Você está na página 1de 47

SMF KEDOKTERAN JIWA

RSUD CIAMIS
DR. dr. H. IWAN ARIJANTO, Sp.Kj, Mkes

Oleh:
Heri Kusyanto
Autisme berasal dari bahasa Yunani autos yang berarti segala
sesuatu yang mengarah pada diri sendiri.
Autisme pertama kali dikemukakan oleh Dr. Leo Kanner 1943,
seorang psikiatri Amerika.
Istilah autisme dipergunakan untuk menunjukkan suatu gejala
psikosis pada anak-anak yang unik dan menonjol yang sering
disebut dengan sindroma Kanner.
Defisit perkembangan pervasif pada awal kehidupan anak yang
disebabkan oleh gangguan perkembangan otak yang ditandai
dengan ciri pokok yaitu terganggunya perkembangan interaksi
sosial, bahasa dan wicara, serta munculnya perilaku yang bersifat
repetitif, stereotipik dan obsesif
Di Amerika Serikat, kelainan autisme empat kali lebih sering ditemukan pada anak lelaki
dibandingkan anak perempuan dan lebih sering banyak diderita anak-anak keturunan
Eropa Amerika dibandingkan yang lainnya.
Di Indonesia, pada tahun 2013 diperkirakan terdapat lebih dari 112.000 anak yang
menderita autisme dalam usia 5-19 tahun.
Sedangkan prevalensi penyandang autisme di seluruh dunia menurut data UNESCO
pada tahun 2011 adalah 6 di antara 1000 orang mengidap autisme. Data UNESCO pada
2011 mencatat, sekitar 35 juta orang penyandang autisme di dunia. Itu berarti rata-rata
6 dari 1000 orang di dunia mengidap autisme.
Begitu juga dengan penelitian Center for Disease Control (CDC) Amerika Serikat pada
2008, menyatakan bahwa perbandingan autisme pada anak usia 8 tahun yang
terdiagnosa dengan autisme adalah 1:80
Tetapi anak perempuan yang memiliki gangguan autistik cenderung terkena lebih serius
dan lebih mungkin memiliki riwayat keluarga gangguan kognitif dibandingkan anak laki-
laki.
Penyebab autisme sampai sekarang belum dapat ditemukan
dengan pasti.
Banyak sekali pendapat yang bertentangan antara ahli yang satu
dengan yang lainnya mengenai hal ini.
1. Faktor Psikodinamika dan Keluarga
2. Kelainan Organik-Neurologis-Biologis
3. Faktor Genetika
4. Faktor Imunologis
5. Faktor Perinatal
6. Temuan Neuroanatomi
7. Temuan Biokimiawi
1. Faktor keluarga dan psikodinamik

Mulanya diperkirakan gangguan ini akibat kurangnya perhatian orang tua, tetapi
penelitian terakhir tidak menemukan adanya perbedaan dalam membesarkan anak
pada orang tua anak normal dari orang tua anak yang mengalami gangguan ini.
Namun beberapa anak autisme berespon terhadap
stressor psikososial seperti lahirnya saudara kandung atau pindah tempat tinggal
berupa eksaserbasi gejala.

2. Kelainan Organik-Neurologis-Biologis

Autisme berhubungan dengan kondisi perinatal dan kandungan. Pada tahun 2007
sebuah review menyebutkan bahwa ditemukan hubungan antara kondisi kandungan
termasuk berat badan yang kurang, durasi kehamilan, dan hypoxia selama kelahiran.
Hubungan tersebut tidak disebutkan sebagai penyebab namun merupakan dua
kondisi yang saling berhubungan.
3. Faktor genetis atau keturunan

Gen menjadi faktor kuat yang menyebabkan anak autis. Jika dalam satu keluarga
memiliki riwayat menderita autis, maka keturunan selanjutnya memiliki peluang
besar untuk menderita autis. Hal ini disebabkan karena terjadi gangguan gen yang
memengaruhi perkembangan, pertumbuhan dan pembentukan sel-sel
otak. Kondisi genetis pemicu autis ini bisa disebabkan karena usia ibu saat
mengandung sudah tua atau usia ayah yang sudah tua. Diketahui bahwa sperma
laki-laki berusia tua cenderung mudah bermutasi dan memicu timbulnya autisme.

4. Penyakit Imunologis

Terdapat beberapa bukti mengenai inkompatibilitas antara ibu dan fetus, dimana
limfosit fetus bereaksi terhadap antibodi ibu, sehingga kemungkinan menyebabkan
kerusakan jaringan syaraf embrional selama masa gestasi.
5. Faktor kandungan (pranatal).
Kondisi kandungan juga dapat menyebabkan gejala autisme. Pemicu autisme
dalam kandungan dapat disebabkan oleh virus yang menyerang pada trimester
pertama, yaitu virus syndroma rubella. Selain itu, kesehatan lingkungan juga
memengaruhi kesehatan otak janin dalam kandungan. Polusi udara berdampak
negatif pada perkembangan otak dan fisik janin sehingga meningkatkan
kemungkinan bayi lahir dengan risiko autis. Bahkan, kondisi kandungan ibu yang
bermasalah (komplikasi kehamilan) hingga mengalami perdarahan juga menjadi
pemicu munculnya gejala autisme. Kondisi ini menyebabkan gangguan
transportasi oksigen dan nutrisi ke bayi yang mengakibatkan gangguan otak
janin. Bahkan, bayi lahir prematur dan berat bayi kurang juga merupakan risiko
terjadinya autisme.
6. Kelainan Neuroanatomi
Ditemukan kelainan neuroanatomi (anatomi susuan saraf pusat) pada beberapa
tempat di dalam otak anak autis. Banyak anak autis mangalami pengecilan
otak terutama pada lobus VI-VII. Seharusnya di lobus VI-VII banyak terdapat sel
purkinje. Namun pada anak autis jumlah sel purkinje sangatlah kurang.
Akibatnya, produksi serotinin kurang, menyebabkan kacaunya prosses
penyaluran informasi antar otak. Selain itu ditemukan kelainan struktur pada
pusat emosi di dalam otak sehingga emosi anak autis sering terganggu.
Autisme akibat berhentinya perkembangan dari cerebellum, cerebrum dan
sistem limbik. Pada MRI ditemukan hipoplasi vermis cerebellum lobus VI dan VII
(Courchesne,1991). Pada sekitar 10-30% anak dengan autisme dapat
diidentifikasi faktor penyebabnya (Lumbantobing,2001).
7. Faktor Biokimiawi

Obat-obatan untuk mengatasi rasa mual, muntah, ataupun penenang yang


dikonsumsi ibu hamil berisiko menyebabkan anak autis. Karena itu, Anda harus
berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter sebelum mengonsumsi obat-obatan jenis
apa pun saat hamil. Selain itu, paparan obat-obatan opium (penghilang rasa nyeri)
dapat mengganggu perkembangan saraf sehingga otak pun tidak berkembang
dengan baik. Bahkan, paparan merkuri juga memicu timbulnya autisme pada
bayi. Merkuri bisa berasal dari: saat Anda mengonsumsi ikan yang terkontaminasi
merkuri, penggunaan kosmetik yang mengandung merkuri, bahan-bahan perawatan
tubuh bayi yang berkomposisi merkuri, dan sebagainya. Zat kimia yang terkandung
dalam makanan sangat berbahaya untuk kandungan. Salah satunya, pestisida yang
terpapar pada sayuran, Diketahui bahwa pestisida mengganggu fungsi gen pada saraf
pusat, menyebabkan anak autis, contoh lain yaitu logam berat, yang terdapat pada
ikan.
Menurut DSM-IV Autistic Spectrum Disorder (ASD) merupakan bagian dari
Pervasive Developmental Disorder (PDD) atau Gangguan Perkembangan
Pervasif (GPP),
GPP adalah suatu gangguan perkembangan pada anak, dimana terutama
terdapat 3 bidang perkembangan yang terganggu, yaitu: komunikasi,
interaksi sosial dan perilaku.
Gejala-gejala tersebut harus sudah ada sejak sebelum usia 3 tahun,
walaupun demikian diagnosis ditegaskan saat anak berusia 3 tahun.
Gangguan di bidang komunikasi meliputi :
(1) tidak ada gesture ataupun mimik,
(2) tidak bisa mempertahankan bicara yang lama,
(3) bahasa stereotipik dan repetitif dan (4) tidak bisa bemain berpura-
pura (sandiwara).
Gangguan di bidang interaksi sosial meliputi :
(1) menghindari tatap mata,
(2) gagal dalam hubungan pertemanan,
(3) kurangnya spontanitas dalam bermain,
(4) hilangnya rasa emosional.
Gangguan di bidang perilaku meliputi :
(1) pola perilaku stereotipik tertentu,
(2) melakukan rutinitas secara ritual,
(3) mannerisme seperti finger flapping dan
(4) preokupasi terhadap bagian benda tertentu saja.
Namun secara klinis di lapangan, gangguan tersebut ditemukan
secara spectrum (berbeda kadar/derajat keparahannya).
Bila gangguan tersebut memenuhi criteria lengkap seperti di atas
maka disebut dengan Autistic Disorder,
Sedangkan bila tidak lengkap maka disebut sebagai Autistic
Spectrum Disorder
Kondisi yang dapat diklasifikasikan kedalam Gangguan Perkembangan
Pervasif, menurut ICD-10(International Classification of Diseases, WHO 1993),
maupun menurut DSM-IV (American Psychiatric Association, 1994) adalah :
1. Autisme Masa Kanak (Childhood Autism)
2. Gangguan Perkembangan Pervasif yang tak tergolongkan (GPP-YTT)
(Pervasif Developmental Disorder Not Otherwise Specified (PDD-NOS)
3. Sindroma Rett (Retts Syndrome)
4. Gangguan Disintegratif Masa Kanak (Childhood Disintegrative Disorder)
5. Sindroma Asperger (Aspergers Syndrome).
Autisme Masa Kanak adalah gangguan perkembangan pada anak
yang gejalanya sudah tampak sebelum anak tersebut mencapai
umur 3 tahun. Perkembangan yang terganggu adalah dalam
bidang :
komunikasi meliputi :
(1) tidak ada gesture ataupun mimik,
(2) tidak bisa mempertahankan bicara yang lama,
(3) bahasa stereotipik dan repetitif dan
(4) tidak bisa bemain berpura-pura (sandiwara).
interaksi sosial meliputi :
(1) menghindari tatap mata,
(2) gagal dalam hubungan pertemanan,
(3) kurangnya spontanitas dalam bermain,
(4) hilangnya rasa emosional.
perilaku meliputi :
(1) pola perilaku stereotipik tertentu,
(2) melakukan rutinitas secara ritual,
(3) mannerisme seperti finger flapping dan
(4) preokupasi terhadap bagian benda tertentu saja.
PDD-NOS juga mempunyai gejala gangguan perkembangan dalam bidang
komunikasi, interaksi maupun perilaku,
Namun gejalanya tidak sebanyak seperti pada Autisme Masa kanak.
Kualitas dari gangguan tersebut lebih ringan, sehingga kadang-kadang anak-anak
ini masih bisa bertatap mata, ekspresi fasial tidak terlalu datar, dan masih bisa
diajak bergurau.
Adalah gangguan perkembangan yang hanya dialami oleh anak
wanita.
Kehamilannya normal, kelahiran normal, perkembangan normal
sampai sekitar umur 6 bulan. Lingkaran kepala normal pada saat
lahir.
Mulai sekitar umur 6 bulan mereka mulai mengalami
kemunduran perkembangan. Pertumbuhan kepala mulai
berkurang antara umur 5 bulan sampai 4 tahun.
Gerakan tangan menjadi tak terkendali, gerakan yang terarah
hilang, disertai dengan gangguan komunikasi dan penarikan diri
secara sosial.
Gerakan-gerakan otot tampak makin tidak
terkoordinasi. Seringkali memasukan
tangan kemulut, menepukkan tangan dan
Yang sangat khas adalah timbulnya
gerakan-gerakan tangan yang terus
menerus seperti orang yang sedang
mencuci baju yang hanya berhenti bila
anak tidur.
Hal ini terjadi antara umur 6-30 bulan.
Terjadi gangguan berbahasa, perseptif
maupun ekspresif disertai kemunduran
psikomotor yang hebat.
Gejala-gejala lain yang sering menyertai
adalah gangguan pernafasan, otot-otot
yang makin kaku timbul kejang, scoliosis
tulang punggung, pertumbuhan
terhambat dan kaki makin mengecil
(hypotrophik).
Pemeriksaan EEG biasanya menunjukkan
kelainan.
Pada Gangguan Disintegrasi Masa Kanak, hal yang mencolok
adalah bahwa anak tersebut telah berkembang dengan sangat
baik selama beberapa tahun, sebelum terjadi kemunduran
yang hebat.
Gejalanya biasanya timbul setelah umur 3 tahun. Anak
tersebut biasanya sudah bisa bicara dengan sangat lancar,
sehingga kemunduran tersebut menjadi sangat dramatis.
Bukan saja bicaranya yang mendadak terhenti, tapi juga ia
mulai menarik diri dan ketrampilannya pun ikut mundur.
Perilakunya menjadi sangat cuek dan juga timbul perilaku
berulang-ulang dan stereotipik.
Seperti pada Autisme Masa Kanak, Sindrom Asperger (SA) juga
lebih banyak terdapat pada anak laki- laki daripada wanita.
Anak SA juga mempunyai gangguan dalam bidang komunikasi,
interaksi social maupun perilaku, namun tidak separah seperti
pada Autisme.
Pada kebanyakan dari anak-anak ini perkembangan bicara tidak
terganggu. Bicaranya tepat waktu dan cukup lancar, meskipun ada
juga yang bicaranya agak terlambat.
Namun meskipun mereka pandai bicara, mereka kurang bisa
komunikasi secara timbal balik. Komunikasi biasanya jalannya
searah, dimana anak banyak bicara mengenai apa yang saat itu
menjadi obsesinya, tanpa bisa merasakan apakah lawan bicaranya
merasa tertarik atau tidak.
Seringkali mereka mempunyai cara bicara dengan tata bahasa
yang baku dan dalam berkomunikasi kurang menggunakan
bahasa tubuh. Ekspresi muka pun kurang hidup bila dibanding
anak- anak lain seumurnya.
Mereka biasanya terobsesi dengan kuat pada suatu benda/subjek tertentu, seperti
mobil, pesawat terbang, atau hal-hal ilmiah lain. Mereka mengetahui dengan sangat
detil mengenai hal yang menjadi obsesinya. Obsesi inipun biasanya bergantiganti.
Kebanyakan anak SA cerdas, mempunyai daya ingat yang kuat dan tidak
mempunyai kesulitan dalam pelajaran disekolah. mereka mempunyai sifat yang
kaku, misalnya bila mereka telah mempelajari sesuatu aturan, maka mereka akan
menerapkannya secara kaku, dan akan merasa sangat marah bila orang lain
melanggar peraturan tersebut.
Dalam interaksi sosial juga mereka mengalami kesulitan untuk berinteraksi dengan
teman sebaya. Mereka lebih tertarik pada buku atau komputer daripada teman.
Mereka sulit berempati dan tidak bisa melihat/menginterpretasikan ekspresi wajah
orang lain.
Perilakunya kadang-kadang tidak mengikuti norma sosial, memotong pembicaraan
orang seenaknya, mengatakan sesuatu tentang seseorang didepan orang tersebut
tanpa merasa bersalah (mis. Ibu, lihat, bapak itu kepalanya botak dan hidungnya
besar ). Kalau diberi tahu bahwa tidak boleh mengatakan begitu, ia akan
menjawab: Tapi itu kan benar Bu.
Anak Sindrom Asperger jarang yang menunjukkan gerakan-gerakan motorik yang
aneh seperti mengepak-ngepak atau melompat-lompat atau stimulasi diri.
Tetapi Diagnostic and Statistical Manual of Mental
Disorders V (DSM V; American Psychiatry Association)
telah terbit. Dan didalamnya berisi perubahan
mengenai proses pembuatan diagnosa klinis Autisme
Ada beberapa perubahan diagnosa dalam DSM V yang perlu
dipahami oleh profesional dalam bidang kesehatan mental.
1. Diagnosa gangguan Autisme Spektrum (Autism Spectrum
Disorder).
Diagnosa ASD menggantikan berbagai diagnosa klinis terdahulu
seperti Gangguan Autistik, Asperger, dan Gangguan Pervasive
yang tidak spesifik.
2. Kriteria derajat keberatan gejala.
Dalam diagnosa ASD diperkenalkan juga kontinuum derajat
keberatan autisme, dari level 1, 2, 3. Tingkatan ini didasarkan
pada sejauh mana anak membutuhkan dukungan orang lain
dalam melakukan tugas perkembangannya.
Tingkatan ini menunjukkan bahwa ada anak dengan tingkat ASD
ringan dan ada pula yang tingkat gangguan lebih berat.
3. Diagnosa ASD dari Triadic menjadi Dyadic
Sebelumnya diagnosa autisme ditegakkan jika muncul gangguan pada 3
ranah, yaitu:
- komunikasi dan bahasa,
- interaksi sosial dan perilaku,
- minat terbatas dan berulang (DSM IV TR, 2000).
Namun dalam DSM V, diagnosanya menjadi 2 ranah, yaitu:
- hambatan komunikasi sosial (deficits in social communication) dan
- minat yang terfiksasi dan perilaku berulang (fixated interest and repetitive
behavior).
4. Profil sensoris autisme
Sebelumnya problem sensoris atau inderawi autisme tidak
disebutkan dalam DSM IV. Dalam DSM V, profil sensoris anak
dengan ASD dimasukkan dalam gejala minat yang terfiksasi
dan perilaku berulang. Misalkan: tidak menyukai makanan
tertentu yang memiliki warna atau tekstur tertentu.
5. Gejala yang telah muncul sejak masa kanak
Menurut DSM V, diagnosa ASD bisa ditegakkan jika anak
telah menunjukkan gejala sejak masa kanak. Walaupun
gangguan ASD baru diketahui setelah masa kanak, namun
penting untuk melihat dyadic tersebut yang menunjukkan
bahwa anak memiliki persoalan dalam hal sosial dan perilaku
dibandingkan anak-anak seusianya.
6. Perbedaan diagnosa Gangguan komunikasi sosial dan ASD
Perbedaannya adalah Gangguan komunikasi sosial (Social
Communication Behavior) tidak mencakup problem perilaku
minat terbatas dan berulang. Karena ini adalah kriteria yang
baru, ahli klinis perlu lebih mempelajarinya agar lebih terbiasa
menggunakannya.
7. Diagnosa comorbid
Dalam DSM V, dijelaskan bahwa jika anak menampilkan gejala
dari beberapa gangguan, maka ia bisa mendapatkan diagnosa
komorbid. Diagnosa komorbid adalah jika anak mendapatkan 2
diagnosa gangguan atau lebih. Misalkan, anak dengan ASD dan
ADHD.
Tanda-tanda awal pada pasien autisme berkaitan dengan
usia anak.
Usia anak dimana sindroma autism dapat dikenal
merupakan kunci untuk segera melakukan intervensi
berupa pelatihan dan pendidikan dini.
National Academy of Science USA menganjurkan bahwa
pendidikan dini merupakan kunci keberhasilan bagi
seorang anak dengan sindroma autisme.
Ada beberapa gejala yang harus diwaspadai terlihat sejak
bayi atau anak menurut usia.
Bayi tampak terlalu tenang (jarang menangis)
Terlalu sensitif, cepat terganggu/terusik
Gerakan tangan dan kaki berlebihan terutama bila mandi
Tidak ditemukan senyum sosial diatas 10 minggu
Tidak ada kontak mata diatas umur 3 bulan
Perkembangan motor kasar/halus sering tampak normal
Bayi tampak terlalu tenang (jarang menangis)
Terlalu sensitif, cepat terganggu/terusik
Gerakan tangan dan kaki berlebihan
Sulit bila digendong
Menggigit tangan dan badan orang lain secara berlebihan
Tidak ditemukan senyum sosial
Tidak ada kontak mata
Perkembangan motor kasar/halus sering tampak normal
Kaku bila digendong
Tidak mau bermain permainan sederhana (ciluk ba, da-
da)
Tidak mengeluarkan kata
Tidak tertarik pada boneka
Memperhatikan tangannya sendiri
Terdapat keterlambatan dalam perkembangan motor
kasar/halus
Mungkin tidak dapat menerima makanan cair
Tidak tertarik untuk bersosialisasi dengan anak lain
Melihat orang sebagai benda
Kontak mata terbatas
Tertarik pada benda tertentu
Kaku bila digendong
Sering didapatkan ekolalia (membeo)
Mengeluarkan suara yang aneh (nada tinggi atau datar)
Marah bila rutinitas yang seharusnya berubah
Menyakiti diri sendiri (membenturkan kepala)
Temperamen tantrum atau agresif
Gejala autisme infantil timbul sebelum anak mencapai usia 3
tahun.
Pada sebagian anak gejala gangguan perkembangan ini sudah
terlihat sejak lahir.
Seorang ibu yang cermat dapat melihat beberapa keganjilan
sebelum anaknya mencapai usia satu tahun.
Yang sangat menonjol adalah tidak adanya kontak mata dan
kurangnya minat untuk berinteraksi dengan orang lain.
Skizofrenia dengan onset masa anak-anak
Retardasi mental dengan gangguan emosional/perilaku
Afasia didapat dengan kejang
Ketulian kongenital atau gangguan pendengaraan parah
Pemutusan psikososial
Autisme not curable, but treatable
kelainan yang terjadi pada otak tidak bisa diperbaiki namun
gejala-gejala yang ada dapat dikurangi semaksimal mungkin
sehingga anak tersebut nantinya dapat berbaur dengan anak anak
lain secara normal.
Keberhasilan terapi dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :
a. Berat ringannya gejala atau kelainan otak
b. Usia
c. Kecerdasan
d. Bicara dan bahasa
e. Terapi yang intensif dan terpadu
Penanganan/intervensi terapi pada anak autisme harus dilakukan dengan
intensif dan terpadu.
Terapi secara formal sebaiknya dilakukan antara 4 8 jam sehari.
Seluruh keluarga harus terlibat untuk memacu komunikasi dengan anak.
Penanganan anak autisme memerlukan kerjasama tim yang terpadu yang
berasal dari berbagai disiplin ilmu antara lain psikiater, psikolog, neurolog,
dokter anak, terapis bicara dan pendidik.
Beberapa terapi yang harus dijalankan antara lain :
a. Terapi medikamentosa : indikasinya bila ada agresifitas, hiperaktifitas,
inatensi, impulsifitas, insomnia.
b. Stimulasi tidak langsung : terapi psikologis, terapi wicara, terapi
okupasi termasuk sensori integrasi, terapi fisik (fisioterapi), terapi
perilaku (ABA), terapi pedagogi.
c. Stimulasi langsung : akupuntur
Intervensi difokuskan pada meningkatkan kemampuan bahasa dan
komunikasi, self-help dan perilaku sosial dan mengurangi perilaku yang
tidak dikehendaki seperti melukai diri sendiri (self mutilation), temper
tantrum
Dengan penekanan pada peningkatan fungsi individu dan bukan
menyembuhkan dalam arti mengembalikan anak autisme ke kondisi
normal.
Obat-obat obat-obat antidepressan SSRI (Selective Serotonin
Reuptake Inhibitor) yang bisa memberikan keseimbangan
antara neurotransmitter serotonin dan dopamin.
Yang diinginkan dalam pemberian obat ini adalah dosis yang
paling minimal namun paling efektif dan tanpa efek samping.
Pemakaian obat akan sangat membantu untuk memperbaiki
respon anak terhadap lingkungan sehingga ia lebih mudah
menerima tata laksana terapi lainnya.
Bila kemajuan yang dicapai cukup baik, maka pemberian obat
dapat dikurangi bahkan dihentikan.
Umumnya hampir semua anak autisme menderita
gangguan bicara dan berbahasa.
Oleh karena itu terapi wicara pada anak autisme
merupakan keharusan.
Penanganannya berbeda dengan penderita gangguan
bicara oleh sebab lain.
Anak yang mengalami hambatan bicara dilatih dengan
proses pemberian reinforcement dan meniru vokalisasi
terapis.
Pada anak autisme juga diberikan fisioterapi yang berfungsi
untuk merangsang perkembangan motorik dan kontrol
tubuh.
menurut pengalaman Sleeuwen ( 1996 ) , yaitu :
a. Terapi musik
b. Son-rise program
c. Program Fasilitas Komunikasi
d. Terapi vitamin
e. Diet Khusus ( Dietary Intervention)
CFGF (casein free, gluten free)
Diet ini didasarkan pada sejumlah teori, tetapi dasar dari diet ini
adalah penghilangan gluten, yang merupakan bagian dari gandum,
oat, barley, dan sereal, dan kasein, protein utama dalam susu dan
produk susu.
CFGFSF (Casein free, gluten free, sugar free)
Diet ini didasarkan pada proses inflamasi
GAPS diet (Gut And Psychological Symptoms)
Mengacu pada SCD (Specific Carbohydrate Diet)
Memperbaiki keseimbangan bakteri dalam usus
Mengeliminasi bakteri yang buruk
Menambah asupan nutrisi yang direspon baik oleh reseptor pada
usus sehingga memulihkan gejala psikologi anak
Diet berdasakan alergi
Anak autis umumnya menderita alergi berat. Makanan yang sering menimbulkan
alergi adalah ikan, udang, telur, susu, cokelat, gandum/terigu, dan bisa lebih
banyak lagi. Cara mengatur makanan untuk anak alergi dan intoleransi makanan,
pertama-tama perlu diperhatikan sumber penyebabnya. Makanan yang diduga
menyebabkan gejala alergi/intoleransi harus dihindarkan. Misalnya, jika anak alergi
terhadap telur, maka semua makanan yang menggunakan telur harus dihindarkan.
Makanan tersebut tidak harus dipantang seumur hidup
Akupuntur meningkatkan cereberal blood flow
meningkatkan metabolisme glukosa meningkatkan
sinaptogenesis sel-sel otak
Prognosis yang lebih baik adalah berkaitan dengan inteligensi
yang lebih tinggi, kemampuan berbicara fungsional dan
kurangnya gejala-gejala dan perilaku aneh.
Gejala-gejala sering berubah karena anak-anak tumbuh
semakin tua.
Sebagai aturan umum, anak-anak autistik dengan IQ diatas 70
dan mereka yang menggunakan bahasa komunikatif pada usia
5-7 tahun memliki prognosis yang terbaik.
Prognosis membaik jika lingkungan atau rumah adalah
suportif dan mampu memenuhi kebutuhan anak tersebut yang
sangat banyak.