Você está na página 1de 9

KELOMPOK 7

AKTUALISASI PANCASILA DALAM


KEHIDUPAN KAMPUS
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
D-IV GIZI, OKTOBER 2017
1. Pancasila Sebagai Dasar Negara
Pengertian Pancasila sebagai dasar negara diperoleh dari alinea keempat
Pembukaan UUD 1945 dan sebagaimana tertuang dalam Memorandum DPR-GR 9 Juni
1966 yang menandaskan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa yang telah
dimurnikan dan dipadatkan oleh PPKI atas nama rakyat Indonesia menjadi dasar negara
Republik Indonesia. Inilah sifat dasar Pancasila yang pertama dan utama, yakni sebagai
dasar negara (philosophische grondslaag) Republik Indonesia. Pancasila yang terkandu
ng dalam alinea keempat Pembukaan UUD 1945 tersebut ditetapkan sebagai dasar
negara pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh PPKI yang dapat dianggap sebagai
penjelmaan kehendak seluruh rakyat Indonesia yang merdeka. Penetapan Pancasila
sebagai dasar negara itu memberikan pengertian bahwa negara Indonesia adalah
Negara Pancasila. Hal itu mengandung arti bahwa negara harus tunduk kepadanya,
membela dan melaksanakannya dalam seluruh perundang-undangan.
2. Aktualisasi Pancasila
Aktualisasi berasal dari kata aktual, yang berarti betul-betul
ada, terjadi, atau sesungguhnya, hakikatnya. Dimana pancasila
memang sudah jelas berdiri di Negara Indonesia sebagai dasar Negara
dan ideologi Negara. Aktualisasi Pancasila adalah bagaimana nilai-nilai
Pancasila benar-benar dapat tercermin dalam sikap dan perilaku
seluruh warga negara mulai dari aparatur dan pimpinan nasional
sampai kepada rakyat biasa. Nilai-nilai Pancasila yang bersumber
pada hakikat Pancasila adalah bersifat universal, tetap dan tak
berubah. Nilai-nilai tersebut dapat dijabarkan dalam setiap aspek
dalam penyelenggaraan Negara dan dalam wujud norma-norma, baik
norma hukum, kenegaraan, maupun norma-norma moral yang harus di
laksanakan dan diamalkan oleh setiap warga Negara Indonesia.
Aktualisasi Pancasila dapat dibedakan atas dua macam yaitu :
A. Aktualisasi objektif
Aktualisasi Pancasila yang objektif adalah aktualisasi pancasila dalam berbagai bidang kehidupan
kenegaraan yang meliputi kelembagaan Negara antara lain, legislatif, eksekutif, maupun yudikatif.
Selain itu juga meliputi bidang-bidang aktualisasi lainnya. Seperti politik, ekonomi, hokum terutama
dalam penjabaran kedalam undang-undang, garis-garis besar haluan Negara, hankam, pendidikan
maupun bidang kenegaraan lainnya.

B. Aktualisasi Subjektif
Aktualisasi Pancasila yang subyektif adalah aktualisasi pancasila pada setiap
individu terutama dalam aspek moral dalam kaitannya dengan hidup Negara dan masyarakat.
Aktualisasi yang subjektif tersebut tidak terkecuali baik warga Negara biasa, aparat penyelengg
ara Negara, penguasa Negara, terutama kalangan elit politik dalam kegiatan politik, maka dia
perlu mawas diri agar memiliki moral ketuhanan dan kemanusiaan sebagaimana terkandung
dalam pancasila. Aktualisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara memerlukan kondisi dan iklim yang memungkinkan
segenap lapisan masyarakat yang dapat mencerminkan nilai-nilai Pancasila itu
dan dapat terlihat dalam perilaku. Perpaduan ciri tersebut di dalam kehidupan
kampus melahirkan gaya hidup tersendiri yang merupakan variasi dari corak
kehidupan yang menjadikan kampus sebagai pedoman dan harapan masyarakat.
3. Tridarma Perguruan Tinggi
Peningkatan peranan Perguruan Tinggi sebagai satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan
tinggi dalam usaha pembangunan selain diarahkan untuk menjadikan Perguruan Tinggi sebagai pusat
pemeliharaan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni, juga mendidik mahasiswa
untuk berjiwa penuh pengabdian serta memiliki tanggung jawab yang besar pada masa depan bangsa
dan Negara, serta menggiatkan mahasiswa, sehingga bermanfaat bagi usaha pembangunan nasional
dan pengembangan daerah.

Perlu diketahui, bahwa pendidikan tinggi sebagai institusi dalam masarakat bukanlah merupakan
menara gading yang jauh dari kepentingan masyarakat,melainkan senantiasa mengembangkan dan
mengabdi kepada masarakat. Maka menurut PP. No. 60 Th. 1999, bahwa Perguruan Tinggi mempunyai
3 tugas
pokok, yaitu:
1. Pendidikan tinggi
2. Penelitian
3. Pengabdian terhadap masyarakat

Jadi, di Perguruan Tinggi atau yang biasa disebut dengan kampus, tidak hanya mengajar akan tetapi me
ndidik. Dimana dengan didikan tersebut mahasiswa akan lebih didampingi baik secara intelektual dan
emosional. Contoh umumnya adalah bagaimana cara mahasiswa bergaul dalam sehari-hari mereka
dengan berpedoman pada pancasila.
4. Budaya Akademik
Budaya akademik merupakan nilai yang dilahirkan oleh masyarakat akademik
yang bersangkutan.Masyarakat akademik di manapun berada, hendaklah perkembangan
nya dijiwai oleh nilai budaya yang berkembang di lingkungan akademik yang ber
sangkutan. Suatu nilai budaya yang mendorong tumbuh dan berkembangnya sikap kerja
sama, santun, mencintai kemajuan ilmu dan teknologi, serta mendorong berkembangnya
sikap mencintai seni.

Perguruan tinggi sebagai suatu institusi dalam masyarakat memiliki cirri khas
tersendiri disamping lapisan-lapisan masyarakat lainnya. Warga dari suatu perguruan
tinggi adalah insane-insan yang memiliki wawasan dan integritas ilmiah. Oleh karena itu
masyarakat akademik harus senantiasa mengembangkan budaya ilmiah yang merupakan
esensi pokok dari aktivitas perguruan tinggi. Terdapat sejumlah cirri masyarakat ilmiah
sebagai budaya akademik. Yaitu, 1. kritis 2. kreatif 3. objektif 4. analitis 5. konstruktif 6.
dinamis 7. dialogis 8. menerima kritik 9. menghargai prestasi ilmiah/akademik 10. bebas
dari prasangka 11. menghargai waktu 12. memiliki dan menjunjung tinggi tradisi ilmiah 13.
berorientasi ke masadepan 14. kesejawatan/kemitraan (PPMB 1990 II-2). Masyarakat
ilmiah inilah yang harus dikembangkan dan merupakan budaya dari suatu masyarakat
akademik.
5. Kampus Sebagai Moral Force Pengembangan Hukum Dan
HAM

Kampus merupakan wadah kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian


masyarakat, sekaligus merupakan tempat persemaian dan perkembangan nilai-nilai luhur
. Kampus merupakan wadah perkembangan nilai-nilai moral, di mana seluruh warganya
diharapkan menjunjung tinggi sikap yang menjiwai moralitas yang tinggi dan dijiwai oleh
pancasila.Kampus merupakan wadah membentuk sikap yang dapat memberikan
kekuatan moral yang mendukung lahir dan berkembangnya sikap mencintai kebenaran
dan keadilan dan menjunjung tinggi hak asasi manusia.

Masarakat kampus sebagai masyarakat ilmiah harus benar-benar mengamalk


an budaya akademik. Masarakat kampus wajib senantiasa bertanggung jawab secara
moral atas kebenaran obyektif, bertanggung jawab terhadap masarakat bangsa dan
negara, serta mengabdi pada kesejahteraan kemanusiaan. Oleh karena itu sikap
masarakat kampus tidak boleh tercemar oleh kepentingan-kepentingan politik penguasa
sehingga benar-benar luhur dan mulia.
6. KESIMPULAN
Pancasila sebagai aktualisasi diri yang berarti betul-betul ada,
terjadi atau sesungguhnya. Sehingga terbentuklah aktualisasi objektif dan
subjektif. Aktualisasi Pancasila yang objektif adalah pelaksanaan Pancasila
dalam bentuk realisasi dalam setiap aspek penyelenggaraan negara, baik di
bidang legislatif, eksekutif, yudikatif maupun semua bidang kenegaraan
lainnya. Aktualisasi Pancasila yang subyektif adalah pelaksanaan dalam sikap
pribadi, perorangan, setiap warga negara, setiap individu, setiap penduduk, se
tiap penguasa, dan setiap orang Indonesia.

Aktualisasi diripun meliputi mencakup dalam tridarma perguruan


tinggi, budaya akademik dan lingkungan kampus sebagai moral force pengem
bangan hukum dan HAM, yang mencerminkan bahwa aktualisasi diri itupun
benar-benar ada dan terjadi disekitar kita. Terrmasuk dalam lingkungan
kampus.