Você está na página 1de 27

LARYNGOPHARYNGEAL

REFLUKS DAN GASTROESOFAGEAL


REFLUKS DISEASE
dr. Erwi.Saswita/ dr. Irwandanon
Re : balik

Refluks

Fluere : aliran
Refluks Laring Faring/
Laryngopharyngeal Reflux
(LPR)

pergerakan asam lambung secara


retrograd menuju faring dan laring
serta saluran pencernaan atas.
Patofisiologi LPR
Refluks secara retrograd dari asam lambung
atau isinya seperti pepsin kesaluran
esofagus atas dan menimbulkan cedera
mukosa karena trauma langsung  terjadi
kerusakan silia yang menimbulkan
tertumpuknya mukus, aktivitas mendehem
dan batuk kronis  iritasi dan inflamasi
Anamnesis
• Suara serak
• Rasa tersangkut di tenggorok (globus
sensation)
• Mendehem (throat clearing)
• Batuk
• Rokok dan alkohol  92 % pada
penderita LPR
>13
Pemeriksaan Fisik

>7
Hipertrofi komissura posterior
Oedem aritenoid
Granuloma
Obliterasi Ventrikel
Pemeriksaan Penunjang

Laringoskop
24 hours double probe pH
monitoring
Endoskopi

Vidiostroboskopi

Histopatologi
Penatalaksanaan

Perubahan gaya
hidup

Medikamentosa

Operasi funduplikasi
Perubahan gaya hidup
• Hindari makanan berlemak, gorengan,
kopi, soda,
• Diet rendah atau bebas asam
• Hindari stress
Medikamentosa
• Omeprazole
• Pantoprazole
• Lansoprazole
Penyakit Gastroesofageal Refluk
(GERD) :

GERD merupakan gejala


penyakit yang kronis atau
kerusakan mukosa yang
disebabkan oleh kelainan refluk
isi gaster ke esofagus.

Insiden: 61 juta orang Amerika


atau 44% orang dewasa dari
populasi US yang
mengalami nyeri dada
setidaknya setahun sekali.
Gejala

Nyeri dada (heartburn)


Regurgitasi, terutama setelah banyak makan atau makan lemak. Gejala
biasanya dapat timbul setelah makan dan mungkin setelah 20 menit sampai 2
jam.

Disfagi.

Suara serak

Batuk

Odinofagia
Diagnosis

• Tes diagnostik dilakukan pada pasien dengan gejala


menetap.

Indikasi tes diagnostik :


1. Diagnosis yang tidak jelas.
2. Gejala yang berulang.
3. Terapi yang tidak adekuat.
4. Gejala yang tidak khas (nyeri dada, serak, batuk,
asma).
5. Gejala yang berhubungan dengan komplikasi
(perdarahan usus, penurunan BB yang tidak jelas,
disfagi, odinofagi).

Pemeriksaan Penunjang
Tes monitor pH ambulator selama 24 jam
merupakan diagnosis pasti dalam
menegakkan GERD

Tes barium diagnosis awal yang terbaik


dengan disfagi dan gejala reflukberguna
mengidentifikasi kelainan anatomi, seperti
hernia atau striktur.

Esofagoskopi evaluasi perlukaan


mukosa, esofagitis atau Barrett esofagus.
Penatalaksanaan
Modifikasi gaya hidup :
1. Tidur pada sisi kiri
2. Mengganjal kepala dengan bantal
3. Tidak telat makan atau posisi hiperekstensi kurang dari
3 jam setelah makan
4. Makan sedikit-sedikit dan perlahan
5. Tidak banyak makan lemak
6. Mengurangi penggunaan NSAID
7. Makan yang menstimulasi air liur (seperti permen,
permen karet)
8. Mengurangi berat badan
9. Mengurangi konsumsi alkohol, permen pedas, kopi dan
cokelat.
Farmakologi

Antagonis reseptor histamin-


2 (h2RA) h2RAs dapat
menghalangi produksi asam

Inhibitor pompa proton


(PPI).
Operasi

Tehnik endoskopik terbaru


dalam pengobatan GERD.

Radiofrekuensi ablasi sfingter bawah


esofagus (prosedur Stretta) berfungsi
untuk menambah bekas luka jaringan
untuk mengurangi relaksasi sfingter
bawah yang menetap.

Tehnik Endocinch, yang menempatkan jahitan di bawah


penyempitan esofageal untuk meningkatkan fungsinya.
GERD LPR
Symptoms
Heartburn Hoarseness
Regurgitation Dysphonia
Chest pain Excessive throat clearing
Dysphagia Globus
Nocturnal symptoms Morning symptoms
Signs
Esophagitis Interarytenoid edema
Hiatal hernia Pharyngeal cobblestoning
Barrett's esophagus (severe) Vocal cord ulcers, polyps, nodules

Treatment
Conservative therapy initially More aggressive therapy initially
Proton pump inhibitor therapy Proton pump inhibitor therapy

Treat for several months in most Minimum of 3 months of medical


cases therapy