Você está na página 1de 49

PB-4: ALIRAN PIPA

SUB POKOK BAHASAN

SPB 4.1: PENGERTIAN & LINGKUP BAHASAN

SPB 4.2: RUMUS-RUMUS KEHILANGAN ENERGI

SPB 4.3: GRADIEN ENERGI & GRADIEN TEKANAN

SPB 4.4: PIPA SERI DAN PIPA EKIVALEN

SPB 4.5: PIPA PARALEL

SPB 4.6: PIPA BERCABANG

SPB 4.7: JARINGAN PIPA


SPB 4.1: PENGERTIAN & LINGKUP PEMBAHASAN

1. Pengertian
Aliran pipa biasa juga disebut aliran bertekanan atau aliran pipa
bertekanan

bentuk bentuk segi


lingkaran empat (kotak)

(a) aliran pipa (b) aliran saluran terbuka


SPB 4.1: PENGERTIAN & LINGKUP PEMBAHASAN

2. Lingkup Pembahasan

Pembahasan aliran pipa disini dibatasi pada aliran tunak (steady flow)
atau lasimnya disebut aliran steady dalam konduit tertutup

Pembahasan aliran steady dalam konduit tertutup mencakup:


(1) Rumus-rumus kehilangan energi (rumus-rumus gesekan pipa)
(2) Gradien energi dan gradien tekanan (gradien hidrolik)
(3) Pipa seri & pipa ekivalen
(4) Pipa paralel
(5) Pipa bercabang
(6) Jaringan pipa
SPB 4.2: RUMUS-RUMUS KEHILANGAN ENERGI

Secara praktis, kehilangan energi dibedakan menjadi 2, yaitu:


- Kehilangan energi mayor, yaitu kehilangan energi akibat gesekan
atau kekasaran pipa (friction headloss), hf
- Kehilangan energi minor, yaitu kehilangan energi akibat perubahan
arah aliran atau perubahan penampang, hm

1. Kehilangan energi akibat kekasaran atau gesekan pipa

a. Rumus umum atau rumus gesekan pipa eksponensial

hf = k . Qn k = konstanta pipa
n = eksponen debit
SPB 4.2: RUMUS-RUMUS KEHILANGAN ENERGI

b. Rumus Darcy - Weisbach

L V2
hf f subsitusikan: V=Q/A diperoleh:
D 2g
8 fL 8 fL
hf Q 2
berarti: k dan n = 2
g 2 D 5 g 2 D 5

c. Rumus Hazen - Williams


L
h f 10,675 1,85 4,87 Q1,85
C D
10,675 L
berarti: k dan n = 1,85
C 1,85 D 4,87
SPB 4.2: RUMUS-RUMUS KEHILANGAN ENERGI

2. Kehilangan energi minor


Secara umum, kehilangan energi minor dinyatakan dengan persamaan:
V2
hm K K = koefisien
2g
a. Perubahan penampang
Pembesaran tiba-tiba (mendadak) 2
V1
hm K
2g
2
D1 V1 V2 D2 D 2

K 1 1
D2
SPB 4.2: RUMUS-RUMUS KEHILANGAN ENERGI

Penyempitan mendadak
2
V2
hm K
V1
2g
D1 V2 D2
2
1
K 1
Cc
Nilai koefisien kontraksi (Cc) untuk air

A2/A1 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 0,6 0,7 0,8 0,9 1,0

Cc 0,624 0,632 0,643 0,659 0,681 0,712 0,755 0,813 0,892 1,00
SPB 4.2: RUMUS-RUMUS KEHILANGAN ENERGI

Pipa masuk (inlet) pada reservoir


Identik dengan pembesaran mendadak,
dengan anggapan D2 >>> D1

Sehingga (D1/D2) 0 dan K = 1

Pipa keluar (outlet) pada reservoir

siku bulat

K = 0,5 K = 0,01 0,05 K = 0,8 1,0


SPB 4.2: RUMUS-RUMUS KEHILANGAN ENERGI

b. Perubahan arah aliran


Belokan standar (elbow)

elbow 90o; K = 0,51 elbow 45o; K = 0,14

Belokan panjang (bend)

K = 0,50 0,75 K = 0,35 0,45

bend 90o bend 45o


SPB 4.2: RUMUS-RUMUS KEHILANGAN ENERGI

Percabangan bentuk T (Tee)

K = 0,8

K = 0,2 K = 0,5 K = 0,5


SPB 4.3: GRADIEN ENERGI & GRADIEN TEKANAN

Pengertian

Garis energi adalah garis yang menghubungkan tinggi energi di setiap titik
pada garis alir
Gradien energi adalah kemiringan garis energi, SE = DE / L
Garis tekanan adalah garis yang menghubungkan tinggi tekanan di setiap titik
pada garis alir
Gradien tekanan (gradien hidrolik) adalah kemiringan garis tekanan SH = DH / L
SPB 4.3: GRADIEN ENERGI & GRADIEN TEKANAN

Tinggi energi di titik 1 Tinggi energi di titik 2


E1 = z1 + p1/g + V12/2g E2 = z2 + p2/g + V22/2g

Kehilangan energi antara titik 1 dan 2: DE = E1 E2

Gradien energi antara 1 dan 2: SE = DE / L


SPB 4.3: GRADIEN ENERGI & GRADIEN TEKANAN

Tinggi tekanan di titik 1 Tinggi tekanan di titik 2


H1 = z1 + p1/g = E1 - V12/2g H2 = z2 + p2/g = E2 - V22/2g

Kehilangan tekanan antara titik 1 dan 2: DH = H1 H2


Gradien tekanan antara 1 dan 2: SH = DH / L
SPB 4.3: GRADIEN ENERGI & GRADIEN TEKANAN

Jika diameter pipa di titik 1 dan titik 2 sama (D1 = D2), maka:

A1 = A2 dan V1 = V2 sehingga DH = DE dan SH = SE

dengan kata lain garis energi sejajar dengan garis tekanan


SPB 4.4: PIPA SERI & PIPA EKIVALEN

A. Pipa Seri
Dua buah reservoir dihubungkan dengan pipa yang dirangkai seri seperti
pada gambar di bawah ini

DH

A
K1 1 K2 2 K3 3 B
K4

L1 L2 L3

Pada sistim tersebut berlaku:


a. Persamaan kontinuitas: Q = Q1 = Q2 = Q3
b. Kehilangan energi antara A dan B DH = hf + hm
hf = hf1 + hf2 + hf3 dan hm = hm1 + hm2 + hm3 + hm4
SPB 4.4: PIPA SERI & PIPA EKIVALEN

Kehilangan energi akibat gesekan pipa, dapat dihitung dengan persamaan


Darcy-Weisback atau persamaan Hazen-Williams

Misalkan digunakan persamaan Darcy:

2 2 2
L1 V1 L2 V2 L V
hf 1 f1 hf 2 f2 hf 3 f3 3 3
D1 2 g D2 2 g D3 2 g

Kehilangan energi minor:


2
V1
Pada outlet reservoir A: hm1 K1
2g 2 2
V2 1
Pada penyempitan mendadak: hm 2 K 2 K 2 1
2g Cc
SPB 4.4: PIPA SERI & PIPA EKIVALEN

2
V2
Pada katup: hm3 K3
2g 2
V
Pada inlet reservoir B: hm 4 K4 3
2g
V1, V2, dan V3 adalah kecepatan aliran pada pipa 1, pipa 2, dan pipa 3
SPB 4.4: PIPA SERI & PIPA EKIVALEN

B. Pipa Ekivalen (equivalent pipe)


Pipa ekivalen dapat diartikan sebagai pipa pengganti yang hanya memiliki
kehilangan energi akibat gesekan dan besarnya sama dengan kehilangan
energi total pada pipa yang sebenarnya
Pada pipa seri, total kehilangan energi dinyatakan dengan persamaan:
L V2 V2
DH hf hm f K .. (1)
D 2g 2g
Jika Le adalah panjang pipa ekivalen, maka kehilangan energi pada pipa
ekivalen dinyatakan dengan persamaan:
Le V 2
DH f .. (2)
D 2g
Kombinasi persamaan (1) dan (2) menghasilkan:
Le fL KD fL KD D fL KD
f atau Le
D D D f f
SPB 4.4: PIPA SERI & PIPA EKIVALEN

Contoh Soal:
1. Tentukan panjang pipa ekivalen dan kehilangan energi dari sistim perpipaan
berikut ini:
L1

L
2
45o

45o

De = D1 = D2 = D3 = 200 mm L3

L1 = 500 m; L2 = 300 m; L3 = 400 m

fe = f1 = f2 = f3 = 0,020

Q = 25 l/s
SPB 4.4: PIPA SERI & PIPA EKIVALEN

Solusi:
Karena D1 = D2 = D3 dan f1 = f2 = f3, maka panjang ketiga ruas pipa tersebut
dapat dijumlahkan:
L = L1 + L2 + L3 = 500 + 300 + 400 = 1200 m
Pada sistim perpipaan tersebut ada dua titik kehilangan energi minor yaitu
belokan (bend) 45o, dengan nilai K antara 0,35 0,45
Karena diameter pipa sama, ambil K1 = K2 = 0,40
Dengan demikian K = K1 + K2 = 2 x 0,40 = 0,80

Panjang pipa ekivalen Le dihitung sebagai berikut:


Le = (fL + KD) / fe = {f x (L) + (K) x D} / fe

Le = (0,020 x 1200 + 0,80 x 0,200) / 0,02 = 24,16 / 0,20 = 1208 m


Kehilangan energi: DH = hfe = fe x (Le /De) x (Ve2/2g)
Ve = 4Q / De2 = (4 x 0,025) / ( x 0,2002) = 0,796 m/s
DH = 0,020 x (1208 /0,200) x {0,7962 / (2 x 9,81)} = 3,899 m
SPB 4.4: PIPA SERI & PIPA EKIVALEN

Contoh Soal - 2:
Dua buah reservoir A dan B dihubungkan dengan pipa seri seperti tergambar di bawah ini

DH

A K1 1 K2 2 K3 3 B
K4

L1 L2 L3

Jika diketahui Q = 30 l/detik dan data pipa sebagai beikut:


D1 = 300 mm; D2 = D3 = 200 mm; L1 = 200 m; L2 = 250 m; L3 = 50 m; f1 = 0,020; f2 = f3 = 0,025;
K3 = 5;
a. Hitung kehilangan energi total antara reservoir A dan B
b. Tentukan elevasi muka air di reservoir B, jika elevasi muka air di reservoir A = + 250 m
c. Gambarkan garis energi dan garis hidrolik antara A dan B
SPB 4.4: PIPA SERI & PIPA EKIVALEN

Contoh Soal: Sistim pengisian BBM pada sebuah Depot Pertamina menggunakan pipa (f = 0,025)
seperti ditunjukkan pada gambar di bawah ini. Tinggi permukaan minyak di dalam tangki
dipertahankan konstan dengan memasang katup apung pada ujung pipa pemasukan. Jika kehilangan
energi pada kedua ujung pipa pengisian diabaikan, tentukanlah:
a. panjang ekivalen dari sistim pipa tersebut.
b. kecepatan dan debit aliran minyak melalui pipa pengisian.
c. waktu yang diperlukan untuk mengisi sebuah mobil tangki yang kapasitasnya 10000 liter.
6,00

elbow90o
2,00

1,00

5,00 D = 50 mm

10000 liter
SPB 4.5: PIPA PARALEL

Perhatikan rangkaian pipa paralel pada gambar di bawah ini


1

2
A B

Pada sistim pipa tersebut di atas, berlaku:


a. Persamaan kontinuitas: Q Q1 Q2 Qn ..(1)
p A pB
b. Persamaan energi: DH 1 DH 2 DH n
g
pA pB
2 2 2
V1 V2 Vn ..(2)
atau: hf1 K1 hf2 K 2 hfn K n
g 2g 2g 2g
SPB 4.5: PIPA PARALEL

Jika kehilangan energi minor dapat diabaikan, maka persamaan (2)


dapat ditulis sebagai berikut:

pA pB
hf1 hf2 hfn dengan hf kQn
g
Jika digunakan persamaan Darcy:
8fL
k dan n2
g 2 D 5
Jika digunakan persamaan Hazen-Williams:

10.675L
k dan n 1.85
C 1.85 D 4.87
SPB 4.5: PIPA PARALEL

Ada dua kasus yang umum ditemukan pada sistim pipa paralel, yaitu:

Kasus 1: Jika data pipa dan perbedaan tekanan antara A dan B diketahui,
maka dapat dihitung distribusi debit pada masing-masing pipa
paralel (Q1, Q2, , Qn) dan debit total Q.

Kasus 2: Jika data pipa dan debit total Q diketahui, maka dapat dihitung
distribusi debit pada masing-masing pipa paralel (Q1, Q2, ,
Qn) dan perbedaan tekanan antara A dan B dengan prosedur
sebagai berikut:

a. Taksir debit pada salah satu pipa cabang, misalnya Q1.


b. Berdasarkan taksiran Q1, hitung hf dan berdasarkan hf hitung Q2,
Q3, . . ., Qn.
SPB 4.5: PIPA PARALEL

c. Hitung Q' Q1'Q2 ' Qn ' dan periksa apakah Q' Q


Jika ya, berarti perhitungan selesai dengan Qi Qi ' dan hf = hf,

namun jika tidak, lakukan ajustment sebagai berikut:

Q1' Q2 ' Qn '


Q1 Q Q2 Q . . . Qn Q
Q' Q' Q'
d. Hitung hf1, hf2, . . . , hfn dan periksa apakah hf1 = hf2 = . . . = hfn.

1 n hf hf2 hfn
Jika tidak, maka hitung: hf hfi 1
n i 1 n
SPB 4.5: PIPA PARALEL

Contoh soal:
Sebuah sistim pipa paralel seperti pada gambar di bawah ini, mengalirkan air
(g = 9,81 kN/m3) dengan debit total sebesar 90 liter/detik.

Diketahui data pipa sebagai berikut:


1
No pipa L (m) D (mm) f
Q 2 1 1200 200 0,015
A B
2 750 100 0,022
3
3 900 150 0,018

a. Tentukan debit aliran pada setiap pipa cabang


b. Tentukan tekanan di B jika tekanan di A sebesar 180 kPa.
SPB 4.6: PIPA BERCABANG

Contoh yang paling sederhana dari analisa pipa bercabang adalah:

Kasus-1:
Dua buah kota A dan B Kota A
mengambil air minum
dari satu sumber air Sumber Air

Kota B

Kasus-2:
Kota A mengambil Sumber Air - 1
air minum dari
dua sumber air Kota A

Sumber Air - 2
SPB 4.6: PIPA BERCABANG

Kedua kasus tersebut dapat diselesaikan berdasarkan prinsip analisa


pipa bercabang dan dimodelkan sebagai aliran pipa bercabang yang
menghubungkan 3 buah reservoir

1 B

ZA
2

D ZB

C 3
ZD
ZC

Datum
SPB 4.6: PIPA BERCABANG

Pada kasus tersebut, ada tiga syarat yang harus dipenuhi, yaitu:
(a) Penerapan persamaan kontinuitas menyatakan bahwa pada titik hubung
(titik pertemuan pipa), aliran masuk harus tepat sama dengan aliran
keluar dari titik hubung tersebut.
(b) Penerapan persamaan energi untuk aliran viscous, menyatakan bahwa
total kehilangan energi (kehilangan tekanan) antara masing-masing
reservoir harus tepat sama dengan perbedaan elevasi muka air antara
masing-masing reservoir tersebut

(c) Hubungan antara debit aliran dan kehilangan tekanan harus


memenuhi persamaan gesekan pipa (rumus Darcy atau rumus gesekan
pipa eksponensial seperti persamaan Hazen-Williams)
Untuk menyederhanakan perhitungan, kehilangan energi minor harus
dinyatakan dalam panjang ekivalen masing-masing pipa.
SPB 4.6: PIPA BERCABANG

Kasus-1: Air mengalir dari reservoir A ke reservoir B dan C

A D

1 pD/g
B
D
ZA
2

D ZB

C 3
ZD
ZC

Datum

p
Air mengalir dari A ke B dan C jika: zD D zB
g
SPB 4.6: PIPA BERCABANG

(a) Persamaan kontinuitas: A B


Q1 Q2
D Q1 Q2 Q3
Q3
C
(b) Persamaan energi:
pD
(1) z A
D g DH1 hf1
z Penggabungan persamaan (1) + (2)
menghasilkan:
p
(2) zD D zB DH2 hf2 zA zB DH1 DH2 hf1 hf2
g
p
(3) zD D zC DH3 hf3 Penggabungan persamaan (1) + (3)
g menghasilkan:
zA zC DH1 DH3 hf1 hf3
SPB 4.6: PIPA BERCABANG

Kasus-2: Air mengalir dari reservoir A dan B ke reservoir C

1 D
B

pD/g
ZA
D 2

D ZB

C 3
ZD
ZC

Datum

pD
Air mengalir dari A dan B ke C jika: zD zB
g
SPB 4.6: PIPA BERCABANG

(a) Persamaan kontinuitas: A B


Q1 Q2
D Q1 Q2 Q3
Q3
C
(b) Persamaan energi:
pD
(1) z A
D g DH1 hf1
z Penggabungan persamaan (1) + (3)
menghasilkan:
p
(2) zB zD D DH2 hf2 zA zc DH1 DH3 hf1 hf3
g
p
(3) zD D zC DH3 hf3 Penggabungan persamaan (2) + (3)
g menghasilkan:
zB zC DH2 DH3 hf2 hf3
SPB 4.6: PIPA BERCABANG

Jika elevasi muka air pada ketiga reservoir (zA, zB, dan zC) dan data pipa
(jenis, panjang dan diameter) diketahui, maka debit aliran pada masing-
masing pipa (Q1, Q2 dan Q3) dapat dihitung dengan cara coba-coba (trial &
error) dengan prosedur sebagai berikut:

(1) Menghitung konstanta pipa


8fL
(a) Persamaan Darcy-Weisbach: hf = k . Q2 dengan k
g 2 D 5

10,675L
(b) Persamaan Hazen-Williams: hf = k . Q1,85 dengan k
C 1,85 D 4,87

Catatan: Jika kehilangan energi minor tidak bisa diabaikan, maka L


harus diganti dengan Le
SPB 4.6: PIPA BERCABANG

(2) Menentukan Arah Aliran


pD
(a) Asumsikan: zD zB kemudian hitung hf1 dan hf3
g
(b) Berdasarkan nilai hf1 dan hf3 tersebut, hitung Q1 dan Q3 dengan persamaan:
1
Q (hf / k ) n

(c) Tentukan arah aliran sebagai berikut:

Jika Q1 > Q3, berarti air mengalir dari reservoir A ke reservoir B dan C
(kasus -1);

Jika Q1 < Q3, berarti air mengalir dari reservoir A dan B ke reservoir C
(kasus - 2);
SPB 4.6: PIPA BERCABANG

(3) Perhitungan debit dengan cara coba-coba (Trial & Error)

p
(a) Taksir nilai zD D dengan memperhatikan arah aliran.
g
(b) Hitung hf1, hf2 dan hf3.

(c) Hitung Q1, Q2, Q3 dan koreksi atau kesalahan debit (Q) sebagai berikut:

Jika air mengalir dari reservoir A ke B dan C, maka: DQ Q1 Q2 Q3

Jika air mengalir dari reservoir A dan B ke C, maka: DQ Q1 Q2 Q3

(d) Periksa apakah DQ 0


Jika ya, berarti perhitungan selesai; dan jika tidak, ulangi perhitungan mulai dari
prosedur 3(a) dengan
; memperhatikan nilai Q.
SPB 4.6: PIPA BERCABANG

Contoh soal: Tiga buah reservoir dihubungkan dengan pipa-pipa seperti pada
gambar di bawah ini
Data pipa
A

No pipa L (m) D (mm) f


1 800 200 0,020
1
B
2 400 150 0,025
ZA
2 3 1200 200 0,020
D ZB

C 3

ZC
Data Elevasi muka air di reservoir:
zA = +200 m, zB = +175 m, dan
Datum
zC = +150 m

Tentukan arah aliran dan hitung debit melalui setiap pipa.


(Ambil g = 9.81 m/s2 dan toleransi kesalahan debit DQ 0,001 m3/s )
SPB 4.7: JARINGAN PIPA

Sistim jaringan pipa secara umum dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu:


1. Sistim percabangan (branch)
2. Sistim tertutup (loop)

R R

(1) Sistim percabangan (2) Sistim tertutup


Perhitungan hidrolis mudah / sederhana Perhitungan hidrolis cukup rumit
Debit & tekanan dapat ditetapkan
Arah aliran bisa berbalik
secara eksak
Aliran hanya satu arah Distribusi air lebih merata
SPB 4.7: JARINGAN PIPA

Ketentuan Umum
1. Pada setiap titik hubung (titik pertemuan pipa = node), aliran masuk
harus tepat sama dengan aliran keluar dari titik hubung tersebut.

Q2 3 Pada node -2 berlaku: Q = 0


Q1 atau Q1 Q2 Q3 = 0
1 2
Q3 atau Q1 = Q2 + Q3
4

2. Hubungan antara debit aliran dan kehilangan tekanan harus memenuhi


persamaan gesekan pipa (rumus Darcy atau rumus gesekan pipa
eksponensial seperti persamaan Hazen-Williams)
hf = kQn
Untuk menyederhanakan perhitungan, kehilangan energi minor harus
dinyatakan dalam panjang ekivalen masing-masing pipa.
SPB 4.7: JARINGAN PIPA

Ketentuan Khusus untuk Jaringan Tertutup (Loop)


Jumlah aljabar kehilangan tekanan pada setiap loop harus sama dengan
nol ( hf = 0)
1
1 2
Pada loop I, berlaku:
3
2 I hf = hf1 + hf3 hf2 hf4 = 0
4
3 4

Perjanjian tanda:
Searah perputaran jarum jam: +
Berlawanan arah perputaran jarum jam:
SPB 4.7: JARINGAN PIPA

Analisa Jaringan Pipa


Analisa atau perencanaan hidrolis jaringan pipa secara umum, mencakup:
(1) Penentuan jenis dan diameter pipa
Pada penenentuan jenis & diameter pipa, harus dipertimbangkan, antara lain:
kapasitas, kekuatan, ketersediaan diameter pipa di pasaran, dan kecepatan
aliran / kehilangan tekanan maksimum yang diizinkan.
Rumus taksiran diameter (D):
0,200
8fL
Darcy-Weisbach: D 2 Q 2
g hf max
0,205
10,675L
Hazen-Williams: D 1,85 Q1,85
C hf max
(2) Perhitungan kehilangan tekanan pada setiap ruas / jalur pipa h f kQ
n

(3) Perhitungan sisa tekanan pada setiap titik atau node


SPB 4.7: JARINGAN PIPA

1. Sistim Jaringan Bercabang (branch)


Prosedur penyelesaian:

(1) Hitung debit pada setiap ruas pipa


(2) Tentukan jenis dan diameter pipa

(3) Hitung kehilangan energi/tekanan pada setiap ruas pipa dan total kehilangan
tekanan pada setiap jalur pipa (gunakan prinsip pipa seri)
(4) Hitung sisa tekanan pada setiap titik (node)

2. Sistim Jaringan Tertutup (loop)


Prosedur penyelesaian:

(1) Buat asumsi arah aliran pada setiap ruas pipa

(2) Taksir pembebanan aliran (debit) pada setiap ruas pipa (perhatikan jarak dari
sumber air atau pusat distribusi)
SPB 4.7: JARINGAN PIPA

(3) Tentukan jenis dan diameter pipa

(4) Hitung debit sebenarnya, kehilangan tekanan, dan sisa tekanan dengan
Metode Cross (Hardy Cross) sebagai berikut:

(a) Buat daftar (tabel) data pipa dan hitung faktor tahanan masing-masing
ruas pipa

Tabel Data dan Faktor Tahanan Pipa

No Dari Ke L D Q
Pipa Node Node
k k1
(m) (mm) m3/det m3/menit

..

n
SPB 4.7: JARINGAN PIPA

Faktor tahanan pipa (k):


8fL
Persamaan Darcy-Weisbach: k
g 2 D 5
10,675L
Persamaan Hazen-Williams: k
C 1,85 D 4,87
Jika Q dalam satuan m3/menit, maka:

Untuk persamaan Darcy-Weisbach: k1 = k / (602) = k / 3600


Untuk persamaan Hazen-Williams: k1 = k / (601,85) = k / 1948
(b) Buat Tabel Perhitungan Hidrolis Jaringan (lihat contoh format tabel), dan masukkan
nomor pipa, faktor tahanan pipa, dan debit taksiran dengan memperhatikan arah
aliran pada masing-masing loop.
(c) Hitung kehilangan energi/tekanan dengan persamaan: hf = k . Qn

(d) Hitung koreksi debit dengan persamaan: DQ


hf
n hf / Q
SPB 4.7: JARINGAN PIPA

Tabel Perhitungan Hidrolis Jaringan Pipa dengan Metode Hardy Cross

hf/Q n hf Q h hf/Q n hf Q h
No
Loop
Pipa k Q hf f DQ Q hf f DQ Q

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16
1
2
3
I 4
5

II

III

SPB 4.7: JARINGAN PIPA

(e) Ulangi prosedur (c) dan (d) sampai nilai koreksi debit mendekati nol: DQ 0
Untuk iterasi ke i, berlaku: Qi Qi 1 DQi 1
dan untuk pipa yang dipengaruhi oleh dua loop, nilai koreksi debit harus dijumlahkan
dari kedua loop yang mempengaruhinya.
(f) Hitung total kehilangan tekanan pada setiap jalur pipa dan sisa tekanan pada setiap
node

Contoh Soal:
SPB 4.7: JARINGAN PIPA

1. Rancangan sistim jaringan distribusi air bersih kota Anu seperti pada gambar di
bawah ini (Stasion pompa di titik 1). Tentukan jenis dan diameter pipa, serta
kapasitas dan tekanan pompa yang dibutuhkan, jika direncanakan sisa tekanan pada
setiap titik minimum 20 m kolom air.
q3 = 12 l/d q4 = 8 l/d

3 3 4
+ 70,0 2500 + 76,0

q5 = 10 l/d q6 = 25 l/d

1 1 2 4 5 5 6
+ 50,0 2000 + 80,0 1200 + 84,0 2400 + 90,0

800
6

q7 = 15 l/d q8 = 20 l/d
q2 = 10 l/d

7 7 8
+ 75,0 3000 + 85,0
SPB 4.7: JARINGAN PIPA

2. Rancangan sistim jaringan distribusi air bersih kota Anu seperti pada gambar di
bawah ini (IPA dan stasion pompa terletak di R). Tentukan jenis dan diameter pipa,
serta kapasitas dan tekanan pompa yang dibutuhkan, jika direncanakan sisa tekanan
pada setiap titik minimum 20 m kolom air.

q1 = 20 l/d q2 = 10 l/d q3 = 20 l/d

R 1 1 2 2 3 3
+ 40,0 3000 + 70,0 1500 + 72,0 1800 + 74,0

1000
800

900
4

6
q4 = 15 l/d q5 = 20 l/d q6 = 25 l/d

4 7 5 8 6
+ 85,0 1800 + 60,0 1600 + 76,0
1200

1000
10
9

q7 = 25 l/d q8 = 15 l/d q9 = 30 l/d

7 11 8 12 9
+ 75,0 1600 + 65,0 2000 + 80,0