Você está na página 1de 12

Kelompok 5 :

Asep Setiawan
Caswati

Katarak adalah setiap kekeruhan pada lensa yang


dapat terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan)
lensa, denaturasi protein lensa atau akibat kedua
duanya yang disebabkan oleh berbagai keadaan.
(Sidarta Ilyas, dkk, 2008)
Katarak adalah opasitas lensa kristalina atau lens
a yang berkabut (opak) yang normalnya jernih. Bi
asanya terjadi akibat proses penuaan, tapi dapat
timbul pada saat kelahiran (katarak congenital). (
Brunner & Suddarth: 2002)
Katarak merupakan kekeruhan yang terjadi pada
lensa mata, sehingga menyebabkan penurunan/g
angguan penglihatan (Admin,2009)

Berbagai macam hal yang dapat mencetuskan


katarak antara lain (Corwin,2000):
1. Usia lanjut dan proses penuaan
2. Congenital atau bisa diturunkan.
3. Pembentukan katarak dipercepat oleh fakt
or lingkungan, seperti merokok atau bahan b
eracun lainnya.
4. Katarak bisa disebabkan oleh cedera mata,
penyakit metabolik (misalnya diabetes) dan o
bat-obat tertentu (misalnya kortikosteroid).

Katarak juga dapat disebabkan oleh beberapa faktor r


isiko lain, seperti:
1. Katarak traumatik yang disebabkan oleh riwayat tr
auma/cedera pada mata.
2. Katarak sekunder yang disebabkan oleh penyakit la
in, seperti: penyakit/gangguan metabolisme, proses
peradangan pada mata, atau diabetes melitus.
3. Katarak yang disebabkan oleh paparan sinar radias
i.
4. Katarak yang disebabkan oleh penggunaan obatobatan jangka panjang, seperti kortikosteroid dan ob
at penurun kolesterol.
5. Katarak kongenital yang dipengaruhi oleh faktor g
enetik (Admin,2009).

Gejala umum gangguan katarak meliputi:


1. Penglihatan tidak jelas, seperti terdapat ka
but menghalangi objek.
2. Gangguan penglihatan bisa berupa:
a. Peka terhadap sinar atau cahaya.
b. Dapat melihat dobel pada satu mata (diplo
bia).
c. Memerlukan pencahayaan yang terang untu
k dapat membaca.
d. Lensa mata berubah menjadi buram seperti
kaca susu.

1. Katarak perkembangan ( developmental ) dan degenerative.


2. Katarak trauma : katarak yang terjadi akibat trauma pada lens
a mata.
3. Katarak komplikata (sekunder) : penyakit infeksi tertentu dan
penyakit seperti DM dapat mengakibatkan timbulnya kekeruhan
pada lensa yang akan menimbulkan katarak komplikata.
4. Berdasarkan usia pasien, katarak dapat di bagi dalam :
a. Katarak kongeniatal, Katarak yang di temukan pada bayi ketik
a lahir (sudah terlihat pada usia di bawah 1 tahun)
b. Katarak juvenile, Katarak yang terjadi sesudah usia 1 tahun da
n di bawah usia 40 tahun
c. Katarak presenil, Katarak sesudah usia 30-40 tahun
d. Katarak senilis, Katarak yang terjadi pada usia lebih dari 40 ta
hun. Jenis katarak ini merupakan proses degeneratif ( kemundur
an ) dan yang paling sering ditemukan

1. Kartu mata snellen /mesin telebinokuler : mungkin terganggu dengan kerusaka


n kornea, lensa, akueus/vitreus humor, kesalahan refraksi, penyakit sistem saraf,
penglihatan ke retina.
2. Lapang Penglihatan : penuruan mngkin karena massa tumor, karotis, glukoma.
3. Pengukuran Tonografi : TIO (12 25 mmHg)
4. Pengukuran Gonioskopi : membedakan sudut terbuka dari sudut tertutup gluko
ma.
5. Tes Provokatif : menentukan adanya/ tipe glukoma
6. Oftalmoskopi : mengkaji struktur internal okuler, atrofi lempeng optik, papilede
ma, perdarahan.
7. Darah lengkap, LED : menunjukkan anemi sistemik / infeksi.
8. EKG, kolesterol serum, lipid
9. Tes toleransi glukosa : kotrol DM
10. Keratometri.
11. Pemeriksaan lampu slit.
12. A-scan ultrasound (echography).
13. Penghitungan sel endotel penting untuk fakoemulsifikasi & implantasi.
14. USG mata sebagai persiapan untuk pembedahan katarak.

1. Pencegahan
Disarankan agar banyak mengkonsumsi buahbuahan yang banyak mengandung vit. C ,vit. B2, vit. A dan vit. E.
Selain itu, untuk mengurangi pajanan sinar matahari (sinar UV) s
ecara berlebih, lebih baik menggunakan kacamata hitam dan top
i saat keluar pada siang hari.
2. Penatalaksanaan medis
Ada dua macam teknik yang tersedia untuk pengangkatan katara
k:
a. Ekstraksi katarak ekstrakapsuler
Merupakan tehnik yang lebih disukai dan mencapai sampai 98%
pembedahan katarak. Mikroskop digunakan untuk melihat struk
tur mata selama pembedahan
b. Ekstraksi katarak intrakapsuler
Pengangkatan seluruh lensa sebagai satu kesatuan. Setelah zonu
la dipisahkan lensa diangkat dengan cryoprobe, yang diletakkan
secara langsung pada kapsula lentis

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Glaucoma
Uveitis
Kerusakan endotel kornea
Sumbatan pupil
Edema macula sistosoid
Endoftalmitis
Fistula luka operasi
Pelepasan koroid
Bleeding

PENGKAJIAN.KEPERAWATAN
Aktifitas Istirahat
Perubahan aktifitas biasanya/hobi sehubungan dengan gangguan
penglihatan.
Neurosensori
Gangguan penglihatan kabur/tak jelas, sinar terang menyababkan silau
dengan kehilangan bertahap penglihatan perifer, kesulitan
memfokuskan kerja dengan dekat/merasa diruang gelap. Penglihatan
berawan/kabur, tampak lingkaran cahaya/pelangi di sekitar sinar,
perubahan kacamata, pengobatan tidak memperbaiki penglihatan,
fotofobia ( glukoma akut ).
Tanda : Tampak kecoklatan atau putih susu pada pupil (katarak), pupil
menyempit dan merah/mata keras dan kornea berawan (glukoma
darurat, peningkatan air mata.
Nyeri / Kenyamanan
Ketidaknyamanan ringan / mata berair. Nyeri tiba-tiba / berat menetap
atau tekanan pada atau sekitar mata, sakit kepala

Diagnosa Keperawatan
Pre operasi
1. Gangguan persepsi sensoriperseptual penglihatan berhubungan dengan gangguan penerimaan sensori/statu
s organ indera.
2. Resiko tinggi cedera berhubungan dengan kerusakan fungsi sensori penglihata
n kehilangan vitreus, pandangan kabur, perdarahan intraokuler.
3. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, pengobatan berhubungan den
gan tidak mengenal sumber informasi, kurang terpajan/mengingat, keterbatasan
kognitif.
4. Ansietas berhubungan prosedur penatalaksanaan / tindakan pembedahan.
5. Defisit perawatan diri yang berhubungan dengan gangguan penglihatan.
Post operasi
1. Nyeri berhubungan dengan trauma insisi.
Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur tindakan invasif insisi jaringa
n tubuh.
2. Gangguan persepsi sensoriperseptual penglihatan berhubungan dengan gangguan penerimaan sensori/statu
s organ indera.
3. Resiko tinggi cedera berhubungan dengan kerusakan fungsi sensori penglihata
n kehilangan vitreus, pandangan kabur, perdarahan intraokuler.