Você está na página 1de 17

APBN, KEBIJAKAN FISKAL

DAN UTANG LUAR NEGERI


Definisi APBN
Rencana keuangan tahunan pemerintahan negara
Indonesia yang disetujui oleh DPR.

APBN berisi daftar sistematis dan terperinci yang


memuat rencana penerimaan dan pengeluaran negara
selama satu tahun anggaran (1 Januari - 31 Desember).

APBN, Perubahan APBN, dan Pertanggungjawaban


APBN setiap tahun ditetapkan dengan UU.
A. APBN
Fungsi APBN
- Di negara manapun juga, baik yang beraliran sosial
maupun berbasis kapitalis atau gabungan dari dua sistem
ekonomi tersebut, pemerintah mempunyai suatu peran
sangat penting di dalam kegiatan ekonomi nasional.
Walaupun dalam paraktiknya di banyak negara intervensi
pemerintah sangat luas, bahkan menguasai atau
memonopoli ekonomi seperti di Cina, Korea Utara,
Myanmar, dan Kuba, dimana jumlah perusahaan milik
negara (BUMN) jauh lebih banyak daripada perusahaan
swasta. Namun pada prinsipnya tugas pemerintah di
dalam ekonomi hanyalah sebagai stabilisator, fasilitator,
stimulator dan regulator, sedangkan pelaku ekonomi
sepenuhnya diserahkan kepada swasta.
A. APBN
Lanjutan Fungsi APBN.......
- Tugas pemerintah ini direalisasikan lewat berbagai macam
kebijakan, peraturan dan perundang-undangan dengan
tujuan untuk mendorong atau menggairahkan ekonomi
pada saat ekonomi sedang lesu dan mengerem laju
ekonomi pada saat sedang memanas( pertumbuhan
ekonomi rata-rata per tahun tinggi yang lebih didorong
oleh konsumsi yang mengancam meroketnya laju
inflansi), terutama untuk mencegah inflansi yang tinggi.
Dengan kata lain tugas pemerintah adalah untuk menjaga
stabilitas ekonomi sekaligus mendorong pertumbuhan
ekonomi pada tingkat tertentu yang menciptakan
kesempatan kerja penuh, yang berati mengurangi atau
menghilangkan pengangguran dan kemiskinan.
B. Komponen-Komponen APBN
- APBN mempunyai dua (2) komponen besar, yakni :
1. Anggaran pengeluaran pemerintah pusat, terdiri dari :
a. Pengeluaran pemerintah pusat
b.Pengeluaran pemerintah daerah. Mulai berlaku sejak
penerapan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal, yang
dapat dibagi menjadi dua komponen, yaitu:
a. Dana perimbangan, dan
b. Dana penyesuaian otonomi daerah
2. Anggaran pendapatan negara, terdiri dari:
a. Berbagai macam pajak
b.Retribusi
c. Royalti
d.Bagian laba BUMN
e. Berbagai pendapatan non-pajak lainnya.
kebijakan fiskal
kebijakan fiskal adalah kebijakan yang mengatur
penerimaan dan pengeluaran negara
Penerimaan negara di Indonesia terdiri dari pajak,
penerimaan di luar pajak, dan penerimaan lainnya
yang bersifat hibah
pengeluaran pemerintah pada dasarnya dibagi
menjadi dua kelompok, yaitu pengeluaran rutin
dan pengeluaran pembangunan.
C. Kebijakan Fiskal
- Kebijakan ekonomi makro secara garis besar dapat dibedakan
menjadi :
a. Kebijakan fiskal
b. Kebijakan moneter
- Sektor riil menghasilkan barang dan jasa (sisi produksi dari
ekonomi). Sektor ini dapat dibagi lagi menurut kelompok kegiatan
atau subsektor seperti pertanian, pertambangan, industri, dan lain-
lain. Sedangkan sektor moneter boleh dikatakan merupakan hasil
dari sektor riil dalam bentuk uang ( sisi moneter dari ekonomi).
-Pertumbuhan dan stabilitas sektor riil dipengaruhi oleh pemerintah
lewat kebijakan fiskal, dan di Indonesia kebijakan ini merupakan
tanggung jawab Menteri Keuangan. Sedangkan pertumbuhan dan
stabilitas sektor moneter dipengaruhi oleh pemerintah lewat
kebijakan moneter yang sepenuhnya adalah tanggung jawab Bank
Indonesia.
C. Kebijakan Fiskal
Di Indonesia kebijakan fiskal mempunyai dua prioritas,
yaitu :
1. Mengatasi APBN dan masalah-masalah APBN lainnya
seperti defisit APBN terjadi apabila penerimaan
pemerintah lebih kecil daripada pengeluarannya.
2.Mengatasi masalah stabilitas ekonomi makro, yang
terkait dengan antara lain laju pertumbuhan ekonomi,
tingkat atau laju pertumbuhan inflansi, jumlah
kesempatan kerja atau pengangguran dan saldo neraca
pembayaran.
C. Kebijakan Fiskal
Di Indonesia kebijakan fiskal mempunyai dua (2)
prioritas, yaitu:
Prioritas pertama adalah mengatasi APBN, dan
masalah-masalah APBN lainnya. Seperti defisit APBN
terjadi apabila penerimaan pemerintah lebih kecil
daripada pengeluarannya.
Prioritas kedua adalah mengatasi stabilitas ekonomi
makro, yang terkait antara lain laju pertumbuhan
ekonomi, tingkat atau laju pertumbuhan inflansi,
jumlah kesempatan kerja atau pengangguran dan
saldo neraca pembayaran.
C. Kebijakan Fiskal
- Mekanisme kerja dari pengaruh kebijakan fiskal terhadap ekonomi akan
mudah dipahami dalam konteks ekonomi makro dengan bantuan
sebuah model ekonomi tertutup (tanpa hubungan ekonomi luar
negeri) yang sderhana dari Keynes terdiri dari sejumlah persamaan
berikut :
Y = C + I + G (7.1)
C = cYd + Ca (7.2)
S = s.Yd; s = ( 1-c) (7.3)
Yd = Y – T (7.4)
T = tY (7.5)
I = Ia (7.6)
G = Ga (7.7)
S = I (7.8)
T = G (7.9)
C. Kebijakan Fiskal
-Persamaan (7.1) adalah definisi pendapatan nasional. Pada saat
permintaan agregat (AD) sama dengan penawaran agregat
(AS), atau pada saat ekonomi domestik tertutup seimbang,
nilai dari pendapatan nasional (GDP) sama dengan nilai total
dari konsumsi swasta (C), pembentukan modal tetap bruto
atau investasi (I) dan pengeluaran pemerintah (G).
-Persamaan (7.2) menggambarkan fungsi konsumsi, di mana
nilai konsumsi ditentukan oleh pendapatan bersih setelah
dikurangi pajak (Yd) dan konsumsi otonom (Ca), yakni bagian
dari konsumsi yang ditentukan di luar model, atau tidak
dipengaruhi oleh tingkat atau perubahan pendapatan.
Koefisien c (suatu persentase) menandakan bhawa tidak semua
pendapatan digunakan untuk konsumsi. Artinya, sisa dari
pendapatan atau (1-c) adalah tabungan (S) seperti persamaan
(7.3).
C. Kebijakan Fiskal
-Persamaan (7.4) adalah pendapatan bersih setelah
dikurangi pajak
-Persamaan (7.5) mencerminkan pendapatan pemerintah
dari pajak yang ditentukan oleh tingkat pendapatan (dari
wajib pajak), juga oleh besarnya tarif pajak (t).
-Persamaan (7.6) adalh investasi yang sifatnya otonom.
-Persamaan (7.7) adalah pengeluaran pemerintah yang juga
sifatnya berdiri sendiri, tidak ditentukan oleh model
(ekonomi) tetapi oleh kebijakan fiskal, dan dua persamaan
terakhir mencerminkan keseimbangan ekonomi domestik
tertutp, yakni pada saat dana tabungan sama seperti dana
yang dibutuhkan untuk investasi di dalam negeri persamaan
(7.8) dan jumlah pemasukan pajak sama dengan jumlah
pengeluaran pemerintah pada persamaan (7.9)
D. Utang Luar Negeri (ULN)
1.Penyebab Utama: Suatu Perspektif Teori
-Sejak krisis ULN (utang luar negeri) dunia pada awal 1990-
an, masalah ULN yang dialami oleh banyak negara-negara
tidak semakin baik. Banyak NB semakin terjerumus ke
dalam krisis ULN sampai negara-negara pengutang besar
terpaksa melakukan program-program penyesuaian
struktural terhadap ekonomi mereka atas desakan dari Bank
Dunia dan IMF., sebagai syarat utama untuk mendapatkan
pinjaman baru atau pengurangan terhadap pinjaman lama.
Bahkan Indonesia sudah beberapa kali nyaris terjerumus ke
krisis ULN yang serius sejak era Orde Lama hingga krisis
keuangan Asia tahun 1997-1998. Pada saat kiris tersebut,
Indonesia mendapat bantuan yang besar dari IMF yang
akhirnya bisa dilunasi setelah beberapa tahun kemudian.
D. Utang Luar Negeri (ULN)
- Tingginya ULN dari banyak NB disebabkan terutama
oleh tiga jenis defisit: (1) defisit transaksi berjalan (TB)
atau tanpa melihat komponen lainnya dari TB. (2)
defisit neraca perdagangan (dalam litelatur umum
disebut trade gap), yakni ekspor (X) lebih sedikit
daripada impor (M), (2) defisit investasi , yakni dana
yang dibutuhkan untuk membiayai investasi (I) di
dalam negeri lebih besar daripada tabungan nasional
atau domestik (S), dan defisit fiskal.
D. Utang Luar Negeri (ULN)
- Dari ketiga faktor-faktor tersebut, defisit TB atau transaksi
berjalan banyak disebut dalam litelatur sebagai penyebab
utama membengkaknya ULN dari banyak NB. Besarnya
defisit TB melebihi surplus neraca modal (CA), (kalau
saldonya memang posistif) mengakibatkan defisit neraca
pembayaran (BoP), yang berati cadangan devisa (CD)
berkurang. Apabila saldo TB setiap tahun negatif, maka CD
dengan sendirinya akan habis juka tidak ada sumber-
sumber lain (misalnya modal investasi dari luar negeri),
seperti yang dialami negara-negara paling miskin di benua
Afrika. Padahal, devisa sangat dibutuhkan terutama untuk
membiayai impor barang-barang modal dan pembantu
untuk kebutuhan kegiatan produksi di dalam negeri.
D. Utang Luar Negeri (ULN)
- Defisit TB yang terjadi terus menerus membuat banyak
NB harus tetap bergantung pada pinjaman luar negeri
(PLN), terutama negara-negara yang kondisi ekonomi
doemstiknya tidak menggairahkan investor-investor
asing (karena berbagai alasan seperti tidak ada
kepastian hukum dan keamanan, infrastruktur buruk,
kebijakan ekonomi termasuk perdagangan luar negeri
yang protektif, kualitas SDM yang rendah, politik yang
tidak stabil, dan lainnya), sehingga sulit bagi negar-
negara tersebut untuk mensubstutusikan PLN dengan
investasi, misalnya dalam bentuk penanaman modal
asing (PMA).
D. Utang Luar Negeri (ULN)
- Sejak pemerintahan Orde Baru hingga saat ini, tingkat
ketergantungan Indonesia pada Utang Luar Negri
(ULN) tidak pernah menyurut, bahkan mengalami
suatu akselerasi yang pesat sejak krisis ekonomi 1997-
1998, karena pada periode tersebut pemerintah
Indonesia terpaksa membuat utang baru alam jumlah
yang besar dari IMF untuk membiayai pemulihan
ekonomi. Pada masa normal selama pemerintahan
Soeharto, ULN dibutuhkan teritama untuk membiayai
defisit investasi, defisit TB (utang berjalan), dan
beberapa komponen dari sisi pengeluaran pemerintah
di dalam APBN.