Você está na página 1de 37

PTERIGIUM

oleh :
Anik Hidayah

Pembimbing :
dr. Ameliza kwartika, Sp M
REFLEKSI KASUS

IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. KJ
Umur : 78 tahun
Jenis kelamin : laki - laki
Pekerjaan : petani
Agama : Islam
Alamat : Sokowaten
No RM : 686518

PTERIGIUM
REFLEKSI KASUS

ANAMNESIS
Riwayat penyakit sekarang
pasien datang ke poli mata dengan keluhan pandangan
kabur pada kedua mata kanan dan kiri yang terjadi secara
perlahan kurang lebih 3 bulan yang dirasa semakin
memberat. Pasien meyadari bahwa pada kedua matanya
terdapat jaringan yang tumbuh + 20 tahun namun pasien
takut untuk berobat kedokter. Pasien juga mengatakan
bahwa mata terasa mengganjal (+), air mata sering keluar
pada kedua mata (+). Pasien menyangkal adanya gatal (-),
pedih (-), mata merah (-), keluar kotoran (-).

PTERIGIUM
REFLEKSI KASUS

ANAMNESIS
Riwayat Penyakit Dahulu :
1. Tidak pernah mengalami sakit mata seperti ini.
2. Riwayat mata merah sering (+) tetes mata insto membaik.
3. Riwayat hipertensi (-), Riwayat DM (-).
4. Riwayat operasi pada mata disangkal.
5. Riwayat trauma (-)

Riwayat Penyakit Keluarga :


1. Tidak ada anggota keluarga serumah yang mengalami keluhan seperti
pasien.

PTERIGIUM
REFLEKSI KASUS

PEMERIKSAAN FISIK
Occuli Dekstra Pemeriksaan Occuli Sinistra
2/60 Visus 6/61
Tidak dilakukan Pinhole Tidak dilakukan
Tidak dilakukan Refraksi Tidak dilakukan
Tidak dilakukan Koreksi Tidak dilakukan
Baik Proyeksi Sinar Baik
Baik Proyeksi Warna Baik

PTERIGIUM
REFLEKSI KASUS

Occuli Dekstra Pemeriksaan Occuli Sinistra


Simetris, Ptosis (-), Palpebra Simetris, Ptosis (-),
Oedema (-), hiperemis (-), Oedema (-), hiperemis (-),
Trikiasis (-), distrikiasis (-) Trikiasis (-), distrikiasis (-)

Injeksi Silier (-), Injeksi Konjunctiva Injeksi Silier (-), Injeksi


Konjuctiva (-), pterigium Konjuctiva (-), pterigium
(-) pterigium (+)melewati (-) pterigium (+)melewati
pupil, dari nasal ke limbus tetapi >4 mm
temporal melewati kornea, dari
nasal ke temporal

PTERIGIUM
REFLEKSI KASUS

Occuli Dekstra Pemeriksaan Occuli Sinistra

Jernih (+), oedema (-) Kornea Jernih (+), oedema (-)

Warna cokelat, sinekia Iris Warna cokelat, sinekia


(-) (-)
Bulat, tepi reguler Pupil Bulat, tepi reguler

Jernih Lensa Keruh

Tidak dilakukan Funduskopi Tidak dilakukan

PTERIGIUM
REFLEKSI KASUS

Sinistra

Dextra

PTERIGIUM
REFLEKSI KASUS

PTERIGIUM
REFLEKSI KASUS

Diagnosis
Diagnosis banding
a) Pterigium
b) Psudopterigium
c) pinguekula
Diagnosis kerja
ODS pterigium derajat 4
Tatalaksana
operasi

pterigium
REFLEKSI KASUS

Anatomi Konjungtiva

pterigium
REFLEKSI KASUS

Konjungtiva dapat dibagi Vaskularisasi


menjadi 3 bagian: Arteri yang memperdarahi
1. Konjungtiva palpebralis konjungtiva berasal dari tiga
sumber yakni arkade arteri perifer
2. Konjungtiva bulbaris palpebra, arkade arteri marginal
kelopak mata, dan arteri ciliaris
3. Konjungtiva fornix anterior.
Histologi Persarafan
konjungtiva terdiri dari tiga dari percabangan nervus
lapisan yaitu epitel, lapisan trigeminus yaitu nervus
adenoid, dan lapisan fibrosa oftalmikus. Saraf ini memiliki
serabut nyeri yang relatif sedikit.

pterigium
REFLEKSI KASUS

PTERIGIUM
suatu penebalan konjungtiva bulbi yang berbentuk segitiga, mirip
daging yang menjalar ke kornea, pertumbuhan fibrovaskular
konjungtiva yang bersifat degeneratif dan invasif . pertembuhan ini
biasanya terletak pada celah kelopak bagian nasal ataupun temporal
konjungtiva yang meluas ke daerah kornea.

pterigium
REFLEKSI KASUS

EPIDEMIOLOGI MORBIDITAS DAN MORTALIAS

Pterigium merupakan kelainan 1. Jenis Kelamin


mata yang umum di banyak bagian laki-laki >
dunia, dengan prevalensi yang
dilaporkan berkisar antara 0,3%- 2. umur
29%. Untuk pasien umurnya diatas 40
Daerah Tropis prevalensi yang tahun mempunyai prevalensi yang
tertinggi, sedangkan pasien yang
sangat tinggi (23,4%)
berumur 20-40 tahun dilaporkan
mempunyai insidensi pterygium
yang paling tinggi.

pterigium
REFLEKSI KASUS

Etiologi
Diperkirakan penyakit ini sering terjadi pada orang yang tinggal di iklim
panas. oleh karena itu kontak yang terlalu lama terhadap sinar
ultraviolet, panas, angin tinggi dan debu. beberapa virus juga sebagai
faktor etiologi mungkin.

pterigium
REFLEKSI KASUS

Patofisiologi
paparan sinar matahari
GEN P53 yang
> Sitokin (TGF-
UV-B terdapat di stem
,VEGF)
sel basal di limbus

Degenarasi
Regulasi
elastoid & Jaringan
kolagen,migrasi
proliferasi jar. subepitelial
sel,angiogenesi
Granulasi fibrovaskular
s.
fibrovaskular

Menembus kornea
Mengeluarkan substrat
(kerusakan
untuk pertumbuhan
membran
pterigium
bowman)

pterigium
Defisiensi Limbal stem sel
REFLEKSI KASUS

(A)Patogenesis pterigium: kerusakan limbal fokal oleh karena sinar UV memicu migrasi mutasi
limbal stem cell ke central kornea.
( B) defisiensi limbal stem cell menyebabkan conjungtivalization kornea dari segala arah

pterigium
REFLEKSI KASUS

KLASIFIKASI
Pterigium dapat dibagi ke dalam beberapa klasifikasi berdasarkan tipe, stadium,
progresifitasnya dan berdasarkan terlihatnya pembuluh darah episklera, yaitu:

oTipe I: Pterigium kecil, dimana lesi hanya terbatas pada limbus atau menginvasi
kornea pada tepinya saja. Lesi meluas <2 mm dari kornea. Stockers line atau
deposit besi dapat dijumpai pada epitel kornea dan kepala pterigium.

oTipe II: disebut juga pterigium tipe primer advanced atau pterigium rekuren
tanpa keterlibatan zona optic. Pada tubuh pterigium sering nampak kapiler-
kapiler yang membesar. Lesi menutupi kornea sampai 4 mm

oTipe III: Keterlibatan zona optic membedakan tipe ini dengan tipe yang lain.
Lesi mengenai kornea >4mm dan mengganggu aksis visual.

pterigium
Berdasarkan stadium pterigium dibagai ke dalam 4 stadium yaitu:
1. Stadium 1 : invasi minimum, pertumbuhan lapisan yang transparan
dan tipis, pertumbuhan pembuluh darah yang tipis hanya terbatas
pada limbus kornea.
2. Stadium 2: lapisan tebal, pembuluh darah profunda tidak kelihatan
dan menginvasi kornea tapi belum mencapai pupil.
3. Stadium 3:lapisan tebal seperti daging yang menutupi pupil,
vaskularisasi yang jelas
4. Stadium 4: pertumbuhan telah melewati pupil.
Berdasarkan progresifitas :
1. Progresif : tebal, vaskuler dg beberapa infiltrate didepan kepala
pterigium (cap)
2. Regresif : tipis, atrofi, sedikit vaskuler,

pterigium
REFLEKSI KASUS

pterigium
REFLEKSI KASUS

GAMBARAN KLINIS
Gejala klinis pada tahap awal biasanya
ringan bahkan sering tanpa keluhan sama
sekali. Pterigium hanya akan bergejala
ketika bagian kepalanya menginvasi
bagian tengah kornea. Beberaapa keluhan
yang sering dialami pasien seperti :
1. mata sering berair dan tampak merah.
2. merasa seperti ada benda asing.
3. Ganguan penglihatan

pterigium
REFLEKSI KASUS

Manifestasi Klinis
Subyektif Obyektif
mata merah Adanya massa jaringan kekuningan
Gatal akan terlihat pada lapisan luar mata
mata sering berair (sclera) pada limbus, berkembang
menuju ke arah kornea dan pada
gangguan penglihatan. permukaan kornea. Sclera dan selaput
adanya riwayat mata lendir luar mata (konjungtiva) dapat
merah berulang merah akibat dari iritasi dan
peradangan . Berbentuk segitiga yang
terdiri dari kepala (head) yang
mengarah ke kornea dan badan

pterigium
REFLEKSI KASUS

keterangan:

A. Cap: Biasanya datar, terdiri atas


zona abu-abu pada kornea yang
kebanyakan terdiri atas
fibroblast, menginvasi dan
menghancurkan lapisan
bowman pada kornea

B. Whitish: Setelah cap, lapisan


vaskuler tipis yang menginvasi
kornea

C. Badan: Bagian yang mobile dan


lembut, area yang vesikuler
pada konjunctiva bulbi, area
paling ujung

pterigium
1. Anamnesis
- Identitas pasien sangat diperlukan untuk ditanyakan
- Riwayat pekerjaan juga sangat perlu ditanyakan
- Pada anamnesis didapatkan adanya keluhan penderita
seperti mata merah, gatal, mata sering berarir, gangguan
penglihatan. Selain itu perlu juga ditanyakan adanya
riwayat mata merah berulang, serta dapat pula ditanyakan
riwayat trauma sebelumnya.

pterigium
REFLEKSI KASUS

2. Pemeriksaan Fisik

- Tajam penglihatan dapat normal atau menurun


- Pada inspeksi pterigium terlihat sebagai jaringan
fibrovaskular pada permukaan konjungtiva. Pterigium
dapat memberikan gambaran yang vaskular dan tebal
tetapi ada juga pterigium yang avaskular dan flat.
Pterigium paling sering ditemukan pada konjungtiva nasal
dan berekstensi ke kornea nasal, tetapi dapat pula
ditemukan pterigium pada daerah temporal.

pterigium
REFLEKSI KASUS

Pemeriksaan Penunjang

3. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan tambahan yang dapat dilakukan pada


pterigium adalah topografi kornea untuk menilai
seberapa besar komplikasi berupa astigmatisme ireguler
yang disebabkan oleh pterigium.

pterigium
REFLEKSI KASUS

Penatalaksanaan
Konservatif
Tindakan Operatif

Indikasi Operasi:
1. Pterigium yang menjalar ke kornea sampai lebih 3 mm dari limbus
2. Pterigium mencapai jarak lebih dari separuh antara limbus dan tepi pupil
3. Pterigium yang sering memberikan keluhan mata merah, berair dan silau
karena astigmatismus
4. Kosmetik, terutama untuk penderita wanita.

pterigium
REFLEKSI KASUS

Teknik Pembedahan
Bare sclera
Simple closure
Sliding flap
Rotational flap
Conjungtival graft

pterigium
REFLEKSI KASUS

pterigium
REFLEKSI KASUS

Diagnosis Banding
PINGUECULA

Keadaan ini tampak sebagai nodul


kuning pada kedua sisi kornea di
daerah apertura palpebra. Nodul
terdiri dari jaringan hialin dan
jaringan elastik kuning, jarang
bertumbuh besar, tetapi sering
meradang

pterigium
REFLEKSI KASUS

PSEUDOPTERIGIUM
terjadi akibat pembentukan jaringan
parut pada konjungtiva yang berbeda
dengan pterigium, dimana pada
pseudopterigium terdapat adhesi
antara konjungtiva yang sikatrik
dengan kornea dan sklera

pterigium
pterigium
pterigium
REFLEKSI KASUS

1. Komplikasi dari pterigium 2. Komplikasi post-operatif


meliputi sebagai berikut bisa sebagai berikut:
Gangguan penglihatan-Mata Infeksi
kemerahan Ulkus kornea
Iritasi Graft konjungtiva yang terbuka
Gangguan pergerakan bola Diplopia
mata.
Adanya jaringan parut di
Timbul jaringan parut kronis kornea.
dari konjungtiva dan kornea
Yang paling sering dari
Dry Eye sindrom.
komplikasi bedah pterigium
adalah kekambuhan.

pterigium
REFLEKSI KASUS

Prognosis
Penglihatan dan kosmetik pasien setelah dieksisi adalah baik.
Kebanyakn pasien dapat beraktivitas lagi setelah 48 jam post operasi.
Pasien dengan pterigium rekuren dapat dilakukan eksisi ulang dan graft
dengan konjungtiva auto graft atau transpalantasi membrane amnion.

pterigium
REFLEKSI KASUS

Ilyas, Sidharta. Ilmu Penyakit Mata edisi 6. Jakarta : Fakultas Kedokteran


Universitas Indonesia. 2006.p.2-7,117.
Anonymus. Anatomi Konjungtiva. [online] 2009. [cited 2011 Maret 08].
Available from : http://PPM.pdf.com/info-pterigium-anatomi
Riordan, Paul dkk. 2010. Vaughan & Asbury Oftalmologi Umum, Jakarta;
EGC
Perdami.2006. Ilmu Penyakit Mata Untuk Dokter Umum & Mahasiswa
Kedokteran,Perdami
Iljas, S. 2007. Ilmu Penyakit Mata, Edisi ketiga. Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia

pterigium
REFLEKSI KASUS

TERIMAKASIH

pterigium