Você está na página 1de 3

Pasal 1

Dokter harus berdedikasi dalam memberikan pelayanan medis yang kompeten dengan kasih
sayang dan menghormati martabat manusia
1. Psikiater tidak boleh memuaskan kebutuhan pribadinya dengan cara mengeksploitasi pasien. Psikiater
harus selalu mewaspadai akibat dari tindakan mereka berdasarkan batasan hubungan dokter pasien
dan selanjutnya demi kesejahteraan pasien. Persyaratan ini menjadi sangat penting karena sifat
hubungan emosional yang sangat privasi, sangta pribadi, dan kadang kadang sangat intens dengan
psikiater
2. Psikiater tidak boleh menjadi bagian dari jenis kebijakan apapun yang menyingkirkan, memisahkan,
atau merendahkan martabat pasien karena asal suku, ras, jenis kelamin, keyakinan, usia, status sosial
ekonomi, atau orientasi seksual
3. Sehubungan dengan syarat hukum dan praktik kedokteran yang diterima, merupakan hal yang etis
bagi dokter untuk menyerahkan pekerjaannya agar ditinjau oleh sejawat dan pada otoritas tertinggi dari
badan eksekutif staf medis dan administrasi rumah sakit serta badan yang mengaturnya
4. Psikiater tidak boleh berpartisipasi didalam eksekusi yang sah secara hukum
Pasal 2
Dokter harus menghadapi pasien dan kolega dengan jujur, dan berusaha memaparkan dokter yang
karakter dan kompetensinya defisien, atau yang terlibat didalam kecurangan atau penipuan.
1. Persyaratan bahwa dokter harus bertindak sopan dalam profesinya dan pada semua tindakan dalam hidupnya,
penting terutama bagi psikiater karena pasien cenderung meniru perilaku psikiaternya melalui identifikasi. Lebh
jauh, perlunya hubungan terapi yang intens mungkin cenderung mengaktifkan dorongan seksual, kebutuhan lain dan
khayala psikiater dan pasiennya, sehingga melemahkan objektivitas yang diperlukan untuk kontrol. Disamping itu
ketidaksetaraan yang melekat di dalam hubungan dokter pasien dapat menyebabkan eksploitasi pasien. Aktivitas
seksual dengan pasien saat ini atau dahulu merupakan hal yang tidak etis
2. Psikiater harus sangat menjaga informai yang digali dari pasien dan tidak boleh menggunakan kekuasaannya yang
unik yang diperoleh dari situasi psikoterapi untuk memengaruhi pasien dengan cara yang tidak langsung berkaitan
dengan tujuan terapi
3. Psikiater yang secara regular berpraktik di luar area kompetensi profesionalnya harus dianggap tidak etis.
Penentuan kompetensi profesional harus dibuat oleh dewan peninjau sejawat atau badan lain yang sesuai
4. Pertimbangan khusus harus diberikan kepada psikiater yang akibat penyakitnya, mengacaukan kesejahteraan
pasien dan reputasi serta praktiknya sendiri. Psikiatri lain yang menengahi situasi seperti ini dianggap etis bahkan
didorong.
5. Layanan psikiatrik, seperti semua layanan medis, diberikan dalam konteks pengaturan kontrak antara pasien dan
dokter yang menangani. Penetapan pengaturan kontrak, yang mengikat dokter dan pasien, harus ditegakkan secara
gamblang
6. Permintaan pembayaran oleh psikiater untuk janji yang dibatalkan dalam konteks perjanjian kontrak spesifik
dengan pasien merupakan hal yang etis. Menarik bayaran atas janji yang dibatalkan atau untuk janji yang tidak
ditunda dalam 24 jam sebelumnya tidak dianggap tidak etis jika pasien benar benar diberitahu sebelumnya.
Meskipun demikian, praktik seperti ini, sebaiknya tidak sering dilakukan dan selalu dengan pertimbangan paling
besar bagi pasien dan keadaannya
7. Perjanjian berupa pemberian supervisi atau administrasi pada dokter lain atau orang nonmedis dari
persentase bayaran mereka atau penghasilan kasar mereka tidak dapat diterima, hal ini akan menyebabkan
melonjaknya pembayaran.