Você está na página 1de 24

LAPORAN KASUS

PASIEN DENGAN HERPES ZOOSTER THORAKALIS SINISTRA


Pembimbing :
dr. Hiendarto Sp.KK

Disusun Oleh :
Najibah Zulfa Assadiyah
NRP. 1610221052
BAB I
Pendahuluan
◦ Herpes Zooster (HZ) adalah
penyakit infeksi yang Terdapat faktor- faktor yang berpotensi
disebabkan oleh reaktivasi menyebabkan reaktivasi
virus varisela zoster yang
laten berdiam terutama
dalam sel neuronal dan
Kejadian HZ meningkat secara dramatis seiring
kadang-kadang di dalam dengan bertambahnya usia. Insidensi HZ
sel satelit ganglion radiks berdasarkan usia tertinggi pada umur 45-64
dorsalis dan ganglion tahun
sensorik saraf kranial
◦ Menyebar ke dermatom Komplikasi herpes zoster dapat terjadi pada 10-
atau jaringan saraf yang 20% kasus walaupun pasien sudah
sesuai dengan segmen mendapatkan terapi antivirus, komplikasi yang
yang dipersarafinya terbanyak adalah neuralgia paska herpetik
BAB II
Tinjauan Pustaka

Herpes zoster adalah radang kulit akut yang bersifat khas seperti gerombolan vesikel
definisi unilateral, dan nyeri radikuler unilateral sesuai dengan dermatomanya
(persyarafannya).

infeksi virus varisela zoster (VVZ) dan tergolong virus berinti DNA, VVZ dalam subfamili
etiologi alfa mempunyai sifat khas menyebabkan infeksi primer pada sel epitel yang
menimbulkan lesi vaskuler. Selanjutnya setelah infeksi primer, infeksi oleh virus herpes
alfa biasanya menetap dalam bentuk laten didalam neuron dari ganglion
Patofisiologi
Infeksi primer dari VVZ, viremia I, virus
dilepaskan ke darah

replikasi kedua yang sifat viremia nya


lebih luas dan simptomatik dengan
penyebaran virus ke kulit dan mukosa

◦ Faktor predisposisi/ Reaktivasi


Sebagian virus juga menjalar melalui
◦ pajanan virus varisela zoster sebelumnya serat-serat sensoris ke satu atau lebih
◦ usia lebih dari 50 tahun ganglion sensoris dan berdiam diri
atau laten didalam neuron
◦ keadaan imunokompromais
◦ obat-obatan imunosupresif,
◦ HIV/AIDS
reaktivasi dari virus sehingga terjadi
◦ transplantasi sumsum tulang atau organ herpes zoster
◦ keganasan, terapi steroid jangka panjang
◦ stress psikologis, trauma dan tindakan
pembedahan.

Penularan HZ. Transmisi penularan


melalui kontak langsung dengan lesi
maupun via rute respirasi
Klasifikasi berdasarkan lokasi
Herpes zoster oftalmikus
• mengenai bagian ganglion gasseri yang menerima serabut
saraf dari cabang ophtalmicus saraf trigeminus (N.V)
• Infeksi diawali dengan nyeri kulit pada satu sisi kepala dan
wajah disertai gejala konstitusi seperti lesu, demam ringan

Herpes zoster fasialis


• mengenai bagian ganglion gasseri yang menerima serabut
saraf fasialis (N.VII), ditandai erupsi herpetik unilateral pada
kulit.

Herpes zoster brakialis


• mengenai pleksus brakialis
Herpes zoster torakalis
•mengenai pleksus torakalis

Herpes zoster lumbalis


•mengenai pleksus lumbalis

Herpes zoster sakralis


•mengenai pleksus sakralis
Manifestasi klinis
Gejala prodromal (1-5 hari)

•rasa sakit dan parestesi pada dermatom yang terkena(segmental)


•sakit kepala, malaise, dan demam (umumnya 1-2 hari sebelum erupsi)

Erupsi kulit

•Hampir selalu unilateral


•eritema makulopapular kemudian terbentu papul (12-24 jam kemudian
berubah menjadi) vesikula berkelompok  pustula (Hari ketiga krusta
(dalam 7-10 hari)  krusta dapat bertahan 2-3 minggu.

Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium diperlukan bila
terdapat gambaran klinis yang meragukan.
• Tes Tzanck untuk melihat adanya
perubahan sitologisel epitel dimana
terlihat multi nucleated giant cell.
• Identifikasi antigen/asam nukleat VVZ
dengan metode PCR
Diagnosis banding
◦ Stadium praerupsi
◦ Nyeri akut segmental sulit dibedakan dengan nyeri yang timbul karena penyakit
sistemik sesuai dengan lokasi anatomik.
◦ Stadium erupsi
◦ Herpes simpleks zosteriformis,
◦ Dermatitis venenata
◦ Infeksi bakterial setempat.
Tatalaksana- Strategi 6A
Attract patient
early

Allay axietas- Asses patient


counseling fully

Antidepresan / Antiviral
anti konvulsant theraphy

Analgetik
Antivirus Analgetik Antidepresan/ anticonvulsant
◦ Asiklovir dewasa 5 x 800 mg/hari ◦ Nyeri ringan : ◦ Antidepresan trisiklik (amitriptilin
selama 7-10 hari atau parasetamol 3 x 500 dosis awal 10 mg/hari dapat
mg/hari atau NSAID ditingkatkan 20 mg /hari sampai
◦ Asiklovir IV 3 x 10 mg/kgBB/hari
dengan 150 mg, pemberian
◦ Nyeri sedang sampai
◦ Valasiklovir untuk dewasa 3x1 hingga 3 bulan, setiap malam
berat : kombinasi
gram/hari selama 7 hari atau sebelum tidur.
opioid ringan
◦ Famsiklovir untuk dewasa: 3 x 250 (tramadol, kodein) ◦ Gabapentin 300 mg/hari 4-6
mg/hari selama 7 hari minggu
◦ Dosis Asiklovir anak ◦ Pregabalin 2 x 75 mg/hari 2-4
◦ < 12 tahun : 30 mg/kgBB 7 hari minggu
◦ > 12 tahun : 60 mg/kgBB 7 hari
Komplikasi dan Prognosis
◦ Komplikasi ◦ Prognosis

◦ Kutaneus ◦ Usia > 50 tahun

◦ Neurologis : Neuralgia Paska Herpes ◦ Ad vitam bonam

(NPH) , nyeri yang menetap selama3 ◦ Ad functionam dubia ad bonam


bulan setelah erupsi HZ menghilang. ◦ Ad sanationam dubia ad bonam
◦ Mata : pada HZ Oftalmikus dapat
menyebabkan hilangnya
pengelihatan, nyeri yang menetap.

◦ THT : Sindrom Ramsay Hunt pada HZ


Otikus.
BAB III
Laporan Kasus
IDENTITAS PASIEN
◦ Nama : Ny. R
◦ Tanggal Lahir : 17 Oktober 1973
◦ Usia : 44Tahun
◦ Jenis Kelamin : Perempuan
◦ Alamat : Anggrek Cendrawasih VIII 2/3
◦ Agama : Kristen
◦ Pembayaran : Umum
◦ Tanggal Masuk : 27 November 2017
Keluhan Utama

•Ruam yang terasa panas dan timbul lentingan di bawah payudara kiri dan punggung kiri sejak 1 minggu
SMRS.

RPS

•Pasien datang ke Poli Kulit dan Kelamin RSUD Ambarawa tanggal 27 November 2017 dengan keluhan
rasa panas dan terbakar. Timbul lentingan di bawah payudara kiri dan punggung kiri, keluhan disertai
dengan rasa nyeri tiba-tiba, awalnya hanya timbul lesi kemerahan dan terasa nyeri sekitar 3 hari sebelum
timbul lentingan pertama. Lalu akhirnya lesi tersebut terisi cairan bening disertai dengan demam,
awalnya hanya terdapat 2 buah lentingan, namun sekarang bertambah banyak.

RPO (Riwayat Pengobatan)

•Pasien telah berobat ke klinik, dan diberi obat salep deksametason, namun keluhan tidak membaik.

RPD (Riwayat Penyakit Dahulu):

•HT (-), DM (-), Tidak pernah mengalami hal serupa sebelumnya. Riwayat cacar air 10 tahun yang lalu

(Riwayat Penyakit Sosial Lingkungan):

•Pasien merupakan karyawan swasta yang berasal dari daerah jakarta, pasien sedang melakukan
pekerjaan audit hotel di Ambarawa untuk jangka waktu 5 minggu kedepan.

Riwayat Alergi:

•Obat golongan penicilin


Pemeriksaan fisik

•Status Dermatologis :
•Lokasi: Punggung Kiri dan Perut Kiri (Thorakalis Sinistra)
•Efloresensi
•vesikel berkelompok dengan dasar eritema, konfluens, unilateral.

Diagnosis Banding

•Herpes simpleks zosteriformis


•Dermatitis venenata

Diagnosis Kerja

•Herpes zooster thorakalis sinistra

Penatalaksanaan

•Valvir tab 500 mg 3 x 2 selama 5 hari


•Neurodex 1 x 1 selama 5 hari
•Bedak salisil
•Imboost force 1 x 1 selama 5 hari
•Paracetamol tab 500 mg 3 x 1
•Diazepam 3 x ½ tablet selama 5 hari

Prognosis

•Baik quo ad vitam, ad functional, dan ad sanationam : ad bonam


BAB IV
Pembahasan
.Pasien datang ke Poli Kulit dan Kelamin RSUD Ambarawa tanggal 27
November 2017 dengan keluhan rasa panas dan terbakar. Timbul
lentingan di bawah payudara kiri dan punggung kiri, keluhan disertai
dengan rasa nyeri tiba-tiba, awalnya hanya timbul lesi kemerahan dan
terasa nyeri sekitar 3 hari sebelum timbul lentingan petama. Lalu
akhirnya lesi tersebut terisi cairan bening disertai dengan demam dan
lesu. Awalnya hanya terdapat 2 buah lentingan, namun sekarang
bertambah banyak.

Rasa panas dan nyeri pada kulit di bagian punggung kiri dan perut kiri
adalah gejala infeksi, infeksi dapat disebabkan oleh bakteri, virus
maupun jamur, namun lesi khas pada pasien ini bersifat unilateral
mengikuti dermatom persyarafan dengan gejala erupsi kulit berupa
vesikel berkelompok dengan dasar eritema, pada keadaan ini gejala
erupsi kulit tersebut khas pada herpes zooster.

Sebelum pasien merasakan gejala erupsi kulit, pasien merasakan


gejala perut kembung dan nyeri serta demam, ini merupakan gejala
prodromal yang biasa terjadi pada pasien herpes zooster. Diagnosis
banding herpes zooter adalah herpes simpleks, karena herpes simpleks
memiliki gejala yang mirip dengan herpes zooster yaitu didahului
gejala sistemik/prodromal dengan efloresensi kulit yang sama, namun
lokasinya herpes simpleks pada bibir dan genitalia. Sedangkan
Dermatitis venenata, dengan gejala klinis ditemukan eritema edema,
vesikel, bula, dan rasa panas di daerah kontak dan riwayat gigitan
serangga.
Setelah dilakukan pemeriksaan fisik status dermatologis, maka dapat mencoret diagnosis
banding herpes simpleks dan dermatitis venenata karema , pada herpes simpleks predileksi
tersering di bibir dan genitalia. Sedangkan dermatitis venenata pada pasien ini tidak ada
riwayat digigit serangga di daerah kontak.

Terapi yang diberikan adalah bedak salisil, tujuan pemberian bedak salisil ini adalah menjaga
lesi yang berbentuk vesikel tidak pecah sehingga tidak menimbulkan infeksi sekunder dan
menjaga lesi agar kering dan bersih serta keluhan panas pada kulit sedikit berkurang.
Pasien juga diberikan obat oral antivirus valasiklovirr 3x2 500mg selama 5 hari, dimana valasiklovir
merupakan ativiral yang aman diberikan, mekanisme kerja anitiviral ini dapat menghambat
polimerase virus varicela zooster. Selain itu pasien juga diberikan paracetamol 500 mg 3x1 tablet,
tujuan pemberian obat ini adalah untuk mengurangi demam dan nyeri. Neurodex 1 x 1 tab
selama 5 hari sebagai vitamin neurotropik. Pemberian antikonvulsan yaitu diazepam 3 x ½ tablet
selama 5 hari. Pasien danjurkan untuk melakukan kontrol 5 hari kedepan, tetapi pasien tidak
datang.
Prognosis
◦ Quo ad vitam : Ad Bonam
◦ Quo ad fungtionam : Ad Bonam
◦ Quo ad sanasionam : Ad bonam
BAB V
Penutup
◦ Telah dilaporkan kasus dengan diagnosis kerja herpes zoster thorakalis sinistra, pada
pasien Ny. R, umur 44 tahun datang ke poli kulit dan kelamin RSUD Ambarawa pada
tanggal 27 November 2017. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik. Dari anamnesis didapatkan ruam yang terasa panas, terbakar dan
nyeri tiba-tiba dan timbul lentingan di bawah payudara kiri dan punggung kiri sejak 1
minggu SMRS. Pasien juga merasakan gejala prodromal sebelum timbul lentingan.
Pada pemeriksaan fisik daerah thorakalis sinistra didapatkan ujud kelainan kulit berupa
vesikel berkelompok dengan dasar eritema, konfluens, unilateral.
◦ Pasien diberikan terapi Valvir (valasiklovir) tab 500 mg 3 x 2 selama 5 hari., Neurodex 1
x 1 selama 5 hari, Bedak salisil, Imboost force 1 x 1 selama 5 hari, Paracetamol tab 500
mg 3x1, Diazepam 3 x ½ tablet selama 5 hari.

◦ Pasien dianjurkan melakukan kontrol 5 hari kedepan, namun pasien tidak melakukan
kontrol. Prognosis pasien ini sampai saat ini bergantung pada epidemiologi terjadinya
NPH yaitu > 50 tahun, sementara pada pasien ini berumur 44 tahun, maka prognosis
pasien ini baik ad vitam, ad sanationam maupun ad functionam adalah ad bonam
Terimakasih.
Daftar Pustaka
1. Pusponegoro E, dkk. Buku Panduan Herpes Zooster di Indonesia 2014. Jakarta :Badan
Penerbit FKUI
2. Harahap M. Ilmu Penyakit Kulit. 2000. Jakarta : Hipokrates
3. Handoko R. Penyakit Virus. Dalam: Djuanda A, editor. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin.
Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia;2007.p. 110-118.
4. Janigger C. Herpes Zooster Medscape [internet]. 2017[diunduh pada 02 Desember
2017].
https://emedicine.medscape.com/article/1132465-overview