Você está na página 1de 14

ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF PADA NY K UMUR 21 TAHUN DI DESA TRIMULYA

WILAYAH KERJA PUSKESMAS TAMBARANA


KABUPATEN POSO

LAPORAN TUGAS AKHIR


Diajukan sebagai salah satu syarat menyelesaikan pendidikan Ahli Madya
Kebidanan pada Program Studi Diploma III Kebidanan Poso
Politeknik Kesehatan Kemenkes Palu

OLEH :
DIANA ARI YUDHANTI
PO 0224 214 006

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLTEKKES KESEHATAN PALU PRODI
D III KEBIDANAN POSO
TAHUN 2017
Pada kunjungan ini ibu mengeluh sering buang air kecil ini didukung dengan pola minum ibu
dalam sehari yang lebih banyak dari yang dibutuhkan dan karena pengaruh uterus ibu yang
semakin membesar. Menurut (Kemenkes RI, 2016) Pemenuhan kebutuhan minum ibu hamil
adalah 10 gelas perhari. Secara teori, ibu yang memasuki trimester III dan mengeluh sering
kencing masih dikatakan fisilogis karena keluhan sering berkemih disebabkan oleh
tertekannya kandung kemih oleh uterus yang semakin membesar dan menyebabkan kapasitas
kandung kemih berkurang serta frekuensi berkemih meningkat (Rukiah, dkk, 2013). Setelah
dilakukan anamnese, peneliti melanjutkan pengkajian dengan melakukan pemeriksaan fisik
secara head to toe, Pada saat pemeriksaan head to toe , peneliti tidak menemukan adanya
kelainan dan hasil yang didapat dalam batas normal, peneliti mendapatkan kesenjangan dalam
pemeriksaan head to toe, peneliti tidak melakukan pemeriksaan genetalia dan pemeriksaan
anus, dikarenakan tidak ada keluhan yang ibu alami seperti pengeluaran darah pervaginam,
keputihan yang berbau dan gatal, tidak ada keluhan nyeri setelah ibu buang air besar dan
tidak ada benjolan pada anus
 Pada kunjungan pertama peneliti melakukan pengukuran tinggi fundus uteri (TFU) dari
simfisis ke fundus uteri Leopold I TFU 3 jari di bawah Px 30 cm teraba lebar, lunak dan
tidak melenting presentasi bokong, Leopold II teraba keras lebar dan panjang disebelah
kiri abdomen ibu, kanan abdomen ibu teraba bagian – bagian kecil janin, presentasi
punggung kiri. Leopold III teraba bulat,keras, dan melenting presentasi kepala, Leopold
IV kepala sudah masuk di pintu atas panggul, tidak ada nyeri tekan dengan Tafsiran
Berat Janin (TBJ) 2945 gram.
 Setelah menganamnese dan melakukan pemeriksaan fisik pada ibu, peneliti memberikan
Healt Education (HE) atau pendidikan kesehatan sesuai dengan kebutuhan ibu.
Menjelaskan bahwa keluhan yang dirasakan ibu adalah normal, dan telah diberi anjuran
untuk 2 – 3 jam sebelum tidur tidak minum, selain itu kosongkan kandung kemih
sebelum berangkat tidur dan menganjurkan ibu untuk tetap minum lebih banyak pada
siang hari (Romauli, dalam sari, dkk).
 satu minggu setelah kunjungan pertama, peneliti melakukan kunjungan ulang, yakni
pada tanggal 14 Mei 2017 pukul 10.00 WITA usia kehamilan ibu saat ini adalah 37
minggu 1 hari. Pada kunjungan kedua ini, ibu mengatakan masih sering buang air kecil,
tetapi tidak mengganggu tidur ibu pada malam hari. He yang diberikan
 HE yang diberikan untuk selalu menjaga kebersihan daerah kewanitaannya salah satunya
dengan sering mengganti pakaian dalam ketika basah dan saat cebok membasuh daerah
kewanitaan dari depan ke belakang untuk menghindari kuman dari anus berpindah ke
vagina. Anjuran ini sudah sesuai dengan teori menurut (Romauli dalam sari, dkk, 2015).
 Pada kunjungan ketiga, ibu masih sering buang air kecil. Ibu merasa sesak saat
berbaring dan saat duduk terlalu lama, sesak yang di rasakan ibu sudah 3 hari.
Penatalaksanaan yang diberikan menjelaskan bahwa sesak yang dialami ibu bersifat
normal dikarenakan perut ibu yang sudah semakin membesar menekan diafragma
sehingga ibu merasa sesak (sari, dkk, 2015).
 Pemeriksaan yang dilakukan penulis adalah pemeriksaan TTV, palpasi, auskultasi DJJ,
pengukuran berat badan , Hasil palapasi yang didapatkan adalah Leopold I: teraba 2 jari
di bawah px (TFU: 31 cm), Leopold II: sebelah kanan teraba bagian kecil janin dan
sebelah kiri teraba punggung janin, Leopold III: teraba Presentasi Kepala, Leopold IV:
sudah masuk PAP, TBJ: 3100 gram. Ini menandakan bahwa terjadi peningkatan TFU 1
cm dan TBJ 155 gram. Auskultasi DJJ 145 x/menit dan ini masih dalam batas normal.
 peneliti memberikan beberapa HE sesuai dengan keluhan dan kebutuhan ibu. Untuk
mengatasi keluhan sesak nafas menganjurkan pada ibu jika ibu merasa sesak dalam
posisi duduk menganjurkan ibu untuk merentangkan tangan di atas kepala dan tarik
nafas dan mendorong postur tubuh yang baik, dan menganjurkan ibu saat berbaring
untuk melakukan posisi semi fowler posisi kepala lebih tinggi. (Romauli dalam Sari, dkk,
2015). Selain HE tersebut peneliti juga memberikan HE tentang pesiapan persalinan
 Pada kunjungan keempat ibu masih sering buang air kecil, dan sudah tidak merasa
sesak lagi. Ibu nyeri perut bagian bawah sejak 2 hari yang lalu sering di rasakan saat
duduk dan saat berjalan. Penatalaksanaan yang dilakukan menjelaskan pada ibu bahwa
keluhan nyeri perut bagian bawah bersifat normal, karena kepala bayi sudah semakin
turun (Rukiyah, dkk, 2013). menganjurkan pada ibu unuk mengurangi nyeri perut
bagian bawah seperti menarik nafas panjang dari hidung hembuskan perlahan melalui
mulut, dan saat rasa nyeri menyerang beristirahatlah dengan posisi berbaring (Romauli
dalam sari,dkk, 2015)

PERSALINAN
 Pada kunjungan pertama Ny K, tanggal 08 Mei 2017 dengan umur kehamilan 36 minggu
2 hari, peneliti menemukan tafsiran persalinan Ny K yaitu 03 juni 2017, akan tetapi
persalinan Ny K mengalami kemunduran sampai 7 hari sehingga persalinan Ny K tidak
sesuai dengan tafsiran persalinan. Ini merupakan kesenjangan. Menurut (WHO dalam
Damayanti, dkk, 2014) kehamilan dengan usia 37-42 minggu dengan tafsiran
persalinan yang tidak sesuai merupakan hal yang normal karena Ny K melahirkan
dengan usia kehamilan 41 minggu 1 hari.
 Pada pukul 24.00 WITA ibu merasakan sakit perut dan semakin sering tembus belakang,
Pada pukul 01.00 WITA suami Ny.K menghubungi peneliti mengatakan Ny K sudah sakit
perut hebat Tembus belakang , sudah di sertai pengeluaran lendir dan darah, peneliti
menganjurkan kepada suami untuk segara membawa ibu ke poskesdes, pada pukul
01.30 saat peneliti tiba di poskesdes peneliti melakukan pemeriksaan TTV, hasil
pemeriksaan dalam batas normal,selanjutnya peneliti melakukan pemeriksaan kemajuan
persalinan, hasil pemeriksaan didapatkan ketuban utuh pembukaan 8 cm, portio tipis
dan lunak, penurunan kepala HIII 2/5, tidak ada molase hasil His 4x dalam 10 menit,
dengan durasi 50 detik. Selanjutnya dilakukan observasi dan hasilnya terlampir dalam
lembar observasi partograf.

 Bagi sebagian ibu pada saat memasuki proses persalinan akan muncul perasaan takut,
khawatir ataupun cemas khususnya pada ibu primipara sehingga penulis memberi
asuhan sayang ibu seperti memberitahu hasil pemeriksaan, memberi dukungan pada ibu
dengan mendengarkan dan menanggapi kekhawatiran ibu, memegang tangan ibu,
membantu mengurangi rasa nyeri punggung dengan mengusap – usap punggung ibu
bagian bawah, membirakan ibu memilih pendamping persalinan, mengajarkan teknik
relaksasi dan mengedan, menganjurkan ibu tidur posisi miring kiri serta menganjurkan
ibu untuk makan dan minum agar ibu mempunyai tenaga pada saat proses persalinan.
Dalam kasus ini, penggunaan alat pelindung diri belum sesuai
dengan standar, karena peneliti hanya mengunakan masker dan
sarung tangan namun untuk tindakan pencegahan infeksi lainnya
sudah sesuai dengan teori yang ada.

2 jam kemudian tepatnya pukul 03.27 WITA ketuban pecah spontan


dengan warna jernih dan tidak berbau, pukul 03.30 WITA kemudian
peneliti melakukan pemeriksaan kembali dan hasilnya adalah his
sudah semakin sering dan kuat (durasi 50 – 55 detik, frekuensi 5x
dalam 10 menit, interval 1 menit dan DJJ 148 x/menit), pembukaan
sudah lengkap (10 cm), portio sudah tidak teraba, penurunan kepala
HIV atau 0/5 tidak ada penumbungan.
 dihitung dari pembukaan 8 cm sampai dengan 10 cm, kala I berlangsung selama 2 jam
dan ini masih dikatakan normal bagi ibu primigravida. . Menurut teori yang ada, fase
aktif, pada primigravida akan terjadi dengan kecepatan rata – rata 1 cm perjam, pada
umunya fase aktif berlangsung hampir atau hingga 7 – 8 jam (Indrayani dan Maudy,
2013).

 Memasuki kala II ini, peneliti memberitahu ibu dan keluarga bahwa sebentar lagi bayi
akan segera lahir, kemudian memastikan kelengkapan alat dan obat – obatan,
menggunakan APD, memposisikan ibu dengan posisi dorsal recumbent, dan melakukan
penyokongan saat kepala bayi tampak di vulva mebuka 5-6 cm, menolong keluarnya
kepala bayi dengan cara menyokong perineum. Setelah kepala bayi lahir mengusap
muka, hidung, mulut bayi menggunakan kassa. Tidak ada lilitan tali pusat dan kepala
bayi melakukan putaran paksi luar. Selanjutnya menolong keluarnya bahu bayi dan
seluruh tubuh bayi.

 tepatnya pukul 03.50 WITA ibu melahirkan seorang bayi perempuan yang lahir secara
spontan tanpa komplikasi maupun penyulit pada ibu maupun bayinya kala II
berlangsung 20 menit dari pembukaan lengkap sampai lahirnya bayi. menurut teori
yang ada lamaya kala II pada primigravida 60 - 120 menit dan multigravida 30 - 60
menit (Laiiliyana, dkk, 2012).
 Setelah itu mengeringkan bayi dari kepala dan seluruh tubuh kecuali telapak tangan
bayi, setelah itu priksa kembali uterus unttuk memastikan bayi tunggal, lalu suntik
oksitosin 2 menit setelah kelahiran bayi, kemudian klem, potong ikat tali pusat bayi,
mengganti kain yang basah, selanjutnya letakan bayi didada ibu untuk dilakukan IMD,
pada saat melakukan IMD peneliti tidak mengobservasi waktu berapa lama IMD
dilakukan, tetapi IMD berhasil dilakukan bayi menemukan dan menghisap putting susu
ibunya pada saat bayi berhasil menghisap sudah terjadi pengeluaran kolostrum yang
berwarna kuning dan sedikit kental. Pengeluaran darah di kala II sebanyak 70 cc.

 Memasuki kala III Sebelum melahirkan plasenta, peneliti memeriksa fundus uteri untuk
memastikan kehamilan ganda dan kontraksi uterus setelah itu menyuntikkan oksitosin
10 unit IM dalam waktu 2 menit setelah persalinan untuk merangsang kontraksi uterus.
Pukul 03.57 WITA peneliti melakukan peregangan tali pusat terkendali dengan cara
tangan kanan meregangkan tali pusat, tangan kiri mendorong uterus ke arah dorso
cranial , plasenta lahir lengkap dengan selaputnya pada pukul 04.05 WITA. pengeluaran
darah dikala III sebanyak 100 cc, untuk menentukan jumlah pengeluaran darah
penulis tidak melakukan pengukuran tetapi hanya memperkirakannya saja.

 Memasuki Kala IV, Ny. K senang dengan kelahiran bayinya dan masih merasa lelah. Dari
hasil pemeriksaan didapatkan hasil tanda – tanda vital dalam batas normal , kontraksi
uterus baik dan TFU 2 jari bawah pusat dan terdapat laserasi derajat 1. Asuhan yang
diberikan peneliti meliputi melakukan penjahitan, masase uterus untuk mencegah
perdarahan, memastikan kandung kemih kosong, membersihkan tubuh ibu dan
mengganti pakaian ibu, melakukan dekontaminasi alat dan tempat tidur ibu dengan
laruran klorin 0,5 %, membuang bahan yang terkontaminasi ke dalam tempat sampah
yang sesuai, mengajarkan ibu cara menyusui yang benar, menganjurkan pemenuhan
nutrisi, mobilisasi dan istirahat serta melakukan pemantauan kala IV.
 Pada kunjungan pertama keluhan yang dirasakan perut ibu masih terasa mules dan darah yang keluar
dari jalan lahir warna merah segar,ibu mengatakan terasa nyeri pada luka jahitan hasil pemeriksaan
yang didapat keadaan umum baik, tanda – tanda vital dalam batas normal, TFU 2 jari bawah pusat,
kontraksi baik Asuhan yang diberikan pada ibu yaitu mencegah perdarahan, pemberian ASI awal,
melakukan Bounding Attachment antara ibu dan bayi, menjaga kehangatan tubuh bayi, anjuran untuk
istirahat dan gizi ibu nifas, perawatan tali pusat, serta anjuran untuk menjaga kebersihan diri. Asuhan
tersebut sudah sesuai dengan teori kunjungan nifas 6 jam menurut (Nurjasmi, dkk, 2016).

 Pada kunjungan kedua luka jahitan ibu sudah kering dan tidak nyeri lagi, hasil pemeriksaan yang
dilakukan dalam batas normal. peneliti memberikan asuhan meliputi memastikan involusi uterus,
menilai tanda – tanda bahaya pada masa nifas, memastikan ibu menyusui dengan baik, serta
memastikan ibu asupan nutrisi tercukupi, dan istirahat yang cukup. Asuhan tersebut sudah sesuai
dengan teori kunjungan nifas 6 hari menurut (Nurjasmi, dkk, 2016).

 Pada kunjungan ketiga tidak ditemukan penyulit – penyulit selama masa nifas. Asuhan yang diberikan
sama dengan asuhan pada kunjungan kedua ditambah memberikan asuhan konseling KB secara dini.
 Kunjungan ke empat 6 minggu post partum adalah menayakan kepada ibu tentang penyulit – penyulit
yang ibu atau bayi alami. Memastikan ibu untuk memilih kontrasepsi efektif sesuai kebutuhan.
(Nurjasmi, dkk, 2016). Ibu memilih menggunakan KB suntik 3 bulan hasil pemantauan tidak ada
kesenjangan dengan teori, selama masa nifas Ny K tidak ada penyulit dan komplikasi.
Bayi Baru Lahir

 Setelah bayi lahir peneliti melakukan penilaian sepintas pada bayi dan
didapatkan hasil Apgar score 9/10, setelah itu bayi dikeringkan, memotong
tali pusat, mengganti kain yang basah, Inisiasi Menyusu Dini (IMD),
segera setelah proses IMD dan bayi selesai menyusu, 1 jam setelah lahir.
Pemberian salep mata antibiotik oxytetrasiklin 1%, pemberian vitamin K
Phytomenadione dilakukan pada 1 jam setelah bayi lahir, disuntikkan di paha
kiri secara intramuskular dengan dosis 1 mg, pemeriksaan fisik dalam batas
normal. imunisasi HB0 belum diberikan dikarenakan tidak tersedianya vaksin
HB0 pada saat itu.
Kunjungan pertama bayi umur 8 jam, bayi menyusu kuat, menangis kuat,
sudah BAB dan sudah BAK, ibu belum mengetahui tanda bahaya pada bayi,
dan ibu masih takut memandikan bayinya penatalaksanaan yang diberikan
peneliti menganjurkan ibu untuk menjaga kehangatan bayi,memberikan
penjelasan tentang tanda bahaya pada bayi, pemberian ASI eksklusif pada
bayinya dan memberikan ASI kepada bayinya secara on demand atau
menyusui tanpa jadwal.
 Pada kunjungan kedua bayi menyusu kuat BAK lancar, BAB 1 kali hasil pemeriksaan ttv
dalam batas normal, peneliti memandikan bayi, dan mempelihakan ibu cara memandikan bayi
dan perawatan tali pusat, setelah itu peneliti memberikan suntikan HB0 di paha kanan.

 Pada kunjungan ketiga peneliti melakukan penimbangan berat badan dan hasilnya berat badan
bayi naik menjadi 3000 gram, ini merupakan kesenjangan dengan teori. Kebanyakan bayi
baru lahir akan kehilangan 5% sampai 10 % berat badannya selama beberapa hari kehidupan
karena urin, tinja . Bayi cukup bulan akan memperoleh berat badannya seperti semula dalam
waktu 10 hari.

 Kunjungan keempat, bayi baru lahir 2 minggu hasil pemantauan keadaan bayi dalam keadaan
normal, tidak ada terjadi ikterus, bayi menyusui ASI sesuai dengan kebutuhan ditandai dengan
penambahan berat badan pada bayi sebesar 3200 gram. Kenaikan berat badan bayi masih
terbilang normal menurut teori (sukamti, dkk, 2009) umur bayi 0 – 6 bulan pertambahan berat
badan tiap minggu 140 – 200 gram. Perkembangan pada bayi sangat baik tidak ada tanda –
tanda bahaya pada bayi, pada asuhan bayi baru lahir sudah sesuai dengan teori dan tidak ada
kesenjangan dan hasilnya normal. Setelah melakukan pengkajian samapai evaluasi pada bayi
baru lahir mulai dari 8 jam, 6 hari, dan 14 hari menyimpulkan bayi dalam keadaan sehat tanpa
komplikasi apapun.
 Pada asuhan kebidanan keluarga berencana
terdapat kesenjangan dimana menurut teori
kemenkes, 2013 wanita dengan anak
pertama, dianjurkan untuk menggunakan alat
kontrasepsi minipil namun, klien memilih
menggunakan alternatif kedua yaitu suntik
progestin (suntik 3 bulan) dikarnakan ibu
takut lupa meminum kontrasepsi pil bila
menggunakan alat kontrasepsi minipil.