Você está na página 1de 13

Kelompok III

Pengertian analgetik
Analgetika adalah zat-zat yang mengurangi
atau menghalau rasa nyeri tanpa
menghilangkan kesadaran.
Mekanisme Kerja
1. Rasa nyeri
PG menimbulkan keadaan hiperalgesia,
kemudian mediator kimiawi seperti bradikinin
dan histamine merangsangnya dan
menimbulkan nyeri yang nyata.
2. Demam
Suhu badan diatur oleh keseimbangan
antara produksi dan hilangnya panas. Alat
pengatur suhu tubuh berada di
hipotalamus. Pada keadaan demam
keseimbangannya terganggu tetapi dapat
dikembalikan ke normal oleh obat mirip
aspirin. Ada bukti bahwa peningkatan suhu
tubuh pada keadaan patologik diawali
penglepasn suatu zat pirogen, endogen
atau sitokin seperti interleukin-1 (IL-1).
3. Efek
Farmakodinamik
Efek analgesic
Sebagai analgesic, obat mirip aspirin
hanya efektif terhadap nyeri dengan
intensitas rendah sampai sedang misalnya
sakit kepala, nialgia, atralgia dan nyeri lain
yang beradal dari integument, juga efektif
terhadap nyeri yang berkaitan dengan
inflamasi.
Efek antipiretik
Sebagai antipiretik, obat nyeri aspirin
akan menurunkan suhu badan hana keadaan
demam.
Rasa nyeri dan demam
Definisi nyeri adalah perasaan sensoris yang
emosional yang tidak enak dan yang
berkaitan dengan (ancaman) kerusakan
jaringan. keadaan psikis sangat
mempengaruhi nyeri, misalnya emosi dapat
menimbulkan sakit (kepala) atau
memperhebatnya, tetapi dapat pula
menghindarkan sensasi rangsangan nyeri.
Penggolongan :
a. Analgetika perifer (non narkotik) yang
terdiri dari obat-obat yang tidak bersifat
narkotik dan tidak bekerja sentral.
b. Analgetika narkotika khusus digunakan
untuk menghalau rasa nyeri hebat, seperti
pada fractura dan kanker.
Penanganan rasa nyeri
Berdasarkan proses terjadinya, rasa nyeri
dapat dilawan dengan beberapa cara, yakni :
Merintangi terbentuknya rangsangan
pada reseptor nyeri perifer dengan
analgetika perifer
Merintangi penyaluran rangsangan di
saraf-saraf sensoris, misalnya dengan
anestetika local.
Blokade pusat nyeri di SSP dengan
analgetika sentral (narkotika) dengan
anestetika umum.
Secara kimia, analgetika perifer dapat
dibagi dalam beberapa kelompok, yakni
:Parasetamol
Salisilat : Asetosal, salisilamida dan benorilat
Penghambat prostaglandin (NSAIDs) :
ibuprofen (Arthrifen), dan lain-lain.
Derivat-derivat antranilat : Mefenaminat,
asam niflumat glafenin, floktafenin.
Derivat- derivat pirazolinon : aminofenazon,
isopropylfenazon, isopropilaminofenazon dan
metamizol.
Lainnya : Benzidamin (Tanpum)
Penggunaan
Obat ini mampu meringankan atau
menghilangkan rasa nyeri, tanpa
mempengaruhi SSP atau menurunkan
kesadaran juga tidak menyebabkan
ketagihan. Kebanyakan zat ini juga berdaya
antipiretis atau antiradang. Oleh karena itu,
obat ini tidak hanya digunakan sebagai obat
anti nyeri, melainkan juga pada gangguan
demam (infeksi virus/kuman, selesma, pilek)
dan peradangan seperti rema dan encok.
Efek samping
Efek samping ini terutama terjadi pada
penggunaan lama atau dalam dosis tinggi.
Oleh karena itu, penggunaan analgetika
secara kontinyu tidak dianjurkan.
Interaksi kebanyakan analgetika
memperkuat efek antikoagulansia, kecuali
parasetamol dan glafenin. Kedua obat ini
pada dosis biasa dapat dikombinasi dengan
aman untuk waktu maksimal dua minggu.
Contoh tanaman
Cortex salisilis yang mengandung zat asam
salisilat yang memiliki antipiretik dan analgetik.
Jambu mede (Anacardium folium) yang bersifat
analgesik.
Sebung (Blumea folium) bersifat analgetik
Sambiloto (Andrographis folium) bersifat
antipiretik
Cocor bebek bersifat sebagai anti inflamasi
Jahe (Zingiberis rhizoma) sebagai analgetik,
antipiretik, dan antiinflamasi.