Você está na página 1de 22

Asuhan Kebidanan Komunitas

(Kematian Remaja)
Pembimbing : Hj.Tunut,SKM.,M.Kes
Rahayu Budi Utami,S.SiT.,M.Kes
Sudarto,.S.Kp.,MPH

Kelompok 3:
1. Ayu Wandira
2. Dina Fauziana
3. Irma Romauli Situmorang
4. Mariani
Definisi
Masa remaja adalah suatu fase tumbuh
kembang yang dinamis dalam kehidupan seorang
individu. Masa ini merupakan periode transisi dari
masa kanak-kanak ke masa dewasa yang ditandai
dengan percepatan perkembangan fisik, mental,
emosional, dan sosial. Untuk tercapainya tumbuh
kembang remaja yang optimal tergantung pada
potensi biologisnya. Tingkat tercapainya potensi
biologis seorang remaja merupakan hasil interaksi
faktor genetik dan lingkungan sosial. Proses yang
unik dan hasil akhir yang berbeda-beda memberikan
ciri tersendiri pada setiap remaja.
 Menurut WHO, remaja adalah bila anak telah
mencapai umur 10-19 tahun.
 Menurut Undang-Undang No.4 tahun 1979 mengenai
kesejahteraan anak, remaja adalah individu yang
belum mencapai umur 21 tahun dan belum menikah.
 Menurut Undang-Undang Perburuhan, anak dianggap
remaja bila telah mencapai umur 16-18 tahun atau
sudah menikah dan mempunyai tempat tinggal sendiri.
 Menurut Undang-Undang Perkawinan No.1 tahun
1974, anak dianggap remaja bila sudah cukup matang
untuk menikah yaitu 16 tahun untuk anak perempuan
dan 19 tahun untuk anak laki-laki.
 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
menganggap remaja bila sudah berusia 18 tahun yang
sesuai dengan saat lulus dari sekolah menengah.
Masa remaja berlangsung melalui 3 tahapan
yaitu masa remaja awal (10-14 tahun), menengah
(15-16 tahun), dan akhir (17-20 tahun):
 Masa remaja awal ditandai dengan peningkatan
cepat pertumbuhan dan pematangan fisik.
 Masa remaja menengah ditandai dengan hampir
lengkapnya pertumbuhan pubertas, timbulnya
keterampilan-keterampilan berpikir yang baru,
peningkatan pengenalan terhadap datangnya
masa dewasa, dan keinginan untuk memapankan
jarak emosional dan psikologis dengan orangtua.
 Masa remaja akhir ditandai dengan persiapan
untuk peran sebagai orang dewasa, termasuk
klarifikasi tujuan pekerjaan dan internalisasi suatu
sistem nilai pribadi.
Masalah Remaja
1. Adanya perubahan-perubahan biologis dan psikologis yang sangat pesat pada
masa remaja yang akan memberikan dorongan tertentu yang sangat kompleks.
2. Orangtua dan pendidik kurang siap untuk memberikan informasi yang benar dan
tepat waktu karena ketidaktahuannya
3. Perbaikan gizi yang menyebabkan menars menjadi lebih dini. Kejadian kawin muda
masih banyak terutama di pedesaan. Sebaliknya, di perkotaan kesempatan untuk
bersekolah dan bekerja menjadi lebih terbuka bagi wanita sehingga usia kawin
bertambah. Kesenjangan antara menars dan usia kawin yang makin panjang dan
disertai pergaulan yang makin bebas tidak jarang menimbulkan masalah.
4. Membaiknya sarana komunikasi dan transportasi akibat kemajuan teknologi
sehingga sulit melakukan seleksi terhadap informasi dari luar.
5. Pembangunan ke arah industri disertai pertambahan penduduk yang menyebabkan
peningkatan urbanisasi, berkurangnya sumber daya alam dan terjadi perubahan
tata nilai. Ketimpangan sosial dan individualisme sering memicu terjadinya konflik
perorangan maupun kelompok. Lapangan kerja yang kurang memadai dapat
memberikan dampak yang kurang baik sehingga remaja menderita frustrasi dan
depresi yang menyebabkan mereka mengambil jalan pintas dengan melakukan
tindakan negatif.
6. Kurangnya pemanfaatan penggunaan sarana untuk menyalurkan gejolak remaja.
Perlu adanya penyaluran sebagai substitusi yang positif ke arah pengembangan
keterampilan yang mengandung unsur kecepatan dan kekuatan misalnya olahraga.
Masalah Perilaku
Gunarsa (1989) merangkum beberapa karakteristik remaja yang
dapat menimbulkan
berbagai permasalahan pada diri remaja, yaitu:
 Kecanggungan dalam pergaulan dan kekakuan dalam
gerakan.
 Ketidakstabilan emosi.
 Adanya perasaan kosong akibat perombakan pandangan dan
petunjuk hidup.
 Adanya sikap menentang dan menantang orang tua.
 Pertentangan di dalam dirinya sering menjadi pangkal
penyebab pertentangan-pertentang dengan orang tua.
 Kegelisahan karena banyak hal diinginkan tetapi remaja tidak
sanggup memenuhi semuanya.
 Senang bereksperimentasi.
 Senang bereksplorasi.
 Mempunyai banyak fantasi, khayalan, dan bualan.
 Kecenderungan membentuk kelompok dan kecenderungan
kegiatan berkelompok.
Berdasarkan tinjauan teori perkembangan,
usia remaja adalah masa saat terjadinya
perubahan-perubahan yang cepat, termasuk
perubahan fundamental dalam aspek kognitif,
emosi, sosial dan pencapaian. Sebagian remaja
mampu mengatasi transisi ini dengan baik,
namun beberapa remaja bisa jadi mengalami
penurunan pada kondisi psikis, fisiologis, dan
sosial. Beberapa permasalahan remaja yang
muncul biasanya banyak berhubungan dengan
karakteristik yang ada pada diri remaja.
Lebih jauh ditegaskan, proses pematangan
fisik pada remaja terjadi lebih cepat dari proses
pematangan psikososial. Hal ini sering
menyebabkan berbagai masalah. Di satu sisi
remaja sudah merasa matang secara fisik dan
ingin bebas dan mandiri. Di sisi lain mereka
tetap membutuhkan bantuan, dukungan, serta
perlindungan orang tua. Orang tua sering tidak
mengetahui atau tidak memahami perubahan
yang terjadi pada remaja sehingga tidak jarang
terjadi konflik di antara keduanya. Karena
merasa tidak dimengerti remaja seringkali
memperlihatkan agresifitas
Kecelakaan
Kecelakaan adalah suatu kejadian yang timbul
akibat kesengajaan (intentional injury) maupun
ketidaksengajaan (unintentional injury), dapat
diprediksi sehingga dapat dilakukan usaha
pencegahan atau pengendaliannya. Di negara
berkembang kematian remaja karena kecelakaan telah
menjadi saingan utama kematian akibat penyakit
infeksi.
Di Indonesia berdasarkan data Survei Kesehatan
Nasional tahun 2010, kecelakaan menempati urutan
keenam dari 10 penyakit penyebab kematian berbagai
usia. Insiden kecelakaan pada anak dan remaja
meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 1986
terdapat 3.197 kecelakaan di jalan raya dan 1.078
kecelakaan rumah tangga. Tahun 1987 meningkat
menjadi 17.741 kecelakaan di jalan raya dan 6.219
kecelakaan rumah tangga.
Kawin Muda
Semakin muda usia saat perkawinan pertama
semakin besar risiko yang dihadapi ibu dan anak.
Salah satu indikator kesejahteraan rakyat adalah
angka kematian ibu. Angka kematian ibu di
Indonesia masih tinggi. Laporan UNICEF tahun
2001 menyebutkan angka kematian ibu rata-rata
dari tahun 1980-1999 adalah 450 per 100.000
kelahiran hidup. Sedangkan hasil SKRT 1995
menunjukkan penurunan angka kematian ibu
sampai 373 per 100.000 kelahiran hidup. Beberapa
penyebab utama kematian tersebut adalah tidak
tersedianya perawatan ibu dengan baik, jarak
kelahiran yang terlalu berdekatan, dan pernikahan
dini.
Aborsi
Aborsi merupakan masalah kesehatan
masyarakat yang belum teratasi sampai saat
ini. Data tentang kejadian aborsi dan kematian
yang diakibatkannya sangat sulit diperoleh
karena menurut Undang-Undang No.23 tentang
kesehatan pasal 15, tindakan aborsi tanpa
indikasi medis merupakan tindakan ilegal
dengan ancaman denda dan hukuman penjara
bagi pelakunya.
Infeksi Menular Seksual
Remaja Indonesia saat ini sedang mengalami
peningkatan kerentanan terhadap berbagai
ancaman risiko kesehatan terutama yang berkaitan
dengan kesehatan seksual dan reproduksi
termasuk peningkatan ancaman HIV/AIDS.
Peningkatan kejadian IMS pada remaja
disebabkan oleh kurangnya pengetahuan remaja
tentang IMS dan kurangnya kesadaran remaja
untuk menggunakan kondom pada saat melakukan
hubungan seksual dengan pekerja seks komersial.
Remaja percaya bahwa IMS dapat dicegah dengan
cara meningkatkan stamina dan meminum
antibiotik sebelum berhubungan seks.
Pelayanan Kesehatan Remaja
 Pelayanan kesehatan bagi remaja sebaiknya terpisah dengan
pelayanan lainnya. Pelayanan tersebut memerlukan
keterlibatan yang penuh dari para remaja sendiri, orang tua,
petugas kesehatan yang profesional dan masyarakat.8
Selama ini perhatian masyarakat hanya tertuju pada upaya
peningkatan kesehatan fisik remaja semata tapi kurang
memperhatikan faktor non-fisik. Kurangnya perhatian pada
faktor non-fisik dapat menyebabkan seorang remaja hanya
sehat fisiknya saja, namun secara psikologis rentan terhadap
stres (tekanan hidup).
 Pada hakekatnya inti pelayanan kesehatan kepada remaja
meliputi: 1) bimbingan yang berlanjut untuk mencegah
terjadinya morbiditas baru 2) melakukan pemeriksaan rutin
untuk memantau kesehatan mereka, 3) menilai dan memantau
proses biologis pubertas remaja dengan berbagai keluhan
yang mungkin timbul.
Peran Orang Tua dan Llingkungan
 Menanamkan pola asuh yang baik pada anak sejak
dini
 Membekali anak dengan dasar moral dan agama
 Mengerti komunikasi yang baik dan efektif antara
orangtua–anak
 Menjalin kerjasama yang baik dengan guru
 Menjadi tokoh panutan bagi anak baik dalam
perilaku maupun dalam hal menjaga lingkungan
yang sehat
 Menerapkan disiplin yang konsisten pada anak
 Hindarkan anak dari NAPZA
Peran Sebagai Pendidik
 Orang tua hendaknya menyadari banyak tentang
perubahan fisik maupun psikis yang akan dialami
remaja. Untuk itu orang tua wajib memberikan bimbingan
dan arahan kepada anak. Nilai-nilai agama yang
ditanamkan orang tua kepada anaknya sejak dini
merupakan bekal dan benteng mereka untuk
menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi. Agar
kelak remaja dapat membentuk rencana hidup mandiri,
disiplin, dan bertanggung jawab, orang tua perlu
menanamkan arti penting dari pendidikan dan ilmu
pengetahuan yang mereka dapatkan di sekolah, di luar
sekolah, serta di dalam keluarga.
Peran Sebagai Pendorong
 Menghadapi masa peralihan menuju dewasa,
remaja sering membutuhkan dorongan dari
orang tua. Terutama saat mengalami
kegagalan yang mampu menyurutkan
semangat mereka. Pada saat itu, orang tua
perlu menanamkan keberanian dan rasa
percaya diri remaja dalam menghadapi
masalah, serta tidak gampang menyerah dari
kesulitan.
Peran Sebagai Panutan
 Remaja memerlukan model panutan di
lingkungannya. Orang tua perlu memberikan
contoh dan teladan, baik dalam menjalankan
nilai-nilai agama maupun norma yang berlaku
di masyarakat. Peran orang tua yang baik
akan mempengaruhi kepribadian remaja.
Peran Sebagai Pengawas
 Menjadi kewajiban bagi orang tua untuk melihat
dan mengawasi sikap dan perilaku remaja agar
tidak terjerumus ke dalam pergaulan yang
membawanya ke dalam kenakalan remaja dan
tindakan yang merugikan diri sendiri. Namun
demikian hendaknya dilakukan dengan
behrsahaubat dan lemah lembut. Sikap penuh
curiga, justru akan menciptakan jarak antara
anaf4huk dan orang tua, serta kehilangan
kesempatan untuk melakukan dialog terbuka
dengan anak dan remaja.
Peran Sebagai Teman
Menghadapi remaja yang telah memasuki
masa akil balig, orang tua perlu lebih sabar
dan mau mengerti tentang perubahan pada
remaja. Perlu menciptakan dialog yang
hangat dan akrab, jauh dari ketegangan atau
ucapan yang disertai cercaan. Hanya bila
remaja merasa aman dan terlindung, orang
tua dapat menjadi sumber informasi, serta
teman yang dapat diajak bicara atau bertukar
pendapat tentang kesulitan atau masalah
mereka.
Peran Sebagai Konselor
 Peran orang tua sangat penting dalam mendampingi
remaja, ketika menghadapi masa-masa sulit dalam
mengambil keputusan bagi dirinya. Orang tua dapat
memberikan gambaran dan pertimbangan nilai yang
positif dan negatif , sehingga mereka mampu belajar
mengambil keputusan tebaik. Selain itu orang tua juga
perlu memiliki kesabaran tinggi serta kesiapan mental
yang kuat menghadapi segala tingkah laku mereka,
terlebih lagi seandainya remaja sudah melakukan hal
yang tidak diinginkan. Sebagai konselor, orang tua
dituntut untuk tidak menghakimi, tetapi dengan jiwa
besar justru harus merangkul remaja yang
bermasalah tersebut.
Peran Sebagai Komunikator.
 Suasana harmonis dan saling memahami
antara orang tua dan remaja, dapat
menciptakan komunikasi yang baik. Orang
tua perlu membicarakan segala topik secara
terbuka tetapi arif. Menciptakan rasa aman
dan telindung untuk memberanikan anak
dalam menerima uluran tangan orang tua
secara terbuka dan membicarakan
masalahnya. Artinya tidak menghardik anak.