidi kredit sektor peternakan 25. subsidi resi kredit gudang

Berikut adalah data belanja subsidi di Indonesia dari tahun 2007 2010 Jenis subsidi Subsidi Premium Subsidi solar Subsidi minyak tanah subsidi Elpiji subsidi pangan Subsidi listrik Subsidi benih Subsidi pupuk subsidi perawatan beras Subsidi pengawasan pupuk subsidi PPh subsidi PPN subsidi pajak lainnya subsidi bea masuk subsidi BPHTB subsidi minyak goreng subsidi PT KAI subsidi PT PELNI Subsidi PT Pos Subsidi dalam rangka PSO lainnya Subsidi Bunga KPR Subsidi bunga ketahanan pangan subsidi bunga kredit biofuel subsidi imbalan jasa penjamin KUR subsidi risk sharing KKP dan energi subsidi bunga pengusaha NAD dan Nias Subsidi kredit sektor peternakan subsidi kredit resi gudang 2010 38,137,806,140,189 21,851,903,691,510 7,509,557,317,106 14,852,055,677,068 15,153,810,327,000 57,601,620,070,361 2,177,487,699,740 18,410,887,781,046 0 0 2,893,212,477,088 11,066,646,770,468 597,581,839,451 257,632,977,488 0 0 535,000,000,000 600,000,000,000 175,000,000,000 63,894,220,390 415,998,562,859 132,059,678,059 42,323,334,937 223,163,797,257 2,303,401,468 3,442,236,760 3,660,340,105 1,186,849 192,707,049,529,209 2009 15,216,887,265,203 10,439,461,737,208 11,480,104,459,718 7,902,937,128,861 12,987,000,000,000 49,546,467,923,878 1,597,202,452,230 18,321,055,599,873 0 7,976,846,509 2,836,295,455,367 4,834,982,670,647 0 7,187,562,916 495,139,763,106 0 514,771,498,849 600,000,000,000 174,998,848,000 49,659,492,612 774,790,546,352 120,626,306,000 27,610,029,000 143,172,494,000 2,720,654,000 1,111,537,000 0 0 138,082,160,273,338 2008 43,551,933,137,000 44,056,881,348,000 47,607,321,799,000 3,890,570,345,016 11,795,911,990,000 83,906,513,000,000 985,248,967,000 15,163,887,671,937 300,000,000,000 17,568,618,940 1,300,000,000,000 19,714,630,640,803 103,344,748,900 3,573,882,791 0 225,709,201,000 688,415,000,000 850,000,000,000 150,000,000,000 40,700,000,000 799,982,599,542 2,724,469,000 0 61,649,975,000 0 0 0 0 275,216,567,395,937 2007 25,287,122,316,398 19,055,027,553,466 39,450,166,646,514 0 6,284,324,994,000 33,073,543,656,064 478,985,800,000 6,260,537,497,379 300,000,000,000 0 837,781,003,465 16,275,827,863,000 1,514,000,000,000 0 0 24,624,718,000 281,250,000,000 650,000,000,000 93,750,000,000 0 299,993,159,983 47,508,483,000 0 0 0 0 0 0 150,214,443,693,276

Dari tabel tersebut bisa disimpulkan bahwa dari tahun 2007 hingga tahun 2010, jenis dari subsidi pemerintah terjadi beberapa perubahan, ada yang dimunculkan dan ada yang dihilangkan. Hal ini disebabkan karena kebijakan pemerintah dan fokus pemberian bantuan dari tahun ke tahun pun berubah. Beberapa jenis subsidi diantaranya : subsidi kredit resi gudang Subsidi kredit sektor peternakan subsidi bunga pengusaha NAD dan Nias subsidi risk sharing KKP dan energy Subsidi dalam rangka PSO lainnya subsidi bea masuk subsidi Elpiji

Merupakan subsidi yang semula tidak ada dan dimunculkan pada tahun 2009 atau 2010. Dan ada pula yang pada tahun 2010 dihilangkan diantara lain jenis subsidi : subsidi minyak goreng subsidi BPHTB Subsidi pengawasan pupuk subsidi perawatan beras

Dari tabel tersebut juga bisa diperoleh informasi bahwa, subsidi bahan bakar minyak (BBM) dan subsidi listrik mempunyai porsi yang sangat besar dalam realisasi belanja subsidi pemerintah Indonesia dari tahun ke tahun. Subsidi keduanya adalah jenis subsidi konsumsi yang penggunaanya belum tentu digunakan untuk menambah kesejahteraan rakyat Indonesia secara merata. Misal subsidi premium, cenderung banyak digunakan oleh kalangan masyarakat tergolong mampu, dan kurang terasa manfaat langsungnya untuk masyarakat yang tidak menggunakan subsidi tersebut. Demikian juga dengan subsidi listrik, yang kebanyakan menggunakannya adalah rumah tangga dengan daya tinggi, perkantoran, dan industri. Belanja subsidi pun porsinya dari tahun ke tahun mengalami perubahan namun memiliki tren yaitu naik dari tahun ke tahun, hal ini bisa dipandang dari dua sisi. Pertama dari sisi masyarakat, tentunya dengan adanya subsidi masyarakat akan merasa senang dan puas dengan pelayanan yang diberikan pemerintah padahal disisi lain dengan harga minyak dunia yang meningkat beban subsidi yang harus ditanggung oleh pemerintah pun kian meningkat mengingat energi listrik pun

10

kebanyakan menggunakan bahan bakar minyak (BBM). Padahal anggaran subsidi tersebut bisa digunakan untuk hal lain yang sifatnya lebih memajukan kesejahteraan masyarakat luas. Mengingat Indonesia adalah Negara dengan lahan pertanian yang luas, dan banyak penduduknya bermata pencaharian sebagai petani serta konsumsi produk pangan dalam negeri yang tinggi juga. Idealnya subsidi pangan, pupuk dan benih adalah prioritas dari pemerintah untuk subsidi yang diberikan kepada masyarakat. Walaupun tidak secara langsung semua penduduk akan merasakan manfaat subsidi tersebut, namun hasil dari subsidi tersebut dapat mendorong pertanian di Indonesia, yang tentunya hasilnya dapat dirasakan oleh seluruh penduduk Indonesia dan produksi pertanian yang dapat bersaing di dunia Internasional. Untuk mempermudah analisis dari penyebaran subsidi pemerintah, kami ambil contoh dari tahun 2010 dan disajikan dalam grafik berikut : (grafik pada halaman berikutnya) Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya komposisi subsidi bahan bakar minyak (BBM) dan listrik mengambil porsi yang besar. Pada tahun 2010 porsi subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) adalah sekitar 38.84 % dari total belanja subsidi pemerintah. Dan belanja listrik adalah 29.89 %. Jadi total keduanya saja sudah mendapatkan porsi lebih dari separuh subsidi yang diberikan pemerintah selama tahun 2010. Kemudian kita dibandingkan dengan subsidi untuk subsidi pangan, subsidi pupuk, subsidi benih yang masing masing hanya memperoleh 7.86 % , 1,13 %, dan 9.55% dari total belanja subsidi pemerintah Indonesia untuk tahun 2010. Atau semuanya ditotal hanya sebesar 18.54%, hasilnya cukup berbeda signifikan dibandingkan dengan subsidi listrik dan subsidi BBM. Tahun Total Belanja Total Belanja Subsidi Persantase Belanja Subsidi terhadap Total Belanja 2007 2008 2009 2010 757.649.912.890.878 985.730.751.086.613 937.382.019.569.767 1.042.117.219.744.817 150,214,443,693,276 275,216,567,395,937 138,082,160,273,338 192,707,049,529,209 19.83 27.92 14.73 18.49

Dari tabel diatas terlihat tren belanja subsidi adalah naik, terutama ada lonjakan pada tahun 2008 karena efek krisis global yang juga beribas pada perekonomian Indonesia. Dengan porsi rata-rata 20% dari anggaran belanja Negara, subsidi seharusnya memang dipertimbangkan dengan baik peruntukan dan komposisinya.

11

Komposisi Subsidi
Subsidi Premium Subsidi solar Subsidi minyak tanah subsidi Elpiji subsidi pangan Subsidi listrik Subsidi benih Subsidi pupuk Subsidi pengawasan pupuk subsidi PPh subsidi PPN subsidi pajak lainnya subsidi barang mewah subsidi BPHTB subsidi PT KAI subsidi PT PELNI Subsidi PT Pos Subsidi dalam rangka PSO lainnya Subsidi Bunga KPR Subsidi bunga ketahanan pangan subsidi bunga kredit biofuel subsidi imbalan jasa penjamin KUR subsidi risk sharing KKP dan energi subsidi bunga pengusaha NAD dan Nias Subsidi kredit sektor peternakan subsidi kredit resi gudang

12

BAB III PEMBAHASAN


SUBSIDI BBM
Bahan Bakar Minyak Indonesia adalah negara anggota OPEC yang dikenal sebagai organisasi negara-negara penghasil minyak. Namun kenyataannya, dibanding negara-negara OPEC yang lain, komposisi produksi minyak dan cadangannya jika dibandingkan dengan jumlah penduduk sangatlah kecil. Selain itu, ketergantungan negara ini terhadap BBM dalam konsumsi energinya sangat besar. Padahal Indonesia hanya memiliki sumur-sumur tua yang telah lewat masa puncak produksinya, di sisi lain Indonesia sangat kaya akan sumber energi alternatif. Inilah ironi bangsa kita. Akibatnya setiap tahun, pemerintah harus mengeluarkan dana untuk subsidi bahan bakar minyak (BBM) untuk menjaga kestabilan ekonomi. Namun apakah ini satu-satunya solusi, atau ini adalah paket solusi yang harus dilakukan simultan dengan solusi-solusi lain? Pengertian BBM, Subsidi BBM dan Harga BBM BBM (bahan bakar minyak): adalah jenis bahan bakar (fuel) yang dihasilkan dari pengilangan (refining) minyak mentah (crude oil). Minyak mentah dari perut bumi diolah dalam pengilangan (refinery) terlebih dulu untuk menghasilkan produk-produk minyak (oil products), yang termasuk di dalamnya adalah BBM. Selain menghasilkan BBM, pengilangan minyak mentah menghasilkan berbagai produk lain terdiri dari gas, hingga ke produk-produk seperti naphta, light sulfur wax residue (LSWR) dan aspal. BBM seperti didefinisikan oleh pemerintah Indonesia untuk keperluan pengaturan harga dan subsidi sekarang meliputi: (i) bensin (premium gasoline), (ii) solar (IDO & ADO: industrial diesel oil & automotive diesel oil), (iii) minyak bakar (FO: fuel oil) serta (iv) minyak tanah (kerosene). Definisi ini merupakan perkembangan dari periode sebelumnya yang masih mencantumkan avgas (aviation gasoline) dan avtur (aviation turbo gasoline, yaitu jenis-jenis bahan bakar yang dipergunakan untuk mesin pesawat terbang, dalam kategori sebagai BBM. Subsidi BBM, sebagaimana dapat dipahami dari naskah RAPBN dan Nota Keuangan, adalah pembayaran yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia kepada PERTAMINA (pemegang monopoli pendistribusian BBM di Indonesia) dalam situasi dimana pendapatan yang diperoleh PERTAMINA dari tugas menyediakan BBM di Tanah Air adalah lebih rendah dibandingkan biaya yang

13

dikeluarkannya untuk menyediakan BBM tersebut. Dalam hal ia bernilai positif, seperti dulu sering dialami, angka itu disebut Laba Bersih Minyak. Definisi mengenai subsidi BBM yang dikembangkan oleh pemerintah tersebut telah diturunkan ke dalam perhitungan akuntansi yang angka-angkanya kemudian menjadi dasar bagi program pemerintah untuk menghapuskan subsidi BBM, termasuk perancangan program-program pengurangan dampak kenaikan harga BBM. Harga BBM di Indonesia adalah harga yang diatur oleh pemerintah dan berlaku sama di seluruh wilayah Indonesia. Pada dasarnya, pemerintah bersama DPR menetapkan harga BBM setelah memperhatikan biaya-biaya pokok penyediaan BBM yang diberikan PERTAMINA serta tingkat kemampuan (willingness to pay) masyarakat. Belakangan, dalam upaya menyesuaikan harga BBM di dalam negeri dengan perkembangan harga BBM internasional, dikeluarkan Keputusan Presiden yang memungkinkan PERTAMINA untuk secara berkala menyesuaikan harga BBM sesuai perkembangan MOPS (Middle Oil Platts, Singapore). Namun, mekanisme penyesuaian harga otomatis tersebut tidak terus dapat dipertahankan. Harga BBM yang diberlakukan sekarang adalah: premium gasoline Rp. 1.810/liter, solar (IDO/ADO) Rp. 1.650/liter, minyak bakar Rp 1.560/liter, minyak tanah Rp. 700/liter. Subsidi BBM diberikan oleh pemerintah kepada PERTAMINA sebagai konsekuensi dari penetapan harga BBM yang dilakukan oleh pemerintah. Pekerjaan PERTAMINA melaksanakan tugas penyediaan dan pelayanan Bahan Bakar Minyak untuk keperluan dalam negeri diperintahkan oleh Undang-Undang No. 8 Tahun 1971 tentang Pertamina sebagai tugas pelayanan masyarakat (public service obligation). Undang-Undang Minyak dan Gas Bumi No 22 Tahun 2001 menegaskan bahwa penugasan khusus kepada PERTAMINA untuk menyediakan BBM di dalam negeri akan diakhiri pada (bulan November) 2005, namun bagaimana menggantikan peran Pertamina dalam hal ini nampaknya belum disiapkan dengan baik. Mekanisme dan elemen biaya penyediaan BBM Gambar 1 secara sederhana menunjukkan aliran material dari minyak mentah menjadi BBM dan produk-produk minyak lainnya di Indonesia. Tampak dalam gambar bahwa BBM di Indonesia bersumber dari: (i) hasil pengolahan kilang dalam negeri, (ii) diimpor langsung dalam bentuk BBM, dan (iii) stok BBM di dalam negeri. Untuk menghasilkan BBM, kilang-kilang minyak di Indonesia menggunakan input: (i) minyak mentah yang diimpor dari luar negeri, dan (ii) minyak mentah produksi dalam negeri. Elemen biaya penyediaan BBM di dalam negeri dengan memperhatikan mekanisme penyediaan tersebut- adalah meliputi: (i) biaya impor minyak mentah (crude oil)

14

(ii) biaya pembelian minyak mentah produksi dalam negeri3 (iii) biaya impor BBM (iv) biaya pengilangan (refining) (v) biaya distribusi (vi) biaya tak langsung. Harga minyak dunia yang membumbung tinggi seperti belakangan ini akan meningkatkan biaya, khususnya untuk impor minyak mentah dan impor BBM. Karena harga jual BBM di pasar domestik harus mengikuti harga yang ditetapkan pemerintah, maka sebagai akibatnya subsidi BBM akan meningkat. Adanya kritik Kwik Kian Gie terhadap definisi subsidi BBM Dalam angka-angka APBN, terdapat butir mengenai subsidi BBM dan pendapatan minyak (bagian dari pendapatan migas). Dalam naskah APBN versi yang lalu (menggunakan taccount) APBN, subsidi BBM terletak pada sisi kanan t-account, dalam kelompok pengeluaran mengenai subsidi. Pada sisi kiri t-account yang sama, terdapat butir mengenai pendapatan minyak. Penting diperhatikan bahwa dalam terminologi mengenai subsidi BBM yang dikembangkan pemerintah, tidak terdapat kaitan langsung antara butir subsidi BBM dengan pendapatan minyak, yang angka-angkanya ditampakkan dalam naskah APBN tersebut. Dengan memperhatikan definisi subsidi BBM yang telah diuraikan sebelumnya, perhitungan subsidi BBM secara sederhana dapat dilakukan dengan memanfaatkan model spreadsheet yang akan menghitung: a) Penjualan produk-produk BBM = Volume
BBM(i)

* Harga

BBM(i)

b) Biaya menghasilkan BBM = Biaya (impor crude, pembelian minyak mentah DN, impor BBM, pengilangan, distribusi, tak langsung) c) Subsidi BBM = (a) (b) Subsidi BBM adalah aliran dana dari Pemerintah ke PERTAMINA. Pendapatan minyak, di sisi lain, adalah aliran dana dari penjualan minyak mentah (crude oil) milik Pemerintah, yang diterimakan ke rekening Departemen Keuangan. 4 Kedua hal tersebut, adalah dua jenis bisnis yang terpisah, meskipun sebagian besar kegiatannya, yaitu penjualan minyak mentah dan penyediaan BBM dilakukan oleh PERTAMINA (sebelum berlakunya UU Minyak dan Gas Bumi 22/2001). Kritik terhadap definisi mengenai subsidi BBM yang umumnya diajukan oleh masyarakat (termasuk Kwik Kian Gie yang menyusun model bagi perhitungan subsidi BBM) adalah dimana letaknya pendapatan minyak dalam akuntansi subsidi BBM yang dilakukan pemerintah? Mengapa tidak memasukkan pendapatan minyak sebagai bagian (sisi input) dari mekanisme perhitungan subsidi BBM tersebut?

15

Dengan memasukkan pendapatan minyak ke dalam perhitungan, maka, seperti ditunjukkan secara sederhana oleh Kwik Kian Gie, industri minyak bumi Indonesia masih selalu menghasilkan surplus. Di sisi lain, masyarakat pun masih memiliki kesan bahwa Indonesia adalah negara pengekspor minyak bumi, sehingga seharusnya kenaikan harga minyak dunia memberikan windfall profit bagi Indonesia, dan bukannya beban subsidi BBM yang begitu mengerikan. Mengapa untuk jenis industri yang merupakan kekayaan negara dan harus digunakan bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat tersebut, rakyat harus membayar lebih mahal?. Pertanyaan masyarakat tersebut adalah kritik yang perlu dijelaskan dengan baik sebelum pemerintah secara agresif menjalankan program menaikkan harga BBM. Pertanyaan masyarakat tersebut sekaligus dapat dijadikan pertanyaan oleh pemerintah sendiri untuk mengevaluasi apakah definisi mengenai subsidi BBM yang selama ini diterapkannya merupakan definisi yang dapat diterima secara scientific dan bagi masyarakat umum, dan elemen-elemen subsidi BBM itu memang telah diperiksa dengan teliti. Dari teori ekonomi sumberdaya alam, memasukkan pendapatan minyak ke dalam model perhitungan subsidi BBM adalah hal yang logis dan fair, karena produksi dari alam merupakan bagian dari keseluruhan proses produksi. Industri sumberdaya alam seperti minyak bumi, karena sifatnya yang dari alam menghasilkan produk yang berharga tidak tepat bila diperlakukan sama dengan industri pemrosesan atau manufaktur. Juga dalam mengenakan terminologi subsidi tersebut. Namun demikian, ada pertimbangan lain bahwa minyak mentah merupakan komoditi yang dapat diperdagangkan secara internasional (internationally tradable), sehingga membiarkan minyak mentah dikonsumsi secara murah di dalam negeri juga bukan merupakan tindakan yang bijaksana. Menghitung harga minyak mentah di dalam negeri hanya dari biaya produksinya saja juga tidak tepat, karena selain nilai dari minyak bumi itu sendiri tidak dihargai, hal ini juga berarti suatu kehilangan kesempatan (opportunity losses) bila harga minyak bumi di pasar internasional meningkat tinggi. Lebih jauh, minyak mentah adalah sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui (non-renewables), sehingga menggunakannnya secara murah juga bukan merupakan tindakan yang bijaksana. Di dalam APBN, membiarkan penerimaan minyak tetap seperti semula (pos penerimaan sumberdaya alam migas dan pos penerimaan pajak migas) akan membuat

penyaluran/pemanfaatan dari penerimaan itu untuk membiayai program-program pembangunan yang lain menjadi lebih leluasa, dan tak dibatasi hanya untuk memenuhi pos subsidi BBM saja. Dalam situasi dimana pendapatan migas masih menjadi andalan penerimaan negara,

16

mempertahankan pos penerimaan migas di satu lajur dan subsidi BBM di lajur yang lain adalah lebih tepat. Pilihan untuk menaikkan harga BBM sendiri mesti diberikan dengan mempertegas opportunity yang dapat dihasilkan dengan memberlakukan harga BBM pada tingkat yang rasional. Selain itu, harus dikaitkan dengan pengembangan strategi kebijakan energi nasional jangka panjang, sesuatu yang sering luput dalam pembahasan mengenai subsidi BBM, dan belum pula ditekankan dalam aplikasi kebijakan energi nasional. Memberikan penjelasan bahwa menaikkan harga BBM merupakan pilihan yang harus dilakukan pemerintah di antara ruang pilihan lainnya yang mungkin tersedia dalam rangka pengamanan APBN merupakan tugas yang harus dapat dilakukan secara arif oleh pemerintah.

Perdagangan minyak bumi Indonesia Indonesia adalah pengekspor dan pengimpor, baik untuk minyak mentah (crude oil) maupun produkproduk minyak (oil products), termasuk BBM. Produksi minyak mentah Indonesia menunjukkan trend menurun (setelah mencapai puncaknya pada tahun 1977), karena kegiatan ini masih mengandalkan sumur-sumur tua yang telah merosot produktivitasnya tanpa tambahan lapangan baru maupun kegiatan EOR (enhanced oil recovery) yang berarti. Lazimnya dulu, sekitar separuh dari produksi tersebut diekspor, namun angka ekspor sekarang sudah jauh menurun; selain karena kemampuan produksi yang merosot, juga karena

17

meningkatnya kebutuhan minyak mentah untuk diolah di dalam negeri. Ekspor minyak mentah seperti yang terbaca dalam statistik ekspor minyak mentah dari Indonesia belakangan lebih banyak dilakukan/dimiliki oleh perusahaan pemegang kontrak production sharing, bukan pemerintah Indonesia. Konsumsi BBM di Indonesia terus meningkat, sekitar 5 persen setahun dalam dekade terakhir. Konsumsi BBM belakangan telah mencapai sekitar 1,3 juta barel per hari. Volume BBM yang dihasilkan kilang-kilang dalam negeri belum mencukupi kebutuhan konsumsi BBM di dalam negeri tersebut. Sebagian BBM, khususnya solar dan minyak tanah, harus diimpor, dengan harga jauh lebih mahal dibandingkan harga jual di dalam negeri. Produksi minyak mentah Indonesia berasal dari lapangan Minas, Widuri, Cinta, Arjuna, dst. Ekspor minyak mentah ditujukan khususnya ke negaranegara industri Asia Timur. Impor minyak mentah berasal dari kawasan Timur Tengah dan Asia (Malaysia, Vietnam). Ekspor produk-produk minyak Indonesia yang terbesar adalah nafta dan LSWR. Kapasitas kilang Indonesia adalah 1.057 ribu barel perhari, terdapat di di Dumai, P. Brandan, Musi, S. Pakning, Balikpapan, Cilacap, Balongan, Cepu dan Kasim. Sebagian besar impor BBM Indonesia dilakukan dari Singapura, yang merupakan salah satu bunker dan pasar produk minyak terbesar di dunia. Kenaikan harga minyak akan meningkatkan jumlah subsidi BBM, namun secara akuntansi sederhana juga dapat ditunjukkan bahwa selama volume ekspor minyak mentah Indonesia masih > volume impornya, maka perdagangan minyak mentah Indonesia masih akan menghasilkan surplus. Apalagi pola yang dijalankan selama ini, kita mengekspor minyak mentah yang bernilai tinggi (mahal) dan mengimpor minyak mentah yang bernilai lebih rendah. Surplus juga akan diperoleh melalui penjualan gas alam yang meningkat karena harga gas alam dikaitkan sebagai fungsi terhadap harga minyak mentah. Dalam derajat yang lebih kecil, kenaikan pendapatan juga bisa diperoleh dari peningkatan harga batubara. Yang mengkhawatirkan adalah perkembangan impor produk minyak Indonesia, yang telah menghasilkan perdagangan negatif produk-produk minyak Indonesia selama beberapa tahun terakhir ini. Perkembangan subsidi BBM Seperti diilustrasikan pada gambar 2, ternyata angka subsidi BBM selama tujuh tahun terakhir (20052011) berada pada kisaran yang mengkhawatirkan. Meskipun secara persentase alokasi subsidi BBM terhadap total belanja mengalami penurunan, namun secara nominal jumlahnya semakin meningkat. Pada tahun 2005, subsidi BBM sebesar 95,598.5 milyar ternyata mencapai 18.76% dari total belanja negara sebesar 509,632.40 milyar. Tabel Subsidi

18

(dalam milyar rupiah) Tahun subsidi BBM total subsidi 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 95,598.50 64,212.10 83,792.30 139,106.70 45,039.40 88,890.80 92,785.60 120,765.30 107,431.90 150,214.50 275,291.50 138,082.20 201,263.00 184,816.70 belanja 509,632.40 667,128.70 757,649.90 985,730.70 937,382.10 1,126,146.50 1,202,046.20 % subsidi BBM terhadap belanja 18.76% 9.63% 11.06% 14.11% 4.80% 7.89% 7.72%

Terendah masih sebesar 4.80% atau senilai 45,039.40 dari total belanja sebesar 937,382.10 milyar rupiah. Dua tahun terakhir ini persentase subsidi BBM terhadap belanja negara berkisar 7,8% dari total belanja negara atau senilai 88,890.80 milyar di tahun 2010 dan 92,785.60 milyar untuk tahun 2011. Nominal subsidi BBM terbesar terjadi pada tahun 2008, dimana pada saat itu mencapai angka 139,106.70 milyar. Gambar 2 Subsidi BBM terhadap Subsidi
300,000.00

250,000.00

200,000.00

150,000.00

subsidi BBM total subsidi

100,000.00

50,000.00

0.00 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011

Pemerintah Indonesia sesungguhnya baru mengeluarkan subsidi BBM yang sangat besar sejak terjadinya sejak krisis moneter/ekonomi 1998. Lonjakan perubahan kurs Rp./US$ sekitar tiga kali lipat menjadi faktor utama yang menyebabkan meningkatnya angka subsidi tersebut, karena penjualan BBM di dalam negeri menggunakan Rupiah dan harganya tidak segera disesuaikan, 19

sedangkan sebagian komponen penyediaan BBM adalah mata uang US$. Faktor utama yang menyebabkan terjadinya peningkatan subsidi BBM adalah karena meningkatnya konsumsi BBM di Tanah Air. Peningkatan konsumsi BBM ini terus terjadi bahkan ketika ekonomi Indonesia mengalami kemerosotan antara tahun 1998-2000. Peningkatan kebutuhan akan BBM tersebut selanjutnya meningkatkan: (i) impor minyak mentah, dan (ii) impor produk BBM. Peningkatan impor baik untuk minyak mentah maupun produk BBM tersebut mengakibatkan peningkatan biaya penyediaan BBM. Di sisi lain, meskipun harga jual BBM telah dinaikkan secara berangsur, namun besar kenaikan tersebut belumlah cukup untuk mengejar besaran biaya penyediaan BBM yang juga meningkat. Dengan demikian, subsidi BBM yang diberikan pemerintah cenderung meningkat. Pola dan Sasaran pemberian subsidi BBM Subsidi BBM selama ini diberikan oleh Pemerintah kepada PERTAMINA dalam bentuk aliran uang (cash). Pola ini mengandung kelemahan bahwa subsidi BBM tidak tepat menjangkau kelompok masyarakat yaang pantas memperoleh subsidi, tidak mendorong PERTAMINA untuk lebih efisien dalam menjalankan tugasnya menyediakan BBM di Tanah Air, selain tidak memperhatikan pola permintaan BBM yang dimiliki kelompok-kelompok masyarakat di Tanah Air. Beberapa studi mengatakan bahwa secara umum subsidi BBM yang dilakukan Pemerintah tidak mengena kelompok sasaran yang ingin dituju. Subsidi BBM lebih membantu kelompok kaya daripada tersampaikan kepada yang lebih berhak menerimanya, yakni kaum dhuafa. Belakangan dikembangkan mekanisme dimana dana yang diperoleh dari kenaikan harga minyak ditampung di sebuah rekening pemerintah untuk kemudian disalurkan ke kelompok masyarakat / sektor ekonomi yang dipandang layak mendapatkan subsidi sebagai kompensasi kenaikan harga BBM. Pola yang dikembangkan ini, meskipun nampaknya memberikan gambaran rasa keadilan, namun juga mengandung kelemahan karena tidak secara langsung memperbaiki akar masalah subsidi BBM di samping menciptakan banyak hal dan prosedur baru di luar kerangka standar APBN yang sistemnya telah lebih mapan. Subsidi sebaiknya diberikan kepada kelompok masyarakat tak mampu (kaum dhuafa) dalam bentuk tunjangan keuangan (food stamp, dsb), bantuan pendidikan/latihan, maupun penciptaaan kegiatan ekonomi lokal secara langsung serta perbaika tatanan ekonomi secara struktural, tanpa perlu dikaitkan dengan istilah BBM. Sebaliknya, pemakaian BBM, khususnya untuk gasoline dalam transportasi perkotaan, khususnya di Jawa, tetap pantas untuk membayar harga ekonomi dari jenis BBM itu sendiri. Dengan perkataan lain, kenaikan harga BBM sehingga makin mendekati harga ekonominya tetap perlu dilakukan, dengan analisis yang baik mengenai jenis BBM, besaran harga serta pentahapan penyesuaiannya. Di sisi lain, pemetaan terhadap kelompok-kelompok masyarakat miskin dapat

20

dilakukan secara terpisah (misalnya dilakukan oleh Komite Nasional Penanggulangan Kemiskinan) tanpa harus selalu dikaitkan dengan masalah subsidi BBM. Angka biaya penyediaan BBM Dalam melakukan tugas menyediakan BBM, PERTAMINA mengimpor minyak mentah, membeli minyak mentah dari dalam negeri, memproses minyak mentah menjadi BBM, mengimpor BBM, dan mendistribusikan BBM ke seluruh pelosok Tanah Air. PERTAMINA juga menjual semua BBM itu dengan harga yang ditetapkan Pemerintah. Biaya-biaya untuk menghasilkan dan mendistribusikan BBM (BBM costs) maupun pendapatan yang diperoleh dari penjualan BBM merupakan angka-angka kritis (dalam orde trilliunan Rupiah) yang menentukan besaran subsidi BBM. Perhitungan untuk memperoleh angka harga pokok penjualan membutuhkan pekerjaan akuntansi yang besar dan cukup rumit, khususnya untuk elemen biaya di kilang maupun pemilahan pangsa minyak mentah yang bisa dibebankan ke subsidi. Ini karena sifat fisik minyak mentah dan operasi kilang yang tak membedakan penggunaan untuk BBM maupun non-BBM serta bervariasinya produk-prouk yang dihasilkan dari kilang-kilang yang ada. Secara kasar dapat digambarkan bahwa belakangan ini elemen biaya terbesar untuk menyediakan BBM di dalam negeri adalah buat pembelian minyak mentah dan impor produk (sekitar 80 persen dari keseluruhan biaya untuk tingkat harga minyak US$ 40/barel). Selebihnya, biaya dipergunakan untuk pengilangan, distribusi dan biaya tak langsung. Hal yang kritis adalah selama ini angka-angka yang digunakan untuk menetapkan besaran subsidi tersebut adalah angka-angka yang merupakan laporan atau hasil perhitungan PERTAMINA sendiri, yang juga mendapat audit Badan Pemeriksa Keuangan. Pemerintah (Departemen Keuangan) menggunakan angka-angka dari PERTAMINA itu untuk menentukan jumlah subsidi yang mesti dibayarkan Pemerintah. Dalam kenyataannya, bisnis penyediaan BBM oleh PERTAMINA tersebut melibatkan besaran Rupiah yang sangat besar, dan terdiri dari sejumlah kegiatan yang sangat rinci. Sebagai contoh, impor minyak mentah akan melibatkan data berapa kali pengapalan, berapa besar volumenya, apa jenis minyak mentahnya, berapa harganya, diimpor dari mana, dilakukan oleh siapa, disupplai ke kilang mana, dan seterusnya. Selama ini, bisnis yang menyangkut hajat hidup orang banyak dan melibatkan angka-angka Rupiah yang sangat besar tersebut tidak pernah dilaporkan secara transparan dalam kadar yang cukup rinci kepada publik. Ini faktor yang mesti diperbaiki. Penggunaan konsultan independen untuk melakukan perhitungan atau audit pekerjaan penyediaan BBM di dalam negeri tersebut akan meningkatkan transparansi dan memberikan

21

petunjuk yang baik apakah operasi penyediaan BBM yang dilakukan oleh PERTAMINA selama ini telah cukup efisien dibandingkan rata-rata industri (industry average). Laporan teratur mengenai bisnis penyediaan BBM semestinya dapat disampaikan kepada umum melalui situs web yang dikembangkan PERTAMINA. Komite Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) perlu memantau pekerjaan monopoli penyediaan BBM yang dilakukan PERTAMINA, dan juga melaporkan hasil pemantauannya kepada masyarakat. Pola konsumsi BBM boros dan tidak tepat sasaran Secara umum, cara kita mengkonsumsi BBM adalah lebih boros dibandingkan negara-negara tetangga ASEAN maupun kawasan Asia lainnya.8 Harga BBM yang murah, label sebagai pengekspor minyak bumi, serta infrastruktur/peralatan yang dipakai untuk mengkonsumsi BBM yang kondisinya belum baik, sering dipandang sebagai faktor yang menyebabkan kurang efisiennya penggunaan konsumsi BBM di Tanah Air. Kurang efisiennya pemakaian BBM tersebut masih terdapat pada seluruh sektor pemakai BBM dan seluruh jenis BBM. Tabel Konsumsi BBM (dalam juta SBM) Sektor Industri Transportasi Rumah Tangga Bangunan Komersial Total 29.1 666.9 4.36% Jumlah 329.7 226.6 81.5 % 49.44% 33.98% 12.22%

Sektor industri masih mendominasi konsumsi energi di negara ini dengan pemakaian sebesar 329,7 juta SBM (setara barrel minyak) atau 49,4% dari total konsumsi energi nasional. Di tempat kedua, sektor transportasi menyumbang konsumsi sebesar 226,6 juta SBM (34%). Sementara rumah tangga dan bangunan komersial masing masing menggunakan 81,5 juta SBM (12,2%) dan 29,1 juta SBM (4,4%). Hal tersebut diungkapkan Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (Dirjen EBTKE), Luluk Sumiarso pada Soft Launching Implemetasi Konservasi Energi dan Lomba Hemat Energi, di lobby Kementerian ESDM Jakarta, Senin (31/1/2011).

22

Konsumsi BBM 2010 per Sektor

Industri Transportasi Rumah Tangga Bangunan Komersial

Pemakai kedua terbesar BBM nasional adalah sektor transportasi. Bagi sektor transportasi sendiri, BBM adalah bahan bakar utama (nyaris 100 persen) yang sulit digantikan dengan bahan bakar lain. Tidak efisiennya pemakaian BBM di sektor transportasi sangat jelas diperlihatkan terutama pada transportasi darat di kota-kota besar, dimana mobil-mobil tua yang boros BBM dan kemacetan (penghamburan BBM secara sia-sia) menjadi pemandangan sehari-hari. Dengan laju pertumbuhan kendaraan yang sangat cepat, yang tak diimbangi dengan pertambahan infrastrukturnya, tidak efisiennya penggunaan BBM di sektor transportasi ini menjadi masalah yang makin berat yang dihadapi pemerintah kota. Di Indonesia pernah dicobakan penggunaan BBG (bahan bakar gas) sebagai alternatif bahan bakar untuk transportasi, namun proyek tersebut kini tak dilanjutkan. Dari jenis-jenis BBM yang diatur harganya oleh pemerintah, bensin (premium gasoline) digunakan untuk transportasi; minyak disel digunakan untuk transportasi, industri dan pembangkit tenaga listrik, minyak bakar digunakan oleh industri sedangkan minyak tanah digunakan oleh sektor rumah tangga (dan sebagian industri). Selain sistem transportasi yang buruk, faktor yang mengakibatkan rendahnya efisiensi pemakaian BBM di Indonesia adalah penggunaan mesin-mesin tua di industri, pemakaian solar yang terlalu besar untuk pembangkit tenaga listrik dan subsidi yang terlalu besar untuk penggunaan minyak tanah. Secara umum, harga BBM yang rendah juga mengakibatkan borosnya penggunaan BBM, di samping menghalangi substitusi BBM dengan sumber energi lain. Sering dikatakan (dari sisi teori manajemen energi), bahwa efisiensi atau konservasi adalah seolah menemukan cadangan/reserves baru energi. Bila konsumsi BBM di Tanah Air dapat dihemat 10 persen, seolah kita memperoleh 130.000 bph produksi minyak mentah, atau yang di dunia eksplorasi real membutuhkan biaya sangat besar untuk menemukan hal itu. Meningkatkan

23

efisiensi pemakaian BBM, dengan demikian, merupakan langkah penting yang bermanfaat bukan saja untuk menghemat biaya operasi tapi juga untuk keluar dari perangkap subsidi BBM. Menaikkan harga BBM akan mengurangi disparitas Disparitas harga, antara harga impor minyak mentah dan BBM dengan harga jual BBM di dalam negeri (yang ditetapkan Pemerintah) telah cenderung makin lebar. Disparitas harga ini merupakan faktor yang menyebabkan munculnya subsidi BBM. Disparitas harga tampak paling jelas pada minyak tanah, yang dijual dengan harga termurah dibandingkan jenis BBM lainnya. Disparitas harga BBM yang terlalu besar, antara harga jual di dalam negeri dengan harga jual di negara-negara tetangga, memunculkan kerawanan dalam bentuk penyelundupan BBM (dan minyak mentah) dari dalam negeri ke luar. Disparitas harga yang besar antara berbagai jenis BBM, memunculkan sejumlah kasus pengoplosan BBM di berbagai tempat di Tanah Air. Dengan demikian, disparitas harga BBM tersebut perlu dikurangi. Pengurangan jumlah subsidi BBM dapat dilakukan dengan memperkecil disparitas antara: (i) pendapatan dari menjual BBM di dalam negeri dengan (ii) biaya-biaya untuk menyediakan BBM di dalam negeri. Langkah-langkah yang dapat ditempuh untuk mewujudkan hal itu, untuk butir (i), adalah menaikkan harga jual BBM di dalam negeri sehingga makin mendekati tingkat keekonomiannya. Hal ini dapat dilakukan bertahap, dengan memilih jenis BBM yang dipercepat penyesuaian harganya dan memperkecil kelompok penerima subsidi BBM. Penaikan harga BBM dapat diawali dengan mendekatkan harga BBM kepada biaya rata-rata untuk memproduksinya (average production costs) sebelum pada akhirnya dapat mencapai formula cost + fee yang lazimnya diberikan kepada bisnis komersial. Ini dengan catatan bahwa bila pemerintah akan terus mengatur harga BBM untuk skala yang besar seperti sekarang. Untuk butir (ii), langkah-langkah yang mungkin dilakukan adalah mengurangi

ketergantungan terhadap impor minyak mentah melalui pencarian harga minyak mentah yang lebih murah, perluasan kilang dalam negeri, serta menurunkan biaya distribusi dan pemberian kemudahan untuk pengusahaan BBM (misalnya penurunan pajak di downstream). Menghemat konsumsi final BBM akan berarti pula mengurangi impor BBM dan minyak mentah. Demikian pula, meningkatkan produksi minyak mentah di dalam negeri melalui penambahan lapangan baru atau enhanced oil recovery akan memperbesar supplai yang dapat diberikan ke kilang dalam negeri, yang dapat berarti pengurangan komponen biaya impor minyak mentah. Dalam status sebagai eksportir neto, dan konsumsi di dalam negeri yang lebih kecil dibandingkan ekspor, perdagangan minyak Indonesia masih dapat menghasilkan surplus, yang sebagiannya dapat digunakan untuk membiayai subsidi BBM.

24

Namun demikian, kombinasi antara penurunan produksi dan peningkatan konsumi telah memerosotkan kemampuan ekspor minyak mentah Indonesia. Di sisi lain, impor minyak mentah maupun produk minyak juga meningkat cepat. Hal-hal ini telah menyebabkan Indonesia tergelincir menjadi importir neto. Bila situasi menjadi importir neto ini tidak bisa diperbaiki dalam waktu dekat, atau bahkan terjerumus ke dalam ketergantungan impor yang sangat besar, maka penghapusan subsidi BBM akan merupakan keputusan yang tidak bisa dihindarkan. Ini karena perdagangan minyak Indonesia tidak bisa lagi menghasilkan surplus untuk membiayai subsidi BBM, sementara sumber lain untuk membiayai subsidi BBM hampir tidak bisa ditemukan lagi dalam struktur APBN. Selain berdasarkan alasan yang telah dikemukan sebelumnya, mengurangi subsidi BBM hingga ke tingkat yang serendah mungkin perlu dilakukan, karena alasan-alasan berikut: 1. Harga BBM yang rendah dan subsidi yang tidak tepat sasaran menyebabkan penggunaan BBM menjadi boros, tidak mendorong efisiensi. Lebih jauh, hal ini akan mengakibatkan ketergantungan yang sangat tinggi pada BBM yang dalam jangka panjang akan membahayakan security of energy supply kita. 2. Pada dasarnya negara seperti Indonesia masih membutuhkan tambahan dana untuk kegiatan eksplorasi, riset-riset di bidang minyak dan gas bumi dan sumber-sumber energi alternatif. Sebagian pendapatan dari penjualan/produksi minyak bumi, selayaknya dimanfaatkan untuk membiayai kegiatan-kegiatan seperti ini yang akan bermanfaat untuk memperpanjang umur industri minyak bumi di Tanah Air. 3. Peningkatan harga minyak pada umumnya lebih menguntungkan negara-negara konsumen, khususnya yang menerapkan pajak karbon (carbon tax) hingga 200 persen atau lebih dari harga BBM yang dijual di negeri tersebut. Daripada kenaikan harga minyak tersebut lebih menguntungkan negara-negara konsumen, lebih bijaksana bila windfall profit karena kenaikan harga minyak mentah tersebut dapat kita gunakan sendiri secara lebih produktif, termasuk untuk melakukan riset-riset di bidang energi baru, pencarian lapangan minyak (dan sumber daya energi lainnya) yang baru, dstnya. 4. Indonesia bukanlah negara pengekspor besar untuk minyak bumi. Dibandingkan anggauta OPEC lainnya, cadangan dan produksi minyak bumi Indonesia tidak besar, apalagi bila dibagi dengan jumlah penduduk. Rasio ekspor minyak bumi Indonesia dibandingkan konsumsi dalam negerinya pun telah semakin kecil. Indonesia dalam hal ini tidak bisa mencontoh beberapa anggota OPEC yang memberikan subsidi untuk konsumsi BBM di negeri mereka. Bagi Indonesia, memanfaatkan pendapatan minyak secara lebih bijaksana adalah lebih baik daripada menggunakannya untuk membiayai konsumsi BBM yang boros oleh masyarakat.

25

Terhadap permasalahan subsidi BBM ini, terdapat pula pakar yang menawarkan empat tahap perubahan kebijakan harga BBM atau pricing policy BBM, yaitu:

Tahap I: Subsidi zed Price. Merupakan tahap dimana subsidi BBM diturunkan hingga 20%, yang dilaksanakan tahun 2000 atau selambat-lambatnya pada kuartal pertama tahun 2001.

Tahap II: Zero Subsidy. Pada tahap ini harga jual BBM merefleksikan biaya produksinya, yang berarti tidak ada lagi subsidi dari pemerintah. Dengan mempertimbangkan; (i) penyusunan anggaran pemerintah dan dunia usaha yang dilakukan secara tahunan, (ii) kegiatan sosialisasi rencana kebijakan zero subsidy, serta (iii) krisis multi dimesi yang masih dihadapi Indonesia, maka pelaksanaan tahap ini diperkirakan memerlukan waktu 2-3 tahun terhitung sejak tahap pertama diselesaikan.

Tahap III: Economic Price. Harga BBM yang dihasilkan kilang di Indonesia relatif tidak berbeda dengan harga BBM di kilang yang menjadi benchmark perdagangan BBM di dunia, seperti kilang di Singapura atau Belanda, ditambah dengan biaya lain (misalnya biaya distribusi).

Mempertimbangkan kebutuhan waktu bagi industri perminyakan di Indonesia dalam menemukan teknologi yang memungkinkan berlangsungnya diversifikasi atau fleksibilitas dari kegiatan pengilangan minyak mentah menjadi BBM, maka perkiraan pelaksanaan tahap ini sekitar 2-3 tahun sejak tahap II selesai.

Tahap IV: Economic Price and Tax. Tahap dimana harga BBM di mulut kilang menyamai harga pasar internasional dan ditambah dengan pajak BBM. Penggunaan instrumen pajak sangat tergantung pada proses legislasi. Dengan pertimbangan tersebut maka pelaksanaan tahap ini diperkirakan sekitar 2-3 tahun. Namun tentu pemerintah harus empertimbangkan banyak hal, agar penerapan kebijakan terkait subsidi BBM ini tidak menimbulkan masalah dikemudian hari. Hal-hal tersebut diantaranya: 1. Seberapa besar dampak penghapusan subsidi terhadap; (i) masyarakat pengguna BBM menurut kelompok pendapatan, kelompok tempat tinggal, maupun kelompok usaha, (ii) perilaku struktural sektor ekonomi, dalam arti multiplier effect dari perubahan penggunaan jenis BBM oleh sektor ekonomi tertentu terhadap sektor ekonomi lainnya, (iii) keuangan negara (penerimaan negara versus pengeluaran negara), dan (iv) daya saing dan peluang usaha bagi Pertamina?

26

2. Apakah subsidi BBM sebaiknya dicabut seluruhnya atau dicabut sebagian (dikurangi), dan apakah subsidi BBM dicabut sekaligus atau secara bertahap? 3. Jika subsidi dikurangi, jenis-jenis BBM mana saja yang akan dihapus subsidinya? Jika subsidi dihapus secara bertahap, pentahapan seperti apa yang sebaiknya ditempuh pemerintah? Bagaimana dampaknya terhadap perekonomian dan efisiensi serta peluang usaha Pertamina? 4. Terhadap hal ini banyak pihak berkeyakinan bahwa penyesuaian yang dilakukan konsumen dengan adanya penurunan subdisi BBM ini akan menghasilkan dampak yang lebih positif dibandingkan jika tidak dilakukan penyesuaian. 5. Bagaimana setting pricing policy yang sebaiknya ditempuh pemerintah dalam rangka mencapai kondisi optimal untuk perekonomian maupun dalam rangka peningkatan daya saing dan peluang usaha Pertamina? 6. Dengan melihat kenyataan saat ini bahwa Pricing policy BBM yang ditempuh pemerintah saat ini, menimbulkan paling tidak 5 bentuk dampak negatif, yaitu; (i) terjadi target error dalam pemberian subsidi BBM, sebesar 25%, 40%, 35,2%, 92% dan 93% masing-masing untuk jenis premium, solar, minyak tanah, minyak bakar dan minyak diesel; (ii) terjadi inefisiensi dalam penggunaan dan penyelundupan BBM; (iii) beban APBN semakin berat; (iv) terjadi distorsi harga pada barang dan jasa yang menggunakan BBM sebagai input produksi; (v) Pertamina terhambat untuk melakukan ekspansi usaha.

B. Pelayanan Gratis Pemerintah Pelayanan gratis adalah jasa (service) yang dilakukan pemerintah suatu negara terhadap rakyatnya tanpa membebankan biaya langsung yang berkaitan dengan pelaksanaan kegiatan pelayanan tersebut.Biasanya pelayanan yang diberikan ini merupakan suatu jasa yang harus ada dalam suatu Negara dan pihak swasta tidak atau kurang tertarik dalam melakukan kegiatan tersebut sehingga menyebabkan pemerintah campur tangan untuk melakukan pengadaan jasa tersebut. Salah satu pelayanan gratis yang baru-baru ini disediakan oleh pemerintah adalah pelayanan pendidikan dasar gratis.Hal ini sejalan dengan program pemerintah pendidikan dasar 9 tahun.Sehingga dengan diterapkannya pelayanan pendidikan gratis maka jumlah siswa yang menjalani pendidikan dasar 9 tahun dapat semakin bertambah.

27

Pendidikan di Indonesia Pendidikan adalah upaya terencana untuk menyediakan lingkungan dan proses pembelajaran sehingga siswa dapat mengembangkan potensinya. Pendidikan di Indonesia berada dalam wewenang Kementerian Pendidikan Nasional. Pendidikan mempunyai tugas menyiapkan sumber daya manusia unuk pembangunan. Derap langkah pembangunan selalu diupayakan seirama dengan tuntutan zaman. Perkembangan zaman selalu memunculkan persoalan-persoalan baru yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Pada bagian ini akan mengkaji mengenai permasalahan pokok pendidikan, dan saling keterkaitan antara pokok tersbut, faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangannya dan masalah-masalah aktual beserta cara penanggulangannya. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasionalmengamanatkan bahwa setiap warga negara yang berusia 7-15 tahun wajibmengikuti pendidikan dasar. Pasal 34 ayat 2 menyebutkan bahwa Pemerintah danpemerintah daerah menjamin terselenggaranya wajib belajar minimal pada jenjangpendidikan dasar tanpa memungut biaya, sedangkan dalam ayat 3 menyebutkan bahwa wajib belajar merupakan tanggung jawab negara yang diselenggarakanoleh lembaga pendidikan Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat.Konsekuensi dari amanat undangundang tersebut adalah Pemerintah danpemerintah daerah wajib memberikan layanan pendidikan bagi seluruh peserta didik pada tingkat pendidikan dasar (SD dan SMP) serta satuan pendidikan lainyang sederajat. Walaupun pembangunan fisiknya baik, tetapi apa gunanya bila moral bangsa terpuruk. Jika hal tersebut terjadi, bidang ekonomi akan bermasalah, karena tiap orang akan korupsi. Sehingga lambat laun akan datang hari dimana negara dan bangsa ini hancur. Oleh karena itu, untuk pencegahannya, pendidikan harus dijadikan salah satu prioritas dalam pembangunan negeri ini. Kondisi ideal dalam bidang pendidikan di Indonesia adalah tiap anak bisa sekolah minimal hingga tingkat SMA tanpa membedakan status karena itulah hak mereka.Namun hal tersebut sangat sulit untuk direalisasikan pada saat ini. Oleh karena itu, setidaknya setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk mengenyam dunia pendidikan. Jika mencermati permasalahan di atas, terjadi sebuah ketidakadilan antara si kaya dan si miskin.Seolah sekolah hanya milik orang kaya saja sehingga orang yang kekurangan merasa minder untuk bersekolah dan bergaul dengan mereka.Ditambah lagi publikasi dari sekolah mengenai beasiswa sangatlah minim.

28

Implementasi Pendidikan Gratis Impian masyarakat akan datangnya pendidikan gratis yang telah ditunggu-tunggu dari sejak zaman kemerdekaan Republik Indonesia telah muncul dengan seiring datangnya fenomena pendidikan gratis untuk Sekolah Dasar dan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama. Fenomena pendidikan gratis ini memang sangat ditunggu-tunggu, pasalnya Pemerintah mengeluarkan dana BOS (Biaya Operasional Sekolah) untuk menutupi harga-harga buku yang kian hari kian melambung, sumbangan, gaji guru yang tidak cukup dan biaya-biaya lainnya. Dalam usahanya untuk menyediakan pendidikan gratis bagi masyarakat, maka pemerintah kemudian membuat suatu skema untuk memberikan bantuan operasional sekolah (BOS) kepada sekolah-sekolah.Adapun Bantuan Operasional Sekolah adalah program pemerintah yang pada dasarnya adalah untuk penyediaan pendanaan biaya operasi nonpersonalia bagi satuan pendidikan dasar sebagai pelaksana program wajib belajar. Namun demikian, ada beberapa jenis pembiayaan investasi dan personalia yang diperbolehkan dibiayai dengan dana BOS.Secara umum program BOS bertujuan untuk meringankan beban masyarakat terhadap pembiayaan pendidikan dalam rangka wajib belajar 9 tahun yang bermutu. Sasaran program BOS adalah semua sekolah SD dan SMP, termasuk Sekolah Menengah Terbuka (SMPT) dan Tempat Kegiatan Belajar Mandiri (TKBM) yang diselenggarakan oleh masyarakat, baik negeri maupun swasta di seluruh provinsi di Indonesia. Program Kejar Paket A dan Paket B tidak termasuk sasaran dari program BOS ini. Besar biaya satuan BOS yang diterima oleh sekolah termasuk untuk BOS Buku, dihitung berdasarkan jumlah siswa dengan ketentuan : a) SD/SDLB di kota : Rp 400.000,-/siswa/tahun b) SD/SDLB di kabupaten : Rp 397.000,-/siswa/tahun c) SMP/SMPLB/SMPT di kota : Rp 575.000,-/siswa/tahun d) SMP/SMPLB/SMPT di kabupaten : Rp 570.000,-/siswa/tahun Sementara itu, penggunaan dan BOS pun hanya terbatas pada beberapa item tertentu saja, beberapa yang diperboleh untuk dibiayai melalui BOS adalah : 1. Pembelian/penggandaan buku teks pelajaran dan/atau mengganti buku teks yang sudah rusak. Buku teks yang boleh dibeli adalah buku teks yang telah dinilai kelayakannya oleh Pemerintah. 2. Pembiayaan seluruh kegiatan dalam rangka Penerimaan Siswa Baru. Digunakan untuk biaya pendaftaran, penggandaan formulir, administrasi pendaftaran dan pendaftaranulang, pembuatan spanduk sekolah gratis, serta kegiatan lain yang berkaitan langsung dengankegiatan tersebut termasuk di dalamnya pengeluaran untuk alat tulis, fotocopy,

29

honor/uang lembur,dan konsumsi panitia pendaftaran siswa baru dan pendaftaran ulang siswa lama. 3. Membiayai kegiatan pembelaiaran remedial, pembelajaran pengayaan, pemantapan persiapan ujian, olahraga, kesenian, karya ilmiah remaja; pramuka, palang merah remaja, Usaha Kesehatan Sekolah(UKS) dan sejenisnya 4. Membiayai ulangan harian, ulangan umum, ujian sekolah dan laporan hasil belajar siswa. Dapat digunakan untuk membayar honor pengawas ulangan/ujian, penulis soal ujian, pengoreksi hasil ujian, panitia ujian, honor guru dalam rangka penyusunan rapor siswa, membeli bahan dan penggandaan soal, dll yang relevan dengan kegiatan tersebut. 5. Membeli bahan-bahan habis pakai. Digunakan untuk pembelian bahan pendukung proses belajar mengajar seperti buku tulis, kapur tulis, pensil, spidol, kertas, bahan praktikum, buku induk siswa, buku inventaris. Dana BOS dapat juga digunakan untuk membayar langganan koran/majalah pendidikan, minuman dan makanan ringan untuk kebutuhan sehari-hari di sekolah, serta pengadaan suku cadang alat kantor. 6. Membayar langganan daya dan jasa 7. Membayar biaya perawatan sekolah. Digunakan untuk keperluan biaya perawatan ringan sekolah seperti pengecetan, perbaikan atap bocor, perbaikan pintu dan jendela, perbaikan mebeler, perbaikan sanitasi sekolah, perbaikan lantai ubin/keramik dan perawatan fasilitas sekolah lainnya. 8. Membayar honorarium bulan an guru honorer dan tenaga kependidikan honorer 9. Pengembangan Profesi Guru. Dapat digunakan untuk membiayai kegiatan pelatihan, KKG/MGMP dan KKKS/MKKS 10. Memberi bantuan biaya transportasi bagi siswa miskin yang menghadapi masalah biaya transport dari danke sekolah 11. Membiayai kegiatan dalam kaitan dengan pengelolaan BOS 12. Pembelian komputer (desktop/work station) untuk kegiatan belajar siswa, maksimum 1 unit dan pembelian1 unit printer dalam satu anggaran.

Dalam pelaksanaannya BOS juga mempunyai beberapa larangan, di mana BOS tidak boleh digunakan untuk keperluan berikut ini : 1. Disimpan dalam jangka waktu lama dengan maksud dibungakan. 2. Dipinjamkan kepada pihak lain. 3. Membiayai kegiatan yang tidak menjadi prioritas sekolah dan memerlukanbiaya besar, misalnya studi banding, studi tour (karya wisata) dan sejenisnya.

30

4. Membiayai kegiatan yang diselenggarakan oleh UPTD kecamatan/Kabupaten/kota/Provinsi /Pusat, atau pihak lainnya, walaupun pihak sekolah tidak ikut serta dalam kegiatan tersebut. Sekolah hanya diperbolehkan menanggung biaya untuk siswa/guru yang ikut serta dalam kegiatan tersebut. 5. Membayar bonus dan transportasi rutin untuk guru. 6. Membeli pakaian/seragam bagi guru/siswa untuk kepentingan pribadi (bukaninventaris sekolah). 7. Digunakan untuk rehabilitasi sedang dan berat. 8. Membangun gedung/ruangan baru. 9. Membeli bahan/peralatan yang tidak mendukung proses pembelajaran. 10. Menanamkan saham. 11. Membiayai kegiatan yang telah dibiayai dari sumber dana pemerintah pusat atau pemerintah daerah secara penuh/wajar, misalnya guru kontrak/gurubantu. 12. Kegiatan penunjang yang tidak ada kaitannya dengan operasi sekolah, misalnya iuran dalam rangka perayaan hari besar nasional dan upacarakeagamaan/acara keagamaan. 13. Membiayai kegiatan dalam rangka mengikuti pelatihan/sosialisasi/ pendampingan terkait program BOS/perpajakan program BOS yang diselenggarakan lembaga di luar Dinas Pendidikan Provinsi/Kabupaten/ Kotadan Kementerian Pendidikan Nasional Dalam melaksanakan program BOS terdapat beberapa ketentuan yang harus ditaati oleh sekolah yang menerima dana BOS ini, yaitu : 1. Tidak diperkenankan melakukan manipulasi data jumlah siswa 2. Mengelola dana BOS secara transparan dan bertanggung jawab 3. Mengumumkan hasil pembelian barang dan harga yang dilakukan oleh sekolahdi papan pengumuman sekolah yang harus ditandatangani oleh KomiteSekolah 4. Menginformasikan secara tertulis rekapitulasi penerimaan dan penggunaandana BOS kepada orang tua siswa setiap semester bersamaan denganpertemuan orang tua siswa dan sekolah pada saat penerimaan raport 5. Bersedia diaudit oleh lembaga yang berwenang terhadap seluruh dana yangdikelola oleh sekolah, baik yang berasal dari dana BOS maupun dari sumberlain 6. Dilarang bertindak menjadi distributor atau pengecer buku kepada peserta didikdi sekolah yang bersangkutan

31

Tabel Pagu dan Realisasi Belanja Pemerintah Pusat Menurut Fungsi Tahun 2010 (Rp triliun)

Tabel di atas ini menunjukkan jumlah anggaran pendidikan tahun 2010 yang realisasinya mencapai 90,82 triliun, anggaran inilah yang digunakan untuk membiayai pendidikan gratis di Indonesia. Dilihat dari perkembanganya, fenomena pendidikan gratis ini tidak lepas dari pro dan kontra. Bagi yang pro dengan program-program itu mengatakan bahwa itu adalah upaya pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan dan penurunan angka anak putus sekolah, sekolah gratis bagi orangtua bisa mengurangi beban pikirannya untuk masalah biaya pendidikan dan tidak ada lagi anak-anak yang tidak boleh ikut ujian hanya karena belum bayar iuran sekolah. Sedangkan yang kontra berkata pemerintah bagaikan pahlawan kesiangan, Hal ini dikarenakan telah ada yang lebih dulu melakukan hal tersebut, yaitu LSM-LSM yang concern pada bidang pendidikan dan penanganan masyarakat tak mampu. Adanya kurang rasa harus sekolah, kesadaran akan pendidikan sangat kurang, anak lebih mementingkan pekerjaan dari pada harus sekolah yang tidak mengeluarkan apaapa. Biaya pendidikan gratis hanya sampai dengan Sekolah Menengah Pertama sedangkan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas tidak. Sedangkan tamatan Sekolah Lanjutan Tingkat Ataslah yang merupakan tombak utama dan usia yang mapan untuk mencari pekerjaan serta penghasil devisa negara. Sekolah menjadi bermutu karena ditopang oleh peserta didik yang punya semangat belajar.Mereka mau belajar kalau ada tantangan, salah satunya tantangan biaya.Generasi muda dipupuk untuk tidak mempunyai mental serba gratisan.Sebaiknya mental gratisan dikikis habis. Kerja keras, rendah hati, toleran, mampu beradaptasi, dan takwa, itulah yang harus ditumbuhkan agar generasi muda ini mampu bersaing di dunia internasional, mampu ambil bagian dalam percaturan dunia, bukan hanya menjadi bangsa pengagum, bangsa yang rakus mengonsumsi produk. Paling

32

susah adalah pemerintah menciptakan kondisi agar setiap orangtua mendapat penghasilan yang cukup sehingga mampu membiayai pendidikan anak-anaknya. Sesungguhnya, niat pemerintah untuk menggratiskan pendidikan adalah agar penduduk miskin dapat merasakan pendidikan juga, agar kelak tercapai pemerataan pendidikan.Akan tetapi dalam praktiknya ada beberapa dampak negative dari pelaksanaan pendidikan gratis ini.

Dampak Bantuan Operasional Sekolah (BOS) 1. Berkurangnya motivasi guru untuk mengajar dengan sepenuh hati Tidak hanya murid saja melainkan guru yang terkena imbas dari pendidikan gratis ini. Kebanyakan dari guru sekolah gratisan mengalami keterbatasan mengembangkan diri dan akhirnya akan kesulitan memotivasi peserta didik sebab harus berpikir soal bertahan hidup. Lebih celaka lagi jika guru berpikiran : pelayanan pada peserta didik sebesar honor saja. Jika demikian situasinya, maka jauh panggang dari api untuk menaikkan mutu pendidikan. 2. Sekolah swasta kecil kesulitan bertahan hidup Dengan diberlakukannya BOS, maka diharapkan sekolah tidak lagi memungut biaya apa pun, padahal biaya yang diberikan kepada sekolah swasta kecil belum cukup untuk membiayai biaya operasional sekolah akibatnya sekolah, terutama sekolah swasta kecil, akan kesulitan menutup biaya operasional sekolah, apalagi menyejahterakan gurunya. Pembiayaan seperti listrik, air, perawatan gedung, komputer, alat tulis kantor, transpor, uang makan, dan biaya lain harus dibayar. Mencari donor pun semakin sulit.Sekolah masih bertahan hanya berlandaskan semangat pengabdian pengelolanya. Tanpa iuran dari peserta didik, bagaimana akan menutup pembiayaan itu. 3. Keterbatasan Sekolah dalam mengelola dana BOS Pemberlakuan sekolah gratis bukan berarti penurunan kualitas pendidikan, penurunan minat belajar para siswa, dan penurunan tingkat kinrerja guru dalam kegiatan belajar mengajar di dunia pendidikan.Sekolah-sekolah gratis di Indonesia seharusnya memiliki fasilitas yang memadai, staf pengajar yang berkompetensi, kurikulum yang tepat, dan memiliki sistem administrasi dan birokrasi yang baik dan tidak berbelit-belit.Akan tetapi, pada kenyataannya, sekolah-sekolah gratis adalah sekolah yang terdapat di daerah terpencil yang kumuh dan segala sesuatunya tidak dapat menunjang bangku persekolahan sehingga timbul pertanyaan.Sedangkan biaya yang tidak menjadi prioritas sekolah dan memiliki biaya besar, seperti: study tour (karyawisata), studi banding, pembelian seragam bagi siswa dan guru untuk kepentingan pribadi (bukan inventaris sekolah), serta pembelian bahan atau peralatan yang tidak mendukung kegiatan sekolah, semuanya tidak ditanggung biaya BOS. Dan pemungutan biaya tersebut juga akan tergantung dengan kebijakan tiaptiap sekolah.

33

Penyelesaian masalah pendidikan tidak semestinya dilakukan secara terpisah-pisah, tetapi harus ditempuh langkah atau tindakan yang sifatnya menyeluruh.Artinya, kita tidak hanya memperhatikan kepada kenaikkan anggaran saja.Sebab percuma saja, jika kualitas Sumber Daya Manusia dan mutu pendidikan di Indonesia masih rendah.Masalah penyelenggaraan Wajib Belajar Sembilan tahun sejatinya masih menjadi PR besar bagi kita.Kenyataan yang dapat kita lihat bahwa banyak di daerah-daerah pinggiran yang tidak memiliki sarana pendidikan yang memadai.Dengan terbengkalainya program wajib belajar sembilan tahun mengakibatkan anak-anak Indonesia masih banyak yang putus sekolah sebelum mereka menyelesaikan wajib belajar sembilan tahun.Dengan kondisi tersebut, bila tidak ada perubahan kebijakan yang signifikan, sulit bagi bangsa ini keluar dari masalah-masalah pendidikan yang ada, apalagi bertahan pada kompetisi di era global. Adanya sekolah murah yang dana aktivitas pendidikannya terbanyak atau sepenuhnya ditanggung pemerintah, bisa menumbuhkan kepercayaan masyarakat akan peran dan keberadaan pemerintah. Kebijakan-kebijakan pemerintah akan segera didengar dan dipatuhi masyarakat selagi masyarakat benar-benar merasa pemerintah berada di pihak mereka dan berusaha

menyejahterahkan masyarakatnya. Sebaliknya, pemerintah pun akan memiliki bargaining politik yang kuat. Salah satu prasyarat pemerintahan yang kuat dan berdaulat adalah harus mendapatkan cinta dari rakyatnya. Adanya niat pemerintah untuk meringankan biaya pendidikan merupakan suatu hal yang patut disyukuri, program BOS ini pun sesungguhnya sudah cukup membantu sekolah dalam menyediakan pendidikan yang terjangkau bagi masyarakat.Akan tetapi beberapa dampak negative di atas menunjukkan bahwa program BOS ini masi perlu dikaji ulang mekanismenya, karena dengan mekanisme yang ada sekarang menyebabkan adanya keterbatasan-keterbatasan seperti yang disebutkan di atas.

34

BAB IV PENUTUP

Berdasarkan hasil pembahasan yang telah dikemukakan sebelumnya dalam makalah ini, maka dapat dirumuskan beberapa kesimpulan dan saran yang terkait dengan kebijakan s u b s i d i d a n pelayanan publik gratis.

A. Kesimpulan
i) Pelayanan gratis tidak meliputi seluruh aspek kebutuhan masyarakat pada sektor pendidikan. ii) Pelayanan gratis pada sektor pendidikan berlaku bagi seluruh masyarakat pada daerah yang bersangkutan sehingga mereka dari kelompok yang mampu membayar juga dilayani secara gratis. iii) Sebagian pelayan gratis s e k t o r p e n d i d i k a n yang terselenggara di daerah

merupakan program pemerintah pusat seperti BOS. iv) Subsidi BBM adalah salah satu kebijakan ekonomi yang tidak adil karena subsidi yang sebenarnya ditujukan kepada masyarakat yang kurang mampu ternyata malah lebih besar dinikmati oleh kelompok kelas atas.

v) Mengurangi subsidi BBM hingga ke tingkat yang serendah mungkin perlu dilakukan.

B. Saran
1) Perlunya dibuat suatu bentuk kebijakan yang lebih kondusif, yaitu suatu kebijakan pelayanan gratis yang hanya berlaku bagi masyarakat miskin dan yang kurang mampu yang sesuai dengan indicator miskin secara universal. Sedangkan bagi masyarakat yang mampu di sediakan jenis pelayanan yang berbeda sesuai dengan keinginan dan kemampuan yang mereka miliki yaitu dengan pola pelayanan prabayar atau berbentuk asuransi. 2) Pemerintah Daerah hendaknya harus siap menyediakan dana pendamping untuk membiayai operasional pelayanan pendidikan. Dana BOS yang berasal dari pemerintah pusat jangan dijadikan sebagai dana unggulan utama, namun harus dijadikan sebagai stimulant bagi

pemerintah daerah untuk menyediakan anggaran dari pendapatan internalnya (secara mandiri), misalnya melalui PAD.

35

3) Pemerintah harus membuat kebijakan tentang subsidi BBM yang tepat sasaran. 4) Pemerintah seharusnya lebih fokus ke riset dan eksplorasi minyak daripada mencari cara mengatasi masalah kenaikkan harga mnyak dunia. Menurut kelompok kami, dana yang dianggarkan untuk subsidi BBM akan lebih bijak dan lebih baik jika diperuntukan buat melakukan riset dan eksplorasi minyak bumi di Indonesia.

36