Você está na página 1de 40

BAB II LAPORAN KASUS

STATUS KEPANITERAAN KLINIK BEDAH RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BUDHI ASIH

Nama Mahasiswa NIM

: Novi Agustina : 030.007.189

Dokter Pembimbing : dr. David Idrial, Sp. OT A. IDENTITAS PASIEN Nama Umur Jenis Kelamin Alamat Pendidikan Pekerjaan Agama Suku bangsa Status pernikahan : Tn. MF : 18 tahun : Laki-laki : Jl. Asrama BS Rt 09/10. No: 20, Cililitan : SMA : Pelajar : Islam : Betawi : Belum menikah

Tanggal Masuk RS: 19 Februari 2012

B. ANAMNESIS Anamnesis dilakukan secara Autoanamnesis dan Alloanamnesis dengan ibu pasien pada tanggal 20 Februari 2012. 1. KELUHAN UTAMA Tungkai kanan dan tungkai kiri tidak sama panjang, setelah kecelakaan motor 7 bulan SMRS. 2. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG OS mengeluh tungkai kanan dan tungkai kiri nya tidak sama panjang setelah OS mengalami kecelakaan motor 7 bulan SMRS. Tungkai kanan OS lebih pendek dari tungkai kirinya. OS juga mengeluhkan bengkak di daerah paha sebelah kanan yang terjadi beberapa saat OS mengalami kecelakaan, bengkak hingga saat ini masih dialami OS, kadang terasa nyeri, terutama saat OS berjalan.OS mengeluhkan menjadi sulit berjalan karena kedua tungkainya tidak sama panjang, dan saat ini OS berjalan menggunakan tongkat. Saat ini OS datang ke RSUD Budhi Asih untuk melakukan operasi pada tungkai kanan nya. OS tidak mengeluhkan kelainan pada tungkai kiri dan juga anggota gerak lainnya. Sakit kepala, mual, muntah disangkal oleh OS. BAB dan BAK normal. 3. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU Pada tanggal 26 Juni 2011, OS mengalami kecelakaan motor, OS sedang mengendarai motor dengan kecepatan 80 km/jam menabrak mobil dibagian belakang. Paha kanan OS terbentur stang motor kemudian OS terpental 100 meter kedalam gerobak sayur. Tidak ada pingsan atau pun muntah setelah jatuh, dan tidak ada benturan dikepala. Setelah jatuh OS tidak bisa bangun sendiri karena rasa sakit di tungkai kanan nya, setelah itu OS langsung dibawa ke IGD RSUD Budhi Asih. Tindakan yang dilakukan di IGD saat itu adalah pembersihan luka terbuka pada tungkai bawah kanan, pemasangan bidai pada tungkai kanan, pemberian antibiotik, penghilang nyeri dan dilakukan pemeriksaan rontgen tungkai kanan. Pada saat itu OS di diagnosis fraktur femur 1/3 proksimal tertutup dan fraktur tibia 1/3 proksimal terbuka. Kemudian OS mendapatkan perawatan di bangsal RSUD Budhi Asih selama 1 minggu dan direncanakan operasi tungkai kanan oleh dokter, namun OS menolak untuk melakukan operasi, dan pulang setelah 1 minggu di rawat.
2

Setelah pulang dari RS, OS melanjutkan pengobatannya ke alternatif/tukang urut. OS mengatakan tungkai kanan atas dan bawahnya di urut setiap dua kali seminggu selama 7 bulan setelah keluar dari RS, OS merasakan tungkai kanan nya tidak membaik dan menjadi lebih pendek sehingga pada akhirnya OS memutuskan untuk datang ke poli bedah orthopedi dan dijadwalkan untuk dilakukan operasi pada tungkai kanan nya dan kembali di rawat di RSUD Budhi Asih. OS mengaku memiliki riwayat penyakit asma yang jarang kambuh. 4. RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA Tidak ada keluarga yang menderita penyakit yang sama. Riwayat penyakit hipertensi, kencing manis, asma dan keganasan pada anggota keluarga disangkal oleh OS. 5. RIWAYAT KEBIASAAN Minum-minuman alkohol dan merokok disangkal oleh OS. OS juga mengaku jarang berolahraga. 6. RIWAYAT ALERGI OS menyangkal adanya alergi obat ataupun makanan

C. PEMERIKSAAN FISIK (20 Februari 2012) Keadaan Umum Kesadaran Kesan sakit BB/TB BMI Kesan gizi Tanda Vital : Tekanan darah: 120/80 mmHG Suhu: 36,2 0C
3

: Compos mentis : Tampak sakit sedang : 56 Kg/ 172 cm : 18,9 kg/m2 : Gizi normal

Nadi: 84 x/menit Status generalis 1. 2. 3. 4. Kepala Mata Leher Thoraks Jantung : Inspeksi : tampak pulsasi ictus cordis Palpasi : Normocephal, (-) jejas

Pernafasan: 16 x/menit

: CA -/-; SI -/-; pupil bulat isiokor; refleks cahaya langsung/tidak langsung +/+ : KGB dan Tiroid tidak teraba membesar; JVP: 5+1 mmH20

: iktus cordis teraba di ICS V 1 cm medial linea midklavikularis

iiiiiiiiiiiiiiiiisinistra. Perkusi : : ICS III linea parasternalis sinistra. : ICS V, 1 cm medial linea midklavikularis sinistra. : ICS III-V linea sternalis dekstra.

Batas Atas Batas Kiri Batas Kanan Paru: 5.

Auskultasi: BJ I normal, BJ II normal, reguler. Murmur (-) Gallop (-)

Inspeksi : tampak pergerakan dinding dada simetris saat statis dan dinamis Palpasi Perkusi : pergerakan dinding dada simetris, vocal fremitus simetris : sonor pada kedua lapang paru.

Auskultasi: suara nafas vesikuler, rhonki -/-, whezzing -/-\ : : warna kulit sawo matang, datar, (-) ikterik, (-) spider nevi : teraba supel, nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba membesar
4

Abdomen Inspeksi Palpasi

6.

Perkusi

: timpani

Auskultasi: bising usus (+) normal, 3x/ menit :

Ekstremitas

Akral hangat pada keempat ekstremitas (+); Oedema (-).

Status Lokalis (Regio Femoris Dextra) Look : - (+) pembengkakan di tungkai atas kanan; (-) angulasi; (-) rotasi - (+) deformitas Feel :

- (+) pembengkakan di tungkai atas kanan, 6 cm diatas lutut, ukuran: 10 x 8 cm, suhu kulit normal, teraba keras, (-) mobile, (-) nyeri tekan - Panjang tungkai kanan: 96 cm, panjang tungkai kiri: 100 cm. Move : (-) krepitasi ROM aktif-pasif terbatas akibat nyeri

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG (7 Februari 2012) Laboratorium: Leukosit Eritrosit Hemoglobin Hematokrit : 12.700 /uL : 4,9 juta/uL : 15,1 gr/dl : 44 %
5

Trombosit LED Hit jenis leukosit

: 243.000 : 4 mm/jam :

basofil / eosinofil / batang / segmen / limfosit / monosit : 0 / 0 / 2 / 72 / 19 / 7 Masa perdarahan Masa pembekuan Rontgen: - Thorax PA : paru dan jantung dalam batas normal Os. Femur dextra AP - Lateral : : 230 menit : 1200 menit

Deskripsi: kalus Tidak tampak destruksi tulang fraktur lama pertengahan transverse displace Os. Femur dextra cum contractionum dengan

Kesan: Fraktur femur dextra 1/3 tengah

E. RESUME OS, laki-laki, usia 18 tahun datang dengan keluhan kelainan pada tungkai kanannya setelah kecelakaan motor 7 bulan SMRS. Kedua tungkai tidak sama panjang, tungkai kanan lebih pendek dari tungkai kiri. OS juga mengeluh adanya pembengkakan di paha kanan sejak OS mengalami kecelakaan, bengkak terus menerus dan kadang terasa sakit terutama saat berjalan. Saat ini OS berjalan dengan menggunakan tongkat. Setelah kecelakaan motor 7 bulan yang lalu, OS sempat dirawat selama 1 minggu di RS dan OS menolak operasi yang disarankan oleh dokter. Setelah pulang dari RS, OS melakukan pengobatan alternatif dengan
6

di urut, 2x/minggu selama 7 bulan, sampai akhirnya dirasakan tidak ada perubahan pada tungkainnya OS pergi ke RS dan dijadwalkan untuk operasi tungkai kanan. Pada pemeriksaan fisik didapatkan: status lokalis femur dextra Look: (+) pembengkakan di tungkai atas kanan; (-) angulasi; (-) rotasi; (+) deformitas. Feel : (+) pembengkakan di tungkai atas kanan, 6 cm diatas lutut, ukuran: 10 x 8 cm, suhu kulit normal, teraba keras, (-) mobile, (-) nyeri tekan; Panjang tungkai kanan: 96 cm, panjang tungkai kiri: 100 cm. Move: (-) krepitasi; ROM aktif-pasif terbatas akibat nyeri. Pada pemeriksaan Rontgen Os. femur dextra, didapatkan: fraktur lama pertengahan transverse displace; Os. Femur dextra cum contractionum dengan kalus.

F. DIAGNOSIS KERJA Malunion fraktur femur 1/3 tengah transverse displace tertutup

G. PENATALAKSANAAN - IVFD Asering 20 tetes/menit - Operasi release soft tissue skletal deffect - Osteotomi - Skletal traksi - Pro operasi ORIF

H. PROGNOSIS - Ad Vitam - Ad Sanationam - Ad Fungsionam : Ad bonam : Dubia ad bonam : Dubia ad bonam


7

LAPORAN PEMBEDAHAN (20 FEBRUARI 2012)

Tanggal Dokter Bedah Diagnosis Jenis Operasi

: 20 Februari 2012 : dr. David, Sp OT : Malunion fraktur femur dextra : Clear, Elektif, Mayor

Tindakan Pembedahan: - Release soft tissue - Osteotomi - Skletal traksi - Pro ORIF Uraian Pembedahan: 1. Posisi LLD dalam spinal anastesi 2. Asepsis dan antisepsis medan operasi, mempersempit dengan duk steril 3. Insisi posterior lateral diperdalam 4. Ditemukan malunion fraktur femur, dilakukan osteotomi dan release soft tissue 5. Kontrol perdarahan dan tutup luka operasi dengan meninggalkan drain 6. Pasang skletal traksi 7. Operasi selesai Instruksi Post Operasi 1. Awasi Keadaan Umum
8

2. IVFD Asering 1500 cc/24 jam 3. Terapi: Inj Sulbacef 2x1 gr Inj Tramadol 100 gr dalam 500 cc cairan/ 8 jam Inj Ketesse 3x50 gr Inj Ranitidine 2x150 gr

4. Cek darah perifer bila Hb < 10 gr/dl tranfusi PRC 500cc s/d Hb > 10 gr/dl 5. Pasang skletal traksi beban 4 kg 6. Rontgen kontrol femur dextra AP-Lateral dengan terpasang traksi beban 4 Kg 7. Tirah baring 24 jam

FOLLOW UP

Tanggal S 21/2/12 Nyeri bekas op (+) Demam (-)

O TD:120/80 mmHg N: 84 x/menit S: 35,8 0C P: 16x/menit Status Lokalis: (Femur dextra) Look: - Luka bekas op tertutup elastic perban, - drain (+): darah - (+) skletal traksi beban 4kg Fell: NT (+) Lab: 20/2/12 - Leukosit: 13400/ul - Hb: 13,4 gr/dl - Ht: 39 %

A P Post Osteotomi - IVFD Asering 1500/24 H-1 jam Malunion fr. - Diit TKTP Femur dextra - Inj Sulbacef 2x1 gr - Inj Tramol 3x100gr dalam 500 cc cairan - Inj ketesse 3x50 gr drip 100 cc (15 menit) - Inj Ranitidine 2x150 gr - Pertahankan skletal traksi beban 4kg - Elevasi bed 20 cm - Rontgen kontrol femur dextra AP-Lateral (terpasang beban 4 kg)

23/2/12

Nyeri bekas op << Demam (-)

- Trombosit: 256.000/ul TD:100/80 mmHg N: 74 x/menit S: 36,2 0C P: 14x/menit Status Lokalis: (Femur dextra) Look: - Luka bekas op tertutup elastic perban, - drain (+): darah - (+) skletal traksi beban 6kg Fell: NT (+) TD:120/80 mmHg N: 80 x/menit S: 35,8 0C P: 16x/menit Status Lokalis: (Femur dextra) Look: - Luka bekas op tertutup elastic perban, - (+) skletal traksi beban 11kg Fell: NT (+) Lab: 26/2/12 - Leukosit: 7100/ul - Hb: 12,5 gr/dl - Ht: 40% - Trombosit: 326.000/ul - HbsAg (+) Reaktif TD:110/70 mmHg N: 76 x/menit S: 36 0C P: 14x/menit

Post Osteotomi H-3 Malunion fr. Femur dextra

- Diit TKTP - Inj Sulbacef 2x1 gr - Inj Ketoprofen 2x100 gr - Tab Ranitidine 2x150 mg - Pertahankan skletal traksi beban 4kg 6kg - Pro rawat luka & GV

28/2/12

Nyeri bekas op << Demam (-)

Post Osteotomi H-8 Malunion fr. Femur dextra

- Diit TKTP - Tab Ciprofloxacin 2x500mg - Tab As. Mefenamat 3x500 mg - Tab Ranitidine 2x150 mg - Pertahankan skletal traksi beban 11kg - Aff DC

1/3/12

Nyeri bekas op << Demam (-)

5/3/12

Status Lokalis: (Femur dextra) Look: - Luka bekas op tertutup elastic perban, - (+) skletal traksi beban 12kg Fell: NT (+) Puasa (+) TD:110/80 mmHg Demam N: 80 x/menit

Post Osteotomi - Diit bebas TKTP H-10 - Tab Ciprofloxacin Malunion fr. 2x500mg Femur dextra - Tab As. Mefenamat 3x500 mg - Tab Ranitidine 2x150 mg - Pertahankan skletal traksi beban 11kg12 kg - Rencana op ORIF & Bone graft Senin 5/3/12

Malunion fr. Femur dextra

Pre Op ORIF & bone graft


10

(-)

S: 36 0C P: 16x/menit Status Lokalis: (Femur dextra) Look: - Luka bekas op tertutup elastic perban, - (+) skletal traksi beban 12kg Fell: NT (+) Lab: 2/3/12 - Leukosit: 14500/ul - Hb: 11,7 gr/dl - Ht: 34% - Trombosit: 421.000/ul

Rontgen Os Femur AP-Lateral (3 Maret 2012) Deskripsi: (+) soft tissue sweling (+) kalus Fraktur lama pertengahan transverse displace Kesan: Fraktur femur 1/3 tengah tranverse

11

LAPORAN PEMBEDAHAN (5 MARET 2012)

Tanggal Dokter Bedah Diagnosis Jenis Operasi

: 5 Maret 2012 : dr. David, Sp OT : Malunion fraktur femur dextra : Clear, Elektif, Mayor

Tindakan Pembedahan: ORIF plate & screw Bone graft

Uraian Pembedahan: 1. Posisi LLD dalam anastesi spinal 2. Asepsis dan antisepsis medan operasi, dipersempit dengan doek steril 3. Incisi longitudinal luka lama operasi di perdalam 4. Ditemukan fragmen fraktur femur, dilanjutkan pemasangan locking plate 10 holes + screw 5,0 10 pcs 5. Cek stabilitas stabil 6. Kontrol perdarahan & pasang graft (hon gross) 7. Tutup luka op, di pasang dry vac (vacum drain) 8. Operasi selesai Instruksi Post Operasi 1. Awasi Keadaan Umum 2. IVFD Asering 1500 cc/24 jam
12

3. Terapi: - Inj Sulbacef 2x1 gr - Inj Gentamycin 2x50 gr - Inj Tramadol 100 gr dalam 500 cc cairan/ 8 jam - Inj Ketesse 3x50 gr drip 100cc cairan (15 menit) - Inj Ranitidine 2x150 gr 4. Rontgen kontrol femur dextra AP-Lateral 5. Cek darah perifer/rutin bila Hb < 10 gr/dl tranfusi PRC 500cc s/d Hb > 10 gr/dl 6. Lain-lain lapor

FOLLOW UP Tanggal S 6/3/12 Nyeri bekas op (+) Demam (-), O TD:110/70 mmHg N: 80 x/menit S: 36 0C P: 16x/menit Status Lokalis: (Femur dextra) Look: - Luka bekas op tertutup elastic perban, - drain (+): 200cc/24 jam semi hemoragic Fell: NT (+) Move: ROM terbatas akibat nyeri Lab: 5/3/12 - Leukosit: 13100/ul - Hb: 10,5 gr/dl - Ht: 31 % - Trombosit: 444.000/ul
13

A Post operasi ORIF H-1 Malunion fr. Femur dextra

P - IVFD Asering 1000/24 jam - Diit TKTP - Inj Gentamicin 2x50 gr - Inj Tramadol 2x100gr dalam 500 cc cairan - Inj ketesse 3x50 gr drip 100 cc (15 menit) - Inj Ranitidine 2x150 gr - Mobilisasi duduk - Pesan tongkat/ axillary cruth bilaeral - Cek lab rutin post tranfusi

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

ANATOMI DAN FISIOLOGI TULANG Struktur tulang dan jaringan ikat menyusun kurang lebih 25% berat badan, dan otot menyusun kurang lebih 50%.Kesehatan baikya fungsi system musculoskeletal sangat tergantung pada sistem tubuh yang lain. Struktur tulang- tulang memberi perlindungan terhadap organ vital termasuk otak, jantung dan paru. Kerangka tulang merupakan kerangka yang kuat untuk meyangga struktur tubuh otot yang melekat ke tulang memungkinkan tubuh bergerak metrik. Tulang meyimpam kalsium, fosfor, magnesium, fluor. Tulang dalam tubuh manusia yang terbagi dalam empat kategori: tulang panjang (missal femur tulang kumat) tulang pendek (missal tulang tarsalia),tulang pipih (sternum) dan tulang tak teratur (vertebra). Tulang tersusun oleh jaringan tulang kanselus (trabekular atau spongius).Tulang tersusun atas sel,matrik protein,deposit mineral. Sel-selnya terdiri atas tiga jenis dasar osteoblas,osteosit dan osteocklas. Osteoblas berfungi dalam pembetukan tulang dengan mensekresikan matriks tulang. Matrik merupakan kerangka dimana garam - garam mineral anorganik di timbun. Ostiosit adalah sel dewasa yang terlibat dalam pemeliharahan fungsi tulang dan tarletak ostion. Ostioklas adalah sel multi nukliar yang berperan dalam panghancuran,resorpsi dan remodeling tulang. Tulang diselimuti oleh membran fibrus padat di namakan periosteum mengandung saraf,bempembuluh darah dan limfatik. Endosteum adalah membrane faskuler tipis yang menutupi rongga sumsum tulang panjang dan rongga rongga dalam tulang kanselus. Sumsum tulang merupakan jaringan faskuler dalam rongga sumsum tulang panjang dan dalam pipih.Sumsum tulang merah yang terletak di sternum,ilium,fertebra dan rusuk pada orang dewasa,bertanggung jawab pada produksi sel darah merah dan putih.pembentukan tulang .Tulang mulai tarbentuk lama sebelum kelahiran. (Mansjoer. 2000 : 347)

14

FRAKTUR

A. Definisi Fraktur dan Mekanisme Fraktur Fraktur adalah terputusnya kontinuitas dari tulang, sering diikuti oleh kerusakan jaringan lunak dengan berbagai macam derajat, mengenai pembuluh darah, otot dan persarafan. Trauma yang menyebabkan tulang patah dapat berupa trauma langsung, misalnya benturan pada lengan bawah yang menyebabkan patah tulang radius dan ulna, dan dapat berupa trauma tidak langsung, misalnya jatuh bertumpu pada tangan yang menyebabkan tulang klavikula atau radius distal patah. Akibat trauma pada tulang tergantung pada jenis trauma, kekuatan dan arahnya. Trauma tajam yang langsung atau trauma tumpul yang kuat dapat menyebabkan tulang patah dengan luka terbuka sampai ke tulang yang disebut patah tulang terbuka. Patah tulang di dekat sendi atau mengenai sendi dapat menyebabkan patah tulang disertai luksasi sendi yang disebut fraktur dislokasi.

A. Etiologi / Predisposisi Penyebab fraktur dapat dibagi menjadi tiga, yaitu 1. Cedera Traumatik Cedera traumatik pada tulang dapat disebabkan oleh : a. Cedera langsung berarti pukulan langsung terhadap tulang sehingga tulang patah secara spontan. Pemukulan biasanya menyebabkan fraktur melintang dan kerusakan pada kulit di atasnya. b. Cedera tidak langsung berarti pukulan langsung berada jauh dari lokasi benturan, misalnya jatuh dengan tangan berjulur dan menyebabkan fraktur klavikula. c. Fraktur yang disebabkan kontraksi keras yang mendadak dari otot yang kuat. 2. Fraktur Patologik Dalam hal ini kerusakan tulang akibat proses penyakit dimana dengan trauma minor dapat mengakibatkan fraktur dapat juga terjadi pada berbagai keadaan berikut : a. Tumor Tulang ( Jinak atau Ganas ) : pertumbuhan jaringan baru yang tidak terkendali dan progresif. b. Infeksi seperti osteomielitis : dapat terjadi sebagai akibat infeksi akut atau dapat timbul sebagai salah satu proses yang progresif, lambat dan sakit nyeri.
15

c. Rakhitis : suatu penyakit tulang yang disebabkan oleh defisiensi Vitamin D yang mempengaruhi semua jaringan skelet lain, biasanya disebabkan kegagalan absorbsi Vitamin D atau oleh karena asupan kalsium atau fosfat yang rendah. 3. Secara Spontan Disesbabkan oleh stress tulang yang terus menerus misalnya pada penyakit polio dan orang yang bertugas dikemiliteran.

B. Patofisiologi Menurut Black dan Matassarin (1993) serta Patrick dan Woods (1989). Ketika patah tulang, akan terjadi kerusakan di korteks, pembuluh darah, sumsum tulang dan jaringan lunak. Akibat dari hal tersebut adalah terjadi perdarahan, kerusakan tulang dan jaringan sekitarnya. Keadaan ini menimbulkan hematom pada kanal medulla antara tepi tulang dibawah periosteum dan jaringan tulang yang mengitari fraktur. Terjadinya respon inflamasi akibat sirkulasi jaringan nekrotik adalah ditandai dengan vasodilatasi dari plasma dan leukosit. Ketika terjadi kerusakan tulang, tubuh mulai melakukan proses penyembuhan untuk memperbaiki cidera, tahap ini menunjukkan tahap awal penyembuhan tulang. Hematom yang terbentuk bisa menyebabkan peningkatan tekanan dalam sumsum tulang yang kemudian merangsang pembebasan lemak dan gumpalan lemak tersebut masuk kedalam pembuluh darah yang mensuplai organ-organ yang lain. Hematom menyebabkan dilatasi kapiler di otot, sehingga meningkatkan tekanan kapiler, kemudian menstimulasi histamin pada otot yang iskhemik dan menyebabkan protein plasma hilang dan masuk ke interstitial. Hal ini menyebabkan terjadinya edema. Edema yang terbentuk akan menekan ujung syaraf. C. Pembagian Fraktur Secara umum, berdasarkan ada tidaknya hubungan antara tulang yang fraktur dengan dunia luar, fraktur juga dapat dibagi menjadi 2, yaitu fraktur tertutup dan fraktur terbuka. Disebut fraktur tertutup apabila kulit di atas tulang yang fraktur masih utuh. Sedangkan apabila kulit di atasnya tertembus dan terdapat luka yang menghubungkan tulang yang fraktur dengan dunia luar maka disebut fraktur terbuka, yang memungkinkan kuman dari luar dapat masuk ke dalam luka sampai ke tulang yang patah sehingga cenderung untuk mengalami kontaminasi dan infeksi.
16

Fraktur berdasarkan derajat atau luas garis fraktur terbagi atas : complete, dimana tulang patah terbagi menjadi dua bagian (fragmen) atau lebih, serta incomplete (parsial). Fraktur parsial terbagi lagi menjadi: 1. Fissure/Crack/Hairline: tulang terputus seluruhnya tetapi masih tetap di tempat, biasa terjadi pada tulang pipih 2. Greenstick Fracture: biasa terjadi pada anak-anak dan pada os radius, ulna, clavicula, dan costae 3. Buckle Fracture: fraktur di mana korteksnya melipat ke dalam

Berdasarkan garis patah/konfigurasi tulang dibagi menjadi : 1. 2. 3. 4. 5. Transversal: garis patah tulang melintang sumbu tulang (80-100o dari sumbu tulang) Oblik: garis patah tulang melintang sumbu tulang (<80o atau >100o dari sumbu tulang) Longitudinal: garis patah mengikuti sumbu tulang Spiral: garis patah tulang berada di dua bidang atau lebih Comminuted: terdapat 2 atau lebih garis fraktur

Jenis-jenis fraktur
17

Berdasarkan hubungan antar fragmen fraktur: 1. 2. Undisplace: fragmen tulang fraktur masih terdapat pada tempat anatomisnya Displace: fragmen tulang fraktur tidak pada tempat anatomisnya, terbagi atas: Shifted Sideways: menggeser ke samping tapi dekat Angulated: membentuk sudut tertentu Rotated: memutar Distracted: saling menjauh karena ada interposisi Overriding: garis fraktur tumpang tindih Impacted: satu fragmen masuk ke fragmen yang lain

D. Manifestasi Klinis 1. Deformitas Daya tarik kekuatan otot menyebabkan fragmen tulang berpindah dari tempatnya perubahan keseimbangan dan contur terjadi seperti : a. Rotasi pemendekan tulang. b. Penekanan tulang. 2. Bengkak : Edema muncul secara cepat dari lokasi dan ekstravaksasi darah dalam jaringan yang berdekatan dengan fraktur. 3. 4. 5. 6. Echimosis dari perdarahan Subculaneous. Spasme otot spasme involunters dekat fraktur. Tenderness / keempukan. Nyeri mungkin disebabkan oleh spasme otot berpindah tulang dari tempatnya dan kerusakan struktur didaerah yang berdekatan. 7. 8. 9. Kehilangan sensasi ( mati rasa, mungkin terjadi dari rusaknya syaraf/perdarahan ). Pergerakan abnormal. Dari hilangnya darah.

10. Krepitasi
18

11. Apabila fraktur terjadi pada ekstremitas atau persendian, maka akan ditemui keterbatasan LGS (lingkup gerak sendi).

E. Pemeriksaan Penunjang Tidak semua tanda dan gejala tersebut terdapat pada setiap fraktur, sehingga perlu dilakukan pemeriksaan penunjang. a. Pemeriksaan rontgen: Dilakukan dengan 2 proyeksi yaitu anterior-posterior dan lateral Untuk menentukan lokasi, luas dan jenis fraktur. Pemeriksaan ini juga berguna untuk mengikuti proses penyembuhan tulang. b. Scan tulang, tomogram, CT-scan/ MRI: Memperlihatkan frakur dan

mengidentifikasikan kerusakan jaringan lunak c. Pemeriksaan darah lengkap: Ht mungkin meningkat (hemokonsentrasi) atau menurun (pendarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh pada trauma multipel), Peningkatan Sel darah putih adalah respon stres normal setelah trauma.

F. Diagnosis Fraktur Diagnosis fraktur bergantung pada gejala, tanda fisik dan pemeriksaan sinar-x pasien. Biasanya pasien mengeluhkan mengalami cedera pada daerah tersebut. Bila berdasarkan pengamatan klinis diduga ada fraktur, maka perlakukanlah sebagai fraktur sampai terbukti lain.

G. Penatalaksanaan Penatalaksanaan secara Umum Fraktur biasanya menyertai trauma. Untuk itu sangat penting untuk melakukan pemeriksaan terhadap jalan napas (airway), proses pernafasan (breathing) dan sirkulasi (circulation), apakah terjadi syok atau tidak. Bila sudah dinyatakan tidak ada masalah lagi, baru lakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik secara terperinci. Waktu tejadinya kecelakaan penting ditanyakan untuk mengetahui berapa lama sampai di RS, mengingat golden period 16 jam. Bila lebih dari 6 jam, komplikasi infeksi semakin besar. Lakukan anamnesis dan pemeriksaan fisis secara cepat, singkat dan lengkap. Kemudian lakukan foto radiologis.

19

Pemasangan bidai dilakukan untuk mengurangi rasa sakit dan mencegah terjadinya kerusakan yang lebih berat pada jaringan lunak selain memudahkan proses pembuatan foto. Penatalaksanaan Kedaruratan Segera setelah cedera, pasien berada dalam keadaan bingung, tidak menyadari adanya fraktur dan berusaha berjalan dengan tungkai yang patah, maka bila dicurigai adanya fraktur, penting untuk meng-imobilisasi bagian tubuh segara sebelum pasien dipindahkan. Bila pasien yang mengalami cedera harus dipindahkan dari kendaraan sebelum dapat dilakukan pembidaian, ekstremitas harus disangga diatas dan dibawah tempat patah untuk mencegah gerakan rotasi maupun angulasi. Gerakan fragmen patahan tulang dapat menyebabkan nyeri, kerusakan jaringan lunak dan perdarahan lebih lanjut. Nyeri sehubungan dengan fraktur sangat berat dan dapat dikurangi dengan menghindari gerakan fragmen tulang dan sendi sekitar fraktur. Pembidaian yang memadai sangat penting untuk mencegah kerusakan jaringan lunak oleh fragmen tulang. Daerah yang cedera diimobilisasi dengan memasang bidai sementara dengan bantalan yang memadai, yang kemudian dibebat dengan kencang. Imobilisasi tulang panjang ekstremitas bawah dapat juga dilakukan dengan membebat kedua tungkai bersama, dengan ektremitas yang sehat bertindak sebagai bidai bagi ekstremitas yang cedera. Pada cedera ektremitas atas, lengan dapat dibebatkan ke dada, atau lengan bawah yang cedera digantung pada sling. Peredaran di distal cedera harus dikaji untuk menentukan kecukupan perfusi jaringan perifer. Pada fraktur terbuka, luka ditutup dengan pembalut bersih (steril) untuk mencegah kontaminasi jaringan yang lebih dalam. Jangan sekali-kali melakukan reduksi fraktur, bahkan bila ada fragmen tulang yang keluar melalui luka. Pasanglah bidai sesuai yang diterangkan di atas. Pada bagian gawat darurat, pasien dievaluasi dengan lengkap. Pakaian dilepaskan dengan lembut, pertama pada bagian tubuh sehat dan kemudian dari sisi cedera. Pakaian pasien mungkin harus dipotong pada sisi cedera. Ektremitas sebisa mungkin jangan sampai digerakkan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut. Prinsip Penanganan Fraktur
20

Prinsip-prinsip tindakan/penanganan fraktur meliputi reduksi, imobilisasi, dan pengembalian fungsi dan kekuatan normal dengan rehabilitasi Reduksi, yaitu : restorasi fragmen fraktur sehingga didapati posisi yang dapat diterima.

Reduksi fraktur (setting tulang) berarti mengembalikan fragmen tulang pada kesejajarannya dan posisi anatomis normal.

Sasarannya adalah untuk memperbaiki fragmen-fragmen fraktur pada posisi anatomik normalnya.

Metode untuk reduksi adalah dengan reduksi tertutup, traksi, dan reduksi terbuka. Metode tertentu yang dipilih bergantung sifat fraktur, namun prinsip yang mendasarinya tetap sama. Biasanya dokter melakukan reduksi fraktur sesegera mungkin untuk mencegah jaringan lunak kehilangan elastisitasnya akibat infiltrasi karena edema dan perdarahan. Pada kebanyakan kasus, reduksi fraktur menjadi semakin sulit bila cedera sudah mengalami penyembuhan.

Metode reduksi : 1. Reduksi tertutup, pada kebanyakan kasus reduksi tertutup dilakukan dengan mengembalikan fragmen tulang ke posisinya (ujung-ujungnya saling berhubungan) dengan Manipulasi dan Traksi manual. Sebelum reduksi dan imobilisasi, pasien harus dimintakan persetujuan tindakan, analgetik sesuai ketentuan dan bila diperlukan diberi anestesia. Ektremitas dipertahankan dalam posisi yang diinginkan sementara gips, bidai atau alat lain dipasang oleh dokter. Alat imobilisasi akan menjaga reduksi dan menstabilkan ektremitas untuk penyembuhan tulang. Rontgen harus dilakukan untuk mengetahui apakah fragmen tulang telah dalam kesejajaran yang benar. 2. Traksi Traksi dapat digunakan untuk mendapatkan efek reduksi dan imobilisasi. Beratnya traksi disesuaikan dengan spasme otot yang terjadi. Secara umum traksi dilakukan dengan menempatkan beban dengan tali pada ekstermitas pasien. Tempat tarikan disesuaikan sedemikian rupa sehingga arah tarikan segaris dengan sumbu panjang tulang yang patah.
21

Metode pemasangan traksi antara lain : a. Traksi manual Tujuannya adalah perbaikan dislokasi, mengurangi fraktur, dan pada keadaan emergency b. Traksi mekanik, ada 2 macam : Traksi kulit (skin traction) Dipasang pada dasar sistem skeletal untuk sturktur yang lain misal otot. Digunakan dalam waktu 4 minggu dan beban < 5 kg. Traksi skeletal Merupakan traksi definitif pada orang dewasa yang merupakan balanced traction. Dilakukan untuk menyempurnakan luka operasi dengan kawat metal / penjepit melalui tulang / jaringan metal. Kegunaan pemasangan traksi antara lain: 1. 2. 3. 4. 5. Mengurangi nyeri akibat spasme otot Memperbaiki & mencegah deformitas Immobilisasi Difraksi penyakit (dengan penekanan untuk nyeri tulang sendi) Mengencangkan pada perlekatannya

Prinsip pemasangan traksi : Tali utama dipasang di pin rangka sehingga menimbulkan gaya tarik. Berat ekstremitas dengan alat penyokong harus seimbang dengan pemberat agar reduksi dapat dipertahankan Pada tulang-tulang yang menonjol sebaiknya diberi lapisan khusus. Traksi dapat bergerak bebas dengan katrol. Pemberat harus cukup tinggi di atas permukaan lantai. Traksi yang dipasang harus baik dan terasa nyaman. 3. Reduksi terbuka, pada fraktur tertentu memerlukan reduksi terbuka. Dengan pendekatan bedah, fragmen tulang direduksi. Alat fiksasi interna dalam bentuk pin, kawat, sekrup, palt, paku atau batangan logam dapat digunakan untuk mempertahan kan fragmen tulang dalam posisinya sampai penyembuhan tulang yang solid terjadi.

22

Imobilisasi

Setelah fraktur direduksi, fragmen tulang harus diimobilisasi, atau dipertahankan dalam posisi dan kesejajaran yang benar sampai terjadi penyatuan.

Sasarannya adalah mempertahankan reduksi di tempatnya sampai terjadi penyembuhan. Metode untuk mempertahankan imobilisasi adalah dengan alat-alat eksternal (bebat, brace, case, pen dalam plester, fiksator eksterna, traksi, balutan) dan alat-alat internal (nail, lempeng, sekrup, kawat, batang, dll)

Tabel 1. Perkiraan Waktu Imobilisasi yang Dibutuhkan untuk Penyatuan Tulang Fraktur

23

Rehabilitasi

Sasarannya meningkatkan kembali fungsi dan kekuatan normal pada bagian yang sakit. Untuk mempertahankan dan memperbaiki fungsi dengan mempertahankan reduksi dan imobilisasi adalah peninggian untuk meminimalkan bengkak, memantau status neurovaskuler, mengontrol ansietas dan nyeri, latihan isometrik dan pengaturan otot, partisipasi dalam aktifitas hidup sehari-hari, dan melakukan aktifitas kembali secara bertahap dapat memperbaiki kemandirian fungsi. Pengembalian bertahap pada aktivitas semula diusahakan sesuai batasan terapeutik.

24

Tabel 2. Ringkasan Tindakan terhadap Fraktur

PROSES PENYEMBUHAN TULANG Tahapan penyembuhan tulang terdiri dari: inflamasi, proliferasi sel, pembentukan kalus, penulangan kalus (osifikasi), dan remodeling. 1. Inflamasi. Tahap inflamasi berlangsung beberapa hari dan hilang dengan berkurangnya pembengkakan dan nyeri. Terjadi perdarahan dalam jaringan yang cidera dan pembentukan hematoma di tempat patah tulang. Ujung fragmen tulang mengalami devitalisasi karena terputusnya pasokan darah. Tempat cidera kemudian akan diinvasi oleh magrofag (sel darah putih besar), yang akan membersihkan daerah tersebut. Terjadi inflamasi, pembengkakan dan nyeri. 2. Proliferasi Sel. Setelah kira-kira 5 hari hematom akan mengalami organisasi, terbentuk benang-benang fibrin dalam jendalan darah, membentuk jaringan untuk revaskularisasi, dan invasi fibroblast dan osteoblast. Fibroblast dan osteoblast (berkembang dari osteosit, sel endotel, dan sel periosteum) akan menghasilkan kolagen dan proteoglikan sebagai matriks kolagen pada patahan tulang. Terbentuk jaringan ikat fibrus dan tulang rawan (osteoid). Dari periosteum, tampak pertumbuhan melingkar. Kalus tulang rawan tersebut dirangsang oleh gerakan mikro
25

minimal pada tempat patah tulang. Tetapi gerakan yang berlebihan akan merusak sruktur kalus. Tulang yang sedang aktif tumbuh menunjukkan potensial elektronegatif. 3. Tahap Pembentukan Kalus. Pertumbuhan jaringan berlanjut dan lingkaran tulang rawan tumbuh mencapai sisi lain sampai celah sudah terhubungkan. Fragmen patahan tulang digabungkan dengan jaringan fibrus, tulang rawan, dan tulang serat matur. Bentuk kalus dan volume dibutuhkan untuk menghubungkan defek secara langsung berhubungan dengan jumlah kerusakan dan pergeseran tulang. Perlu waktu tiga sampai empat minggu agar fragmen tulang tergabung dalam tulang rawan atau jaringan fibrus. Secara klinis fargmen tulang tidak bisa lagi digerakkan. 4. Tahap Penulangan Kalus (Osifikasi). Pembentukan kalus mulai mengalami penulangan dalam dua sampai tiga minggu patah tulang, melalui proses penulangan endokondral. Patah tulang panjang orang dewasa normal, penulangan memerlukan waktu tiga sampai empat bulan. Mineral terus menerus ditimbun sampai tulang benar-benar telah bersatu dengan keras. Permukaan kalus tetap bersifat elektronegatif. 5. Tahap Menjadi Tulang Dewasa (Remodeling). Tahap akhir perbaikan patah tulang meliputi pengambilan jaringan mati dan reorganisasi tulang baru ke susunan struktural sebelumnya. Remodeling memerlukan waktu berbulanbulan sampai bertahun tahun tergantung beratnya modifikasi tulang yang dibutuhkan, fungsi tulang, dan pada kasus yang melibatkan tulang kompak dan kanselus stres fungsional pada tulang. Tulang kanselus mengalami penyembuhan dan remodeling lebih cepat daripada tulang kortikal kompak, khususnya pada titik kontak langsung. Selama pertumbuhan memanjang tulang, maka daerah metafisis mengalami remodeling (pembentukan) dan pada saat yang bersamaan epifisis menjauhi batang tulang secara progresif. Remodeling tulang terjadi sebagai hasil proses antara deposisi dan resorpsi osteoblastik tulang secara bersamaan. Proses remodeling tulang berlangsung sepanjang hidup, dimana pada anak-anak dalam masa pertumbuhan terjadi keseimbangan (balance) yang positif, sedangkan pada orang dewasa terjadi keseimbangan yang

negative. Remodeling juga terjadi setelah penyembuhan suatu fraktur.

26

H. KOMPLIKASI 1. Sindroma Kompartemen Sindroma kompartemen adalah suatu sindrom yang terjadi karena beberapa hal, bisa disebabkan oleh fraktur, di mana terjadi peningkatan tekanan intrakompartemen sehingga terjadi iskemia jaringan. Peningkatan tekanan ini disebabkan oleh terisinya cairan ke dalam kompartemen (fascia), dan tidak diikuti oleh pertambahan luas/volume kompartemen itu

sendiri. Cairan tersebut dapat berupa darah atau edema yang disebabkan oleh fraktur. Dengan meningkatnya tekanan intrakompartemen

(interstitial) yang melampaui tekanan perfusi kapiler (pembuluh darah), akan menyebabkan aliran darah yang seyogyanya mensuplai oksigen dan nutrisi ke jaringan menjadi tidak adekuat (kolaps). Hal ini akan memicu terjadinya iskemia jaringan, yang menyebabkan edema sehingga tekanan intrakompartemen tersebut akan semakin meningkat. Bila hal ini tidak diatasi, maka iskemia yang terjadi akan menimbulkan kematian jaringan dan nekrosis, yang pada akhirnya dapat mengancam nyawa. Secara umum terdapat beberapa tanda (sign) untuk sindroma kompartemen, yang disingkat menjadi 5P: Pain (nyeri), yang sering ditemukan dan terjadi di awal sindrom Parestesia, yaitu gangguan pada saraf sensorik Paralisis, yaitu gangguan motorik yang ditemukan setelah beberapa waktu Pallor, yaitu pucat pada kulit akibat berkurangnya suplai darah Pulselessness, yaitu kehilangan denyut arteri Cara untuk mengatasi hal ini adalah dengan teknik fasciotomi, suatu tindakan operatif untuk membebaskan cairan yang terperangkap di dalam kompartemen.

2.

Major Blood Loss Hal ini disebabkan vaskularisasi yang ekstensif pada daerah femur. Apabila terjadi

perdarahan secara signifikan (lebih dari 1 liter) dapat berakibat secara sistemik, seperti shock, hipotensi, dan takikardia.

27

Lieurance et al mengemukakan bahwa sekitar 40 persen penderita fraktur femur mengalami kehilangan darah rata-rata sebanyak 1.276 cc. Hal ini dapat diminimalisasi dengan cara mengimobilisasi tulang yang mengalami fraktur, memperbaiki deformitas, menyambung (ligasi) pembuluh darah serta resusitasi.

3.

Infeksi

Pada fraktur, infeksi dapat terjadi melalui 3 jalur: Fraktur terbuka yang disertai luka yang terpajan ke lingkungan luar Fraktur yang disertai hematoma, di mana bakteri dibawa oleh aliran darah Infeksi pasca operasi Infeksi pada fraktur dapat dibagi menjadi infeksi luar (superfisial) dan infeksi dalam. Pada infeksi luar, penanganan dapat dilakukan dengan pemberian antibiotik dan pembersihan serta mengelola luka dengan baik. Jika infeksi terjadi di dalam, maka drainase pus, pembersihan jaringan nekrotik dan mengelola luka merupakan penanganan yang baik. Pemberian antibiotik juga dapat dilakukan, namun tidak semua antibiotik memiliki spektrum yang tepat. Sebaiknya dilakukan analisis mikroorganisme sebelum pemberian antibiotik.

4.

Penyembuhan abnormal pada fraktur

MALUNION Malunion adalah keadaan dimana fraktur menyembuh pada saatnya, tetapi terdapat deformitas yang terbentuk angulasi, varus / valgus, rotasi, kependekan atau union secara menyilang misalnya pada fraktur radius dan ulna. Etiologi

Fraktur tanpa pengobatan Pengobatan yang tidak adekuat Reduksi dan imobilisasi yang tidak baik Pengambilan keputusan serta teknik yang salah pada awal pengobatan Osifikasi premature pada lempeng epifisis karena adanya trauma

Gambaran klinis
28

Deformitas dengan bentuk yang bervariasi Gangguan fungsi anggota gerak Nyeri dan keterbatasan pergerakan sendi Ditemukan komplikasi seperti paralysis tardi nervus ulnaris Osteoarthritis apabila terjadi pada daerah sendi Bursitis atau nekrosis kulit pada tulang yang mengalami deformitas

Pemeriksaan radiologist Pada foto roentgen terdapat penyambungan fraktur tetapi pada posisi yang tidak sesuai dengan keadaan yang normal. Pengobatan Konservatif Dilakukan refrakturisasi dengan pembiusan umum dan imobilisasi sesuai dengan fraktur yang baru. Apabila ada kependekan anggota gerak dapat digunakan sepatu orthopedic. Operatif

Osteotomi koreksi (osteotomi Z) dan bone graft disertai dengan fiksasi interna Osteotomi dengan pemanjangan bertahap, misalnya pada anak anak. Osteotomi yang bersifat baji

DELAYED UNION Delayed union adalah fraktur yang tidak sembuh setelah selang waktu 3 -5 bulan (3 bulan untuk anggota gerak atas dan 5 bulan untuk anggota gerak bawah) Etiologi Etiologi delayed union sama dengan etiologi pada nonunion Gambaran klinis

Nyeri anggota gerak pada pergerakan dan waktu berjalan.


29

Terdapat pembengkakan Nyeri tekan Terdapat gerakan yang abnormal pada daerah fraktur Pertambahan deformitas

Pemeriksaan radiologist

Tidak ada gambaran tulang baru pada ujung daerah fraktur Gambaran kista pada ujung ujung tulang karena adanya dekalsifikasi tulang Gambaran kalus yang kurang disekitar fraktur.

Pengobatan Konservatif Pemasangan plester untuk imobilisasi tambahan selama 2 3 bulan. Operatif Bila union diperkirakan tidak akan terjadi, maka segera dilakukan fiksasi interna dan pemberian bone graft. NONUNION Disebut nonunion apabila fraktur tidak menyembuh antara 6 8 bulan dan tidak didapatkan konsolidasi sehingga didapat pseudoarthrosis (sendi palsu). Pseudoarthrosis dapat terjadi tanpa infeksi tetapi dapat juga terjadi sama sama dengan infeksi disebut infected pseudoarthrosis. Beberapa jenis nonunion terjadi menurut keadaan ujung ujung fragmen tulang. Hipertrofik Ujung ujung tulang bersifat sklerotik dan lebih besar dari normal yang disebut gambaran elephants foot. Garis fraktur tampak dengan jelas. Ruangan antar tulang diisi dengan tulang rawan dan jaringan ikat fibrosa. Pada jenis ini vaskularisasinya baik sehingga biasanya hanya diperlukan fiksasi yang rigid tanpa pemasangan bone graft.
30

Atrofik (Oligotrofik) Tidak ada tanda tanda aktivitas seluler pada ujung fraktur. Ujung tulang lebih kecil dan bulat serta osteoporotik dan avaskular. Pada jenis ini disamping dilakukan fiksasi rigid juga diperlukan pemasangan bone graft. Gambaran klinis

Nyeri ringan atau sama sekali tidak ada Gerakan abnormal pada daerah fraktur yang membentuk sendi palsu yang disebut pseudoarthrosis.

Nyeri tekan atau sama sekali tidak ada. Pembengkakan bisa ditemukan dan bisa juga tidak terdapat pembengkakan sama sekali Pada perabaan ditemukan rongga diantara kedua fragmen.

Pemeriksaan radiologist

Terdapat gambaran sklerotik pada ujung ujung tulang Ujung ujung tulang berbentuk bulat dan halus Hilangnya ruangan meduler pada ujung ujung tulang Salah satu ujung tulang dapat berbentuk cembung dan sisi lainnya cekung (psedoarthrosis)

Pengobatan

Fiksasi interna rigid dengan atau tanpa bone graft Eksisi fragmen kecil dekat sendi. Misalnya kepala radius, prosesus stiloid ulna Pemasangan protesis, misalnya pada fraktur leher femur Stimulasi elektrik untuk mempercepat osteogenesis.

PENYEBAB NONUNION DAN DELAYED UNION


Vaskularisasi pada ujung ujung fragmen yang kurang Reduksi yang tidak adekuat Imobilisasi yang tidak adekuat sehingga terjadi gerakan pada kedua fragmen. Waktu imobilisasi yang tidak cukup
31

Infeksi Distraksi pada kedua ujung karena adanya traksi yang berlebihan Interposisi jaringan lunak diantara kedua fragmen tulang Terdapat jarak yang cukup besar antara kedua fragmen Destruksi tulang misalnya oleh karena tumor atau osteomielitis (fraktur patologis) Disolusi hematoma fraktur oleh jaringan sinovia (fraktur intrakapsuler) Kerusakan periosteum yang hebat sewaktu terjadi fraktur atau operasi Fiksasi interna yang tidak sempurna Delayed union yang tidak diobati Pengobatan yang salah atau sama sekali tidak dilakukan pengobatan Terdapat benda asing diantara kedua fraktur, misalnya pemasangan screw diantara kedua fragmen.

FRAKTUR FEMUR

A. Anatomi dan Fisiologi Tulang Femur Femur pada ujung bagian atasnya memiliki caput, collum, trochanter major dan trochanter minor. Bagian caput merupakan lebih kurang dua pertiga bola dan berartikulasi dengan acetabulum dari os coxae membentuk articulatio coxae. Pada pusat caput terdapat lekukan kecil yang disebut fovea capitis, yaitu tempat perlekatan ligamentum dari caput. Sebagian suplai darah untuk caput femoris dihantarkan sepanjang ligamen ini dan memasuki tulang pada fovea.

32

Bagian collum, yang menghubungkan kepala pada batang femur, berjalan ke bawah, belakang, lateral dan membentuk sudut lebih kurang 125 derajat (pada wanita sedikit lebih kecil) dengan sumbu panjang batang femur. Besarnya sudut ini perlu diingat karena dapat dirubah oleh penyakit. Trochanter major dan minor merupakan tonjolan besar pada batas leher dan batang. Yang menghubungkan dua trochanter ini adalah linea intertrochanterica di depan dan crista intertrochanterica yang mencolok di bagian belakang, dan padanya terdapat tuberculum quadratum. Bagian batang femur umumnya menampakkan kecembungan ke depan. Ia licin dan bulat pada permukaan anteriornya, namun pada bagian posteriornya terdapat rabung, linea aspera. Tepian linea aspera melebar ke atas dan ke bawah.Tepian medial berlanjut ke bawah sebagai crista supracondylaris medialis menuju tuberculum adductorum pada condylus

medialis.Tepian lateral menyatu ke bawah dengan crista supracondylaris lateralis. Pada permukaan posterior batang femur, di bawah trochanter major terdapat tuberositas glutealis, yang ke bawah berhubungan dengan linea aspera. Bagian batang melebar ke arah ujung distal dan membentuk daerah segitiga datar pada permukaan posteriornya, disebut fascia poplitea. Ujung bawah femur memiliki condylus medialis dan lateralis, yang di bagian posterior dipisahkan oleh incisura intercondylaris. Permukaan anterior condylus dihubungkan oleh permukaan sendi untuk patella. Kedua condylus ikut membentuk articulatio genu. Di atas condylus terdapat epicondylus lateralis dan medialis. Tuberculum adductorium berhubungan langsung dengan epicondylus medialis.

33

Otot-otot femur terdiri dari 3 kelompok 1. Kelompok anterior (ekstensor) - m. rectus femoris - m. vastus lateralis - m. vastus medialis - m. vastus intermedius genu - m. sartorius 2. Kelompok medial (adduktor) - m. pectineus - m. gracilis - m. adductor longus - m. adductor brevis - m. adductor magnus 3. Kelompok posterior (fleksor) - m. biscep femoris - m. semitendinosus - m. semimembranosus - m. psoas major - m. iliacus - m. tensor fascia lata Vaskularisasi femur: arteri femoralis superficial, a obturator, vena saphena magna, vena obturator, vena femoralis.

B. Definisi Fraktur Femur Fraktur femur adalah terputusnya kontinuitas batang femur yang bisa terjadi akibat trauma langsung (kecelakaan lalu lintas, jatuh dari ketinggian), dan biasanya lebih banyak dialami oleh laki-laki dewasa. Patah pada daerah ini dapat menimbulkan perdarahan yang cukup banyak, mengakibatkan pendertia jatuh dalam syok.

C. Klasifikasi Fraktur Femur Ada 2 type dari fraktur femur, yaitu :


1.

Fraktur Intrakapsuler femur yang terjadi di dalam kapsul sendi panggul


-

Fraktur kapital: pada kaput femur


34

Fraktur subkapital: fraktur yang terletak dibawah kaput femur Fraktur transervikal: fraktur pada kolum femur

2.

Fraktur Ekstrakapsuler; Terjadi di luar kapsul sendi panggul, melalui trokhanter femur yang lebih besar/yang

lebih kecil /pada daerah intertrokhanter. Fraktur sepanjang trokanter mayor dan minor Fraktur intertrokanter Fraktur subtrokanter

Fraktur Kolum Femur Fraktur kolum femur termasuk fraktur intrakapsular yang terjadi pada bagian proksimal femur, yang termasuk kolum femur adalah mulai dari bagian distal permukaan kaput femoris sampai dengan bagian proksimal dari intertrokanter. Fraktur kolum femur dapat disebabkan oleh trauma langsung yaitu misalnya penderita jatuh dengan posisi miring dimana daerah trochanter mayor langsung terbentur dengan benda keras (jalanan) ataupun disebabkan oleh trauma tidak langsung yaitu karena gerakan exorotasi yang mendadak dari tungkai bawah. Pada pemeriksaan fisik, fraktur kolum femur dengan pergeseran akan menyebabkan deformitas yaitu terjadi pemendekan serta rotasi eksternal sedangkan pada fraktur tanpa pergeseran deformitas tidak jelas terlihat. Tanpa memperhatikan jumlah pergeseran fraktur yang terjadi, kebanyakan pasien akan mengeluhkan nyeri bila mendapat pembebanan, nyeri tekan di inguinal dan nyeri bila pinggul digerakkan. Standar pemeriksaan radiologi untuk fraktur kolum femur adalah rontgen pinggul dan pelvis anteroposterior dan cross-table lateral. Klasifikasi fraktur kolum femur menurut Gardens adalah sebagai berikut : a. b. c. Grade I : Fraktur inkomplit ( abduksi dan terimpaksi) Grade II : Fraktur lengkap tanpa pergeseran Grade III : Fraktur lengkap dengan pergeseran sebagian (varus malaligment)

d. Grade IV : Fraktur dengan pergeseran seluruh fragmen tanpa ada bagian segmen yang bersinggungan

35

Klasifikasi Gardens untuk Fraktur Kolum FemurKlasifikasi Pauwels untuk fraktur kolum femur juga sering digunakan. Klasifikasi ini berdasarkan atas sudut yang dibentuk oleh garis fraktur dan bidang horizontal pada posisi tegak. a. Tipe I : garis fraktur membentuk sudut 30 dengan bidang horizontal pada posisi tegak b. Tipe II : garis fraktur membentuk sudut 30-50 dengan bidang horizontal pada posisi tegak c. Tipe III: garis fraktur membentuk sudut >50 dengan bidang horizontal pada posisi tegak

Klasifikasi Pauwels untuk Fraktur Kolum Femur Fraktur Subtrochanter Femur Faktur dimana garis patahnya berada 5 cm distal dari trochanter minor, dibagi dalam beberapa klasifikasi tetapi yang lebih sederhana dan mudah dipahami adalah klasifikasi Fielding & Magliato, yaitu :
36

tipe 1 : garis fraktur satu level dengan trochanter minor tipe 2 : garis patah berada 1 -2 inch di bawah dari batas atas trochanter minor tipe 3 : garis patah berada 2 -3 inch di distal dari batas atas trochanterminor

Fraktur Batang Femur/ Diafisis femur Fraktur batang femur biasanya terjadi karena trauma langsung akibat kecelakaan lalu lintas dikota kota besar atau jatuh dari ketinggian, patah pada daerah ini dapat menimbulkan perdarahan yang cukup banyak, mengakibatkan penderita jatuh dalam shock, salah satu klasifikasi fraktur batang femur dibagi berdasarkan adanya luka yang berhubungan dengan daerah yang patah. Dibagi menjadi : 1. Tertutup 2. Terbuka, ketentuan fraktur femur terbuka bila terdapat hubungan antara tulang patah dengan dunia luar dibagi dalam tiga derajat, yaitu ; Derajat I : Bila terdapat hubungan dengan dunia luar timbul luka kecil, biasanya diakibatkan tusukan fragmen tulang dari dalam menembus keluar. Derajat II : Lukanya lebih besar (>1cm) luka ini disebabkan karena benturan dari luar. Derajat III : Lukanya lebih luas dari derajat II, lebih kotor, jaringan lunak banyak yang ikut rusak (otot, saraf, pembuluh darah) Gambaran Klinis Penderita pada umumnya dewasa muda. Ditemukan pembengkakan dan deformitas pada tungkai atas berupa rotasi eksterna dan pemendekan tungkai dan mungkin datang dalam keadaan schok. Penatalaksanaan 4. Terapi konservatif
37

Traksi kulit merupakan pengobatan sementara sebelum dilakukan terapi definitif untuk mengurangi spasme otot

Traksi tulang berimbang dengan bagian Pearson pada sendi lutut. Indikasi traksi terutama yang bersifat kominutif dan segmental.

Menggunakan cast bracing yang dipasang setelah terjadi union fraktur secara klinis

5. Terapi operatif Pemasangan plate and screw terutama pada fraktur proksimal dan distal femur Mempergunakan K-nail, AO-nail atau jenis-jenis lain baik dengan operasi tertutup ataupun terbuka. Indikasi K-nail, AO-nail terutama pada fraktur diafisis. Fiksasi eksternal terutama pada fraktur segmental, fraktur kominutif, infected pseudoartrosis atau fraktur terbuka dengan kerusakan jaringan lunak yang hebat. Fraktur Supracondyler Femur Fraktur supracondyler fragment bagian distal selalu terjadi dislokasi ke posterior, hal ini biasanya disebabkan karena adanya tarikan dari otot otot gastrocnemius, biasanya fraktur supracondyler ini disebabkan oleh trauma langsung karena kecepatan tinggi sehingga terjadi gaya axial dan stress valgus atau varus dan disertai gaya rotasi. Fraktur Intercondylair Biasanya fraktur intercondular diikuti oleh fraktur supracondular, sehingga umumnya terjadi bentuk T fraktur atau Y fraktur. Fraktur Condyler Femur Mekanisme traumanya biasa kombinasi dari gaya hiperabduksi dan adduksi disertai dengan tekanan pada sumbu femur keatas.

38

Fraktur Suprakondiler Femur Dan Fraktur Interkondiler Daerah suprakondiler adalah daerah antara batas proksimal kondilus femur dan batas metafisis dengan diafisis femur. Fraktur suprakondiler femur sering bersama-sama dengan fraktur interkondiler yang memberikan masalah pengelolaan yang lebih kompleks.

Klasifikasi menurut Neer, Grantham, Shelton (1967) :


Tipe I: fraktur suprakondiler dan kondiler bentuk T. Tipe IIA: fraktur suprakondiler dan kondiler dengan sebagian metafisis (bentuk Y). Tipe II: sama seperti IIA tetapi bagian metafisis lebih kecil. Tipe III: fraktur suprakondiler komunitif dengan fraktur kondiler yang tidak total.

39

DAFTAR PUSTAKA

1. Rasjad C. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Jakarta: PT. Yarsif Watampone. 2007. 355-71; 429-45. 2. Brinker. Review of Orthopaedic Trauma, Pennsylvania: Saunders Company, 2001.53-63. 2. Fizuhri SB. Uji Banding Penggunaan Skrew Paralel pada Fraktur Colum Femur: Sebuah Studi Biomekanika. Available at: http://www.digilib.ui.edu/opac/themes/libri2/ detail.jsp?id=107838&lokasi=lokal. Accessed on: March 1, 2012. 3. Apley AG, Solomon L. Apleys System of Orthopaedics Fractures. ButterworthHeinemann, 1993. 364-374. 4. Anonim. Femur. Available at: http://www.answer.com/library/sport%20science%20and%20 medicine-cid.29334. Accesed on: March 3, 2012 5. Penyembuhan tulang. Available at: http://prastiwisp.wordpress.com/2010/07/08/prosespenyembuhan-dan-pertumbuhan-tulang-komposisi-tulang/. Accesed on: February 29, 2012

40