Você está na página 1de 22

KELOMPOK 2

Keanekaragaman Hayati
D. Dampak Aktifitas Manusia Terhadap
Keanekaragaman Hayati
E. Konservasi Keanekaragaman Hayati
F. Mempelajari Keanekaragaman Hayati dengan
Klarisifikasi
Disusun oleh.

Hendi Kurniawan Organisasi PRAMUKA


Mudrikah Aliaturofikoh Organisasi PASKIBRA
Billy Restu F Ekstrakulikuler PENCAKSILAT
Ratna Mustika A Organisasi PASKIBRA
Rizky Gustian Ekstrakulikuler BASKET
Lisa Saadah Organisasi PASKIBRA

Dampak
Dampak

Dampak Positif

Penghijauan/reboisasi

Pelestarian Hutan Lindung

Pelestarian Terumbu Karang


Di Laut

Pelestarian Hewan langka

Dampak Negatif

A. Perusakan Habitat

(Pembukaan lahan untuk


pemukiman dan lahan
pertanian)

(Eksploitasi sumber daya hayati


yang berlebihan)

(Perusakan terumbu karang


oleh manusia)

B. Pencemaran Ekosistem

C. Penebangan hutan secara liar

(Penggunaan pestisida)
(Penebanagan Hutan secara liar)
(ILLEGAL LOGGING)

(Pembuangan Limbah)

D. Sistem budidaya tanaman monokultur

E. KONSERVASI KEANEKARAGAMAN HAYATI

Keanekaragaman Hayati disebut juga sumber daya alam hayati karena merupakan
potensi alam dapat dikembangkan untuk proses produksi. Konservasi Keanekaragaman
hayati adalah upaya yang dilakukan untuk melestarikan keanekaragaman hayati tersebut.
Berkurangnya keanekaragaman hayati perlu diantisipasi dengan cermat. Perlu upaya
untuk menjaga dan melestarikan keanekaragaman hayati yang ada. Jika mungkin anda
harus dapat mengembalikan keanekaragaman hayati ke kondisi semula. Menjaga
kelestarian keanekaragaman hayati bukan berarti tidak boleh memanfaatkannya. Perlu
sebuah cara agar kita dapat memanfaatkan keanekaragaman hayati tanpa merusak
keanekaragaman hayati.
Berikut akan dijelaskan cara-cara pemanfaatan dan pelestarian keanekaragaman
hayati.

Konservasi
Pemanfaatan
Pelestarian

a. Pemanfaatan Keanekaragaman Hayati


Melalui Usaha-usaha Pelestarian
Tebang pilih, suatu tindakan penebangan
pohon secara selektif (terpilih) bagi pohonpohon yang memenuhi persyaratan untuk
ditebang, baik dari segi umur, ketersediaan,
jenisnya maupun jumlahnya.

Reboisasi, suatu tidndakan penanaman kembali


hutn bekas tebangan dengan tumbuhan yang masih
muda. Kegiatan ini sudah digalakkan baik melalui
Pekan Penghijauan Nasional maupun Program Satu
Juta Pohon.

Penganekaragaman bahan pangan, suatu tindakan


pemanfaatan sumber daya alam sebagai bahan pangan secara
bervariasi dengan menghindarkan penggunaan bahan makanan
satu jenis saja sehingga tidak menghabiskan jenis tertentu
tersebut.

b. Pelestarian
Keanekaragaman Hayati
dengan Perlindungan
Cara ini dilakukan terhadap sumber daya alam hayati yang diperkirakan persediaan
bahan dasarnya cendrung menyusut atau hampir habis. Melalui cara ini, unsur abiotik juga
dilindungi. Perlindungan dilakukan secara terpadu yang melibatkan unsur-unsur terkait,
misalnya lembaga yang mengeluarkan peraturanya

Perlidungan Alam
Perlidungan alam adalah usaha-usaha untuk menjaga kelestarian flora, fauna, tanah
dan air. Pelestarian sumber daya alam hayati dilaksanakan secara terpadu dan melibatkan
berbagai pihak, seperti pemerintah, pengusaha, dan masyarakat. Usaha pelestarian ini
dapat dilakukan dengan berbagai cara di antaranya sebagai berikut.

1)

Pelestarian in situ, adalah pelestarian yang dilakukan di habitat aslinya,


misalhnya taman wisata, taman nasional, dan hutan lindung.

pelestarian komodo (Varanus komodonesis)


di pulau Komodo.

Pelestarian Badak bercula Satu


(Rhinoceros sondaicus) Di Ujung Kulon

Pelestarian Gajah (Elephas maximus) Di


Way Kambas

2)

Pelestarian ex situ, pelestarian ini dilaksanakan dengan


memindahkan flora atau fauna dari tempat aslinya ke tempat lain,
misalnya sebagai berikut:
Kebun koleksi, adalah tempat pemeliharaan
plasma nutfah dan dipertahankan dalam bentuk
koleksi hidup plasma nutfah. Makhuk hidup yang
dipelihaa di kebun koleksi adalah semua
varietas dari species-species tertentu sesuai
tujuan pelestarian.

Kebun botani, kebun ini berfungsi melestarikan


berbagai jenis plasma nutfah, seperti kebun raya
Bogor dan kebun raya Bedugul.

Kebun binatang, selain berfungsi untuk melestarikan


berbagai jenis binatang juga dapat dijadikan arena rekreasi,
misalnya kebun binatang Ragunan Jakarta, kebun binatang
Gembiraloka Yogyakarta, dan kebun binatang Surabaya.

Kebun plasma nutfah, dalam kebun ini tidak hanya plasma


nutfah yang termasuk katagori bibit unggul yang
dipertahankan, tetapi juga bibit tradisionil dan kerabat
liarnya. Contohnya, sawo mempunyai kerabat sawo kecik
(Manikara kauki) yang juga ikut dilindungi.

Penangkaran Hewan

Penangkaran Buaya

Penangkaran orang utan

Perlidungan satwa langka

Perlindungan Rusa di Istana Bogor

Perlindungan Kukus

Perlindungan orang utan (Pongo pygmaeus)


Di kalimantan

Perlindungan Penyu Raksasa

F. Mempelajari Keanekaragaman Hayati


Dengan Klasifikasi
1. Pengertain Klasifikasi
Klasifikasi adalah kegiatan pengelompokan Organisme
yang didasarkan pada atau persamaan sifat dalam
keragaman. Klasifikasi dapat digunakan untuk melihat
hubungan kekerabatan antar makhluk hidup yang satu
dengan yang lain. Sebagai contoh : harimau memiliki
hubungan kekerabatan yang lebih dekat dengan kucing
daripada dengan komodo, karena harimau dan kucing
memiliki banyak persamaan ciri-ciri, misalnya: harimau
dan kucing sama-sama menyusui, bertulang belakang,
berkaki empat, karnivor dan berambut. Sedangkan
komodo bertelur, berkaki empat, kulit bersisik dan
melata.
Keanekaragaman Hewan
a. Harimau, b. Singa, c. Kucing, d. Chitah

asar Klasifikasi Makhluk Hidup


Kegiatan klasifikasi tidak lain adalah pembentukan kelompok-kelompok makhluk hidup dengan cara
mencari keseragaman ciri atau sifat di dalam keanekaragaman ciri yang ada pada makhluk hidup.
Pengelompokan makhluk hidup dapat pula kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, di pasar
ada kelompok sayuran, buah-buahan, hewan ternak dan lain-lain. Hal ini dilakukan untuk
memudahkan kita memperolehnya serta memanfaatkannya.
a. Perkembangan Klaasifikasi mahkluk hidup
Aristoteles (384 322 SM), mengelompokkan makhluk hidup menjadi dua kelompok, yaitu
tumbuhan dan hewan. Tumbuhan dikelompokkan menjadi herba, semak dan pohon. Sedangkan hewan
digolongkan menjadi vertebrata dan avertebrata. John Ray (1627 1708), merintis pengelompokkan
makhluk hidup kearah grup-grup kecil. Ia telah melahirkan konsep tentang jenis dan spesies. Carolus
Linnaeus (1707 1778), mengelompokkan makhluk hidup berdasarkan pada kesamaan struktur. Ia
juga mengenalkan pada system tata nama makhluk hidup yang dikenal dengan binomial
nomenklatur. Pada tahun 1969 R.H Whittaker mengelompokkan makhluk hidup menjadi 5 (lima)
kingdom/kerajaan, yaitu Monera (bakteri dan ganggang biru); Protista (ganggang dan protozoa);
Fungi (jamur); Plantae (tumbuhan); dan Animalia (hewan).

Sampai saat ini, Dalam Tingkatan Klasifikasi mahkluk hidup, terbagi atas :
A. Kingdom (Kerajaan) atau Regnum (dunia)
B. Phylum untuk hewan dan Divisio untuk Tumbuhan
C. Classis(kelas)
D. Ordo(bangsa)
E. Familia(suku)
F. Genus(marga)
G. Spesies(jenis)
Setiap kelompok yang terbentuk dari hasil klasifikasi makhluk hidup, disebut
Takson. Lahirlah istilah taksonomi (takson = kelompok, nomos = hukum), atau
juga disebut sistematika (susunan dalam suatu system). Berdasarkan uraian diatas
dapat ditafsirkan, bahwa para ilmuwan mengelompokan makhluk hidup
berdasarkan banyaknya persamaan dan perbedaan baik morfologi, fisiologi, dan
anatominya.

a.

3.Tahapan dalam
Klasifikasi
Pencanderaan
makhluk hidup,dengn melakukan identifikasi makhluk

hidup dimulai dari ciri-ciri yang tampak dan mudah di amati.


b. Pengelompokan makhluk hidup,berdasarkan persamaan dan perbedaan ciri
tersebut.
c. Pemberian nama mkhluk hidup.

4. Sistem Tata Nama Ganda (Binomial


Nomenclature)
Tata nama binomial (binomial berarti 'dua nama') merupakan aturan penamaan baku bagi semua
organisme (makhluk hidup) yang terdiri dari dua kata dari sistem taksonomi(biologi), dengan
mengambil nama genus dan nama spesies Nama yang dipakai adalah nama baku yang diberikan
dalam bahasa latin atau bahasa lain yang dilatinkan. Aturan ini pada awalnya diterapkan untuk
fungi,tumbuhan dan hewan oleh penyusunnya (Carolus Linnaeus), namun kemudian segera
diterapkan untuk bakteri pula. Sebutan yang disepakati untuk nama ini adalah 'nama ilmiah'
(scientific name). Awam seringkali menyebutnya sebagai "nama latin" meskipun istilah ini tidak
tepat sepenuhnya, karena sebagian besar nama yang diberikan bukan istilah asli dalam bahasa latin
melainkan nama yang diberikan oleh orang yang pertama kali memberi deskripsi lalu dilatinkan.
Aturan penulisan
Aturan penulisan dalam tata nama binomial selalu menempatkan nama genus di awal dan nama
spesies mengikutinya.
Nama genus SELALU diawali dengan huruf kapital (huruf besar) dan nama spesies SELALU
diawali dengan huruf biasa (huruf kecil).
Penulisan nama ini tidak mengikuti tipografi yang menyertainya (artinya, suatu teks yang
semuanya menggunakan huruf kapital/balok, misalnya pada judul suatu naskah, tidak
menjadikan penulisan nama ilmiah menjadi huruf kapital semua) kecuali untuk hal berikut:
1.Pada teks dengan huruf tegak (huruf latin), nama ilmiah ditulis dengan huruf miring (huruf
italik), dan sebaliknya. Contoh: Glycine soja, Pavo muticus.
2.Pada teks tulisan tangan, nama ilmiah diberi garis bawah yang terpisah untuk nama genus
dan nama spesies.

Pada penulisan teks yang menyertakan nama umum/trivial, nama ilmiah biasanya menyusul dan
diletakkan dalam tanda kurung.
Nama ilmiah ditulis lengkap apabila disebutkan pertama kali. Penyebutan selanjutnya cukup dengan
mengambil huruf awal nama genus dan diberi titik lalu nama spesies secara lengkap. Contoh: Tumbuhan
dengan bunga terbesar dapat ditemukan di hutan-hutan Bengkulu, yang dikenal sebagai padma raksasa
(Rafflesia arnoldi). Di Pulau Jawa ditemukan pula kerabatnya, yang dikenal sebagai R. patma, dengan
ukuran bunga yang lebih kecil
Sebutan E. coli atau T. rex berasal dari konvensi ini.
Singkatan "sp." (zoologi) atau "spec." (botani) digunakan jika nama spesies tidak dapat atau tidak perlu
dijelaskan. Singkatan "spp." (zoologi dan botani) merupakan bentuk jamak. Contoh: Canis sp., berarti
satu jenis dari genus Canis; Adiantum spp., berarti jenis-jenis Adiantum.
Sering dikacaukan dengan singkatan sebelumnya adalah "ssp." (zoologi) atau "subsp." (botani) yang
menunjukkan subspesies yang belum diidentifikasi. Singkatan ini berarti "subspesies", dan bentuk
jamaknya "sspp." atau "subspp."
Singkatan "cf." (dari confer) dipakai jika identifikasi nama belum pasti. Contoh: Corvus cf. splendens
berarti "sejenis burung mirip dengan gagak (Corvus splendens) tapi belum dipastikan sama dengan
spesies ini".
Penamaan fungi mengikuti penamaan tumbuhan.
Tata nama binomial dikenal pula sebagai "Sistem Klasifikasi Binomial".