Você está na página 1de 20

Batas atas : Aditus laring

Batas bawah : Bidang yang melalui pinggir bawah kartilago krikoid


Batas depan : Permukaan belakang epiglotis, tuberkulum epiglotik , ligamentum
tiroepiglotik sudut antara kedua belah lamina kartilago tiroid dan arkus
kartilago krikoid
Batas belakang : M. Aritenoid transversus dan lamina kartilago krikoid
Batas lateral : Membran kuadrangularis, kartilago aritenoid,konus elastikus dan
arkus kartilago krikoid
Secara umum, rongga mulut dan faring mempunyai fungsi dalam :
Proses menelan dan pernafasan
Pertahanan tubuh
Proses fonasi
Fungsi utama nasofaring adalah
1. Sebagai tabung kaku dan terbuka untuk udara pernafasan. Pada
waktu menelan, muntah, sendawa, dan tercekik, nasofaring
akanterpisah dengan sempurna dari orofaring karena palatum
molle terangkat sampai ke dinding posterior orofaring.
2. Merupakan saluran ventilasi dari telinga tengah melalui tuba
eustachius dan sebagai saluran untuk drainase dari hidung dan
tuba eustachius. Sebagai ruang resonansi sangat penting dalam
pembentukan suara.

Orofaring dan hipofaring selain berfungsi sebagai saluran


pernafasan,juga berfungsi sebagai saluran drainase dari nasofaring,
sebagai saluran makanandan minuman dari rongga mulut, terakhir
sebagai rung resonansi dalam pembentukan
Proses Menelan

Proses penelanan dibagi menjadi tiga tahap. :

1. Pertama gerakan makanan dari mulut ke faring secara volunter.

Penutupan bibir untuk menahan makanan dalam mulut bagian anterior

Tekanan dari otot labial dan buccal untuk menutup sulkus anterior dan lateral

Gerakan memutar dari rahang untuk mengunyah

Gerakan memutar ke lateral dari lidah untuk menempatkan posisi makanan di atas gigi

selama proses mastikasi

Palatum molle bulging ke belakang mendorong cavum oris ke belakang dan melindungi

jalan nafas, serta persiapan untuk menelan.

Akhir dari fase ini dan persiapan untuk fase oral, lidah mendorong makanan menjadi bolus dan

menahan dengan gaya kohesif pada palatum durum.


2. Tahap kedua, transport makanan melalui faring.

Dimana makanan dipindahkan dari belakang cavum oris ke anterior faucial arches untuk
memulai proses menelan. Pada fase ini, lidah berperan penting yakni dapat mengangkat dan
menekan bolus ke belakang dan ke dapan palatum durum, sehingga makanan dapat
memenuhi bagian anterior faucial arches. Setelah makanan berada di anterior aucial arches,
terjadi presipitasi rfleks menelan melalui nn. Glossofaringeus.

3. Tahap ketiga, jalannya bolus melalui esofagus, keduanya secara involunter. Langkah yang
sebenarnya adalah:

Elevasi lidah dan palatum mole mendorong bolus ke orofaring. Otot supra hiod berkontraksi,
elevasi tulang hioid dan laring intrinsik berkontraksi dalam gerakan seperti sfingter untuk
mencegah aspirasi.

Gerakan yang kuat dari lidah bagian belakang akan mendorong makanan kebawah melalui
orofaring, dibantu oleh kontraksi otot konstriktor faringis media dan superior. Peristaltik
dibantu oleh gaya berat, menggerakkan makanan melalui esofagus dan masuk ke lambung.
Fungsi Faring (Tonsil) dalam Proses Pertahanan Tubuh

Terdapat 2 mekanisme pertahanan

1. Mekanisme pertahanan Spesifik

Tonsil memproduksi Ig-A menyebabkan resistensi

jaringan lokal terhadap organisme patogen menghasilkan ig E.

Proses mekanisme pertahanan spesifik :

Alergen bereaksi dengan Ig-E permukaan sel membrannya akan

terangsang. Proses ini menyebabkan keluarnya histamin, sehingga

timbul reaksi hipersensitifitas tipe I


2. Mekanisme pertahanan Non Spesifik :

Kuman mengalami opsosisasi sehingga menimbulkan kepekaan


bakteri terhadap fagosit. Sel fagosit akan bergerak mengelilingi bakteri
dan memakannya dengan cara memasukkannya dalam suatu kantong
yang disebut fagosom. Proses selanjutnya adalah digesti dan
mematikan bakteri.

Terjadi peningkatan konsumsi oksigen yang diperlukan untuk


membentuk H2O2, yang bersifat bakterisidal. H2O2 yang terbentuk akan
masuk ke dalam fagosom kemudian membunuh bakteri dengan proses
oksidasi.
Suara dibentuk karena adanya aliran udara respirasi yang konstan dan adanya
interaksi antara udara dan pita suara. Nada suara dari laring diperkuat oleh adanya
tekanan udara pernafasan subglotik dan vibrasi laring serta adanya ruangan resonansi
seperti rongga mulut, udara dalam paru-paru, trakea, faring, dan hidung.

1. Teori Myoaelastik

Aliran udara melewati ruang glotis menggetarkan plika vokalis dan terjadi
penegangan plika vokalis . Tekanan pasif dari proses pernafasan akan menyebabkan
tekanan udara ruang subglotis meningkat, sehingga celah glotis terbuka. Secara
otomatis bagian posterior dari ruang glotis yang pertama kali membuka dan yang
pertama kali pula kontak kembali pada akhir siklus getaran. Setelah terjadi pelepasan
udara, tekanan udara ruang subglotis akan berkurang dan plika vokalis akan kembali
ke posisi saling mendekat. Plika vokalis akan kembali ke posisi semula (adduksi) sampai
tekanan udara ruang subglotis meningkat dan proses seperti di atas akan terulang
kembali.
Laring membuat suara serta menentukan tinggi rendahnya nada. Saat
bernapas pita suara membuka (gambar a),

Saat berbicara ataubernyanyi akan menutup (gambar b) sehingga


udara meninggalkan paru-paru, bergetar dan menghasilkan suara.

Gambar a Posisi pita suara Gambar b. Pita suara saat


saat bernapas berbicara
Benda asing tidak dapat masuk ke dalam laring
dengan adanya reflek otot-otot yang bersifat
adduksi, sehingga rima glotis tertutup.

Pelepasan tekanan secara mendadak


menimbulkan batuk yang berguna untuk
mempertahankan laring dari ekspansi benda asing
atau membersihkan sekret yang merangsang
reseptor atau iritasi pada mukosa laring.
PEMERIKSAAN KLINIS
A. PEMERIKSAAN LARING-FARING
Anamnesa
keluhan utama
1. Sulit untuk menelan (disfagia) dan sakit untuk menelan (odynofagia)

-Sejak kapan?
-Apakah disertai keluhan di bibir dan rongga mulut
-Apakah disertai dengan keluhan lain

2. Serak (hoarseness)
-Sejak kapan
-Apakah disertai dengan keluhan yang lain seperti sesak napas/
batuk
-Apakah ada riwayat trauma batuk
B. PEMERIKSAAN BIBIR DAN RONGGA MULUT
Apakah ada kelainan di bibir Dan rongga mulut :
- Bibir pecah pecah
-Ulkus di bibir
-Drolling(ngiler)
-Tumor
-Sukar membuka mulut (trismus)

C. PEMERIKSAAN LIDAH

Ada gangguan perasa/tidak Ada kelainan


-kelainan pada lidah :
-Paresis/ paralisis lidah mengakibatkan deviasi ke salah satu sisi,
-Atrofi papila lidah,
-Abnormalitas warna mukosa lidah,
-Adanya ulcerasi,
-Tumor (berapa ukuran tumor, permukaan tumor licIn atau berbenjol
- benjol kasar; kenyal padatatau keras, rapuh/ mudah berdarah).
D. PEMERIKSAAN TONSIL
1. Besar tonsil
2. Permukaan :
Halus/ berbenjol-benjol
Ulserasi,
Detritus
Pelebaran kipte
Micro abses,
- Tonsil berlobus
lobus,
Penebalan
arcus
Besar tonsil kanan kiri sama/ tidak,
Disertai pembesaran kelenjar leher/ tidak
INDIRECT
LARINGOSKOPI
(dengan kaca laring)
Laringoskopi indirek dilakukan menggunakan kaca laring (
laryngeal mirror) atau flexible fiberoptic endoscope
. Laringoskopi dapat mengidentifikasi kelainan-kelainan laring dan
faring baik akut maupun kronis, benigna atau maligna.

Indikasi
laringoskopi indirek :
-Batuk kronis
-Dyspnea
-Disfonia
-Stridor
-Perubahan suara
-Sakit tenggorokan kronis
-Otalgia persisten