Você está na página 1de 46

ANALGETIK

DEFINISI

• Analgetik atau obat penghalang nyeri adalah


zat-zat yang mengurangi atau
menghilangkan rasa nyeri tanpa
menghilangkan kesadaran.
• Nyeri adalah : perasaan sensoris dan
emosional yang tidak enak dan berkaitan
dengan (ancaman) kerusakan jaringan. Nyeri
merupakan perasaan pribadi dengan ambang
toleransi berbeda-beda tiap orang, juga
merupakan gejala gangguan jaringan,
sehingga nyeri dianggap sebagai isyarat
bahaya yang berfungsi melindungi tubuh.
NYERI (PAIN)
• Nyeri disebabkan oleh rangsangan
mekanik, kimiwai, atau fisis dan infeksi
yang dapat menyebabkan kerusakan
jaringan.
• Rangsangan tersebut memicu pelepasan
zat-zat tertentu yang disebut mediator
nyeri yang mengaktivasi reseptor nyeri
diujung-ujung saraf bebas kulit, mukosa
dan jaringan-jaringan lain diseluruh tubuh
(kecuali otak).
• Rangsangan disalurkan ke otak melalui
sum-sum tulang belakang dan otak tengah
(thalamus), impuls kemudian diteruskan
kepusat nyeri di otak besar, dimana impuls
dirasakan sebagai nyeri.
Phospholipid
PROSTAGLANDIN
1. Prostaglandin A – F (Pg A – Pg F) yang dibentuk dalam semua jaringan.
• Zat ini berefek vasodilatasi dan meningkatkan permeabilitas dinding pembuluh dan
membrane sinoveal sehingga terjadi radang dan rasa nyeri juga merangsang reseptor nyeri
sehingga efek dari imediator lain (histamine, bradykinin dan lain-lain) diperkuat.
• PG E2 terdapat dalam kadar tinggi pada mukosa usus

2. Prostacyclin (Pg I2) dibentuk terutama pada dinding pembuluh.


• Berdaya vasodilatasi (bronchi, lambung, rahim dan lain-lain) memiliki efek protektif terhadap
mukosa lambung.

3. Tromboxan (Tx A2, Tx B2) khusus dibentuk dalam trombosit bekerja vasokontriksi (di
jantung) dan menstimulasi agresi pelat darah (trombotis).
• Dalam otak, prostaglandin dibentuk sebagai reaksi terhadap zat-zat pirogen yang berasal dari
bakteri (infeksi) prostaglandin ini menstimulasi pusat regulasi suhu di hipotalamus dan
menimbulkan demam.
• Dirahim, prostaglandin menimbulkan kontraksi dengan terjadinya iskemia otot rahim yang
menimbulkan nyeri hebat keadaan ini timbul selama gangguan haid (dysmenorrea primer)
dimana kadar prostaglandin di endometrium meningkat akibat reseptor nyeri dirahim
disensabilitasi yang menyebabkan kontraksi berlebihan dan nyeri hebat mirip kolik, dapat
juga menyebabkan pusing (nyeri kepala), nause, muntah dan diare.
• Penggunaan berdasarkan daya kontraksi dirahim, prostaglandin digunakan untuk
menginduksi persalinan, contoh : dinoprost = Pg F2, proston Pg E2.
Leukotrien
• Senyawa sulfidopeptida ini dibentuk sebagai hasil metabolisme asam
arachidonat yang merupakan mediator radang dan nyeri. Melalui rute
lipoxygenase terbentuk LT A yang tidak stabil diubah menjadi LT B, LT C
dan LT D yang dapatb dirubah lagi menjadi LT E

• Asam arachidonat → asam hidroperoksida → LTA → LTB



LTC → LTD → TLE

• Selain pada rema leukotrien memegang peranan pada proses peradangan


alergi dan asma dan pada patogenesis penyakit kulit. LTC, LTD dan LTE
berkhasiat vasokontriktif di bronchus dan mukosa lambung. LTB khusus
disintesa di makrofag dan netrofil alveolar dan bekerja chemotactics yaitu
menstimulasi migrasi leukosit dengan jalan meningkatkan mobilitas dan
fungsinya, leukosit akan tertarik oleh leukotrien pada daerah radang.
Transmisi Saraf Nyeri
Nociceptors : reseptor ujung saraf bebas yang
ada di kulit, otot, persendian, viseral dan
vaskular.
Nosiseptor-nosiseptor ini bertanggung jawab Perceived pain
terhadap kehadiran stimulus noksius yang
berasal dari kimia, suhu (panas, dingin), atau
perubahan mekanikal.
Pada jaringan normal, nosiseptor tidak aktif
sampai adanya stimulus yang memiliki energi
yang cukup untuk melampaui ambang batas
stimulus (resting) Descending Ascending
Noxious modulation input
stimuli

Nociceptive afferent fiber


Spinal cord
Transmisi Nyeri (Pain Transmission)

Pain

COX-2
Descending
modulation Dorsal Horn

Ascending Dorsal root


input ganglion

COX-2
Spinothalamic Peripheral
tract nerve

Trauma
Peripheral
nociceptors

Adapted from Gottschalk A et al. Am Fam Physician. 2001;63:1981, and Kehlet H et al. Anesth Analg. 1993;77:1049.
Rangsangan Nyeri

Perceived pain

Ascending Descending
input modulation

Tissue
damage Spinal cord Peripheral
nerve

Activation of
local nociceptors
Tramadol+
APAP
1. ANALGETIK OPIOID
• Analgetik opioid (mirip opiate) adalah zat yang bekerja terhadap reseptor
opioid khas (μ opioid Receptor) di SSP sehingga persepsi nyeri dan respon
emosional terhadap nyeri berubah (dikurangi).
ANALGETIK OPIOID

• Tubuh mensintesa zat-zat opioid sendiri yaitu zat


endomorfin merupakan kelompok Polipeptida endogen
terdapat pada CCS, menimbulkan efek seperti morfin.
Zat-zat ini dibedakan menjadi β endorphin, dynorfin
dan enkefalin (enkefalos = otak) yang menduduki
reseptor berlainan secara kimiawi, zat-zat ini
berhubungan dengan kortikotropin, somatropin, dan
prolaktin.
• Pengunaan terus menerus dapat menstilmulasi
pembentukan reseptor-reseptor baru dan produksi
endorphin diujung saraf otak dirintangi.
Penggolongan
Berdasarkan cara kerjanya Analgetik
Opioid dibagi 3 kelompok :
1. Agonis Opiate : alkaloid candu : Morfin,
Kodein, Heroin, Nicomorfin.
sintesis : Metadon, dan derivatnya.
Cara kerjanya sama dengan morfin hanya
berbeda potensi lama kerja, efek samping
dan resiko kebiasaan dan ketergantungan
fisik.
2. Antagonis opiate : Nalokson, Nalorfin,
Pentozosin, Buprenorfin, Nalbifer.
3. Kombinasi : Zat-zat ini mengikat reseptor
opioid tapi tidak mengaktivasi kerjanya
dengan sempurna.
Mekanisme Kerja
• Endorfin menduduki reseptor-reseptor nyeri
di SSP, analgetik opioid menduduki reseptor-
reseptor sisa yang tidak diduduki endorfin.
• Terikatnya opioid pada reseptor menghasilkan
pengurangan masuknya ion Ca2+ ke dalam sel,
selain itu mengakibatkan pula hiperpolarisasi
dengan meningkatkan masuknya ion K+ ke
dalam sel. Hasil dari berkurangnya kadar ion
kalsium dalam sel adalah terjadinya
Efek samping Umum

• Supresi SSP : sedasi menekan pernafasan dan


batuk, miosis, hipotermia, perubahan suasana
jiwa, stimulasi pada CTZ → mual dan
muntah.
• Saluran cerna : motilitas berkurang (obstivasi)
• Saluran urogenital : retensi urine
• Saluran nafas : bronchokontriksi, nafas
dangkal, frekuensi turun.
• Sistem sirkulasi : vasodilatasi, hipertensi
• Histami liberator : stimulasi, pelepasan
histamine, → urtikaria, gatal-gatal.
• Kebiasaan dan adiksi.
Antagonis Morfin
• Adalah zat yang dapat melawan efek-
efek samping opioid tanpa
mengurangi kerja analgetiknya,
digunakan terutama pada overdose
dan intoksikasi. Khasiatnya
berdasarkan pergeseran opioid dari
reseptor-reseptornya diotak.
• Efek analgetiknya lebih lemah, efek
samping mirip morfin (depresi
pernafasan, reaksi psikotis).
• Obat-obat yang terkenal : nolakson,
naltrekson, dan nalorfin.
OBAT OPIOID
1. Morfin
Candu atau opium adalah getah yang dikeringkan
dan diperoleh dari tumbuhan Papaver somniferum
(Lat : menyebabkan tidur), mengandung dua
kelompok senyawa yang secara kimiawi sangat
berlainan yaitu fenantren dan isokinolin. Morfin
berkhasiat analgetik sangat kuat, menimbulkan
beberapa jenis kerja sentral lainnya, diantaranya
sedatif, hipnotik, menimbulkan euforia, menekan
pernapasan dan menghilangkan refleks batuk.
Semuanya berdasarkan supresi susunan saraf pusat
(SSP).
• Antidotum morfin sebagai antagonisnya adalah
Nalokson
• Heroin (diamorfin, Diasetil morfin) adalah turunan
morfin dengan kerja analgetik 2 x lebih kuat, tetapi
mengakibatkan adiksi yang cepat dan hebat,
sehingga heroin tidak digunakan dalam pengobatan
2. Kodein (metil morfin)

• Memiliki khasiat yang sama dengan


induknya, tetapi lebih lemah, efek
analgetiknya 6-7 kurang dari morfin.
Efek samping dan resiko adiksi lebih
ringan sehingga lebih sering
digunakan untuk obat batuk dan
antinyeri yang diperkuat dengan
penambahan parasetamol.

• Etil morfin (dionin) : khasiat analgetik


dan hipnotis lebih lemah,
penghambatannya terhadap
pernapasan lebih ringan. Menekan
batuk lebih lemah dibanding Kodein.
• Noskapin (narkotin) : alkaloid candu
tanpa sifat narkotis, yang lebih efektif
sebagai obat batuk.
3. Kanabis : (Marihuana, hashiz)
• Pucuk dengan kembang dan buah-buah
muda yang dikeringkan dari tumbuhan
Cannabis sativa dengan kandungan
tetrahidrokarbinol yang berkhasiat
sedatif, hipnotis dan analgetik, antimual
dan spasmolitis.

• Sering disalahgunakan sebagai “drug”.


Akhir-akhir ini mulai digunakan sebagai
antiemetik dan analgetik pada kanker,
stimulans nafsu makan pada penderita
AIDS dan obat relaksan kejang /otot.
OPIOID SINTETIK
4. Fentanil dan Sufentanil
• Merupakan turunan petidin yang jarang digunakan karena efek samping dan
adiksinya. Efek analgetiknya 80 x lebih kuat dari morfin, mulai kerja cepat
(2-3 menit) iv, tetapi singkat hanya 30 menit. Digunakan pada anestesi dan
infark jantung, juga pasca bedah.
5. Metadon
• Adalah zat sintetis yang memiliki daya analgetik 2 x lebih kuat dari morfin
dan berkhasiat anestetik lokal. Umumnya metadon tidak menimbulkan
euforia sehingga banyak digunakan untuk menghindari gejala abstinensia
setelah penghentian penggunaan opioid, khususnya digunakan sebagai obat
pengganti heroin dan morfin. Efek sampingnya kurang hebat dibanding
morfin, terutama efek hipnotis dan euforianya lemah, tetapi dapat bertahan
lama. Penggunaan lama dapat menimbulkan adiksi tetapi lebih mudah
disembuhkan.
6. Dekstromoramida
• Opioid sintetik yang rumusnya mirip metadon. Khasiat analgetiknya sedikit
lebih kuat dari morfin. Depresi pernapasan dan efek adiksinya lebih kuat
dibanding morfin.
ANTAGONIS OPIOID
7. Nalokson
Zat ini dapat meniadakan semua khasiat morfin dan
opioid lainnya,terutama depresi pernapasan tanpa
mengurangi efek analgetiknya. Penggunaan sebagai
antidotum pada overdose opioid dan barbital, pasca
operasi untuk mengatasi depresi pernapasan oleh
opioid. Efek samping berupa tachycardia (setelah
bedah jantung), kadang kadang reaksi alergi.

8. Nalorfin : digunakan pada overdosis opioid bila obat


lain tidak ada karena dapat mengakibatkan depresi
pernapasan ringan.

9. Naltrekson : bersifat antagonis murni yang tidak


mengakibatkan toleransi atau ketergantungan fisik
dan psikis. Penggunaannya terutama untuk
menghambat efek-efek opioid berdasarkan
pengikatan secara kompetitif pada reseptor opioid
dan sebagai obat ketagihan heroin. Obat ini diberikan
setelah penghentian heroin/morfin atau metadon
sekurang-kurangnya masing-masing 7 dan 10 hari.
2. Analgesik Perifer/ Nonopioid
(Non Opioid Analgetik)
Analgesik Perifer/ Nonopioid
(Non Opioid Analgetik)
• Obat-obatan dalam kelompok ini memiliki target aksi pada
enzim, yaitu enzim siklooksigenase (COX). COX berperan
dalam sintesis mediator nyeri, salah satunya adalah
prostaglandin. Mekanisme umum dari analgetik jenis ini
adalah mengeblok pembentukan prostaglandin dengan jalan
menginhibisi enzim COX pada daerah yang terluka dengan
demikian mengurangi pembentukan mediator nyeri .
Mekanismenya tidak berbeda dengan NSAID dan COX-2
inhibitors.

• Efek samping yang paling umum dari golongan obat ini adalah
gangguan lambung usus, kerusakan darah, kerusakan hati dan
ginjal serta reaksi alergi di kulit.
• Efek samping biasanya disebabkan oleh penggunaan dalam
jangka waktu lama dan dosis besar.
A. ANALGETIK ANTIPIRETIK

• Analgetik atau obat-obat penghilang nyeri adalah


zat-zat yang mengurangi atau melenyapkan rasa
nyeri tanpa menghilangkan kesadaran.
• Antipiretik adalah zat-zat yang dapat mengurangi
suhu tubuh atau obat untuk menurunkan panas.
Hanya menurunkan temperatur tubuh saat panas
tidak berefektif pada orang normal. Dapat
menurunkan panas dengan cara menghambat
produksi prostaglandin di hipotalamus anterior (yang
meningkat sebagai respon adanya pirogen endogen).
B. ANALGETIK ANTIINFLAMASI

• Inflamasi adalah suatu respon jaringan terhadap


rangsangan fisik atau kimiawi yang merusak.
• Rangsangan ini menyebabkan lepasnya mediator
inflamasi seperti histamin, serotonin, bradikinin,
prostaglandin dan lainnya yang menimbulkan reaksi
radang berupa panas, nyeri, merah, bengkak, dan
disertai gangguan fungsi
Mekanisme Kerja NSAIDs dan Kortikosteroida
• Cara kerja NSAIDs sebagian besar berdasarkan hambatan
sintesa prostaglandin, dimana kedua jenis COX di blokir
NSAIDs yang ideal hendaknya hanya menghambat COX-2
(peradangan) dan tidak terhadap COX-1(Pelindung mukosa
lambung)
• Terdapat 3 obat dengan kerja agak selektif (lebih kuat
menghambat COX-2 daripada COX-1) yaitu : Nabumeton,
Meloxicam dan Celecoxib.
• Obat-obat antagonis leukotrien yang masih dikembangkan
contohnya ; Lipoxigenase bloker zileuton dan leuketrien reseptor
bloker : Montelukast, Pranlukast dan Zafirlukast
• Cara kerja kortikosteroid : menghambat posfolifase sehingga
pembentukan baik prostaglandin maupun leukotrien dihalangi
efeknya terhadap gejala rema lebih baik dari pada NSAIDs.
Tetapi efek sampingnya lebih berbahaya.
Obat Analgesik Non-opioid
a. Salicylates
• Contoh Obatnya : Aspirin, mempunyai kemampuan menghambat biosintesis
prostaglandin. Kerjanya menghambat enzim siklooksigenase secara
ireversibel, pada dosis yang tepat,obat ini akan menurunkan
pembentukan prostaglandin maupun tromboksan A2 , pada dosis yang biasa
efek sampingnya adalah gangguan lambung( intoleransi ).Efek ini dapat
diperkecil dengan penyangga yang cocok ( minum aspirin bersama makanan
yang diikuti oleh segelas air atau antasid).

b. p-Aminophenol Derivatives
• Contoh Obatnya : Acetaminophen (Tylenol) adalah metabolit dari
• fenasetin. Obat ini menghambat prostaglandin yang lemah pada jaringan
perifer dan tidak memiliki efek anti-inflamasi yang bermakna.Obat ini
berguna untuk nyeri ringan sampai sedang seperti nyeri kepala,mialgia,nyeri
pasca persalinan dan keadaan lain.efek samping kadang-kadang timbul
peningkatan ringan enzim hati.
• Pada dosis besar dapat menimbulkan pusing,mudah terangsang, dan
disorientasi.
Obat Analgesik Non-opioid
lanjutan........
c. Indoles and Related Compounds
• Contoh Obatnya : Indomethacin (Indocin), obat ini lebih efektif daripada
aspirin, merupakan obat penghambat prostaglandin terkuat. Efek samping
menimbulkan efek terhadap saluran cerna seperti nyeri abdomen,diare,
pendarahan saluran cerna,dan pankreatitis serta menimbulkan nyeri kepala,
dan jarang terjadi kelainan hati.
d. Fenamates
• Contoh Obatnya : Meclofenamate (Meclomen) ,merupakan turunan asam
fenamat ,mempunyai waktu paruh pendek,efek samping yang serupa dengan
obat-obat AINS baru yang lain dan tak ada keuntungan lain yang melebihinya.
• Obat ini meningkatkan efek antikoagulan oral, dikontraindikasikan pada
kehamilan.
e. Arylpropionic Acid Derivatives
• Contoh Obatnya : Ibuprofen (Advil),Tersedia bebas dalam dosis rendah dengan
berbagai nama dagang.
• Obat ini dikontraindikasikan pada mereka yang menderita polip hidung ,
angioedema, dan reaktivitas bronkospastik terhadap aspirin.
• Efek samping : gejala saluran cerna.
Obat Analgesik Non-opioid Lanjutan.......

f. Pyrazolone Derivatives
• Contoh Obatnya : Phenylbutazone (Butazolidin) untuk pengobatan artristis rhematoid,
dan berbagai kelainan otot rangka. Obat ini mempunya efek anti-inflamasi yang kuat,
tetapi memiliki efek samping yang serius seperti agranulositosis, anemia
aplastik,anemia hemolitik,dan nekrosis tubulus ginjal.

g. Oxicam Derivatives
• Contoh Obatnya : Piroxicam (Feldene), obat AINS dengan struktur baru.
• Waktu paruhnya panjang untuk pengobatan artristis rhematoid, dan berbagai kelainan
otot rangka.
• Efek sampingnya meliputi tinitus , nyeri kepala,dan rash.

h. Acetic Acid Derivatives


• Contoh Obatnya : Diclofenac (Voltaren),obat ini adalah penghambat siklooksigenase
yang kuat dengan efek antiinflamasi,analgetik, dan antipiretik.
• Waktu parunya pendek. dianjurkan untuk pengobatan artristis rhematoid, dan berbagai
kelainan otot rangka.
• Efek sampingnya distres saluran cerna, perdarahan saluran cerna,dan tukak lambung.

i. Miscellaneous Agents
• Contoh Obatnya : Oxaprozin (Daypro), obat ini mempunyai waktu paruh yang panjang.
• Obat ini memiliki beberapa keuntungan dan resiko yang berkaitan dengan obat AINS
lain.
Efek samping penghambatan prostaglandin

• Efek ulcerogen : mual, muntah, nyeri lambung, tukak lambung-usus dan


pendarahan samar (occult) karena hambatan prostacyclin secara sistemik,
demikian juga pemberian supositoria/rektal.
• Gangguan fungsi ginjal : penghambatan sintesis Pg menyebabkan
berkurangnya perfusi dan laju filtrasi glomerulus dapat menyebabkan
nefritis, efek diuretik, dikurangi NSAIDs
• Agregasi trombosit dikurangi sehingga masa pendarahan diperpanjang
• Alergi kulit : nilam urtikaria (pada pemberian obat diklofenaksulfida.
• Bronchokontriksi, pada penderita asma yang hipersensitif terhadap
NSAIDs
• Efek sentral : nyeri kepala, pusing, tinismus (telinga berdengung), sukar
tidur dan lain-lain.
• Lain-lain : gangguan fungsi hati.

• Kontra indikasi
– NSAIDs tidak boleh diberikan pada penderita lambung dan asma
– NSAIDs tidak boleh diberikan pada wanita hamil selama triwulan terakhir
karena dapat memperlambat perslainan.
Reumatica (AR)
• Arthritis Reumatica (AR / rematik, rema) adalah penyakit
sendi kronis dan sistemis yang termasuk kelompok
gangguan autoimun, dimana antibody tubuh menyerang
dan merusak organ / jaringan sendiri.
• Penyakit diawali dengan masuknya antigen (karena
mikro organisme atau zat lain) dalam sirkulasi. Antigen
diperangkap oleh makrofrag tetapi tidak dimusnahkan
sehingga terbentuk antibody dari jenis Ig M yang
disebut factor rema.
• Antigen dan antibody bergabung menghasilkan suatu
imunokompleks yang menimbulkan reaksi peradangan.
Akibat penggabungan tersebut terjadi pelepasan zat-zat
chemotactic yang berdaya menarik leukosit tertentu
(neutrofil) ke daerah peradangan. Granulosit tersebut
memakan imunokompleks (fagocytose), lalu mati sambil
melepaskan enzim-enzim lysosomal, seperti protease,
glikoprotease dan fosfatase. Semua enzim-enzim ini
dapat merusak tulang rawan dan bahan dasar (tulang
matriks).
Reumatica (AR)
• Tulang rawan terdiri dari jaringan lebat
benang-benang kolagen kuat dengan
diantaranya molekul-molekul besar dari
proteoglycan yang dapat mengikat air.
• Proteoglycan adalah molekul-molekul besar
yang terdiri dari inti protein, tempat terikatnya
zat-zat glukosamino – glycan (GAG). Seperti
chondoitin sulfat (CS) dan keratin sulfat (KS)
yang berfungsi untuk memelihara kelenturan
dan melumasi tulang rawan.
• Bila tulang rawan mengalami kerusakan,
jaringan kuat ini pecah dan proteoglycan
dapat lolos. Akibatnya tulang rawan hilang
kekuatan dan fleksibilitasnya, kerusakan
umumnya tidak dapat diperbaiki lagi.
• Diagnosa : dapat dipastikan melalui foto x-ray
dan melalui tes darah adanya factor rema (Ig
M) dan menurunnya Hb.
Pengobatan
• Untuk mengurangi gejala nyeri, peradangan dan kekakuan digunakan analgetika
antiradang dan kortikosteroid.
• a. Analgetik antiradang NSAIDs
• Sangat berguna untuk mengatasi nyeri rema.
• Respon NSAIDs berbeda-beda pada tiap pasien. Obat diminum selama 1 minggu.
Penggunaan jangka panjang dianjurkan dengan tambahan suatu penghambat asam
lambung (Omeprenazol, Lansoprazol) atau zat pelindung mukosa lambung
(Misopristol).
• b. Kortikosteroid
• Sangat efektif tetapi sering mengakibatkan efek samping dan terapi sukar dihentikan,
sehingga digunakan untuk penyakit rema yang semakin parah.
• c. Obat-obat supresif long acting / Disease Modifying Anti rheumatic Drugs / DMARDs
• Mempunyai khsiat antiradang kuat juga mempunyai khasiat anti erosive artinya dapat
menghentikan atau memperlambat proses kerusakan tulang rawan. Obat-obat ini tidak
mempunyai efek analgetik sehingga dikombinasi dengan NSAIDs.
• DMARDs toksik untuk darah dan ginjal sehingga diberikan pada kerusakan sendi atau
peradangan yang berkelanjutan yang tidak dapat diatasi NSAIDs.
• Efek sampingnya sangat hebat yaitu supresi sum-sum tulang yang menimbulkan
kelainan darah yang berbahaya.
• d. Obat-obat alternative
• Vitamin C (2-3 x 1 g) menghambat peradangan dan menginaktifkan radikal bebas
sehingga nyeri berkurang. Vitamin E menghambat sintesa.
Encok (Guot)/ Pirai

• Encok (gout) merupakan


gangguan metabolisme purin
dan asam urat dimana kadar
berlebihan dalam plasma
menimbulkan pengendapan
kristal natrium urat disendi
dan cairan synovialnya. Yang
sering terjadi encok sendi
(arthritis urica), juga jaringan
ikat kulit dan otot dan ginjal.
Penyebab Pirai
• Pirai primer terjadi karena gangguan
metabolisme purin yang menghasilkan
asam urat atau garam urat yang terkumpul
pada jaringan yang kaya akan kolagen dan
mukopolisakarida.
• Pembentukan asam urat terjadi karena
basa purin disintesis menjadi nukleotida
purin lebih sedikit sehingga terjadi
peningkatan hiposantin dan guanine yang
diuraikan menjadi asam urat. Asam urat
yang terdapat dalam jaringan di
fagositosisis oleh leukosit membentuk
fagolisosom yang membrannya rusak
karena kristal asam urat sehingga enzim
lisosom keluar menyebabkan lesi jaringan
dan reaksi peradangan.
1.Alopurinol
• Efektif menormalkan kadar asaumurat dalam darah
dan kemih yang meningkat.
• Berkhasiat mengurangi kadar asam urat berdasarkan
mekamisme persaingannya dengan zat-zat purin
terhadap enzim xanthinoxydase (XO). Purin seperti
xantin dan hipoxantin dirombat oleh XO menjadi asam
urat, dengan adanya alopurinol maka XO melakukan
aktivitasnya terhadap obat sebagai ganti purin,
sehingga perombakan hipoxantin dikurangi dan asam
urat menurun.
• Selain digunakan pada penserita encok juga digunakan
pada pengobatan dengan sitostatik sebagai obat
pencegahan karena perombakan cepat jaringan tumor
dapat menimbulkan hiperurikemia.
• Efek samping jarang terjadi, terutama alergi kulit,
gangguan lambung usus, nyeri kepala, pusing dan
rambut rontok.
• Dosis : pada hiperurikemia : 1 dd 100 mg p.c.
Obat-obat asam urat
2. Benzbromaron
• Berdaya urikosurik dengan jalan merintangi penyerapan kembali asam urat
di tubulus proximal, ekskresinya diperbanyak sehingga dalam darah
menurun.
• Resorpsimya di usus baik, balam hati dirombak menjadi metabolit-
metabolit aktif bromaron dan brobenzarob, sebagian besar diekskresi
melalui empedu dan tinja.
• Efek samping : alergi kulit, gangguan lambung usus, nyeri kepala, kolik
ginjal dan sering berkemih.
• Dosis : oral 1 dd 50 mg d.c. berangsur-angsur dinaikkan sampai 300 mg.
3. Probenesid
• Berdaya urikosurik dengan mekanisme sama dengan Benzbromaron,
digunakan pada pendertita encok
• Efek samping : kadang-kadang terjadi alergi kulit, gangguan lambung usus,
nyeri kepala, kolik ginjal dan sering berkemih, dapat terbentuk batu ginjal,
yang dapat dihindari dengan mengalkalikan kemih sampai pH 6,5 (dengan
natriumsitrat atau natrium bikarbonat)
• Dosis: Oral 2 dd 250 mg d. c. selama 1 minggu