Você está na página 1de 146

Bedah Anak

Pembimbing :
Dr. H. Saleh Setiawan, Sp. B

Penentuan waktu operasi elektif
Umur yang optimal
Keadaan anak yang optimal
Keselamatan operasi
Kemampuan ahli bedah dan ahli
anestesi yang ada
Fasilitas yang ada di rumah sakit
Kelainan dan waktu optimum untuk
operasi
Bibir Sumbing

Labioplasty

Rule of Ten :
1. Berat badan
minimal 10 pon
2. Umur > 10 minggu
3. Hb > 10 gr%
4. Leukosit < 10.000
Untuk mendapatkan
bentuk alae nasi yang
baik dan bila bilateral
untuk mencegah
protrusi dari
prolabium yang
berlebihan
PALATO
SCHIZIZ

Dilakukan Palatoplasty
Sebelum anak mulai
bebicara (11 12 tahun)
Agar proses berbicara tidak
terganggu dan belum ada
atrofi dari m. elevator dan
tensor palatini
Hasil baik bila anak bisa
bicara baik

SINUS
PREAURICULARIS



Merupakan lubang kecl
anterior dari daun telinga
Penyakit dapat didiamkan saja
Jika terjadi infeksi, maka infeksi
terlebih dahulu yang diobati.
2-3 bulan kemudian dilakukan
operasi fistulektomi.

Sinus atau Kista Bronchogenik
Merupakan kelainan di sepanjang celah
insang, terutama celah kedua yang berjalan
dari tepi muka telinga menyusur tepi anterior
musk. Sternocleidomastoideus.
Pada bayi biasa dijumapi fistel. Eksisi
dilakukan pada umur 3 bulan.


Micro dan
Macro Auricle



Pembentukan daun telinga
yang simetris dapat dikerjakan
sesudah umur 5 thn. Sebab
sesudah itu daun telinga tidak
akan tumbuh lagi
Cupped Ear
Kista
Thyroglossus



Sisa embriologik pembentukan
kelenjar thyroid dari foramen
caecum pada pangkal lidah
menembus os.hyoid
Biasanya ditemukan pada anak
besar
Ekstirpasi sebelum ada infeksi

Tortikolis
Tumor m. sternocleidomastoideus
Terjadi saat proses melahirkan,
tetapi baru terlihat umur 1-2
bulan sesudah ada fibrosis,
sehingga menyebabkan
perpendekan otot tersebut.
Kalau dibiarkan kedudukan
mata berubah, bentuk kepala
sebagai hemihypoplasia, letak
skapula tidak sama tinggi
Pada bayi fisioterapi untuk
memperpanjang muskulus
tersebut
Operasi dilakukan insisi di atas
tumor atau memutus muskulus
yang bersangkutan di insersionya
Hernia
Umbilikalis
Pemasangan plester percepat
penutupan

Bila cincin hernia kurang dari 2 cm
regresi spontan sebelum bayi
berumur 6bulan 1tahun.

Lubang besar & umur anak >2
thn tetap menonjol
Herniorrhaphy

Hemangioma
Suatu kelainan bawaan
jaringan pembukuh darah
yang mempunyai sifat
meluas sampai umur 12
bulan dan umumnya dapat
regresi spontan yang
dimulai umur 18-48 bulan
Regresi dipercepat:
a. HM luas: radiasi 5 mm sinar 3 kali 300 rad
HM di kepala & mammae bisa ganggu
perkembangan
b. HM dalam: suntik NaCl 3%di dasar benjolan 1x/bln
c. HM kecil & cukup dalam: CO
2
beku 1x/bln
d. HM luas & dalam:
Kortikosteroid dosis tinggi 5-7 minggu bed rest 5
mingguevaluasi:
1. HM tetap/mengecil: diamkan
2. HM membesar: ulangi
e. HM tidak dapat regresi sendiri eksisi

limfangioma
Limfangioma merupakan malformasi pembuluh limfatik yang
biasanya terjadi setelah lahir
Pembentukan lymphangioma mencerminkan kegagalan saluran getah bening
untuk menghubungkan dengan sistem vena selama embriogenesis,
penyerapan abnormal struktur limfatik, atau keduanya
Beda dg HM: a. LM tidak teregresi spontan
b. LM radio-resisten
- Radang jaringan sekitar tumor cepat membesar
- Terdiri mikro & makro kistik sulit diangkat sekaligus
Granuloma pada Umbilikus
Daging tumbuh pada pusar, sebenarnya bukan daging semacam
otot di badan kita, tapi merupakan jaringan dibawah kulit yang tidak
tertutup lapisan epitel (kulit ari), setelah lepasnya tali pusat
Umbilikus banyak sekret & bau dikeluhkan orang
tua
Tx: a. Non bedah: 1. AgNO
3
3%,
2. Mercorochom
3. Salep antibiotika
b. Bedah: eksisi
Teratoma Sacrococcygeus

Tampak sejak lahir
Teratoma Sacrococcygeal
adalah tumor bawaan yang
paling umum pada neonatus,
dilaporkan dalam sekitar 1/35
000 sampai 1/40000% hidup
Letak: antara sakrum dan
rektum
Eksisi urgent ( umur 2
minggu): bahaya keganasan

Hypospadia
Suatu kelainan bawaan
congenital dimana meatus
uretra externa terletak di
permukaan ventral penis dan
lebih ke proksimal dari
tempatnya yang normal (ujung
glans penis)
KLASIFIKASI HIPOSPADIA
Hernia Inguinalis
Kanalis Inguinalis

Batas-batasnya:
Kraniolateral: anulus inguinalis
internus yang merupakan bagian
terbuka dari fasia transversalis
dan aponeurosis m.transversus
abdominis.
Kaudomedial: anulus inguinalis
eksternus, bagian terbuka dari
aponeurosis m.oblikus eksternus.
Superior: aponeurosis m.oblikus
eksternus
Inferior: ligamentum inguinale
TERAPI
Konservatif dengan Truss/ abdominal
binder reposisi dan pemakaian penyangga
atau penunjang untuk mempertahankan isi
hernia yang telah direposisi.

Operatif:
-Herniotomi
-Hernioplasti

19
Hidrokel Testis



Hidrokel adalah
penumpukan cairan berbatas
tegas yang berlebihan di antara
lapisan parietalis dan
viseralis tunika vaginalis.



Hidrokel Testis :
Kantong hidrokel seolah-olah
mengelilingi testis sehingga
testis tak dapat diraba.

Hidrokel yang terjadi pada bayi
baru lahir dapat disebabkan
karena: (1) belum sempurnanya
penutupan prosesus vaginalis
sehingga terjadi aliran cairan
peritoneum ke prosesus
vaginalis (hidrokel komunikans)
atau (2) belum sempurnanya
sistem limfatik di daerah
skrotum dalam melakukan
reabsorbsi cairan hidrokel.
Penatalaksanaan
Di observasi sampai umur 2 tahun, bila pada
umur tersebut belum menghilang dilakukan
pembedahan

Indikasi untuk melakukan operasi pada
hidrokel adalah: (1) hidrokel yang besar
sehingga dapat menekan pembuluh darah, (2)
indikasi kosmetik, dan (3) hidrokel permagna
yang dirasakan terlalu berat dan mengganggu
pasien dalam melakukan aktivitasnya sehari-
hari.
Gangguan Penurunan Testis
Berupa arrest atau ektopia testis
- Operasi pada umur 2,6 thn: sesuai
pematangan testis
- > 2,6 thn: testis tidak berkembang lagi
1. Sel spermatogenesis terganggu
2. Fungsi hormonal testis tidak
terganggu

Naevus
Nevus adalah tumor yang paling sering dijumpai pada manusia,
merupakan tumor yang berasal darisel-sel melanosit.
Nevus ganas : Ulserasi (luka) dan perdarahan spontan, Membesar dan
warna lebih gelap, Pigmen menyebar dari ke kulit sekitarnya, Disekitarnya
ada lesi-lesi yang lebih kecil mengelilinginya, Inflamasi tanpa didahului
trauma, Nyeri dan gatal
Tanda2 keganasan biopsi dan dioperasi
Syndactilia
Polydactilia
Duplikasi di dalam sebuah bakal ekstremitas embrionik
Ekstirpasi umur 3 bulan, 1 tahun atau permintaan pasien.

Pada jari tangan 5 tahun. Jari kaki > 1 tahun.
Splenektomi
Splenektomi adalah
adalah sebuah metode
operasi pengangkatan
limpa, yangmana organ
ini merupakan bagian
dari system getah bening
Pada kelainan
hematologik
(Thalassemia). Sebaiknya
dilakukan sesudah anak
umur 2 tahun

Eventrasio Diafragma
Dapat terjadi primer karena kelainan otot-otot
diafragma
Atau terjadi sekunder akibat lesi di nervus
servikalis
tindakan operasi dilakukan bila terjadi
kesulitan bernapas atau adanya infeksi
respiratorik yang berulang
Sirkumsisi

DEFINISI : Memotong Prepusium dengan membuat
irisan melingkar

Dilakukan berdasarkan keercayaan agama

Dapat dikerjakan mulai masa neonatus sampai anak
dewasa

Indikasi mutlak bila pernah timbul balanitis atau
fimosis


Perhitungan kebutuhan cairan dan elektrolit maintenance setiap
hari untuk bayi dan anak:
100 cc /kg/24 jam untuk berat badan 10 kg pertama
50 cc /kg/24 jam untuk berat badan 10 kg kedua
20 cc /kg/24 jam untuk berat badan ke tiga dan berikutnya.
Kebutuhan elektrolit yang penting sehari-hari untuk maintenance
Natrium 3 mEq/kg bb/24 jam
Klor 3 mEq / kg bb/24 jam
Kalium 2 mEq / kg bb/24 jam




5 % berat badan : bibir kering, mata sedikit
cekung
10% berat badan : turgor kulit berkurang,
mata cekung
20 % berat badan : terdapat tanda-tanda
presyok dan syok (nadi kecil dan cepat atau
tak teraba)




Indikasi nutrisi parentral penuh
Reseksi usus ekstensif
Ileus berkepanjangan
Fistula usus
Malabsorpsi dengan diare berkepanjangan

Indikasi nutrisi parentral parsial
Neonatus, bayi dan anak-anak pasca bedah yang masih
di puasakan sampai hari ke 5 atau lebih.


Muntah : Aspek bedah saluran cerna

Muntah pada neonatus, bayi dan anak-anak yang berhubungan dengan
kelainan bedah saluran cerna sangat luas. Proses radang seperti pada
apendisitis akut terdapat sekitar 70 % dimulai dengan muntah. Gangguan
passase total atau pun parsial seperti atresi, stenosis duodenum, malrotasi
dengan volvulus, invaginasi diakhiri dengan muntah hijau atau fekal.





Muntah yg Memerlukan Pemeriksaan
Lebih Lanjut
Muntah berwarna hijau
Proyektil
Persisten
Bercampur darah
Disertai penurunan berat badan atau
kegagalan kenaikan berat badan
Gejala lain
Gangguan evakuasi/kelainan mekonium
Mekonium keluar terlambat dan baru bisa keluar
setelah dilakukan colok dubur (hirschprung)
Mekonium sedikit-sedikit, berbutir-butir, kering
dan berwarna muda (atresia ileum)
Mekonium berwarna coklat, sedikit encer dan
berbau busuk (hirschprung)
Lanjutan...
Distensi abdomen
Disertai tanda-tanda peradangan (radang intra
peritonial)
Gambaran usus tidak ada, perabaan lembek,
pekak hati hilang (perforasi usus)
Rasa sakit
Hilang timbul/terus-menerus (gangguan pasase
sederhana proses strangulasi)
STENOSIS PILORIK HIPERTROFIK

Hipertropi pyloric stenosis (HPS) merupakan suatu kondisi yang terjadi pada
bayi dengan lambung bagian pilorus mengalami penebalan yang abnormal.
HPS adalah penyempitan di jalan keluar lambung sampai bagian pertama
dari duodenum menyebabkan pembesaran (hipertropi) muskulus sekitar
jalan keluar tersebut (pilorus) dan mengalami spasme saat lambung kosong


Etiologi-patologi

Etiologi secara pasti belum diketahui menurut
teori disebabkan kegagalan perkembangan atau
proses degenerasi ganglion dan serabut saraf.
Terjadi pada 300-900 kelahiran dan wanita : pria
= 1: 4


Gejala & Tanda
muntah proyektil,
mulai pada umur 2-
3 minggu
Kegagalan
pertumbuhan dan
kehilangan berat
badan
Obstipasi
Bayi rewel
Terkesan lapar dan
haus
Pem. Fisik
kontour dan
peristaltik lambung
terlihat di abdomen
bagian atas dan
teraba tumor di
daerah epigastrium
atau hipokondrium
kanan
pada stadium lanjut
bayi dalam keadaan
dehidrasi
malnutrisi-
hipokalemi serta
hipoalbuminemia
Pem. Penunjang
Pemeriksaan
barium-meal jika
pada palpasi tidak
teraba tumor. Dan
akan terlihat saluran
pilorus kecil dan
memanjang disebut
sebagian string-sign.
Pada fluoroskopi
tampak
pengosongan
lambung terlambat.
Lambung tampak
membesar dan jelas
terlihat gambaran
peristaltis
* TERAPI:
1. Perbaikan keadaan umum (KU):
- Bilas gaster dg NaCl: keluarkan sisa barium
- Koreksi dehidrasi
2. Pembedahan:
- Persiapan pra-bedah 24-48 jam
- Laparatomi piloromiotomi FREDET-RAMSTEDT

ATRESIA DUODENUM

Patofisiologi
Diperkiran karena oklusi vaskuler di daerah duodenum dalam perkembangan
fetal
Atresia dan juga stenosis doudenal sering disebabkan oleh kelainan
perkembangan pankreas yang mengelilingi duodenum sehingga tidak tumbuh
normal dan terjadilah stenosis atau atresia
Manifestasi klinik berupa obstruksi usus letak tinggi beberapa jam setelah
lahir bayi muntah hijau
Keterlambatan diagnosis dan tindakan menyebabkan bayi mengalami aspirasi
dehidrasi hiponatremi hipokalemi karena muntah


Diagnosis

Kehamilan dengan penyulit
polihidramnion dan bayi dengan down
sindrom harus di curigai menderita
atresia duodenal
Beberapa jam setelah lahir bayi akan
untah. Muntah berupa proyektil,
berwarna hijau bila letak atresi di
distal ampula vateri
Abdomen kembung sedikit terbatas
di bagian atas dan kempes kembali
setelah bayi muntah


Pembedahan

Anastomosis
duodeno-
dudenostomi ujung
ke ujung merupakan
tindakan terpilih
atau anas tomosis
duodeno-
yeyunostomi.

Pemeriksaan Pra bedah dan
Terapi

Pemeriksaan foto polos
abdomen bayi dalam posisi
tegak akan terlihat gambaran
double bubble
Tindakan dekompresi dengan
pemasangan sonde lambung
dan dilakukan pengisapan
cairan dan udara tindakan ini
untuk mencegah aspirasi dan
muntah
STENOSIS DUODENUM
Stenosis duodenum
merupakan penyempitan
pada duodenum yang
menyebabkan obstruksi pada
duodenum.

Stenosis duodenum terjadi
akibat kegagalan dalam
proses pembentukan
embriologi strukturbilier dan
pankreas selama masa fetus

Manifestasi klinis stenosis duodenal
bergantung pada kaliber lumen yang
stenosis.
Dapat timbul langsung seperti atresi duodenal bila
lumen stenosis sangat kecil. Pada stenosis dengan
kaliber lumen yang agak lonjong akan timbul setelah
bayi berusia beberapa bulan atau tahun dengan nafsu
makan berkurang yang di sertai muntah dan infeksi
saluran nafas yang berulang
Pada pemeriksaan fisik terlihat kontur
atau peristaltik lambung atau usus di
daerah epigastrium.c

Foto polos abdomen dalam posisi tegak terlihat doubel bubble dengan
terlihat gelembung-gelembung udara kevil pada bagian distal.
Pemeriksaan foto dengan barium-meal akan terlihat penyempitan di
daerah duodenum.
Foto barium-meal sebaiknya tidak dilakukan pada penderita yang dalam
keadaan muntah
Terapi : reseksi
bagian usus yang
menyempit dan
anastomosis ujung
ke ujung
Atau tindakan
plastik dengan
membuat sayatan
memanjang di
bagian usus yang
menyempit dan
menutup kembali
dengan jahitan
melintang
Malrotasi dan Volvulus
Malrotasi:
Gagalnya suatu
rotasi/perputaran dan fiksasi
normal pada organ (usus
tengah) selama perkembangan
embriologik.
Kelainan kongenital berupa
posisi usus yang abnormal di
dalam rongga peritoneum.
Diikuti fiksasi usus yang
abnormal oleh pita mesentrika
atau tidak adanya fiksasi usus
=> resiko obstruksi usus,
volvulus akut atau kronik, dan
nekrosis usus .
Volvulus:
Obstruksi usus yang
disebabkan oleh
melilitnya usus atau
terbentuknya simpul.
Keadaan yang
disebabkan adanya
rotasi gelung usus di
sekeliling cabang arteri
mesenterika superior.

Etiologi

Minggu ke-10 intrauterin:
sekum dan usus halus kembali ke intraabdomen dari
saluran tali pusat
sekum mengadakan rotasi menuju ke kuadran kanan
bawah dan usus halus berotasi dengan aksis arteri
mesenterika superior, sehingga sekum terfiksasi
pada kanan bawah dan usus halus terfiksasi pada
peritoneum posterior.
Diagnosis
Gejala dan tanda berupa gangguan pasase
saluran cerna setinggi duodenum terjadi
segera setelah terjadi malrotasi
Muntah hijau dan lebih sering tidak disertai
kembung abdomen
Udara yang telah berada di usus distal
duodenum akan keluar atau diabsorpsi

Penatalaksanaan
Pembedahan berupa pemotongan pita
yang menyilang duodenum, sekum,
asenden dan transversum, serta ileum,
duodenum diletakan vertikal di sebelah
kanan, sekum dan kolon di kiri, kemudian
selalu dikerjakan apendiktomi (prosedur
Ladd).
Atresia Yeyunal
Gejala Klinis
Mirip atresia duodenal
Muntah hijau dalam
beberapa jam setelah
kelahiran
Pemeriksaan abdomen
terlihat : gambaran
lambung dan usus
terbatas di daerah
epigastrium
Diagnosis
Foto polos abdomen :
dengan posisi tegak
terlihat sedikitnya 3
gelembung udara, yaitu
lambung, duodenum,
usus dibawah
ligamentum treitz.
Lanjutan
Persiapan prabedah seperti pada atresia
duodenal
Pembedahan berupa anastomosis ujung ke ujung
Atresia Ileum
Gejala Klinis
Mirip dengan gejala
sumbatan SCBB
Menjelang umur 24 jam,
bayi muntah hijau dengan
didahului kembung
abdomen secara menyeluruh
Mekonium hampir selalu
tidak keluar atau keluar
hanya sedikit, butiran,
kering, warna terang atau
hijau muda
Diagnosis
Foto polos abdomen dgn
posisi tegak ; gambaran
obstruksi sal.cerna letak
rendah, gelembung udara di
seluruh abdomen & garis2
permukaan cairan udara.
Ba.Enema : lumen kolon
kecil (mikrokolon)
Lanjutan
DD
Atresia setinggi kolon
Hirscprung
Sindrom sumbatan
mekonium
Terapi
Persiapan prabedah
seperti atresia sal.cerna
yang lain
Anastomosis ujung ke
ujung
Peritonitis Neonatal
Merupakan keadaan yang sangat serius.
Diagnosis dini dan diikuti dengan tindakan
bedah yang cepat serta terapi suportif lain dapat
menekan angka mortalitas yang tinggi
Klasifikasi
Peritonitis primer : inflamasi permukaan peritoneum yang
tidak berhubungan dengan dinding abdomen

Peritonitis sekunder : inflamasi permukaan peritoneum
yang disebabkan oleh dinding abdomen

Peritonitis sebelum kelahiran : peritonitis yang disebabkan
oleh perforasi usus, disebut juga peritonitis mekonium

Peritonitis setelah kelahiran : peritonitis akibat perforasi
usu
Lanjutan
Peritonitis akibat kontaminasi dari luar :
omfalokel yang pecah & gastroskisis

Peritonitis steril atau kimia : akibat pecahnya
saluran empedu atau adanya darah dalam rongga
peritoneum
Patofisiologi
Inflamasi peritoneum
Edema pd organ dan
dinding abdomen
Sekuestrasi cairan ke
dlm rongga peritoneal
dan lumen usus
hipovolemia
Usus paralisis sehingga
ada tanda obstruksi
paralitik
Berlangsungnya invasi
kuman ke seluruh
jaringan intraperitoneal
dan aliran darah
Diagnosis
Tampak seperti sepsis, letargi, nadi kecil sampai
tidak teraba, & hipotermi

Abdomen buncit, mengkilat, venektasi, kemerahan
disekitar umbilikus, kemerahan dan edema yang
lebih terlihat di punggung & sekitar genitalia

Terlihat bercak-bercak kemerahan di seluruh tubuh
Pem. Radiologi
Foto polos abdomen :
udara kabur & tidak tersebar merata
Penebalan dinding usus
Perselubungan
Air fluid levels
Udara bebas di bawah diafragma (jika perforasi)
Terapi
Antibiotik spektrum luas diberikan iv sebelum
pembedahan

Pembedahan bertujuan utk menghentikan sumber
infeksi serta membersihkan rongga peritoneal dari
cairan infeksius dengan pencucian cairan NaCL

Drain intra-peritoneal tidak perlu dipasang bila
diyakini rongga peritoneal telah bersih
Peritonitis Intrauterin
Suatu kontaminasi mekonium intraperitoneal
sebagai akibat perforasi GI selama kehidupan
intrauterin.
Proses Penyembuhan
Perforasi kecil & terjadi peyembuhan sempurna
sehingga kontinuitas sal.GI tidak terganggu

Perforasi kecil sampai sedang dan penyembuhan
mengakibatkan oklusi sal.GI

Perforasi sedang hingga besar dan penyembuhan
tidak terjadi sempurna. Lubang perforasi masih
terbuka dan mekonium terkumpul dalam suatu
ruangan semacam kista
Diagnosis
Bayi lahir dan tumbuh
tanpa ada gangguan
pasase GI
Mirip dengan atresia
sal.intestinal bergantung
pada lokasi perforasi
Tanda peritonitis
beberapa jam setelah
kelahiran
Abdomen buncit
Kemerahan dan edema
sekitar umbilikus,
punggung dan genitalia
eksterna
Radiologi
Foto polos abdomen
Gambaran kalsifikasi
Tanda obstruksi
sal.intestinal dengan
gambaran kalsifikasi
Bayangan udara tidak
tersebar merata dengan
terlihat gambaran
kalsifikasi
Bayangan udara terlihat
dalam kista yang
berdinding kalsifikasi atau
di bawah diafragma
Lumen usus di proksimal
terlihat distensi sedang di
bagian distal perforasi
terlihat mengecil atau
tidak terlihat
Terapi
Prabedah
Dekompresi dengan
NGT serta pengisapan
udara dan cairan dlm
lambung
Cairan elektrolit
Antibiotik iv spektrum
luas
Pembedahan
Pembersihan mekonium
intrapritoneal
Kolostomi atau ileostomi
sementara
Apendisitis Akut
Merupakan kausa laparotomi tersering pada
anak dan juga pada orang dewasa
Pria lebih banyak drpd wanita
Bayi dan anak sampai usia 2 tahun : 1%
2 sampai 3 tahun : 15%
Puncak pada umur 9-11 tahun
Patofisiologi
Sumbatan lumen
Obstruksi lumen
krn hiperplasia
jar.limfoid
submukosa
Feses yg
terperangkap
mengalami
penyerapan air
Terbentuk fekolit
sebgai kausa
sumbatan
Nyeri umbilikus,
epigastrium
Invasi E.coli &
spesibakteroides
Peritonitis lokal
kanan bawah
Lanjutan
Diagnosis
Nyeri sekitar umbilikus
dan epigastrium
Beberapa jam kemudian
sakit perut kanan bawah
& suhu tubuh subfebris
Pada bayi & anak sering
menunjukkan letak sakit
pada seluruh perut
Dehidrasi ringan-berat
Tanda rangsang
peritoneal perut kanan
bawah seperti defans
muskular & nyeri tekan
Tanda peritonitis lokal
atau umum
Radiologi
Perselubungan, mungkin
terlihat ileal atau caecal
ileus (gambaran garis
permukaan cairan-udara
di sekum atau ileum)
Perforasi :
Perselubungan lebih jelas
& dapat tidak terbatas di
kuadran kanan bawah
Penebalan dinding usus di
sekitar letak apendiks
Garis lemak pra
peritoneal menghilang
Tanda obstruksi usus
seperti garis permukaan
cairan akibat paralisis usus
lokal di daerah proses
infeksi
Laboratorium
Leukositosis tapi tidak
menyingkirkan
apendisitis jika tidak ada
leukositosis
Urin : terdapat leukosit
dan eritrosit lebih dari
normal bila apendiks
menempel pada ureter
atau vesika
Terapi
Pra bedah
NGT utk deompresi
Kateter utk kontorl
produksi urin
Rehidrasi
Antibiotik spektrum luas
iv
antipiretik
Pembedahan
Apendektomi dengan
sayatan McBurney
Drainase
Konservatif
Enterokolitis Nekrotikans Neonatus
Etiologi
Iskemi intestinal pada bayi rentan terhadap stress
Iskemi intestinal mengakibatkan ulserasi mukosa &
pertumbuhan kuman
Penetrasi kuman ke lapisan muskularis & ke aliran
darah
Terjadi perforasi usus serta peritonitis
Diagnosis
Faktor predisposisi
Prematuritas
KPD
Plasenta previa
Sepsis
Sindrom distres pernafasan
Umur 24 jam hingga hari ke
5
Gejala & tanda
Retensi sekresi lambung
Muntah yang awalnya jernih
kemudian hijau
Diare bercampur darah
Perut buncit dan kemerahan
pd daerah punggung &
genitalia
Memburuk karena sepsis,
letargi, hipotermi, asidosis
metabolik, ikterik, DIC, dan
meninggal
Parasintesis yang positif dari
biakan atau sediaan hapus
Pneumoperitoneum
Dilatasi usus yang persisten
Terapi
Medik
Bayi dipuasakan
Dekompresi lambung
Cairan & elektrolit iv
Antibiotik sistemik
Koreksi asidosis
Alat bantu nafas
Pem.berulang & foto
polos abdomen tiap 6 jam
Bedah
Laparotomi ; bagian usus
yang nekrosis direseksi
kemudian dilakukan
anstomosis langsung
Drainase peritoneal
dengan BB bayi kurang
dari 1000 gram yang
keadaannya buruk
Sakit Perut Berulang
Etiologi
Gangguan intraabdominal (sal.cerna, sal.urine, dan
organ lain)
Gangguan organ sekitar abdomen (vertebra, toraks,
pelvis & genitalia)
Gangguan sistem persarafan (tumor, ensefalitis, &
gangguan emosional)
Gangguan umum (infeksi, alergi, metabolisme, &
keracunan)
Diagnosis
Deteksi tanda rangsangan peritoneal
Deteksi massa tumor & diperkirakan organ asal
tumor serta organ yang terganggu
Deteksi tanda-tanda lain yang khas untuk
gangguan organ tertentu atau penyakit primer
yang telah di ketahui
Pemeriksaan Radiologi
Foto polos abdomen
Kontras udara : proses peradangan, proses obstruksi,
desakan organ, kalsifikasi di suatu organ atau neoplasma
Foto barium meal
Kelainan lumen serta letak sal.cerna dari lambung sampai
rektum
Foto barium enema
Melihat kontur serta letak kolon termasuk apendiks
Foto pielografi intravena
Dilakukan bila ada kecurigaan kelainan sal.urine krn kelainan
ekstra & intra renal dapat dibedakan
Lanjutan
USG
Dapat menetukan lokasi & mungkin jenis
kelainannya
Endoskopi
Melihat lebih akurat kelainan di dalam lumen
lambung, duodenum serta kolon
Terapi
Laparotomi eksplorasi, jika ada kecurigaan yang
kuat adanya kelainan bedah dan dari semua
pemeriksaan tidak memberikan hasil yang positif
INVAGINASI
Usus halus terdiri dari 3 bagian yaitu
duodenum, yejunum dan ileum

Anatomi Usus Halus
Intususepsi adalah masuknya segmen usus
proksimal (kearah oral) kerongga lumen usus
yang lebih distal (kearah anal) sehingga
menimbulkan gejala obstruksi berlanjut
strangulasi usus
Definisi
Intususepsi dibedakan dalam 4 tipe :
Enterik : usus halus ke usus halus
Ileosekal : valvula ileosekalis mengalami
invaginasi prolaps ke sekum dan menarik
ileum di belakangnya. Valvula tersebut
merupakan apex dari intususepsi.
Kolokolika : kolon ke kolon.
Ileokoloika : ileum prolaps melalui valvula
ileosekalis ke kolon.

Klasifikasi

Angka kejadian intususepsi (invaginasi)
dewasa sangat jarang , menurut angka yang
pernah dilaporkan
0,08% dari semua kasus pembedahan lewat
abdomen
3% dari kejadian obstruksi usus ,
angka lain melaporkan 1% dari semua kasus
obstruksi usus,
5% dari semua kasus invaginasi (anak-anak dan
dewasa)
Epidemiologi
Hampir 70 % kasus invaginasi terjadi pada
anak-anak umur <1 tahun
Pada bayi dan anak-anak intususepsi
merupakan penyebab kira-kira 80-90% dari
kasus obstruksi.
Pada orang dewasa intususepsi lebih jarang
terjadi dan diperkirakan menjadi penyebab
kira-kira 5% dari kasus obstruksi
Lanjutan
Menurut kepustakaan 90-95% terjadi pada anak
dibawah 1 tahun akibat idiopatik
Pada waktu operasi hanya ditemukan penebalan
dinding ileum terminal berupa hipertrophi jaringan
limfoid (plaque payer) akibat infeksi virus (limfadenitis)
yang mengikuti suatu gastroenteritis atau infeksi
saluran nafas.
Keadaan ini menimbulkan pembengkaan bagian
intusupseptum, edema intestinal dan obstruksi aliran
vena -> obstruksi intestinal -> perdarahan. Penebalan
ini merupakan titik permulaan invaginasi.

Etiologi
Pada anak dengan umur > 2 tahun disebabkan
oleh tumor seperti limpoma, polip,
hemangioma dan divertikel Meckeli.
Penyebab lain akibat pemberian anti
spasmolitik pada diare non spesifik. Pada
umur 4-9 bulan terjadi perubahan diet
makanan dari cair ke padat, perubahan pola
makan dicurigai sebagai penyebab invaginasi

Lanjutan

Patofisiologi
Rasa sakit adalah gejala yang paling khas dan
hampir selalu ada (90%). Dengan adanya
serangan rasa sakit/kholik yang makin bertambah
dan mencapai puncaknya, dan kemudian
menghilang sama sekali, diagnosis hampir dapat
ditegakkan.
gejala lain yang mungkin dapat ditemukan adalah
muntah (84%), keluarnya darah melalui rektum
(80%), dan terdapatnya masa yang teraba di
perut (73%)
Gambaran Klinis
Trias Invaginasi
Anak mendadak kesakitan episodic, menangis
dan mengangkat kaki (Craping pain), bila
lanjut sakitnya kontinyu
Muntah warna hijau (cairan lambung)
Defekasi feses campur lendir (kerusakan
mukosa) atau darah (lapisan dalam) currant
jelly stool
Diagnosis
Pemeriksaan Fisik :
Obstruksi mekanis ditandai darm steifung dan
darm counter.
Teraba massa seperti sosis di daerah subcostal
yang terjadi spontan
Nyeri tekan (+)
Dancen sign (+) Sensai kekosongan
padakuadran kanan bawah karena masuknya
sekum pada kolon ascenden
RT : pseudoportio(+), lender darah (+)
Sensasi seperti portio vagina akibat invaginasi
usus yang lama

Lanjutan
Radiologis :
Foto abdomen 3 posisi
Tanda obstruksi (+) : Distensi, Air fluid level,
Hering bone (gambaran plika circularis usus)
DAH
Colon In loop berfungsi sebagai :
Diagnosis : cupping sign, letak invaginasi
Terapi : Reposisi dengan tekanan tinggi, bila
belum ada tanda2 obstruksi dan kejadian < 24
jam

Lanjutan
Dasar pengobatan adalah :
Koreksi keseimbangan cairan dan elektrolit.
Menghilangkan peregangan usus dan muntah
dengan selang nasogastrik.
Antibiotika.
Laparotomi eksplorasi
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan invaginasi pada bayi dan anak
mencakup dua tindakan :
Reduksi hidrostatik
Metode ini dengan cara memasukkan barium
melalui anus menggunakan kateter dengan
tekanan tertentu
Reduksi manual (milking) dan reseksi usus
Reseksi usus dilakukan apabila pada kasus yang
tidak berhasil direduksi dengan cara manual, bila
viabilitas usus diragukan atau ditemukan kelainan
patologis sebagai penyebab invaginasi
Lanjutan
70 80% merupakan hernia posterolateral
melalui foramen Bochdalek yang terbentuk akibat
kegagalan penutupan kanalis pleuro-peritoneal
pada 10 minggu kehidupan janin. Usus halus,
gaster, limpa serta sebagian kolon transversum
dari rongga peritoneal dapat masuk ke rongga
toraks (90% sebelah kiri). Selanjutnya paru-paru
di rongga toraks yang bersangkutan tidak
berkembang (hipoplasi) dan tidak berfungsi baik
pada waktu lahir.


Patofisiologi Hernia Diagframatika
Kongenital

Langsung atau setelah 2-3 hari setelah
kelahiran terdapat sindroma distres
pernapasan.

Diagnosis

Sisi toraks yang terkena, terlihat lebih menonjol,
perkusi pekak, suara napas menghilang.
Mediastinum tergeser ke sisi toraks yang normal.
Terlihat skafoid pada abdomen.

Toraks dan Abdomen

Persiapan:
Pertahankan neonatus tetap hangat. Bila perlu terapi ventilasi
dengan tekanan ringan. Pasang sonde lambung, diadakan
pengisapan kontinyu untuk mencegah distensi usus.
Pemeriksaan pH dan gas darah.
Umumnya koreksi dilakukan melalui laparotomi. Pasca bedah
perlu bantuan pernapasan dengan ventilator, pemeriksaan
pH dan gas darah yang frekuen. Prognosis juga ditentukan
diagnosis dini, persiapan dan tindakan koreksi secepatnya.

terapi
Prognosis sangat bergantung pada kondisi paru-
paru. Mortalitas mencapai 50% pada neonatus
yang pada hari pertama kelahiran menampilkan
sindrom distres respirasi berat. Pada kasus
dengan sindrom distres respirasi ringan dan neo-
natus dapat mencapai umur 3 hari pertama,
umumnya dapat tertolong 100%.
Prognosis buruk bila paru-paru sangat hipoplastik,
dan dengan resusitasi tidak terdapat perbaikan
saturasi oksigen darah.

prognosis
Pada eventrasio diafragmatika kelainannya
berupa atrofi atau aplasi muskulatur dan
diakibatkan oleh cedera saraf frenikus pada
waktu lahir.


EVENTRASIO DIAFRAGMATIKA

Manifestasi klinik berupa sindrom distres
pernapasan terjadi ringan dan berjalan tidak
progresif seperti pada hernia diafragma.
Khas terdapat serangan-serangan distres
pernapasan, sianosis dan sering disertai infeksi
saluran napas berulang.
Foto toraks hampir seperti hernia diafragmatika,
gastrointestinal mendorong diafragma ke arah
puncak paru-paru. Pada pemeriksaan fluoroskopi
terlihat pergerakan diafragma paradoksal.

Diagnosis

Melalui laparotomi dilakukan plikasi pada
diafragma. Pada diafragma dilakukan jahitan
plikasi
(lipatan) sehingga diafragma yang semula
cembung menjadi lebih datar.

Tindakan bedah

Tonjolan rongga peritoneal yang masih tertutup fasia dan kulit.
Omentum dan usus dapat masuk ke dalam kantong hernia,
khususnya bila bayi menangis.
Umumnya hernia umbilikalis dapat menutup spontan tanpa
pembedahan setelah bayi berumur 2-3 tahun.
Terapi
"Strepping" dengan plester di atas hernia dengan atau pun tanpa
uang logam yang dipertahankan selama 10-20 hari dan diulang
sampai 6 bulan sampai satu tahun, dikatakan dapat mempercepat
penutupan. Hal ini masih kontroversi.
Hernia umbilikalis

Bila diameter cincin hernia < 1 cm pada umur 1 tahun, hernia
mungkin sekali akan menutup spontan. Sebaiknya diiunggu sampai
pasien berumur 3 tahun.
Bila diameter cincin hernia > 1 cm pada umur 1 tahun, kemungkinan
menutup spontan kurang, tetapi tidak ada salahnya bila ditunggu
hingga umur 3 tahun.
Bila diameter cincin hernia 2 cm atau lebih, penutupan spontan
hampir pasti tidak akan terjadi, pembedahan dapat dilakukan pada
setiap saat dalam tahun ke 2 atau ke 3. (P.G. Jones).
Tindakan bedah dalam praktek:
Produksi cairan dari umbilikus mungkin pus, urin atau
feses.

Umbilikus dengan produk cairan
Cairan
purulen
Proses infeksi lokal di tempat tali pusat dan sekitarnya (omialitis).
Dapat disertai pembentukan abses dengan atau pun tanpa fis-
tulasi dengan pengeluaran nanah.
Cairan urin
Sisa urakhus dengan pengeluaran cairan yang khas berupa urin.
Cairan mukus
atau fekal
Cairan fekal berasal dari usus halus melalui saluran
omfalomesenterikus persisten. Cairan mukus berasal dari
produksi sinus sisa saluran omfalomesenterikus.
Nanah harus didren, kalau perlu dilakukan insisi
bila pada pemeriksaan terdapat pengumpulan
nanah atau abses lalu diberikan antibiotika.
Omialitis dengan pengeluaran
nanah
Umbilikus dengan produksi
cairan mukus, feses atau pun
urin memerlukan eksplorasi
dengan tujuan menghentikan
sumber produksi cairan .
Bila tidak berhasil dilakukan eksplorasi seperti
tersebut pada butir 2.
Granuloma ukuran kecil
menggunakan kauterisasi atau
dengan olesan cairan nitrat
argenti
Terapi

Omfalokel atau disebut juga exomfalos terjadi bila
terdapat kegagalan intestin kembali ke rongga
abdomen dalam minggu ke-10 kehidupan janin dalam
kandungan.
Kegagalan ini juga menerangkan tentang insiden
malrotasi yang tinggi pada omfalokel.
Defek dinding abdomen sekitar umbilikus ini ditutup
oleh lapisan transparan yang terdiri dari lapisan amnion
di bagian luar dan lapisan peritoneum di bagian dalam.
Tali pusar terdapat pada puncak kantong ini.
Lapisan transparan mempunyai vaskularisasi minim
sehingga cepat terjadi nekrosis dan rawan terhadap
infeksi.

OMFALOKEL
Diagnosis omfalokel cukup dengan melihat
defek di daerah umbilikus dengan bagian yang
tertutup selaput tipis transparan. Beberapa
keadaan yang perlu diperhatikan Omfalokel
yang pecah mempunyai prognosis buruk.
Omfalokel dengan diameter 5 cm atau kurang
pada bayi aterm umumnya dapat ditutup
primer dan mempunyai prognosis baik.

Diagnosis

Penting pembuatan foto toraks untuk melihat
adanya aspirasi pneumoni, malformasi
jantung dan sebagainya.

Pemeriksaan radiologik

Bayi dipertahankan dalam lingkungan yang hangat
untuk mempertahankan suhu tubuhnya.
Pemasangan sonde lambung untuk mencegah distensi
lambung dan usus-usus.
Pertahankan selaput omfalokel tetap dalam keadaan
basah dan steril.
Pemberian antibiotika profilaksis untuk mencegah invasi
kuman melalui dinding omfalokel. Ini perlu dilakukan
karena dinding omfalokel tidak mengandung
vaskularisasi yang cukup sehingga mudah terjadi
nekrosis dan terinfeksi.

Terapi
Dengan penutupan primer
Penutupan defek dengan bantuan lembar teflon atau
silastik.
Pada dasarnya membantu daya tampung rongga abdomen
dengan menutup defek memakai lembar silastik/teflon.
Gastroskisis terbentuk akibat kegagalan fusi somit
dalam pembentukan dinding abdomen sehingga
dinding abdomen sebagian tetap terbuka.
Letak defek umumnya di sebelah kanan umbilikus
yang terbentuk normal.
Usus sebagian besar berkembang di luar rongga
abdomen janin. Akibatnya, usus menjadi tebal
dan kaku karena pengendapan dan iritasi cairan
amnion dalam kehidupan intrauterin. Usus juga
tampak pendek. Rongga abdomen janin sempit.

Gastroskisis
Defek dinding abdomen terbuka tanpa
tertutup peritoneum. Umbilikus tampak
normal. Usus-usus terlihat tebal dan pendek.

Diagnosis

Pertolongan pertama untuk mencegah
penyulit-penyulit yang timbul dengan :
Pemasangan
sonde lambung
dan pengisapan
yang kontinyu
untuk
mencegah
distensi usus-
usus yang
mempersulit
pembedahan.
Pemberian
cairan dan
elektrolit atau
kalori intravena.
Antibiotika
dengan
spektrum luas
secara
intravena dan
pada prabedah.
Suhu tubuh
dipertahankan
dengan baik.
Pencegahan
kontaminasi
usus-usus
dengan
menutup
menggunakan
kasa steril
lembab dengan
cairan NaCl
steril.
Terapi

Hernia terjadi bila prosesus vaginalis gagal obliterasi
dan tetap lebar terbuka sehingga organ intraperitoneal
seperti usus, ovarium,dan sebagainya dapat masuk ke
dalam kantong hernia.
Apabila prosesus vaginalis masih terbuka tetapi hanya
kecil saja maka terjadilah hidrokel testis. (Cairan dalam
rongga peritoneal melalui sisa prosesus vaginalis
terkumpul di dalam tunika vaginalis).
Dari penelitian sebenarnya 80-90% bayi yang dilahirkan
prosesus vaginalis masih terbuka, belum obliterasi
sempurna walaupun tidak selalu bermanifestasi hernia.

Hernia Inguinalis


Benjolan timbul di daerah inguinal pada waktu pasien
mengedan. Benjolan menghilang setelah pasien tidak
mengedan lagi.
Pada pemeriksaan:terlihat benjolan di lipat paha, dapat
sampai skrotum pada waktu menangis. Pada pasien
anak-anak, diminta untuk mengedan. Benjolan
menghilang atau dapat dimasukkan kembali ke rongga
abdomen. Kadang-kadang terdengar bunyi udara dalam
cairan.
Isi hernia yang dapat masuk kembali ke rongga
peritoneal disebut sebagai hernia inguinalis reponibilis.

Diagnosis Hernia Inguinalis
Inkarserasi suatu keadaan dimana isi kantong hernia tidak
dapat masuk kembali ke rongga peritoneal akibat terjadi
jepitan oleh anulus inguinalis. Proses yang langsung terjadi
ialah gangguan aliran darah dan gangguan pasase segmen
usus yang terjepit (kalau usus yang masuk); sehingga dapat
juga disebui sebagai hernia strangulasi.
Manifestasi klinis gangguan pasase usus seperti abdomen
kembung dan muntah hijau atau fekal masih memerlukan
waktu, lebih-lebih bila usus yang masuk ileum.Serangan sakit
yang terus-menerus ini merupakan tanda yang khas bahwa
terjadi strangulasi.

Hernia Inguinalis Inkarserasl-
Strangulasi

Hernia inguinalis reponibilis
- Herniotomi.
Hernia inguinalis inkarserasi
- Terapi konservatif.

Terapi
Istilah kriptorkisme menunjukkan skrotum
dalam keadaan kosong, artinya tidak terisi
testis.

Kriptorkisme
Pemeriksaan dengan cara palpasi
menggunakan dua atau tiga jari. Bila teraba
testis, diusahakan mendorong testis menuju
ke skrotum.
Bila skrotum kosong disertai dengan tonjolan
di daerah inguinal, khususnya bila pasien
mengedan, menunjukkan bahwa testis tidak
turun disertai hernia.

Diagnosis

Terapi: pembedahan
Sterilitas
Testis yang tidak turun mengalami hambatan pertumbuhan
dan perkembangannya. Testis tetap kecil dan lunak dalam
perabaan. Sterilitas disebabkan oleh hambatan
perkembangan spermatogenesis dan produksi androgen.
Khususnya hal ini terjadi pada pasien kriptorkisme bilateral.

Torsio testis
Frekuensi torsio testis dikatakan lebih sering pada anak-
anak yang tanpa kriptorkisme. Hal ini disebabkan oleh testis
yang tidak terfiksasi dengan baik.

Penyulit





MALFORMASI ANOREKTAL
Modifikasi Klasifikasi (Wingspread 1984)
Penggolongan anatomis untuk terapi dan prognosis (3):
Fistel urine Atresia rekti
Perineum
datar
Tanpa fistel.
Udara > 1
cm dari kulit
pada
invertogram
Laki-laki:
Golongan I

Kolostomi neonatus Operasi definitif Usia 4-6
bulan
Invertogram adalah teknik pengambilan foto
untuk menilai jarak puntung distal rektum
terhadap marka anus di kulit peritoneum. Pada
teknik bayi diletakkan erek terbalik (kepala di
bawah) atau tidur telungkup (prone), dengan sinar
horisontal diarahkan ke trohanter mayor. Dinilai
ujung udara yang ada di distal rektum ke marka
anus.

Tindakan

Golongan II
Fistel
perineum
Membran
anal
meconeum
tract
Stenosis ani
Bucket
handle
Tanpa fistel.
Udara < 1
cm dari
kulit pada
invertogram


Tindakan: Operasi definitif pada neonatus Tanpa kolostomi


Wanita
Golongan I
Kloaka Fistel vagina
Fistel
vestibulum
ano atau
rekto
vestibuler
Atresia rekti
Tanpa fistel.
Udara> 1
cm dari
kulit pada
invertogram
Kolostomi neonatus Usia 4-6 bulan
Golongan II
Fistel
perineum
Stenosis
Tanpa fistel.
Udara > 1 cm
dari kulit
pada
invertogram
Tindakan: Operasi definitif pada neonatus


A. Pemeriksaan klinis
Pemeriksaan Umum
Pemeriksaan rutin tetap harus dilakukan untuk mencari ke Iain-lain. 50 sampai 60% penderita ini
mempunyai kelainan kongenital di tempat lain.
Yang sering ditemukan adalah:
pada traktus
genito urinarius
28%;
kelainan
jantung 74%;
traktus
gastrointestinal,
misalnya atresia
esofagus 9%,
atresia
duodenum 7%;
tulang, misalnya
tulang radius
tidak ada
Pemeriksaan khusus untuk kelainan
anorektal
a. Wanita
Umumnya pada 80-90% wanita ditemukan fistula ke vestibulum atau vagina,
hanya pada 10-20% tidak ditemukan fistel.

b. Pada Laki-lakiPada 10-20% penderita tanpa fistula harus dilakukan
pemeriksaan radiologis invertogram.
Prinsip pengobatan operatif pada malformasi anorektal
dengan eksplorasi postero sagital anorektal plastik, akan
banyak menggunakan kolostomi perlindungan atau
kolostomi sementara.
Ada dua tempat kolostomi yang dianjurkan dipa-kai
pada neonatus dan bayi, yaitu: transversokolostomi
(kolostomi di kolon transversum) dan sigmoidostomi
(kolostomi di sigmoid).
Bentuk kolostomi yang mudah dan aman adalah laran
ganda (double barrel),teknik operasi definitif: Posterior
sagital
Penatalaksanaan
1.Dengan menggunakan klasifikasi di atas
dapat dilakukan evaluasi fungsi klinis:
kontrol feses
dan
kebiasaan
buang air
besar;
sensasi
rektal dan
soiling;
kontraksi
otot yang
baik pada
colok dubur.
Prognosis

2. Evaluasi psikologis
Fungsi kontinensi tidak hanya tergantung
integritas atau kekuatan sfingter atau
sensasi saja, tetapi tergantung juga pada
bantuan orangtua dan kerja sama serta
keadaan mental penderita.




PENYAKIT HIRSCHSPRUNG NEONATUS

Patologi-Patofisiologi:
terdapat absensi ganglion Meissner dan ganglion
Aurbach dalam lapisan dinding usus, mulai dari
sfingter ani ke arah proksimal dengan panjang yang
bervariasi. Tujuh puluh sampai delapan puluh persen
terbatas di daerah rektosigmoid, 10% sampai seluruh
kolon dan sekitar 5% kurang dapat mengenai seluruh
usus sampai pilorus.
Tidak terdapatnya ganglion Meissner dan Auerbach
mengakibatkan usus yang bersangkutan tidak bekerja
normal. Peristalsis tidak mempunyai daya dorong,
tidak propulsif, sehingga usus bersangkutan tidak ikut
dalam proses evakuasi feses atau pun udara.
dengan gejala obstruksi usus, tanda-tanda
keterlambatan evakuasi mekonium, distensi
abdomen dan muntah hijau. Obstruksi usus ini
dapat mereda spontan, atau akibat colok dubur
yang dilakukan pada waktu pemeriksan.
obstipasi kronik dengan disertai abdomen yang
buncit.
Sering neonatus meninggal akibat penyulit seperti
enterokolitis atau peritonitis dan sepsis.

Diagnosis
Pemeriksaan foto polos abdomen: Terlihat tanda-
tanda obstruksi usus letak rendah. Umumnya
gambaran kolon sulit dibedakan dengan
gambaran usus halus.
Pemeriksaan foto dengan enema barium: Terlihat
lumen rektosigmoid kecil, bagian proksimalnya
terlihat daerah transisi dan kemudian melebar.
Permukaan mukosa di bagian usus yang melebar
tampak tidak terarur karena proses enterokolitis.

Pemeriksaan radiologik
Untuk neonatus dengan obstruksi usus dilakukan terapi
konservatif dengan pemasangan sonde lambung
Tindakan kolostomi: Stoma dibuat di bagian kolon yang
berganglion paling distal. Kolostomi ini dimaksudkan untuk
menjamin pasase usus dan mencegah penyulit-penyulit
yang tidak diinginkan seperti enterokolitis, peritonitis dan
sepsis.
Tindakan bedah definitif dimaksudkan untuk mereseksi
bagian usus yang agangilonik dan mengembalikan
kontinuitas usus. Ada beberapa prosedur bedah definitif,
prosedur Swenson, prosedur Duhamel, prosedur endorektal
pull through dengan modifikasi masing-masing.

Terapi




FISURA ANUS PADA BAYI DAN ANAK

Robekan dubur biasa disebabkan oleh defekasi
dengan feses yang besar dan keras. Akhirnya
terjadi fibrosis dan sfingter anus menjadi kaku.
Defekasi semakin sulit dan penderita akan
mengedan lebih hebat. Feses umumnya besar
dan keras oleh karena tertahan beberapa hari
dalam rektum. Proses fibrosisnya menetap
walaupun darah sudah tidak keluar lagi pada
waktu defekasi.

Patogenesis

Penderita berumur beberapa bulan sampai
beberapa tahun. Tidak ada perbedaan insiden
pada laki-laki atau perempuan.

Insiden Umur/Seks

Riwayat sakit dengan kesulitan defekasi
seperti tersebut dalam uraian di atas.
Penderita dengan keadaan umum baik, dan
terlihai lincah. Gizi baik, perut tidak pernah
kembung karena flatus tidak terganggu.

Diagnosis
Anoskopi dengan persiapan pengosongan rektum
dengan supositoria.
Tindakan selanjutnya dapat dilakukan "forceful
stretching" sfingter anus.
Luka akan menutup dengan sempurna dengan
menjaga higiene anus dengan merendam pantat
dalam larutanP.K.
Terapi lokal pada anus cukup dioleskan vaselin.
Terapi tambahan dapat diberikan obat pelunak
feses dan mengatur diet agar feses tetap lembek.

Terapi