Você está na página 1de 50

AUTISM SPECTRUM DISORDER

(ASD)
SMF KEDOKTERAN JIWA
RSUD CIAMIS
DR. dr. H. IWAN ARIJANTO, SpKJ MKes
Oleh:
Lutfi Abdulah Mustofa

Latar Belakang
Autisme merupakan fenomena
menyimpan banyak rahasia.

yang

masih

Sampai saat ini belum dapat ditemukan


penyebab pasti dari gangguan autisme ini,
sehingga belum dapat dikembangkan cara
pencegahan dan penanganan yang tepat.
Pada awalnya autisme dipandang sebagai
gangguan yang disebabkan oleh faktor psikologis.
Tahun 1960 dimulai penelitian neurologis yang
membuktikan bahwa autisme disebabkan oleh
adanya abnormalitas pada otak.

Pengertian

Autisme berasal dari bahasa Yunani


autos yang berarti segala sesuatu yang
mengarah pada diri sendiri.

Autisme pertama kali dikemukakan oleh Dr.


Leo Kanner 1943, seorang psikiatri
Amerika.

Istilah
autisme
dipergunakan
untuk
menunjukkan suatu gejala psikosis pada
anak-anak yang unik dan menonjol yang
sering disebut dengan sindroma Kanner.

Pengertian
Defisit perkembangan pervasif
Pada awal kehidupan anak
Disebabkan oleh gangguan perkembangan
otak yang ditandai dengan ciri pokok yaitu
terganggunya
perkembangan
interaksi
sosial, bahasa dan wicara, serta munculnya
perilaku yang bersifat repetitif, stereotipik
dan obsesif.

Epidemiologi

Gangguan autisme dapat terjadi dengan


angka 2-5 kasus/100.000 anak (0,02-0,05%) di
bawah usia 12 tahun.
Jumlah anak yang terkena autisme semakin
meningkat pesat di berbagai belahan dunia.
Di Kanada dan Jepang : 40 persen sejak 1980.
Di California tahun 2002 : 9 kasus autisme
per-harinya.
Di Amerika Serikat : terjadi pada 15.000
60.000 anak dibawah 15 tahun.
Di Inggris pada awal tahun 2002 : dicurigai 1
diantara 10 anak menderita autisme.

Di Indonesia : diperkirakan 150-200 ribu


orang.
Lebih sering pada anak laki-laki
dibandingkan pada anak perempuan, 3-5 :
1.
Tetapi anak perempuan yang memiliki
gangguan autistik cenderung terkena lebih
serius dan lebih mungkin memiliki riwayat
keluarga gangguan kognitif dibandingkan
anak laki-laki.

Etiologi dan Patogenesis

Penyebab autisme sampai sekarang


belum dapat ditemukan dengan pasti.
Banyak
sekali
pendapat
yang
bertentangan antara ahli yang satu
dengan yang lainnya mengenai hal ini.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Faktor Psikodinamika dan Keluarga


Kelainan Organik-Neurologis-Biologis
Faktor Genetika
Faktor Imunologis
Faktor Perinatal
Temuan Neuroanatomi
Temuan Biokimiawi

Klasifikasi

Menurut DSM-IV Autistic Spectrum Disorder


(ASD) merupakan bagian dari Pervasive
Developmental Disorder (PDD) atau Gangguan
Perkembangan Pervasif (GPP)
GPP adalah suatu gangguan perkembangan
pada anak, dimana terutama terdapat 3
bidang perkembangan yang terganggu, yaitu:
komunikasi, interaksi sosial dan perilaku
yang terbatas dan berulang
Gejala-gejala tersebut harus sudah ada sejak
sebelum usia 3 tahun, walaupun demikian
diagnosis ditegaskan saat anak berusia 3
tahun.

Gangguan di bidang komunikasi


meliputi:

(1) tidak ada gesture ataupun mimik, (2) tidak


bisa mempertahankan bicara yang lama, (3)
bahasa stereotipik dan repetitif dan (4) tidak bisa
berpura-pura (sandiwara).

Gangguan di bidang interaksi sosial


meliputi:

(1) menghindari tatap mata, (2) gagal dalam


hubungan pertemanan, (3) kurangnya
spontanitas dalam bermain, (4) hilangnya rasa
emosional.

Gangguan di bidang perilaku meliputi:

(1) pola perilaku stereotipik tertentu, (2)


melakukan rutinitas secara ritual, (3)
mannerisme seperti finger flapping dan (4)
preokupasi terhadap bagian benda tertentu saja.

Namun secara klinis di lapangan, gangguan


tersebut
ditemukan
secara
spectrum
(berbeda kadar/derajat keparahannya).
Bila gangguan tersebut memenuhi kriteria
lengkap seperti di atas maka disebut
dengan Autistic Disorder,
Sedangkan bila tidak lengkap maka disebut
sebagai Autistic Spectrum Disorder

Kondisi yang dapat diklasifikasikan kedalam


Gangguan Perkembangan Pervasif, menurut
ICD-10 (International Classification of
Diseases, WHO 1993), maupun menurut
DSM-IV (American Psychiatric Association,
1994) adalah:
1. Autisme Masa Kanak (Childhood Autism)
2. Gangguan Perkembangan Pervasif yang tak
tergolongkan (GPP-YTT) atau (Pervasif Developmental

Disorder Not Otherwise Specified (PDD-NOS)


3. Sindroma Rett (Retts Syndrome)
4. Gangguan Disintegratif Masa Kanak (Childhood
Disintegrative Disorder)
5. Sindroma Asperger (Aspergers Syndrome).

1. Autisme Masa kanak ( Childhood Autism )

Autisme Masa Kanak adalah gangguan perkembangan


pada anak yang gejalanya sudah tampak sebelum
anak tersebut mencapai umur 3 tahun. Perkembangan
yang terganggu adalah dalam bidang :
komunikasi meliputi : (1) tidak ada gesture ataupun
mimik, (2) tidak bisa mempertahankan bicara yang lama,
(3) bahasa stereotipik dan repetitif dan (4) tidak bisa
bemain berpura-pura (sandiwara).
interaksi sosial meliputi : (1) menghindari tatap mata,
(2) gagal dalam hubungan pertemanan, (3) kurangnya
spontanitas dalam bermain, (4) hilangnya rasa
emosional.
perilaku meliputi : (1) pola perilaku stereotipik tertentu,
(2) melakukan rutinitas secara ritual, (3) mannerisme
seperti finger flapping dan (4) preokupasi terhadap
bagian benda tertentu saja.

Autisme tak khas


Gangguan perkembangan pervasif berbeda dari
autisme dalam hal usia onset maupun tidak
terpenuhinya ketiga kriteria diagnostik.
Kelainan dan atau hendaya perkembangan menjadi
jelas untuk pertama kalinya pada usia setelah 3 tahun.
Tidak cukup menunjukkan kelainan dalam satu atau
dua dari tiga bidang psikopatologi yang dibutuhkan
untuk diagnosis autisme (interaksi sosial, komunikasi,
dan perilaku streotipik dan berulang)
Autisme tak khas sering muncul pada induvidu dengan
retardasi mental yang berat (kemampuan sangat
rendah)pasien tidak mampu menampakkan gejala.

2. Gangguan perkembangan pervasif ytt (PDD


NOS)

PDD-NOS juga mempunyai gejala gangguan


perkembangan dalam bidang komunikasi,
interaksi maupun perilaku,
Namun gejalanya tidak sebanyak seperti
pada Autisme Masa kanak.
Kualitas
dari gangguan tersebut lebih
ringan, sehingga kadang-kadang anak-anak
ini masih bisa bertatap mata, ekspresi fasial
tidak terlalu datar, dan masih bisa diajak
bergurau.

3. Sindrom rett

Adalah gangguan perkembangan yang hanya


dialami oleh anak wanita.
Kehamilannya
normal,
kelahiran
normal,
perkembangan normal sampai sekitar umur 6
bulan. Lingkaran kepala normal pada saat lahir.
Mulai sekitar umur 6 bulan mereka mulai
mengalami
kemunduran
perkembangan.
Pertumbuhan kepala mulai berkurang antara
umur 5 bulan sampai 4 tahun.
Gerakan tangan menjadi tak terkendali,
gerakan yang terarah hilang, disertai dengan
gangguan komunikasi dan penarikan diri
secara sosial.

Pada sebagian besar kasus onset gangguan


terjadi pada usia 7-24 bulan.
Pola perkembangan awal tampak normal,
diikuti dengan kehilangan sebagian/seluruh
keterampilan tangan dan berbicara yang
telah didapat, bersamaan dengan
terdapatnya kemunduran/perlambatan
pertumbuhan kepala.
Perjalanan gangguan bersifat progressive
motor deterioration.

Gejala khas yang paling menonjol adalah


hilangnya kemampuan gerakan tangan yang
bertujuan dan keterampilan manipulatif dari
motorik halus yang telah terlatih. Disertai
kehilangan atau hambatan seluruh/sebagian
perkembangan berbahasa; gerakan seperti
mencuci tangan yang streotipik, dengan fleksi
tangan didepan dada atau dagu; membasahi
tangan secara streotipik dengan ludah (saliva);
hambatan dalam mengunyah makanan yang
baik; sering terjadi episode hiperventilasi;
hampir selalu gagal dalam pengaturan BAB dan
BAK; sering terdapat penjuluran lidah dan air
liur yang menetes; dan kehilangan dalam ikatan
sosial.

Secara khas tampak anak tetap dapat senyum


sosial (social smile), menatap seseorang dengan
kosong, tetapi tidak terjadi interaksi sosial dengan
mereka pada awal masa kanak.
Cara berdiri dan berjalan cenderung melebar (broadbased), otot hipotonik (kaki makin mengecil),
koordinasi gerak tubuh memburuk (ataksia), serta
skoliosis atau kifoskoliosis yang berkembang
kemudian. Atrofi spinal, dengan disabilitas motorik
berat yang muncul pada saat remaja atau dewasa
pada <50% kasus.
Dapat timbul spastisitas dan rigiditas, biasanya lebih
banyak terjadi pada ekstremitas bawah daripada
ekstremitas atas.
Serangan epileptik mendadak (epilectic fits), onset
serangan umumnya sebelum usia 8 tahun.
Pemeriksaan EEG biasanya menunjukkan kelainan.

4. Gangguan disintegratif masa


kanak

Diagnosis ditegakkan berdasarkan suatu


perkembangan normal yang jelas sampai usia
minimal 2 tahun, yang diikuti dengan kehilangan
yang nyata dari keterampilan yang sudah diperoleh
sebelumnya disertai dengan kelainan kualitatif
dalam fungsi-fungsi sosial.
Biasanya terjadi regresi yang berat atau kehilangan
kemampuan berbahasa, regresi dalam kemampuan
bermain, keterampilan sosial, dan perilaku adaptif,
dan sering dengan hilangnya pengendalian BAB
atau BAK, kadang-kadang disertai dengan
kemorosotan pengendalian motorik.

Yang khas, keadaan tersebut bersamaan


dengan hilangnya secara menyeluruh
perhatian/minat terhadap lingkungan, adanya
mannerisme motorik yang streotipik dan
berulang, serta hendaya dalam interaksi sosial
dan komunikasi yang mirip autisme.
Dalam hal-hal tertentu sindrom ini mirip dengan
demensia pada orang dewasa, tetapi berbeda
dalam tiga hal; biasanya tidak ada bukti
penyakit atau kerusakan organik yang dapat
ditemukan, kehilangan keterampilan dapat
diikuti dengan beberapa derajat perbaikan,
hendaya dalam fungsi sosial dan komunikasi
mempunyai kualitas lebih berciri autistik
daripada kemunduran intelektual.

5. Sindrom Asperger

Seperti pada Autisme Masa Kanak, Sindrom Asperger (SA)


juga lebih banyak terdapat pada anak laki- laki daripada
wanita.
Anak SA juga mempunyai gangguan dalam bidang
komunikasi, interaksi social maupun perilaku, namun tidak
separah seperti pada Autisme.
Pada kebanyakan dari anak-anak ini perkembangan bicara
tidak terganggu. Bicaranya tepat waktu dan cukup lancar,
meskipun ada juga yang bicaranya agak terlambat.
Namun meskipun mereka pandai bicara, mereka kurang
bisa komunikasi secara timbal balik. Komunikasi biasanya
jalannya searah, dimana anak banyak bicara mengenai
apa yang saat itu menjadi obsesinya, tanpa bisa
merasakan apakah lawan bicaranya merasa tertarik atau
tidak.
Seringkali mereka mempunyai cara bicara dengan tata
bahasa yang baku dan dalam berkomunikasi kurang
menggunakan bahasa tubuh. Ekspresi muka pun kurang
hidup bila dibanding anak- anak lain seumurnya.

Mereka biasanya terobsesi dengan kuat pada suatu benda/subjek tertentu,


seperti mobil, pesawat terbang, atau hal-hal ilmiah lain. Mereka
mengetahui dengan sangat detil mengenai hal yang menjadi obsesinya.
Obsesi inipun biasanya bergantiganti.
Kebanyakan anak SA cerdas, mempunyai daya ingat yang kuat dan tidak
mempunyai kesulitan dalam pelajaran disekolah. mereka mempunyai sifat
yang kaku, misalnya bila mereka telah mempelajari sesuatu aturan, maka
mereka akan menerapkannya secara kaku, dan akan merasa sangat
marah bila orang lain melanggar peraturan tersebut.
Dalam interaksi sosial juga mereka mengalami kesulitan untuk
berinteraksi dengan teman sebaya. Mereka lebih tertarik pada buku atau
komputer daripada teman.
Mereka sulit berempati dan tidak bisa melihat/menginterpretasikan
ekspresi wajah orang lain.
Perilakunya kadang-kadang tidak mengikuti norma sosial, memotong
pembicaraan orang seenaknya, mengatakan sesuatu tentang seseorang
didepan orang tersebut tanpa merasa bersalah (mis. Ibu, lihat, bapak itu
kepalanya botak dan hidungnya besar ). Kalau diberi tahu bahwa tidak
boleh mengatakan begitu, ia akan menjawab: Tapi itu kan benar Bu.
Anak Sindrom Asperger jarang yang menunjukkan gerakan-gerakan
motorik yang aneh seperti mengepak-ngepak atau melompat-lompat atau
stimulasi diri.

Tetapi Diagnostic and Statistical Manual of


Mental Disorders V (DSM V; American
Psychiatry Association) telah terbit. Dan
didalamnya berisi perubahan mengenai
proses pembuatan diagnosa klinis Autisme

Ada beberapa perubahan diagnosa


dalam DSM V yang perlu dipahami oleh
profesional dalam bidang kesehatan
mental.
Satu diagnosa gangguan Autisme
Spektrum (Autism Spectrum Disorder).
Diagnosa ASD menggantikan berbagai
diagnosa klinis terdahulu seperti
Gangguan Autistik, Asperger, dan
Ganggan Pervasive yang tidak spesifik.

Kriteria derajat keberatan gejala.


Dalam diagnosa ASD diperkenalkan juga
kontinuum derajat keberatan autisme, dari
level 1, 2, 3. Tingkatan ini didasarkan pada
sejauh
mana
anak
membutuhkan
dukungan orang lain dalam melakukan
tugas perkembangannya. Tingkatan ini
menunjukkan bahwa ada anak dengan
tingkat ASD ringan dan ada pula yang
tingkat gangguan lebih berat.

Diagnosa ASD dari Triadic menjadi Dyadic


Sebelumnya diagnosa autisme ditegakkan
jika muncul gangguan pada 3 ranah, yaitu:
komunikasi dan bahasa, interaksi sosial dan
perilaku, minat terbatas dan berulang (DSM
IV TR, 2000). Namun dalam DSM V,
diagnosanya menjadi 2 ranah, yaitu:
hambatan komunikasi sosial (deficits in
social communication) dan minat yang
terfiksasi dan perilaku berulang (fixated
interest and repetitive behavior).

Profil sensoris autisme


Sebelumnya problem sensoris atau inderawi
autisme tidak disebutkan dalam DSM IV. Dalam
DSM V, profil sensoris anak dengan ASD
dimasukkan dalam gejala minat yang terfiksasi
dan perilaku berulang. Misalkan: tidak
menyukai makanan tertentu yang memiliki
warna atau tekstur tertentu.

Gejala yang telah muncul sejak masa kanak


Menurut DSM V, diagnosa ASD bisa
ditegakkan jika anak telah menunjukkan
gejala sejak masa kanak. Walaupun gangguan
ASD baru diketahui setelah masa kanak,
namun penting untuk melihat dyadic tersebut
yang menunjukkan bahwa anak memiliki
persoalan dalam hal sosial dan perilaku
dibandingkan anak-anak seusianya.

Perbedaan diagnosa Gangguan komunikasi


sosial dan ASD
Perbedaannya adalah Gangguan komunikasi
sosial (Social Communication Behavior) tidak
mencakup problem perilaku minat terbatas
dan berulang. Karena ini adalah kriteria yang
baru, ahli klinis perlu lebih mempelajarinya
agar lebih terbiasa menggunakannya.

Diagnosa comorbid
Dalam DSM V, dijelaskan bahwa jika anak
menampilkan gejala dari beberapa gangguan,
maka ia bisa mendapatkan diagnosa komorbid.
Diagnosa
komorbid
adalah
jika
anak
mendapatkan 2 diagnosa gangguan atau lebih.
Misalkan, anak dengan ASD dan ADHD.

Gambaran klinis

Tanda-tanda awal pada pasien autisme


berkaitan dengan usia anak.
Usia anak dimana sindroma autism dapat
dikenal merupakan kunci untuk segera
melakukan intervensi berupa pelatihan dan
pendidikan dini.
National
Academy
of
Science
USA
menganjurkan
bahwa
pendidikan
dini
merupakan kunci keberhasilan bagi seorang
anak dengan sindroma autisme.
Ada beberapa gejala yang harus diwaspadai
terlihat sejak bayi atau anak menurut usia.

Usia 0-6 bulan


Bayi
tampak
terlalu
tenang
(jarang
menangis)
Terlalu sensitif, cepat terganggu/terusik
Gerakan
tangan dan kaki berlebihan
terutama bila mandi
Tidak ditemukan senyum sosial diatas 10
minggu
Tidak ada kontak mata diatas umur 3 bulan
Perkembangan
motor kasar/halus sering
tampak normal

Usia 6-12 bulan


Bayi tampak terlalu tenang (jarang
menangis)
Terlalu sensitif, cepat terganggu/terusik
Gerakan tangan dan kaki berlebihan
Sulit bila digendong
Menggigit tangan dan badan orang lain
secara berlebihan
Tidak ditemukan senyum sosial
Tidak ada kontak mata
Perkembangan
motor kasar/halus sering
tampak normal

Usia 1-2 tahun

Kaku bila digendong


Tidak mau bermain permainan sederhana
(ciluk ba, da-da)
Tidak mengeluarkan kata
Tidak tertarik pada boneka
Memperhatikan tangannya sendiri
Terdapat
keterlambatan
dalam
perkembangan motor kasar/halus
Mungkin tidak dapat menerima makanan
cair

Usia 2-3 tahun


Tidak tertarik untuk bersosialisasi dengan
anak lain
Melihat orang sebagai benda
Kontak mata terbatas
Tertarik pada benda tertentu
Kaku bila digendong

Usia 4-5 tahun


Sering didapatkan ekolalia (membeo)
Mengeluarkan suara yang aneh (nada tinggi
atau datar)
Marah
bila rutinitas yang seharusnya
berubah
Menyakiti
diri sendiri (membenturkan
kepala)
Temperamen tantrum atau agresif

Gejala autisme infantil timbul sebelum anak


mencapai usia 3 tahun.
Pada sebagian anak gejala gangguan
perkembangan ini sudah terlihat sejak lahir.
Seorang ibu yang cermat dapat melihat
beberapa keganjilan sebelum anaknya
mencapai usia satu tahun.
Yang sangat menonjol adalah tidak adanya
kontak mata dan kurangnya minat untuk
berinteraksi dengan orang lain.

Diagnosis banding
Skizofrenia dengan onset masa anak-anak
Retardasi mental dengan gangguan
emosional/perilaku
Afasia didapat dengan kejang
Ketulian
kongenital
atau
gangguan
pendengaraan parah
Pemutusan psikososial

Penatalaksanaan

Autisme not curable, but treatable


kelainan yang terjadi pada otak tidak bisa
diperbaiki namun gejala-gejala yang ada dapat
dikurangi semaksimal mungkin sehingga anak
tersebut nantinya dapat berbaur dengan anak
anak lain secara normal.
Keberhasilan terapi dipengaruhi oleh beberapa
faktor, yaitu :
a. Berat ringannya gejala atau kelainan otak
b. Usia
c. Kecerdasan
d. Bicara dan bahasa
e. Terapi yang intensif dan terpadu

Terapi yang terpadu

Penanganan/intervensi terapi pada anak autisme harus


dilakukan dengan intensif dan terpadu.
Terapi secara formal sebaiknya dilakukan antara 4 8 jam
sehari.
Seluruh
keluarga
harus
terlibat
untuk
memacu
komunikasi dengan anak.
Penanganan anak autisme memerlukan kerjasama tim
yang terpadu yang berasal dari berbagai disiplin ilmu
antara lain psikiater, psikolog, neurolog, dokter anak,
terapis bicara dan pendidik.
Beberapa terapi yang harus dijalankan antara lain :
a. Terapi medikamentosa : indikasinya bila ada agresifitas,
hiperaktifitas, inatensi, impulsifitas, insomnia.
b. Stimulasi tidak langsung : terapi psikologis, terapi wicara,
terapi okupasi termasuk sensori integrasi, terapi fisik
(fisioterapi), terapi perilaku (ABA), terapi pedagogi.
c. Stimulasi langsung : akupuntur

Terapi psikologis
Intervensi difokuskan pada meningkatkan
kemampuan bahasa dan komunikasi, selfhelp dan perilaku sosial dan mengurangi
perilaku yang tidak dikehendaki seperti
melukai diri sendiri (self mutilation), temper
tantrum
Dengan penekanan pada peningkatan
fungsi individu dan bukan menyembuhkan
dalam arti mengembalikan anak autisme ke
kondisi normal.

Terapi medikamentosa

Obat-obat obat-obat antidepressan SSRI (Selective


Serotonin
Reuptake
Inhibitor)
yang
bisa
memberikan
keseimbangan
antara
neurotransmitter serotonin dan dopamin.
Yang diinginkan dalam pemberian obat ini adalah
dosis yang paling minimal namun paling efektif dan
tanpa efek samping.
Pemakaian obat akan sangat membantu untuk
memperbaiki respon anak terhadap lingkungan
sehingga ia lebih mudah menerima tata laksana
terapi lainnya.
Bila kemajuan yang dicapai cukup baik, maka
pemberian obat dapat dikurangi bahkan dihentikan.

Terapi wicara
Umumnya hampir semua anak autisme
menderita gangguan bicara dan berbahasa.
Oleh karena itu terapi wicara pada anak
autisme merupakan keharusan.
Penanganannya berbeda dengan penderita
gangguan bicara oleh sebab lain.
Anak yang mengalami hambatan bicara
dilatih dengan proses pemberian
reinforcement dan meniru vokalisasi
terapis.

fisioterapi

Pada anak autisme juga diberikan fisioterapi


yang berfungsi untuk merangsang
perkembangan motorik dan kontrol tubuh.

Alternatif terapi lainnya

menurut pengalaman Sleeuwen ( 1996 ) ,


yaitu :
a. Terapi musik
b. Son-rise program
c. Program Fasilitas Komunikasi
d. Terapi vitamin
e. Diet Khusus ( Dietary Intervention)

Diet Khusus

CFGF (casein free, gluten free)


Diet ini didasarkan pada sejumlah teori, tetapi dasar dari diet ini
adalah penghilangan gluten, yang merupkan bagian dari gandum,
oat, barley, dan sereal, dan kasein, protein utama dalam susu dan
produk susu.

CFGFSF (Casein free, gluten free, sugar free)


Diet ini didasarkan pada proses inflamasi

GAPS diet (Gut And Psychological Symptoms)


Mengacu pada SCD (Specific Carbohydrate Diet)
Memperbaiki keseimbangan bakteri dalam usus
Mengeliminasi bakteri yang buruk
Menambah asupan nutrisi yang direspon baik oleh reseptor pada
usus sehingga memulihkan gejala psikologi anak

Diet berdasakan alergi


Anak autis umumnya menderita alergi berat.
Makanan yang sering menimbulkan alergi
adalah ikan, udang, telur, susu, cokelat,
gandum/terigu, dan bisa lebih banyak lagi.
Cara mengatur makanan untuk anak alergi
dan intoleransi makanan, pertama-tama perlu
diperhatikan sumber penyebabnya. Makanan
yang
diduga
menyebabkan
gejala
alergi/intoleransi harus dihindarkan. Misalnya,
jika anak alergi terhadap telur, maka semua
makanan yang menggunakan telur harus
dihindarkan. Makanan tersebut tidak harus
dipantang seumur hidup

Prognosis

Prognosis yang lebih baik adalah berkaitan


dengan inteligensi yang lebih tinggi,
kemampuan berbicara fungsional dan
kurangnya gejala-gejala dan perilaku aneh.
Gejala-gejala sering berubah karena anakanak tumbuh semakin tua.
Sebagai aturan umum, anak-anak autistik
dengan IQ diatas 70 dan mereka yang
menggunakan bahasa komunikatif pada usia
5-7 tahun memliki prognosis yang terbaik.
Prognosis membaik jika lingkungan atau
rumah adalah suportif dan mampu
memenuhi kebutuhan anak tersebut yang
sangat banyak.

Thanks..