Você está na página 1de 24

PRINSIP PEMASARAN SOSIAL

DALAM KOMUNIKASI KESEHATAN


DEFINISI PEMASARAN SOSIAL
• Pemasaran Sosial dapat diartikan sebagai perancangan,
penerapan, dan pengendalian program yang ditujukan
untuk meningkatkan penerimaan suatu gagasan atau
praktik tertentu pada suatu kelompok sasaran.

• Pada dasarnya pemasaran sosial tidak berbeda dengan


pemasaran komersial.

• Pemasaran sosial adalah penerapan konsep dan teknik


pemasaran untuk mendapatkan manfaat sosial. Ada
sedikit perbedaan antara pemasaran di bidang usaha
dengan pemasaran sosial.
Perbedaan pemasaran sosial dan bidang usaha antara
lain :
• Penggunaan produk sosial biasanya lebih rumit
daripada produk komersial, misalnya menggunakan
oralit tidak semudah meminum minuman bersoda.

• Produk sosial tidak cepat dirasakan.

• Saluran distribusi untuk produk-produk sosial lebih


sulit dikontrol karena biasanya menyangkut banyak
pihak.

• Konsumen biasanya tidak mampu, atau rawan


terhadap penyakit dan berpendidikan rendah.
PEMASARAN SOSIAL DALAM
KOMUNIKASI KESEHATAN
Pemasaran sosial adalah suatu bentuk disiplin
untuk mengembangan kegiatan komunikasi
kesehatan.
Dengan harapan mendapat kata yang tepat di
pakai untuk meyakinkan para masyarakat agar
berbuat seperti yang di anjurkan, tokoh yang akan
di pakai untuk menyampaikan pesan, saluran
komunikasi (langsung dan tidak langsung), dan
bagaimana memanfaatkan saluran komunikasi
tersebut sebaik-baiknya.
• Pemasaran sosial selalu di mulai dengan promosi
tentang sikap atau kepercayaan yang dikaitkan
dengan kesehatan. Kemudian di lakukan
penyampaian anjuran tentang produk atau
pelayanan dengan petunjuk cara pemakaian yang
efektif.

• Tujuan utamanya
adalah meningkatkan motivasi dan
membangkitkan kegiatan masyarakat,
perusahaan, agen atau pengecer serta untuk
meningkatkan potensi kemandirian masyarakat.
Inilah yang dijadikan ukuran keberhasilan
program pemasaran sosial.
UNSUR-UNSUR PEMASARAN SOSIAL
Produk (Product)
• Merupakan titik sentral dari kegiatan pemasaran.
Produk tidak selalu berbentuk benda yang bisa
dilihat dan diraba. Contoh produk dalam
pemasaran sosial kesehatan adalah oralit, bubuk
abate, dan lain-lain.

• Produk dalam pemasaran sosial kesehatan bisa


juga berbentuk jasa pelayanan kesehatan yang
dapat diberikan kepada masyarakat. Jasa tersebut
berupa pemeriksaan , penyuluhan kepada ibu
tentang asuhan kehamilan, cara mencuci tangan
yang benar, dan lain-lain.
Harga (Price)
Dalam penetapan harga / imbalan jasa harus
diperhatikan faktor-faktor berikut :
• Apakah konsumen atau pasien merasakan
keuntungan diperoleh dari harga yang harus
dibayar
• Kemampuan pasien untuk membeli produk
atau jasa yang ditawarkan
Tempat (Place)

• Tempat yang dimaksud adalah dimana


pelayanan kesehatan diperoleh misalnya di
puskesmas. Yang terpenting disini adalah
pelayanan kesehatan dapat diperoleh tempat
yang tepat menurut ketentuan kesehatan dan
waktu yang tepat yang perlu diperhatikan pula
kendala geografis dan transportasi atau
komunikasi.
Promosi (Promotion)
• Promosi adalah kegiatan memberikan
kesadaran kepada sasaran tentang kebutuhan
pelayanan kesehatan, sehingga masyarakat mau
datang atau memanggil petugas untuk
memberikan pelayanan kesehatan.
Konsumen (Consumer)

Konsumen dapat dipilih berdasarkan faktor yang


mempengaruhi yaitu status sosial,status ekonomi, tempat
tinggal, jenis kelamin, umur dan lain lain.
Kelompok sasaran meliputi :
• Sasaran primer atau utama adalah orang yang kita
harapkan berubah kebiasaannya misalnya ibu hamil,
penderita TBC, dan lain-lain.
• Sasaran sekunder adalah orang yang akan terlibat dalam
penyampaian pesan-pesan secara langsung misalnya
keluarga, kader posyandu, dan lain-lain.
• Sasaran tersier adalah orang yang terlibat secara tidak
langsung, namun dukungannya sangat diperlukan.
Contohnya, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan lain-lain.
LANGKAH-LANGKAH DALAM PEMASARAN
SOSIAL
Ada 14 langkah dalam mengembangkan kegiatan pemasaran sosial itu, yaitu:
1) Riset Formatif
2) Penyusunan Strategi
3) Menguji Coba Strategi
4) Menulis Arahan Kreatif dan Media
5) Menentukan Konsultan Kreatif dan Konsultan Media
6) Menyusun Peran dan Bahan serta Rencana Media
7) Menguji Bahan dan Pesan
8) Memperbaiki Bahan
9) Penyempurnaan Program
10) Memproduksi Bahan
11) Pengumpulan Data Dasar dan Evaluasi
12) Orientasi dan Pelatihan
13) Melaksanakan Kegiatan
14) Memantau dan Memperbaiki
1) Riset Formatif
Sebelum kita menganjurkan orang untuk
mengubah perilakunya, kita harus tahu dulu
bagaimana sekarang dan bagaimana sikapnya
terhadap perilaku yang kita anjurkan. Kita tidak
dapat hanya menduga atau memperkirakan
kedua hal tersebut. Kita harus menggalinya dari
mereka sendiri. Penggalian informasi yang
demikian dinamakan riset formatif, karena
dilakukan untuk menentukan format strategi
kegiatan.
2) Penyusunan Strategi
Strategi akan mencakup:
• Berbagai kelompok sasaran yang diperoleh dari penelitian
formatif dapat dibagi dalam 3 kelompok besar yaitu sasaran
primer, sasaran sekunder, dan sasaran tersier
• Berbagai perilaku yang diharapkan dari tiap kelompok sasaran.
• Sikap negatif terhadap perilaku yang diharapkan secara rinci.
• Pemecahan yang disarankan untuk mengatasi
hambatan tersebut.
• Kata-kata yang disarankan untuk dipakai guna
meyakinkan kelompok sasaran untuk melakukan apa yang
diharapkan.
• Berbagai saluran komunikasi yang ada untuk
analisis selanjutnya.
3) Menguji Coba Strategi
Setelah strategi disusun, kita kembali
mengunjungi kelompok sasaran primer untuk
menguji coba strategi tersebut pada mereka.

Dalam hal ini, petugas lapangan akan bekerja sama


dengan para tokoh masyarakat untuk menemukan
cara melakukannya sampai masyarakat tersebut
sepenuhnya puas dan setuju untuk
melaksanakannya. Petugas lapangan secara cermat
menulis cara-cara yang ditemukan untuk
meyakinkan masyarakat itu.
4) Menulis Arahan Kreatif dan Media
Arahan ini menyimpulkan tujuan dan maksud kegiatan,
gambaran rinci data ekonomi, sosial, dan geografis
daerah kegiatan serta daftar kelompok sasaran primer,
sekunder, dan tersier dan gambaran keadaan mereka.

Bahan komunikasi yang perlu dikembangkan mungkin


meliputi TV atau slide, bahan-bahan penyuluhan bagi
kader dalam bentuk kartu konsultasi, spanduk (yang
berguna untuk upaya promosi jangka pendek) atau
poster-poster (sebagai pengingat pesan-pesan
yang disampaikan media massa atau kader), dan lain
sebagainya.
5) Menentukan Konsultan Kreatif dan
Konsultan Media
Sangat disarankan untuk menggunakan ahli
kreatif dan ahli media, apakah itu orang yang
berpengalaman di bidangnya, lembaga
konsultan atau biro iklan untuk membuat
bahan-bahan media.
Bila media massa digunakan, perencanaan
media yang matang disertai pengalokasian
waktu dan pemantauan sangat diperlukan.
6) Menyusun Peran dan Bahan serta
Rencana Media
Para perencana kreatif dan perencana media
kini dapat menyajikan rancangan lengkap
semua bahan cetak, naskah untuk spot radio
dan bagaimana cerita untuk TV atau film.
Alasan tertulis untuk semua pesan dan ilustrasi
juga dikemukakan untuk membuktikan dan
memastikan bahwa strategi telah dimanfaatkan
sepenuhnya sebagai dasar penyusunan bahan-
bahan tersebut.
7) Menguji Bahan dan Pesan
Semua bahan sekarang diuji coba untuk memastikan
bahwa pesannya jelas, tidak membingungkan,
bisa dimengerti, dipercaya, sejalan dengan budaya, dan
bebas dari hal-hal yang negatif.

Tiap bahan media diuji coba pada wakil kelompok


sasaran yang dituju, bahan untuk memotivasi petugas
dan kelompok masyarakat diuji coba pada kelompok
yang mewakili, bahan-bahan penyuluhan
yang digunakan sebagai alai bantu kader diuji coba
pada kader. Hasil uji coba dipakai untuk
menyempurnakan semua bahan.
8) Memperbaiki Bahan
Bila diperlukan perubahan, uji coba ulang secara
informal dibutuhkan untuk memastikan bahan
perbaikan yang telah dibuat dapat diterima
kelompok sasaran.

Proses uji coba termasuk uji coba kegiatan dan


bahan pada sektor-sektor yang terkait, unit-unit
program di tingkat nasional dan provinsi
dan semua lembaga donor. Hal ini untuk
memastikan bahwa kegiatan di daerah panduan
tidak bertentangan dengan kebijakan program.
9) Penyempurnaan Program
Program pada akhirnya bisa disempurnakan. Bila
mungkin kesimpulan akhir perlu dibuat secara
tertulis dan bisa dilengkapi dengan slides untuk
penyajian dan koordinasi.

10) Memproduksi Bahan


Semua bahan yang sudah di perbaiki akan diperbanyak
dalam bentuk akhir.
11) Pengumpulan Data Dasar dan
Evaluasi
Pengumpulan data dasar dilaksanakan di daerah uji
coba dan daerah kontrol. Masa proyek sudah
ditentukan dan kegiatan evaluasi dijadwalkan.

12) Orientasi dan Pelatihan


Sebelum kegiatan dilaksanakan, kader dilatih dan
semua sektor serta kelompok masyarakat yang terlibat
juga dilatih atau diberi orientasi tentang peran mereka
13) Melaksanakan Kegiatan
Sebaiknya kegiatan pemasaran sosial dan
hubungan masyarakat langsung dilaksanakan
pada saat pencanangan. Misalnya, dalam
bentuk penyuluhan atau pencanangan oleh
kepala daerah yang dihadiri para pelaksana dan
instansi serta media yang terlibat. Bahan-bahan
luar ruang seperti spanduk, poster atau
papan iklan dipasang.
14) Memantau dan Memperbaiki
• Setelah dicanangkan, semua kegiatan
komunikasi harus dipantau untuk memastikan
bahwa pelaksanaannya seperti
yang diharapkan.

• Pemantauan harus dilakukan setiap 6 bulan.


Kegiatan pemantauan seharusnya lebih dalam
untuk menjaga efektivitas pesan yang di-
sampaikan.