Você está na página 1de 13

ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN (ADKL)

Limbah PT Kahatex Mencemari Sungai Cikijing dan Cimonde

Disusun oleh:

Bayu Ari Pramono Anifah Muslimah Melia Listia Sari Nabilah

TINGKAT: II A

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN JAKARTA II JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN 2011

Ringkasan

Warga Rancaekek, Kabupaten Bandung mendesak Pemerintah Daerah Jawa Barat untuk menyelesaikan kasus pencemaran yang melanda wilayahnya dalam sepuluh tahun belakangan. Kasus pencemaran oleh sejumlah pabrik tekstil di antaranya PT Kahatex, sampai kini tak kunjung selesai. Karena itu warga memberi waktu sampai Mei depan. Akibat pencemaran itu warga Rancaekek jatuh miskin karena produksi sawah di sana sangat minim.

Jika sampai Mei belum juga ada penyelesaian warga akan memakai caranya sendiri. Warga akan menggugat perdata pabrik-pabrik tekstil itu, termasuk Pemda Jabar sebagai pemberi izin. Bisa juga gugatan secara fisik Diungkapkan, sejak pabrik-pabrik tekstil itu berdiri dan limbah pabrik dibuang ke wilayah persawahan Rancaekek, produksi padi hanya sekitar 50 persen dari produksi sebenarnya sekitar lima-enam ton setiap hektar. . Dari beberapa kali penelitian dilakukan Universitas Padjadjaran dan Walhi Jabar, Taufan mengatakan bahwa persawahan milik warga Rancaekek positif terkena limbah tekstil yang berdampak pada nilai produksi padi. limbah yang dibuang PT Kahatex mencapai 56.000 meter kubik setiap hari. Penelitian itu juga mengungkapkan lahan pertanian Rancaekek telah terkontaminasi zat pencemar berupa logam berat Pb (timbel), Co (Cobalt), dan lain-lain. Menurutnya pihak Bapedalda Jabar telah mengumumkan bahwa unsur logam pada limbah buangan sudah melewati Baku Mutu Limbah Cair (BMLC).

BAB I

LATAR BELAKANG

A. Deskripsi, lokasi dan riwayat P.T. KAHATEX didirikan oleh Mr. L.H. Song pada Tahun 1979, beliau mengikuti visinya untuk menjadi bagian dari kemajuan industri tekstil di Indonesia.Industri tekstil di Indonesia adalah industri terbesar ketiga di samping industri minyak dan gas, dan mempunyai kontribusi terbesar untuk pasar ekspor. Sejak saat itu perusahaan ini berkembang menjadi sebuah komplek pabrik yang besar, terbentang di atas dua lokasi pembuatan di Cijerah, Rancaekek dan di luar kota Bandung. Kahatex saat ini adalah salah satu produsen terlengkap mulai dari pembuatan serat, pemintalan, pertenunan, penyempurnaan dan pembuatan pakaian jadi. Untuk memelihara dan mengembangkan posisi mereka di pasaran, perusahaan mengikuti perkembangan secara teratur dan proses perluasan dengan memperluas jangkauan produk mereka. Saat ini grup Kahatex sebagai salah satu pemasok terbesar pada sektor tekstil dan memberikan kontribusi yang sangat berarti untuk pasar ekspor. 35% dari produksi diekspor langsung ke berbagai negara di dunia, sementara 45% dari produksi sebagai ekspor tidak langsung dan 20% dari produksi untuk pasar dalam negeri. Grup Kahatex saat ini mempekerjakan 26.000 karyawan dengan kapasitas untuk memproses 120.000 ton bahan baku (katun dan serat sintetik) per tahun. 400.000 mata pintal, 2.000 rotor dan 17.000 air jet spinning dan juga dilengkapi 2.000 mesin tenun dan 1.500 mesin rajut. Peta lokasi

Telepon 62-22-7798060 FAX 62-22-7798063 Pos alamat 23 Km Jl.Raya Rancaekek-, Sumedang, Kalimantan-barat, INDONESIA. Surat elektronik Informasi Umum: rc@kaha.com Penjualan: sales@kaha.com Dukungan Pelanggan: custsup@kaha.com Webmaster: webmaster@kaha.com

B. KUNJUNGAN LAPANGAN

Secara Mendadak MUSPIDA, Kunjungi Pabrik Khatex

Gubernur Jabar Ahmad Heryawan, Kapolda Jabar Irjen Pol. Drs. Sutarman,Pangdam III Siliwangi Edhi, Kapolres Sumedang AKBP Nurulloh Poto Besama Stap Kahatek (28/9) Kab. Sumedang, Buser Trans,. Sebagai dampak dari kemacetan di jalan Raya Rancaekek, PT. Kahatex diminta, agar segera memindahkan pintu keluar masuk karyawannya ke belakang pabrik. Hal tersebut dikemukakan Gubernur Jabar, Ahmad Heryawan, Sabtu (28/8), dalam kunjungannya ke PT. Kahatex, seusai melakukan pemantauan jalur Lingkar Nagreg bersama Kapolda Jabar Irjen Pol Drs Sutarman, Pangdam III Siliwangi dan Instansi terkait lainnya. Ketika melintas depan pabrik Kahatex, secara mendadak rombongan Gubernur Jabar tersebut meminta Kapolres Sumedang, AKBP. Nurulloh untuk membawa mereka melihat langsung ke lokasi perusahaan. Menurur Heryawan, dengan memindahkan pintu keluar dan masuk karyawan ke belakang, secara otomatis akan memindahkan para pedagang kaki lima yang biasa berjualan di bahu dan badan Jalan Raya Rancaekek-Garut. Kita tidak mau ada pihak-pihak dirugikan. Dengan memindahkan pintu keluar masuk bagi karyawan Kahatex ke belakang, para pedagang pun masih tetap bisa berjualan, jelasnya. Seperti diketahui, adanya pasar tumpah di depan PT. Kahatex merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya kemacetan. Upaya membenahi jalan keluar masuk karyawan dan keberadaan para pedagang kaki lima, menurut Heryawan, sebagai jangka pendek adalah menghapai lebaran. Untuk jangka panjangnya, akan dilakukan koordinasi lagi dari pihak perusaan, Satpol PP dan Kepolisian. Sedangkan Kapolda Jabar, Irjen Pol. Drs. Sutarman, meminta agar rencana pemindahan tersebut segera dilakukan. Menurut dia, dalam masalah tersebut diharapkan tidak ada yang diuntungkan dan dirugikan. Kalau memang rugi, rugi semua. untung,untung semua, tandasnya. bisa diatasi, tetapi masalah sampah. Kita akan melihat nanti, jalan di depan pabrik Kahatex ini akan jauh lebih indah, jika tidak ada pasar tumpah, jelasnya Manager Sekuriti, Nono Sukarno, yang mewakili pihak direksi PT. Kahatex menyampaikan rasa terima kasihnya atas kunjungan rombongban gubernur tersebut dan diakuinya bahwa pihaknya merasa kaget dengan kehadiranrombongan tamu secara mendadak. Menurutnya, dia sejak lama mencita-citakan Jalan Raya Rancaekek depan Kahatex tidak macet. Sedangka PT. Kahatek sendiri, kata dia mempunyai tujuh pintu, di belakang tiga, di depan empat. Saya pikir pemindahan tersebut tidak ada masalah. Yang harus tetap ditertibkan adalah angkot, yang ngetem sampai dua sampai tiga banjar di badan jalan. (Kos/Buser Trans)

C. DEMOGRAFI PENGUNAAN LAHAN DAN SDA

LOKASI

keterangan

1. PT Coca cola 2. SPBU 3. Balai kesehatan Nanjungmekar 4. Kantor pos 5. Kantor pemerintahan Nanjungmekar 6. PT Kahatex 7. lapangan bola bumi Rancaekek 8. Rumah makan simpangraya 9. PLN 10. Masjid Al. Soekarno

SDA Di Wilayah Bandung terdapat lebih dari 300 perusahaan tekstil yang tersebar di tiga wilayah, yaitu di Kabupaten Bandung, Kota Bandung dan Kota Cimahi. Di Kabupaten Bandung industri tekstil terkonsentrasi di tiga wilayah, yaitu wilayah timur (sepanjang Jalan CileunyiCicalengka), wilayah tengah (sepanjang Jalan Mohammad TohaDayeuhkolotMajalaya), dan wilayah barat (sekitar Nanjung dan Padalarang). Di Kota Cimahi, lokasi industri tekstil terkonsentrasi di sekitar Leuwigajah. Untuk wilayah Kota Bandung penyebaran industri tekstil berbeda dengan penyebaran dengan Kabupaten Bandung maupun Kota Cimahi. Di Kota Bandung, penyebarannya cenderung tidak terkonsentrasi dalam satu sentra. Sebagian besar bahan bakar yang digunakan untuk boiler industri tekstil adalah

bahan bakar minyak (solar atau residu) dan hanya sebagian kecil perusahaan yang sudah menggunakan batubara sebagai bahan bakar pada boiler. Berdasarkan data yang diperoleh dari Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Bandung, pada tahun 2003 di wilayah Bandung tercatat ada sebanyak 18 perusahaan yang telah menggunakan batubara dengan kebutuhan sebesar 274.163 ton. Hingga tahun 2004, bertambah sebanyak 20 perusahaan tekstil yang menggunakan batubara sebagai bahan bakar untuk boilernya. Pemakaian batubara hingga bulan Juni tahun 2004 tercatat sebesar 245.364 ton. Tercatat 7 perusahaan yang paling banyak menggunakan batubara yaitu PT. Kahatex, PT. Panasia Filamen Inti, PT. Ayoe Taihotex, PT. Bintang Agung, PT. Central Georgete Nusantara, Dewasuteratex dan PT. Trisulatex.

D. DATA OUTCOME KESEHATAN Kahatex telah mencemari ratusan hektar sawah penduduk di daerah Rancaekek, Kabupaten Bandung. Bila dijumlahkan secara keseluruhan areal sawah yang tercemar pabrik tersebut mencapai lebih dari 400 hektar, pada awalawal tahun didirikannya pabrik tersebut pada tahun 1989 tingkat pencemaran memang masih terkendali dan belum parah seperti sekarang. Namun dalam perkembangannya kemudian tingkat pencemaran yang ditimbulkan oleh pabrik tekstil tersebut semakin parah hingga tingkat yang sangat mengkhawatirkan. Pencemaran tertinggi terjadi melalui pembuangan limbah cair ke Sungai Cikijing yang merupakan anak Sungai Citarum. Air yang bersumber dari sungai itulah yang kemudian mengaliri ratusan hektar sawah hingga ikut tercemar limbah pabrik.. Akibat paling parah dari pencemaran tersebut, kata dia, ratusan hektar sawah tersebut hingga saat ini sulit untuk bisa ditanami karena tak bisa tumbuh.

BAB II

KEPEDULIAN MASYARAKAT

Permasalahan lingkungan di wilayah Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat sudah berlangsung sejak sekitar tahun 1991, dimana pada tahun tersebut sebagian warga masyarakat di Kecamatan Rancaekek mengeluhkan telah terjadinya pencemaran Kali Cikijing yang diduga disebabkan karena adanya pembuangan air limbah sisa proses produksi oleh kegiatan industri yang berlokasi di wilayah Kabupaten Sumedang. Warga meminta PT Kahatex bertanggung jawab terhadap pencemaran air di saluran irigasi di wilayah Kab Bandung. Akibat pencemaran itu, ribuan hektare sawah di tiga desa di Kecamatan Rancaekek diairi limbah. Selain persoalan limbah, PT Kahatex juga harus bertanggung jawab terhadap pengurangan debit air di berbagai irigasi. Hal ini terjadi setelah PT Kahatex membelah Sungai Cikeruh dan mengambil 75 persen airnya untuk kepentingan produksi.

BAB III

KONTAMINASI LINGKUNGAN DAN BAHAYA LAIN

A. Kontaminan dalam kompleks Instalasi pengolahan air limbah (IPAL) yang digunakan oleh PT Kahatex kinerjanya kurang optimal sehingga limbah yang dihasilkan dari proses produksi pabrik tidak terurai dengan baik. Hal ini menyebabkan limbah yang dikeluarkan atau dibuang oleh PT Kahatex menjadi berbahaya. Terlebih lagi limbah ini dibuang di aliran sungai Cikijing yang dimanfaatkan warga untuk mengaliri sawah mereka. B. Kontaminan di luar kompleks Tidak adanya aliran air selain aliran dari sungai Cikijing membuat warga terus menggunakan aliran air dari sungai Cikijing untuk mengaliri sawah mereka. Ini menjadi kontaminan yang dari luar. C. Gugus Kendali Mutu Salah satu hal yang harus dilakukan dalam hal ini adalah mengkaji amdal perusahaan tersebut. Sebelum keluarnya IMB (izin mendirikan bangunan) harus memiliki amdal dulu dan jika ini dijalankan tidak akan mucul permasalahan seperti sekarang ini di Rancaekek Penegakan masalah hukum merupakan langkah efektif dalam menuntaskan permasalahan pencemaran di Rancaekek. Dengan pendekatan hukum yang dilakukan akan membuat efek jera terhadap siapa pun yang melanggar. Selama ini belum terlihat adanya langkah ke arah tersebut karena yang terjadi hanya sebatas pendekatan pemberian bantuan-bantuan. D. Bahaya fisik dan bahaya lain Bahaya lain yang kemungkinan terjadi dari masalah ini antara lain dapat mencemari tanah disekitar daerah tersebut. Aliran air yang sudah tercemar tersebut digunakan untuk mengairi sawah warga, maka secara otomatis tanah yang ditanami padi-padi tersebut menjadi tercemar pula. Hal ini juga bias berdampak buruk bagi manusia, dikarenakan padi yang dipanen kemudian dimakan oleh manusia lambat laun dapat menyebabkan bahaya kesehatan untuk manusia itu sendiri.

BAB IV

ANALISIS JALUR

A. Jalur Pemajanan Lengkap


Elemen Jalur Pemajanan Media Titik Cara Lingkungan Pemajanan pemajanan

Sumber

Penduduk Terpajan

Sistem IPAL yang tidak optimal

Sungai Cikijing dan Cimande

Air limbah cair yang dibuang ke sungai Cikijing dan Cimande

Sistem irigasi (sumber air untuk irigasi berasal dari sungai Cikijing dan Cimande), tertelan

Penduduk desa sekitar aliran sungai Cikijing dan Cimande serta rusaknya sawah penduduk

B. Jalur Pemajanan Potensial Tidak terdapat jalur pemajanan potensial karena lima elemen jalur pemajanan telah terpenuhi seluruhnya, meliputi sumber pencemar, media lingkungan dan mekanisme penyebaran, titik pemajanan, cara pemajanan, dan penduduk berisiko.

BAB V

DAMPAK KESEHATAN MASYARAKAT

A. Evaluasi toksikologi Berdasarkan hasil penelitian, tanah di Rancaekek telah mengalami

pencemaran oleh logam berat. Tanah pada lahan di Rancaekemengandung Cu, Zn, Pb, Cd, Cr dan Ni dengan kandungan Cu dan Zn yang diatas baku mutu tanah.
B. Evaluasi data outcome kesehatan

C. Evaluasi kepedulian masyarakat

BAB VI KESIMPULAN Pencemaran merupakan hal yang tak mungkin dihindar sebagai akibat meningkatnyakegiatan industri dan aktifitas manusia. Hal ini seperti yang terjadi di daerah Rancaekek,didaerah ini telah terjadi pencemaran DAS yang selayaknya digunakan untuk sumber irigasi dan air baku rumah tangga. Permasalahan lingkungan di wilayah Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat sudah berlangsung sejak sekitar tahun 1991, dimana pada tahun tersebut sebagian warga masyarakat di Kecamatan Rancaekek mengeluhkan telah terjadinya pencemaran Kali Cikijing yang diduga disebabkan karena adanya pembuangan air limbah sisa proses produksi oleh kegiatan industri yang berlokasi di wilayah Kabupaten Sumedang. Menurut penelitian, pencemaran yang terjadi diantaranya pencemaran logam berat dan senyawa toksik lainnya. Akibat buruk dari kegiatan industri tekstil yang tidak memperhatikan dampak terhadap lingkungan ini diantaranya tercemarnya air tanah masyarakat, tercemarnya lahan sawah milik petani sekitar sehingga produktivitas padi menurun. serta penurunan taraf kesehatan masyarakat sekitar. Limbah yang dibuang salah satu pabrik tekstil terbesar di Rancaekek ini mencapai 56.000 meter kubik setiap hari. Penelitian itu juga mengungkapkan lahan pertanian Rancaekek telah terkontaminasi zat pencemar berupa logam berat Pb (timbel), Co (Cobalt), dan lain-lain. PT Kahatex juga tidak memenuhi riteria Sistem Manajemen Lingkungan (EMS) seperti diisyaratkan ISO 14.000, karena bermasalah dalam pembuangan limbah. Sebenarnya, Hampir semua pabrik memiliki IPAL dimana limbah sebelum dialirkan ke saluran pembuangan melalui pemrosesan dulu, agar memenuhi baku mutu kualitas air yang dipantau oleh Badan Pengendali Lingkungan Hidup Daerah (BAPEDALDA). Pemerintah merupakan pihak yang cukup member andil dalam kasus ini. Pemerintah sebagai pemegang kebijakan seharusnya sudah mulai tegas menindak perusahaan yang membuang limbahnya tanpa IPAL dan melampaui ambang batas kemudian perusahaan swasta yang menjadi aktor utama dalam proses pencemaran ini sudah selayaknya memperhatikan keseimbangan lingkungan dan terakhir adalah masyarakat sekitar seharusnya lebih kritis dalam menyuarakan asprasinya mengenai pencemaran ini, tidak hanya nasib mereka yang ditentukan tetapi juga nasib ketahanan pangan di daerah tersebut.

BAB VII REKOMENDASI Strategi penyelesaian kasus Rancaekek dirumuskan dengan mempertimbangkan dua hal utama yaitu, Tuntutan masyarakat dan pertimbangan ilmiah berdasarkan analisis situasi konflik dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Berdasarkan dua pertimbangan tersebut, strategi penyelesaian kasus Rancaekek dibagi ke dalam empat strategi utama, yaitu: Penghentian Pencemaran, meliputi 3 tuntutan masyarakat, yaitu: Baku Mutu Limbah Cair 0% (bersih), bermanfaat bagi lahan pertanian dan masyarakat, Adanya pengawasan yang tegas dari instansi terkait, terhadap perusahaan, dibuatkan IPAL terpadu yang jauh dari kawasan pemukiman atau perumahan, namun lokasi di wilayah Kecamatan Rancaekek. Ganti Rugi dan Pemulihan, meliputi 2 bentuk, yaitu: (a) Ganti Rugi dan Pemulihan Lahan Privat. Strategi ini meliputi 2 tuntutan masyarakat, yaitu: (1) Pemulihan lahan yang terkena limbah sehingga menjadi lahan produktif lagi, dan (2) Pihak yang telah menimbulkan kerugian bagi para petani harus bertanggung jawab, antara lain; sawah yang terkena dampak limbah 415 ha, yaitu Desa Sukamulya, Jelegong, Bojongloa dan Linggar. (b) Ganti Rugi dan Pemulihan Lingkungan Publik. Strategi ini meliputi 2 tuntutan masyarakat, yaitu: (1) Normalisasi kali Cikijing, Cimande dan Cikeruh untuk segera direalisasikan, dan (2) Buatkan sungai gendong, bagi masyarakat petani yang terkena limbah dengan sumber air dari bendungan Depok. Penataan Kawasan dan Kebijakan, yang meliputi masalah harmonisasi tata ruang dan kebijakan baku mutu pencemaran dan kriteria baku kerusakan lingkungan. Pemulihan Kehidupan Sosial Ekonomi, yang meliputi aspek penyerapan tenaga kerja lokal, penyediaan sarana air bersih dan kesehatan.

Penyusun Laporan Referensi