Você está na página 1de 46

Adria Rusli

SMF Pulmonologi dan Ilmu kedokteran respirasi


RSPI Prof dr. Sulianti Saroso
26 Mei 2014

Subfamily
Genome

Coronavirinae
Alphacoronavirus,
Betacoronavirus,
Deltacoronavirus,
Gammacoronavirus

Enveloped, roughly spherical, 120-160 nm,


large club like protrusion (spike protein)
CD26 (dipeptidyl peptidase 4, DPP4)

Coronavirus gambaran seperti corona atau mahkota

menginfeksi beberapa spesies hewan dan juga


manusia sal. Napas, sal. Cerna dan sistem saraf
pusat

Th 1930an dikenal sebagai pathogen pada hewan


Human coronavirus (HCoV) disolasi pertama kali th
1960an

Sebelum th 2003 :
Kurang dikenal : hanya menyebabkan penyakit
yang ringan pada manusia berupa Common cold
Hanya 2 HCoV yang dikenal : HCoV-229E dan
HCoV-OC43 ()

Sejak th 2003 :
SARS mendapat perhatian penyakit yang
berat dan serius pertama yang disebabkan oleh
HCoV SARS-CoV ()
Ditemukan 2 HCoV lain : HCoV-NL63 dan HCoVHKU1 ().

Th 2012 : Middle East Respiratory Syndrome


Coronavirus (MERS-CoV) ()

Pada April 2012, suatu penyakit yang menyerupai


severe acute respiratory syndrome (SARS)
ditemukan di Saudi Arabia Middle East
Respiratory Syndrome (MERS) jumlah kasusnya
terus bertambah

Middle East Respiratory Syndrome (MERS)


merupakan penyakit pada saluran nafas yang
disebabkan oleh virus pertama kali dilaporkan di
Saudi Arabia tahun 2012 disebabkan oleh
coronavirus yang disebut MERS-CoV.

http://www.cdc.gov/coronavirus/

Severe respiratory disease associated with MERS-CoV, June 2013.


European Centre for Disease Prevention and Control, Stockholm, 2013

Khan Virology Journal 2013, 10:66


http://www.virologyj.com/content/10/1/66

Severe respiratory disease associated with MERS-CoV, June 2013, European Centre for Disease Prevention and Control, Stockholm 2013

Severe respiratory disease associated with MERS-CoV, June 2013.


European Centre for Disease Prevention and Control, Stockholm, 2013

Dari Jan 2014 smp Mei 2014


Merawat 11 suspek

Susan R. Weiss and Sonia Navas-Martin .


Coronavirus Pathogenesis and the Emerging Pathogen Severe Acute Respiratory
Syndrome Coronavirus; Microbiol. Mol. Biol. Rev. 2005, 69(4):635. DOI 10.1128/MMBR.69.4.635-664.2005.

Middle East respiratory syndrome coronavirus (MERS-CoV): challenges in identifying its source and
controlling its spread
Lu Lu,Qi Liu,Lanying Du,Shibo Jiang, Microbes and Infection,Volume 15, Issues 89, JulyAugust 2013, Pages
625629

Berdasarkan analisis secara genetik, MERS-CoV


termasuk dalam C--coronavirus berbeda
dengan HCoV lain termasuk SARS-CoV

Pasien yang telah dipastikan diinfeksi MERS-CoV


mengalani penyakit pada saluran nafas yang
berat (severe acute respiratory illness) sekitar
nya meninggal

Gejala klinis yang paling sering berupa demam,


batuk dan nafas yang pendek (shortness of
breath) bisa disertai gejala lain: diare, mualmuntah, gagal ginjal, perikarditis

Masa inkubasi : 5-14 hari terutama pada orang


tua dan dengan underlying disease

Cara penularannya belum diketahui dengan


pasti Penyebaran virus ini terjadi melalui
kontak yang dekat (close contact) dengan
penderita diantara anggota keluarga dan
petugas kesehatan sumber infeksi belum
jelas (kelelawar, unta ???)

Belum ada bukti penyebaran virus dari


kelompok penderita ke
komunitas/masyarakat umum

Pemeriksaan laboratorium :
Spesimen dari saluran nafas bawah (paling baik) :
real time Reverse Transcription PCR (RT-PCR) atau
kultur sel
Dapat juga digunakan spesimen dari saluran nafas
atas, feces atau serum
Pemeriksaan serologi untuk mendeteksi adanya
antibodi sampel serum dikumpulkan pada 2 fase

WHO Laboratory testing for novel coronavirus, Interim recommendations ,21 Dec 2012

WHO Laboratory testing for novel coronavirus, Interim recommendations ,21 Dec 2012

Probable case
3 kombinasi dari kriteria secara klinis, epidemiologi dan
laboratorium:
1.Pasien dengan febrile acute respiratory illness dengan
terdapat bukti secara klinis, radiologis atau
histopatologis dari penyakit parenkim paru (c/
pneumonia atau Acute Respiratory Distress Syndrome)
DAN
Pemeriksaan untuk MERS-CoV tidak memungkinkan
atau negatif pada single inadequate specimen
DAN
Pasien mempunyai hubungan epidemiologi langsung
dengan confirmed MERS-CoV case.

2. Pasien dengan febrile acute respiratory illness


dengan terdapat bukti secra klinis, radiologis atau
histopatologis dari penyakit parenkim paru (c/
pneumonia atau Acute Respiratory Distress
Syndrome)
DAN
Pemeriksaan laboratorium untuk MERS-CoV yang
belum selesai (hasil screening yang positif tanpa
konfirmasi)
DAN
Penduduk atau dalam 14 hari sebelum onset dari
penyakit berpergian ke kota-kota di Timur tengah
terdapat MERS-CoV

3. Pasien dengan acute febrile respiratory illness


DAN
Pemeriksaan laboratorium untuk MERS-CoV yang
belum selesai (hasil screening yang positif tanpa
konfirmasi)3
DAN
Pasien mempunyai hubungan epidemiologi langsung
dengan confirmed MERS-CoV case

Confirmed case
Pasien yang telah dibuktikan dengan
pemeriksaan laboratorium terdapat infeksi
oleh MERS-CoV

WHO Laboratory testing for novel


coronavirus, Interim recommendations ,
21 Dec 2012

Terapi:
Belum ada antivirus
Belum ada vaksin
Suportif

Penerapan Infection Prevention and Control


pada pasien yang darawat di RS
Standart, contact dan airborn precaution
Penempatan pasien pada ruang isolasi
Diluar ruang isolasi pasien harus memakai
masker

Personal Protective Equipment:


Glove
Gown
Cap
Pelindung mata
(Goggles atau face shield)
Masker N95

Langkah-langkah penanganan pasien dengan


severe acute respiratory infections (SARI)
yang dicurigai MERS:
1. Infection prevention and control
2. Pemberian oksigen
3. Pengambilan sampel sebelum pemberian
antibiotik
4. Pemberian antibiotika segera yang sesuai
untuk community-acquired pathogens
5. Pemberian cairan intravena
6. Jangan memberikan steroid pada pasien
dengan SARI
7. Pengawasan yang ketat

Isolasi ketat ( transmisi airborne )


Tekanan negatif

Pemerikaan swab dab serologi hari 1- 3


Pemeriksaan radiologi hari 1 -3
Pemeriksaan penunjang ( darah rutin, kimia
darah, urin dan feses )
Pemulangan pasien jika terbukti tidak
ditemukan cov 3 kali pemeriksaan

Pilih petugas yang berdedikasi

Jumlah
petugas
harus
seminimal
mungkin.
Harus
tersedia
daftar
petugas, termasuk dokter

Higiene perorangan yang ketat

Penggunaan APP benar

Seminimal mungkin kontak dengan


pasien

Petugas kantin atau penjaja makanan


jangan masuk

Pengawasan kesehatan petugas

Setiap orang masuk sudah tahu cara


menggunakan APP dengan benar
Yang masuk dibatasi, kunjungan bukan
petugas dihindari
Petugas Keamanan/ Satpam harus secara
ketat memberlakukan kebijakan ini
Tidak diperkenankan untuk dijenguk

PETUGAS YANG MENDAMPINGI MINIMAL


BERJUMLAH 2 (DUA) ORANG
Kriteria Petugas Pendamping :
Sudah mendapat pelatihan Basic Life Support
(BLS) Bantuan Hidup Dasar
Sudah mendapat pelatihan Infection control
Mengetahui permasalahan pasien yg akan
dirujuk
Petugas tetap memakai APD lengkap

Pasien yang perlu dirujuk adalah


pasien yang diduga menderita mers
cov atau yang perlu diobservasi lebih
lanjut di RS rujukan setelah menjalani
pemeriksaan awal oleh tim verifikasi
KLB atau tim medis RSU

KONDISI PASIEN
HARUS DIJAGA KEADAAN :

AIRWAY
A,B,C,D
BREATHING
CIRCULATION
DISABILITY
EXPOSURE & ENVIRONMENT
GASTRO INTESTINAL
Dll

Dalam memindahkan (merujuk) pasien


dari satu tempat ke tempat lain harus
tetap mengikuti prinsip-prinsip isolasi
sebagai berikut :
Pasang masker pada pasien
Petugas memakai APD lengkap
Menjaga kontak seminimal mungkin
dengan pasien
Mencuci tangan dengan baik dan
benar
Desinfeksi alat transpor dan
peralatan lain

ALAT TRANSPORTASI
Dapat didesinfeksi
Tersedia alat-alat medis &
obat untuk Bantuan Hidup
Dasar.
Tersedia radio komunikasi
Ambulans RS ? 118 ?
Jangan pakai taksi / umum

Perhitungkan

berapa lama di

jalan
Apakah ada titik-titik
kemacetan
Cari jalan yang paling
pendek
Dan lain-lain

Mengapa perlu dirujuk


Kapan dirujuk
Cara transportasi
Risiko waktu transportasi
Yang akan dilakukan di RS Rujukan
Kemungkinan survival
Biaya Perawatan di RS Rujukan
Dan lain-lain

Diagnosis dan Diagnosis Banding


Keadaan pasien ;
- Kesadaran, RR, saturasi oksigen ?
- Gagal napas ?
- Perlu pemasangan ETT ?
- Kelaikan transportasi ?
Ketersediaan ruang rawat
Situasi di RS rujukan yang lain ? Dll

Setelah diperoleh KEPASTIAN ada


indikasi, tersedia tempat, serta pasien
layak untuk dirujuk

PASIEN DIRUJUK
RS rujukan PERLU mempersiapkan
segala sesuatu dalam rangka
penerimaan pasien tersebut.

Untuk
pemeriksaan
laboratorium
diagnostik
etiologi,
RS
dapat
mengambil sampel berupa saluran
napas atas (usap/bilasan nasofaring
atau
usap
orofaring),
sampel
darah/serum
atau
lainnya
bila
diperlukan.
Cara pengambilan dan pengiriman sampel
mengacu kepada Buku Pedoman Pengambilan
dan Pengiriman Spesimen yang Berhubungan
dikeluarkan oleh Badan Litbangkes

Kepada
Kepala Puslitbang Pemberantasan Penyakit
Badan Litbang Kesehatan
Jl. Percetakan Negara No.29, Jkt 10560
Tel. 021-426-1088 ext.134 / 021-425-9860
Fax : 021-425-5389
Kp3m@litbang.depkes.go.id
selitbnag@libang.depkes.go.id