Você está na página 1de 32

ANATOMI DAN

FISIOLOGI MAKULA
AVINDA NOVIA CORPALIZA (1310070100026)
ANATOMI MAKULA
Macula lutea atau bintik kuning merupakan bagian dari retina yang banyak
mengandung pigmen xantophil atau pigmen kuning.
 Daerah macula, secara histologis digambarkan sebagai area yang terdiri atas 2
atau lebih lapisan ganglion dengan diameter 5-6 mm dan berada ditengah antara
arcade vascular nasal dan temporal.
 Makula lutea 1 mm ke lateral, 0.8 mm ke atas dan di bawah fovea, 0.3 mm
dibawah meridian horizontal serta 3.5 mm ke arah tepi nervus optik.
Makula tampak gelap karena :
- perbedaan dalam pigmentasi
- tidak adanya pembuluh retina di fovea
EMBRIOLOGI
Macula berkembang dari cawan optik
Dinding bagian dalam: Neurosensori retina
Dinding bagian luar: RPE

Retina mulai dibentuk pada minggu 5 kehamilan. Pada bulan ke 8, makula lebih
tebal dari bagian lain di retina dan terjadi pencekungan makula lutea. Makula
berkembang secara anatomis sampai bayi berumur 6 bulan setelah lahir.
ANATOMI MAKULA LUTEA
Macula lutea dapat dibagi menjadi :
Foveola
Fovea
Area perifovea
Area parafovea
FOVEA CENTRALIS
Daerah sentral dari macula, berukuran ± 1,5 mm di sebut sebagai fovea atau
fovea sentralis

secara anatomis dan komposisi sel fotoreseptornya merupakan daerah untuk


ketajaman penglihatan dan penglihatan warna.

Daerah ini memiliki tingkat kepadatan sel cones tertinggi, yakni mencapai
143.000/mm.
Didalam fovea terdapat daerah yang tidak memiliki vaskularisasi, jadi dipelihara
oleh sirkulasi koriokapiler, yang disebut fovea avascular zone (FAZ). Secara klinis
dapat terlihat pada angiografi fluorosensi.

Xanthophyll pigmen karotenoid:


Terletak di fovea, kemungkinan besar di lapisan plexiform luar. Terdiri dari Leutin
dan Zeaxanthin. Bertanggung jawab atas penampilan gelap khas macula dalam
angiogram normal.
FOVEOLA
Merupakan lubang di bagian Tengah fovea 0,35 mm dan bagian paling sensitif dari
retina.
Merupakan bagian retina yang paling tipis, tanpa sel ganglion. Hanya memiliki sel
kerucut dan muller. Penglihatan paling akut di daerah ini.

Umbo:
 Merupakan cekungan kecil di pusat foveola. sesuai dengan ophthalmoscopically
terlihat refleks foveal. Foveal reflex adalah titik terang yang sangat terang, terlihat
secara ophthalmoscopically, terlihat karena refleks cahaya dari dinding depresi
foveal. Hilangnya Foveal reflex mungkin tanda awal kerusakan.
Foveal avascular zone (FAZ)

 Terletak di dalam fovea tetapi di luar foveola.


 Diameter sekitar 0,4 - 0,6 mm
 Dapat dilihat dengan FFA
Fluorescent fundus angiography (FFA)
PARAFOVEA

Di sekitar lingkaran fovea, terdapat area dengan lebar sekitar 0.5 mm dan
diameter total sekitar 2.5 mm disebut area parafoveal.

Mengandung akumulasi neuron terbesar, terdapat lapisan sel ganglion, lapisan inti
dalam, dan lapisan pleksiform luar yang tebal.

Di daerah ini pula lapisan plexiform luar mengalami penebalan, yang disebut
lapisan Henle, dibentuk oleh berlapis-lapis axon fotoreseptor dari foveola.

 Pada bagian ini sudah mulai terlihat adanya rods.


PERIVOVEA
Diluar zona tersebut terdapat lingkaran dengan ukuran 1.5 mm yang kenal dengan
perifoveal zone, merupakan lingkaran terluar dari area sentralis.
Daerah ini dimulai pada titik dimana lapisan sel ganglion mulai memiliki empat
baris nucleus dan berakhir diperifer dimana sel ganglion hanya terdiri dari satu lapis
sel.
Dari pemeriksaan funduskopi, daerah perivofea merupakan lingkaran dengan lebar
1,25- 2,75 mm dari foveola, dengan diameter horizontal 5.5 mm.
Daerah perifovea ini berbeda dengan parafovea dikarenakan daerah ini memiliki
sel kepadatan sel cones yang jarang.
Retinal Pigment Epithelium (RPE)
RPE adalah selapis sel- sel hexagonal yang tersebar dari diskus saraf optik sampai
ke ora serrata dimana lapisan ini berbatasan dengan epitel non pigmen dari badan
siliar.

Strukturnya disesuaikan dengan fungsinya, yaitu :


metabolisme vitamin A
 menyeimbangkan sawar darah retina bagian luar
 fagositosis segmen luar fotoreseptor
pertukaran panas
membentuk lamina basalis
 produksi matriks polisakarida yang mengelilingi segmen luar dan berperan dalam
transport aktif materi- materi yang masuk dan keluar dari RPE.
NEUROEPITHEL

Lapisan fotoreseptor mengandung neuroepithel khusus yaitu sel rods dan


cones.
Setiap sel fotoreseptor ini mempunyai segmen luar dan segmen dalam.
Segmen luar dikelilingi oleh matriks mukopolisakarida yang menyebabkan
kontak antara sel fotoreseptor dan tonjolan vili dari RPE.
SEL RODS (Sel Kerucut)
Jumlahnya sekitar 6,5 juta di masing-masing mata.

Digunakan untuk penglihatan siang hari (fotopik).

Berguna untuk melihat detail halus dan mengenali beragam warna.

Tersebar di seluruh retina, terutama di fovea sentralis.

Memiliki sensitivitas maksimum di panjang gelombang sekitar 550 nm pada region


kuning-hijau.
SEL CONE (SEL BATANG)
Jumlahnya sekitar 120 juta di masing-masing mata.

Digunakan untuk penglihatan malam hari (skotopik).

Berguna untuk penglihatan perifer.

Tidak tersebar merata di retina namun memiliki kepadatan maksimum di sudut


sekitar 20̊.

Memiliki sensitivitas maksimum di panjang gelombang sekitar 510 nm pada region


biru-hijau.
Segmen Luar Fotoreseptor

Segmen luar mengandung fotopigmen dan merupakan tempat berlangsungnya


proses fototransduksi, yang merupakan suatu proses pengubahan energi cahaya
menjadi sinyal-sinyal elektrik.
Sel batang sensitif terhadap cahaya karena mengandung pigmen penglihatan peka
cahaya yang disebut rodopsin yang mampu menangkap foton. Substansi ini
merupakan kombinasi protein skotopsin dengan senyawa protein retinal. Retinal
tersebut secara kimiawi berhubungan erat dengan vitamin A dan merupakan tipe
khusus yang disebut 11-cis retinal.
Bentuk cis dari retinal adalah penting sebab hanya bentuk ini saja yang dapat
berikatan dengan opsin agar dapat mensintesis rodopsin.
Molekul penyerap cahaya pada sel kerucut hampir sama persis dengan komposisi
kimiawi rodopsin dalam sel batang. Perbedaan hanya terletak pada bagian protein
opsin yang disebut fotopsin pada sel kerucut, berbeda dengan skotopsin dalam sel
batang.
Bagian retinal semua pigmen visual sama persis dengan apa yang ada di dalam sel
batang ataupun kerucut. Oleh karena itu, pigmen peka warna sel kerucut
merupakan kombinasi antara retinal dan fotopsin.
Pada retina primata terdapat tiga jenis sel kerucut yang masing-masing sensitif
terhadap cahaya biru (2%), hijau (32%), dan oranye (64%).
Sensitivitas pigmen kerucut bergantung pada molekul opsin yang diikatnya. Pigmen
rodopsin sel batang menyerap spektrum pada 500 nm, sedangkan pigmen sel
kerucut menyerap maksimal spektrum biru (450 nm), hijau (530 nm), dan kuning
(565 nm).
VASKULARISASI
Pembuluh darah retina berasal dari dua sumber, yaitu kapiler koroid dan arteri
dan vena sentralis.

Kapiler koroid menyuplai 1/3 bagian luar termasuk sel rod dan cone, RPE dan
lapisan inti luar.

Sedangkan arteri dan vena retina sentralis menyuplai 2/3 bagian dalam sampai
dengan tepi dalam lapisan inti dalam.
FOTOTRANSDUKSI ROD
Rod memiliki lebih banyak membran dibandingkan dengan cone sehingga rod lebih
sensitif.
Cahaya diserap oleh rhodopsin yang terletak pada membran sel luar dari rod.
Rhodopsin adalah sejenis protein berupa membran yang mudah ditembus dan
sejenis dengan reseptor alfa dan beta adrenergik. Setiap molekul bertanggung
jawab terhadap satu kuantum cahaya. Rhodopsin menyerap cahaya hijau dengan
panjang gelombang sekitar 510 nm. Rhodopsin kurang baik dalam menyerap cahaya
biru dan kuning dan tidak sensitif terhadap cahaya merah.
Pada saat rhodopsin menyerap suatu kuantum cahaya, ikatan ganda dari II- cis
retinal akan pecah dan molekul opsin mengalami perubahan konfigurasi yang
cepat, sehingga terjadi keadaan aktif yang disebut metarhodopsin II.
Rhodopsin yang terktivasi memulai reaksi dengan mengontrol aliran kation- kation
kedalam segmen luar rod. Target dari reaksi ini adalah pada pintu saluran cGMP
(cyclic Guaonosine Monophosphate) yang terletak di membran terluar dari segmen
luar. Saluran ini mengontrol aliran ion natrium dan kalsium kedalam rod.
Dalam suasana gelap, ion natrium dan kalsium mengalir melalui saluran ini dimana
terbukanya pintu saluran ini dipertahankanoleh cGMP. Keseimbangan ion
dipertahankan oleh pompa Na+, K+-ATPase pada segmen dalam dan Na+/K+- Ca
exchanger pada membran segmen luar, yang mana kedua proses ini membutuhkan
energi.
Keadaan depolarisasi rod menyebabkan dilepasnya neurotransmitter glutamate
dari terminal sinaptik dan dimulailah sebuah sinyal neural dari proses melihat.
Rhodopsin yang telah teraktivasi merangsang molekul kedua,
transdusin, dengan cara menukar guanosin difosfat (GDP) dengan
guanosin trifosfat (GTP). Satu moloekul rhodopsin dapat
mengaktifkan seratus molekul transdusin, sehingga memperkuat
reaksi. Transduksin yang aktif memicu protein ketiga, rod
fosfodiesterase (rod PDE) yang menghidrolisis cGMP ke 5’-noncyclic
GMP. Penurunan cGMP ini menutup pintu saluran- saluran, dimana
aakan menghentikan masuknya natrium dan kalsium dan membuat
keadaan hiperpolarisasi rod. Hiperpolarisasi menghentikan
pelepasan glutamate dari terminal sinaptik
FOTOTRANSDUKSI CONE
Fototransduksi yang terjadi pada cone adalah kebalikan dari rod. Cone-opsin yang
telah teraktivasi oleh cahaya memulai pengaliran enzimatik yang menghidrolisis
cGMP dan menutup saluran kation pada pintu spesifik cGMP cone di membran
segmen luarnya.
Fototransduksi pada cone kurang sensitif namun memiliki kemampuan yang cepat
dalam beradaptasi terhadap berbagai kadar iluminasi. Semakin besar kadar cahaya,
maka semakin cepat dan akurat respon dari cone. Kecepatan dan ketepatan sangat
penting dalam kerja cone. Hal ini yang menjadi alasan peningkatan ketajaman
penglihatan seiring dengan peningkatan iluminasi. Karena kemampuan cone dalam
beradaptasi, cone sangat diperlukan untuk ketajaman penglihatan .
Pada cone, terdapat mekanisme umpan balik negatif. Sel-sel horizontal bersinaps secara antagonis
terhadap cone, dimana sel ini melepas GABA yang bersifat inhibitor. Pada saat cahaya
menghiperpolarisasi cone, maka cone membuat hiperpolarisasi sel horizontal disebelahnya. Hal ini
mengakibatkan inhibisi terhadap sel horizontal, sehingga pelepasan GABA terhenti dan terjadi
depolarisasi cone.
Keadaan depolarisasi ini menghambat keadaan hiperpolarisasi oleh cahaya dan mencoba untuk
mengembalikan cone pada keadaan hiperpolarisasi oleh cahaya. Umpan balik negatif ini berfungsi
agar cone tidak mengalami keadaan overload (kelebihan beban) sehingga memungkinkan cone dapat
merespon stimulus baru dengan lebih cepat.
PENGLIHATAN WARNA
Pada mata manusia normal, ada 3 tipe sel cone dimana ketiganya merupakan 3
sistem cone-opsin. 3 sistem cone-opsin tersebut adalah short-wavelength sensitive
(S), middle-wavelength-sensitive (M) dan long-wavelength-sensitive cone.
 Ke-3 varian opsin tersebut terdapat pada semua sel cones. Namun secara garis
besar terdapat tiga jenis cones dimana jenisnya tergantung pada jenis opsin yang
dominan, yang menyebabkan sel ini sensitive terhadap spectrum warna yang
berbeda- beda.
 Cone biru mengandung banyak blue-sensitive opsin, yang mudah tereksitasi dengan
panjang gelombang sekitar 420 nm, cone hijau dengan panjang gelombang sekitar
530 nm, dan merah dengan panjang gelombang 560 nm.
Variasi sensitivitas warna pada sel cone
TERIMA KASIH